LukFih Artikel

Menu

  • Home
  • YouTube
  • Facebook
  • ArsLuk Artikel
  • Kios 18+

Thursday, October 22, 2020

Konsep Menulis

BAB I
PENDAHULUAN

Menulis merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa. Untuk memiliki kemampuan menulis yang baik diperlukan pengetahuan mengenai konsep menulis. Menulis seperti halnya kegiatan berbahasa lainnya, merupakan keterampilan. Setiap keterampilan hanya akan diperoleh melalui berlatih.

Berlatih secara sistematis, terus-menerus, dan penuh disipilin merupakan resep yang selalu disarankan oleh praktisi untuk dapat atau terampil menulis. Tentu saja bekal untuk berlatih bukan hanya sekedar kemauan, tetapi juga ada bekal lain yang perlu dimiliki. Bekal lain itu adalah pengetahuan, konsep, prinsip, dan prosedur yang harus ditempuh dalam kegiatan menulis. Jadi ada dua hal yang diperlukan untuk mencapai keterampilan menulis yakni pengetahuan tentang tulis-menulis dan berlatih untuk menulis.

Setelah mengikuti mata kuliah ini anda diharapkan memiliki wawasan yang luas mengenai konsep menulis yang meliputi: definisi menulis, tujuan menulis, manfaat menulis, jenis-jenis menulis, teknik menulis, tahap-tahap menulis dan faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas menulis. Secara rinci tujuan yang ingin dicapai agar anda dapat:
1. Menjelaskan definisi menulis.
2. Menjelaskan tujuan menulis.
3. Menjelaskan manfaat menulis.
4. Menjelaskan jenis-jenis menulis.
5. Menjelaskan teknik menulis.
6. Menjelaskan tahap-tahap menulis.
7. Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas menulis.

Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai serta bobot sks-nya, makalah keterampilan menulis ini dituangkan dalam tujuh sub judul yaitu:
1. Definisi menulis.
2. Tujuan menulis.
3. Manfaat menulis.
4. Jenis-jenis menulis.
5. Teknik menulis.
6. Tahap-tahap menulis.
7. Faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas menulis.

Makalah ini diharapkan dapat memberikan wawasan mengenai konsep menulis, sehingga mahasiswa mampu menguasai materi tersebut dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

BAB II
PEMBAHASAN

A.KONSEP MENULIS

1. Pengertian Menulis
Menurut Jago Tarigan ( 1995: 117) menulis berarti mengekspreikan secara tertulis gagasan, ide, pendapat, atau pikiran dan perasaan. Sarana mewujudkan hal itu adalah bahasa. Isi ekspresi melalui bahasa itu akan dimengerti orang lain atau pembaca bila dituangkan dalam bahasa yang teratur,sistematis, sederhana, dan mudah dimengerti.

Menurut Lado (1964. 14) menulis adalah meletakkan simbol grafis yang mewakili bahasa yang dimengerti orang lain. Jadi, orang lain dapat membaca simbol grafis itu, jika mengetahui bahwa itu menjadi bagian dari ekspresi bahasa. Semi (1990. 8) juga mengatakan bahwa menulis pada hakikatnya merupakan pemindahan pikiran atau perasaan ke dalam bentuk lambang bahasa.

Menurut Gere (1985.4), menulis dalam arti komunikasi ialah menyampaikan pengetahuan atau informasi tentang subjek. Menulis berarti mendukung ide. Crimmon (1984.191), berpendapat bahwa menulis adalah kerja keras, tetapi juga merupakan kesempatan untuk menyampaikan sesuatu tentang diri sendiri mengkomunikasikan gagasan kepada orang lain, bahkan dapat mempelajari sesuatu yang belum diketahui.

Lebih lanjut Rusyana (1984:191), memberikan batasan bahwa kemampuan menulis atau mengarang adalah kemampuan menggunakan pola-pola bahasa dalam tampilan tertulis untuk mengungkapkan gagasan atau pesan. Kemampuan menulis mencakup berbagai kemampuan, seperti kemampuan menguasai gagasan yang dikemukakan, kemampuan menggunaka unsur-unsur bahasa, kemampuan menggunakan gaya, dan kemampuan menggunakan ejaan serta tanda baca.

Berdasarkan konsep di atas, dapat dikatakan bahwa menulis merupakan komunikasi tidak langsung yang berupa pemindahan pikiran atau perasaan dengan memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosakata dengan menggunakan simbol-simbol sehingga dapat dibaca seperti apa yang diwakili oleh simbol tersebut.

2. Tujuan Menulis
Seorang tergerak menulis karena memiliki tujuan objektif yang bisa dipertanggungjawabkan dihadapan publik pembacanya. Karena tulisan pada dasarnya adalah sarana untuk menyampaikan pendapat atau gagasan agar dapat dipahami dan diterima orang lain. Tulisan dengan demikian menjadi salah satu sarana berkomunikasi yang cukup efektif dan efesien untuk menjangkau khalayak masa yang luas. Atas dasar pemikiran inilah, maka tujuan menulis dapat dirunut dari tujuan-tujuan komunikasi yang cukup mendasar dalam konteks pengembangan peradapan dan kebudayaan mesyarakat itu sendiri. Adapun tujuan penulisan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Menginformasikan segala sesuatu, baik itu fakta, data maupun peristiwa termasuk pendapat dan pandangan terhadap fakta, data dan peristiwa agar khalayak pembaca memperoleh pengetahuan dan pemahaman baru tentang berbagai hal yang dapat maupun yang terjadi di muka bumi ini.
b. Membujuk (Mempengaruhi). Melalui tulisan seorang penulis mengharapkan pula pembaca dapat menentukan sikap, apakah menyetujui atau mendukung yang dikemukakan. Penulis harus mampu membujuk dan meyakinkan pembaca dengan menggunakan gaya bahasa yang persuasif. Oleh karena itu, fungsi persuasi dari sebuah tulisan akan dapat menghasilkan apabila penulis mampu menyajikan dengan gaya bahasa yang menarik, akrab, bersahabat,dan mudah dicerna.
c. Mendidik adalah salah satu tujuan dari komunikasi melalui tulisan. Melalui membaca hasil tulisan wawasan pengetahuan seseorang akan terus bertambah, kecerdasan terus diasah, yang pada akhirnya akan menentukan perilaku seseorang. Orang-orang yang berpendidikan misalnya, cenderung lebih terbuka dan penuh toleransi, lebih menghargai pendapat orang lain, dan tentu saja cenderung lebih rasional.
d. Menghibur. Fungsi dan tujuan menghibur dalam komunikasi, bukan monopoli media massa, radio, televisi, namun media cetak dapat pula berperan dalam menghibur khalayak pembacanya. Tulisan-tulisan atau bacaan-bacaan “ringan” yang kaya dengan anekdot, cerita dan pengalaman lucu bisa pula menjadi bacaan penglipur lara atau untuk melepaskan ketegangan setelah seharian sibuk beraktifitas.

3. Manfaat Menulis
Hasil sebuah penelitian di Amerika yang dilakukan oleh seorang Psikolog yaitu Dr.Pennebaker menemukan berbagai manfaat menulis sebagi berikut :
1.Menulis menjernihkan pikiran.
Saat kita mengalami masalah yang berat dan rumit,menuliskan semua masalah kita ternyata berdampak positif untuk menjernihkan pikiran kita sehingga akan lebih memudahkan dalam menyelesaikan masalah.
2.Menulis mengatasi trauma.
Dengan menuliskan trauma yang pernah kita alami,kita akan lebih mudah mengelola trauma kita sehingga kita bisa mengatasai trauma tersebut.Mereka yang tidak menuliskan traumanya lebih rentan dan tidak sembuh dari trauma tersebut.Jadi agan-agan kalo ada trauma atau phobia dengan menulis trauma tersebut akan memudahkan kita untuk sembuh.
3.Menulis membantu mendapatkan dan mengingat informasi.
Belajar dengan menulis akan membuat ingatan kita jauh lebih tajam.Seperti pepatah "ikatlah ilmu dengan menulis",menulis membuat sayarf otak kita lebih aktif sehingga kita bisa lebih mengingat pelajaran yang kita pelajari.Bandingkan dengan belajar yang hanya membaca maka kita akan mudah terlupa.
4.Menulis membantu memecahkan masalah.
Menulis masalah yang kita hadapi akan membuat kita fokus terhadap masalah itu daripada hanya dengan memikirkannya.Memikirkan masalah saja akan membuat pikiran dan otak kita kemana-mana.Dan ini yang membuat kita merasa lebih tertekan.Dengan demikian kita juga akan dengan lebih mudah mencari solusinya.
5.Menulis membantu ketika kita harus menulis.
Tugas disekolah ataupun kuliah memaksa kita harus menulis.Mengapa skripsi begitu berat?karena kita tidak terbiasa menulis.Kita bisa berpikir dan berbicara tetapi menulis adalah ketrampilan yang harus dipelajari.Dengan terbiasa menulis maka disaat kita harus menulis seperti mengerjakan tugas atau skripsi kita akan lebih mudah melakukannya.

4. Jenis-Jenis Menulis
Keterampilan menulis dapat kita klasifikasikan berdasarkan dua sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang tersebut adalah kegiatan atau aktivitas dalam melaksanakan keterampilan menulis dan hasil dari produk menulis itu. Klasifikasi keterampilan menulis berdasarkan sudut pandang kedua menghasilkan pembagian produk menulis atau empat kategori, yaitu; karangan eksposisi, deskripsi, narasi, dan argumentasi. Berikut ini akan dijelaskan satu persatu.

a. Eksposisi
Eksposisi biasa juga disebut pemaparan, yakni salah satu bentuk karangan yang berusaha menerangkan, menguraikan atau menganalisis suatu pokok pikiran yang dapat memperluas pengetahuan dan pandangan seseorang. Penulis berusaha memaparkan kejadian atau masalah secara analisis dan terperinci memberikan interpretasi terhadap fakta yang dikemukakan. Dalam tulisan eksposisi, sangat dipentingkan informasi yang akurat dan lengkap. Eksposisi merupakan tulisan yang sering digunakan untuk menyampaikan uraian ilmiah, seperti makalah, skripsi, tesis, desertasi, atau artikel pada surat kabar atau majalah. Jika hendak menulis bagaimana peraturan bermain sepakbola, cara kerja pesawat, bagaimana membuat tempe, maka jenis tulisan eksposisi sangat tepat untuk digunakan.
Parera (1993 : 5) mengemukakan bahwa “Seorang pengarang eksposisi akan mengatakan, saya akan menceritakan kepada kalian semua kejadian dan peristiwa ini dan menjelaskan agar anda dapat memahaminya.”


Untuk menghasilkan tulisan ekposisi yang baik pikiran utama dan pikiran penjelas harus diorganisir dalam bentuk kerangka karangan yang pada umumnya dibagi dalam tiga bagian yaitu, bagian pembuka (pendahuluan) bagian pengembangan (isi), dan bagian penutup yang merupakan penegasan ide. Untuk karangan yang bersifat kompleks, harus diuraikan dalam bentuk sub-bagian yang lebih rinci. Dalam karangan seperti itu dapat disusun dalam bentuk bab dan diperinci lagi menjadi sub-sub bab.
Contoh eksposisi : Bertahun-tahun aku mengeluti usaha ini dengan sabar. Sebagai pengusaha kecil yang bermodal kecil. Aku menghadapi berbagai macam tantangan. Persaingan dengan pengusaha-pengusaha lain yang bermodal besar yang sering berjalan tidak sehat hampir-hampir membuat aku putus asa. Tetapi aku telah bertekad tidak akan mundur dalam berusaha. Sedikit demi sedikit perusahaanku memperoleh kemajuan. Salah satu prinsip dalam kemajuan dalam memajukan perausahaanku adalah ” melayani konsumen”, aku harus dapat melayani mereka sabaik-baiknya. Mutu produksi selalu ku jaga benar. Harga tetap aku ku usahakan agar tidak melebihi harga produksi serupa dari perusahaan lain. Sekarang, alhamdulillah perusahaanku sudah masuk dalam kelompok usaha menengah, aku tidak mengalami kesulitan modal lagi. Pemasaran hasil produksi bisa lancar. Tantangan – tantangan bukanlah tidak ada. Selama perusahaan masih berjalan, selama itu pula tantangan perusahaan pasti ada. Tantangan itu bisa muncul dari dalam perusahaan itu sendiri, maupun dari luar. Tetapi aku yakin, kalau dalam perusahaan menjadi seperti sekarang ini, tentu dalam masa sekarang ini aku akan dapat menghadapi tantangan-tantangan itu dengan baik. Bagiku tantangan itu merupakan hak yang menarik untuk diselesaikan, bukan sesuatu yang mesti aku takuti. Aku yakin kita berusaha dengan sungguh-sungguh dengan jalan yang benar, tentu Tuhan akan membukakan pintu keberhasilan bagi kita.

b. Deskripsi
Deskrisi adalah pemaparan atau penggambaran dengan kata-kata suatu benda, tempat, suasana atau keadaan. Seorang penulis deskripsi mengharapkan pembacanya, melalui tulisannya, dapat ‘melihat’ apa yang dilihatnya, dapat ‘mendengar’ apa yang didengarnya, ‘merasakan’ apa yang dirasakanya, serta sampai kepada ‘kesimpulan’ yang sama dengannnya.
Darisini dapat disimpulkan bahwa deskripsi merupakan hasil dari obesrvasi melalui panca indera, yang disampaikan dengan kata-kata (Marahimin. 1993.46)
Contoh deskripsi: Pasar Blaura merupakan pasar perbelanjaan yang sempurna. Semua barang ada di sana. Di bagian terdepan berderet toko sepatu dalam dan luar negeri. Dilantai satu terdapat toko pakaian yang lengkap berderet-deret. Di sampaing kanan pasar terdapat stan-stan kecil penjual perkakas dapur. Di samping kiri ada pula jenis buah-buahan. Pada bagian belakang kita dapat menemukanberpuluh-puluh pedagang kecil yang berjualan makanan dan minuman. Belum lagi kalau kita melihat lantai di atasnya ( Adisampurno. 2003. 11)

c. Narasi
Narasi merupakan corak tulisan yang bertujuan menceritakan rangkaian peristiwa atau pengalaman manusia berdasarkan perkembangan dari waktu ke waktu. Paragraf narasi itu dimaksudkan untuk memberi tahu pembaca atau pendengar tentang apa yang telah diketahui atau apa yang dialami oleh penulisnya. Narasi lebih menekankan pada dimensi waktu dan adanya konflik (Pusat Bahasa. 2003.46).
Contoh Narasi: Sore itu kami pergi ke rumah Puspa. Sopir kusuruh memakirkan mobil. Kemudian, kami memasuki gang kecil. Beberapa waktu kemudian, kami sampai di sebuah rumah yangh sederhana seperti rumah-rumah di sekitarnya. Rumah-rumah itu tanpak tidak semewah rumah-rumah gedung yang terletak di pinggir jalan. Pintu rumah yang sederhana itu terbuka pelan. Seorang gadis berlari dan memelukku. Gadis itu tiba-tiba pingsan dan terkulai lemas dalam pelukanku (Pusat Bahasa .2003. 47).


d. Argumentasi
Argumentasi merupakan corak tulisan yang bertujuan membuktikan pendapat penulis meyakinkan atau mempengaruhi pembaca agar menerima pendapatnya. Argumentasi berusaha meyakinkan pembaca. Cara menyakinkan pembaca itu dapat dilakukan dengan jalan menyajikan data, bukti, atau hasil-hasil penalaran (Pusat Bahasa. 2001. 45).
Contoh Argumentasi: Kedisiplinan lalu lintas masayarakat di Jakarta cenderung menurun. Hal ini terbukti pada bertambahnaya jumlah pelanggarannya yang tercatat di kepolisian. Selain itu, jumlah korban yang meninggal akibat kecelakaan pun juga semakin meningkat. Oleh karena itu, kesadaran mesyarakat tentang kedisplinan berlalu lintas perlu ditingkatkan (Pusat Bahasa. 2003. 45).
e. Persuasi
Persuasi adalah karangan yang berisi paparan berdaya ajak, ataupun berdaya himbau yang dapat membangkitkan ketergiuran pembaca untuk meyakini dan menuruti himbauan implisit maupun eksplisit yang dilontarkan oleh penulis.Dengan kata lain, persuasi berurusan dengan masalah mempengaruhi orang lain lewat bahasa.
Contoh Persuasi: Buanglah sampah pada tempatnya!

5. Teknik Menulis
Kejelasan merupakan asas yang pertama dan utama bagi hampir semua karangan, khususnya ragam karangan faktawi. Setiap pembaca betapa pun terpelajarnya menghargai karangan yang dapat dibaca dan dimengerti secara jelas. Karangan yang kabur, ruwet, dan gelap maksudnya akan membosankan pembaca dan melatih pikirannya. Berikut ini dijelaskan ciri-ciri karangan yang jelas.
a. Mudah: karangan yang jelas mudah dimengerti oleh pembaca. Setiap orang menyukai karangan yang dapat dipahami tanpa susah payah.
b. Sederhana: karangan yang jelas tidak berlebih-lebihan dengan kalimat-kalimat dan kata-kata. semakin sederhana, semakin dapat karangan itu menggambarkan sesuatu buah pikiran secara terang dalam pikiran pembaca.
c. Langsung: karangan yang jelas tidak berbelit-belit ketika menyampaikan pokok soalnya.
d. Tepat: karangan yang jelas dapat melukiskan secara betul ide-ide yangterdapat dalam pikiran penulis.

Gunning juga mengemukakan sepuluh pedoman untuk menghasilkan sesuatu karangan yang jelas adalah.

1. Usahakan kalimat-kalimat yang pendek
Panjang rata-rata kalimat dalam suatu karangan merupakan sebuah tolak ukur yang penting bagi keterbacaan. Kalimat-kalimat harus selang-seling antara panjang dan pendek. Pemakaian kalimat yang panjang harus diimbangi oleh kalimat-kalimat yang pendek sehingga meningkatkan kejelasan karangan.
2. Pilihlah yang sederhana ketimbang yang rumit
kata-kata yang sederhana, kalimat yang sederhana, bahasa yang sederhana lebih meningkatkan keterbacaan sesuatu karangan.
3. Pilih kata yang umum dikenal
Dalam mengarang pakailah kata-kata yang telah dikenal masyarakat umum sehingga ide yang diungkapkan dapat secara mudah dan jelas ditangkappembaca.
4. Hindari kata-kata yang tak perlu
Setiap kata harus mempunyai peranan dalam kalimat dan karangan. Kata-kata yang tak perlu hanya melelahkan pembaca dan melenyapkan perhatian.
5. Berilah tindakan dalam kata-kata kerja
Kata kerja yang aktif mengandung tindakan, yang menunjukkan gerak akan membuat suatu karangan hidup dan bertenanga untuk menyampaikan informasi yang dimaksud. Kalimat “Bola itu menjebol gawang lawan” lebih berkesan “Gawang lawan kemasukan bola”.
6. Menulislah seperti bercakap-cakap
Kata tertulis hanyalah pengganti kata yang diucapkan lisan. Dengan mengungkapkan gagasan seperti halnya bercakap-cakap, karangan menjadi lebih jelas.
7. Pakailah istilah-istilah yang pembaca dapat menggambarkan
Kata yang konkret lebih jelas bagi pembaca ketimbang kata yang abstrak.
8. Kaitkan dengan pengalaman pembaca
Karangan yang jelas bilaman dapat dibaca dan dipahami pembaca sesuai dengan latar belakang pengalamannya.
9. Manfaatkan sepenuhnya keanekaragaman
Karangan harus ada variasi dalam kata, frasa, kalimat maupun ungkapan lainnya. Keaneragaman dalam karangan adalah sumber kesenangan dalam pembacaan.
10. Mengaranglah untuk mengungkapkan, bukan untuk mengesankan
Maksud utama mengarang ialah mengungkapkan gagasan dan bukan menimbulkan kesan pada pihak pembaca mengenai kepandaian, kebolehan,atau kehebatan diri penulisnya.

Ada lima komponen menulis prosa yang baik yaitu:
1. Penggunaan bahasa
Yaitu kemampuan menulis kalimat yang tepat dan baik.
2. Kemampuan mekanis
Yaitu kemampuan menggunakan tanda baca dengan tepat.
3. Kemampuan menjaga isi kalimat
Yaitu kemampuan berpikir kreatif, mengembangkan ide, dan membuang informasi yang tidak relevan.
4. Gaya menulis
Yaitu kemampuan memanipulasi kalimat dan paragraf, serta kemampuan menggunakan bahasa secara efektif.
5. Kemampuan mengambil keputusan;
Yaitu kemampuan menulis dengan gaya yang tepat untuk tujuan dan untuk pembaca tertentu, serta kemampuan memilih, mengorganisasi, dan menyusun informasi yang relevan.

6. Tahap - Tahap Menulis
a. Perencanaan Karangan
Menurut Sabarti dkk, secara teoritis proses penulisan meliputi tiga tahap utama,yaitu prapenulisan, penulisan dan revisi. Ini tidak berarti bahwa kegiatan menulis dilakukan secara terpisah-pisah. Pada tahap prapenulisan kita membuat persiapan-persiapan yang akan digunakan pada penulisaan, dengan kata lain merencanakan karangan. Berikut ini dibahas cara merencanakan karangan.

b. Pemilihan Topik
Kegiatan yang mula-mula dilakukan jika menulis suatu karangan menentukan topik. Hal ini untuk menentukan apa yang akan dibahas dalam tulisan.
Ada beberapa yang harus dipertimbangkan dalam memilih topik yaitu:
1) Topik itu ada manfaatnya dan layak dibahas.
Ada manfaatnya mengandung pengertian bahwah bahasan tentang topik itu akan memberikan sumbangan kepada ilmu atau profesi yang ditekuni, atau berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Layak dibahas berarti topik itu memangmemerlukan pembahasan dan sesuai dengan bidang yang ditekuni.
2) Topik itu cukup menarik terutama bagi penulis.
3) Topik itu dikenal baik oleh penulis.
4) Bahan yang diperlukan dapat diperoleh dan cukup memadai.
5) Topik itu tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit.
Setelah berhasil memilih topik sesuai dengan syarat-syarat pemilihan di atas maka yang akan dilakukan selanjutnya membatasi topik tersebut. Proses pembatasan topik dapat dipermudah dengan membuat diagram pohon atau diagram jam.
Ide induk yang menjadi benih atau pangkal awal sesuatu karangan yang akan ditulis hendaknya juga dikembangkan. Setelah ide induk dikembang biakkansampai cukup tuntas, langkah berikutnya ialah memilih salah satu saja di antara rincian ide-ide yang muncul itu untuk dijadikan topik karangan. Topik inilah yangkemudian perlu diolah lebih lanjut dengan membatasi topik dengan sebuah tema tertentu. Jadi pada topik ini ditentukan salah satu segi, unsur, atau faktornya yang dijadikan pembicaraan.
Langkah yang terakhir yang perlu dilakukan pengarang ialah menguraikan atau mengudar rumusan kalimat ide pokok menjadi sebuah garis besar karangan.Garis besar, rangka atau disebut juga outline adalah suatu rencana kerangka yang menunjukkan ide-ide yang berhubungan satu sama lain secara tertib untuk kemudian dikembangkan menjadi sebuah karangan yang lengkap dan utuh.
Di bawah ini secara ringkas proses ide induk menjadi garis besar karanganmenempuh enam langkah sebagai berikut:

LANGKAH AKTIVITAS PENGARANG HASIL
1 Menemukan ide yang akan diungkapkan menjadi karangan Ide Pokok
2 Mengembangkan ide induk Rincian Ide
3 Memilih ide menjadi salah satu pokok soal Topik
4 Membatasi topik dengan sesuatu segi/unsur/faktor/ Tema
5 Merumuskan topik berikut temanya dalam sebuah pokok pertanyaan Kalimat Ide
6 Menguraikan rumusan ide pokok menjadi rangka Garis Besar Karangan

Setelah mengetahui cara-cara memulai dan teknik memberikan nafas ke dalam tulisan. Sekarang kita melangkah ke proses penulisan. Pada tahap ini, kita hanya membangun suatu fondasi untuk topik yang berdasarkan pada pengetahuan, gagasan, dan pengalaman. Adapun proses penulisan tersebutsebagai berikut.
a) Darf kasar disini dimulai menelusuri dan mengembangkan gagasan-gagasan. Pusatkan pada isi daripada tanda baca, tata bahasa, atau ejaan. Ingat untuk menunjukkan bukan memberitahukan saat menulis.
b) Berbagi: sebagi penulis kita sangat dekat tulisan kita sehingga sulit bagi kitauntuk menulai secara objektif. Untuk mengambil jarak dengan tulisan. Olehsebab itu perlu meminta orang lain untuk membaca dan memberikan umpan balik. Mintalah seorang teman membacanya dan mengatakan bagian mana yang benar –benar kuat dan menunjukkan ketidak konsistenan, kalimat yany tidak jelas, atau transisi yang lemah. Inilah beberapa petunjukuntuk berbagi.
c) Perbaikan (revisi): setelah mendapat umpan balik dari teman tentang manayang baik dan mana yang perlu digarap lagi, ulangi dan perbaikilah. Ingat bahwa penulis adalah tuan dari tulisan anda, jadi andalah yang membuat umpan balik itu. Manfaatkanlah umpan balik yang dianggap membantu. Ingat tujuan menulis membuat sebaik mungkin.
d) Menyunting (editing): inilah saatnya untuk membiarkan “editor” otak kini melangkah masuk. Pada tahap ini, perbaikilah semua kesalahan ejaan, tata bahasa, dan tanda baca. Pastikanlah semua transisi berjalan mulus, penggunaan kata kerja tepat, dan kalimat-kalimat lengkap.
e) Penulisan kembali: tulis kembali tulisan anda, masukkan isi yang baru dan perubahan –perubahan penyuntingkan.
f) Evaluasi: periksalah kembali untuk memastikan bahwa anda telah menyelesaikan apa yang Anda rencanakan dan apa yang ingin anda sampaikan. Walaupun ini merupakan proses yang terus berlangsung tahap ini menandai akhir.

Kegiatan menulis dibaratkan seperti seorang arsitektur akan membangun sebuah gedung, biasanya ia membuat rancangan terlebih dahulu dalam bentuk gambar di atas kertas. Demikian pula seorang penulis, membuat kerangka tulisan atau outline merupakan kebiasaan yang perlu dipupuk terus untuk menghasilkan sebuah karya tulis yang baik. Penulis dalam hal ini dibaratkan sebagai seorang arsitek bahasa, yang selain mengetahui bagaimana membangun sebuah tulisan secara utuh, ia tidak boleh mengabaikan dasar-dasar penulisan. Dasar-dasar penulisan ini menjadi fondasi utama dalam penulisan adalah pemahaman kita tentang paragraf. Dengan memahami makna dan ciri-ciri paragraf yang baik, kita akan lebih mampu menuangkan gagasandan pikiran kita secara lebih runtut, sistematis, dan teratur. Pada dasarnya sebuah tulisan mencerminkan cara berpikir seseorang dan bagaimana dia memandang suatu persoalan.

7. Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Menulis
Banyak faktor yang mempengaruhi kemampuan menulis. Namun, pada prinsipnya dapat dikategorikan dalam dua faktor yakni faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal di antaranya belum tersedia fasilitas pendukung, berupa keterbatasan sarana untuk menulis. Faktor interna lmencakup faktor psikologis dan faktor teknis.
Yang tergolong faktor psikologis di antaranya Faktor kebiasaan atau pengalaman yang dimiliki. Semakin terbiasa menulis maka kemampuan dan kualitas tulisan akan semakin baik. Faktor lain yang tergolong faktor psikologis adalah faktor kebutuhan. Faktor kebutuhan kadang akan memaksa seseorang untuk menulis. Seseorang akan mencoba dan terus mencoba untuk menulis karena didorong oleh kebutuhannya.
Faktor teknis meliputi penguasaan akan konsep dan penerapan teknik-teknik menulis. Konsep yang berkaitan dengan teori- teori menulis yang terbatas yangdimiliki seseorang turut berpengaruh. Faktor kedua dari faktor teknis yaknipenerapan konsep. Kemampuan penerapan konsep dipengaruhi banyaksedikitnya bahan yang akan ditulis dan pengethuan cara menuliskan bahanyang diperolehnya.
Keterampilan menulis banyak kaitannya dengan kemampuan membaca makaseseorang yang ingin memiliki kemampuan menulisnya lebih baik, dituntutuntuk memiliki kemampuan membacanya lebih baik pula.


BAB III
PENUTUP
Menulis merupakan komunikasi tidak langsung yang berupa pemindahan pikiran atau perasaan dengan memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosakata dengan menggunakan simbol-simbol, sehingga dapat dibaca seperti apa yang diwakili oleh simbol tersebut. Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang memiliki tujuan, manfaat, jenis, teknik dan tahapan-tahapan tertentu.
Memahami konsep menulis merupakan suatu langkah awal yang penting sebelum kita memulai aktivitas menulis. Hal tersebut dikarenakan, konsep menulis memberikan suatu wawasan yang harus diketahui dan dimiliki sebelum kita melakukan aktivitas menulis.
Menyelaraskan berbagai aspek dalam konsep menulis merupakan ciri seorang penulis yang baik. Menulis juga merupakan komunikasi efektif dalam bermasyarakat, dengan menulis kita bisa mengenal dan dikenal oleh banyak orang, seperti kata pepatah “Menulislah! Maka dunia akan mengenalmu.”
di October 22, 2020 16 comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

Pengertian Ragam Bahasa Ilmiah , Semi Ilmiah , Dan Non Ilmiah


    1.Ragam Bahasa Ilmiah

          
  Kalimat ilmiah adalah tulisan yang disusun secara sistematis dan logis. Bahasa tulis ilmiah merupakan perpaduan ragam bahasa tulis dan ragam bahasa ilmiah.
   Dalam kehidupan sosial dan sehari-hari masyarakat Indonesia, baik secara lisan maupun tulisan, digunakan berbagai bahasa daerah termasuk dialeknya, bahasa Indonesia, dan/atau bahasa asing. Bahkan, dalam situasi tertentu, seperti dalam keluarga perkawinan campuran digunakan pula bahasa yang bersifat campuran, yaitu campuran antara bahasa Indonesia dan salah satu atau kedua bahasa ibu pasangan perkawinan campuran itu. Dalam situasi kebahasaan seperti itu, timbul berbagai ragam atau variasi bahasa sesuai dengan keperluannya, baik secara lisan maupun tulisan
Kalimat ilmiah biasa digunakan pada laopran, makalah, tesis, disertasi.

contoh :
- Penelitian ini mengkaji teknik pentajaman objek yang efektif dan efisien
- Ketua kelompok itu memiliki argumen yang tepat
- Barisan upacara itu memiliki formasi yang rapih
- Soekarno menjadi figur yang baik buat bangsa indonesia
- Semakin lama zaman semakin modern





Macam-Macam Ragam Bahasa Ilmiah

a. Cendekia
Ciri cendekia yang dimaksud adalah bahasa Indonesia yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah mampu mengungkapkan hasil berpikir logis secara tepat. Hal itu diwujudkan dalam penyusunan atau pengorganisasian bahasa secara sistematis, artinya teratur dan runtut sehingga menunjukkan kelogisan berpikir seseorang atau penulis.
b. Lugas dan Logis
Ciri lugas yang dimaksud adalah bahasa Indonesia yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah harus bermakna harafiah dan tidak bermakna ganda, sedangkan ciri logis adalah bahasa Indonesia yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah sesuai dengan logika atau dapat diterima oleh akal sehat. Hal itu  membantu penulis dalam mengungkapkan pola pikir atau gagasannya dan membantu pembaca dalam memahami gagasan atau pola pikir penulis.
c. Jelas
Ciri jelas yang dimaksud adalah bahasa Indonesia yang digunakan dalam pen  ulisan karya ilmiah jelas struktur kalimat dan  maknanya. Hal itu  sangat membantu penulis dalam memaparkan gagasan atau pola pikirnya dan mempermudah pembaca untuk memahami makna yang dimaksudkan.
d. Padat dan Ringkas
               Padat yang dimaksud adalah gagasan atau pola pikir yang akan diungkapkan tidak tercampur unsur-unsur lain yang tidak ada hubungannya atau tidak diperlukan. Ciri ringkas yang dimaksud adalah bahasa Indonesia yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah harus  singkat, tidak menggunakan kata-kata yang tidak diperlukan atau kata-kata yang berlebihan (mubazir). Dengan demikian,  pemulisan karya tulis ilmiah menunjukkan gagasan atau pola pikir yang padat dan tertuang dalam kalimat yang ringkas
e. Formal dan Objektif 
Formal yang dimaksud mengacu pada pandangan bahwa komunikasi ilmiah melalui tulisan ilmiah merupakan komunikasi formal atau resmi sehingga  bahasa Indonesia yang digunakannya harus bahasa Indonesia formal, artinya bahasa Indonesia yang digunakan harus bahasa yang berlaku dalam situasi formal atau resmi pada struktur bahasa yang mencakup seluruh tataran struktur kebahasaan. Penggunaan bahasa seperti itulah yang menunjukkan ciri objektif, yaitu dapat diukur kebenaranya secara terbuka oleh umum.
f. Gagasan sebagai Pangkal Tolak
Gagasan  sebagai pangkal tolak yang dimaksud adalah bahasa yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah harus berorientasi pada gagasan atau pola pikir bukan pada penulis. Gagasan sebagai pangkal tolak terkait dengan objektivitas penulis, artinya penggunaan bahasa tersebut secara dominan harus bertolak pada objek yang dibicarakan dan bukan pada penulis secara pribadi. Oleh karena itu, objektivitas harus  ditandai dengan upaya penulis untuk menghindari penggunaan kata saya, kami, dan kita 
g. Penggunaan Istilah Teknis
      Ciri penggunaan istilah teknis yang dimaksud adalah bahasa Indonesia yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah harus berfungsi sebagai wacana teknis, artinya sesuai dengan bidang keilmuannya yang dilengkapi dengan peristilahan teknis yang meliputi penulisan angka, lambang, dan istilah sesuai dengan bidang ilmu.
h. Konsisten
  Ciri konsisten yang dimaksud adalah bahasa Indonesia yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah mulai dari tataran terkecil sampai dengan tataran terbesar dan terluas (keseluruhan struktur bahasa) harus ajeg. Arti ajeg adalah taat asas atau selalu menggunakan bentuk-bentuk atau unsur-unsur tersebut dari awal tulisan sampai akhir tulisan.
Contoh-contoh Bahasa Indonesia Ragam Ilmiah
Keseluruhan ciri bahasa Indonesia ragam ilmiah seperti yang telah disebutkan harus terwujud dalam karya tulis ilmiah yang dibuat oleh penulis. Untuk itu, perhatikan contoh-contoh dan ciri-ciri penulisan karya ilmiah berikut. Contoh-contoh berikut disajikan dalam bentuk yang salah sekaligus bentuk yang benar.
A.    CENDEKIA
      Contoh :
1)   Kemajuan informasi pada era globalisasi ini dikhawatirkan akan terjadi pergeseran nilai-nilai moral bangsa Indonesia terutama pengaruh budaya barat yang masuk ke Negara Indonesia yang dimungkinkan tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan moral bangsa Indonesia.
2)   Pergeseran nilai-nilai budaya bangsa terjadi karena masuknya pengaruh budaya barat ke Indonesia.



B. LUGAS DAN LOGIS
Contoh:
1) Kalau pada zaman Sunan Kalijaga dalam kesenian wayang termasuk ceritanya digunakan sebagai media penyebaran agama. Maka di masa sekarang lebih tepat apabila penanaman budi pekerti dalam cerita wayang melalui pengajaran apresiasi.
2)   Kalau pada zaman Sunan Kalijaga, kesenian wayang, termasuk ceritanya, digunakan sebagai media penyebaran agama; sekarang, kesenian wayang digunakan sebagai media penanaman budi pekerti melalui apresiasi.
3)   Saat terjadi kekacauan di pasar, pencuri berhasil ditangkap sama polisi.
4)   Saat terjadi kekacauan di pasar, polisi berhasil menangkap pencuri.

C. JELAS
      Contoh:
1)   Untuk mengetahui apakah baik dan buruknya pribadi seseorang dari tingkah dan lakunya dalam sehari-hari.
2)   Baik buruknya pribadi seseorang dapat dilihat dari tingkah lakunya sehari-hari.
3)   Perkara diajukan kemeja hijau berjumlah lima puluh satu. Sedangkan perkara disidangkan berjumlah dua puluh satu.
4)   Perkara yang diajukan ke meja hijau berjumlah 51 buah, sedangkan perkara yang telah disidangkan berjumlah 21 buah
.
D. PADAT DAN RINGKAS
Contoh:
1)   Pendidikan agama di sekolah dasar bagaimanapun tidak akan terlaksana dengan baik tanpa adanya dukungan yang baik pula dari orang tua murid dalam keluarga.
2)   Pendidikan agama di SD tidak akan terlaksana dengan baik tanpa dukungan orang tua.
E. FORMAL DAN OBJEKTIF
      Contoh:
1)   Menurut Moeliono mengatakan bahwa bahasa ilmiah itu lugas, eksak, dan menghindari kesamaran dan ketaksaan dalam pengungkapan. (1989)
2)   Menurut Moeliono (1989),  bahasa ilmiah itu lugas, eksak, dan menghindari kesamaran dan ketaksaan dalam pengungkapan.
3)   Moeliono (1989) mengatakan bahwa bahasa ilmiah itu lugas, eksak, dan menghindari kesamaran dan ketaksaan dalam pengungkapan.
F. GAGASAN SEBAGAI PANGKAL TOLAK
       Contoh:
1)   Kita semua tahu bahwa pendidikan itu dilingkungan keluarga sangat penting dalam menanamkan moral Pancasila.
2)   Perlu dikatahui bahwa pendidikan di lingkungan keluarga sangat penting dalam penanaman moral Pancasila.
G. PENGGUNAAN ISTILAH TEKNIS
      Contoh:
1)   Hazard Analysis Critical Control Point/HACCP adalah sistem penjaminan mutu dan keamanan pangan yang sangat dianjurkan oleh badan keamanan pangan internasional Codex Alimentarius Commission untuk diterapkan di industri pangan
2) Hazard Anaylisis Critical Control Point (HACCP) adalah sistem penjaminan mutu dan keamanan pangan yang sangat dianjurkan oleh badan keamanan pangan internasional Codex Alimentarius Commission (CAC) untuk diterapkan di industri pangan.

H. KONSISTEN
     Contoh:
1)         Perlucutan senjata di wilayah Bosnia itu tidak penting bagi muslim Bosnia. Untuk mereka yang penting adalah pencabutan embargo senjata.
2)         Perlucutan senjata di wilayah Bosnia itu tidak penting bagi muslim Bosnia. Bagi mereka yang penting adalah pencabutan embargo senjata.





2. Ragam Bahasa Semi Ilmiah

Kalimat semi ilmiah merupakan kalimat yang membentukan katanya tidak terlalu formal, tidak terlalu mengikuti metode ilmiah, tetapi tetap konsisten terhadap struktur kalimat yang lengkap dan obyektif atas tulisan tersebut. Kalimat semi ilmiah biasanya digunakan pada artikel, editorial, reportase.

contoh kalimat Semi ilmiah:

Manga, merupakan sebutan untuk komik di Jepang. Tidak ada yang tahu secara pasti kapan komik masuk pertama kali ke Jepang, tetapi pada mulanya komik Jepang adalah peniruan dari film animasi Walt Disney oleh Ozamu Tezuka (1928-1989) dan merupakan cikal bakal dari komik Jepang modern. Beliau mengekspresikan gerakan film-film animasi Walt Disney ke dalam komik Jepang. Karya-karya beliau setelah akhir perang dunia II membuka era baru untuk komik Jepang.
           

Ciri-ciri Ragam Bahasa Semi Ilmiah

Karya non-ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, bersifat subyektif, tidak didukung fakta umum, dan biasanya menggunakan gaya bahasa yang popular atau biasa digunakan (tidak terlalu formal).
Ciri-ciri karya tulis non-ilmiah, yaitu:
  • Ditulis berdasarkan fakta pribadi,
  • Fakta yang disimpulkan subyektif,
  • Gaya bahasa konotatif dan populer,
  • Tidak memuat hipotesis,
  • Penyajian dibarengi dengan sejarah,
  • Bersifat imajinatif,
  • Situasi didramatisir,
  • Bersifat persuasif.
  • Tanpa dukungan bukti
Jenis-jenis yang termasuk karya non-ilmiah, yaitu:
  • Dongeng
  • Cerpen
  • Novel
  • Drama
  • Roman



 3. Ragam Bahasa Non Ilmiah

Artikel Non Ilmiah (Fiksi) adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta pribadi dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar. Satu ciri yang pasti ada dalam tulisan fiksi adalah isinya yang berupa kisah rekaan. Kisah rekaan itu dalam praktik penulisannya juga tidak boleh dibuat sembarangan, unsur-unsur seperti penokohan, plot, konflik, klimaks, setting dan lainnya. Bentuk karangan non ilmiah adalah dongeng, cerpen, novel, roman, anekdot, hikayat, cerber, puisi dan naskah drama.

 Ciri-Ciri Bahasa Non Ilmiah

  1. Emotif : merupakan kemewahan dan cinta lebih menonjol, tidak sistematis, lebih mencari keuntungan dan sedikit informasi
  2. Persuasif : merupakan penilaian fakta tanpa bukti. Bujukan untuk meyakinkan pembaca, mempengaruhi sikap cara berfikir pembaca dan cukup informative
  3. Deskriptif : merupakan pendapat pribadi, sebagian imajinatif dan subjektif, dan
  4. Jika kritik adakalanya tanpa dukungan bukti.
Kalimat non ilmiah merupakan kalimat yang tidak formal, dari bentuk bahasa, kosa kata, ataupun struktur, tetapi harus tetap memiliki alur yang jelas dalam penulisan. Tidak memiliki unsur semetodis atau sesistematis seperti layaknya kalimat ilmiah atau semi ilmiah. Kalimat non ilmiah biasa digunakan pada dongeng, hikayat, cerpen, novel.

Contoh kalimat non ilmiah:

- Damy adalah mahasiswa angkatan 2008
- Ibu pergi ke pasar untuk berbelanja
- Nidji sedang konser di JCC

di October 22, 2020 23 comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

Tuesday, October 20, 2020

Going home, husband Pergoki wife cheating on popcorn 🙊🙈

Su (43 years), a housewife in Samarinda City, has the heart to betray her husband who is working hard to earn money overseas to support his family. While her husband is overseas, Su cheats with another man who is younger and stronger, with the initials Ek (32 years). Sadly, when she was in a relationship with Ek, Su still received money from her husband every month. Su himself is known to live with his son in Samarinda. The husband is not unsuspecting. Long before she finally caught him in person, her husband was already suspicious of Su's attitude. Moreover, several of his relatives also leaked information about Su's affair with him. Until finally, on Sunday, October 18, 2020, the husband was struck by lightning in broad daylight when he saw with his own eyes and head that his wife was holding hands with a younger man. If usually he always told his wife when he was going home, this time the husband came home quietly. It broke her heart to see Su picked up by the young man in the alley in front of her house. When he caught his wife, there was a scene. The young man was almost beaten by residents before being secured at the local FKPM headquarters. After a fairly tough mediation, Su finally chose to go with the man with the popcorn instead of the husband who had given him the child.
di October 20, 2020 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

Pulang Merantau, Suami Pergoki Istri Selingkuh dengan Berondong 🙊🙈

 Su (43 tahun), seorang ibu rumah tangga di Kota Samarinda, tega mengkhianati suaminya yang banting tulang mencari uang di perantauan demi menafkahi keluarganya.

Selagi sang suami berada di perantauan, Su main serong dengan pria lain yang lebih muda dan kuat, berinisial Ek (32 tahun).

Mirisnya, saat menjalin hubungan dengan Ek, Su masih tetap menerima uang kiriman suaminya saban bulan. Su sendiri diketahui tinggal bersama anaknya di Samarinda.

Sang suami bukannya tak curiga. Jauh hari sebelum akhirnya dipergokinya secara langsung, suaminya sudah curiga pada gelagat Su. Apalagi, beberapa kerabatnya juga membocorkan informasi perselingkuhan Su kepadanya.

Hingg akhirnya, pada Minggu, 18 Oktober 2020, sang suami bak disambar petir di siang bolong ketika melihat dengan mata dan kepalanya sendiri sang istri bergandengan tangan dengan pria yang lebih muda.

Jika biasanya dia selalu memberitahu istrinya saat hendak pulang, kali itu sang suami pulang diam-diam.

Hancur hatinya melihat Su dijemput laki-laki muda itu di gang depan rumahnya. Saat memergoki istrinya, sempat terjadi keributan.

Pria muda itu nyaris dipukuli warga sebelum kemudian diamankan di markas FKPM setempat.

Setelah dilakukan mediasi yang cukup alot, Su akhirnya lebih memilih pergi bersama pria berondong itu ketimbang bersama suami yang sudah memberinya anak. 

di October 20, 2020 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

Durhaka😠 Anak Tega Bakar Ibunya Hidup-hidup, disulut pakai Puntung Rokok😭


Belakangan ini Mesir dihebohkan dengan insiden pembakaran seorang anak terhadap ibunya yang berusia 70 tahun secara hidup-hidup. Anak tersebut bahkan menyulut api dengan puntung rokok sebelum diguyur minyak mendidih.

Melansir dari laman Gulf News, Selasa (20/10/2020), seorang saksi mata yang bernama Sameh mengatakan bahwa pelaku tinggal bersama ibunya. Setelah mengetahui itu, ia kemudian menelpon penjaga gedung dan meminta bantuan usai aksi kejam itu dilakukan.

Sameh kemudian meminta bantuan agar ibunya segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.
⠀
"Beberapa menit kemudian, dia menolak membuka pintu dan menelepon nomor darurat untuk mengirim ambulans," ungkap Sameh.

Ketika ambulan datang, Sameh mengatakan petugas langsung mencapai lantai ke tiga apartemen dan menyelamatkan sang wanita yang dibakar anaknya.
⠀
"Tetangga terkejut melihat korban dalam kondisi yang mengerikan, dengan tanda-tanda penyiksaan," imbuhnya.

Tubuh wanita itu penuh dengan luka bakar dan luka akibat puntung rokok. Hingga kini belum diketahui secara pasti motif dibalik aksi keji yang dilakukan oleh pria yang tinggal di Jalan Mahmoud Zaki.

Diketahui, tersangka yang diyakini menderita kondisi psikologis, telah dipecat dari tempatnya bekerja dan hidup bergantung dari gaji pensiun ibunya.
di October 20, 2020 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

Friday, October 16, 2020

Adat Makassar Bugis "Lawa sugi dan Panca-panca


Yg Bugis pingin tau adat pernikahan Bugis,Berhubung Sekarang musim Nikah, Jadi di bahas Sedikit yang biasa ada di Pernikahan adat Bugis, Yaitu Lawa Suji/Wala Suji  dan Sompa/Pangolo Sompa.

~ LAWA SUJI DAN WALA SUJI ~

Lawa Suji Adalah Sebuah Anyaman Yang Terbuat Dari Bambu Yang Berbentuk Persegi Empat "Sulapa' Eppa" Di Mana Itu Melambangkan Ke-4 Unsur Bumi Yaitu : Air, Tanah, Udara, Dan Api. Dan Juga Melambangkan Dari Ke-4 Penjuru Angin Yang Masing-Masing Mempunyai Nilai, Nila-Nilai Tersebut adalah 1. Nilai Intelektualitas (Acca), 2. Nilai Keberanian (warani), 3. Jujur (lempu) dan 4. Kaya (sugi).
Lawa Suji Sendiri Berasal Dari Bahasa Bugis Yaitu : Lawa = Penghalang/Pembatas/Pagar, dan Suji = Putri, Jadi Lawa Suji Dapat Di Artikan Sebagai Penghalang/Pembatas Putri. Lawa Suji Sendiri Biasanya Di Buat Menjadi Baruga, Lamming, Dan  Wala Suji (Erang-Erang), Yang Di Ikutkan Dalam Prosesi Upacara Pernikahan Yang Di Isi Dengan 7 Macam Buah-buahan. Yang Masing-Masing Mempunyai Makna Tersendiri. Berikut Isi Dan Pembahasan Wala Suji (Erang-Erang) :
1. Panasa (Nangka).
2. Loka (Pisang).
3. Panreng (Nenas).
4. Tebbu (Tebuh).
5. Kaluku (Kelapa).
6. Sala' (Salak).
7. Buah Ta' (Lontar).
Maknah Dalam Bahasa Bugis :  Mamminasa Wa'Lokka Matunrung Pada Cenninna Tebbue Nennia Lunra'na Kalue, Benengngengngi Baja Sangngadie Engka Tassalanna Botting Uruanewe Ri Lawai Nasaba Kawa-Lawa Pappoji Na Engka Tang padatanna Batanna Bua Ta' Angkenna Tiwi Botting Uruanewe.

~ "TINGKATAN SOMPA ATAU MAHAR DI SULSEL MENURUT TINGKAT DERAJAT/KASTA WANITA DAN ISI PANGOLO SOMPA" ~

Dahulu kala sompa = sunrang/sunreng (Mahar) di berikan menurut derajat-derajat sosial gadis yang dipinang itu diperhitungkan de­ngan sangat teliti, karena sangat menyangkut tentang derajat sosial kelu­arganya. Garis besar dari keadaan itu diikuti  juga sampai saat ini, walaupun tidak diperhitungkan seteliti dahulu
kala. Adapun tingkat-tingkat sunrang/Sunreng (Sompa).

A. Makassar/Gowa.
(patroon orang Makssar). Sunrang tertinggi yang berlaku bagi anak ti'no adalah 80 reala, di bawah itu berlaku bagi anak karaeng adalah 40, 44, dan 28 real sesuai tingkat derajatnya, untuk tu baji' adalah 20 atau 16 real sedangkan untuk tu samara' adalah 14 real.

B. Luwu.
Terdapat tingkat Sunreng/Sompa sebagai berikut :
1. Sompa To Selli hanya pernah terjadi bagi pengantin To Manurung, jumlah maharnya 100 kati emas atau 8000 real.
2. Sompa To Le'ba, di berikan kepada pengantin perempuan anak raja penuh dari Datu Luwu, jumlah maharnya 50 kati emas atau 4000 real.
3. Sompa To Luwu, di berikan kepada anak bangsawan luwu dengan jumlah mahar 10 kati emas di tambah 10 Tai' atau 880 real.
4. Sompa Ujung Aju, di berikan kepada anak-anak bangsawan dengan penyederhanaan dengan perhitungan bulat 880 real.
   Sejak tahun 1875, bagi bangsawan dan to deceng, sunrang itu tidak lebih dari 3 kati emas atau 264 real, selanjutnya di biasakan sampai sekarang sunrang itu sebesar 88 real saja, bagi bukan bangsawan hanya 44, 22, atau 20 real.

C. Tellum Poccoe. (Bone, Soppeng, dan Wajo)
1. Sompa Bocco, di berikan kepada putri raja yang memegang kekuasaan kerajaan, jumlah sunrang/Sompa adalah 14 kati doi lama, nilai 1 kati doi lama adalah 88 real + 8 oang + 8 doi' bersamaan itu di serahkan pula seekor kerbau dan seorang ata (budak), kecuali wajo budak di tiadakan.
2. Sompa ana' Bocco, di berikan kepada putri raja atau anak bangsawan tinggi jumlah maharnya adalah 7 kati doi lama.
3. Sompa Kati, di berikan kepada putri raja bawahan/palili, dengan jumlah mahar sebesar 1 kati doi lama setara 88 real + 8 oang + 8 doi dan  seorang ata/budak.
4. Sompa Ana' Mattola, di berikan kepada Putri Mattola dengan jumlah 3 kati doi lama.
5. Sompa Rajeng, di berikan kepada putri Rajeng dengan jumlah 2 kati doi lama 176 real.
6. Sompa Cera' Sawi, di berikan kepada anak Cera' Sawi dengan jumlah 1 kati doi lama atau 88 real.
7. Sompa To Deceng, di berikan kepada anak to deceng sebesar 1/2 kati atau 44 real.
8. Sompa To Maradeka, di berikan kepada anak To Maradeka sebesar 1/4 kati doi lama atau 22 real.
1 kati=600 gram jadi 100 kati=6.000 gram, harga emas sekarang sekitar Rp 636.679/gram jadi total Rp 3,82 Milyar Dan 80 Real setara 1 kati Emas,
Demikianlah pembahasan tentang tingkatan Sompa (mahar) di sulawesi selatan, dan itu belum termasuk Uang Panai' karena Sompa dan uang Panai berbeda dan perhitungannya pun juga berbeda.

~"PANGOLO SOMPA"~

Dalam upacara pernikahan adat bugis di kenal dengan adanya sebuah Sompa atau Pangolo Sompa, napemaliang to matoae riolo narekko menrekki mappabotting na de'na di tiwi pangolo sompae yang di mana Pangolo Sompa ini berfungsi sebagai penyampai/pengganti bicara mempelai pria kepada mertuanya, Isi Pangolo Sompa terdiri dari 6 macam benda yaitu :
1. Penne tana. = Piring tanah
2. Berre/Werre = Beras
3. Kana-kana silaibineng = Boneka kecil sepasang
4. Bunga Parenreng = Bunga Parenreng
5. Jarum
6. Aju Cenning = Kayu manis
Fungsi/makna dari penne tana yaitu sebagai simbol harta yang di bawa oleh si pria jadi jikalau mertua dari mempelai pria berkata "aga muatu mu engka...? tettana si cippemu to Magi na iko melo maddacco-dacco mangatoro na warang parang mu pole-polei. Jadi di sini minimal tanah sepotong/si cippe dari mempelai pria tadi adalah piring tanah itu jadi berhaklah sang pria untuk mengatur kehidupan rumah tangganya sendiri. Kemudian berre/werre merupakan pappanre manu-manu parakuseng na magala moni manu parakuseng na tabbukka okina to mabbedda'e jadi Berre/werre pangolo sompae merupakan cenning rara. Kemudian selanjutnya naiya bunga parenrengnge mamminasani botting uruanewe renreng ana uruane na makkunrai na maciru atinna pada jarungnge na macenning pada aju cenningnge.

Di Kutip dari berbagai Sumber.
di October 16, 2020 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

Thursday, October 15, 2020

Kelelahan Bercinta dengan Wanita PSK Pria Ini Tewas di Hotel🙈😱😰

Rabu, 14 Oktober 2020. Pria berinisial S membuat janji dengan wanita bernama Sri (28). Keduanya sepakat bertemu di salah satu hotel.

S yang merupakan warga Sidoarjo, Jawa Timur, kemudian bergegas ke hotel di Jalan Raya Trawas, Kabupaten Mojokerto. Dia kemudian memesan kamar nomor 15.

Pria itu lalu menghubungi Sri. Tak lama kemudian, wanita berusia 28 tahun itu tiba di hotel lalu masuk kamar nomor 15 sekitar pukul 16.30 WIB.

Di dalam kamar, S dan Sri berhubungan badan. Namun usai bercinta, S mengaku napasnya sesak dan tersengal-sengal.

Melihat kondisi korban, selanjutnya Sri meminta tolong kepada pegawai hotel. Sri bersama pegawai hotel lalu masuk ke dalam kamar hotel untuk melihat kondisi korban.
⠀
"Saat itu napas korban masih dalam keadaan tersengal - sengal, tidak lama kemudian terhenti," kata Kapolsek Pungging, AKP Suwiji.

Polisi yang menerima laporan akhirnya mendatangi lokasi dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
⠀
Dari hasil olah TKP Suwiji memastikan korban meninggal tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan di tubuhnya.
⠀
"Korban telah dilakukan visum di RSUD Prof. Dr. Soekandar, hasilnya tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan di tubuh korban," bebernya.
⠀
⠀

⠀
⠀
⠀

⠀
Sc : bukamatanews
di October 15, 2020 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

Tuesday, October 13, 2020

Morfologi dan Sintaksis Bahasa Arab

BAB I
PENDAHULUAN

Tata bahasa merupakan istilah lain dari gramatika (grammar) atau dalam bahasa Arab disebut nahwu-sharaf. Tata bahasa merupakan deskripsi dari aturan-aturan yang berlaku pada setiap bahasa. Brown (1987: 341) berpendapat bahwa tata bahasa adalah suatu sistem aturan yang mempengaruhi susunan dan hubungan konvensional kata-kata dalam suatu kalimat. Berdasarkan pengertian tersebut, tata bahasa dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu (1) tata kata dan (2) tata kalimat. Dalam bahasa Arab ilmu yang membahas tata kata disebut dengan ‘ilm sharf (morphopogy). Sedangkan tata kalimat dalam bahasa Arab dikaji dalam ‘ilm nahwu (sintax).

Morfologi merupakan salah satu cabang linguistik yang membahas mengenai perubahan kata. Dalam bahasa Arab, morfologi merupakan ‘ilm al-sharf, dimana di dalamnya banyak membahas tentang perubahan-perubahan kata dari satu kata menjadi sejumlah kata yang mempunyai arti tersendiri. Dalam kajian morfologi, terdapat poin-poin yang menjelaskan lebih rinci tentang morfologi itu sendiri, seperti objek kajian morfologi, proses morfologi, hubungan morfologi dengan ilmu-ilmu tata bahasa lainnya, serta morfologi dalam bahasa Arab itu sendiri.
 

BAB II
PEMBAHASAN

A.   Pengertian Morfologi
Morfologi (atau tata bentuk, Inggris Morphology) adalah bidang linguistik yang mempelajari susunan bagian-bagian kata secara gramatikal (Verhaar, J.W.M., 1983: 52). Ramlan (1983: 16-17) mengemukakan bahwa morfologi ialah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata; atau morfologi mempelajari seluk beluk bentuk kata serta fungsinya perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik.[1]  Pendapat lain mengemukakan Morfologi adalah ilmu yang mempelajari morfem, dan morfem itu adalah unsur bahasa yang mempunyai makna dan ikut mendukung makna[2].

B.   Proses Morfologik
Proses morfologik adalah proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya. Ada tiga proses morfologik dalam bahasa, diantaranya:
1.    Proses pembubuhan afiks
Proses pembubuhan afiks adalah pembubuhan afiks[3] pada sesuatu satuan, baik satuan itu berupa bentuk tunggal maupun bentuk kompleks, untuk membentuk kata. Contoh: memanas, merendang, tercantik, bersuara, dll.
2.    Proses pengulangan
Proses pengulangan atau reduplikasi adalah pengulangan satuan gramatik, baik seluruhnya maupun sebagian, baik dengan perubahan bunyi ataupun tidak. Contoh: rumah-rumah, biji-bijian, bolak-balik, dll.
3.    Proses pemajemukan
Proses pemajemukan adalah gabungan dua kata yang menimbulkan suatu kata baru. Contoh: tenaga kerja, medan tempur, gelap gulita, pejabat tinggi, dll.[4]

Pendapat lain mengatakan, proses morfologis yang umumnya tercatat dan berlangsung dalam hampir setiap bahasa dapat dibedakan atas :
1.    Proses Afiksasi
2.    Proses pergantian
Proses pergantian kadangkala disebut pula dengan perubahan Dakhil (Internal Change. Sebuah morfem dasar bebas dapat mengalami perubahan dalam tubuhnya sendiri dengan adanya pergantian salah satu unsur fonemnya baik konsonan, vokal, maupun ciri-ciri suprasegmental (nada, tekanan, durasi, dan sendi).
Contoh : pemuda – pemudi, mahasiswa – mahasiswi, dll.
3.    Proses duplikasi
4.    Proses kosong
Bentuk-bentuk yang tidak mengalami proses, contoh seperti dalam bahasa Inggris, untuk mengetahui kata tersebut bermakna jamak biasanya diakhiri dengan –s, contoh  book – books,. Tetapi ada morfem yang tidak mengalami proses itu seperti pada kata sheep – sheep.[5]

C.   Objek Kajian Morfologi
Objek kajian morfologi adalah tentang Morfem dan Kata.

1.    Morfem
Morfem adalah morfem juga berarti satuan gramatik yang paling kecil, satuan gramatik yang tidak mempunyai satuan lain sebagai unsurnya.[6]
Klasifikasi morfem :
a.      Morfem tunggal dan kompleks
Satuan sepatu bila dibandingkan dengan bersepatu, bersepatu hitam, ia membeli sepatu dari toko, ternyata ada perbedaannya. Satuan sepatu tidak mempunyai satuan yang lebih kecil, sedangkan bersepatu terdiri dari satuan ber- dan sepatu. Bersepatu hitam terdiri dari satuan ber-, sepatu, hitam. Satuan ber-, sepatu, hitam masing-masing merupakan morfem tunggal, sedangkan satuan-satuan bersepatu, bersepatu hitam merupakan morfem kompleks.
b.      Morfem bebas dan terikat
Morfem dapat digolongkan menurut kemungkinannya berdiri sendiri sebagai kata, bahkan sebagai kalimat jawaban atau perintah, juga ada morfem yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai kata. Dengan kata lain, dalam tuturan biasa satuan-satuan gramatik itu ada yang dapat berdiri sendiri dan ada yang tidak dapat berdiri sendiri, melainkan selalu terikat pada satuan yang lain.

2.      Kata
Kata adalah satuan bebas yang terkecil, atau dengan kata lain, setiap satu satuan bebas merupakan kata. Kata terdiri dari dua satuan, yaitu satuan fonologik dan satuan gramatik. Sebagai satuan fonologik, kata terdiri dari satu atau beberapa suku kata, dan suku kata itu terdiri dari satu atau beberapa fonem. Sebagai satuan gramatik, kata ada yang terdiri dari satu morfem dan ada juga kata yang terdiri dari beberapa morfem.[7]

D.   Hubungan Morfologi dengan Leksikologi, Etimologi dan Sintaksis[8]
1.    Morfologi dan Leksikologi
Leksikologi adalah cabang linguistik yang memperlajari leksikon. Leksikon merupakan komponen bahasa yang memuat semua informasi tentang makna dan pemakaian kata dalam bahasa.
Jika morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata, sedangkan leksikologi mempelajari seluk-beluk kata, yaitu perbendaharaan kata, pemakaian kata serta artinya seperti dipakai masyarakat pemakai bahasa.
Ada persamaan antara leksikologi dengan morfologi, yaitu mempelajari masalah arti, namun terdapat perbedaan diantara keduanya itu. Perbedaan tersebut adalah.
a.    Leksikologi mempelajari arti kata yang terkandung dalam kata (arti leksikal). Contoh:
(1)     Kata senjata berarti ‘alat yang dipakai untuk berperang dan berkelahi’
(2)     Kata bersenjata berarti ‘memakai senjata’
Kedua kata tersebut masing-masing memiliki arti leksikal.
b.    Morfologi mempelajari arti kata yang timbul sebagai akibat peristiwa gramatik (arti gramatikal).  Dalam morfologi, yang dibicarakan adalah perubahan bentuknya dari senjata menjadi bersenjata, perubahan golongannya dari kata nominal menjadi kata verbal, dan perubahan artinya yang timbul akibat melekatnya afiks ber- pada bersenjata, adalah timbul makna ‘mempunyai’ atau ‘memakai, mempergunakan’.

2.    Morfologi dan Etimologi
Etimologi adalah ilmu yang mempelajari atau menyelidiki perubahan dan perkembangan bentuk kata. Dalam perkembangannya, perubahan bentuk kata dapat dibedakan atas:
a.    Perubahan bentuk kata dari perbendaharaan kata-kata asli suatu bahasa akibat pertumbuhan dalam bahasa sendiri, misalnya kamu, engkau, anda, dsb.
b.    Perubahan bentuk kata dari kata-kata pinjaman, misalnya:
Taubat (arab)            : tobat
Parameswari (skt)    : permaesuri
Lamp (ing)                : lampu
Eksamen                   : samen



3.    Morfologi dan Sintaksis
Sintaksis merupakan penguasaan atas suatu bagasa yang mencakup kemampuan untuk membangun frase atau kalimat yang berasal dari kata.  Sintaksis bersama-sama dengan morfologi merupakan bagian dari subsistem tata bahasa atau gramatika.
Morfologi menyelidiki struktur intern kata. Satuan yang paling kecil (morfem) hingga satuan yang paling besar (kata). Sedangkan sistaksis menyelidiki struktur satuan bahasa yang lebih besar dari kata, mulai dari frase hingga kalimat. Contoh: mata kaki, rumah sakit, dst. Jika dilihat dari unsur-unsurnya yang berupa kata atau pokok kata, kata majemuk seperti kata-kata tersebut termasuk bidang sintaksis, tetapi jika dilihat bahwa satuan-satuan itu mempunyai sifat sebagai kata maka pembacaraannya termasuk morfologi.

E.    Ilmu Sharaf (Morfologi Bahasa Arab)
Menurut al-Ghalayayni (1987: 9) ‘ilm al-sharf adalah ilmu yang membahas dasar-dasar pembentukan kata, termasuk di dalamnya imbuhan.[9]  Sharaf memberikan aturan pemakaian masing-masing kata dari segi bentuknya yang dikenal dengan Morfologi. Dengan kata lain bahwa sharaf memberikan aturan pemakaian dan pembentukan kata-kata sebelum digabung atau dirangkai dengan kata-kata yang lain.
Bahasa Arab adalah bahasa yang pola pembentukan katanya sangat beragam dan fleksibel, baik melalui cara derivasi (tashrif isytiqaqy) maupun dengan cara infleksi (tashrif i’raby). Dengan dua cara tersebut, bahasa Arab menjadi sangat kaya dengan kosakata.
Bahasa Arab dari segi pengembangan makna gramatikal ditandai dengan Isytiqaq, yang menjadikan kata-kata Arab berubah secara elastis dalam kata itu sendiri. Dari satu kata عَلِمَ  dan عِلْم umpamanya, dapat dikembangkan menjadi jumlah kata sepertia pada kolom dibawah ini.

الاندونيسية
العربية

الاندونيسية
العربية
Tahu, mengetahui
Mengajar
Memberi informasi
Meminta informasi
Ilmu-ilmu
عَلِم
عَلَّم
أَعْلَمَ
اسْتَعْلَمَ
عُلُوم
Tahu, pengetahuan
Orang pandai
Maha Mengetahui
Yang luas ilmunya
Diketaui
عِلم
عالم
عليم
علاّم
معلوم

Bahasa Arab termasuk bahasa yang infleksi, pengembangan makna gramatikal dilakukan dengan cara mengembangkan satu bentuk menjadi sejumlah bentuk untuk menunjukan variasi makna yang berbeda. Lain halnya dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, yang dalam pengembangan makna gramatikalnya banyak mengandalkan proses afiksasi (awalan, akhiran, sisipan), dan reduplikasi (pengulangan), seperti pada tabel di atas. Dari perbandingan itu tampak bahasa Arab lebih ajeg (qiyasi) dalam pemahaman makna, dan lebih simpel bentuk pengembangannya (ijaz), karena perubahan terjadi secara internal, tidak perlu banyak mengandalkan afiksasi atau reduplikasi.[10]

Pokok Pembahasan Morfologi Bahasa Arab (Tashrif al-Ishthilahiy)
Cakupan yang dibahas dalam morfologi bahasa Arab biasanya terkait dengan bentuk dan perubahan bentuk fi’il madhi, fi’il mudhari, mashdar, isim fa’il, isim maf’ul, isim makan, isim alat, dst.
Contoh Tahsrif al-Ishthilahiy :
اسم الالة
اسم المكان
اسم الزمان
فعل النهى
فعل الامر
اسم المفعول
اسم الفاعل
مصدر
فعل المضارى
فعل الماضى
منصر
منصر
منصر
لاتنصر
انصر
منصور
ناصر
نصرا
ينصر
نصر

مكرم
مكرم
لاتكرم
اكرم
مكرم
مكرم
اكراما
يكرم
اكرم

مكتسب
مكتسب
لاتكتسب
اكتسب
مكتسب
مكتسب
اكتسابا
يكتسب
اكتسب

مستغفر
مستغفر
لاتستغفر
استغفر
مستغفر
مستغفر
استغفارا
يستغفر
استغفر



 
BAB III
KESIMPULAN

Dari uraian yang telah dijelaskan dalam bab pembahasan, dapat ditarik kesimpulan bahwa morfologi merupakan bagian dari linguistik, yang membahas tentang perubahan-perubahan kata secara gramatikal. Materi yang dibahas dalam morfologi diantanya tentang perubahan bentuk dalam kata seperti fi’il madi, fi’il mudhari, dan sebagainya.
Terdapat hubungan antara lorfologi dengan ilmu-ilmu tata bahasa lainnya seperti leksikologi, etimologi dan sintaksis. Diantara ilmu-ilmu tata bahasa tersebut terdapat persamaan dan perbedaan juga karakteristik masing-masing.





DAFTAR PUSTAKA

Djajasudarma, Fatimah. 2006. Metode Linguistik. Bandung: PT Refika Aditama.
Fachrurrozi, Aziz dan Erta Mahyudin. 2011. Teknik Pembelajaran Bahasa Arab. Jakarta: Lembaga Bahasa Yassarna YBMQ Jakarta.
Parera, Jos Faniel. 1977. Pengantar Linguistik Umum: Bidang Morfologi. Ende: Penerbit Nusa Indah.
Resmini, Novi, dkk. 2006. Kebahasaan I (Fonologi, Morfologi dan Semantik). Bandung: UPI Press
di October 13, 2020 17 comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

Sekilas Tentang Sejarah Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia lahir pada tanggal 28 Oktober 1928. pada saat itu, para pemuda dari berbagai pelosok Nusantara berkumpul dalam kerapatan Pemuda dan berikrar (1) bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia, (2) berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, dan (3) menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Ikrar para pemuda ini dikenal dengan nama Sumpah Pemuda. Unsur yang ketiga dari Sumpah Pemuda merupakan pernyataan tekad bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Pada tahun 1928 itulah bahasa Indonesia dikukuhkan kedudukannya sebagai bahasa nasional. Bahasa Indonesia dinyatakan kedudukannya sebagai bahasa negara pada tanggal 18 Agustus 1945 karena pada saat itu Undang-Undang Dasar 1945 disahkan sebagai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa Bahasa negara ialah bahasa Indonesia (Bab XV, Pasal 36).

Keputusan Kongres Bahasa Indonesia II tahun 1954 di Medan, antara lain, menyatakan bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang dari bahasa Melayu yang sejak zaman dulu sudah dipergunakan sebagai bahasa perhubungan (lingua franca) bukan hanya di Kepulauan Nusantara, melainkan juga hampir di seluruh Asia Tenggara. Bahasa Melayu mulai dipakai di kawasan Asia Tenggara sejak abad ke-7. Bukti yang menyatakan itu ialah dengan ditemukannya prasasti di Kedukan Bukit berangka tahun 683 M (Palembang), Talang Tuwo berangka tahun 684 M (Palembang), Kota Kapur berangka tahun 686 M (Bangka Barat), dan Karang Brahi berangka tahun 688 M (Jambi). Prasasti itu bertuliskan huruf Pranagari berbahasa Melayu Kuna. Bahasa Melayu Kuna itu tidak hanya dipakai pada zaman Sriwijaya karena di Jawa Tengah (Gandasuli) juga ditemukan prasasti berangka tahun 832 M dan di Bogor ditemukan prasasti berangka tahun 942 M yang juga menggunakan bahasa Melayu Kuna. Pada zaman Sriwijaya, bahasa Melayu dipakai sebagai bahasa kebudayaan, yaitu bahasa buku pelajaran agama Budha. Bahasa Melayu juga dipakai sebagai bahasa perhubungan antarsuku di Nusantara dan sebagai bahasa perdagangan, baik sebagai bahasa antarsuku di Nusantara maupun sebagai bahasa yang digunakan terhadap para pedagang yang datang dari luar Nusantara. Informasi dari seorang ahli sejarah Cina, I-Tsing, yang belajar agama Budha di Sriwijaya, antara lain, menyatakan bahwa di Sriwijaya ada bahasa yang bernama Koen-louen (I-Tsing:63,159), Kou-luen (I-Tsing:183), K’ouen-louen (Ferrand, 1919), Kw’enlun (Alisjahbana, 1971:1089). Kun’lun (Parnikel, 1977:91), K’un-lun (Prentice, 1078:19), yang berdampingan dengan Sanskerta. Yang dimaksud Koen-luen adalah bahasa perhubungan (lingua franca) di Kepulauan Nusantara, yaitu bahasa Melayu. Perkembangan dan pertumbuhan bahasa Melayu tampak makin jelas dari peninggalan kerajaan Islam, baik yang berupa batu bertulis, seperti tulisan pada batu nisan di Minye Tujoh, Aceh, berangka tahun 1380 M, maupun hasil susastra (abad ke-16 dan ke-17), seperti Syair Hamzah Fansuri, Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, Tajussalatin, dan Bustanussalatin. Bahasa Melayu menyebar ke pelosok Nusantara bersamaan dengan menyebarnya agama Islam di wilayah Nusantara. Bahasa Melayu mudah diterima oleh masyarakat Nusantara sebagai bahasa perhubungan antarpulau, antarsuku, antarpedagang, antarbangsa, dan antarkerajaan karena bahasa Melayu tidak mengenal tingkat tutur.

Bahasa Melayu dipakai di mana-mana di wilayah Nusantara serta makin berkembang dan bertambah kukuh keberadaannya. Bahasa Melayu yang dipakai di daerah di wilayah Nusantara dalam pertumbuhannya dipengaruhi oleh corak budaya daerah. Bahasa Melayu menyerap kosakata dari berbagai bahasa, terutama dari bahasa Sanskerta, bahasa Persia, bahasa Arab, dan bahasa-bahasa Eropa. Bahasa Melayu pun dalam perkembangannya muncul dalam berbagai variasi dan dialek. Perkembangan bahasa Melayu di wilayah Nusantara mempengaruhi dan mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia. Komunikasi antarperkumpulan yang bangkit pada masa itu menggunakan bahasa Melayu. Para pemuda Indonesia yang tergabung dalam perkumpulan pergerakan secara sadar mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, yang menjadi bahasa persatuan untuk seluruh bangsa Indonesia (Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928). Kebangkitan nasional telah mendorong perkembangan bahasa Indonesia dengan pesat. Peranan kegiatan politik, perdagangan, persuratkabaran, dan majalah sangat besar dalam memodernkan bahasa Indonesia. Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945, telah mengukuhkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia secara konstitusional sebagai bahasa negara. Kini bahasa Indonesia dipakai oleh berbagai lapisan masyarakat Indonesia, baik di tingkat pusat maupun daerah.

di October 13, 2020 24 comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

Sunday, October 11, 2020

"Bapak Harus Kuat" Kata Anak untuk Pak Harto🥺😭😭😭


Kamu Harus Kuat
(Oleh: Siti Hardijanti Rukmana)

Pagi itu saya berpakaian rapi dan resmi, karena pagi itu bapak akan menyampaikan pidato berhentinya dari Presiden di istana Merdeka. Di Cendana saya menemui bapak yang sudah duduk di ruang keluarga.

Bapak melihat saya berpakaian rapi bertanya pada saya: “arep nang endi kowe (mau kemana kamu).”

“Mau nderek (ikut) bapak ke istana,” saya menjawab lirih.

Bapak agak kaget, lalu beliau mengatakan: ”Kamu di rumah saja, ini acara resmi kenegaraan.”

“Tapi saya mau ikut bapak,” saya bersikeras memohon.

“Lihat di TV saja nanti, kan sama saja, lagi pula ini bukan acara keluarga,” bapak pun bersikeras.

Saya tetap pada pendirian saya: “Kali ini saya mau ikut bapak, saya mau menemani bapak.”

“Kamu nanti nggak kuat mendengarnya,” bapak menjelaskan.

“In sya Allah saya kuat pak, saya ikut ya pak,” saya memohon.

Akhirnya bapak mengizinkan saya ikut ke istana. Sampai di istana bapak menuju ruang keluarga sambil menunggu waktu upacara dilaksanakan. Tidak lama kemudian, Ajudan dan Protokol istana masuk ruangan memberi tahu bahwa acara segera dimulai. Bapak berdiri lalu berjalan menuju ruang upacara. Sayapun berdiri ikut berjalan di belakang bapak.

Melihat saya ikut, bapak berhenti sambil berkata : “Kamu tunggu di sini saja wuk. Biar bapak sendiri.”

Saya jawab : “Tidak pak, saya ikut, saya mau menemani bapak terus.”

“Bapak kan sudah bilang ini acara kenegaraan, jadi kamu tunggu disini saja.”

“Saya nggak mau bapak sendiri, saya mau menemani bapak.”

“Ini bukan acara keluarga, tidak ada keluarga yang boleh ikut, kowe nunggu ning kene wae (kamu nunggu di sini saja). Dan nanti kamu nggak kuat, malah nggak baik jadinya.”

Karena bapak selalu berbicara bahwa ini bukan acara keluarga, akhirnya saya menyampaikan satu kenyataan yang mungkin bapak lupa :

“Bapak… saya tahu bahwa ini bukan acara keluarga, tapi saya tetap akan ikut dengan bapak sebagai putri bapak, tapi bapak jangan lupa bahwa hingga saat ini saya masih Menteri bapak, jadi saya akan ikut juga sebagai salah seorang pembantu bapak, izinkan saya mendampingi bapak.”

Mendengar jawaban saya, bapak memandang saya agak lama, lalu berkata : “Ya sudah, tapi kamu harus kuat ya.”

“In sya Allah pak,” saya menjawab dengan menahan berlinangnya air mata agar bapak tidak melihat, karena akhirnya saya bisa menemani bapakku tercinta yang telah mengabdikan sebagian besar usianya untuk masyarakat, bangsa dan Negara, pada momen yang sangat penting dalam perjalanan sejarah Republik Indonesia tercinta ini.

Bapak kami seorang negarawan yang selalu menjunjung tinggi prinsip aturan, undang-undang yang berlaku di Negara Indonesia, tapi juga seorang bapak yang selalu melindungi keluarganya. Beliau sangat mengkhawatirkan perasaan saya menerima kenyataan bahwa bapak akan berhenti dari jabatan Presiden yang dipilih oleh masyarakat melalui wakil-wakilnya di MPR-RI. 

Alhamdulillah beliau bapakku…, terima kasih Tuhan.

Bapak, apapun yang bapak putuskan, kami anak-anak bapak, akan selalu mendukungmu setulus hati, sepenuh jiwa. Bapak sampaikan kepada kami, jangan berkecil hati akan apa yang terjadi saat itu, karena Allah tidak pernah tidur, suatu saat masyarakat akan bisa menilai sendiri.

Doa kami selalu menyertai Bapak dan ibu, bahagialah bapak dan ibu berdua di atas sana, di surga-NYA …. Aamiin.
Bapak, Ibu….. we love you.

Jakarta, 31 Mei 2018
Jam 02.00, usai menghadap Illahi menanti saur
di October 11, 2020 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Newer Posts Older Posts Home
Subscribe to: Posts (Atom)
  • HAKIKAT METODE PENELITIAN
    BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Perkembangan dan pengembangan ilmu pengetahuan dimasyaratkan mengharuskan adanya penelitian...

Total Pengunjung


Blog Archive

  • ►  2023 (14)
    • ►  January (14)
  • ►  2022 (40)
    • ►  December (5)
    • ►  November (3)
    • ►  May (23)
    • ►  April (2)
    • ►  January (7)
  • ►  2021 (46)
    • ►  November (7)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (17)
    • ►  April (2)
    • ►  March (7)
    • ►  February (2)
    • ►  January (5)
  • ▼  2020 (93)
    • ►  December (10)
    • ►  November (17)
    • ▼  October (10)
      • Konsep Menulis
      • Pengertian Ragam Bahasa Ilmiah , Semi Ilmiah , Dan...
      • Going home, husband Pergoki wife cheating on popco...
      • Pulang Merantau, Suami Pergoki Istri Selingkuh den...
      • Durhaka😠 Anak Tega Bakar Ibunya Hidup-hidup, disu...
      • Adat Makassar Bugis "Lawa sugi dan Panca-panca
      • Kelelahan Bercinta dengan Wanita PSK Pria Ini Tewa...
      • Morfologi dan Sintaksis Bahasa Arab
      • Sekilas Tentang Sejarah Bahasa Indonesia
      • "Bapak Harus Kuat" Kata Anak untuk Pak Harto🥺😭😭😭
    • ►  September (11)
    • ►  August (10)
    • ►  July (1)
    • ►  June (12)
    • ►  May (8)
    • ►  April (8)
    • ►  February (1)
    • ►  January (5)
  • ►  2019 (42)
    • ►  December (9)
    • ►  November (1)
    • ►  August (10)
    • ►  July (22)
  • ►  2018 (5)
    • ►  September (4)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (16)
    • ►  November (7)
    • ►  August (1)
    • ►  March (5)
    • ►  February (3)
  • ►  2016 (24)
    • ►  December (2)
    • ►  November (2)
    • ►  October (19)
    • ►  September (1)
  • ►  2015 (6)
    • ►  December (1)
    • ►  November (5)

Popular Posts

  • BIDARA BENEFITS, EFFICIENT AND ANTIFULL OF MAGIC DISTURBANCE
    There have been many articles written about this one plant in both print and electronic media, but it could be that not many peo...
  • 6 Benefits of Cinnamon Stew Water for Health
    Cinnamon boiled water is a healthy drink that has many medicinal properties. The benefits of this drink range from weight loss t...
  • Compulsory Food for Pregnant Women in the First Trimester
    There are many nutrients that mothers need in pregnancy in the first trimester. Therefore, it is very important to meet the inta...
  • Seringki Salah Paham Sama Status orang yuk Kuliah Bahasa Indonesia di Unismuh Bagus
    Pertama, kamu akan menerima cemoohan orang tentang jurusanmu. "Kuliah jurusan Bahasa Indonesia? Emangnya kamu nggak bisa ba...
  • Benefits of Waking Up Early for Health
    For some people, getting up early is a routine that can be done automatically without trying. However, for others, getting up e...
  • HAKIKAT METODE PENELITIAN
    BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Perkembangan dan pengembangan ilmu pengetahuan dimasyaratkan mengharuskan adanya penelitian...
  • Use of Fire in Everyday Life
    Fire can form when there are 3 important elements, namely heat, oxygen, and flammable materials.  In human daily life, fire is o...

Al

Alam

Lukfih Official. Picture Window theme. Powered by Blogger.