Wednesday, April 15, 2020

Ternyata dari Dulu Corona Ada Dikenal dengan GARRING PUA Wabah Penyakit Menular

GARRING PUA

arti: Wabah penyakit menular.

Dalam catatan sejarah wabah penyakit menular, pernah menimpa Kerajaan Gowa, dan wabahnya disebut: "Garring Pua." Pada awal Kesultanan Islam, bahkan setelah kejadian itu di susul kelaparan hebat dan peperangan dasyat. Perang di masa itu mencapai puncak kejayaannya, setelah ujian dilewatinya pada pemerintahan Sultan Malikkussaid, Raja Gowa Ke -15.

Peristiwa "Garring Pua" ("Wabah penyakit menular") terjadi pada pemerintahan Sultan Alauddin, Raja Gowa Ke - 14, yang pertama menerima Agama Islam. Bahkan, garring pua ini hampir seluruh daerah di bawah kedaulatan Kerajaan Gowa pada masa itu, hingga ada tercatat puluhan ribu korban rakyat dari wabah penyakit menular dan sakit menyeluruh daerah.

Garring Pua ini, sangat menakutkan, membuat panik rakyat dan terutama Sultan karena kejadiannya sangat aneh dan tiba-tiba. Sekiranya, rakyat kena sakit di pagi hari, sore sudah meninggal, dan begitu pun sebaliknya kena sore, pagi telah tiada. Hingga demikian, anggapan wabah ini dinyatakan bagai hantu akan mengambil nyawa mereka hingga rakyat sangat takut, dan mengurung diri di rumah mereka masing-masing. Dan, ini tiap hari berlangsung hingga sampai di katakan berlalu setelah empat puluh hari (40) suasana mencekam meliputi negeri Kesultanan Gowa melihat situasi tersebut. Lalu, Sultan mengumpulkan seluruh perangkat kerajaan dengan istilah memanggil untuk "akkusiang" ("mencari langkah mengatasi bencana wabah penyakit.") Khadi Kerajaan Gowa, kala itu yakni Datuk Ri Bandang adalah seorang sufi dan penyebar agama Islam di Kerajaan Gowa. Meminta kepada Sombayya Sultan Gowa, untuk melaksanakan ritual agama dalam hal ini di awali dengan tobat bersama dan melakukan pengamalan ritual 'Rate' Juma'. Lazim, "Ratib Jumat" atau populernya "Zikkiri' Jumat" yang dilaksanakan pas "Ba'da Shalat Isya Malam Jumat" di Balla' Lompoa, Istana Somba Opu, namun sebelumnya lepas Shalat Magrib ditabuhlah gendang "tunrung pabballe." ("pukul pengobatan.") Majelis Zikir diambil dari kelompok "Anrong Guru Mokkinga Taeng" dengan jumlah empat puluh (40) orang di samping itu Sultan perintahkan juga para Tupanrita, Tabib.

Tabib-tabib ini mencari "tambara pabballe" ("obat") untuk mencegah "garring pua" ("wabah penyakit menular") disamping itu karena kebetulan jelang panen ada musibah, maka juga gagal panen. Hingga Sombayya Sultan, perintahkan kepada para mentri kerajaan bersama-sama membuka persedian negeri untuk rakyat Kerajaan Gowa, lebih diutamakan yakni seluruh simpanan padi dan beras yang disimpan dalam sebuah rumah penyimpanan padi disebut "palampang" harus dibuka dan disalurkan ke seluruh rakyat Gowa, serta daerah lainnya dalam wilayah Kesultanan Gowa. Alhasil, segala niat baik Sultan bersama perangkatnya, wabah penyakit menular berlalu dengan upaya dan doa. Dalam catatan sejarah, wabah ini berakhir setelah empat puluh (40) hari lamanya. Dan, ritual Zikir Jumat diabadikan dalam tiap malam Jumat secara budaya Islam dipatenkan pada masa pemerintahan Sultan Malikkussaid, Raja Gowa Ke - 15, hingga Andi Idjo Karaeng Lalolang, Raja Gowa Ke - 36, dan setelah Zikir Jumat itu hanya di lakukan oleh kelompok tertentu, ketika ada hajat akan dilaksanakan. Terutama kalangan keluarga Raja Gowa sendiri di Jongayya pada masa hidupnya Raja Bone Karaengta Maggauka Andi Mappanyukki Sultan lbrahim, Zikir Jumat masih rutin diadakan tiap malam Jumat.

Pada masa tahun tujuh puluhan (70-an) Zikkiri' Jumat ini masih rutin dilaksanakan di Istana Balla Lompoa, "songkabala" ("tolak bala") untuk keselamatan anak bangsa dan negeri. Ampuhnya, "zikkiri jumaka barakkana tu gowayya." Boleh jadi, Datuk Ri Bandang Panngamaseanna Allahu Ta'alaa. Salamaki nakipara salama bija.

_________

"Rampe Golla, Nakurampeki Kaluku."

arti: "Sampaikan tentang diriku semanis gula, akan kuberitakan perihal dirimu segurih kelapa."

Tentang: 

Persaudaraan dan Kerjasama.

Tujuan: 

Kejujuran dan Transparansi.

Makna: 

Bahwa, sesama saudara-saudari penting untuk saling ingat-mengingatkan, akan hal menjaga nama baik, dan kehorman diri dalam menjalani hidup di dunia.

Ungkapan masyarakat Bugis, Makassar, Luwu', Toraja, Mandar, di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. 

Terima kasih.

No comments:

Post a Comment