BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Dalam
kehidupan sosialnya, manusia saling berhubungan antara satu sama lain. Dalam
hal ini perlu adanya sebuah komunikasi.Kebutuhan berkomunikasi itupun semakin
kompleks seiring dengan perkembangan zaman dan kebudayaan manusia. Sehingga
keadaan tersebut menempatkan bahasa sebagai alat komunikasi manusia pada
posisi yang paling penting.
Agar
komunikasi tersebut berjalan dengan baik,kedua belah pihak memerlukan bahasa
yang dapat dipahami bersama. Wujud bahasa yang utama adalah bunyi. Bunyi-bunyi
tersebut disebut bunyi bahasa.
Bahasa
adalah suatu sistem lambang bunyi yang dipakai manusia untuk tujuan komunikasi.
Oleh karena itu pengajaran Bahasa Indonesia pada hakekatnya mempunyai ruang
lingkup dan tujuan yang menumbuhkan kemampuan mengungkapkan pikiran dan
perasaan dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar agar seseorang dapat
berkomunikasi dengan baik dan benar.
Banyak
kajian teori mengenai bahasa ini. Salah satunya kajian tentang fonologi.
Sebagai calon pendidik selayaknya memahami kajian tentang fonologi
ini untuk dijadikan pedoman mengajarkan pelajaran Bahasa Indonesia.
Penulis merasa perlu untuk menyusun makalah ini agar dapat membantu penulis
pada khususnya dan pembaca pada umumnya untuk mengetahui tentang batasan dan
kajian fonologi, beberapa pengetian mengenai tata bunyi, kajian fonetik, kajian
fonemik, gejala fonologi Bahasa Indonesia.
B. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang makalah yang telah
dikemukakan di atas,
maka dapat dirumuskan :
1. Bagaimana batasan dan kajian
fonologi?
2. Bagaimana arti tata bunyi (fonem dan alofon)?
3. Bagaimana yang dimaksud dengan kajian fonetik?
4. Bagaimana yang dimaksud dengan kajian fonemik?
5. Bagaimana gejala fonologi
Bahasa Indonesia?
C. TUJUAN PENULISAN
Adapun
tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1. Menjelaskan batasan dan kajian fonologi.
2. Menjelaskan beberapa pengetian mengenai
tata bunyi (fonem dan alofon).
3. Menjelaskankajian fonetik.
4. Menjelaskan kajian fonemik.
5. Menjelaskan gejala fonologi Bahasa Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
BATASAN DAN KAJIAN FONOLOGI
Istilah fonologi berasal dari bahasa Yunani yaitu phone = ‘bunyi’, logos = ‘ilmu’. Secara harfiah, fonologi adalah ilmu bunyi.
Fonologi
merupakan bagian dari ilmu bahasa yang mengkaji bunyi. Objek kajian fonologi
yang pertama bunyi bahasa (fon) yang disebut tata bunyi (fonetik) dan yang
kedua mengkaji fonem yang disebut tata fonem (fonemik).
Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa fonologi adalah cabang ilmu bahasa
(linguistik) yang mengkaji bunyi-bunyi bahasa, proses terbentuknya dan
perubahannya. Fonologi mengkaji bunyi bahasa secara umum dan fungsional.
B.
TATA BUNYI
1. Fonem
Istilah fonem dapat didefinisikan sebagai satuan bahasa terkecil yang bersifat
fungsional, artinya satuan fonem memiliki fungsi untuk membedakan makna. Bunyi ujaran yang bersifat
netral, atau masih belum terbukti membedakan arti disebut fona
Fonem
dalam bahasa mempunyai beberapa macam lafal yang bergantung pada tempatnya
dalam kata atau suku kata. Contoh fonem /t/ jika berada di awal kata atau suku
kata, dilafalkan secara lepas. Pada kata /topi/, fonem /t/ dilafalkan lepas.
Namun, jika
berada di akhir kata, fonem /t/ tidak diucapkan lepas. Bibir kita masih tetap
rapat tertutup saat mengucapkan bunyi, misal pada kata /buat/.
2.
Alofon
Varian fonem berdasarkan posisi
dalam kata, misal fonem pertama pada kata makan dan makna secara fonetis
berbeda. Variasi suatu fonem yang
tidak membedakan arti dinamakan alofon. Alofon dituliskan diantara dua kurung
siku […]. Kalau [p]
yang lepas kita tandai dengan [p] saja, sedangkan [p] yang tak lepas kita
tandai dengan [p>]. Maka kita dapat berkata bahwa dalam Bahasa Indonesia
fonem /p/ mempunyai dua alofon, yakni [p] dan [p>].
C.
KAJIAN FONETIK
Fonetik (phonetics)
ialah ilmu yang menyelidiki bunyi bahasa tanpa melihat fungsi bunyi itu sebagai
pembeda makna dalam suatu bahasa bagaimana cara terbentuknya, berapa frakuensi,
intensitas, timbrenya sebagai getaran udara, dan bagaimana bunyi itu diterima
oleh telinga.
1. Klasifikasi Bunyi
a. Berdasarkan Ada Tidaknya
Rintangan terhadap Arus Udara dalam Saluran Suara
1) Vokal adalah bunyi bahasa yang arus udaranya
tidak mengalami rintangan. Pada pembentukan vokal tidak ada artikulasi.
2) Konsonan adalah bunyi bahasa yang dibentuk
dengan menghambat arus udara pada sebagian alat ucap. Dalam hal ini terjadi
artikulasi.
3) Bunyi
semi-vokal adalah bunyi yang secara praktis termasuk konsonan, tetapi karena
pada waktu diartikulasikan belum membentuk konsonan murni. Misalnya: [w].
b. Berdasarkan Jalan
Keluarnya Arus Udara
1) Bunyi nasal, yaitu bunyi
yang dihasilkan dengan menutup arus udara keluar melalui rongga mulut dan
membuka jalan agar arus udara dapat keluar melalui rongga hidung. Misalnya:
[m].
2) Bunyi oral, yaitu bunyi
yang dihasilkan dengan jalan mengangkat ujung anak tekak mendekati
langit-langit lunak untuk menutupi rongga hidung, sehingga arus udara keluar
melalui mulut. Misalnya [p].
c.
Berdasarkan Ada Tidaknya Ketegangan Arus Udara
saat
Bunyi di
Artikulasikan
1) Bunyi keras (fortis), yaitu bunyi bahasa
yang pada waktu di artikulasikan disertai ketegangan kuat arus. Misalnya: [s].
2) Bunyi lunak (lenis), yaitu bunyi yang
pada waktu di artikulasikan tidak disertai ketegangan kuat arus. Misalnya [l].
d. Berdasarkan
Lamanya Bunyi pada
Waktu Diucapkan atau
Diartikulasikan
1) Bunyi panjang.
2) Bunyi pendek.
e.
Berdasarkan Derajat Kenyaringannya
Bunyi
dibedakan menjadi bunyi nyaring dan bunyi tak nyaring. Derajat kenyaringan
ditentukan oleh luas atau besarnya ruang resonansi pada waktu bunyi diucapkan.
Makin luas ruang resonansi saluran bicara waktu membentuk bunti, makin tinggi
derajat kenyaringannya. Begitu pula sebaliknya. Vokal yang paling tinggi derajat kenyaringannya adalah
vokal terbuka [a] sedangkan konsonan yang paling tinggi derajat kenyaringannya
adalah konsonan getar [r].
f.
Berdasarkan Perwujudannya dalam Suku Kata
1) Bunyi tunggal, yaitu bunyi yang berdiri
sendiri dalam satu suku kata (semua bunyi vokal atau monoftong dan konsonan).
2) Bunyi rangkap, yaitu dua bunyi atau lebih
yang terdapat dalam satu suku kata. Bunyi rangkap terdiri dari: Diftong (vokal
rangkap) : [ai], [au] dan [oi]; dan klaster (gugus konsonan) : [pr], [kr], [tr]
dan [bl].
g. Berdasarkan
Arus
Udara.
1) Bunyi egresif, yaitu bunyi yang di bentuk dengan cara mengeluarkan arus udara dari dalam paru-paru. Bunyi egresif di bedakan menjadi :
a) Bunyi egresif pulmonik : di bentuk dengan mengecilkan ruang paru-paru, otot perut dan rongga dada.
b) Bunyi egresif glotalik : terbentuk dengan
cara merapatkan pita suara sehingga glotis dalam keadaan tertutup.
c) Bunyi ingresif, yaitu bunyi yang di
bentuk dengan cara menghisap udara ke dalam paru-paru.
a) Ingresif glotalik : pembentukannya sama
dengan egresif glotalik tetapi berbeda pada arus udara.
b) Ingresif velarik : di bentuk dengan
menaikkan pangkal lidah di tempatkan pada langit-langit lunak.
Kebanyakan bunyi bahasa Indonesia merupakan
bunyi egresif.
2. Pembentukan Vokal,
Konsonan, Diftong dan Kluser
a. Pembentukan Vokal
Vokal
dibedakan berdasarkan tinggi rendahnya lidah, bagian lidah yang bergerak,
bentuk bibir, dan strikturnya. Berikut ini jenis-jenis vokal berdasarkan cara
pembentukannya, yakni:
1) Berdasarkan bentuk bibir : vokal bulat, vokal
netral, dan vokal tak bulat.

2) Berdasarkan tinggi rendahnya lidah : vokal
tinggi, vokal madya (sedang), dan vokal rendah.
3)
![]() |
![]() |
Berdasarkan bagian lidah yang bergerak : vokal depan, vokal tengah, dan vokal belakang.
|
4) Berdasarkan strikturnya : vokal tertutup,
vokal semi-tertutup, vokal semi-terbuka, dan vokal terbuka.
b. Pembentukan Konsonan
Pembentukan konsonan didasarkan pada empat faktor, yakni
daerah srtikulasi, cara artikulasi, keadaan pita suara, dan jalan keluarnya
udara. Berikut
ini klasifikasi konsonan tersebut:
1) Berdasarkan daerah artikulasi : konsonan
bilabial, labio dental, apikodental, apikoalveolar, palatal, velar, dan
laringal.
|

|
|
2) Berdasarkan cara artikulasi : konsonan hambat,
frikatif, getar, lateral, nasal, dan semi-vokal.
3) Berdasarkan keadaan pita suara : konsonan
bersuara dan konsonan tak bersuara.
4) Berdasarkan jalan keluarnya udara : konsonan
oral dan konsonan nasal.
c.
Pembentukan Diftong
Diftong
adalah dua buah vokal yang berdiri bersama dan pada saat diucapkan berubah
kualitasnya. Perbedaan vokal dengan diftong adalah terletak pada cara hembusan
nafasnya.
Diftong
dalam bahasa Indonesia
adalah sebagai berikut:
1) Diftong /au/, pengucapannya [aw].
Contohnya :
[harimaw] /harimau/
[kerbaw] /kerbau/
2) Diftong /ai/, pengucapannya [ay].
Contohnya :
[santay] /santai/
[sungay] /sungai/
3) Diftong /oi/, pengucapannya [oy].
Contohnya :
[amboy] /amboi/
[asoy] /asoi/
d. Pembentukan Kluser
1) Gugus atau kluster adalah deretan konsonan
yang terdapat bersama pada satu
suku kata.
2) Gugus konsonan pertama : /p/,/b/,/t/,/k/,/g/,/s/ dan /d/.
3) Gugus konsonan kedua : /l/,/r/ dan /w/.
4) Gugus konsonan ketiga : /s/,/m/,/n/ dan /k/.
5) Gugus konsonan keduanya adalah konsonan lateral /l/,
misalnya :
a)
/pl/
[pleno] /pleno/
b)
/bl/ [blaÆžko] /blangko/
c)
Dan begitu
seterusnya hingga konsonan kedua /r/ dan /w/.
6) Jika tiga konsonan berderet, maka
konsonan pertama selalu /s/, yang kedua /t/,/p/ dan /k/ dan yang ketiga adalah
/r/ atau /l/. Contohnya :
a)
/spr/
[sprey] /sprei
b)
/skr/
[skripsi] /skripsi/
c)
/skl/
[sklerosis] /sklerosis/
D.
KAJIAN FONEMIK
Istilah
fonem dapat didefinisikan sebagai satuan bahasa terkecil yang bersifat
fungsional, artinya satuan fonem memiliki fungsi untuk membedakan makna. Fonem
juga dapat dibatasi sebagai unit bunyi yang bersifat distingtif atau unit
bunyi yang signifikan.
Dalam hal
ini perlu adanya fonemisasi yang ditujukan untuk menemukan bunyi-bunyi yang
berfungsi dalam rangka pembedaan makna tersebut. Dengan demikian fonemisasi itu
bertujuan untuk:
1.
menentukan
struktur fonemis sebuah bahasa, dan
2.
membuat
ortografi yang praktis atau ejaan sebuah bahasa.
Untuk
mengenal dan menentukan bunyi-bunyi bahasa yang bersifat fungsional atau fonem,
biasanya dilakukan melalui “ kontras pasangan minimal”. Dalam hal ini pasangan minimal ialah pasangan
bentuk-bentuk bahasa yang terkecil dan bermakna dalam sebuah bahasa (biasanya
berupa kata tunggal) yang secara ideal sama, kecuali satu bunyi berbeda.
Sekurang-kurangnya ada empat premis untuk mengenali sebuah fonem, yakni
1.
bunyi bahasa dipengaruhi
lingkungannya,
2.
bunyi bahasa itu
simetris,
3.
bunyi bahasa yang secara
fonetis mirip, harus digolongkan ke dalam kelas fonem yang berbeda, dan
4.
bunyi bahasa yang bersifat
komplementer harus dimasukkan ke dalam kelas fonem yang sama.
1.
Realisasi
Fonem
Realisasi
fonem adalah pengungkapan yang sebenarnya dari ciri atau satuan fonologis,
yakni fonem menjadi bunyi bahasa. Realisasi fonem erat kaitannya dengan
variasi fonem. Variasi fonem merupakan salah satu wujud pengungkapan dari
realisasi fonem. Secara segmental fonem bahasa Indonesia dibedakan atas vokal
dan konsonan.
2. Variasi Fonem
Variasi
fonem adalah wujud berbagai
manifestasi bersyarat maupun tak bersyarat dari fonem. Wujud variasi suatu fonem yang
ditentukan oleh lingkungannya dalam distribusi yang komplementer disebut varian
alofonis atau alofon.
E.
GEJALA FONOLOGI BAHASA INDONESIA
1. Penambahan Fonem
Penambahan fonem pada suatu kata pada umumnya
berupa penambahan bunyi vokal. Penambahan ini dilakukan untuk kelancaran
ucapan.
2. Penghilangan Fonem
Penghilangan
fonem adalah hilangnya bunyi atau fonem pada awal, tengah dan akhir sebuah kata
tanpa mengubah makna. Penghilangan ini biasanya berupa pemendekan kata.
3. Perubahan Fonem
Perubahan fonem adalah berubahnya bunyi atau fonem pada sebuah kata
agar kata menjadi terdengar dengan jelas atau untuk tujuan tertentu.
4. Kontraksi
Kontraksi
adalah gejala yang memperlihatkan adanya satu atau lebih fonem yang
dihilangkan. Kadang-kadang ada perubahan atau penggantian fonem.
5. Analogi
Analogi adalah pembentukan suatu kata baru
berdasarkan suatu contoh yang sudah ada.
BAB III
PENUTUP
A. SIMPULAN
Fonologi
adalah cabang ilmu bahasa (linguistik) yang mengkaji bunyi-bunyi bahasa, proses
terbentuknya dan perubahannya. Fonologi mengkaji bunyi bahasa secara umum dan
fungsional. Istilah fonem dapat didefinisikan sebagai satuan bahasa terkecil
yang bersifat fungsional, artinya satuan fonem memiliki fungsi untuk membedakan
makna. Variasi suatu fonem yang tidak membedakan arti dinamakan alofon.
Kajian
fonetik terbagi atas klasifikasi bunyi yang kebanyakan bunyi bahasa Indonesia
merupakan bunyi egresif. Dan yang kedua pembentukan vokal, konsonan, diftong,
dan kluster. Dalam hal kajian fonetik, perlu adanya fonemisasi yang ditujukan
untuk menemukan bunyi-bunyi yang berfungsi dalam rangka pembedaan makna
tersebut.
Gejala
fonologi Bahasa Indonesia termasuk di dalamnya yaitu penambahan fonem,
penghilangan fonem, perubahan fonem, kontraksi, dan analogi. Pada tataran kata, tekanan,
jangka, dan nada dalam bahasa Indonesia tidak membedakan makna. Namun,
pelafalan kata yang menyimpang dalam hal tekanan, dan nada kan terasa janggal.
B. SARAN
Untuk mengetahui lebih jauh dan lebih banyak bahkan lebih
lengkap mengenai pembahasan linguistik, pembaca dapat membaca dan mempelajari
buku-buku dari berbagai pengarang, karena di dalam makalah ini penulis hanya
membahas mengenai fonologi.
Di sini penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah
ini masih jauh dari sempurna, sehingga kritik dan saran yang bersifat membangun
untuk kesempurnaan penulisan makalah-makalah selanjutnya sangat diharapkan.

