![]()
BAB
I
PENDAHULUAN
Dalam kehidupan masyarakat diperlukan sarana komunikasi yang efektif. Sarana komunikasi yang paling vital adalah bahasa. Bahasa merupakan sarana untuk mengungkapkan pikiran, gagasan, dan perasaan seseorang kepada orang lain. Efektif tidaknya suatu komunikasi bergantung pada kemampuan atau kompetensi pemakai bahasa yang bersangkutan. Jika kompetensi itu sudah dimiliki pemakai bahasa, komunikasi yang berlangsung akan efektif. Hal ini mengandung pengertian bahwa pengaruh bahasa dalam interaksi sosial itu sangat penting.
Pemakai bahasa seyogiyanya memakai bahasa yang berlaku dalam masyarakat yang dapat memikat anggota masyarakat. Pemakai bahasa menjadi masyarakat yang kuat bersatu untuk maju dan bahasa merupakan salah satu tanda yang adanya kehidupan baru bagi manusia, seperti halnya peraturan, kebiasaan, dan kesepakatan lain yang ada dalam kehidupan manusia dan masyarakat (Kartomihardjo, 1988 : 21).
Untuk
mencapai tujuan komunikasi yang efektif, masyarakat tutur harus menguasai
kompetensi komunikasi. Kompetensi komunikasi harus melibatkan pengetahuan atau
konteks pembicaraan
yang tidak hanya memakai kode bahasa, tetapi
juga tentang apa yang akan dikatakan, siapa dan kepada siapa bertutur,di
mana, pada waktu bagaimana, dalam peristiwa apa, apa tujuan percakapan itu,
dalam konteks budaya dan psikologis apa, dan bagaimana mengatakannya secara
benar dalam situasi tertentu? Di samping
itu, dalam peristiwa komunikasi, dilibatkan beberapa unsur penting, di antaranya penutur
dan lawan tutur. Penutur dan lawan tutur ini mencakup penulis dan pembaca bila
tuturan yang
bersangkutan dikomunikasikan melalui tulisan. Aspek-aspek yang berkaitan dengan
penutur dan lawan tutur ini, yaitu usia, latar belakang sosial ekonomi,jenis
kelamin, dan tingkat kekerabatan (Leech, 1993 : 161). Seseorang yang bertindak sebagai penutur peristiwa
tutur, namun di pihak lain ia dapat bertindak sebagai lawan tutur.
Peristiwa komunikasi tidak hanya ditentukan oleh faktor linguistik, seperti juga faktor nonlinguistik, seperti faktor sosial dan faktor situsional. Faktor sosial di antaranya, meliputi status sosial, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi, usia, dan jenis kelamin. Faktor situsional mencakup, siapa pemicara, kepada siapa, bagaimana peristiwa komunikasi itu dilakukan. Hal ini memengaruhi cara pandang penutur dalam pilihan ragam bahasa untuk berkomunikasi dengan lawan tuturnya atau mitra tuturnya.
Di samping itu, berbicara peristiwa komunikasi juga tidak terlepas dari kompetensi yang berhubungan dengan pengetahuan sosial dan budaya yang dimiliki penutur untuk membantu mereka memahami dan mnginterpretasikan bentuk-bentuk linguistik. Peristiwa komunikasi antara pembicara (penutur) dan pendengar (petutur) mempunyai fungsi, mengandung maksud, dan tujuan tertentu. Komunikasi merupakan serangkaian tindak tutur yang digunakan secara bersistem untuk menyelesaikan tujuan tertentu atau berbagai tujuan (keperluan) antara penutur dan petutur. Isi komunikasi yang disampaikan melalui kata-kata seringkali tidak seluruhnya terkomunikasi karena (1) pengiriman pesan biasanya menggunakan kata-kata dalam bentuk tindak tutur tidak langsung literal (indirect literal speech act), yaitu tindak tutur yang diungkapkan dalam modus kalimat yang tidak sesuai dengan maksud pengutaraannya, tetapi tidak dengan kata-kata yang menyusunnya sesuai dengan apa yang dimaksud penutur dan (2) pengirim pesan biasanya menggunakan tindak tutur yang diutarakan dengan modus kalimat dan makna kalimat yang tidak sesuai dengan maksud yang diutarakan.
Demikian pula halnya dengan interaksi yang berlangsung (komunikasi) dalam ranah religius, sebagai bangian kecil dari masyarakat penutur bahasa tidak terlepas dari kegiatan komunikasi. Interaksi tersebut menuntut kerjasama dan kesantunan dalam komunikasi untuk mewujudkan komunikasi yang efektif. Komunikasi yang efektif dalam renah religius diharapkan mampu memberikan pemahaman yang baik bagi lawan tutur.
BAB
II
KAJIAN TEORI
A. Prinsip Kerja Sama
Percakapan merupakan interaksi verbal antara dua partisipan atau lebih. Percakapan dalam hal ini lebih dari sekedar pertukaran informasi.Dalam hal ini, mereka akan berbagi prinsip-prinsip umum yang memudahkan mereka untuk saling menginterpretasikan tuturan.
Di dalam berkomunikasi seorang penutur mengkomunikasikan sesuatu kepada petutur dengan harapan agar petutur itu dapat memahami apa yang dikomunikasikannya. Tidaklah mungkin akan terjadi komunikasi antara penutur dan petutur apabila antara keduanya tidak terjadi komunikasi. Oleh karena itu, seorang penutur harus selalu berusaha agar pembicaraannya itu relevan dengan konteks, jelas, mudah dipahami, padat dan ringkas, serta terfokus pada persoalan, sehingga tidak menghabiskan waktu. Dengan kata lain, antara penutur dan petutur terdapat prinsip kerja sama yang harus mereka lakukan agar proses komunikasi dapat berjalan dengan lancar.
Kerja sama dapat diartikan sebagai keterlibatan partisipan dalam membentuk suatu percakapan lengkap dengan unsur-unsur yang diperlukan. Fungsi kerja sama adalah membentuk peristiwa tutur (Syamsuddin, et al., 1998: 94). Grice (dalam Arifin dan Rani, 2000:1149) mengemukakan mengenai prinsip kerja sama: Make your contribution such as is required at the stage at which it accours, by the accepted purpose or direction of the talk exchange in wich you are engaged. “Berikanlah sumbangan Anda pada percakapan sebagaimana diperlukan, pada tahap terjadinya, oleh tujuan yang diterima atau arah pertukaran pembicaraan yang Anda terlibat di dalamnya.”
Pada umumnya kerja sama dalam
percakapan ditopang oleh unsur-unsurnya.
Unsur-unsur penopang kerja sama dalam percakapan disebut sebagai
maksim. Maksim merupakan tuntunan dalam bertutur. Grice (dalam
Syamsuddin, et. al., 1998:195) membagi prinsip kerja sama dalam
suatu percakapan menjadi empat. Maksim tersebut diuraikan sebagai berikut.
a. Maksim Kuantitas
Maksim Kuantitas: “Berikanlah jumlah informasi yang tepat”. Pemberian jumlah informasi dalam berkomunikasi dengan orang lain hendaknya dapat memberi keterangan seinformatif mungkin, tetapi jangan pula memberikan keterangan lebih daripada yang diinginkan. Ini berarti, informasi yang diberikan kepada orang lain dalam peristiwa tutur hendaknya secukupnya saja. Jangan lebih dan jangan kurang. Maksim kuantitas ini terdiri dari dua submaksim, yaitu a) berikan sumbangan Anda seinformatif yang diperlukan dan b) sumbangan informasi Anda jangan melebihi yang diperlukan.
Contoh:
(a) Guru : Apakah kamu sudah menyelesaikan PR Matematika?
Siswa : Sudah Pak
(b) Guru : Apakah jawaban kamu sama dengan jawaban Toni?
Siswa : Sebenarnya sama, tetapi langkah-langkah yang Saya gunakan berbeda dengan Toni karena Saya menggunakan buku terbitan Ganesha. Ternyata buku tersebut sangat lengkap dalam membahas soal seperti yang Bapak terangkan tadi. Apa Bapak sudah punya buku itu?
Jika dibandingkan antara dialog (a) dan dialog (b) terlihat perbedaan. Dialog (a) antara guru dan siswa terdapat kerja sama yang baik. Pada dialog siswa telah memberikan kontribusi yang secara kuantitas memadai dan mencukupi. Berbeda halnya dengan dialog (b), antara guru dan siswa tidak terlihat adanya kerja sama yang baik. Ini dikarenakan siswa memberikan kontribusi yang berlebihan yang tidak diperlukan guru.
Contoh lain dapat ditemukan pula pada percakapan seperti yang diungkapkan Keenan (dalam Ismari, 1995: 4) sebagai berikut.
A: ‘Where is your mother?’
(Di mana ibumu?)
B: ‘She is either in the house or the market.’
(Ia mungkin di rumah atau di pasar.)
Kutipan percakapan dilihat dari segi tuturan B menunjukkan bahwa B tidak secara pasti mengetahui keberadaan ibunya, tetapi hanya menyatakan dalam bentuk pilihan tempat. Apabila B ternyata mengetahui secara pasti lokasi tempat ibunya berada dari dua pilihan itu, berdasarkan maksim, penyediaan informasi itu gagal.
b. Maksim Kualitas
Maksim Kualitas: “Usahakan agar sumbangan informasi Anda benar”. Maksim ini menyarankan agar dalam peristiwa tutur, kita tidak mengatakan kepada orang lain sesuatu yang kita yakini salah. Artinya, sesuatu yang diyakini salah jangan dikatakan atau disarankan untuk dilakukan oleh orang lain. Jangan menyebarkan kesalahan. Selanjutnya, apabila tidak diketahui secara persis (kebenaran atau kesalahannya) juga jangan dikatakan atau disarankan untuk dilakukan atau dicontoh orang lain. Daripada memberikan informasi atau keterangan yang membingungkan, lebih baik diam. Maksim kualitas ini terdiri atas dua submaksim, yaitu a) jangan mengatakan sesuatu yang Anda yakini tidak benar dan b) jangan mengatakan sesuatu yang bukti kebenarannya kurang meyakinkan.
Contoh:
(a) Adit : Den, Lili sekarang di kelas XII apa?
Denny : Dia tidak di kelas XII IPS A, tapi di kelas XII C IPA.
(b) Adit : Den, Lili sekarang di kelas XII apa?
Denny : Ia di kelas XII C IPE. Cape dech!
(c) Adit : Den, Lili sekarang di kelas XII apa?
Denny : Di kelas XII IPA C.
Dialog (a), Denny memberikan kontribusi yang melanggar maksim kualitas. Hal ini akan menyebabkan Adit berpikir agak lama untuk mengetahui mengapa Denny memberikan kontribusi yang tidak diharapkannya dan dianggapnya salah. Dengan bukti-bukti yang memadai, akhirnya Adit mengetahui bahwa jawaban yang diberikan Denny adalah salah karena telah membandingkan dirinya dengan Lili. Pada dialog (b), jawaban Denny dianggap melanggar maksim kualitas dengan tujuan untuk mendapatkan efek lucu. Kelucuan itu terdapat pada kelas XII C IPE, cape dech. Pada dialog (c), jawaban Denny telah dianggap menyatakan atau memberikan kontribusi yang sebenarnya.
c. Maksim Hubungan
Maksim Hubungan: “Usahakan perkataan Anda ada relevansinya”. Melalui maksim hubungan ini kita dalam peristiwa tutur dituntut untuk selalu menyatakan sesuatu yang relevan. Dengan kata lain, dalam percakapan harus diketahui fokus persoalan yang sedang dibicarakan dan perubahan yang terjadi pada fokus tersebut. Pemahaman terhadap fokus persoalan akan membantu dalam menginterpretasi serta mereaksi tuturan-tuturan yang dilakukan lawan bicara. Contoh:
(a) Udin : Di mana buku Biologiku?
Dani : Di rak meja.
(b) Udin : Di mana buku Biologiku?
Dani : Tadi ada Yuni yang duduk di kursi kamu saat istirahat tadi.
(c) Udin : Di mana buku Biologiku?
Dani : Saya dipanggil Ibu Ranti!
Pada dialog (a), informasi yang disampaikan Dani ada relevansinya dengan pertanyaan Udin. Sama halnya pada dialog (b), informasi yang disampaikan Dani menggunakan penalaran sebagai berikut: Walaupun Dani tidak mengetahui jawaban yang tepat atas pertanyaan Udin, namun jawaban itu dapat membantu Udin mendapatkan jawaban yang benar. Karena, jawaban Dani mengandung implikasi kemungkinan Yuni lah yang meminjam buku Biologi Udin yang terdapat di rak meja, paling tidak Udin tahu di mana buku Biologinya sekarang. Akan tetapi, dialog (c), jawaban Dani tidak dapat dianggap sebagai suatu jawaban yang menunjukkan adanya kerja sama yang baik karena tidak membantu Udin untuk mendapatkan buku Biologinya. Pernyataan Dani dapat dikatakan relevan bila jawaban tersebut diinterpretasikan sebagai suatu keterangan mengapa Dani tikak dapat menjawab pertanyaan Udin.
d. Maksim Cara
Maksim Cara: “Usahakan perkataan Anda mudah dimengerti”. Dengan maksim ini yang dipentingkan adalah cara mengungkapkan ide, gagasan, pendapat, dan saran kepada orang lain. Maksim cara, dalam mengungkapkan sesuatu itu harus jelas. Untuk mencapai kejelasan ini maksim cara memiliki empat submaksim, yaitu a) hindari pernyataan-pernyataan yang samar, b) hindari ketakasaan, c) usahakan agar ringkas, dan d) usahakan agar berbicara dengan teratur.
Contoh:
(a) Ucok : Siapa teman Anda, orang Korea itu?
Ujang : K-I-M E-O-K S-O-O
Ucok : (bengong)
(b) Ucok : Itu dia, guru baru datang.
Ujang : Dia guru baru?
Ucok : Bukan!
(c) Orang tua murid : Atas perhatian, kebijaksanaan, dan kemurahan hati Bapak, saya ucapkan beribu terima kasih.
Guru : Sama-sama.
(d) Tini : Bagaimana keadaan rumah yang baru Anda beli?
Tono : Alhamdulillah, cukup memuaskan bagi keluarga saya. Pagarnya dari besi bercat hitam. Halamannya berukuran kira-kira 6 x 5 m², berisi taman yang terdiri dari bunga-bunga dan rerumputan. Bagian depan terdapat garasi mobil. Dalam bagunan itu terdapat ruang keluarga, ruang makan, kamar tidur, kamar mandi, dapur, ruang tempat mencuci pakaian, dan alat-alat dapur.
Pada dialog (a), jawaban Ujang merupakan jawaban yang kabur karena dilakukan dengan mengeja nama seseorang melalui kata demi kata. Nama orang itu KIM EOK SOO ditulis dalam huruf Korea, tetapi pengucapannya dieja sehingga tidak jelas dimengerti oleh Ucok. Pada dialog (b) kalimat yang diucapkan Ucok menimbulkan ketakasaan atau mengandung makna lebih dari satu. Sementara itu, pada dialog (c) pernyataan yang disampaikan oleh orang tua murid terlalu berlebihan. Berbeda dengan dialog (d) Tono memberikan informasi yang jelas bagi Tini.
Keempat maksim itu, diyakini Grice mampu menuntun orang untuk berkomunikasi secara maksimal, efesien, efektif, rasional, dan kooperatif jika ucapan itu benar-benar memiliki nilai kebenaran (Marcellino, 1993:63). Hal ini dimungkinkan apabila ucapan itu selaras dengan kejadian yang bergandengan dengan waktu dan tempat dalam suatu konteks dan situasi tertentu, dan sesuai dengan aturan konstitutif yang tepat. Ucapan tersebut harus mengandung suatu nilai yang jujur (Searle dalam Marcellino, 1993: 63)
Kondisi ideal dalam pelaksanaan prinsip tuturan tidak selalu sesuai dengan yang diharapkan (tidak terpenuhinyaprinsip kerja sama). Ini disebabkan adanya keadaan tertentu yang secara sengaja dilakukan oleh penutur untuk tidak memenuhi tuntutan prinsip secara ideal.
Grice (Roekhan, 2002: 190) menyebutkan keadaan itu sebagai berikut.
(1) keadaan yang menuntut penutur melanggar (to violate) ketentuan penggunaan maksim tutur yang normal,
(2) keadaan yang menuntut penutur mengalihkan (to break) maksim tutur,
(3) keadaan yang menuntut penutur mengabaikan (to opt out) maksim tutur, dan
(4) keadaan yang menuntut penutur mendayagunakan (to floute) maksim tutur.
Oleh karena itu, Roekhan (2002:190) mengelompokkan penggunaan maksim tutur ke dalam dua kategori, yaitu (1) penggunaan maksim tutur yang sesuai dengan teori Grice, dan (2) penggunaan maksim tutur yang tidak sesuai dengan teori Grice.
B. Teori Prinsip Kesantunan
Dalam prinsip kesantunan Leech erdiri dari enam maksim yaitu:
1. Maksim Kearifan (Tact Maxim)
Buatlah kerugian orang lain sekecil mungkin.
Buatlah keuntungan orang lain sebesar mungkin.
Maksud dari maksim di atas yaitu selalu mengurangi keuntungan dirinya sendiri dan memaksimalkan keuntungan pihak lain dalam kegiatan bertutur. Contohnya:
Ibu : “Ayo dimakan bakminya! Di dalam masih banyak, kok.”
Rekan Ibu : “ Wah, segar sekali. Siapa yang memasak ini, Bu?”
Informasi Indeksal:
Dituturkan oleh seorang ibu kepada teman dekatnya pada saat ia berkunjung ke rumahnya.
Tuturan yang disampaikan dengan maksud agar sang tamu merasa bebas dan dengan senang hati menikmati hidangan yang disajikan tanpa ada perasaan tidak enak sekalipun.
2. Maksim Kedermawanan (Generosity Maxim)
Buatlah keuntungan diri sendiri sekecil mungkin.
Buatlah kerugian diri sendiri sebesar mungkin.
Maksud dari maksim di atas yaitu agar peserta tutur dapat menghormati orang lain. Contohnya:
Kakak : “Dik, Indosiar filmnya bagus loh, sekarang!”
Adik : “Sebentar, Mas. Saya hidupkan dulu saluran listriknya”
Informasi Indeksal:
Dituturkan oleh seorang kakak kepada adiknya pada sebuah keluarga, mereka sedang berbincang tentang acara tertentu pada sebuah saluran televisi swasta.
Tuturan yang disampaikan yaitu si adik menghormati kakaknya dengan langsung menyalakan saluran listrik.
3. Maksim Pujian (Approbation Maxim)
Kecamlah orang lain sesedikit mungkin.
Pujilah orang lain sebanyak mungkin.
Maksud dari maksim di atas adalah agar para peserta pertuturan tidak saling mengejek, saling mencaci, atau saling merendahkan pihak yang lain. Contohnya, tuturan Andi saat mendengar Susi yang dapat berbahasa Jepang dan Inggris.
“Susi memang tak hanya pandai berbahasa Inggris tetapi juga pandai berbahasa Jepang.”
Dari tuturan di atas sangat jelas bahwa Andi memberikan pujian kepada Susi yang dapat berbahasa Inggris dan berbahasa Jepang.
4. Maksim Kerendahan Hati (Modesty Maxim)
Pujilah diri sendiri sesedikit mungkin.
Kecamlah diri sendiri sebanyak mungkin.
Maksud dari maksim di atas yaitu agar para peserta pertuturan dapat bersikap rendah hati dengan cara mengurangi pujian terhadap dirinya sendiri. Contohnya:
“Kapan-kapan main Pak ke rumah saya, tetapi rumah saya jelak seperti gubuk”
Dari tuturan di atas dijelaskan bahwa dia mempunyai rumah yang dengan kesederhanaan dan kerendahan hati banyak digunakan sebagai parameter penilaian kesantunan seseorang.
5. Maksim Kesepakatan (Agreement Maxim)
Usahakan ketaksepakatan antara diri dan lain terjadi sedikit mungkin.
Usahakan kesepakatan antara diri dan lain terjadi sebanyak mungkin.
Maksud dari maksim di atas yaitu agar para peserta tutur dapat saling membina kecocokan atau kesepakatan di dalam kegiatan bertutur. Contohnya:
Hani : “Nanti malam kita makan bersama ya, Tar!”
Tary : “Boleh. Saya tunggu di Bambu Resto ya.”
Dari tuturan di atas bahwa antara Hani dan Tary terjadi kesepakatan untuk makan bersama nanti malam.
6. Maksim Simpati (Sympathy Maxim)
Kurangilah rasa antipati antara diri dengan lain sekecil mungkin.
Tingkatkan rasa simpati sebanyak-banyaknya antara diri dan lain.[5]
Maksud dari maksim di atas yaitu agar para peserta tutur dapat memaksimalkan sikap simpati antara pihak yang satu dengan pihak lainnya. Contohnya:
Ani : “Sus, nenekku meninggal.”
Susi : “Innalillahiwainnailaihi rojiun. Ikut berduka cita.”
Dari tuturan merupakan ucapan simpati dari penutur kepada salah satu temannya yang gagal ujian.
7. Maksim Pertimbangan (Consideration Maxim)
Minimalkan rasa tidak senang penutur.
Maksimalkan rasa senang penutur.[6]
Maksud dari maksim di atas yaitu untuk mempertimbangkan perasaan penutur, jangan sampai ia merasa lebih tidak senang dalam suasana yang tidak menyenangkan.
“Selamat atas kemenangan Anda pada lomba yang diikuti oleh artis-artis yang hebat-hebat itu.”
Tuturan di atas terdengar lebih santun dari pada hanya “Selamat atas kemenangan anda”.
C. Ragam Bahasa
Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian,yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan,menurut hubungan pembicara,kawan bicara,orang yang dibicarakan,serta menurut medium pembicara (Bachman,1990).
Ragam bahasa yang oleh penuturnya dianggap sebagai ragam yang baik (mempunyai prestise tinggi),yang biasa digunakan di kalangan terdidik,di dalam karya ilmiah (karangan teknis, perundang-undangan),di dalam suasana resmi,atau di dalam surat menyurat resmi (seperti surat dinas) disebut ragam bahasa baku atau ragam bahasa resmi.
Dalam kehidupan sehari-hari banyak pokok persoalan yang dibicarakan. Dalam membicarakan pokok persoalan yang berbeda-beda ini kita pun menggunakan ragam bahasa yang berbeda. Ragam bahasa yang digunakan dalam lingkungan agama berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungan kedokteran, hukum, atau pers. Bahasa yang digunakan dalam lingkungan politik, berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungan ekonomi/perdagangan, olah raga, seni, atau teknologi. Ragam bahasa yang digunakan menurut pokok persoalan atau bidang pemakaian ini dikenal pula dengan istilah laras bahasa.
Perbedaan itu tampak dalam pilihan atau penggunaan sejumlah kata/peristilahan/ungkapan yang khusus digunakan dalam bidang tersebut, misalnya masjid, gereja, vihara adalah kata-kata yang digunakan dalam bidang agama. Koroner, hipertensi, anemia, digunakan dalam bidang kedokteran. Improvisasi, maestro, kontemporer banyak digunakan dalam lingkungan seni. Kalimat yang digunakan pun berbeda sesuai dengan pokok persoalan yang dikemukakan. Kalimat dalam undang-undang berbeda dengan kalimat-kalimat dalam sastra, kalimat-kalimat dalam karya ilmiah, kalimat-kalimat dalam koran atau majalah dan lain-lain.
Pemakaian bahasa pada ranah religius erisi istilah agama dari bahasa Arab. Struktur ayatnya banyak dipengaruhi struktur bahasa Arab. Disisipkan dengan kutipan dari al-Quran dan hadis.
BAB
III
METODE PENULISAN
A. Pendekatan
Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif. Artinya, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara akurat dan sistematis sesuai dengan fakta-fakta kebahasaan yang ada. Oleh karena itu, penelitian ini dikatakan deskriptif kualitatif karena menggunakan prosedur yang menghasilkan data deskriptif berupa data tertulis kemudian berusaha mendeskripsikan jenis-jenis deiksis dan fungsi acuan (referen) deiksis sesuai dengan apa adanya.
B. Sumber Data
Sumber data adalah subjek yang menjadi asal atau tempat data itu diperoleh (Arikunto, 1985: 90). Oleh karena itu, data penelitian ini adalah data bahasa ragam lisan yang bersumber dari rekaman video di Youtube yang berjudul “Seorang Pemuda Menghina Dr. Zakir Naik (Lucu)” yang berdurasi 3 menit 43 detik.
C. Teknik Pengumpulan Data
Penulis mengumpulkan data dengan cara pertama penulis menyimak keseluruhan video kemudian penulis mencetak teks percakapan dalam video. Setelah itu penulis memisahkan dialog yang ditemukan dalam video pada kertas lainnya selanjutnya. Penulis mengklasifikasikan prinsip kerja sama yang digunakan serta penggunaan maksim pada dialog tersebut.
![]() |
BAB
IV
PEMBAHASAN
A. Dialog
(1)Penanya : Saya punya pertanyaan untuk Anda. Misalkan saya adalah seorang Kristen. Misalkan bible salah dalam hal argumen dan saya punya keyakinan yang salah, kenapa saya menemukan bahwa orang-orang muslim tertentu telah merendahkan agama lain untuk menunjukkan bahwa islam itu unggul. Kenapa demikian? Saya mungkin salah tapi itulah presepsi yang saya tangkap. Itulah apa yang saya pelajari dan saya lihat.
Zakir Naik : Saudara ini bertanya, Jika dia mengikuti Bible dan berasumsi bahwa Bible itu salah. Mengapa orang-orang muslim merendahkan non muslim? Pertanyaan yang bagus. Kita tidak diperbolehkan untuk merendahkan atau menghina non muslim Allah swt. Berfirman dalam surat Al An’am (6:108) “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan” Kita tidak boleh menghina atau merendahkan sesembahan lain. Hal itu dilarang.
(2)Penanya : Maaf! Anda membuktikan bahwa Bible salah.
Zakir Naik : Aahh! Dia mengatakan, saya membuktikan Bible salah. Saya tidak Menghina. Ok! Saudara, 2+2=5, Apakah benar?
Penanya : Apa tuan?
(3)Zakir Naik : 2+2=5, Apakah benar?
Penanya : Tidak.
(4)Zakir Naik : Benar atau salah?
Penanya : Salah.
Zakir Naik : Oh, jadi Anda menghina saya sekarang. Apakah Anda menghina saya? Apakah Anda menghina saya?
Penanya : Apa?
(5)Zakir Naik : Apakah Anda menghina saya dengan mengatakan bahwa 2+2=5 adalah salah?
Penanya : Saya tidak menghina Anda. Saya mengarakan Anda salah.
(6)Zakir Naik : Bagus. Sama kalau begitu. Bagian mana dikatakan saya menghina? Saya hanya mengatakan bahwa itu salah. Ketika saya mengatakan 2+2=5 Anda mengatakan bahwa itu salah. Anda mengatakan bahwa Anda menghina saya. Sama halnya saya tidak menghina Bible. Saya mengatakan Bible itu salah. Bible mengatakan di genesis (1:16) cahaya bulan adalah milik bulan sendiri. Itu salah! Jika itu salah saya harus mengatakan salah . tapi saya tidak menghina. Apakah saya menghina?
Penanya : Ya tentu saja!
Zakir Naik : Anda merasa terhina?
Penanya : Tidak, tidak, kenapa demikian? 2+2 tidak sama dengan 5. Anda tahu itu. Bible adalah firman tuhan dan itulah yang saya percaya.
(7)Zakir Naik : Bible adalah firman tuhan itu pernyataan Anda, bukan pernyataan saya.
Penanya : Tepat.
(8)Zakir Naik : Jika Anda percaya bahwa tuhan bisa membuat kesalahan, itu adalah masalah Anda. Bukan masalah saya.
Penanya : Tuhan tidak membuat kesalahan.
(9)Zakir Naik : Benar, benar. Tuhan tidak membuat kesalahan. Jadi itulah alasan mengapa Bible bukan firman tuhan dan saya akan membuktikan pada Anda bahwa, Bible mengatakan di Genesis (1:16) “Tuhan menciptakan dua cahaya. Cahaya yang besar untuk menerangi siang dan cahaya yang kecil untuk menerangi malam” Jadi Bible mengatakan, cahaya bulan adalah miliknya sendiri. Dalam sains dan Al Qur’an dikatakan cahaya bulan bukan miliknya sendiri. Tapi bible mengatakan..
Penanya : Bible mengatakan cahaya bulan. Bulan itu memantulkan
(10)Zakir Naik: Itu yang dikatakan Al Qur’an, Bible mengatakan miliknya sendiri. Genesis (1:16) apakah Anda sudah membacanya?
Penanya : Saya belum membacanya
(11)Zakir Naik: Saya beritahu pada Anda. “Tuhan menciptakan dua cahaya, cahaya yang besar dan cahaya yang kecil.” Itu artinya cahaya milik sendiri. Jadi jika Bible membuat kesalahan, ya itu salah. Saya tidak menghina Bible. Saya memberitahu seperti ketika Anda mengatakan bahwa saya salah. Jadi jika saya merasa terhina. Saya merasa terhina. Benar, kenapa Anda mengatakan saya salah. Tapi itu menjadi salah jika saya merasa terhina. Jika saya salah ya salah. Merupakan suatu kebodohan bagi saya untuk berargumen dan mengatakan tidak, tidak. Hanya karena Anda mengatakan bahwa saya salah kemudian saya merasa terhina.anda memberikan penjelasan untuk membantu saya. Benar? Anda bermaksud membantu saya atau tidak?
Penanya : Ya.
Zakir Naik : Jadi ya sama, saya juga bermaksud membantu Anda.
Penanya : Tidak tuan.
Zakir Naik : Jadi, menghina atau merendahkan agama lain itu dilarang dalam Islam. Anda tidak boleh menghina, tidak boleh merendahkan, tepi ketika menyebutkan fakta, maka fakta adalah fakta. Semoga itu menjawab pertanyaan Anda.
B. Prinsip Kerja Sama
Maksim Kuantitas
Maksim Kuantitas: “Berikanlah jumlah informasi yang tepat”. Berdasarkan dialog di atas, yang menunjukkan maksim kuantitas ialah tuturan yang dituturkan oleh penanya pada dialog nomor (3), (7), (8), (10), dan (11). Pada tuturan tersebut penutur hanya menberikan jawaban yang singkat dan tepat.
Maksim Kualitas
Maksim Kualitas: “Usahakan agar sumbangan informasi Anda benar”. Berdasarkan dialog di atas, yang menunjukkan maksim kuantitas ialah tuturan yang dituturkan penanya pada dialog nomor (5) serta tuturan yang dituturkan oleh Zakir Naik pada dialog nomor (1) dan dialog nomor (9). Pada tuturan nomor (5) yang dilakukan penanya. Penanya mengatakan bahwa dia tidak menghina Zakir Naik. Dia hanya mengatakan bahwa 2+2=5 itu salah. Jika dilihat dari sudut matematis 2+2=4 bukan 5. Sedangkan pada tuturan nomor (1) dan (9) yang dituturkan Zakir Naik. Tuturan tersebut mengandung fakta karena mengacu pada sumber yang jelas yaitu Al Qur’an dan Bible. Selain itu pada tuturan tersebut Zakir naik menyebutkan dengan jelas dan lengkap ayat yang dikutip.
Maksim Hubungan
Maksim Hubungan: “Usahakan perkataan Anda ada relevansinya”. Berdasarkan dilaog di atas dapat disimpulkan bahwa dialog tersebut memiliki hubungan. Bahkan mulai dari dialog (1) sampai dengan dialog (11) saling berkaitan dengan tema yang sama. Pertanyaan yang diajukan penanya pada dialog (1) dan(2) memiliki hubungan dangan jawaban yang dilontarkan Zakir Naik pada dialog tersebut. Pertanyaan Zakir Naik dalam dialog (3), (4), (5), (6), (7), (8), (9), (10), dan (11) juga memiliki hubungan dengan jawaban yang dilontarkan penanya.
Maksim Cara
Maksim Cara: “Usahakan perkataan Anda mudah dimengerti”. Pada dialog (2), (3), (4),(5), dan (6) Zaikr Naik berusaha menjelaskan pertanyaan penanya dengan perumpamaan. Penggunaan perumpamaan inilah yang dimaksud dengan maksim cara. Selain itu pada dialog (6), (9), dan (11) Zakir Naik menjelaskan dengan memberikan contoh yang dikutip dalam Al Qur’an dan Bible agar penanya dapat dengan mudah mengerti.
C. Penggunaan Maksim (Teori Lecch)
Pada dialog (1) tuturan Zakir Naik kepada penanya mengandung maksim pujian “ ... Pertanyaan yang bagus...”. Pada dialog (2) tuturan penanya mengandung maksim pertimbangan “maaf...”. pada dialog (5) tuturan penanya mengandung maksim pertimbangan. Pada dialog (6) tuturan Zakir Naik mengandung maksim pertimbangan, ia menjelaskan dengan memberikan bukti dengan bertimbangan agar penanya paham. Pada dialog (11) tuturan Zakir Naik mengandung maksim pertimbangan, ia memberikan contoh menggunakan dirinya sendiri dengan pertimbangan agar penanya tidak merasa tersinggung.
D. Kesantunan dan Tingkat Kesantunan
Dialog di atas menunjukkan kesantunan. Hal ini ditandai dengan adanya hubungan kerja sama dalam komunikasi tersebut. Ketika penanya bertanya Zakir Naik menjawab dan ketika Zakir Naik bertanya penanya pun menjawab. Tingkat kesantunan yang rendah ditunjukkan pada dialog (9) ketika Zakir Naik menjelaskan, penanya tiba-tiba memotong pembicaraan. Selain dialog (9) dialog lain menuntukkan tingkat kesantunan yang cukup.
BAB
V
PENUTUP
A. Simpulan
Penggunaan prinsip kerja sama dalam bahasa ranah religius meliputi maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim hubungan serta maksim cara. Penggunaan maksim sesuai teori Lecch pada bahasa ranah religius meliputi maksim pujian dan maksim pertimbangan.
B. Saran
Untuk mengetahui lebih jauh dan lebih banyak bahkan lebih lengkap mengenai pembahasan Analisis Wacana Kritis, pembaca dapat membaca dan mempelajari buku-buku dari berbagai pengarang, karena di dalam tulisan ini penulis hanya membahas pemakaian bahasa ranah religius.
Di sini penulis menyadari bahwa dalam tulisan ini masih jauh dari sempurna, sehingga
kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan penulisan
selanjutnya sangat diharapkan.
