Sunday, November 6, 2016

Konsep Masyarakat Bahasa



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Bahasa sebagai alat komunikasi atau alat interaksi yang hanya dapat dimiliki manusia. Dalam kehidupan masyarakat, sebenarnya manusia juga dapat menggunakan alat komunikasi lain, selain bahasa. Namun tampaknya  bahasa merupakan alat komunikasi yang paling baik, paling sempurna, dibandingkan alat komunikasi lain termasuk juga alat komunikasi yang digunakan hewan.
Secara objektf hakikat keberadaan bahasa tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia. Hakikat makna bahasa dan keberadaan bahasa senantiasa memproyeksikan kehidupan manusia yang sifatnya tidak terbatas dan kompleks. Bahasa (language) merupakan sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri (Kridalaksana, 2001: 21).
Kenyataanya orang-orang dari berbagai tempat tidak selamanya saling mengerti sewaktu berbicara.  Kita sendiri mengalami adanya ketidaklancaran dalam komunikasi, sehingga saling pengertian tidak sepenuhnya tercapai. Andaikan kita memiliki (banyak) persamaan dalam kode linguistik, maka saling pengertian  (mutual intelligibility) bisa dicapai. Untunglah  ada yang kita kenal dengan paralinguistik (paralanguage) seperti isyarat dan mimik air muka yang bisa mengkomunikasi, walaupun masing-masing dari yang sedang berkomunikasi itu tidak sebahasa. Pada sisi lain kita mengenal orang-orang yang ada di sekeliling kita. Dengan mereka kita berkomunikasi dengan mudahnya karena sebahasa dalam satu masyarakat ujaran.

B.     Rumusan masalah
1.      Bagaimana konsep masyarakat bahasa?
2.      Bagaimana klasifikasi masyarakat bahasa?



 
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Konsep Masyarakat Bahasa
Definisi masyarakat bahasa yang dimaksudkan di sini tidak hanya berdasarkan pada perkembangan  bahasa,  tetapi berdasarkan  pada sejarah, budaya,  dan politik. Pada tahap abstraksi yang cukup tinggi ditempatkan ciri-ciri kelompok  yang memiliki  kesamaan  agama,  usia,  kelompok  etnis,  dan di bidang  linguistik terutama  kesamaan  bahasa  atau variasi bahasa.  Pada tahap abstraksi yang lebih rendah  realitas bahasa tercermin  melalui kelompok-kelompok yang bersemuka. Definisi masyarakat bahasa yang berdasarkan  kesamaan bahasa akan menjadi bermasalah jika kita akan menjelaskan  apa arti “menggunakan bahasa yang sama” dalam situasi nyata di suatu lingkungan bahasa.
Sebagai  satuan  dasar  definisi  dan  pemahaman tentang  masyarakat  bahasa  dapat  berpegang pada bahasa-bahasa, kelompok  sosial, jaringan sosial, hierarki dan individu-individu yang sekaligus merupakan gambaran  secara hierarkis tahapan-tahapan abstraksi.
. Bloomfield yang berdasarkan  sistem bahasa  yang monolitik  berpendapat bahwa  masyarakat bahasa  adalah  sekelompok   orang  yang  menggunakan sistem  tanda  bahasa  yang  sama.  Konsep linguistik yang hampir  sama,  yang dipengaruhi kuat oleh  pendapat bahasa  yang homogen  adalah konsep Lyons tentang satuan dasar masyarakat bahasa (1970:326), menurut Lyons masyarakat bahasa adalah semua orang yang menggunakan suatu bahasa tertentu (dialek), Chomsky berpendapat bahwa membentuk satuan  dasar  analisis  bahasa.   Konsep Bloomfield,  Lyons,  maupun  Chomsky  yang  menganggap  satuan  sosial  dan  budaya  tidak  penting  tidak memenuhi syarat untuk penelitian  empiris deskriptif-sosiolinguistik. Namun,  seperti yang telah dikatakan, konsep-konsep dan definisi-definisi tergantung pada minat penelitian  para linguis.
Dalam  pengertian   sosiolinguistik,  definisi-definisi  bahasa  hampir  tidak  menyatakan   sesuatu tentang  keadaan  sosial.  Hymes  (1966)  menyalahkan Bloomfield,  Chomsky,  dan  juga Lyons yang telah menyamaratakan konsep masyarakat bahasa dengan  bahasa.
Abstraksi  struktur  yang  menuntut  homogenitas bahasa  mungkin  tepat,  jika  seorang  linguis bermaksud  menggambarkan tipologi bahasa,  keuniversalan bahasa,  sejarah suatu bahasa,  atau rekonstruksi  secara historis. Tetapi jika seorang linguis akan meneliti  bahasa dalam situasi sosial, ia memerlukan alat-alat yang tepat untuk menganalisis  dampak  situasi sosial atau psikologis terhadap penggunaan bahasa.  Karena manusia  diefinisikan  sebagai  makhluk  sosial oleh  sekelilingnya  yang terdiri  atas  kategori  sosial,  kita  harus  belajar  memahami makhluk  sosial  ini  melalui  bahasanya (Halliday  1973:13ff).  Namun  demikian,  seperti  yang diteliti Gumperz  (1971:101)  dan  dinyatakan olehnya bahwa untuk memhami penggunaan bahasa tidak diperlukan konsep homogen suatu Bahasa
Istilah masyarakat  bahasa  pada  masa  dialek  Eropa klasik mengacu  pada  suatu  konsep  yang idealistis,  tidak  hanya  bermakna   kesatuan  bahasa,  tetapi  lebih  berarti  kesatuan  sosial-geografis. Landasan  dasar yang idealistis terdiri dari kelompok  sosial dan  masyarakat  bahasa  yang homogen (Halliday,  1978:189):  suatu  masyarakat  bahasa  adalah  suatu  kelompok  manusia  (sosialgeografis), yang anggota-anggotanya (1) saling berkomunikasi, (2) secara teratur berkomunikasi, dan (3) mereka bertutur sama.
Berdasarkan  anggapan  bahwa  terdapat  hubungan korelasi  antara  perilaku  berbahasa dengan syarat-syarat kehidupan bermasyarakat yang objektif, Matthier (1980:1819) mendefinisikan kelompok sosial  sebagai  pendukung perilaku  berbahasa sebagai  berikut.  …… kelompok  sosial  yang  terdiri dari individu-individu dengan  syarat-syarat kehidupan bermasyarakat  yang objektif secara potensial membentuk masyarakat komunikasi,  prasyarat kehidupan bermasyarakat  yang objektif dan keadaan- keadaan lain yang objektif diinterpretasikan dengan cara yang sama. Kelompok individu ini dianggap membentuk sistem  perilaku  sosial  dan  bahasa  yang  hampir  sama.  Berdasarkan  hal  ini Mattheier mengembangkan definisi paguyuban bahasa yang bersifat dialek-sosiologis, yang harus dilihat dalam kaitannya  dengan  kelompok  yang bersangkutan dan tergantung  dari minat peneliti  dapat  dianalisis tahap-tahap  tiap sistem atau bagian-bagian  sistem yang berbeda.
Sebagai masyarakat bahasa, untuk sementara  dapat berarti kelompok  penutur  yang berdasarkan pandangan hidup mereka membentuk kelompok  berdasarkan  bahasa yang sama. Titik tolak definisi Mattheire  kelompok sosial dan  bahasa namun,  dalam  definisi ini objektivitas  bahasa  yang  sama bersifat relatif. Sehubungan dengan tahap abstraksi, telah kita tinggalkan tahap makro dan kita sampai kepada komunikasi  bersemuka  yang nyata.

B.     Klasifikasi Masyarakat Bahasa
1.      Masyarakat Bahasa Berdasarkan Sikap Sosial
Model paguyuban bahasa  yang klasik tidak dapat  mencakup perubahan dialek perkotaan  yang cepat.   Bentuk  yang  diidealisasikan   tidak  cukup   mencerminkan  realitas.  Labov  menyimpulkan bahwa  anggota  masyarakat  bahasa  perkotaan   lebih  diikat  oleh  sikap  dan  prasangka  yang  sama dalam berbahasa, yang luar biasa stabil dibandingkan dengan  ikatan pemakaian bahasa  yang sama (1972:293).  Menurut Labov pada kenyataannya sangat jelas bahwa masyarakat bahasa didefinisikan sebagai sekelompok penutur yang memiliki sederetan sikap sosial terhadap bahasa. Misalnya, seorang yang berasal  dari New  York (orang dari kota besar) memiliki  gambaran  yang jelas tentang  norma- norma  bahasa  dan  ia mengetahui jika ia menyimpang dari norma  yang ada.  Terdapat  perbedaan antara (1) apa yang dikatakan, (2) apa yang diyakini, dan (3) apa yang diyakini untuk dikatakan.
Titik tolak Labov adalah orientasi ke status yang dimulai dari kelompok sosial (kelompok makro) dan pada tiap kelompok  berkembang ke arah yang sama. Penyimpangan norma pada lapisan sosial bawah  lebih  jauh  dibandingkan dengan  lapisan  sosial menengah dan atas karena  itu mereka  juga memiliki lebih banyak variasi.
Seberapa   jauh   konep   makro   kuantitatif   mencerminkan  realitas   sosial  yang   masih   harus didiskusikan. Hal itu dapat dilakukan pada data empiris dalam jumlah yang besar. Hymes (1972) juga memberikan pendapatnya tentang  definisi dasar  masyarakat  bahasa.  Mereka  menekankan bahwa perasaan  menjadi  anggota suatu paguyuban lebih menentukan daripada  definisi linguistik.

2.      Masyarakat Bahasa Berdasarkan Interaksi
Gumpertz  mendefinisikan masyarakat  bahasa  (pada  masa  yang  lampau)  ke arah  komunikatif interaksi, yang dalam  analisis fungsional berpangkal  pada  varietas bahasa  suatu masyarakat  bahasa yang khas sebagai kelompok sosial, dan bukan dari kesatuan bahasa. Definisi Gumpertz juga memungkinkan beberapa varietas bahasa  hidup  berdampingan: kita definisikan masyarakat  bahasa sebagai kelompok  sosial yang monolingual atau multilingual,  yang merupakan satu kesatuan karena sering terjadi interaksi sosial dan yang dipisahkan dari sekelilingnya oleh interaksi sosial yang melemah. Masyarakat bahasa  dapat terdiri atas kelompok  kecil yang hubungannya bersemuka  atau terdiri dari seluruh bahasa,  tergantung dari tingkat abstraksi yang akan dicapai (Gumpertz  1962:101).
Selanjutnya   Gumpertz  menyatakan   bahwa   dari   segi  fungsi  tidak   ada   perbedaan  antara bilingualisme   dengan  bidialektalisme. Gumpertz   dalam  definisi  selanjutnya   tentang  masyarakat bahasa menekankan bahwa  di samping  kriteria interaksi juga berperan  persamaan  dan perbedaan varietas sebagai unsur sosial definisi umum  analisis bahasa:  masyarakat  bahasa  adalah  sekelompok manusia yang terbentuk  melalui interaksi bahasa yang teratur dan sering dengan bantuan  persediaan tanda-tanda bahasa yang dimiliki bersama dan yang dipisahkan dari kelompok lain karena perbedaan- perbedaan dalam berbahasa (Gumpertz,  1968:14).  Konsep Gumpertz memiliki keuntungan sebagai
berikut:  a) untuk  satu  masyarakat  bahasa  tidak  hanya  berlaku  satu  bahasa,  b) penekanan pada interaksi dan komunikasi  sebagai unsur pembentuk masyarakat  bahasa  sebagai hasil bilingualisme, dengan  sendirinya  tidak  terjadi  tumpang  tindih,  dan  c) kompleksitas  masyarakat  perkotaan  telah diperhitungkan dalam konsep.
Jika kita mengemukakan satu  kota  besar  sebagai  satu  masyarakat  bahasa  yang  penduduknya menggunakan sebagian  besar  dari waktu  mereka  untuk  berkomunikasi  dan  varietas  bahasa  tentu saja sebagai  bagian  pembentuk kota dan  orang  selalu  menunjuk  pada  lembaga,  data  dan  lokasi, pola mobilitas,  bentuk-bentuk interaksi sosial yang khas untuk kehidupan perkotaan,  terlihat bahwa masyarakat bahasa merupakan satu istilah yang sangat umum.  Supaya pengertian  istilah masyarakat bahasa   digunakan   seperti  yang  dipakai  oleh  Gumpertz,  harus  kita  tentukan   keanggotaan  tiap kelompok,  terutama  yang memiliki  arti bagi mereka,  hal ini berarti  bahwa  kita harus  membentuk tahap-tahap interaksi sosial dan menganalisis kesatuan-kesatuan yang terbentuk. Mula-mula Gumpertz untuk  dapat  merealisasikan  hal di atas menggunakan konsep  peran sosial, kemudian  ia memakai istilah jaringan  sosial untuk  meneliti  hubungan antaranggota  suatu  jaringan  sosial. Tujuan konsep jaringan sosial untuk menunjukkan mekanisme  yang mempengaruhi repertoire bahasa penutur; yang disebabkan oleh faktor-faktor sosial-ekologi.
Sesuai dengan  konsep (baru) Gumpertz tentang masyarakat bahasa,  ia membandingkan konsep kode  bahasa  yang  homogen   dengan  konsepnya  tentang  repertoir  verbal/linguistis  yang  agaknya bertitik tolak dari tingkat langue ke parole. Keseluruhan dialek dan varietasnya yang digunakan secara teratur dalam suatu masyarakat membentuk repertoire bahasa masyarakat ini. Repertoire merupakan kekhasan  penduduk suatu  daerah,  sedangkan  batas  suatu  bahasa  dapat  sama  ataupun  tidak sama dengan  batas suatu kelompok  sosial (1968:230).
Keunggulan konsep repertoire bahasa, konsep tersebut memungkinkan kita untuk menghubungkan antara struktur sosial dan penggunaan bahasa suatu masyarakat bahasa di bawah satu kerangka relasi yang sama. Dalam  hal ini, justru Kloss mengeritik  istilah yang digunakan  Gumpertz. Ia mengeritik bahwa Gumpertz memberikan makna lain pada istilah masyarakat bahasa yang diciptakan oleh Kloss, masyarakat  bahasa  diartikan  sama  dengan  speech  community yang  digunakan  oleh  Bloomfield, sehingga  menyebabkan kerancuan. Masyarakat bahasa  menurut  Kloss adalah  keseluruhan penutur yang berbahasa ibu sama dan memiliki bersama  diasistem  tertentu  dalam  perbedaan dialektal  dan sosiolektal.
Kloss menekankan pentingnya satu istilah untuk keseluruhan manusia yang memiliki bahasa-bahasa ibu yang sama dan yang membentuk keadaan tersebut. Ia mengusulkan istilah komunitas repertorium (paguyuban  repertorium)  (Kloss 1977:228). Dengan  demikian,  paguyuban bahasa  berarti memiliki bahasa ibu yang sama atau yang mirip. Dalam kepustakaan  yang berbahasa Jerman digunakan istilah paguyuban pertuturan  (sprechgemeinschaft) untuk paguyuban repertorium (repertoiregemeinschaft), yang berarti sekelompok  penutur  yang tidak hanya memiliki varietas repertorium  yang sama, tetapi juga  kriteria yang  sama  untuk  mengukur  penerapan kaidah-kaidah  tersebut  secara  sosial.  Dalam etnografi komunikasi  konsep  paguyuban pertuturan  mencakup keseluruhan kebiasaan  komunikasi suatu paguyuban, dalam hal ini termasuk bahasa sebagai alat komunikasi dikaitkan dengan yang lain (Coulmas 1979:10).

3.      Masyarakat Bahasa Berdasarkan Jaringan Sosial
Jaringan sosial sebagai substratum  paguyuban bahasa  sebagai titik tolak analisis bahasa  dalam sosiolinguistik dikenalkan  untuk menganalisis  komunikasi  sehari-hari dan konvensi interaksi. Dalam hal ini jaringan hubungan seorang individu termasuk di dalamnya  dan kesatuan kelompok  sosialnya merupakan phenomena dalam berbagai tataran abstraksi.
Gumpertz memperhitungkan hal  ini  dan  memasukkan   dalam  konsep  mikronya,  paguyuban bahasa  (pada tataran abstraksi yang terendah),  dan konsep  jaringan sosial. Dengan  bantuan  konsep ini  sebagai  soerang  linguis,  ia  akan  meneliti  perilaku  bahasa  dalam  suatu  paguyuban dengan memperhatikan interpretasi norma dan nilai yang sesuai dengan  kenyataan.
Paguyuban  bahasa  terdiri  atas sederet  satuan  dasar,  jaringan-jaringan  yang dapat  diikuti oleh seorang  anggota paguyuban dalam berbagai  tingkat dan lebih dari satu peran.  Salah satu penyebab utama dikenalkannya konsep jaringan sosial dalam kerangka studi paguyuban bahasa karena konsep makro yang tradisional  untuk menganalisis  paguyuban yang berubah  dengan  lambat dan agak statis (suku-suku  bangsa,  paguyuban-paguyuban pedesaan)  tidak tepat  untuk  menganalisis  agregat kota yang berubah  dengan  cepat.  Konsep jaringan  sosial mencoba mencakup variabel  manusia  sebagai makhluk sosial yang dipengaruhi oleh orang lain dan mempengaruhi orang lain.
Jika Gumpertz membedakan antara biner antara jaringan sosial tertutup dengan  terbuka, Milroy (1980,  passim) mengembangkan perbedaan biner  terbuka,  tertutup  dalam  suatu  kesinambungan, mulai  lebih  terbuka  atau  agak terbuka  dipertentangkan dengan  lebih  tertutup  atau  agak tertutup dengan  menggunakan parameter  rapatnya, kelompok dan keanekaragaman. Suatu paguyuban lebih rapat,  jika antar  anggotanya  lebih  terikat.  Rapatnya  jaringan  sosial  berfungsi  sebagai  mekanisme pelestarian  norma, kelompok  merupakan segmen jaringan dengan kerapatan yang tinggi. Hubungan sosial  dalam  kelompok  lebih  rapat  daripada  di luar  kelompok.  Keanekaragaman  sebagai  ukuran kekhasan interaksi suatu jaringan: apakah ikatan antaranggota hanya berdasarkan satu fungsi (uniplex) atau berdasarkan  fungsi ganda (multiplex).
Penting   untuk   pembatas   jaringan   selain   bentuk   interaksi,   bentuk   kunjungan,  hubungan kekerabatan, hal-hal yang oleh  Gumpertz disebut  self recruitment  paguyuban (1971:297).  Dengan demikian, kelompok jaringan tertutup (atau yang oleh saviller-Troike (1982:20) disebut hand shelled communities) cenderung seragam dalam penggunaan bahasa, a.l. karena wilayah yang ketat daripada jaringan  terbuka  (soft shelled  communities) yang ikatan  antaranggotanya lebih  longgar  dan  batas wilayah  tidak ketat. Manfaat alat analisis jaringan terutama  karena  kemungkinan yang dimilikinya
untuk  menggabungkan varietas  dalam  struktur  sosial dengan  varietas  dalam  penggunaan bahasa, artinya  varietas  yang  disebabkan oleh  lingkungan  dan  tahap  abstraksi  yang  rendah  dihubungkan dengan  varietas bahasa.

4.      Masyarakat Bahasa sebagai Interpretasi Subjektif-Psikologis
Bolinger (1975:33) menunjukkan kompleksitas yang bersifat psikologis dan ciri subjektif konsep paguyuban bahasa,  ia  mengemukakan: tidak  ada  batas  untuk  cara  manusia  berkelompok guna mencari  jati diri, keamanan, keuntungan, hiburan,  kepercayaan atau  tujuan  lain secara  bersama, sebagai akibat hal ini tidak ada batasan sehubungan dengan jumlah dan keanekaragaman paguyuban bahasa  yang kita jumpai  dalam  masyarakat  kita. Setiap populasi  menurut  definisi Bolinger dapat terdiri atas sejumlah  besar paguyuban bahasa,  yang sehubungan dengan  keanggotaan dan varietas bahasanya  tumpang  tindih. 
Realitas psikologis paguyuban bahasa  yang tergantung  dari interpretasi angota-anggotanya diperhitungkan dalam pendapat Le Page (1968), baginya keberadaan kelompok sebagai paguyuban bahasa dengan ciri-ciri khusus yang digolongkan oleh penutur sendiri, bukan oleh sosiolog penting.  Tergantung  bagaimana  seorang  penutur  menempatkan dirinya dalam  ruang yang multidimensi (Hudson, 1980:27), ia ikut berpartisipasi dalam berbagai paguyuban bahasa yang dimensi atau perbandingan luasnya ditentukan  oleh kelompok  di sekelilingnya.  Setiap penutur  menciptakan sistem perilaku bahasanya  yang mirip dengan kelompok  tempat ia ingin mengidentifikasikan dirinya dari waktu ke waktu,  dengan  syarat a) ia dapat  mengidentifikasikan dirinya ke kelompok  tersebut, b) ia memiliki kesempatan dan kemampuan untuk mengamati  dan menganalisis  perilaku mereka, c) memiliki motivasi yang kuat dan merasa  berkewajiban untuk memilih  dan mengubah perilakunya, dan d) ia masih sanggup menyesuaikan perilakunya.
Le Page  menginterpretasikan ujaran  manusia  sebagai  pernyataan jati diri individu  karena  itu individu adalah sah sebagai titik tolak penelitian  sosiolinguistik. Le Page dapat membuktikan bahwa analisis perilaku bahasa individu tidak berarti suatu kekacauan. Dasar pandangan yang multidimensi diperoleh melalui  kajian  paguyuban  yang  multilingual,   dalam  kajian  ini  perlu  memperhatikan sejumlah sumber yang mempengaruhi penggunaan bahasa seseorang. Ia menekankan bahwa seorang penutur merupakan dasar sumber bahasa yang ada dan digunakan untuk mengidentifikasikan dengan paguyuban-paguyuban tertentu.

5.      Masyarakat Bahasa di Indonesia
Tanggal 18 Maret 1996 Prof. Dr. Wardiman  Djojonegoro, Menteri Pendidikan  dan Kebudayaan Republik  Indonesia  membuka  dengan  resmi Seminar  Kebahasaan  dan  kesusasteraan  menyangkut bahasa  Indonesia,  Malaysia,  dan  Brunai  Darusalam.  Seminar  diadakan  di Padang,  Sumatra  Barat selama  3 hari. Pada  acara  pembukaan Menteri  Pendidikan  dan  Kebudayaan  R.I. mengungkapkan data-daya tentang profil kemampuan berbahasa  Indonesia  sebagai berikut.
Jumlah penutur  bahasa  Indonesia  sebesar 153 juta di antara ±175 juta penduduk Indonesia  di atas 5 tahun pada tahun 1995 merupakan ”masyarakat bahasa Indonesia” di Indonesia.  Dari bahasa- bahasa  yang ada di Indonesia  terdapat  11 bahasa  utama  dengan  patokan  jumlah  penutur  > 1 juta orang. jika penutur > 10 juta orang dipakai sebagai rujukan, maka hanya 4 masyarakat bahasa paling utama, yaitu masyarakat bahasa Indonesia,  Jawa, Sunda, dan Melayu.
Jika fungsi  bahasa  yang  dipakai  sebagai  rujukan,  maka  19  bahasa  yang  lebih  berperan   di Indonesia,  karena  digunakan  untuk  lebih  dari satu tujuan,  yaitu : bahasa  Indonesia,  Jawa, Sunda, Malay  Dialects,  Madura,  Makasar,  Minangkabau,   Batak, Bali, Aceh,  Sasak, Mandaar,  Minahasa, Gorontalo, Halmahera, Nias, Sangir, Toraja, dan Bima. Bila bahasa  tulisan yang dijadikan  patokan, maka  hanya  terdapat  13  masyarakat  bahasa  di Indonesia,  yaitu:  bahasa  Indonesia,  Jawa, Sunda, Madura, Makasar, Minangkabau,  Batak, Bali, Aceh, Sasak, Nias, Sangir, dan Toraja.




BAB III
PENUTUP

A.    Simpulan
Bahasa merupakan  sebuah sistem, artinya bahasa itu dibentuk oleh komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. Bahasa juga merupakan alat yang digunakan untuk berinteraksi yang diugnakan oleh sekeolompok anggota masyarat tertentu untuk  berkomikasi dan berinteraksi sesamanya. Masyarakat bahasa dapat terjadi dalam sekelompok orang yang menggunakan bahasa yang sama dan sekelompok orang yang menggunakan bahasa yang berbeda dengan syarat di antara mereka terjadi saling pengetian.
Masyarakat bahasa yang dimaksudkan di sini tidak hanya berdasarkan pada perkembangan  bahasa,  tetapi berdasarkan  pada sejarah, budaya,  dan politik. Pada tahap abstraksi yang cukup tinggi ditempatkan ciri-ciri kelompok  yang memiliki  kesamaan  agama,  usia,  kelompok  etnis,  dan di bidang  linguistik terutama  kesamaan  bahasa  atau variasi bahasa.  Pada tahap abstraksi yang lebih rendah  realitas bahasa tercermin  melalui kelompok-kelompok yang bersemuka.
Model paguyuban bahasa  yang klasik tidak dapat  mencakup perubahan dialek perkotaan  yang cepat.   Bentuk  yang  diidealisasikan   tidak  cukup   mencerminkan  realitas.

B.     Saran
Makalah ini di buat sesuai dengan konsep dan konteks yang tertera dalam berbagai media cetak, dan berhubung dalam pembuatan makalah ini adalah kami sebagai manusia biasa yang tak luput dari salah dan lupa. Oleh karena itu, apabila terdapat kesalahan di sana-sini dalam pembuatan makalah ini maka, kiranya untuk di perbaiki, dan kamipun sangat mengharapkan kritik, saran, dan masukan dari saudara sekalian demi kebaikan untuk kedepannya.




 
DAFTAR PUSTAKA

Alimuddin,  2003.  Pemilihan Bahasa dalam Masyarakat Mandar: Studi Kasus Masyarakat Mandar di Kecamatan Pulau Laut Utara Kabupaten  Kotabaru Kalimantan Selatan. Tesis S2, Program pasca Sarjana UGM.

Aslinda, Leni Syafyahaya. 2007. Pengantar Sosiolinguistik. Bandung: Refika

Chaer, Abdul, Leonie Agustina. 2010. Sosiolinguistik. Jakarta: Rineka Cipta.

Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Chaer, Abdul. 2002. Psikolinguistik Kajian Teoritik. Jakarta:Rineka Cipta.

Kartomihardjo,  Soeseno. 1988.  Bahasa Cermin Kehidupan Masyarakat. Jakarta: Depdikbud.

Liliweri, Alo.  2005.  Prasangka dan  Konflik:  Komunikasi  Lintas Budaya  Masyarakat  Multikultur. Yogyakarta: LKiS.

Nababan, P.W.J, 1984, Sosiolinguistik: Suatu Pengantar. Jakarta:Gramedia.

Ohoiwutun,  Paul.  1997.   Sosiolinguistik:   Memahami  Bahasa  dalam   Konteks   Masyarakat  dan Kebudayaan.  Jakarta: Kesaint Blanc.

Rokhman,   Fathur.  2003.   “Pemilihan   Bahasa  Masyarakat  Dwibahasa:   Kajian Sosolinguistik   di Banyumas”. Disertasi. Program Pascasarjana  Universitas Gadjah  Mada.

Text Box: 12Suwito, 1987.  “Berbahasa dalam Situasi Diglosik: Kajian tentang Kendala Pemilihan  dan Pemilahan Bahasa  di dalam  Masyarakat  Tutur Jawa di Tiga Kelurahan  Kotamadya  Surakarta”.  Disertasi. Jakarta\: Universitas Indonesia.

No comments:

Post a Comment