BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Salah
satu bagian dari pembelajaran bahasa Indonesia yang sangat penting peranannya
adalah mengajarkan sastra, sarta adalah suatu karangan yang mengandung
keindahan tapi terkadang membosankan kalau diajarkan tidak bervariasi. Dengan
mengajarkan sastra secara inovatif dan kreatif akan membuat siswa senang dan
tertantang untuk mempelajarinya, karena dalam sastra itu terkandung nilai-nilai
kehidupan yang bermaafaat bagi kehidupan dan dapat dijadikan cermin dalam
kehidupan manusia (Ahmad Bahrun : 1983).
Namun,
harus diakui secara jujur, kemampuan seorang guru dalam mengajarkan bagaimana
mengkritik sastra di kalangan
SMP, belum seperti yang diharapkan. Kondisi ini tidak lepas dari proses
pembelajaran bahasa Indonesia
di sekolah yang dinilai telah gagal dalam membantu
siswa dalam memaknai karya sastra pada setiap cabangnya.
Setidaknya
ada dua factor yang menyebabkan rendahnya minat siswa terhadap pelajaran
sastra, yaitu factor eksternal dan factor internal. Faktor eksternal, yaitu
adanya anggapan dari sekian banyak siswa bahwa belajar sastra hanyalah
pelajaran yang kurang bermanfaat dan merupakan tugas para sastrawan atau
penikmat seni. Meraka tidak mengetahui dan kurang memahami bahwa ketika
mempelajari sastra, maka akan menemukan makna hidup yang sebenarnya dan dapat
dijadikan sebagai cerminan kehidupan.
Faktor internal yakni pendekatan pembelajaran, metode,
media atau sumber pembelajaran yang digunakan oleh guru memilki pengaruh yang cukup signifikan terhadap pengajaran
sastra.
Jika, kondisi pembelajaran semacam ini dibiarkan berlarut-larut,
bukan tidak mungkin kemampuan siswa dalam menerima pelajaran sastra di kalangan
SMP akan terus berada pada taraf rendah, para siswa akan terus beranggapan
bahwa mepelajari sastra hanyalah berfokus pada bagaimana ekspresi si pengarang,
apa makna yang diungkapkan oleh pengarang, dan yang lebih parah lagi bagaimana
pengarang berbicara panjang lebar dalam sebuah karya sastra.
Masalah
khusus yang berkaitan dengan prinsip pengajaran sastra yang berhubungan dengan
jenis karya sastra. Untuk itu perlu dikemukakan sejumlah aspek umum untuk mendekati
masalah tersebut, di samping agar tidak terjadi pengulangan yang tidak perlu.
Pentahapan yang dibahas diusahakan akan jelas relevansinya untuk berbagai karya
sastra dari sebuah puisi yang sederhana dan sampai dengan novel yang panjang.
Pentahapan ini juga diusahakan dapat diterapkan pada karya yang dipakai untuk
pengajaran sastra di sekolah.
Dalam makalah ini penulis akan menguraikan tentang kritik
penghakiman dan kritik impriosionistik.
B. Rumusan Masalah
Dari
uraian latar belakang di atas, dapat dirumuskan bebebrapa pertanyaan
yang
nantinya akan menjadi objek kajian dalam makalah ini, yang mencakup :
1. Apakah kritik penghakiman itu?
2. Bagaimanakah menerapkan kritik penghakiman
dalam pembelajaran
sastra
3. Apakah
kritik impresionistik itu?
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Defenisi Sastra
Menurut etimologisnya kata kesusatraan itu berasal
dari kata su dan sastra. Su berarti baik dan sastra berarti tulisan atau
karangan. Dari pengertian etimologis itu, sastra berarti karangan yang indah
atau karangan yang baik. Pengertian itu tentu belum bisa menggambarkan hakikat
sastra secara lengkap.
Sastra memang harus dapat menyiratkan ha-hal yang baik
dan indah. Aspek kebaikan dan keindahan dalam sastra belum lengkap kalau tidak dikaitkan dengan kebenaran. Oleh
karena itu batasan yang didasarkan pada etimlogis, sastra sebagai karangan yang
indah belum berkenan di hati pencinta dan pencipta sastra. (Suhendar, 1993: 1)
Kebenaran dan keindahan dalam sastra he terhadapndaknya dikaitkan dengan
nilai-nilai yang benar dan indah. Sebuah karya sastra harus bisa menjanjikan
kepada pencinta sastra kepekaan terhadap
nilai-nilai hidup sastra, kearifan menghadapi lingkungan kehidupan.
Jadi, dalam
mengajarkan sastra itu seorang guru satra hndaknya selalu menyadari prinsip
ganda yang terdapat dalam karya sastra, yakni: sastra sebagai pengalaman,
sastra sebagai bahasa, kritik sastra, dan tata cara penyajian sastra.
B. Kritik
Ssatra
Istilah “Kritik” (sastra) berasal dari bahasa Yunani yaitu krites yang
berarti “hakim” . Krites sendiri berasal dari kriein “menghakimi”, kriterion
yang berarti “dasar penghakiman” dan kritikos berarti “ hakim kasustraan”
(Baribin, 1993). Prodotokusumo (2005) menguraikan bahwa kritik sastra dapat
diartikan sebagai salah satu objek studi sastra (cabang ilmu sastra) yang
melakukan analisis, penafsiran, dan penilaian terhadap teks sastra sebagai karya
seni. Sementara Abrams dalam Pengkajian Sastra (2005) mendeskripsikan bahwa
kritik sastra merupakan cabang ilmu yang berurusan dengan perumusan,
klasifikasi, penerangan, dan penilaian karya sastra.
Perkataan
kritik dalam artinya yang tajam adalah
penghakiman, dan dalam pengertian ini biasanya memberi corak pemakaian
kita akan istilah itu, meskipun bila kata itu dipergunakan dalam pengertian
yang paling luas. Karena itu kritikus sastra pertama kali dipandang sebagai
seorang ahli yang memiliki suatu kepandaian khusus dan pendidikan untuk mengerjakan suatu
karya seni sastra. Pekerjaan penulis tersebut memeriksa kebaikan –kebaikan dan
cacat-cacatnya dan menyatakan pendapatnya tentang hal itu (Pradopo, 1997).
Kritik
sastra merupakan ilmu sastra yang mengkaji, menelaah, mengulas, memberi
pertimbangan, serta memberikan penilaian tentang keunggulan dan kelemahan atau
kekurangan karya sastra. Ssaran kerja kritikus sastra adalah penulis karya
sastra dan sekaligus pembaca karya sastra. Untuk memberikan pertimbangan atas
karya sastra kritikus sastra bekerja sesuai dengan konvensi bahasa dan konvensi
sastra yang melingkupi karya sastra.
Pengertian
kritik sastra sebagaimana di atas tidaklah mutlak ketetapannya, karena sampai
saat ini, belum ada kesepakatan secara universal tentang pengertian sastra.
Namun, pada dasarnya kritik sastra merupakan kegiatan atau perbuatan mencari
serta menetukan nilai hakiki karya sastra lewat pemahaman dan penafsiran
sistematik yang dinyatakan kritikus dalam bentuk tertulis. Atau krritik sastra
adlah ilmu sastra untuk menghakimi karya sastra dengan meberi penilaian, dan
memutuskan apakah karya tersebut bermutu atau tidak bermutu yang sednag
dikritik.
Kritik
sastra adalah analisis untuk menilai suatu karya sastra. Tujuan kritik
sebenarnya bukan menunjukkan keunggulan kelemahan, benar/salah sebuah karya
sastra dipandang dari sudut tertentu, tetapi tujuan akhirnya mendorong
sastrawan untuk mencapai penciptaan sastra setinggi mungkin dan mendorong
pembaca untuk mengapresiasi karya sastra secara lebih baik.
Ada
2 jenis kritik sastra:
1. Kritik
sastra intrinsik, terfokusnya pada karya sastra itu sendiri dan menganalisa
unsur-unsur karya sastra itu.
2. Kritik
sastra ekstrisik, menghubungkan karya sastra dengan hal-hal yang diluar karya
sastra. Misal: menghubungkan karya sastra dengan pengarangnya.
C.
Pengertian
Kritik Penghakiman dan Kritik Impresionistik
1.
Kritik
Penghakiman
Kritik penghakiman (judicial criticism) ialah kritik sastra
yang berusaha menganalisis karya sastra dan menerangkan efek-efek sastra
berdasarkan pokoknya, organisasinya, tekniknya, dan gayanya, serta mendasarkan
pertimbangan individual kritikus atas dasar standar-standar umum tentang
kehebatan atau keluar-biasaan karya sastra. Contoh kritik penghakiman dapat
dilihat pada uraian berikut ini.
Membaca baris permulaan
roman singkat Hamidah barangkali orang akan menyangka, inilah satu di antara
pengarang sebelum perang yang menulis dengan teknik lain. Tetapi ternyata
setelah kita lanjutkan membaca beberapa kalimat, teknik penulisannya seperti
pada umumnya karya-karya masa itu: merupakan garis lurus dari awal sampai
akhir. Hanya pengarang menggunakan kalimat-kalimat yang boleh menjadi kalimat
akhir cerita sebagai pembuka cerita.
Plot lurus seperti ini,
tanpak kecakapan pengarang akan mengundang kelemahan-kelemahan, di antaranya
faktor rasa ingin tahu pembaca kurang terpusat karena datar dan kelurusan
komposisi. Ditambah pula dengan dimasukkannya hal-hal yang tidak perlu sehingga
merusak kesatuan. Rupanya apa yang dialami pengarang dijejalkan begitu saja
tanpa mengingat nilai rasanya. Tanpa adanya pendalaman apakah sesuatu perlu
dimasukkan dalam komposisi, akan menjadikan kesatuan rusak atau tidak wajar.
Digresi atau penyimpangan serupa itu memang sering kita temui pada karya-karya
sezamannya.
Penyakit menceritakan
hal-hal yang tak perlu semakin melenyap seirama dengan menanjaknya halaman.
Tetapi sekaligus telah pula menimbulkan bahaya lain, karena tampaknya pengarang
ingin cepat-cepat menyelesaikan cerita. Dalam buku 72 halaman ini, 32 halaman bagian
depan belum terisi apa-apa, baru setelah menginjak bab III halaman 35 mulai
dengan isi yang agak padat. Kemudian inti buka hanya terletak pada bab IV,
yaitu pada halaman 48 sampai tamat. Karenanya tidak mengherankan kalau bab IV
terlalu padat, seolah hanya garis besar, sebab banyak hal yang masih harus
diuraikan secara lebih luas. Bab IV ini menurut hemat saya berisi empat bab
sekaligus pada halaman 64 mestinya ganti bab, juga halaman 66, demikian pula
halaman 70.
Dengan gaya penceritaan
yang kurang menarik, pengarang menyuguhkan kepada kita peristiwa yang
meloncat-loncat: menceritakan keluarganya, sekolahnya, perjalanannya pulang
setelah ia lulus dari sekolah Normal Putri, menanti pengangkatan, bertemu
Ridhan, datang pengangkatan, mendirikan perkumpulan, pindah ke Palembang,
kehilangan Ridhan. Kepulangannya ke Muntok membawa udara baru: bertemu kasih
dengan Idrus, kasih yang keabadiannya segera terancam karena tiba-tiba ayahnya
meninggal dunia dan ia mesti ikut saudaranya ke Jakarta. Saudaranya yang tidak
senang pada Idrus menahan surat Idrus yang dialamatkan kepada Hamidah. Di
sinilah peristiwa yang bersangkut-paut mulai bergerak untuk mengubah nasib
Hamidah, hendak melepaskan diri dari belitan yang dengan rapi diatur
saudaranya, ialah dengan menulis surat kepada Idrus. Dengan tidak adanya
balasan dari Idrus, keadaan mulai memuncak. Keadaaan itu tidak segera ditarik
pada klimaks. Klimaksnya baru tercapai setelah 10 tahun Hamidah hidup bersama
Rusli: perceraiannya dengan suaminya. Suami yang dengan susah payah berhasil ia
cintai itu telah berbahagia dengan anak dan istri mudanya. Hidup sendiri itulah
akhir cerita.
Kelainan Hamidah dari
pengarang sezamannya adalah pemakaian gaya aku, namun sayang tidak dikembangkan
secara lebih jauh dalam teknik. Hal itu juga ternyata menyeret penampilan
perwatakan, terutama dalam menampilkan tokoh-tokoh lain dalam cerita tidak
hidup, sebab semuanya hanya diceritakan melalui tokoh utama. Melihat kedataran
dan kelurusan komposisi, kemungkinan besar pemakaian tersebut disebabkan cerita
itu merupakan pengalamannya sendiri. Tampaknya Hamidah bercerita persis seperti
apa adanya, tanpa imajinasi yang mampu mengangkat karya itu.
Kegagalam teknik itu
ternyata juga menyeret kegagalan setting
yang tak mampu menciptakan ketegangan dan kerahasiaan cerita. Lingkungan dan
kenangan di asrama Sekolah Normal Putri di Padang Panjang tidak diceritakan
dengan alasan: tidak dapat kukatakan di sini. Karena itu tiba-tiba cerita
melompat setelah ada kabar lulus. Cerita perjalanan pulang hanya sepintas tapi
lengkap. Meskipun yang diceritakan itu seharusnya menarik, tetapi karena
kepolosan gayanya menjadi tak begitu menarik (Prihatmi, 1977).
Contoh di atas memperjelas
bahwa dalam melakukan pendekatan terhadap novel Kehilangan Mestika, karya Hamidah pengarang wanita pada masa Balai
Pustaka. Prihatmi menggunakan pendekatan penghakiman dalam praktik analisis
strukturalnya, menerangkan bagaimana organisasi novel tersebut, dengan
mendasarkan pertimbangan individualnya atas dasar standar-standar umum dalam
karya sastra. Misalnya ” Dalam buku 72 halaman ini, 32 halaman bagian depan
belum terisi apa-apa, baru setelah menginjak bab III halaman 35 mulai dengan
isi yang agak padat. Kemudian inti buka hanya terletak pada bab IV, yaitu pada
halaman 48 sampai tamat”. Oleh karena itu, Prihatmi kemudian menjatuhkan
penilaian bab IV terlalu padat, hanya garis besar, sehingga banyak hal yang
belum diuraikan.
Prihatmi juga menilai
bagaimana gaya penceritaan Hamidah dalam novel itu. Tulisnya gaya penceritaannya
kurang menarik, peristiwanya meloncat-loncat. Juga menilai plot berdasarkan
standar sastra. Plot lurus yang dipergunakan menurut penilaiannya lemah karena
datar dan kelurusan komposisi plotnya. Penggunaan sudut pandang akuan juga
dikomentari karena tidak mengembangkan secara lebih jauh dalam teknik.
Kelemahan lain yang dilihatnya tampak juga dalam menampilkan tokoh-tokoh lain
yang terasa tidak hidup.
Prihatmi dengan demikian,
menilai bahwa novel Hamidah hanya memiliki bobot hampir cukup. Sementara kelebihan
novel tersebut adalah dalam hal penyelaman psikologis dan mengharukan dari
novel ini mampu menutup kelemahannya yang lain.
2. Kritik Impresionistik
Kritik impresionistik
ialah kritik sastra yang berusaha menggambarkan dengan kata-kata atau
sifat-sifat yang terasa dalam bagian-bagian khusus atau dalam sebuah karya
sastra, kemudian mengekspresikan tanggapan-tanggapannya (impresinya) yang
diakibatkan secara langsung oleh karya sastra tersebut. Dengan demikian, kritik
impresionistik adalah kritik sastra yang meninjau karya sastra berdasarkan
kesan-kesan pokok yang ditangkap oleh kritikus atas karya sastra yang
dikritiknya. Contoh kritik impresionistik`dapat dilihat berikut ini.
Membaca novel Pabrik bagaikan menangkap bajing genit.
Berjingkat-jingkat membikin mangkel, melejit, meluncur deras dan mengejutkan,
lalu lenggang kangkung sambil mengobral khayal. Kalau konsentrasi tidak
dipegang kencang bisa jadi buku itu ditutup sebelum rampung. Namun bila kita
telah terhanyut, semacam penyakit ingin segera tahu duduk persoalannya, sungguh
menyiksa jantung kita.
Hemat saya, salah satu
kekuatan Putu Wijaya dalam setiap novel dan dramanya adalah kebolehannya
menyimpan misteri salah satu tokohnya. Orang Jawa bilang ”diincrit-incrit”
sampai menggemaskan, baru disusul terungkapnya rahasia di luar dugaan pembaca.
Tokoh Maret dalam novel
ini, sejak awal kisah (hlm, 5) dipenuhi kabut misteri. Ia seorang gadis cantik,
”mengandung, gila, dan sakit-sakitan”. Tirai baru terkuat setelah pembaca
menahan nafas sampai pada halaman 115 (lima halaman menjelang kisah ini
berakhir), lewat tokoh ”calon penyair yang gagal” yang menjabat sebagai
direktur muda bernama Joni Tirtoatmojo.
Pembaca juga dibuat
penasaran dengan tokoh bernama Mat Jegug, si raksasa berbadan gempal, dan
berani memasukkan tangannya ke bawah selimut dan meraba ke bagian perut Maret
(hlm, 20), lalu berpelukan di tempat yang gelap. Tentu saja membuat
kalang-kabutnya tokoh Dargo yang telah mencintai Maret dalam sekali pandang
(hlm, 8). Lewat pengakuan Joni, ternyata Mat Jegug adalah pengasuh, anak gelap
sang direktur Tirtoatmojo.
Pendeknya dengan membaca
novel ini, kita dapat membaca manusia dengan karakter yang bermacam-macam, yang
penuh dengan berbagai macam konflik dengan latar belakang tunggal, sebuah
pabrik yang dibangun di atas tanah milik manusia-manusia kecil yang tidak
berdaya akibat sedotan si cukong Tirtoatmojo.
Kita juga dapat mengetahui
bagaimana Tirtoatmojo merangkul penguasa bagaimana sikapnya terhadap bawahan,
sampai antipatinya Tirtoatmojo terhadap Joni anaknya sendiri calon tunggal
pemilik pabrik.
Simpati pembaca bisa juga
tertuju kepada Susi (simpanan gelap sang direktur) yang sampai tua tidak
kunjung memeroleh surat perkawinan sah yang memungkinkannya memeroleh warisan.
Dalam novel ini, tidak
satu pun tokoh yang dibiarkan tanpa mengalami konflik batin dan memiliki
masalah. Namun dengan rapihnya Putu Wijaya menjalin dari sepuluh orang tokoh
dalam novel ini sehingga menjadi sebuah kisah yang menarik dan mengesankan
(Rahmanto, 1998).
Demikianlah contoh kritik
impresionistik yang hanya bersifat tinjauan karya sastra secara selintas
berdasarkan kesan-kesan pokok yang ditangkap oleh penulisnya. Kritik ini biasanya dimuat dalam surat kabar, atau
majalah-majalah, baik umum maupun khusus. Kritik semacam ini biasanya disebut
sebagai timbangan buku (resensi buku).
DAFTAR PUSTAKA
Azis,Sitti Aida. 2014. Kajian Prosa Fiksi. Makassar: Alauddin
University Press.
Suhendar. 1993. Pendekatan Teori Sejarah dan Apresiasi
Sastra Indonesia. Bandung: Pionir Jaya.
Rahmanto. 1997. Metode
Pengajaran Sastra. Jakarta: Pustaka Pelajar.
No comments:
Post a Comment