2.1 Etika dan Kode Etik Penulisan Karya Ilmiah
Etika dan kode etik yang lazim ditumbuhbudayakan dalam penulisan karya ilmiah harus diikuti. Hak cipta dan paten dari segi hukum harus diikuti dan difahami dengan baik. Penulis harus memahami etika penulisan karya ilmiah secara baik. Kode etik adalah norma-norma yang telah diterima dan diakui oleh masyarakat dan citivitas akademik perlu diperhatikan dalam penulisan karya ilmiah. Norma ini berkaitan dengan pengutipan, perujukan, perijinan terhadap bahan yang digunakan, dan penyebutan sumber data ataupun informan.
2.2 Bahasa dan Tanda Baca
Bahasa tulisan dapat dimengerti dengan baik bila kalimat-kalimat yang telah ditulis sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku dalam bahasa tersebut. Tandabaca berperan penting dalam bahasa tulisan. Tanda baca yang tidak lengkap dapatmenyebabkan isi tulisan sulit dimengerti. Oleh karena itu dalam bab ini dibahas aturan-aturan penulisan tanda baca, kata-kata serta judul-judul yang menjadimateri dalam tulisan tersebut.
Penulisan Tanda Baca
Tanda baca titik (.), titik dua (:), titik koma (;), tanda seru (!), persen (%), dan tanda tanya (?) diketik rapat dengan huruf yang mendahuluinya.
Tidak Baku
Sampel dipilih secara acak .
Jumlahnya sekitar 10 %
Adapun asumsi-asumsi yang digunakan adalah :
· Baku
Sampel dipilih secara acak.
Jumlahnya sekitar 10%.
Adapun asumsi-asumsi yang digunakan adalah:
Tidak ada spasi (jarak) antara kata di dalam kurung dengan tanda kurungdan tanda kutip.
· Tidak Baku
Kelima kelompok “ sepadan ”.
Kesalahan ( error ) dapat diabaikan.
· Baku
Kelima kelompok “sepadan”.
Kesalahan (error) dapat diabaikan.
Tanda sama dengan (=), lebih besar (>), lebih kecil(<), tambah (+), kurang (-), kali (x), dan bagi (:) diketik dengan spasi satu ketukan sebelum dan sesudahnya.
· Tidak Baku
P=0,01 S:T=Y
A>B C<G
A+B=C
· Bentuk Baku
P = 0,01 S : T = Y
A > B C < G
A + B = C
Jika dalam penulisan persamaan dengan menggunakan wordprocessor seperti Microsoft Office, maka persamaan-persamaan diketik dengan equation editor yang secara otomatis sudah memberikan jarak yang cukup untuk tanda sama dengan, lebih kecil, lebih besar, tambah, kurang, kali dan bagi. Konsistensi dalam penggunaan simbol sangat penting dipertahankan dalam penulisan.Bila symbol ditulis dengan huruf miring maka penjelasan dalam teksnya juga harus ditulis dengan huruf miring.Berikut ini diberikan contoh hasil persamaan yang ditulis dengan equation editor dalam Microsoft Office.
A+ B = C
x = a2 + c
D > 4 b2 − 4abc
Penulisan Kata
Penulisan kata dapat dikelompokkan atas kata dasar, kata turunan, kata ulang, kata gabungan, kata depan, partikel, dan kata ganti.
Kata Dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis satu kesatuan.
Contoh:
Buku ini buku baru
Kelas itu penuh sesak
Siswa sedang makan nasi
Kata Turunan
Kata turunan adalah kata dasar yang telah berubah karena mendapatkan imbuhan baik itu awalan, sisipan, dan akhiran.Kata dasar tersebut telah dirangkai dengan imbuhan-imbuhan itu.Dari contoh-contoh ini diharapkan dapat mengingat kembali aturan- turan yang berlaku dalam bahasa Indonesia.
Contoh:
berkembang biak
melipatgandakan
memberitahukan
berwisata
belajar
beri tahukan
merindukan
pascasarjana
dasawarsa
dwiwarna
Kata Ulang
Bentuk kata ulang harus ditulis lengkap dengan kata hubung. Contoh: pura-pura, mata-mata, hura-hura, mondar-mandir, sayur-mayur, undang undang, kupu-kupu, lauk-pauk.
Kata Depan
Kata depan, di, ke, dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada.
Contoh:
Ibu pergi ke Bandung
Paman datang dari Bali
Kakak tiba di Singapura
Kata Ganti
Kata ganti ku dan kau ditulis serangkai dengan kata-kata yang mengikutinya. –ku, –mu dan –nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Contoh: Bukuku dan bukumu tertinggal di meja perpustakaan. Apa pun yang kaumiliki tidak dapat dipinjam.
Partikel
Partikel –lah, –kah, –tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Contoh:
Marilah kita berangkat ke kampus.
Siapkah yang menang dalam pertandingan nanti?
Partikel pun ditulis terpisah dengan kata yang mendahuluinya kecuali untuk kata-kata yang telah dianggap terpadu benar seperti meskipun, adapun, kendatipun, maupun, sungguhpun, andaipun, biarpun, bagaimanapun, dan kalaupun.
Contoh: Dia pun mengetahui sindikat tersebut.
Mobil-mobil besar pun diijinkan melewati jalan ini.
Penulisan Judul
Penulisan judul yang umum digunakan dalam penulisan karya ilmiah sangat penting untuk diuraikan di sini. Dengan demikian keseragaman dalam tulisan karya ilmiah yang diatur dengan panduan ini dapat diperoleh. Judul Bagian dan Sampul Depan Laporan Judul Bagian ditulis dengan gaya penulisan semua huruf kapital. Bila terdiri atas beberapa baris, maka baris pertama paling panjang dan baris berikutnya lebih pendek serta ditulis dengan gaya di tengah-tengah.
Contoh:
PENGEMBANGAN MESIN PENDINGIN HEMAT ENERGI
STUDI TEKNO EKONOMI DALAM PERANCANGAN MESIN
Judul Bab
Judul bab ditulis dengan gaya penulisan huruf pertama kapital kecuali partikelatau kata depan.
Contoh:
Bab III
Prosedur Optimasi dan Formulasi
Bab I
Pendahuluan
Bab IV
Pengujian dan Analisis
Judul Subbab
Judul bab juga ditulis dengan gaya penulisan huruf pertama kapital kecuali partikel atau kata depan.
Contoh:
Subbab pada Bab II
2.2 Ulasan Singkat Penelitian Terdahulu
2.3 Prinsip Dasar
Subbab pada Bab III
3.3 Metode Optimasi dan Parameter Studi
3.4 Penurunan Formulasi dan Pemrograman
Penyingkatan Kata
Tulis penuh semua singkatan seperti: dan lain lain, dan sebagainya, dan seterusnya (bukan ditulis dengan cara ini: dll., dsb., dst.). Penyingkatan suatu istilah dapat diberlakukan, bila memang istilah tersebut panjang dan terlalu sering muncul dalam teks.Untuk penyingkatan ini, kepanjangan istilah tersebut harus dimuculkan pertama kali ketika istilah tersebut pertama kalinya disebutkan dalam teks.
Penggunaan dan Penulisan Istilah Asing
Sesuai dengan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, istilahistilah keilmuwan ataupun teknik yang telah dibakukan sebaiknya digunakan dengan benar. Istilah-istilah asing yang sudah punya pandaan dalam bahasa Indonesia, sebaiknya penggunaan istilah Indonesia yang diutamakan.
2.3 Penggunaan Huruf
Ejaan bahasa Indonesia menggunakan aksara Latin, yang terdiri dari 26 huruf. Setiap huruf digunakan untuk melambangkan satu bunyi atau satu fonem, kecuali gabungan huruf kh, ng, ny, dan sy yang juga digunakan untuk melambangkan satu bunyi, serta huruf e yang digunakan untuk melambangkan dua buah bunyi. Sementara huruf qdan x hanya digunakan pada kata serapan tertentu.
Secara ortografi[1], kita kenal adanya empat macam huruf, yaitu (1) huruf kapital, (2) huruf biasa atau huruf kecil, (3) huruf miring, dan (4) huruf tebal (bold, fat).
2.3.1 Penggunaan Huruf Kapital
Huruf kapital atau sering juga disebut huruf besar digunakan pada :
huruf pertama kata awal kalimat. Misalnya,
Pada satu proses
Apa maksudnya ?
Kita tidak tahu maksudnya
huruf pertama pada kata pertama pada petikan langsung atau kalimat langsung,
Hakim bertanya, “Nama Saudara siapa ?”
Poltak berseru, "Diam kau!"
Petugas polantas berkata, " Tolong tunjukkan SIM dan STNK!"
huruf pertama kata atau ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan, nama kitab suci, nama agama, termasuk kata gantinya. Misalnya :
Allah, Yang Mahakuasa, Yang Maha Pengasih; Quran, Weda, Islam, Kristen, Katolik.
Bimbinglah hamba-Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau ridhoi.
Mohon ampunlah kepada-Nya.
huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama diri. Misalnya :
Mahaputera Yamin; Sultan Hasanudin; Haji Agus Salim; Imam Syafi'i; Nabi Muhammad.
Namun, kalau tidak diikuti nama diri, huruf kapital itu tidak digunakan. Misalnya,
Tahun ini ia pergi naik haji.
Beliau baru dinobatkan jadi sultan.
Banyak orang mengaku nabi pada awal abad ke-21 ini.
huruf pertama unsur nama jabatan dan nama pangkat yang diikuti nama diri, atau yang digunakan sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat. Misalnya :
Wakil Presiden Budiono.
Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian.
Gubernur DKI Jaya.
Profesor Doktor Bejo Suyanto.
Namun, kalau tidak diikuti nama diri, nama jabatan, nama orang, nama instansi atau nama tempat, huruf kapital itu tidak dipakai. Misalnya :
Siapa gubernur yang baru dilantik itu.
Beberapa orang jenderal hadir di situ.
Kemarin Letnan Jenderal Ahmad dilantik menjadi jenderal.
huruf pertama unsur-unsur nama orang. Contohnya :
Halim Perdana Kusuma.
Wage Rudolf Supratman.
Helvy Tiara Rosa.
Namun, kalau nama orang itu digunakan sebagai nama benda, nama jenis, dan nama ukuran, maka huruf kapital tidak digunakan. Contohnya :
mesin diesel
10 volt
5 ampere
huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan nama bahasa. Contohnya :
bangsa Indonesia
suku Batak
bahasa Inggris
Namun, kalau nama bangsa, nama suku bangsa dan nama bahasa itu digunakan sebagai bentuk dasar sebuah kata turunan, huruf kapital itu tidak digunakan. Contohnya :
mengindonesiakan kata asing
agak kejawa-jawaan
wanita yang kebelanda-belandaan
huruf pertama nama tahun, nama bulan, nama hari, nama hari raya, dan nama peristiwa sejarah. Contohnya :
tahun Hijriah
bulan Agustus
hari Jumat
hari Natal
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
huruf pertama nama geografi. Contohnya :
- Asia Tenggara - Bukit Barisan
- Gorontalo - Danau Limboto
- Gunung Salak - Selat Sunda
- Teluk Jakarta - Kali Brantas
Namun, pada istilah geografi yang bukan merupakan nama diri, huruf kapital tidak digunakan. Contohnya :
berlayar ke teluk
mandi di kali
menyeberangi selat
menuju arah utara
Pada nama geografi yang dipakai sebagai nama jenis, huruf kapital juga tidak digunakan. Contohnya :
- garam inggris - gulajawa
- salak bali - dodol garut
- sate madura - pisang ambon
huruf pertama unsur-unsur nama negara, nama lembaga pemerintahan, dan nama dokumen resmi; kecuali kata seperti, dan, atau, ataupun kepada. Contoh :
Republik Indonesia
Majelis Permusyawaratan Rakyat
Departeman Pendidikan Nasional
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 57, Tahun 1972
Namun, simak contoh berikut !
menurut undang-undang yang berlaku
menjadi sebuah negara republik
beberapa badan hukum
huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama lembaga pemerintahan, dan dokumen resmi. Contoh :
Undang-Undang Dasar 1945
Perserikatan Bangsa-Bangsa
Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial
huruf pertama semua kata di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan; kecuali kata di, ke, dan, yang untuk; yang tidak terletak pada posisi awal. Contohnya :
Bukunya berjudul Membongkar Gurita Cikeas
Dia agen surat kabar Media Indonesia
Bacalah majalah Tempo minggu lalu
(m) huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan. Contohnya :
Dr. → doktor
M.A. → master of art
Prof. → profesor
Tn. → tuan
Sdr. → saudara
(n) huruf pertama kata perkerabatan seperti bapak, ibu, kakak, saudara, dan adik yang dipakai
sebagai kata ganti, kata sapaan, atau kata sebutan (pengacuan). Contoh :
"Kapan Bapak berangkat ?" tanya Hasan
Adik bertanya, "Itu apa, Bu ?"
"Silakan duduk, Kak " kata Adi
Besok Paman akan datang
Namun, bila kata perkerabatan dipakai sebagai istilah perkerabatan, huruf kapital tidak digunakan.
Kita harus menghormati bapak dan ibu kita
Semua kakak dan adik saya sudah menikah
(o) huruf pertama kata ganti Anda. Contoh :
Apakah Anda sudah berkeluarga ?
Surat Anda sudah kami terima
2.3.2 Penggunaan Huruf Kecil
Huruf kecil digunakan pada tempat yang tidak menggunakan huruf kapital.
2.3.3 Penggunaan Huruf Miring
Huruf miring digunakan untuk :
menuliskan nama buku, nama majalah, dan nama surat kabar yang dikutip dalam tulisan. Contoh :
Bukunya berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang
Setiap pagi dia membaca koran Kompas
Majalah Bahasa dan Sastra terbitan Pusat Bahasa
menuliskan istilah ilmiah, dan kata atau ungkapan asing yang ejaannya belum disesuaikan. Contoh :
Nama ilmiah nyamuk penyebab deman berdarah adalah aedes agypti
Politik devide et empera pernah merajalela di negara kita
Bailout pada Bank Century menjadi topik pembicaraan di DPR
menuliskan kata-kata yang dianggap belum baku. Contoh :
Beliau memang nggak tahu
Keadaan semakin semrawut
Di sini kamu jangan berlaku neko-neko
menuliskan kata atau huruf yang dianggap penting dalam sebuah teks. Contoh :
Buatlah kalimat dengan kata apalagi dan kata lagi pula
Dalam bab ini tidak dibicarakan penulisan huruf kapital
Dia bukan menipu, melainkan ditipu
2.3.4 Penggunaan Huruf Tebal (bold, fat)
Penggunaan huruf tebal belum atau tidak diatur dalam pedoman EYD (ejaan yang disempurnakan); tetapi tampaknya huruf tebal digunakan pada kata-kata yang dianggap penting. Dalam tulisan tangan atau ketikan manual kata-kata yang akan dicetak tebal diberi dua garis bawah.
2.4 Penggunaan Tanda Baca
Dalam bahasa tulis, tanda baca ini sangat penting karena dengan adanya tanda baca itu kita akan terbantu untuk dapat memahami suatu tulisan. Dalam sistem ejaan dikenal adanya tanda baca titik (.), koma (,), titik koma (;), titik dua (:), tanda tanya (?), tanda seru (!), tanda petik ("......"), tanda hubung (-), tanda pisah (—), tanda kurung ([......]), tanda garis miring (/), dan tanda penyingkat ('). Bagaimana menggunakan tanda baca itu, dijelaskan di bawah.
2.4.1 Penggunaan Tanda Titik ( . )
Tanda titik digunakan pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Misalnya :
Ayahku mantan anggota DPR.
KPK menahan Anggodo Widjoyo kemarin.
Partai koalisi mulai retak.
Tanda titik digunakan untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.
Misalnya :
pukul 3.15.10 (pukul 3 lewat 15 menit 20 detik)
Tanda titik digunakan untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu.
Misalnya :
5.35.20 jam (5 jam, 35 menit, 20 detik)
0.25.30 jam (25 menit, 30 detik)
0.0.30 jam (30 detik)
Tanda titik digunakan untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.
Misalnya :
Penduduk di desa itu ada 25.325 orang
Harganya Rp 4.850.000,-
Gempa di sana menelan 1.274 jiwa tewas
Tanda titik tidak digunakan untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah.
Misalnya :
Dia lahir tahun 1951 di Surabaya
Nomor teleponnya adalah 8657712
Nomor pendaftarannya adalah 2657718
Tanda titik tidak digunakan pada akhir judul berita, judul karangan, judul tabel, dan sebagainya.
Misalnya :
Tabrakan Beruntun di Jalan Tol
Habis Gelap Terbitlah Terang
Masalah Kawin Siri-di Indonesia
Tanda titik tidak digunakan di belakang (1) alamat pengirim dan tanggal surat; dan (2) nama dan alamat penerima surat.
Misalnya :
Jalan Taman Malaka Utara 5 Jakarta Timur
25 Februari 2010
2.4.2 Penggunaan Tanda Koma ( , )
Tanda baca koma ( , ) digunakan dengan aturan sebagai berikut :
digunakan di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.
Misalnya :
Yang hadir anggota fraksi Golkar, fraksi PDIP, fraksi PKS, dan fraksi Demokrasi
Yang salah jawaban nomor 8, 9, 12, 13, dan 15
digunakan untuk memisahkan bagian kalimat setara yang satu dari bagian kalimat setara lainnya yang didahului oleh konjungsi seperti tetapi dan melainkan.
Misalnya :
Saya ingin hadir, tetapi tidak diundang
Yang menyusahkan rakyat bukan hanya penjahat, melainkan juga pejabat
digunakan untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat bila anak kalimat itu mendahului induk kalimat.
Misalnya :
Karena sakit, dia tidak jadi datang
Kalau diundang, saya tentu datang
Catatan :
Kalau anak kalimat berada di belakang induk kalimat, maka tanda koma itu tidak digunakan.
Misalnya :
Dia tidak jadi datang karena sakit
Saya tentu datang kalau diundang
digunakan di belakang kata atau ungkapan penghubung antar-kalimat yang terdapat pada awal kalimat sepertijadi, oleh karena itu, akan tetapi, maka dan sebagainya.
Misalnya
Jadi, utangmu semua menjadi 10 juta rupiah
Oleh karena itu, kita harus selalu waspada
Akan tetapi, saya masih akan mencoba lagi tahun depan
digunakan di belakang kata seruan seperti oh, nah, aduh, ya, alangkah, dan kasihan di dalam sebuah kalimat.
Misalnya :
Oh, begitu ?
Wah, bukan main besarnya!
Hati-hati, ya, nanti jatuh
digunakan untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
Misalnya :
Kata ibu, "Saya senang sekali."
"Saya gembira sekali", kata bapak, "karena terpilih jadi anggota DPR."
digunakan di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, nama keluarga atau marga.
Misalnya :
Dr. Ahmad Dimyati, S.H
Ny. Komala Sari, MA.
Abdul Aziz, M. Hum.
digunakan di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.
Misalnya :
12,5 Cm
Rp 1.255,25
digunakan untuk mengapit keterangan tambahan (aposisi) yang sifatnya tidak membatasi.
Misalnya :
Ruhut Sitompul, anggota pansus dari partai Demokrat, sering membuat ulah
Sukarno, presiden pertama RI, dimakamkan di Blitar
Banyak anggota DPR, dari fraksi mana pun, disinyalir sering bolos dari sidang
dapat digunakan untuk menghindari salah baca dan salah paham di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.
Misalnya :
Dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang sungguh-sungguh
Atas bantuan Agus, Karyadi mengucapkan banyak terima kasih
Menurut keterangan bapak, Iskandar adalah anggota DPRD yang baru dilantik
tidak digunakan untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringnya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.
Misalnya :
"Saudara bekerja di mana?" tanya ayah
"Ayo kita serang !" teriaknya keras-keras
2.4.3 Penggunaan Tanda Koma ( ; )
Tanda titik koma dapat digunakan untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Misalnya :
Malam semakin larut; pekerjaan belum selesai juga; aku jadi bingung
Ayah membaca koran di ruang tamu; ibu sibuk di dapur; adik mengerjakan PR; saya sendiri asyik menonton televisi
Catatan :
Jika kita lihat contoh di atas, sebenarnya tanda titik koma itu bisa diganti dengan tanda koma.
2.4.4 Penggunaan Tanda Titik Dua ( : )
Tanda titik dua dapat digunakan :
(a) pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian.
Misalnya :
Kita sekarang memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari
Hanya ada dua pilihan bagi pejuang kemerdekaan itu: hidup atau mati
Namun, bila rangkaian kata itu merupakan pelengkap (objek) yang mengakhiri pernyataan, tanda titik dua itu tidak perlu digunakan.
Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari
Fakultas ini memiliki jurusan pendidikan anak terbelakang dan anak usia dini
(b) sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
Misalnya :
Ketua : Abdul Aziz
Sekretaris : Ny. Sarbini
Bendahara : Ny. Waluyo
Tempat sidang : Gedung A, ruang 208