A. Pengertian konsep perencanaan
Perencanaan
adalah menyusun langkah-langkah yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan
yang telah ditentukan. Perencanaan tersebut dapat disusun berdasarkan kebutuhan
dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan keinginan pembuat perencana. Namun
yang lebih utama adalah perencanaan yang dibuat harus dapat dilaksanakan dengan
mudah dan tetap sasaran.
Pembelajaran
atau pengajaran menurut Degeng adalah upaya untuk membelajarkan siswa. Dalam
pengertian ini secara implisit dalam pengajaran terdapat kegiatan memilih,
menetapkan, mengembangkan metode untuk mencapai hasil pengajaran yang
diinginkan. Pemilihan, penetapan, dan pengembangan metode ini didasarkan pada
kondisi pengajaran yang ada. Kegiatan ini pada dasarnya merupakan inti dari
perencanaan pembelajaran.
Adapun
perhatian terhadap apa yang telah dipelajari siswa merupakan bidang kajian
kurikulum, yakni mengenai apa isi pembelajaran yang harus dipelajari siswa agar
dapat tercapainya tujuan. Pembelajaran lebih menekankan pada bagaimana cara
agar tercapai tujuan tersebut.
Ada beberapa
definisi tentang perencanaan yang rumusannya berbeda-beda satu dengan yang
lain. Cunningham misalnya mengemukakan bahwa perencanaan ialah
menyeleksi dan menghubungkan pengetahuan, fakta, imajinasi, dan asumsi untuk
masa yang akan datang dengan tujuan memvisualisasi dan memformulasi hasil yang
diinginkan, urutan kegiatan yang diperlukan, dan perilaku dalam batas-batas
yang dapt diterima yang akan digunakan dalam penyelesaian.
Definisi
yang kedua mengemukakan bahwa perencanaan adalah hubungan antara apa yang ada
sekarang (what is) dengan bagaimana seharusnya (what should be)
yang bertalian dengan kebutuhan, penentuan tujuan, prioritas, program, dan
alokasi sumber. Bagaimana seharusnya adalah mengacu pada masa yang akan datang.
Perencanaan disini menekankan kepada usaha mengisi kesenjangan antara keadaan
sekarang dengan keadaan yang aka datang disesuaikan dengan apa yang
dicita-citakan, ialah mengilangkan jarak antara keadaan sekarang dengan keadaan
mendatang yang diinginkan.
Sementara
itu definisi yang lain tentang perencanaan dirumuskan sangat pendek,
perencanaan adalah suatu cara untuk mengantisipasi dan menyeimbangkan
perubahan. Dalam definisi ini ada asumsi bahwa perubahan selalu terjadi.
Perubahan lingkungan ini selalu diantisipasi, dan hasil antisipasi ini dipakai
agar perubahan itu berimbang. Artinya perubahan yang terjadi di luar organisasi
pengajaran tidak jauh berbeda dengan perubahan yang terjad pada organisasi itu,
dengan harapan agar organisasi tidak mengalami keguncangan. Jadi, makna
perencanaan di sini adalah usaha mengubah organisasi agar sejalan dengan
perubahan lingkungannya.
Ketiga
definisi di atas memperlihatkan rumusan dan tekanan yang berbeda. Yang satu
mencari wujud yang akan datang serta usaha untuk mencapainya, yang lain
menghilangkan kesenjangan antara keadaan sekarang dengan keadaan masa
mendatang, dan yang satu lagi mengubah keadaan agar sejalan dengan keadaan
lingkungan yang juga berubah-ubah. Meskipun demikian pada hakikatnya ketiganya
bermakna sama, yaitu sama-sama ingin mencari dan mencapai wujud yang akan
datang, tetapi yang pertama dan kedua tidak dinyatakan secara eksplisit bahwa
wujud yang dicari itu akibat terjadinya perubahan, termasuk perubahan, termasuk
perubahan dalam cita-cita.
Berdasarkan
rumusan di atas, dapat dibuat rumusan baru tentang apa itu perencanaan.
Perencanaan yakni suatu cara yang memuaskan untuk membuat kegiatan dapat
berjalan dengan baik, disertai dengan berbagai langkah yang antisipatif guna
memperkecil kesenjangan yang terjadi sehingga kegiatan tersebut mencapai tujuan
yang telah ditetapkan.
Pembelajaran
atau pengajaran menurut Dengeng adalah upaya untuk membelajarkan siswa.
Dalam pengertian ini secara implisit dalm pengajaran terdapat kegiatan memilih,
menetapkan, mengembangkan metode untuk mencapai hasil pengajaran yang
diinginkan. Pemilihan, penetapan, dan pengembangan metode ini didasarkan pada
kondisi pengajaran yang ada. Kegiatan ini pada dasarnya merupakan inti dari
perencanaan pembelajaran.
Dalam hal ini istilah pembelajaran memiliki hakikat perencanaan atau
perancangan (desain) sebagai upaya untuk membelajarkan siswa. Itulah sebabnya
dalam belajar, siswa tidak hanya berinteraksi dengan guru sebagai salah satu
sumber belajar, tetapi mungkin berinteraksi dengan keseluruhan sumber belajar
yang dipakai untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Oleh karena
itu, pembelajaran memusatkan perhatian pada”bagaimana membelajarkan siswa”, dan
bukan pada “apa yang dipelajari siswa”. Adapun perhatian terhadap apa yang
dipelajari siswa merupakan bidang kajian dari kurikulum, yakni mengenai apa isi
pembelajaran yang harus dipelajari siswa agar dapat tercapainya tujuan
tersebut.
Pembelajaran yang akan direncanakan memerlukan berbagai teori untuk
merancangnya agar rencana pembelajaran yang disusun benar-benar dapat memenuhi
harapan dan tujuan pembelajaran. Untuk itu pembelajaran sebagaimana disebut
oleh Degeng (1989), Reigeluth (1983) sebagai suatu disiplin ilmu
menaruh perhatian pada perbaikan kualitas pembelajaran dengan menggunakan teori
pembelajaran deskriptif, sedangkan rancangan pembelajaran mendekati tujuan yang
sama dengan berpijak pada teori pembelajaran preskriptif.
B. Dasar
Perlunya Perencanaan Pembelajaran
Perlunya
perencanaan pembelajaran sebagaimana disebutkan di atas, dimaksudkan agar dapat
dicapai perbaikan pembelajaran. Upaya perbaikan pembelajaran ini dilakukan
dengan asumsi sebagai berikut:
1.
Untuk memperbaiki kualitas pembelajaran perlu diawali
dengan perencanaan pembelajaran yang diwujudkan dengan adanya desain
pembelajaran.
2.
Untuk merancang suatu pembelajaran perlu menggunakan
pendekatan sistem.
3.
Perencanaan desain pembelajaran diacukan pada
bagaimana seseorang belajar.
4.
Untuk merencanakan suatu desain pembelajaran diacukan
pada siswa secara perorangan.
5.
Pembelajaran yang dilakukan akan abermuara pada
ketercapaian tujuan pembelajaran, dalam hai ini akan ada tjuan langsung
pembelajaran, dan tujuan pengiring dari pembelajaran.
6.
Sasaran akhir dari perencanaan desain pembelajaran
adalah mudahnya siswa untuk belajar.
7.
Perencanaan pe,belajaran harus melibatkan semua
variabel pembelajaran.
8.
Inti dari desain pembelajaran yang dibuat adalah
penetapan metode pebelajaran yang optimal untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.
Adapun perbaikan kualitas pembelajaran adalah sebagai berikut:
1.
Perbaikan Kualitas
Pembelajaran
Perbaikan
kualiatas pembelajaran haruslah diawali dengan perbaikan desain pembelajaran.
Perencanaan pembelajaran dapat dijadikan titik awal dari upaya perbaikan
kualitas pembelajaran.
2.
Pembelajaran Dirancang
dengan Pendekatan Sistem
Untuk mencapai kualitas
pembelajaran, desain pembelajaran yang dilakukan haruslah didasarkan pada
pendekatan sistem. Hal ini disadari bahwa dengan pendekatan sistem, akan
memberikan peluang yang lebih besar dalam mengintegrasikan semua variabel yang
mempengaruhi belajar, termasuk keterkaitan anatarvariabel pengajaran yakni
variabel kondisi pembelajaran, variabel metode, dan variabel hasil
pembelajaran.
3.
Desain Pembelajaran Mengacu
pada Bagaimana Seseorang Belajar
Kualiatas pembelajaran juga banyak
tergantung pada bagaimana pembelajaran itu dirancang. Rancangan pembelajaran
biasanya dibuat berdasarkan pendekatan perancangnya. Apakah bersifat intuitif
atau bersifat alamiah. Jika bersifat intuitif, rancangan pembelajaran tersebut
banyak diwarnai oleh kehendak perancangnya. Akan tetapi, jika dibuat
berdasarkan pendekatan ilmiah, rancangan pembelajaran tersebut diwarnai oleh
berbagai teori yang dikemukakan oleh para ilmuwan pembelajaran. Di samping itu,
pendekatan lain adalah pembuatan rancangan pembelajaran bersifat intuitif
ilmiah yang merupakan paduan antara keduanya, sehingga rancangan pembelajaran
yang dihasilkan disesuaikan dengan pengalaman empiris yang pernah ditemukan
pada saat melaksanakan pembelajaran yang dikembangkan pula dengan pengguna
teori-teori yang relevan.
Berdasarkan
tiga pendekatan ini, pendekatan intuitif ilmiah akan dapat menghasalkan
pembelajaran yang lebih sahih dari dua pendekatan lainnya bila hanya digunakan
secara terpisah.
4.
Desain Pembelajaran Diacukan
pada Siswa Perorangan
Seseorang
belajar memiliki potensi ynag perlu dikembangkan. Tindakan atau perilaku
belajar dapat ditata atau dipengaruhi, tetapi tindakan atau perilaku belajar
itu akan tetap berjalan sesuai dengan karakteristik siswa. Siswa yang lambat
dalam berpikir, tidak mungkin dapat dipaksa segera bertindak secara cepat.
Sebaliknya siswa yang memiliki kemampuan berpikir tinggi tidak mungkin dipaksa
bertindak dengan cara lambat.
5.
Desain Pembelajaran Harus
Diacukan pada Tujuan
Hasil pembelajaran mencakup hasil langsung dan hasil tak langsung (pengiring).
Perancangan pembelajaran perlu memilih hasil pembelajaran, dan hasil
pembelajaran yang dapat terukur setelah melalui keseluruhan proses
pembelajaran, atau hasil pengiring.
6.
Desain Pembelajaran
diarahkan pada Kemudahan Belajar
Sebagaimana
disebutkan di atas, pembelajaran adalah upaya membelajarkan siswa dan
perancangan pembelajaran merupakan panataan upaya tersebut agar muncul perilaku
belajar. Dalam kondisi yang ditata dengan baik, strategi yang direncanakan akan
memberikan peluang dicapainya hasil pembelajaran.
7.
Desain Pembelajaran
Melibatkan Variabel Pembelajaran
Desain
pembelajaran diupayakan mencakup semua variabel pembelajaran yang dirasa turut
mempengaruhi belajar. Ada tiga variabel pembelajaran yang perlu dipertimbangkan
dalam merancang pembelajaran. Ketiga variabel tersebut adalah variabel kondisi,
metode, dan variabel hasil pembelajaran.
8.
Desain Pembelajaran
Penetapan Metode untuk Mencapai Tujuan
Inti dari desain pembelajaran adalah
menetapkan metode pembelajaran yang optimal untuk mencapai hasil pembelajaran
yang diinginkan. Fokus utama perancangan pembelajaran adalah pemilihan,
penetapan, dan pengembangan variabel metode pembelajaran.
Ada tiga
prinsip yang perlu dipertimbangkan dalam upaya menetapkan metode pembelajaran.
Ketiga prinsip tersebut adalah (1) tidak ada satu metode pembelajaran yang
unggul untuk semua tujuan dalam semua kondisi, (2) metode (strategi)
pembelajaran yang berbeda memiliki pengaruh yang berbeda dan konsisten pada
hasil pembelajaran, dan (3) kondisi pemebalajaran bisa memliki pengaruh yang
konsisten pada hasil pengajaran.
C. Prinsip-Prinsip
Umum Tentang Mengajar
Prinsip-prinsip
umum yang harus dijadikan pegangan guru dalam melaksanakan proses belajar
mengajar adalah sebagai berikut:
1.
Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah
dilmiliki siswa.
2.
Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus
bersifat praktis.
3.
Mengajar harus memperhatikan perbedaan individual
setia siswa.
4.
Kesiapan (readiness) dalam belajar sangat
penting dijadikan landasan dalm mengajar. Kesiapan adalah kapasitas (kemampuan
potensial) bai bersifat fisik maupun mental untuk melakukan sesuatu.
5.
Tujuan pengajaran harus diketahui siswa.
6.
Mengajar harus mengikuti prinsip psikologis tentang
belajar. Para ahli psikologis merumuskan prinsip., bahwa belajar itu harus
bertahap dan meningkat. Oleh karena itu, dalam mengajar haruslah mempersiapkan
bahan yang bersifat gradual, yaitu
a.
Dari sederhana kepada yang kompleks (rumit),
b.
Dari konkret kepada yang abstrak,
c.
Dari umum (general) kepada yang kompleks,
d.
Dari yang sudah diketahui (fakta) kepada yang tidak
diketahui (konsep yang bersifat abstrak)
e.
Dengan menggunakan prinsip induksi kepada deduksi atau
sebaliknya,
f.
Sering menggunakan reinforcement (penguatan).
D. Tipe-Tipe
Belajar
Dalam
praktik pengajaran, penggunaan suatu dasar teori untuk segala situasi
merupakan tindakan kurang bijaksana. Tidak ada suatu teori balajar yang
cocok untuk segala situasi. Karena masing-masing mempunyai landasan yang
berbeda dan cocok untuk situasi tertentu. Robert M. Gagne (1970) mencoba
melihat berbagai teori belajar dalam satu kebulatan yang saling melengkapi dan
tidak bertentangan. Menurut Gagne belajar mempunyai delapan tipe. Kedelapan
tipe itu bertingkat, ada hierarki dalam masing-masing tipe setiap tipe belajar
merupakan prasyarat bagi tipe belajar diatasnya.
Tipe belajar
dikemukakan oleh Gagne pada hakikatnya merupakan prinsip umum baik dalam
belajar maupun mengajar. Artinya, dalam mengajar atau membimbing siswa belajar
pun terdapat tingkatan sebagaimana tingkatan belajar di atas. Kedelapan tipe
itu adalah sebagai berikut.
1.
Belajar Isyarat (Signal Learning)
Belajar isyarat mirip dengan conditioned respons
atau respons bersyarat. Seperti menutup mulut dengan telunjuk, isyarat
untuk datang mendekat.
2.
Belajar Stimulus-Respons (Stimulus Respons
Learning)
Berbeda dengan belajar isyarat, respons bersifat umum, kabur, dan
emosional.
3.
Belajar Rangkaian (Chaining)
Rangkain atau rantai dalam chaining adalah
semacam rangkaian antara berbagai S-R yang bersifat segera.
4.
Asosiasi Verbal (Verbal Assosiation)
Tipe belajar ini adalah mampu mengaitkan suatu yang
bersifat verbalisme kepada sesuatu yang sudah dimilikinya.
5.
Belajar Diskriminasi (Discrimination Learning)
Tipe belajar ini adalah pembedaan terhadap berbagai
rangkaian seperti membedakan berbagai bentuk wajah, hewan, tumbuhan, dan
lain-lain.
6.
Belajar
Konsep (Concept Learning)
Konsep merupakan simbol berpikir. Hal ini diperoleh
dari hasil memuat tafsiran terhadap fakta atau realita, dan hubungan antara
berbagai fakta. Suatu konsep dapat diklasifikasi berdasarkan ciri tertentu.
7.
Belajar Aturan ( Rule Learning)
Tipe belajar aturan adalah lebih meningkat dari tipe
beajar konsep. Dalam belajar aturan, seseorang dipandang telah memiliki
berbagai konsep yang dapat digunakan untuk mengemukakan berbagai formula,
hukum, atau dalil.
8.
Belajar Pemecahan Masalah (Problem Solving)
Tipe belajar yang terakhir adalah
memecahkan masalah. Tipe belajar ini dapat dilakukan oleh seseorang apabila
dalam dirinya sudah mampu mengaplikasikan berbagai aturan yang relevan dengan
masalah yang dihadapinya.
Kedelapan tipe belajar di atas
tampaknya para ahli sepakat merupakan tipe belajar yang memiliki hierarki.
Setiap tipe belajar merupakan prasyarat bagi tipe belajar selanjutnya.
Sebaliknya tiap tipe belajar memerlukan penguasaan pada tiap belajar di tingkat
bawahnya.
E. Manfaat
Perencanaan Pembelajaran
Perencanaan
pengajaran dimaksudkan sebagai langkah awal sebelum proses
pembelajaran berlangsung, manfaatnya antara lain:
1. Sebagai
petunjuk arah kegiatan dalam mencapai tujuan.
2. Sebagai pola
dasar dalam mengatur tugas dan wewenang bagi setiap unsur yang terlibat dalam
kegiatan.
3. Sebagai
pedoman kerja bagi setiap unsur, baik unsur guru maupun murid.
4. Sebagai alat
ukur efektif tidaknya suatu pekerjaan.
5. Untuk bahan
penyusunan data agar trejadi keseimbangan kerja.
6. Untuk
menghemat waktu, tenaga, alat-alat, dan biaya.