Thursday, June 25, 2020

Analisis PUISI “UNTUK KORUPTOR” KARYA M. Iqbal Rifqi A. menggunakan KRITIK NEW CRITICISM DAN MERLYN

PUISI UNTUK KORUPTOR  

by: M. Iqbal Rifqi A.

Wakil rakyat…..

Janji terus mereka lontarkan

Selalu saja rakyat yang didustakan

Kata-kata indah penuh dengan omong kosong

Semua itu hanya untuk kursi mewah

Tapi…

Tapi ketika mereka mendapatkan semua

Janji yang dulu

Dianggap angin yang lewat

Uang telah menggelapkan hati

Tahta telah membutakan jiwa

Mereka hanya tikus….

Tikus yang menggrogoti negri ini

Rakyat hanyalah objek mati

Tapi Tuhan….

Takkan membiarkan makhluk munafik

terus manjadi pemenang

 

 

Analisis Kritik New Criticism dan Kritik Merlyn

 

A.    Kritik New Criticism

 

1.      Empiris : karya ini mencerminkan tentang seseorang yang telah dihiyanati pemerintah

2.     Konkret: kata yang konkret dalam karya ini terdapat dalam teks  Kata-kata indah penuh dengan omong kosong Semua itu hanya untuk kursi mewah yang memiliki makna seakan akan pemerintah itu berjanji kepada rakyat tapi tidak ditepati hanya kebohongan saja.

3.     Diksi: pemilihan kata pada naskah ini bermakna konotasi tercermin dalam teks Dianggap angin yang lewat makna dari lewat bukan angin yang lewat dari arah kita tetapi janji janjinya pemerintah tidak ditepati.

4.     Metafor: kata tikus  dalam puisi tersebut bukan bebrarti tikus yang ada di sawah namun prilaku para koruptor yang seperti tikus.

5.     Anomatopea : Uang telah menggelapkan hati, Tahta telah membutakan jiwa, Semua itu hanya untuk kursi mewah

6.     Paradoks: paradoks yang terdapat dalan teks ini tergambar dalam teks Mereka hanya tikus…. Tikus yang menggrogoti negri ini  maknanya dia mengatakan bahwa  para koruptor itu seperti tikus yang menghabiskan uang negara.

7.     Close Reading  Rakyat hanyalah objek mati Tapi Tuhan….Takkan membiarkan makhluk munafik terus manjadi pemenang Maksudnya rakyat tidak bisa apa-apa tetapi Tuhan tidak akan membiarkan orang munafik selalu menang Tuhan itu maha adil.

 

B.    Kritik Merlyn

Karya ini menggambarkan seorang menyampaikan  perasaan kecewa kepada pemerintah yang koruptor, lewat puisinya menyampaiakn mereka sama saja tikus yang menghabiskan uang negara saja tetapi tidak selamanya para koruptor menang ada Tuhan yang maha adil.