Thursday, October 22, 2020

Pengertian Ragam Bahasa Ilmiah , Semi Ilmiah , Dan Non Ilmiah


    1.Ragam Bahasa Ilmiah

          
  Kalimat ilmiah adalah tulisan yang disusun secara sistematis dan logis. Bahasa tulis ilmiah merupakan perpaduan ragam bahasa tulis dan ragam bahasa ilmiah.
   Dalam kehidupan sosial dan sehari-hari masyarakat Indonesia, baik secara lisan maupun tulisan, digunakan berbagai bahasa daerah termasuk dialeknya, bahasa Indonesia, dan/atau bahasa asing. Bahkan, dalam situasi tertentu, seperti dalam keluarga perkawinan campuran digunakan pula bahasa yang bersifat campuran, yaitu campuran antara bahasa Indonesia dan salah satu atau kedua bahasa ibu pasangan perkawinan campuran itu. Dalam situasi kebahasaan seperti itu, timbul berbagai ragam atau variasi bahasa sesuai dengan keperluannya, baik secara lisan maupun tulisan
Kalimat ilmiah biasa digunakan pada laopran, makalah, tesis, disertasi.

contoh :
Penelitian ini mengkaji teknik pentajaman objek yang efektif dan efisien
- Ketua kelompok itu memiliki argumen yang tepat
- Barisan upacara itu memiliki formasi yang rapih
- Soekarno menjadi figur yang baik buat bangsa indonesia
- Semakin lama zaman semakin modern





Macam-Macam Ragam Bahasa Ilmiah

a. Cendekia
Ciri cendekia yang dimaksud adalah bahasa Indonesia yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah mampu mengungkapkan hasil berpikir logis secara tepat. Hal itu diwujudkan dalam penyusunan atau pengorganisasian bahasa secara sistematis, artinya teratur dan runtut sehingga menunjukkan kelogisan berpikir seseorang atau penulis.
b. Lugas dan Logis
Ciri lugas yang dimaksud adalah bahasa Indonesia yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah harus bermakna harafiah dan tidak bermakna ganda, sedangkan ciri logis adalah bahasa Indonesia yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah sesuai dengan logika atau dapat diterima oleh akal sehat. Hal itu  membantu penulis dalam mengungkapkan pola pikir atau gagasannya dan membantu pembaca dalam memahami gagasan atau pola pikir penulis.
c. Jelas
Ciri jelas yang dimaksud adalah bahasa Indonesia yang digunakan dalam pen  ulisan karya ilmiah jelas struktur kalimat dan  maknanya. Hal itu  sangat membantu penulis dalam memaparkan gagasan atau pola pikirnya dan mempermudah pembaca untuk memahami makna yang dimaksudkan.
d. Padat dan Ringkas
               Padat yang dimaksud adalah gagasan atau pola pikir yang akan diungkapkan tidak tercampur unsur-unsur lain yang tidak ada hubungannya atau tidak diperlukan. Ciri ringkas yang dimaksud adalah bahasa Indonesia yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah harus  singkat, tidak menggunakan kata-kata yang tidak diperlukan atau kata-kata yang berlebihan (mubazir). Dengan demikian,  pemulisan karya tulis ilmiah menunjukkan gagasan atau pola pikir yang padat dan tertuang dalam kalimat yang ringkas
e. Formal dan Objektif 
Formal yang dimaksud mengacu pada pandangan bahwa komunikasi ilmiah melalui tulisan ilmiah merupakan komunikasi formal atau resmi sehingga  bahasa Indonesia yang digunakannya harus bahasa Indonesia formal, artinya bahasa Indonesia yang digunakan harus bahasa yang berlaku dalam situasi formal atau resmi pada struktur bahasa yang mencakup seluruh tataran struktur kebahasaan. Penggunaan bahasa seperti itulah yang menunjukkan ciri objektif, yaitu dapat diukur kebenaranya secara terbuka oleh umum.
f. Gagasan sebagai Pangkal Tolak
Gagasan  sebagai pangkal tolak yang dimaksud adalah bahasa yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah harus berorientasi pada gagasan atau pola pikir bukan pada penulis. Gagasan sebagai pangkal tolak terkait dengan objektivitas penulis, artinya penggunaan bahasa tersebut secara dominan harus bertolak pada objek yang dibicarakan dan bukan pada penulis secara pribadi. Oleh karena itu, objektivitas harus  ditandai dengan upaya penulis untuk menghindari penggunaan kata saya, kami, dan kita 
g. Penggunaan Istilah Teknis
      Ciri penggunaan istilah teknis yang dimaksud adalah bahasa Indonesia yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah harus berfungsi sebagai wacana teknis, artinya sesuai dengan bidang keilmuannya yang dilengkapi dengan peristilahan teknis yang meliputi penulisan angka, lambang, dan istilah sesuai dengan bidang ilmu.
h. Konsisten
  Ciri konsisten yang dimaksud adalah bahasa Indonesia yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah mulai dari tataran terkecil sampai dengan tataran terbesar dan terluas (keseluruhan struktur bahasa) harus ajeg. Arti ajeg adalah taat asas atau selalu menggunakan bentuk-bentuk atau unsur-unsur tersebut dari awal tulisan sampai akhir tulisan.
Contoh-contoh Bahasa Indonesia Ragam Ilmiah
Keseluruhan ciri bahasa Indonesia ragam ilmiah seperti yang telah disebutkan harus terwujud dalam karya tulis ilmiah yang dibuat oleh penulis. Untuk itu, perhatikan contoh-contoh dan ciri-ciri penulisan karya ilmiah berikut. Contoh-contoh berikut disajikan dalam bentuk yang salah sekaligus bentuk yang benar.
A.    CENDEKIA
      Contoh :
1)   Kemajuan informasi pada era globalisasi ini dikhawatirkan akan terjadi pergeseran nilai-nilai moral bangsa Indonesia terutama pengaruh budaya barat yang masuk ke Negara Indonesia yang dimungkinkan tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan moral bangsa Indonesia.
2)   Pergeseran nilai-nilai budaya bangsa terjadi karena masuknya pengaruh budaya barat ke Indonesia.



B. LUGAS DAN LOGIS
Contoh:
1) Kalau pada zaman Sunan Kalijaga dalam kesenian wayang termasuk ceritanya digunakan sebagai media penyebaran agama. Maka di masa sekarang lebih tepat apabila penanaman budi pekerti dalam cerita wayang melalui pengajaran apresiasi.
2)   Kalau pada zaman Sunan Kalijaga, kesenian wayang, termasuk ceritanya, digunakan sebagai media penyebaran agama; sekarang, kesenian wayang digunakan sebagai media penanaman budi pekerti melalui apresiasi.
3)   Saat terjadi kekacauan di pasar, pencuri berhasil ditangkap sama polisi.
4)   Saat terjadi kekacauan di pasar, polisi berhasil menangkap pencuri.

C. JELAS
      Contoh:
1)   Untuk mengetahui apakah baik dan buruknya pribadi seseorang dari tingkah dan lakunya dalam sehari-hari.
2)   Baik buruknya pribadi seseorang dapat dilihat dari tingkah lakunya sehari-hari.
3)   Perkara diajukan kemeja hijau berjumlah lima puluh satu. Sedangkan perkara disidangkan berjumlah dua puluh satu.
4)   Perkara yang diajukan ke meja hijau berjumlah 51 buah, sedangkan perkara yang telah disidangkan berjumlah 21 buah
.
D. PADAT DAN RINGKAS
Contoh:
1)   Pendidikan agama di sekolah dasar bagaimanapun tidak akan terlaksana dengan baik tanpa adanya dukungan yang baik pula dari orang tua murid dalam keluarga.
2)   Pendidikan agama di SD tidak akan terlaksana dengan baik tanpa dukungan orang tua.
E. FORMAL DAN OBJEKTIF
      Contoh:
1)   Menurut Moeliono mengatakan bahwa bahasa ilmiah itu lugas, eksak, dan menghindari kesamaran dan ketaksaan dalam pengungkapan. (1989)
2)   Menurut Moeliono (1989),  bahasa ilmiah itu lugas, eksak, dan menghindari kesamaran dan ketaksaan dalam pengungkapan.
3)   Moeliono (1989) mengatakan bahwa bahasa ilmiah itu lugas, eksak, dan menghindari kesamaran dan ketaksaan dalam pengungkapan.
F. GAGASAN SEBAGAI PANGKAL TOLAK
       Contoh:
1)   Kita semua tahu bahwa pendidikan itu dilingkungan keluarga sangat penting dalam menanamkan moral Pancasila.
2)   Perlu dikatahui bahwa pendidikan di lingkungan keluarga sangat penting dalam penanaman moral Pancasila.
G. PENGGUNAAN ISTILAH TEKNIS
      Contoh:
1)   Hazard Analysis Critical Control Point/HACCP adalah sistem penjaminan mutu dan keamanan pangan yang sangat dianjurkan oleh badan keamanan pangan internasional Codex Alimentarius Commission untuk diterapkan di industri pangan
2) Hazard Anaylisis Critical Control Point (HACCP) adalah sistem penjaminan mutu dan keamanan pangan yang sangat dianjurkan oleh badan keamanan pangan internasional Codex Alimentarius Commission (CAC) untuk diterapkan di industri pangan.

H. KONSISTEN
     Contoh:
1)         Perlucutan senjata di wilayah Bosnia itu tidak penting bagi muslim Bosnia. Untuk mereka yang penting adalah pencabutan embargo senjata.
2)         Perlucutan senjata di wilayah Bosnia itu tidak penting bagi muslim Bosnia. Bagi mereka yang penting adalah pencabutan embargo senjata.





2. Ragam Bahasa Semi Ilmiah

Kalimat semi ilmiah merupakan kalimat yang membentukan katanya tidak terlalu formal, tidak terlalu mengikuti metode ilmiah, tetapi tetap konsisten terhadap struktur kalimat yang lengkap dan obyektif atas tulisan tersebut. Kalimat semi ilmiah biasanya digunakan pada artikel, editorial, reportase.

contoh kalimat Semi ilmiah:

Manga, merupakan sebutan untuk komik di Jepang. Tidak ada yang tahu secara pasti kapan komik masuk pertama kali ke Jepang, tetapi pada mulanya komik Jepang adalah peniruan dari film animasi Walt Disney oleh Ozamu Tezuka (1928-1989) dan merupakan cikal bakal dari komik Jepang modern. Beliau mengekspresikan gerakan film-film animasi Walt Disney ke dalam komik Jepang. Karya-karya beliau setelah akhir perang dunia II membuka era baru untuk komik Jepang.
           

Ciri-ciri Ragam Bahasa Semi Ilmiah

Karya non-ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, bersifat subyektif, tidak didukung fakta umum, dan biasanya menggunakan gaya bahasa yang popular atau biasa digunakan (tidak terlalu formal).
Ciri-ciri karya tulis non-ilmiah, yaitu:
  • Ditulis berdasarkan fakta pribadi,
  • Fakta yang disimpulkan subyektif,
  • Gaya bahasa konotatif dan populer,
  • Tidak memuat hipotesis,
  • Penyajian dibarengi dengan sejarah,
  • Bersifat imajinatif,
  • Situasi didramatisir,
  • Bersifat persuasif.
  • Tanpa dukungan bukti
Jenis-jenis yang termasuk karya non-ilmiah, yaitu:
  • Dongeng
  • Cerpen
  • Novel
  • Drama
  • Roman



 3. Ragam Bahasa Non Ilmiah

Artikel Non Ilmiah (Fiksi) adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta pribadi dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar. Satu ciri yang pasti ada dalam tulisan fiksi adalah isinya yang berupa kisah rekaan. Kisah rekaan itu dalam praktik penulisannya juga tidak boleh dibuat sembarangan, unsur-unsur seperti penokohan, plot, konflik, klimaks, setting dan lainnya. Bentuk karangan non ilmiah adalah dongeng, cerpen, novel, roman, anekdot, hikayat, cerber, puisi dan naskah drama.

 Ciri-Ciri Bahasa Non Ilmiah

  1. Emotif : merupakan kemewahan dan cinta lebih menonjol, tidak sistematis, lebih mencari keuntungan dan sedikit informasi
  2. Persuasif : merupakan penilaian fakta tanpa bukti. Bujukan untuk meyakinkan pembaca, mempengaruhi sikap cara berfikir pembaca dan cukup informative
  3. Deskriptif : merupakan pendapat pribadi, sebagian imajinatif dan subjektif, dan
  4. Jika kritik adakalanya tanpa dukungan bukti.
Kalimat non ilmiah merupakan kalimat yang tidak formal, dari bentuk bahasa, kosa kata, ataupun struktur, tetapi harus tetap memiliki alur yang jelas dalam penulisan. Tidak memiliki unsur semetodis atau sesistematis seperti layaknya kalimat ilmiah atau semi ilmiah. Kalimat non ilmiah biasa digunakan pada dongeng, hikayat, cerpen, novel.

Contoh kalimat non ilmiah:

- Damy adalah mahasiswa angkatan 2008
- Ibu pergi ke pasar untuk berbelanja
- Nidji sedang konser di JCC

23 comments:

  1. Nama : Putri indah lestari Basri
    Nim : 105331109718
    Bismillah.
    Apa yang membedakan ragam bahasa semi ilmiah dan ragam bahasa non ilmiah jika sama-sama menggunakan bahasa yang tidak formal.
    Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nama: Hajarulhuda Dewi Anjani
      NIM: 105331108718

      Saya akan menjawab pertanyaan Anda.
      Bahasa yang digunakan di dalam ragam bahasa semi ilmiah itu kurang formal, sedangkan di dalam ragam bahasa non ilmiah bahasa yang digunakan tidak formal. Jadi, dapat disimpulkan bahwa di dalam ragam bahasa semi ilmiah, masih terdapat bahasa formal. Mungkin itu dari saya, terima kasih.

      Delete
    2. Hadinda (105331109118)
      Saya mengutip dari materi, Bahasa tulis ilmiah merupakan perpaduan ragam bahasa tulis dan ragam bahasa ilmiah. Jadi, pertanyaan saya, apakah itu ragam bahasa tulis dan contohnya, karena materi tersebut hanya menjelaskan tentang ragam bahasa ilmiah. Makasih🙏

      Delete
  2. Nama : Surya Nurul Ainun Hidayah
    Nim : 105331108918
    Pada ciri-ciri ragam bahasa semi ilmiah disebutkan, dituliskan berdasarkan fakta pribadi, tetapi kemudian di sebutkan lagi bersifat imajinatif. Pertanyaan saya pak, apakah kedua ciri ini berbeda? Sedangkan ciri pertama dituliskan berdasarkan fakta tetapi kemudian bersifat imajinatif.

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Ranti Indriastuti MaddanatjaOctober 22, 2020 at 7:02 PM

    Nama : Ranti Indriastuti Maddanatja
    Nim : 105331110018
    Sumber apa saja yang bisa di jadikan referensi dalam penulisan karya ilmiah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. Saya akan membantu menjawab pertanyaan dari saudari Ranti Indriastutu maddanatja tentang sumber referensi yg digunakan dalam penulisan karya tulis ilmia

      1. Artikel / Jurnal Ilmiah
      Artikel atau Jurnal Ilmiah lain dengan bidang keilmuan yang sama akan sangat membantu sebagai sumber literatur untuk Jurnal yang sedang Anda kerjakan. Akan lebih baik jika kita memilih sumber artikel ilmiah dengan hasil penelitian terbaru. Biasanya kita dapat menemukan penelitian terbaru dengan mencari artikel atau jurnal ilmiah yang terbit dalam kurun waktu dua sampai empat tahun terakhir.

      2. Seminar
      Prosiding Seminar atau biasa disebut Seminar memiliki posisi yang hampir sama dengan Jurnal Ilmiah. Hanya saja prosiding seminar lebih dikhususkan pada hasil dari sebuah konferensi ilmiah. Sebuah prosiding seminar yang ilmiah telah melalui proses editing dan review yang ketat, serta memiliki ISBN atau ISSN.

      3. Tesis / Disertasi
      Tesis biasa kita kenal sebagai karya tulis ilmiah yang dibuat sebagai prasyarat dalam menyelesaikan Program Studi Magister atau S2. Sedangkan Disertasi adalah karya tulis ilmiah prsyarat Program Studi Doktoral atau S3. Terlepas dari posisinya sebagai sebuah karya tulis ilmiah, posisi Tesis dan Disertasi dinilai relatif kurang kuat karena keduanya belum terpublikasi secara internasional.

      4. Buku
      Buku adalah sumber literatur untuk penulisan Artikel atau Jurnal ilmiah. Sebuah buku berisi pembahasan ilmiah bidang keilmuan tertentu. Sebuah buku referensi dapat berupa hasil dari penelitian ilimiah atau berisi konsep dasar suatu bidang keilmuan tertentu. Satu hal yang perlu Anda perhatikan jika menggunakan buku sebagai sumber literatur adalah tahun terbit dan topik bahasan yang benar-benar terkait dengan topik atau tema Jurnal yang kita buat.

      5. Media / Internet
      Sumber literatur terakhir yang bisa Anda gunakan adalah sumber media massa atau internet. Ada beberapa hal yang wajib Anda perhatikan jika menggunakan media massa atau internet sebagai literatur ilmiah

      Delete
  5. Nama : St. Nur Indah Sari
    Nim : 105331108518

    Assalamualaikum.

    Secara umum struktur sajian sebuah karya ilmiah terdiri dari bagian awal, bagian inti, dan bagian penutup. Coba jelaskan dan sebutkan masing-masing bagian dan apa bedanya dengan struktur sajian karya non ilmiah?.

    Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waalaikumsalam

      Saya Firda (105331109318) akan menjawab pertanyaan anda.
      Struktur sajian karya ilmiah:
      a. Bagian awal
      Bagian awal atau pendahuluan sebuah karya ilmiah merupakan pengantar untuk menuju ke bab inti. Pada umumnya berisi tentang latar belakang masalah, indentifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan pemaparan, dan manfaat dari kegiatan.
      b. Bagian inti
      Bagian inti merupakan gagasan pokok yang ingin disampaikan penulis, yang terdiri dari beberapa bab atau sub topik.
      c. Bagian penutup
      Bagian penutup merupakan simpulan pokok pembahasan dan rekomendasi penulis terhadap tindak lanjut gagasan tersebut.

      Dengan memperhatikan struktur sajian karya ilmiah seperti tersebut, dapat dibedakan antara struktur sajian karya ilmiah dan struktur sajian karya non ilmiah sebagai berikut:
      sebuah karya ilmiah mempunyai struktur sajian yang sangat ketat, sedangkan karya non ilmiah tidak. Karya ilmiah menyajikan tulisan yang dari awal hingga akhir penulisan selalu terdapat kesinambungan sedangkan karya non ilmiah sering tidak ada kesinambungan.

      Delete
  6. Umi Kalsum 105331108618
    Saya ingin bertanya pak. Apakah penggunaan ragam ilmiah berhubungan dengan penggunaan ragam tulisan, dan ragam resmi mengapa demikian?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurut yang saya tahu Bahasa Indonesia ragam ilmiah merupakan salah satu ragam bahasa Indonesia yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah. Ragam bahasa ilmiah harus mengikuti tata tulis karya ilmiah yang standar. Misalnya dalam menyusun daftarpustaka. Bahasa ragam ilmiah bersifat lugas, dalam arti menggambarkan keadaan atau fakta sebagaimana adanya. Penyampaian gagasan harus lengkap,jelas, ringkas, meyakinkan, dan tepat. Kegiatan ilmiah termasuk sebagai kegiatan akademis termasuk dalam situasi resmi, formal sehingga ragam bahasa yang tepat untuk digunakan ialah ragam bahasa resmi. Untuk itu, pemilihan kata (diksi)harus memenuhi beberapa prinsip, yaitu ketepatan, kebakuan, keindonesiaan,dan kelaziman

      Delete
  7. Nama: Paramita Agus
    Nim: 105331108818

    Bagaimana jika beberapa dari ciri-ciri karya tulis non-ilmiah tidak terdapat dalam sebuah karya tulis non-ilmiah, apakah masih bisa disebut karya tulis non-ilmiah?

    ReplyDelete
  8. Nama : Nurfadhilah Bakhtiar Hamzah
    Nim : 10533110761

    Pertanyannya : apa yg melatar belakangi terjadinya ragam bahasa dan Apakah ada kemungkinan untuk menggunakan dialek atau ragam bahasa tertentu pada debat? Karena biasanya ketika melakukan debat, selalu menggunakan ragam bahasa yang baku dan ilmiah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurut saya, kemungkinan untuk menggunakan dialek atau ragam bahasa tertentu di dalam proses debat bisa saja terjadi. Misalnya, kita berdebat dengan teman sebaya atau tidak dalam lingkup formal. Tanpa kita sadari biasanya dialek tersebut ke luar dari mulut kita. Mungkin itu dari saya, terima kasih.

      Delete
    2. Terima kasih atas jawabannya, cukup dimengerti dengan penjelasannya. Tapi saya mau bertnya lagi yg belum saya paham masih berkaitan dgn jawaban anda.
      Kalau seperti itu didalam ruang lingkup tidak formal dan untuk tmn sebaya memungkinkan bisa saja terjadi hal seperti itu, tpi bagaimana jika melakukan debat secara formal dgn menuntut kita untuk berbahasa yg baku tapi dengsn tidak sadar kita menggunakan beberapa dialek atau ragam bahasa daerah kita? Apaka itu akan menjadikan permasalahan saat proses debat itu?

      Delete
  9. Nama : Sri Nur Mutmainna
    Nim : 105331108418

    Bagaimana kaidah-kaidah penulisan karya ilmiah yang baik?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya akan membantu menjawab pertanyaan dari sri nurmutmainnah
      dan yg saya tau kaidah-kaidah penulisan karya ilmia yang baik itu dengan maenggunakan bahasa yang baku, Berdasarkan fakta, Bersifat objektif dan tidak memihak serta Format penulisan harus sesuai dengan kaidah atau pedoman yang berlaku. Mungkin itu menurut saya, selebihnya nanti bisa diperjelas oleh bapak nanti

      Delete
  10. Nama : Nurul iftitah
    Nim : 105331109218
    Apakah sebuah karya ilmiah hanya bisa ditulis dari fakta pribadi saja? Dan mengapa tidak dibutuhkan butuhkan dukungan bukti?

    ReplyDelete
  11. Nama: Nurul Fadhila Ansar
    Nim: 105331109418
    Apa kelebihan jika menggunakan ragam tulis bahasa dari pada lisan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nama: Firda
      Nim: 105331109318

      Saya akan menjawab pertanyaan anda.
      Dalam menggunakan bahasa lisan, kita terikat oleh ruang dan waktu, sedangkan bahasa tulisan tidak terikat oleh ruang dan waktu. Ragam bahasa tulisan dapat dikoreksi tetapi ragam lisan cenderung tidak dapat dikoreksi, dan jika bisa, maka akan berlangsung sangat lama

      Delete
  12. Nama : Fatimah
    Nim : 105331103020
    Mengapa dalam sebuah kalimat non ilmiah tidak memiliki unsur semetodis atau sesistematis seperti layaknya kalimat ilmiah yang lain. Sedangkan, dalam penulisannya pun harus tetap memiliki alur yang jelas .

    ReplyDelete
  13. Mengapad Menyajikan fakta pribadi sifats ?

    ReplyDelete