Monday, July 29, 2019

Akibat Pernikahan Dini Banyak Hasilkan "JAMUR" Janda Di bawah Umur




Jangan kaget jika berkunjung ke sekitar Pasar Jodoh, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, banyak wanita usia belasan sudah menjadi janda. Konon hal itu dikait-kaitkan dengan tradisi jaringan menjadi penyebab banyaknya janda di bawah umur. Jika di Kota Jakarta istilahnya di sebut 'Jamur': Janda di bawah umur.

Pengakuan soal banyaknya janda juga dibenarkan oleh Yuani, warga desa Parean Bulak. Dia mengatakan jika kebanyakan warga yang tinggal di sekitar Pasar Jodoh mayoritas menikah muda. Wanita-wanita itu kebanyakan menikah di usia 14 tahun. "Usia 14 tahun dan baru SMP di sini sudah menikah," kata Yuani.

Lalu bagaimana hubungannya dengan tradisi Jaringan? Eka mengatakan jika dia sempat mengalami tradisi jaringan sekitar 5 tahun lalu. Ajang mencari jodoh ini tadinya memang sakral, lantaran sejak lahir di Desa Parean Girang, tradisi ini memang diperuntukkan bagi mereka yang ingin membangun rumah tangga.

Namun seiring perkembangan zaman, tradisi itu justru diselewengkan hingga menabrak norma-norma masyarakat. Dia mencontohkan. Dulu, pasangan muda-mudi yang mendapat jodoh usai mengikuti tradisi jaringan, akan berlanjut ke pertunangan.

Namun ketika masa pertunangan itu, terjadi pergeseran makna. Biasanya wanita yang ikut jaringan berorientasi pada materi. Kejadian ini pernah dilihat langsung oleh Eka.

Ceritanya begini. Ketika itu temannya menemukan jodoh perjaka berprofesi sebagai nelayan. Sesuai tradisi jaringan baik wanita dan lelaki yang terikat pertunangan akan mengabdi bagi keluarganya hingga nanti menuju pernikahan. Biasanya, keluarga lelaki akan memberikan uang jajan kepada wanita tunangan anaknya setiap bulan sesuai kesepakatan yang ditentukan. Sebagai imbalan, wanita itu akan memberikan bawaan berupa kebutuhan untuk lelaki calon suaminya.

Wanita itu datang ke keluarga lelaki dengan membawa bakul berisi kopi, gula dan segala jenis lainnya. Nanti wanitanya akan diberi uang sebagai balasan.

Namun seiring bergesernya waktu, uang pemberian itu harus melebihi barang yang dibawa. Jika tidak, pihak wanita bakal memutus sepihak ikatan pertunangan kepada keluarga lelaki. "Kalau yang dikasih uangnya dikit, bisa langsung ditinggal. Barang bawaannya dibawa lagi," kata Eka bercerita.

Jika merunut pada proses, sebetulnya, usai tradisi jaringan akan berlanjut ke dalam proses lamaran. Pada proses ini orangtua dari pihak laki-laki akan membayar sejumlah uang kepada pihak wanita. Selain itu ada tradisi membagi-bagikan sirih kepada tetangga sebagai isyarat bahwa si gadis sudah "diikat".

Dalam tradisi itu juga diwajibkan jika lelaki dan wanitanya harus mengabdi kepada calon mertua. Tradisi ini dalam kacamata masyarakat Indramayu disebut dengan sambatan. Eka pun mengakui jika pemuda pemudi yang menghadiri tradisi jaringan sekitar 10 tahun lalu niatnya hanya bersenang-senang. Jarang dari mereka yang benar-benar ingin mencari pendamping hidup.

Sudah Tahu Aku Miskin

 
 
hooooooo.
mengapa ...cintamu hanya bagai embun pagi
mudah hilang di terpa matahari
sudah tau jalannya licin
mengapa engkau pakai sepatu
sudah tau, aku orang miskin
kenapa engkau mencintai ku
mengapa baru sekarang
engkau menghina diri ku
aku tak ubah sampah
yang tiada berguna
sudah tau aku orang miskin
baru aku mengerti
arti diriku bagi mu
hanyalah pelarian
disaat kesepian
apa artinya cinta
kau ucapkan pada ku
sedangkan dirimu
kau serah kan ke orang lain
untuk apa
kau berikan mawar cinta untuk ku
tetapi buri-burinya kau tusuk kan
pula pada diri ku
sudah tau jalannya licin
kenapa engkau pakai sepatu
sudah tau, aku orang miskin
kenapa engkau

Sunday, July 28, 2019

Ketika Perempuan suka sama Laki-laki Ini Tandanya




1. Salah tingkah

Hal seperti ini sudah menjadi hal yang umum terjadi bagi wanita. Wanita yang menyukai pria secara diam-diam akan merasa grogi saat berada di dekatmu. Sikap salah tingkahnya ini bisa terlihat dari gestur tubuhnya, misalnya menutupi wajahnya dengan tangan, lebih banyak menunduk dan tertawa meskipun tidak lucu.

2. Tatapan mata

Wanita yang menyukaimu secara diam-diam tentu akan selalu menatapmu dalam jangka waktu yang cukup lama. Jika tatapan ini tiba-tiba diketahui, maka secara otomatis ia akan mengalihkan pandangannya darimu. Dan kembali menatap saat kamu tak lagi melihatnya.

3. Selalu tampil cantik

Ini adalah hal yang lumrah dan memang harus dilakukan saat seorang wanita menyukai pria secara diam-diam. Meskipun tak selalu mendapat perhatian dari pria yang disukai, ia akan berusaha untuk selalu tampil cantik.

4. Memberi perhatian lebih

Sebagai makhluk yang penyayang, wanita yang menyukaimu secara diam-diam akan memberikan perhatian yang lebih. Misalnya saja, ia sering bertanya sudah makan apa belum atau kegiatan apa yang dilakukan.

5. Cemburuan

Meskipun belum sah menjalin hubungan, wanita yang menyukaimu secara diam-diam akan merasa cemburu melihat kamu dekat dengan wanita lain, meskipun hanya sebatas teman. Ini karena wanita ingin selalu menjadi prioritas dan tak rela bila kamu membagi perhatian dengan yang lain.

Monday, July 22, 2019

Makalah Fonologi


BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dalam kehidupan sosialnya, manusia saling berhubungan antara satu sama lain. Dalam hal ini perlu adanya sebuah komunikasi.Kebutuhan berkomunikasi itupun semakin kompleks seiring dengan perkembangan zaman dan kebudayaan manusia. Sehingga keadaan tersebut  menempatkan bahasa sebagai alat komunikasi manusia pada posisi yang paling penting.
Agar komunikasi tersebut berjalan dengan baik,kedua belah pihak memerlukan bahasa yang dapat dipahami bersama. Wujud bahasa yang utama adalah bunyi. Bunyi-bunyi tersebut disebut bunyi bahasa.
Bahasa adalah suatu sistem lambang bunyi yang dipakai manusia untuk tujuan komunikasi. Oleh karena itu pengajaran Bahasa Indonesia pada hakekatnya mempunyai ruang lingkup dan tujuan yang menumbuhkan kemampuan mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar agar seseorang dapat berkomunikasi dengan baik dan benar.
Banyak kajian teori mengenai bahasa ini. Salah satunya kajian tentang fonologi. Sebagai calon pendidik selayaknya memahami kajian tentang fonologi ini untuk dijadikan pedoman mengajarkan pelajaran Bahasa Indonesia. Penulis merasa perlu untuk menyusun makalah ini agar dapat membantu penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya untuk mengetahui tentang batasan dan kajian fonologi, beberapa pengetian mengenai tata bunyi, kajian fonetik, kajian fonemik, gejala fonologi Bahasa Indonesia.

B. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang makalah yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dirumuskan :
1.         Bagaimana batasan dan kajian fonologi?
2.         Bagaimana arti tata bunyi (fonem dan alofon)?
3.         Bagaimana yang dimaksud dengan kajian fonetik?
4.         Bagaimana yang dimaksud dengan kajian fonemik?
5.         Bagaimana gejala fonologi Bahasa Indonesia?

C. TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1.         Menjelaskan batasan dan kajian fonologi.
2.         Menjelaskan beberapa pengetian mengenai tata bunyi (fonem dan alofon).
3.         Menjelaskankajian fonetik.
4.         Menjelaskan kajian fonemik.
5.         Menjelaskan gejala fonologi Bahasa Indonesia.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    BATASAN DAN KAJIAN FONOLOGI
Istilah fonologi berasal dari bahasa Yunani yaitu phone = ‘bunyi’, logos = ‘ilmu’. Secara harfiah, fonologi adalah ilmu bunyi.
Fonologi merupakan bagian dari ilmu bahasa yang mengkaji bunyi. Objek kajian fonologi yang pertama bunyi bahasa (fon) yang disebut tata bunyi (fonetik) dan yang kedua mengkaji fonem yang disebut tata fonem (fonemik).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fonologi adalah cabang ilmu bahasa (linguistik) yang mengkaji bunyi-bunyi bahasa, proses terbentuknya dan perubahannya. Fonologi mengkaji bunyi bahasa secara umum dan fungsional.

B.    TATA BUNYI
1.     Fonem
Istilah fonem dapat didefinisikan sebagai satuan bahasa terkecil yang bersifat fungsional, artinya satuan fonem memiliki fungsi untuk membedakan makna. Bunyi ujaran yang bersifat netral, atau masih belum terbukti membedakan arti disebut fona
Fonem dalam bahasa mempunyai beberapa macam lafal yang bergantung pada tempatnya dalam kata atau suku kata. Contoh fonem /t/ jika berada di awal kata atau suku kata, dilafalkan secara lepas. Pada kata /topi/, fonem /t/ dilafalkan lepas. Namun, jika berada di akhir kata, fonem /t/ tidak diucapkan lepas. Bibir kita masih tetap rapat tertutup saat mengucapkan bunyi, misal pada kata /buat/.
2.     Alofon
Varian fonem berdasarkan posisi dalam kata, misal fonem pertama pada kata makan dan makna secara fonetis berbeda. Variasi suatu fonem yang tidak membedakan arti dinamakan alofon. Alofon dituliskan diantara dua kurung siku […]. Kalau [p] yang lepas kita tandai dengan [p] saja, sedangkan [p] yang tak lepas kita tandai dengan [p>]. Maka kita dapat berkata bahwa dalam Bahasa Indonesia fonem /p/ mempunyai dua alofon, yakni [p] dan [p>].

C.    KAJIAN FONETIK
Fonetik (phonetics) ialah ilmu yang menyelidiki bunyi bahasa tanpa melihat fungsi bunyi itu sebagai pembeda makna dalam suatu bahasa bagaimana cara terbentuknya, berapa frakuensi, intensitas, timbrenya sebagai getaran udara, dan bagaimana bunyi itu diterima oleh telinga.
1.     Klasifikasi Bunyi
a.     Berdasarkan Ada Tidaknya Rintangan terhadap Arus Udara dalam Saluran Suara
1)     Vokal adalah bunyi bahasa yang arus udaranya tidak mengalami rintangan. Pada pembentukan vokal tidak ada artikulasi.
2)     Konsonan adalah bunyi bahasa yang dibentuk dengan menghambat arus udara pada sebagian alat ucap. Dalam hal ini terjadi artikulasi.
3)     Bunyi semi-vokal adalah bunyi yang secara praktis termasuk konsonan, tetapi karena pada waktu diartikulasikan belum membentuk konsonan murni. Misalnya: [w].
b.     Berdasarkan Jalan Keluarnya Arus Udara
1)     Bunyi nasal, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan menutup arus udara keluar melalui rongga mulut dan membuka jalan agar arus udara dapat keluar melalui rongga hidung. Misalnya: [m].
2)     Bunyi oral, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan jalan mengangkat ujung anak tekak mendekati langit-langit lunak untuk menutupi rongga hidung, sehingga arus udara keluar melalui mulut. Misalnya [p].
c.      Berdasarkan Ada Tidaknya Ketegangan Arus Udara saat Bunyi di Artikulasikan
1)     Bunyi keras (fortis), yaitu bunyi bahasa yang pada waktu di artikulasikan disertai ketegangan kuat arus. Misalnya: [s].
2)     Bunyi lunak (lenis), yaitu bunyi yang pada waktu di artikulasikan tidak disertai ketegangan kuat arus. Misalnya [l].
d.     Berdasarkan Lamanya Bunyi pada Waktu Diucapkan atau Diartikulasikan
1)     Bunyi panjang.
2)     Bunyi pendek.
Tanda untuk panjang biasanya ditandai dengan tanda garis pendek di atas atau dengan titik dua di sebelah kanan bunyi panjang itu. Misalnya: [a] panjang ditulis [a:] atau [a].
e.      Berdasarkan Derajat Kenyaringannya
Bunyi dibedakan menjadi bunyi nyaring dan bunyi tak nyaring. Derajat kenyaringan ditentukan oleh luas atau besarnya ruang resonansi pada waktu bunyi diucapkan. Makin luas ruang resonansi saluran bicara waktu membentuk bunti, makin tinggi derajat kenyaringannya. Begitu pula sebaliknya. Vokal yang paling tinggi derajat kenyaringannya adalah vokal terbuka [a] sedangkan konsonan yang paling tinggi derajat kenyaringannya adalah konsonan getar [r].
f.      Berdasarkan Perwujudannya dalam Suku Kata
1)     Bunyi tunggal, yaitu bunyi yang berdiri sendiri dalam satu suku kata (semua bunyi vokal atau monoftong dan konsonan).
2)     Bunyi rangkap, yaitu dua bunyi atau lebih yang terdapat dalam satu suku kata. Bunyi rangkap terdiri dari: Diftong (vokal rangkap) : [ai], [au] dan [oi]; dan klaster (gugus konsonan) : [pr], [kr], [tr] dan [bl].
g.     Berdasarkan Arus Udara.
1)     Bunyi egresif, yaitu bunyi yang di bentuk dengan cara mengeluarkan arus udara dari dalam paru-paru. Bunyi egresif di bedakan  menjadi :
a)     Bunyi egresif pulmonik : di bentuk dengan mengecilkan ruang paru-paru, otot perut dan rongga dada.
b)     Bunyi egresif glotalik : terbentuk dengan cara merapatkan pita suara sehingga glotis dalam keadaan tertutup.
c)     Bunyi ingresif, yaitu bunyi yang di bentuk dengan cara menghisap udara ke dalam paru-paru.
a)     Ingresif glotalik : pembentukannya sama dengan egresif glotalik tetapi berbeda pada arus udara.
b)     Ingresif velarik : di bentuk dengan menaikkan pangkal lidah di tempatkan pada langit-langit lunak.
Kebanyakan bunyi bahasa Indonesia merupakan bunyi egresif.
2.     Pembentukan Vokal, Konsonan, Diftong dan Kluser
a.     Pembentukan Vokal
Vokal dibedakan berdasarkan tinggi rendahnya lidah, bagian lidah yang bergerak, bentuk bibir, dan strikturnya. Berikut ini jenis-jenis vokal berdasarkan cara pembentukannya, yakni:
1)     Berdasarkan bentuk bibir : vokal bulat, vokal netral, dan vokal tak bulat.
bentuk bibir.jpg
2)     Berdasarkan tinggi rendahnya lidah : vokal tinggi, vokal madya (sedang), dan vokal rendah.
3)    





Vokal - depan tak bundar.png
Vokal - belakang bundar.png

Berdasarkan bagian lidah yang bergerak : vokal depan, vokal tengah, dan vokal belakang.


Depan                                                 Belakang
 
 
4)     Berdasarkan strikturnya : vokal tertutup, vokal semi-tertutup, vokal semi-terbuka, dan vokal terbuka.
b.     Pembentukan Konsonan
Pembentukan konsonan didasarkan pada empat faktor, yakni daerah srtikulasi, cara artikulasi, keadaan pita suara, dan jalan keluarnya udara. Berikut ini klasifikasi konsonan tersebut:
1)     Berdasarkan daerah artikulasi : konsonan bilabial, labio dental, apikodental, apikoalveolar, palatal, velar, dan laringal.
Labio-dental                                      Apiko-dental
 
konsonan - Dental.pngkonsonan - Labiodentaal.png
konsonan - Palataal(langit2).png
Apiko-alveolar                                  Apiko-palatal
 
konsonan - Alveolar.png

konsonan - Laryngaal(celah suara).png
Dorso-velar                                        Laringal
 
konsonan - Velaar(langit2 belakang).png
2)     Berdasarkan cara artikulasi : konsonan hambat, frikatif, getar, lateral, nasal, dan semi-vokal.
3)     Berdasarkan keadaan pita suara : konsonan bersuara dan konsonan tak bersuara.
4)     Berdasarkan jalan keluarnya udara : konsonan oral dan  konsonan nasal.
c.      Pembentukan Diftong
Diftong adalah dua buah vokal yang berdiri bersama dan pada saat diucapkan berubah kualitasnya. Perbedaan vokal dengan diftong adalah terletak pada cara hembusan nafasnya.
Diftong dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:
1)     Diftong /au/, pengucapannya [aw]. Contohnya :
[harimaw] /harimau/
[kerbaw] /kerbau/       
2)     Diftong /ai/, pengucapannya [ay]. Contohnya :
[santay] /santai/
[sungay] /sungai/
3)     Diftong /oi/, pengucapannya [oy]. Contohnya :
[amboy] /amboi/
[asoy] /asoi/
d.     Pembentukan Kluser
1)     Gugus atau kluster adalah deretan konsonan yang terdapat bersama  pada satu suku  kata.
2)     Gugus konsonan  pertama : /p/,/b/,/t/,/k/,/g/,/s/ dan /d/.
3)     Gugus konsonan  kedua : /l/,/r/ dan /w/.
4)     Gugus konsonan  ketiga : /s/,/m/,/n/ dan /k/.
5)     Gugus konsonan  keduanya adalah konsonan lateral /l/, misalnya :
a)            /pl/ [pleno] /pleno/
b)            /bl/ [blaÆžko] /blangko/
c)            Dan begitu seterusnya hingga konsonan kedua /r/ dan /w/.
6)     Jika tiga konsonan berderet, maka konsonan pertama selalu /s/, yang kedua /t/,/p/ dan /k/ dan yang ketiga adalah /r/ atau /l/. Contohnya :
a)            /spr/ [sprey] /sprei
b)            /skr/ [skripsi] /skripsi/
c)            /skl/ [sklerosis] /sklerosis/

D.    KAJIAN FONEMIK
Istilah fonem dapat didefinisikan sebagai satuan bahasa terkecil yang bersifat fungsional, artinya satuan fonem memiliki fungsi untuk membedakan makna. Fonem juga dapat dibatasi sebagai unit bunyi yang bersifat distingtif  atau unit bunyi yang signifikan.
Dalam hal ini perlu adanya fonemisasi yang ditujukan untuk menemukan bunyi-bunyi yang berfungsi dalam rangka pembedaan makna tersebut. Dengan demikian fonemisasi itu bertujuan untuk:
1.     menentukan struktur fonemis sebuah bahasa, dan
2.     membuat ortografi yang praktis atau ejaan sebuah bahasa.
Untuk mengenal dan menentukan bunyi-bunyi bahasa yang bersifat fungsional atau fonem, biasanya dilakukan melalui “ kontras pasangan minimal”. Dalam hal ini pasangan minimal ialah pasangan bentuk-bentuk bahasa yang terkecil dan bermakna dalam sebuah bahasa (biasanya berupa kata tunggal) yang secara ideal sama, kecuali satu bunyi berbeda.  Sekurang-kurangnya ada empat premis untuk mengenali sebuah fonem, yakni
1.     bunyi bahasa dipengaruhi lingkungannya,
2.     bunyi bahasa itu simetris,
3.     bunyi bahasa yang secara fonetis mirip, harus digolongkan ke dalam kelas fonem yang berbeda, dan
4.     bunyi bahasa yang bersifat komplementer harus dimasukkan ke dalam kelas fonem yang sama.
1.     Realisasi Fonem
Realisasi fonem adalah pengungkapan yang sebenarnya dari ciri atau satuan fonologis, yakni  fonem menjadi bunyi bahasa. Realisasi fonem erat kaitannya dengan variasi fonem. Variasi fonem merupakan salah satu wujud pengungkapan dari realisasi fonem. Secara segmental fonem bahasa Indonesia dibedakan atas vokal dan konsonan.
2.        Variasi Fonem
Variasi fonem adalah wujud berbagai manifestasi bersyarat maupun tak bersyarat dari fonem. Wujud variasi suatu fonem yang ditentukan oleh lingkungannya dalam distribusi yang komplementer disebut varian alofonis atau alofon.
                                                                                                             
E.    GEJALA FONOLOGI BAHASA INDONESIA
1.     Penambahan Fonem
Penambahan fonem pada suatu kata pada umumnya berupa penambahan bunyi vokal. Penambahan ini dilakukan untuk kelancaran ucapan.
2.     Penghilangan Fonem
Penghilangan fonem adalah hilangnya bunyi atau fonem pada awal, tengah dan akhir sebuah kata tanpa mengubah makna. Penghilangan ini biasanya berupa pemendekan  kata.
3.     Perubahan Fonem
Perubahan fonem adalah berubahnya bunyi atau fonem pada sebuah kata agar kata menjadi terdengar dengan jelas atau untuk tujuan tertentu.
4.     Kontraksi
Kontraksi adalah gejala yang memperlihatkan adanya satu atau lebih fonem yang dihilangkan. Kadang-kadang ada perubahan atau penggantian fonem.
5.     Analogi
Analogi adalah pembentukan suatu kata baru berdasarkan suatu contoh yang sudah ada.



BAB III
PENUTUP

A.    SIMPULAN
Fonologi adalah cabang ilmu bahasa (linguistik) yang mengkaji bunyi-bunyi bahasa, proses terbentuknya dan perubahannya. Fonologi mengkaji bunyi bahasa secara umum dan fungsional. Istilah fonem dapat didefinisikan sebagai satuan bahasa terkecil yang bersifat fungsional, artinya satuan fonem memiliki fungsi untuk membedakan makna. Variasi suatu fonem yang tidak membedakan arti dinamakan alofon.
Kajian fonetik terbagi atas klasifikasi bunyi yang kebanyakan bunyi bahasa Indonesia merupakan bunyi egresif. Dan yang kedua pembentukan vokal, konsonan, diftong, dan kluster. Dalam hal kajian fonetik, perlu adanya fonemisasi yang ditujukan untuk menemukan bunyi-bunyi yang berfungsi dalam rangka pembedaan makna tersebut.
Gejala fonologi Bahasa Indonesia termasuk di dalamnya yaitu penambahan fonem, penghilangan fonem, perubahan fonem, kontraksi, dan analogi. Pada tataran kata, tekanan, jangka, dan nada dalam bahasa Indonesia tidak membedakan makna. Namun, pelafalan kata yang menyimpang dalam hal tekanan, dan nada kan terasa janggal.

B. SARAN    
Untuk mengetahui lebih jauh dan lebih banyak bahkan lebih lengkap mengenai pembahasan linguistik, pembaca dapat membaca dan mempelajari buku-buku dari berbagai pengarang, karena di dalam makalah ini penulis hanya membahas mengenai fonologi.
Di sini penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna, sehingga kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan penulisan makalah-makalah selanjutnya sangat diharapkan.