Penerapan Kritik New Criticism dan Merlyn dalam Puisi “Di Rumah Sakit” Karya Moh. Wan Anwar
Oleh : Ririn Sabriadi
apa yang kita dapatkan di kamar ini
dari ranjang yang selalu mengajak kita beratahan?
Hanya penyerahan pada waktu dan kenyataan
Sebab di sini cahaya mengabur di luar kita
Dan kata-kata terasa menjadi fana
apa yang kita harapkan dari tubuh
yang lemah ini? Selain terus merangkaki
rencana-rencana yang telah terjadwal rapi
dan kita hanyut dalam sungai keringat
lalu terjaga sewaktu telaga hati mulai kering
ya, apa yang mesti kita perbuat dalam jaga
yang sekejap ini? Ah, kita masih punya doa
sewaktu sakit melambai penuh rahasia
Bandung, 1993
A. Kritik New Criticism
1. Close Reading : Kegelisahan, kesakitan, dan berbagai perasaan yang berkecamuk mengenai prosesi kematian tergambar dalam sajak Moh. Wan Anwar. Sebuah sajak berjudul “Di Rumah Sakit”: apa yang kita harapkan dari tubuh/ yang lemah ini? Selain terus merangkaki/ rencana-rencana yang telah terjadwal rapi/ dan kita hanyut dalam sungai keringat/ lalu terjaga sewaktu telaga hati mulai kering// ya, apa yang mesti kita perbuat dalam jaga/ yang sekejap ini? Ah, kita masih punya doa/ sewaktu sakit melambai penuh rahasia//, cukup untuk menggambarkan rasa sakit dan kegelisahan seorang penyair menghadapi atau berpikir tentang kematian. Seolah kematian menjadi hal yang menyakitkan juga memberi ketentraman tersendiri dalam batin penyair. Kematian yang sebenarnya akan datang dan telah terjadwal dengan rapi oleh Tuhan. Kita hanya perlu berbuat yang terbaik, sebelum kematian itu datang.
2. Empiris: karya ini mencerminkan tentang kehidupan yang tak abadi, keabadian hanya milik dia yang menciptakan keabadian itu sendiri.
3. Konkret: kata yang konkret dalam karya ini terdapat dalam teks apa yang kita harapkan dari tubuh yang lemah ini? Selain terus merangkaki rencana-rencana yang telah terjadwal rapi yang memiliki makna bahwa kematian adalah sesuatu yang sudah menjadi ketetapan.
4. Diksi: pemilihan kata pada naskah ini bermakna konotasi tercermin dalam teks dan kita hanyut dalam sungai keringat teks ini bermakna bukan berarti kita hanyut dalam sungai keringat tetapi kegelisahan yang membuat kita susah bernafas disaat ajal menjelang
5. Metafor: kata hanyut dalam puisi tersebut bukan bebrarti hanyut dalam sebuah kecelakan atau musibah dalam sebuah sungai tetapi bebrarti sebuah kegelisahan yang dirasakan manusia ketika menuju alam keabadian
6. Anomatopea: dan kata-kata terasa menjadi fana
7. Paradoks: paradoks yang terdapat dalan teks ini tergambar dalam teks apa yang kita harapkan dari tubuh yang lemah ini? Selain terus merangkaki rencana-rencana yang telah terjadwal rapi. Bermakna seakan-akan tak akan ada usaha lagi untuk menghindari kematian walau di dalam keinginannya sangat berharap kematian tak akan datang.
8. Ironi Verbal : Ah, kita masih punya doa sewaktu sakit melambai penuh rahasia. Makna ini seolah-olah dia masih bisa melakukan sesuatu untuk mencegahnya walau dia tahu kematian akan segera menjemputnya
9. Ironi Situasi: apa yang kita harapkan dari tubuh yang lemah ini? Selain terus merangkaki rencana-rencana yang telah terjadwal rapi . Tercermin dalam teks di atas karena ini adalah pertengkaran batin antara harapan dan ketetapan.
B. Kritik Merlyn
Karya ini menggambarkan rasa sakit dan kegelisahan seseorang menghadapi atau berpikir tentang kematian. Seolah kematian menjadi hal yang menyakitkan juga memberi ketentraman tersendiri dalam batin. Kematian yang sebenarnya akan datang dan telah terjadwal dengan rapi oleh Tuhan. Kita hanya perlu berbuat yang terbaik, sebelum kematian itu datang. Karya ini juga menggambarkan pertentangan batin antara harapan dan ketetapan Tuhan.
