Tuesday, December 3, 2019

BENDA-BENDA PENINGGALAN SEJARAH SUL SEL



BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Seperti yang kita ketahui, banyak sekali benda-benda peninggalan bersejarah di indonesia khususnya terdapat di kota makassar. Hal ini dikarenakan semua masyarakat memahami betapa pentingnya benda-benda tersebut untuk kedepannya. Masyarakat senantiasa menjaga dan merawat benda-benda tersebut agar tidak dimakan oleh perkembangan zaman. Oleh karena itu, masyarakat menempatkan benda-benda tersebut dimusium-musium agar penerus keturanan dapat melihat dan mengetahui benda-benda apa saja itu . Hal ini juga dapat dimanfaatkan oleh beberapa pihak untuk mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan benda tersebut dan membuka wawasan bagi para mahasiswa khususnya .
Benda peninggalan bersejarah tersebut sangatlah berpengaruh dalam dunia pendidikan , seiring berkembangnya era globalisasi yang makin modern maka apabila kita semua tidak dapat menjaga harta tersebut maka benda tersebut akan hilang begitu saja . Tetapi apabila apabila benda-benda tersebut di jaga maka hal ini sangat bermanfaat untuk menambah wawasan kita khususnya bagi para pelajar.
B.    Rumusan Masalah
1.     Menjelaskan apa itu Meseum kota makassar?
2.     Menjelaskan apa itu Monument mandala?
3.     Menjelaskan apa itu Balla Lompoa?
4.     Menjelaskan apa itu Meseum karaeng pattingngalloang?
5.     Menjelaskan apa itu benteng Rotterdam ?

C.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini yaitu:
1.     Untuk mengetahui apa yang dimaksud Meseum kota makassar.
2.     Untuk mengetahui apa yang dimaksud Monumen Mandala.
3.     Untuk mengetahui apa yang dimaksud Balla Lompoa .
4.     Untuk mengetahui apa yang dimaksud meseum karaeng pattingngalloang
5.     Untuk mengetahui apa yang dimaksud benteng Rotterdam  
















BAB 2
PEMBAHASAN
A.    Benda-benda peninggalan sejarah dimakassar
1.     Meseum kota makassar
Dibangun sekitar tahun 1916, gedung bersejarah ini menyimpan beragam koleksi benda bersejarah yang jumlahnya mencapai 560 unit.
Memasuki pekarangan Museum Kota Makassar, pengunjung akan disambut oleh sebuah meriam yang diperkirakan berusia 300 tahun. Bangunan ini didominasi warna putih pada dinding dan merah marun pada bagian atap. Ketika mulai melangkahkan kaki ke dalam museum, suasana kolonial Belanda yang kental akan menemani perjalanan selama di dalam museum. Perjalanan Kota Makassar dari zaman ke zaman, terekam dalam gedung ini.
Lantai pertama terisi dengan berbagai lukisan klasik peninggalan Belanda, foto-foto dokumentasi perkembangan Kota Makassar, benda-benda arkeologi, dan berbagai mata uang yang pernah berlaku di Makassar dari zaman penjajahan hingga saat ini. di lantai dua juga didominasi foto-foto dokumentasi, sebuah meja yang pernah digunakan oleh Walikota Ujung Pandang, lambang-lambang kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan dan berbagai pernak pernik tradisional hasil kerajinan rakyat.
Ketika meniti dari satu ruas ke ruas lain sambil memperhatikan setiap benda-benda bersejarah di dalam ruangan gedung Museum Kota Makassar, Anda akan berdecak dan tenggelam dalam kekaguman. Melalui museum ini Anda bisa menelisik dan mengikuti sejarah perjalanan Makassar hingga menjadi Kota Makassar seperti saat ini.
2.     Monument Mandala
Dengan ketinggian 75 meter dari permukaan tanah, Monumen Mandala menjulang di pusat Kota Makassar. Ini merupakan bangunan menara yang dibangun pada tahun 1994 dan selesai pada tahun 1996.
Monumen Mandala adalah sebuah bukti monumental penghargaan dan kenangan abadi masyarakat Sulawesi Selatan terhadap perjuangan untuk pembebasan Irian Barat pada tahun 1966. Kala itu, Makasarditetapkan sebagai pusat Markas Komando Mandala dalam pelaksanaan operasi perebutan Irian Barat, hingga akhirnya Indonesia berhasil merebut Irian Barat.
Bangunan ini memiliki empat lantai. Pada dinding luarnya, direalisir kobaran api yang melambangkan gelora semangat untuk membebaskan Irian Barat. Di lantai satu terdapat diorama relief dan replika pakaian dan perjuangan masyarakat Sulawesi Selatan pada abad XVII. Pada lantai dua terdapat diorama dan relief yang menceritakan tentang perjuangan pembebasan Irian Barat.
Di lantai tiga terdapat replika ruang kerja Panglima Mandala, lengkap dengan peta irian barat, foto-foto persiapan pemberangkatan pasukan, tanda jabatan, dan pakaian yang dipergunakan pada saat operasi Mandala. Sedangkan pada lantai empat adalah ruang pandang di mana pengunjung dapat melihat suasana kota Makassar dari ketinggian.
3.     Balla lompoa
Museum BallaLompoa menyimpan koleksi benda-benda berharga yang tidak hanya bernilai tinggi karena nilai sejarahnya, tetapi juga karena bahan pembuatannya dari emas atau batu mulia lainnya.
Di museum ini terdapat sekitar 140 koleksi benda kerajaan yang bernilai tinggi, seperti mahkota, gelang, kancing, kalung, keris dan benda-benda lain yang umumnya terbuat dari emas murni dan dihiasi berlian, batu ruby, dan permata. Di antara koleksi tersebut, rata-rata memiliki bobot 700gram, bahkan ada yang sampai atau lebih dari 1 kilogram.
Di ruang pribadi raja, terdapat sebuah mahkota raja yang berbentuk kerucut bunga teratai (lima helai kelopak daun) memiliki bobot 1.768 gram yang bertabur 250 permata berlian. Di museum ini juga terdapat sebuah tatarapang, yaitu keris emas seberat 986,5 gram, dengan pajang 51 cm dan lebar 13 cm, yang merupakan hadiah dari Kerajaan Demak.
Selain perhiasan-perhiasan berharga tersebut, masih ada koleksi benda-benda bersejarah lainnya, seperti: 10 buah tombak, 7 buah naskah lontara, dan 2 buah kitab Al Quran yang ditulis tangan pada tahun 1848.
4.     Meseum Karaeng Pattingngalloang
Museum Karaeng Pattingalloang dibangun pada area seluas 600 meter persegi. Bangunan museumnya menggunakan konsep rumah panggung dengan gaya atap yang menarik. Koleksi museum yang terdiri dari dua lantai ini cukup banyak, semuanya memberikan pengetahuan kepada kita tentang keberadaan Gowa pada masa lampau.
Di lantai satu kita akan melihat berbagai objek hasil ekskavasi yang dulu menjadi elemen penting bagi keberadaan Benteng Somba Opu.
Kita juga bisa menjumpai berbagai peninggalan manusia Gowa dahulu seperti lempeng tanah liat yang digunakan sebagai instrumen untuk menentukan hari yang baik untuk berbagai perhelatan seperti pernikahan. Di sudut yang lain, terpampang koleksi peninggalan perang Makassar ketika Kerajaan Gowa digempur VOC pada ahun 1666 – 1669.
5.     Benteng Rotterdam
Saat mengunjungi kota Makassar, sempatkan sedikit waktumu untuk mengunjungi Fort Rotterdam, yang letaknya tepat di tengah kota ini. Fort Rotterdam adalah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Gorontalo.
Uniknya, jika dilihat dari atas, struktur bangunan ini mirip dengan seekor penyu. Hal ini bukan tanpa sebab. Sesuai filosofi yang diadopsi oleh Kerajaan Gowa, yaitu layaknya penyu yang dapat hidup di darat maupun laut, maka begitu pula Kerajaan Gowa harus berjaya di dua alam tersebut.
Di dalam Fort Rotterdam terdapat beberapa ruangan tahanan atau penjara yang salah satunya merupakan tempat penahanan Pangeran Diponegoro dan gereja yang dibangun pada zaman penjajahan Belanda. Tak hanya itu, terdapat juga Museum La Galigo yang menyimpan 5.000 koleksi sejarah dan prasejarah, seperti keramik, naskah, serta etnografi yang terdiri dari berbagai kesenian khas suku Bugis, Mandar, Toraja, dan Makassar.







BAB 3
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Seperti yang kita ketahui, banyak sekali benda-benda peninggalan bersejarah di indonesia khususnya terdapat di kota makassar. Hal ini dikarenakan semua masyarakat memahami betapa pentingnya benda-benda tersebut untuk kedepannya. Masyarakat senantiasa menjaga dan merawat benda-benda tersebut agar tidak dimakan oleh perkembangan zaman. Oleh karena itu, masyarakat menempatkan benda-benda tersebut dimusium-musium agar penerus keturanan dapat melihat dan mengetahui benda-benda apa saja itu . Hal ini juga dapat dimanfaatkan oleh beberapa pihak untuk mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan benda tersebut dan membuka wawasan bagi para mahasiswa khususnya .
















DAFTAR PUSTAKA
Yus Rusyana. 1984. Bahasa dan Sastra dalam Gamitan pendidikan. Bandung : Diponegoro.
Zuber Usman. 1970. Bahasa Persatuan. Jakarta : Gunung Agung.

No comments:

Post a Comment