BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pragmatik merupakan subdisiplin dari ilmu linguistik yang tumbuh dan berkembang. Pragmatik yaitu ilmu bahasa yang mempelajari kondisi penggunaan bahasa manusia yang pada dasarnya sangat ditentukan oleh konteks yang melatarbelakangi bahasa itu. Menurut Thomas pragmatik mempunyai hubungan dengan sosiolinguistik, pragmatik menompang sosiolinguistik yang memanfaatkan deskripsi sosiolinguistik dan menjelaskan pada interaksi tertentu penutur memilih khazanah linguistiknya suatu bentuk bahasa.
Menurut Rustono (1999:53) penutur yang tidak memberikan kontribusi terhadap koherensi percakapan sama dengan tidak mengikuti prinsip kerja sama.
Istilah komunikasi dalam bahasa inggris disebut communication, yang berasal dari kata communication atau communis yang memiliki arti sama atau sama yang memiliki makna pengertian bersama. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita dari dua orang atau lebih agar pesan yang dimaksud dapat dipahami. Sala satunya komunikasi dalam pada acara akad nikah dan lamaran. Maka dalam penelitian ini akan di fokuskan pada penggunaan maksim pada rana lamaran dan akad nikah.
B. Fokus Penelitian
Berdasarkan latar belakang di atas maka penelitian ini difokuskan pada rana sebagai berikut:
1. Prinsi kerjasama komunikasi komedian.
2. Penggunaan maksim sesuai teori lecch pada percakapan antar pelawak.
3. Kesantunan dan tingkat kesantunan pelawak
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan fokus penelitian di atas maka tujuan penelitian adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui prinsi kerjasama komunikasi lamaran dan akad nikah.
2. Untuk mengetahui penggunaan maksim sesuai teori lecch pada acara lamaran dan akad nikah.
3. Untuk mengetahui kesantunan dan tingkat kesantunan pada acara lamaran dan akad nikah.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian Komunikasi
Komunikasi Secara Umum adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan atau informasi antara dua individu atau lebih dengan efektif sehingga dapat dipahami dengan mudah. Istilah komunikasi dalam bahasa inggris disebut communication, yang berasal dari kata communication atau communis yang memiliki arti sama atau sama yang memiliki makna pengertian bersama. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita dari dua orang atau lebih agar pesan yang dimaksud dapat dipahami.
Pengertian Komunikasi menurut definisi James A.F.Stoner adalah proses dimana seseorang berusaha memberikan pengertian dengan cara pemindahan pesan. Sedangkan menurut definisi Prof. Drs. H.A.W. Widjaya yang mengatakan bahwa pengertian komunikasi adalah hubungan kontak antar dan antara manusia baik individu maupun kelompok. Menurut definisi William F.Glueck yang menjelaskan bahwa komunikasi dapat dibagi menjadi dengan dua bentuk. yaitu sebagai berikut
· Interpersonal Communications : Interpersonal communications (komunikasi antarpribadi adalah proses pertukaran informasi serta pemindahan pengertian antara dua orang atau lebih di dalam suatu kelompok kecil manusia.
· Organization Communications : Organization communications adalah proses dimana pembicara secara sistematis memberikan informasi dan memindahkan pengertian kepada orang yang banyak dalam organisasi dan kepada pribadi-pribadi dan lembaga-lembaga di luar yang ada hubungan.
Secara umum, tujuan komunikasi adalah sebagai berikut...
· Supaya yang disampaikan komunikator dapat dimengerti oleh komunikan. Agar dapat dimengerti oleh komunikan maka komunikator perlu menjelaskan pesan utama dengan sejelas-jelasnya dan sedetail mungkin.
· Agar dapat memahami orang lain. Dengan melakukan komunikasi, setiap individu dapat memahami individu yang lain dengan kemampuan mendengar apa yang dibicarakan orang lain.
· Agar pendapat kita diterima orang lain. Komunikasi dan pendekatan persuasif merupakan cara agar gagasan kita diterima oleh orang lain.
· Menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu. Komunikasi dan pendekatan persuasif kita mampu membangun persamaan presepsi dengan orang kemudian menggerakkannya sesuai keinginan kita.
·
C. Teori Prinsip Kesantunan Geoffrey Leech
Dalam prinsip kesantunan Leech erdiri dari enam maksim yaitu:
1. Maksim Kearifan (Tact Maxim)
Buatlah kerugian orang lain sekecil mungkin.
Buatlah keuntungan orang lain sebesar mungkin.
Maksud dari maksim diatas yaitu selalu mengurangi keuntungan dirinya sendiri dan memaksimalkan keuntungan pihak lain dalam kegiatan bertutur. Contohnya:
Ibu : “Ayo dimakan bakminya! Di dalam masih banyak, kok.”
Rekan Ibu : “ Wah, segar sekali. Siapa yang memasak ini, Bu?”
Informasi Indeksal:
Dituturkan oleh seorang ibu kepada teman dekatnya pada saat ia berkunjung ke rumahnya.Tuturan yang disampaikan dengan maksud agar sang tamu merasa bebas dan dengan senang hati menikmati hidangan yang disajikan tanpa ada perasaan tidak enak sekalipun.
2. Maksim Kedermawanan (Generosity Maxim)
Buatlah keuntungan diri sendiri sekecil mungkin.
Buatlah kerugian diri sendiri sebesar mungkin.
Maksud dari maksim diatas yaitu agar peserta tutur dapat menghormati orang lain. Contohnya:
Kakak : “Dik, Indosiar filmnya bagus loh, sekarang!”
Adik : “Sebentar, Mas. Saya hidupkan dulu saluran listriknya”
Informasi Indeksal:
Dituturkan oleh seorang kakak kepada adiknya pada sebuah keluarga, mereka sedang berbincang tentang acara tertentu pada sebuah saluran televisi swasta.Tuturan yang disampaikan yaitu si adik menghormati kakaknya dengan langsung menyalakan saluran listrik.
3. Maksim Pujian (Approbation Maxim)
Kecamlah orang lain sesedikit mungkin.
Pujilah orang lain sebanyak mungkin.
Maksud dari maksim diatas adalah agar para peserta pertuturan tidak saling mengejek, saling mencaci, atau saling merendahkan pihak yang lain. Contohnya, tuturan Andi saat mendengar Susi yang dapat berbahasa Jepang dan Inggris.
“Susi memang tak hanya pandai berbahasa Inggris tetapi juga pandai berbahasa Jepang.”Dari tuturan diatas sangat jelas bahwa Andi memberikan pujian kepada Susi yang dapat berbahasa Inggris dan berbahasa Jepang.
4. Maksim Kerendahan Hati (Modesty Maxim)
Pujilah diri sendiri sesedikit mungkin.
Kecamlah diri sendiri sebanyak mungkin.
Maksud dari maksim diatas yaitu agar para peserta pertuturan dapat bersikap rendah hati dengan cara mengurangi pujian terhadap dirinya sendiri. Contohnya:
“Kapan-kapan main Pak ke rumah saya, tetapi rumah saya jelak seperti gubuk”
Dari tuturan diatas dijelaskan bahwa dia mempunyai rumah yang dengan kesederhanaan dan kerendahan hati banyak digunakan sebagai parameter penilaian kesantunan seseorang.
5. Maksim Kesepakatan (Agreement Maxim)
Usahakan ketaksepakatan antara diri dan lain terjadi sedikit mungkin.
Usahakan kesepakatan antara diri dan lain terjadi sebanyak mungkin.
Maksud dari maksim diatas yaitu agar para peserta tutur dapat saling membina kecocokan atau kesepakatan di dalam kegiatan bertutur. Contohnya:
Hani : “Nanti malam kita makan bersama ya, Tar!”
Tary : “Boleh. Saya tunggu di Bambu Resto ya.”
Dari tuturan diatas bahwa antara Hani dan Tary terjadi kesepakatan untuk makan bersama nanti malam.
6. Maksim Simpati (Sympathy Maxim)
Kurangilah rasa antipati antara diri dengan lain sekecil mungkin.
Tingkatkan rasa simpati sebanyak-banyaknya antara diri dan lain.
Maksud dari maksim diatas yaitu agar para peserta tutur dapat memaksimalkan sikap simpati antara pihak yang satu dengan pihak lainnya. Contohnya:
Ani : “Sus, nenekku meninggal.”
Susi : “Innalillahiwainnailaihi rojiun. Ikut berduka cita.”
Dari tuturan merupakan ucapan simpati dari penutur kepada salah satu temannya yang gagal ujian.
7. Maksim Pertimbangan (Consideration Maxim)
Minimalkan rasa tidak senang penutur.
Maksimalkan rasa senang penutur.
Maksud dari maksim diatas yaitu untuk mempertimbangkan perasaan penutur, jangan sampai ia merasa lebih tidak senang dalam suasana yang tidak menyenangkan.
“Selamat atas kemenangan Anda pada lomba yang diikuti oleh artis-artis yang hebat-hebat itu.”
Tuturan diatas terdengar lebih santun dari pada hanya “Selamat atas kemenangan anda”.
D. Teori Kesantunan
Kata kesantunan dapat diartikan secara berbeda-beda tergantung pada persepsi dari penerjemah itu sendiri. Misalnya, dalam kamus besar bahasa Indonesia kata kesantunan yang memiliki kata dasar santun artinya adalah halus dan baik (budi bahasanya, tingkah lakunya); sabar dan tenang; sopan. kesantunan merupakan hubungan antara pembicara dan pendengar saat berkomunikasi. Kesantunana seseorang dinilai dari tata cara bicara, gesture tubuh dan tutur berucap seseorang tersebut. hal ini juga berkaitan dengan aturan perilaku dan etika seseorang dalam berkomunikasi sehari-hari dan harus dipatuhi karena telah menjadi suatu aturan yang disepakati oleh masyarakat. Kesantunan seseorang akan dihargai apabila ia dapat menempatkan bahasa lisan dan bahasa tubuhnya dengan baik.
Teori kesantunan berbahasa menurut Brown dan Levinson berkisaran atas notasi muka (face) dibagi menjadi dua yaitu muka negatif dan muka positif.[3] Teknik dasar seorang penutur yaitu menghitung derajat keterancaman sebuah tindak ujaran dalam berkomunikasi banyak ditentukan oleh umur, latar belakang sosial, jenis kelamin ataupun jarak sosial yang ditimbulkan oleh lingkungan sekitar.
Menurut Leech kesantunan yaitu menyangkut hubungan antara peserta komunikasi, yaitu penutur dan pendengar. Maka penutur menggunakan kalimat dalam tuturannya dengan santun tanpa harus menyinggung pendengar. Leech mengusulkan untuk melengkapi prinsip koperasi Grice dengan prinsip kesopanan. Prinsip kesopanan setidaknya terdiri dari enam maksim, seperti bidal kebijaksanaan, bidal penerimaan, bidal kemurahan, bidal kerendahan hati, bidal kecocokan, bidal kesimpatian, dan yang diungkapkan oleh Gunawan terdapat satu bidal lagi yaitu bidal pertimbangan.
E. Pengertian akad nikah
Pengertian akad nikah dalam islam dengan cara simpel dapat dipahami juga sebagai sistem simbolis tetapi bernilai sakral. Proses akad nikah mengisyaratkan sudah dipertemukannya antara sepasang manusia, lelaki serta wanita. Pertemuan itu diikat oleh ketentuan Allah. Ada standard mekanisme resmi yang sudah digariskan oleh Allah.
Menurut Undang-Undang Nomer 1 Th. 1974, pengertian pernikahan yaitu ikatan lahir batin pada seseorang pria dengan seseorang wanita juga sebagai suami isteri, dengan maksud membuat keluarga (rumah tangga) yang bahagia serta abadi berdasar pada Ketuhanan Yang Maha Esa. Simbolisasi itu yaitu ijab serta qabul. Ijab yaitu pernyataan kehendak, sedang qobul yaitu pernyataan ke 2 yang dinnyatakan untuk menyebutkan keridhohan serta kesepakatan. Inilah makana akad nikah. Simbolisasi ijab serta qobul mensyaratkan ada saksi serta wali. Tanpa ada saksi serta wali, akad tak sah. Lewat sistem simbolis tersebut yang membedakan pada hewan dengan manusia.
B. pengertian lamaran
Lamaran adalah tahapan pertama yang harus dilalui dalam suatu pernikahan yang umumnya dilakukan oleh kaum pria untuk menyampaikan niat dan kesungguhannya untuk menikah serta meminta restu dan persetujuan dari orang tua wanita yang akan dinikahi.
Disini
saya membagi dalam 3 kategori lamaran:
1.
Lamaran Informal
Dalam hal ini calon mempelai pria datang ke rumah orang tua calon mempelai wanita sendiri dan menyatakan keseriusan, kesiapan ( ekonomi ), niat dan tekad yang tulus untuk menikahi calon mempelai wanita dengan kesungguhan cinta dan agama. Disini Calon mempelai Pria kemudian membicarakan dan meminta konfirmasi waktu (jam, hari dan tanggal) kepada orang tua calon mempelai wanita untuk melaksanakan Lamaran Semi Formal selanjutnya.
2. Lamaran Semi Formal
( Tembungan )
Menggelar acara ini Calon mempelai Pria datang ( sesuai konfirmasi waktu yang telah ditentukan sebelumnya ) dengan didampingi oleh kedua orang tua, kerabat dan saudara-saudara ( dalam hal ini, bisa hanya saudara / kakak laki laki/ orang yang dituakan dalam adat jika kedua orang tua sudah meninggal). Kemudian Orangtua dari Calon mempelai Pria menanyakan apakah putri tersebut ( Calon Mempelai Wanita) belum mempunyai/ tidak mempunyai suami untuk dijadikan istri dan menantunya kepada Orangtua Calon mempelai Wanita. Setelah mendapat jawaban dari Orang tua Calon mempelai wanita bahwa Putri tersebut belum/tidak mempunyai suami kemudian ditentukan waktu ( jam, hari dan tanggal ) Pernikahan. Biasanya Waktu pernikahan ( Hari Pernikahan ) dihitung dan ditentukan selanjutnya, supaya tidak terjadi salah paham antara kedua belah pihak. Adapula, penentuan Hari Pernikahan digelar lagi Acara Balasan Lamaran yaitu Orangtua mempelai Wanita datang bersilaturahmi ke rumah Orangtua Pria bersama kerabat dan saudara-saudaranya untuk memberitahukan jawaban dan tanggal pernikahan. Dalam menggelar acara - acara tersebut biasanya ada perjamuan makan ( kalo jaman dulu tidak ada makan besar , hanya makanan kecil sebagai camilan karena lamaran belum tentu diterima). Ada juga Lamaran semi Formal ini diadakan Tukar Cincin (Tunangan), yang berarti pengikatan hubungan antara kedua Calon mempelai sebelum melaksanakan Prosesi Pernikahan supaya tidak ada Pria lain yang datang melamar. Acara Lamaran dan Acara Balasan Lamaran biasanya membawa oleh-oleh berupa ; beras ketan / lemper / wajik / jenang sebagai simbol/lambang yang harapannya agar kedua Pihak lengket, lauk pauk, gula , teh, kopi. Ada juga sekarang yang bawa oleh-oleh roti dan juga buah-buahan. Dalam Acara lamaran ini biasanya tidak diikuti oleh orang banyak, hanya keluarga inti dan kerabat dekat saja.
3.
Lamaran Formal ( Peningsetan )
Setelah terjadi kesepakatan Hari Pernikahan, digelar acara Lamaran Formal yang diadakan malam menjelang pernikahan ( Ijab qobul ) atau beberapa saat sebelum acara pernikahan ( Ijab Qobul ) dimulai. Dalam menggelar acara Lamaran ini biasanya disaksikan oleh orang tua, aparat desa setempat, kerabat, saudara-saudara dan tetangga dari kedua belah pihak. Prosesi Lamaran Formal ini dari Pihak Calon Mempelai Pria membawa barang bawaan yang biasa kita sebut hantaran atau seserahan sebagai tanda keseriusan untuk membina rumah tangga kepada Pihak Calon Mempelai Wanita. Hantaran atau seserahan atau Peningset (Jawa ) adalah sejumlah barang kebutuhan Mempelai Wanita ( atau apa yang diminta Mempelai Wanita ) yang menunjukan kemampuan Pria untuk membahagiakan Calon mempelai wanita dan bisa juga sebagai paket syarat pernikahan . Masing-masing barang hantaran merupakan simbol, dan ada makna / arti tersendiri menurut adat istiadat masing - masing daerah. Jumlah barang Hantaran tidak ditentukan tergantung kemampuan Pria. Kemasan barang-barang hantaran sangat beragam yang penting rapi, bagus dan menarik, bahkan ada pula yang unik. Dalam hantaran ini jika ada Pelangkah (Sesuatu atau barang yang diminta oleh kakak calon mempelai wanita/pria yang belum menikah ) harus dibawa serta, sebagai simbol / lambang menghormati kakak, mendahului kakak, dan kakak tersebut menyetujui.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif. Artinya, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara akurat dan sistematis sesuai dengan fakta-fakta kebahasaan yang ada.
penelitian ini dikatakan deskriptif kualitatif karena menggunakan prosedur yang menghasilkan data deskriptif berupa data tertulis kemudian berusaha mendeskripsikan kerja sama komunikasi melalui teori lecch serta tingkat kesantunan komunikasi antar pelawak sesuai dengan apa adanya.
B. Data dan Sumber data
Data adalah kumpulan informasi dari suatu pengamatan, oleh karena itu, data penelitian ini adalah data penggunaan bahasa dalam acara lamaran dan akad nikah.
Sumber data adalah subjek yang menjadi asal atau tempat data itu diperoleh (film uang panai)
C. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah teknik dokumentasi. Hal ini berarti bahwa data yang diperoleh bersumber dari youtube percakapan para Selain itu, digunakan pula teknik menyimak dan teknik. Teknik menyimak digunakan untuk mendengarkan dan memahami sejumlah penggunaan bahasa yang terdapat dalam video tersebut.
D. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan prosedur mengamati penggunaan bahasa yang terhadap para pelawak atau komedian, kemudian menyimpulkannya.
BAB IV
PEMBAHASAN
A. Hasil penelitian
Berdasarkan hasil penelitian penggunaan maksim berdasarkan Teori Prinsip Kesantunan Geoffrey Leech pada rana lamaran dan akad nikah adalah sebagai berikut.
1. Maksim Pujian (Approbation Maxim)
Kecamlah orang lain sesedikit mungkin.
Pujilah orang lain sebanyak mungkin.
Maksud dari maksim diatas adalah agar para peserta pertuturan tidak saling mengejek, saling mencaci, atau saling merendahkan pihak yang lain. Contohnya, “Niganaro maelo ri bungata bungah tangmadaungge, tangmattake”
(siapa yang menginginkan bunga kami, bunga tanpa dau bunga tanpa tangkai)
“taroni tammakdaun taroni tammaktakke”
(biarpun tanpa daun meski tak bertangkai)
2. Maksim Kerendahan Hati (Modesty Maxim)
Pujilah diri sendiri sesedikit mungkin.
Kecamlah diri sendiri sebanyak mungkin.
Maksud dari maksim diatas yaitu agar para peserta pertuturan dapat bersikap rendah hati dengan cara mengurangi pujian terhadap dirinya sendiri. Contohnya
“Niganaro maelo ri bungata bungah tangmadaungge, tangmattake”
(siapa yang menginginkan bunga kami, bunga tanpa dau bunga tanpa tangkai)
Ini termasuk maksim kerendahan hati diungkapkan dengan kalimat ekspresif dan asertif.Maksim kerendahan hati berpusat pada diri sendiri. Maksim kerendahan hati menuntut setiap peserta pertuturan untuk memaksimalkan ketidakhormatan pada diri sendiri dan meminimalkan rasa hormat pada diri sendiri.
3. Maksim Kesepakatan (Agreement Maxim)
Usahakan ketaksepakatan antara diri dan lain terjadi sedikit mungkin.
Usahakan kesepakatan antara diri dan lain terjadi sebanyak mungkin.
Maksud dari maksim diatas yaitu agar para peserta tutur dapat saling membina kecocokan atau kesepakatan di dalam kegiatan bertutur. Contohnya pada acara lamaran flm uang panai:
Keluarganya anca : iyaro akkatta ko angka manang laori bolata iyanaritu akkatta madeceng?
(ada pun maksut kedatangan kami kesini, yaitu maksut yang baik)
Keluarga risna : iya kutarimai madeceng akkattata?
(iya, kami menerima dengan baik maksut kedatangan anda)
Ini termasuk maksim kecocokan mengariskan setiap penutur dan lawan tutur untuk memaksimalkan kecocokan di antara mereka dan meminimalkan tidakcocokan di antara mereka.
B. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian diatas bahwa Maksim-maksim tersebut menganjurkan agar kita mengungkapkan keyakinan-keyakinan dengan sopan dan menghindari ujaran yang tidak sopan. Maksim-maksim ini dimasukkan ke dalam kategori prinsip kesopanan.
Prinsip-pinsip tersebut, terdapat empat maksim yang melibatkan skala-skala berkutub dua, yakni skala untung-rugi dan skala puji-kecaman. Keempat maksim tersebut adalah maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan, maksim penghargaan, dan maksim kesederhanaan. Sedangkan dua maksim lainya (maksim mufakat dan maksim simpatisan) melibatkan skala-skala yang hanya satu kutubnya, yaitu skala kesepakatan dan skala simpati. Walaupun antara skala yang satu dengan yang lain ada kaitannya, setiap maksim berbeda dengan jelas, karena setiap maksim mengacu pada sebuah skala penilaian yang berbeda dengan skala penilaian maksim-maksim lainnya.
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Pragmatik merupakan subdisiplin dari ilmu linguistik yang berarti ilmu bahasa yang mempelajari kondisi penggunaan bahasa manusia yang pada dasarnya sangat ditentukan oleh konteks yang melatarbelakangi bahasa itu.
Dari penelitian tersebut dapat kita ketahui bahwa antara prinsip kerja sama dengan prinsip kesopanan selalu tidak sejalan. Hal tersebut sesuai dengan keterangan Leech yang menyatakan bahwa kalau kita ingin sopan kita sering dihadapkan pada benturan antara prinsip kerja sama dengan prinsip kesopanan sehingga kita harus memutuskan sejauh mana kita akan tawar-menawar antara prinsip kerja sama dengan prinsip kesopanan.
B. Saran
|
|
|
|
Asim Gunawan.2007.Pragmatik Teori dan Kajian Nusantara. Jakarta: Atma Jaya
Cutting, Joan. 2002. Pragmatics and Discourse: A Resource Book for Students. New York: Routledge
Departemen Pendidikan Nasional.2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia Jakarta: Balai Pustaka.
Leech, Geoffrey. 1991. Principle of Pragmatics. London: Longman
-------------- 1993. Prinsip-prinsip pragmatik. Jakarta: Universitas Indonesia.
K.M Jaszczolt.2006.Semantics and Pragmatics. London: Person Education.
Rahardi, Kunjana. 2005. Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. Jakarta: Penerbit Erlangga
Wijana, I Dewa Putu. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Penerbit Andi
Yule, George. 1996. Pragmatics. Oxford: Oxford University Press
|
17 |