Thursday, June 25, 2020

Penerapan Kritik New Criticism dan Merlyn dalam Puisi “Di Rumah Sakit” Karya Moh. Wan Anwar


Penerapan Kritik New Criticism dan Merlyn dalam Puisi “Di Rumah Sakit” Karya Moh. Wan Anwar

Oleh : Ririn Sabriadi


apa yang kita dapatkan di kamar ini

dari ranjang yang selalu mengajak kita beratahan?

Hanya penyerahan pada waktu dan kenyataan

Sebab di sini cahaya mengabur di luar kita

Dan kata-kata terasa menjadi fana

 

apa yang kita harapkan dari tubuh

yang lemah ini? Selain terus merangkaki

rencana-rencana yang telah terjadwal rapi

 dan kita hanyut dalam sungai keringat

 lalu terjaga sewaktu telaga hati mulai kering

 ya, apa yang mesti kita perbuat dalam jaga

 yang sekejap ini? Ah, kita masih punya doa

 sewaktu sakit melambai penuh rahasia

 

Bandung, 1993

 

A.    Kritik New Criticism

 

1.     Close Reading : Kegelisahan, kesakitan, dan berbagai perasaan yang berkecamuk mengenai prosesi kematian tergambar dalam sajak Moh. Wan Anwar. Sebuah sajak berjudul “Di Rumah Sakit”: apa yang kita harapkan dari tubuh/ yang lemah ini? Selain terus merangkaki/ rencana-rencana yang telah terjadwal rapi/ dan kita hanyut dalam sungai keringat/ lalu terjaga sewaktu telaga hati mulai kering// ya, apa yang mesti kita perbuat dalam jaga/ yang sekejap ini? Ah, kita masih punya doa/ sewaktu sakit melambai penuh rahasia//, cukup untuk menggambarkan rasa sakit dan kegelisahan seorang penyair menghadapi atau berpikir tentang kematian. Seolah kematian menjadi hal yang menyakitkan juga memberi ketentraman tersendiri dalam batin penyair. Kematian yang sebenarnya akan datang dan telah terjadwal dengan rapi oleh Tuhan. Kita hanya perlu berbuat yang terbaik, sebelum kematian itu datang.

2.     Empiris: karya ini mencerminkan tentang kehidupan yang tak abadi, keabadian hanya milik dia yang menciptakan keabadian itu sendiri.

3.     Konkret: kata yang konkret dalam karya ini terdapat dalam teks apa yang kita harapkan dari tubuh yang lemah ini? Selain terus merangkaki rencana-rencana yang telah terjadwal rapi yang memiliki makna bahwa kematian adalah sesuatu yang sudah menjadi ketetapan.

4.     Diksi: pemilihan kata pada naskah ini bermakna konotasi tercermin dalam teks dan kita hanyut dalam sungai keringat teks ini bermakna bukan berarti kita hanyut dalam sungai keringat tetapi kegelisahan yang membuat kita susah bernafas disaat ajal menjelang

5.     Metafor: kata hanyut dalam puisi tersebut bukan bebrarti hanyut dalam sebuah kecelakan atau musibah dalam sebuah sungai tetapi bebrarti sebuah kegelisahan yang dirasakan manusia ketika menuju alam keabadian

6.     Anomatopea: dan kata-kata terasa menjadi fana

7.     Paradoks: paradoks yang terdapat dalan teks ini tergambar dalam teks apa yang kita harapkan dari tubuh yang lemah ini? Selain terus merangkaki rencana-rencana yang telah terjadwal rapi. Bermakna seakan-akan tak akan ada usaha lagi untuk menghindari kematian walau di dalam keinginannya sangat berharap kematian tak akan datang.

8.     Ironi Verbal : Ah, kita masih punya doa sewaktu sakit melambai penuh rahasia. Makna ini seolah-olah dia masih bisa melakukan sesuatu untuk mencegahnya walau dia tahu kematian akan segera menjemputnya

9.     Ironi Situasi: apa yang kita harapkan dari tubuh yang lemah ini? Selain terus merangkaki rencana-rencana yang telah terjadwal rapi . Tercermin dalam teks di atas karena ini adalah pertengkaran batin antara harapan dan ketetapan.

 

B.    Kritik Merlyn

Karya ini menggambarkan rasa sakit dan kegelisahan seseorang menghadapi atau berpikir tentang kematian. Seolah kematian menjadi hal yang menyakitkan juga memberi ketentraman tersendiri dalam batin. Kematian yang sebenarnya akan datang dan telah terjadwal dengan rapi oleh Tuhan. Kita hanya perlu berbuat yang terbaik, sebelum kematian itu datang. Karya ini juga menggambarkan pertentangan batin antara harapan dan ketetapan Tuhan.