BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Analisis wacana sebagai salah satu
disiplin ilmu dengan metodologi yang eksplisit dapat dikatakan sebagai ilmu
baru karena perkembangannya baru dilihat pada awal tahun 70-an dan
bersumber pada tradisi keilmuan Barat. Istilah analisis wacana muncul sebagai
upaya untuk menghasilkan deskripsi bahasa yang lebih lengkap sebab terdapat
unsur-unsur bahasa yang tidak cukup bila dianalisis dengan menggunakan aspek
struktur dan maknanya saja. Sehingga memalui analisis wacana dapat diperoleh
penjelasan mengenai korelasi antara apa yang diujarkan, apa yang dimaksud dan
apa yang dipahami dalam konteks tertentu.
Analisis wacana Kritis (AWK) adalah
analisis bahasa dalam penggunaannya dengan menggunakan bahasa kritis. Analisis
ini dipandang sebagai oposisi terhadap analisis wacana deskriptif yang
memandang wacana sebagai fenomena teks bahasa semata, karena analisis jenis ini
selain berupaya memperoleh gambaran tentang aspek kebahasaan, juga
menghubungkannya dengan konteks, baik itu konteks sosial, kultural, ideologi
dan domain-domain kekuasaan yang menggunakan bahasa sebagai alatnya.
Analisis wacana kritis ini terdapat
tokoh-tokoh yang memiliki sudut pandang dan cara analisis yang berbeda antara
satu dengan yang lainnya. Masing-masing pandangan tersebut hanya ditujukan pada
satu pokok permasalahan yaitu Analisis wacana Kritis (Critical Discourse
Analysis).
Sudut pandang para tokoh Analisis
Wacana Kritis, terdapat pandangan bahwa wacana adalah alat bagi kepentingan
kekuasaan, hegemoni, dominasi budaya dan ilmu pengetahuan.Untuk itu, dalam
menganalisis wacana juga harus memperhatikan masalah ideologi dan sosio
kultural yang melatarbelakangi penulisan suatu wacana.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, penulis merumuskan masalah
sebagai berikut:
1.
Apakah yang dimaksud dengan konsep dasar wacana?
2.
bagaimana sejarah wacana dan analisis wacana?
3.
Apa saja jenis-jenis wacana?
C. Tujuan Masalah
Adapun tujuan dari latar belakang
yang telah dipaparkan sebagai berikut:
Untuk mengetahui pengertian konsep
dasar wacana.
b.
Untuk
mengetahui sejarah wacana dan analisis wacana.
c.
Untuk
mengetahui jenis-jenis wacana.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Konsep
Wacana
lstilah wacana dipakai
oleh banyak kalangan mulai dari studi bahasa, psikologi, politik, komunikasi,
sastra, dan sebagainya. Dalam pembelajaran, wacana merupakan disiplin ilmu baru
yang muncul sekitar tahun 70-an. Sebetulnya apakah wacana itu? Wacana
(discourse) berasal dari Bahasa Latin, discursus. Secara terbatas, istilah ini
menunjuk pada aturan-aturan dan kebiasaan- kebiasaan yang mendasari penggunaan
bahasa baik dalam komunikasi Iisan maupun tulisan. Secara lebih luas, istilah
wacana menunjuk pada bahasa dalam tindakan serta pola-pola yang menjadi ciri
jenis-jenis bahasa dalam tindalkan.
Definisi wacana klasik
berasal dari asumsi-asumsi formalis (struktural) yang berpendapat bahwa wacana
adalah ”bahasa di atas kalimat atau di atas k|ausa" (Stubs dalam
Schiffrin, 2007: 28). Definisi wacana yang berasal dari paradigma formalis memandang
wacana sebagai kalimat-kalimat, sementara paradigma fungsionalis memandang
wacana sebagai penggunaan bahasa. Hubungan antara struktur dan fungsi pada
umumnya adalah sebuah persoalan penting yang berhubungan dengan persoalan-persoalan
lain yang penting bagi analisis wacana (Schiffrin, 2007: 24).
Sebagian besar analisis
struktural terhadap wacana masa sekarang melihat
kalimat sebagai unit bagian dari wacana. Dalam
pengertian linguistik, wacana adalah kesatuan makna (semantis) antarbagian di dalam
suatu bangun bahasa. Oleh karena itu, wacana sebagai kesatuan makna dilihat
sebagai bangun bahasa yang utuh karena setiap bagian di dalam wacana itu
berhubungan secara padu. Selain dibangun atas hubungan makna antarsatuan bahasa,
wacana juga terikat dengan konteks.
Konteks inilah yang dapat
membedakan wacana yang digunakan sebagai pemakaian bahasa dalam komunikasi
dengan bahasa yang bukan untuk tujuan komunikasi. Menurut Hawthorn (1992)
wacana adalah komunikasi kebahasaan
yang terlihat sebagai sebuah pertukaran di
antara pembicara dan pendengar, sebagai sebuah aktivitas personal di mana
bentuknya ditentukan oleh tujuan sosialnya.
Fowler (1977) mengemukakan
bahwa wacana adalah komunikasi lisan dan tulisan yang dilihat dari titik
pandang kepercayaan, nilai, dan kategori yang termasuk di dalamnya. Pendapat
Iebih jelas lagi dikemukakan oleh ].S. Badudu (2000) yang memaparkan bahwa
wacana sebagai rentetan kalimat yang berkaitan dengan, yang menghubungkan
proposisi yang satu dengan proposisi yang lainnya, membentuk satu kesatuan, sehingga
terbentuklah makna yang serasi di antara kalimat-kalimat itu. Selanjutnya
dijelaskan pula bahwa wacana merupakan kesatuan bahasa terlengkap dan tertinggi
atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi yang
tinggi yang berkesinambungan,yang mampu mempunyai awal dan akhir yang nyata, disampaikan
secara lisan dan tertulis. Sementara itu Samsuri memberi penjelasan mengenai
wacana, menurutnya wacana ialah rekaman kebahasaan yang utuh tentang peristiwa komunikasi,
biasanya terdiri atas seperangkat kalimat yang mempunyai hubungan pengertian
yang satu dengan yang lain. Komunikasi itu dapat menggunakan bahasa lisan, dan
dapat pula memakai bahasa tulisan.
Lull (1998) memberikan
penjelasan Iebih sederhana mengenai wacana, yaitu cara objek atau ide yang
diperbincangkan secara terbuka kepada publik sehingga menimbulkan pemahaman tertentu
yang tersebar Iuas. Mills (1994) merujuk pada pendapat Foucault memberikan
pendapatnya yaitu wacana dapat dilihat dari level konseptual teoretis, konteks
penggunaan, dan metode penjelasan.
Sejalan dengan uraian
tersebut ada beberapa unsur yang terkandung dalam sebuah wacana. Unsur-unsur
wacana tersebut meliputi (1) unsur internal wacana yang meliputi kata, kalimat,
teks dan koteks; (2) unsur eksternal wacana yang meliputi implikatur, presuposisi,
referensi, inferensi, dan konteks. Berbagai unsur ini akan dijelaskan lebih
Ianjut dalam bab-bab berikutnya dalam buku ini. Selain unsur wacana, hal Iain
yang biasanya terkandung dalam sebuah wacana adalah prinsip wacana itu sendiri.
Pnnsip-prinsip wacana yang dimaksud adalah sebagai berikut.
1. Tujuan
Setiap wacana yang akan
dihasilkan harus mempunyai tujuan kerena tujuanlah yang menentukan jenis wacana
yang digunakan. Tujuan sangat penting untuk memilih teknik penyampaian wacana
apakah naratif, deskriptif, eksposisi, argumentasi, ataupun persuasi. Tujuan juga
menentukan bentuk wacana, pidato, ceramah, surat resmi atau tidak resmi dan
sebagainya.
2. Kohesi
Kohesi merupakan
keserasian hubungan antara unsur linguistik dengan unsur linguistik yang lain
dalam sebuah wacana. Kohesi dapat ditinjau dari hubungan antara kata, frasa
atau kalimat dengan sesuatuperkataan dalam wacana tersebut. Kohesi dapat
mewujudkan kesinambungan antara sebagian teks dengan bagian teks yang Iain
sehingga membentuk satu kesatuan.
3. Koherensi
Koheransi merupakan
kesinambungan ide yang terdapat dalam sesebuah wacana sehingga menjadi satu
teks yang bermakna. Koherensi merupakan asas dalam pengembangan wacana karena
tanpa makna, teks tidak dianggap sebagai wacana.
4. Sasaran
Sebuah wacana perlu
mempunyai pendengar atau pembaca yang merupakan sasaran wacana tersebut.
Penentuan sasaran ini sangat penting sebab akan berpengaruh terhadap
keterpahaman wacana yang akan dibuat.
5. Pesan/isi
Setiap wacana perlu
mempunyai pesan/isi. Pesan atau isi wacana adalah pokok permasalahan yang ingin
disampaikan seorang pembuat wacana kepada sasaran wacana.
6. Keadaan
Sebuah wacana perlulah
sesuai dengan keadaan. Kesesuaian itu menjadikan wacana relevan dengan situasi
ujaran. Pemilihan kata, frasa dan susunan kalimat yang tepat sangat penting
untuk menjadikan sesuatu wacana itu sesuai dengan keadaan.
7. lnterteks
lnterteks artinya sebuah
wacana bergantung kepada wacana yang lain. Melalui interteks, sebuah wacana Iebih
mudah dipahami oleh pembaca atau pendengar
B.
Konsep
Analisis Wacana
Analisis wacana sebagai
disiplin ilmu dengan metodologi yang eksplisit dapat dikatakan baru benar-benar
berkembang pada awal tahun 1970-an. Banyak konsep teoretisnya bersumber pada teori-teori
klasik yang berkembang lebih dari 2.000 tahun lampau dengan teori strukturalisme
daiam linguistik, puitik, antropologi, dan psikologi dari akhir tahun 1960-an yang
pada gilirannya diilhami oleh pikiran-pikiran para formalis Rusia dan strukturalis
Ceko.
lstilah analisis wacana pertama
kali diperkenalkan dalam linguistik oleh Zelling S. Harris (1952) yang megawali
pencarian terhadap kaidah—kaidah bahasa yang akan menjelaskan bagaimana
kalimat-kalimat dalam suatu teks dihubungkan oleh semacam tata bahasa yang
diperluas. (Oetomo, 1993: 6).
Analisis wacana, dalam
arti paling sederhana adalah kajian terhadap satuan bahasa di atas kalimat.
Lazimnya, perluasan ani istilah ini dikaitkan dengan konteks lebih luas yang
mempengaruhi makna rangkaian ungkapan secara keseluruhan. Para analis wacana
mengkaji bagian lebih besar bahasa ketika mereka saling bertautan. Beberapa
analis wacana mempertimbangkan konteks yang lebih luas Iagi untuk memahami
bagaimana konteks itu mempengaruhi makna kalimat.
Sebagaimana telah
disebut, analisis wacana tidak hanya mengemuka dalam kajian bahasa, tetapi juga
dalam berbagai Iapangan kajian lain. Kalau dalam linguistik, analisis wacana
menunjuk pada kajian terhadap satuan bahasa di atas kalimat yang memusatkan perhatian
pada aras Iebih tinggi dari hubungan ketatabahasaan (grammatical), dalam
sosiologi, analisis wacana merujuk pada kajian hubugan konteks sosial dengan
pemakaian bahasa. Kalau dalam psikologi sosial, analisis wacana merujuk pada
kajian terhadap struktur dan bentuk percakapan atau wawancara, dalam ilmu politik,
analisis wacana merujuk pada kajian terhadap praktik pemakaian bahasa dan tali-temalinya
dengan kekuasaan. Tampak jelas, wacana digunakan dalam lapangan kajian apa pun,
istilah analisis wacana niscaya menyertakan telaah bahasa dalam pemakaian.
Selanjutnya, apa yang
harus dipersiapkan oleh seorang analis wacana dalam menganalisis wacana? Secara
Iebih spesifik, piranti apa saja yang digunakan untuk memahami wacana? Ada
beberapa piranti: (i) konteks situasi, (ii) prinsip interpretasi lokal dan
analogi, (m) deiksis, (iv) implikatur, (v) pranggapan, (vi) inferensi, (vii)
referensi, (vm) pengetahuan tentang dunia pada umumnya. Dengan pemahaman
konteks, pada ujaran (1 ) seorang pendengar dapat memahami referensi yang
dimaksud pembicara yang menjadi rekan kerja.
1. Gado-gado
meja 3, rawon meja 7, pecel meja 4. Seorang pelayan yang mendengar perintah
majikannya memahami bahwa orang yang duduk di meja 3 adalah pemesan gado-gado,
dan sebagainya. Jadi, ”gad0-gado” pada (3) dipahami sebagai "pemesan gado-gad0”
atau dengan kata Iain "pemesan gado-gado” itulah yang merupakan referensi
yang dikehendaki oleh kepala pelayan. Demikian juga, ujaran (4) dan (5) berikut
bagi seorang ibu rumah tangga sangat jelas apa referensinya.
2. Bu,
ayamnya lepas lagi.
3. Ayamnya
tadi dimasak apa Ti, kok nggak sedang seperti biasanya? Referensi ayam pada (2)
dan (3) berbeda. Kata ”lepas” pada (2) mengarahkan pendengar untuk
menginterpretasikan ayam sebagai sejenis burung yang dipelihara karena telur
atau dagingnya. Kata ”dimasak” pada (3) mengarahkan pendengar untuk
menginterpretasikan bahwa ayam yang dimaksud bukan ayam seperti (2) yang masih
hidup, tetapi ayam yang sudah disembelih, yang sudah dibersihkan bulu bulunya,
dan ayam yang sekarang sudah dimasak. Demikian juga, ayam pada contoh (4)
memiliki referensi yang tidak sama.
4. Ayam
1 dicuci sampai bersih lalu dipotong-potong. Taruh ayam2 itu di dalam wajan.
Semua bahan bumbu ditumbuk halus. Setelah itu tuangkan 1 gelas air pada bambu
dan aduk sampai rata. Tuangkan bumbu itu pada ayam3.Tutup wajannya dan rebus
sampai airnya habis. Selama merebus, ayam 4 perlu diaduk sesekali agar bumbunya
merata.Sete|ah airnya habis, angkat dan tiriskan ayam 5 itu. Setelah itu
gorenglah. Minyak untuk menggoreng harus banyak dan panas. Jika ayam6 sudah
berwarna kuning angkat dengan serok yang halus. (dikutip dari Martutik, 2001:
31) Kata ayam (1——6) pada (6) memiliki referensi yang tidak sama. Ayam pada (1)
merujuk pada ‘ayam yang sudah disembelih, sudah dibului’, sedangkan ayam pada
(2) merujuk pada ’ayam yang sudah disembelih, sudah dibului, dan sudah
dipotong-potong. Referensi ayam pada (3), (4), (5), dan (6) tentu saja berbeda.
Berdasarkan uraian
tersebut, analisis wacana menginterpretasi makna sebuah ujaran dengan
memperhatikan konteks, sebab konteks menentukan makna ujaran. Konteks meliputi
konteks Iinguistik dan konteks etnografi. Konteks Iinguistik berupa rangkaian
kata-kata yang mendahului atau yang mengikuti, sedangkan konteks etnografi berbentuk
serangkaian ciri faktor etnografi yang melingkupinya, misalnya faktor budaya
masyarakat pemakai bahasa. Manfaat melakukan kegiatan analisis wacana adalah
memahami hakikat bahasa, memahami proses belajar bahasa dan perilaku berbahasa.
C.
Munculnya
lstilah Wacana
Secara etimologis kata
”wacana” (discourse) berasal dari bahasa Latin, discurrere (mengalir ke sana ke
mari) dari nominalisasi kata discursus (mengalir secara terpisah yang
ditransfer maknanya menjadi ”ter|ibat dalam sesuatu", atau memberi
informasi tentang sesuatu). Dalam bahasa Latin, abad pertengahan, kata
discursus selain berarti percakapan, perdebatan yang aktif, dan juga keaktifan
berbicara, kata ini juga berarti orbit dan lalu lintas (Vogt dalam Titscher
dkk, 2000).
Thomas Aquinas merupakan
orang yang pertama kali menggunakan istilah tersebut dalam bidang filsafat. lstilah
Wacana dalam kajian linguistik diperkenalkan oleh Zelling Harris pada tahun
1952 yang mengawali pencarian terhadap kaidah- kaidah bahasa yang akan
menjelaskan bagaimana kalimat-kalimat dalam suatu teks dihubungkan oleh semacam
tata bahasa yang diperluas. Metode tersebut pada awalnya ditujukan untuk mencari
korelasi antara bahasa dan budaya. Saat ini istilah Wacana (discourse) telah
digunakan baik dalam arti terbatas maupun luas. Secara terbatas, istilah
tersebut merujuk pada aturan-aturan dan kebiasaan-kebiasaan yang mendasari
penggunaan bahasa baik dalam komunikasi lisan maupun tulisan. Secara lebih
luas, istilah wacana menunjuk pada bahasa dalam tindakan serta pola-pola yang
menjadi ciri jenis-jenis bahasa dalam tindakan.
Kemunculan istilah wacana
tersebut sebenarnya merupakan rangkaian pemikiran dari para linguis yang
diilhami oleh pandangan-pandangan Halliday. Akar pandangan Halliday yang
pertama adalah bahasa sebagai semiotika sosial. Hal ini berarti bahwa
bentuk-bentuk bahasa mengkodekan (encode) representasi dunia yang
dikonstruksikan secara sosial.
Halliday lmemberi tekanan
pada keberadaan konteks sosial bahasa, yakni fungsi sosial yang menentukan
bentuk bahasa dan bagaimana perkembangannya (Halliday, 1977, 1978; Halliday
& Hasan, 1985) Bahasa sebagai salah satu dari sejumlah sistem makna yang lain-seperti
tradisi, sistem mata pencaharian, dan sistem sopan santun secara bersama—sama
membentuk budaya manusia. Halliday mencoba menghubungkan bahasa terutama dengan
satu segi yang penting bagi pengalaman manusia, yakni segi struktur sosial. Formulasi
"bahasa sebagai semiotik sosial” berarti menafsirkan bahasa dalam konteks
sosiokultural tempat kebudayaan itu sendiri ditafsirkan dalam terminologis
semiotis sebagai sebuah ”sistem informasi". Dalam level yang amat konkret,
bahasa itu tidak berisi kalimat-kalimat, tetapi bahasa itu berisi ”teks” atau
"wacana", yakni pertukaran makna (exchange of meaning) dalam konteks
interpersonal. Mengkaji bahasa hakikatnya mengkaji teks atau wacana.
Konteks tuturan itu
sendiri sebuah konstruk semiotis yang memiliki sebuah bentuk yang memungkinkan
partisipan memprediksikan fitur-fitur register yang berlaku untuk memahami
orang lain. Melalui tindakan pemaknaan (act of meaning) sehari-hari, masyarakat
memerankan struktur sosial, menegaskan status dan peran yang dimilikinya, serta
menetapkan dan mentransmisikan sistem nilai dan pengetahuan yang dibagi.
Kajian bahasa sebagai
semiotik sosial dalam pandangan Halliday (1977:1341; 1978:108-126) mencakup
sub-sub kajian: (1) teks, (2) trilogi konteks situasi (medan wacana, pelibat
wacana, dan modus wacana), (3) register, (4) kode, (5) sistem lingual, yang
mencakup komponen ideasional, interpersonal, dan
tekstual, serta (6) struktur sosial.
Pandangan-pandangan
Halliday ini kemudian banyak dikembangkan oleh para ahli bahasa dalam mengkaji
wacana secara lebih lanjut. Dalam pandangan Fairclough (1995), wacana dipahami
sebagai sebuah tindakan.Wacana adalah bentuk interaksi. Wacana tidak
ditempatkan dalam ruang yang tertutup dan internal. Tidak ada wacana yang vakum
sosial.
Hal ini mengandung dua
implikasi. Pertama, wacana dipandang sebagai sesuatu yang bertujuan, apakah
untuk mempengaruhi, membujuk, menyanggah, mempersuasif. Seseorang yang berbicara
atau menulis selalu mempunyai tujuan, besar atau kecil. Kedua, wacana dipahami
sebagai sesuatu yang diekspresikan secara sadar, terkontrol, bukan sesuatu yang
di luar kendali atau diekspresikan di Iuar kesadaran. Tidak ada wacana yang
lahir tanpa disadari sepenuhnya oleh penuturnya.
Samsuddin (1992)
mengatakan bahwa wacana merupakan unit bahasa yang paling lengkap unsurnya.
Wacana tidak hanya didukung oleh unsur-unsur segmental dari suatu bahasa
seperti kalimat, morfem, fonem, tetapi juga didukung oleh unsur nonsegmental
dan suprasegmental, seperti situasi, ruang, waktu pemakaian, tujuan pemahaman
bahasa, pemakai bahasa itu sendiri, intonasi, tekanan, makna, perasaan
berbahasa, dan penutur atau pembicaranya.
D.
Perkembangan
Analisis Wacana
Analisis wacana sebagai
disiplin ilmu dengan metodologi yang eksplisit dapat dikatakan baru benar-benar
berkembang pada awal tahun 1970-an dan bersumber pada tradisi keilmuan Barat.
lstilah analisis wacana muncul sebagai upaya untuk menghasilkan deskripsi
bahasa yang lebih lengkap sebab terdapat fitur-fitur bahasa yang tidak cukup
jika hanya dianalisis dengan menggunakan aspek struktur dan maknanya saja. Oleh
karena itu, melalui analisis wacana dapat diperoleh penjelasan mengenai
korelasi antara apa yang diujarkan, apa yang dimaksud, dan apa yang dipahami dalam
konteks tertentu. Analisis wacana mérupakan pendekatan yang mengkaji relasi
antara bahasa dengan konteks yang melatarbelakanginya. Dengan demikian,
analisis wacana mampu memberikan penjelasan tentang latar sosial dan latar
budaya penggunaan suatu bahasa. Dengan kata lain, analisis wacana mampu meneliti
bahasa lebih dari sekedar menggambarkannya, tetapi dapat pula membantu untuk
memahami aturan- aturannya yang menjadi bagian dari pengetahuan pengguna bahasa
yang tercermin dalam komunikasi sehari-harinya.
Analisis wacana, dalam
arti paling sederhana adalah kajian terhadap satuan bahasa di atas kalimat. Lazimnya,
perluasan arti istilah ini dikaitkan dengan konteks lebih Iuas yang
mempengaruhi makna rangkaian ungkapan secara keseluruhan secara keseluruhan.
Para analis wacana mengkaji bagian lebih besar bahasa ketika mereka sal ing
bertautan. Beberapa analis wacana mempertimbangkan konteks yang lebih luas lagi
untuk memahami bagaimana konteks itu mempengaruhi makna kalimat.
Sebagaimana telah
disebut, analisis wacana tidak hanya mengemuka dalam kajian bahasa, tetapi juga
dalam berbagai lapangan kajian lain. Kalau dalam linguistik, analisis wacana
merujuk pada kajian terhadap satuan bahasa di atas kalimat yang memusatkan
perhatian pada arah lebih tinggi dari hubungan ketatabahasaan (grammatical),
dalam sosiologi, analisis wacana menunjuk pada kajian hubungan konteks sosial
dengan pemakaian bahasa. Kalau dalam psikologi sosial, analisis wacana menunjuk
pada kajian terhadap struktur dan bentuk percakapan atau wawancara, dalam ilmu
politik, analisis wacana menunjuk pada kajian terhadap praktik pemakaian bahasa
dan tali-temalinya dengan kekuasaan.
Tampak jelas, analisis
wacana bila digunakan dalam lapangan kajian apa pun, istilah ini tetap
menyertakan telaah bahasa dalam pemakaian. Dalam perkembangannya analisis wacana
banyak dikembangkan oleh para ilmuwan Eropa seperti: Foucault, Fairclough, dan
Van Dijk. Pusat-pusat perkembangannya antara lain di Prancis, lnggris, Belanda,
Jerman, Austria, dan Australia. Michael Foucault adalah salah satu pemikir yang
memiliki peran sentral dalam proses mengembangkan teori wacana. Dalam studinya,
la memperlihatkan bahwa manusia muncul karena susunan kata-kata dan benda yang
diubah-ubah. Lebih lanjut dijelaskan bahwa, sepenggal masa yang disebut
modernitas ini menghasilkan susunan yang memberi tempat istimewa pada diri
manusia yang sadar diri. Susunan yang dimaksudkan Foucault adalah keretakan
hubungan subyek (kata-kata) dan obyek (benda-benda) yang karena suatu hal
diutuhkan kembali. Suatu hal yang membuat keretakan hubungan subyek dan obyek
diutuhkan kembali adalah kekuasaan dan kekuasaan itu diproduksi oleh wacana.
Bagaimana wacana diproduksi, siapa yang memproduksi dan apa efek pnoduksi
wacana? Yang bisa menjawab pertanyaan di atas adalah konsep wacana Michael Foucault.
Dalam konsepnya Foucault tidak memandang wacana sebagai serangkaian kata atau
preposisi dalam teks tetapi memproduksi yang lain (sebuah gagasan, konsep atau
efek). Wacana secara sistematis dalam ide, opini, konsep dan pandangan hidup
dibentuk dalam konteks tenentu sehingga mempengaruhi cara berpikir dan bertindak.
Wacana dalam pandangan Foucault adalah transaksi kekuasaan, ia melihat
kekuasaan ada dimana-mana, termasuk teks.
Pelaksanaan kekuasaan
tidak bisa lepas dari rezim wacana dan setiap wacana mempunyai klaim kebenaran,
maka kita harus selalu waspada terhadap perubahan, naik-turunnya makna wacana. Dalam
pandangan Fairclough (1995), wacana dipahami sebagai sebuah tindakan. Wacana
adalah bentuk interaksi. Wacana tidak ditempatkan dalam ruang yang tertutup dan
internal. Tidak ada wacana yang vakum
sosial. Hal itu mengandung dua implikasi.
Penama, wacana dipandang sebagai sesuatu yang bertujuan apakah untuk
memengaruhi, membujuk, menyanggah, memersuasif. Seseorang yang berbicara atau
menuiis selalu mempunyai tujuan besar atau kecil. Kedua, wacana dipahami
sebagai sesuatu yang diekspresikan secara sadar, terkontrol, dan bukan sesuatu
yang di luar kendali atau diekspresikan di luar kesadaran.
Tidak ada wacana yang
lahir tanpa disadari sepenuhnya oleh penutur atau pembicaranya. Selanjutnya,
Van Dijk meneliti wacana tidak cukup hanya didasarkan pada analisis teks
semata, karena teks hanya hasil dari suatu praktik produksi yang harus juga
diamati. Melalui berbagai kauyanya, Van Dijk membuat
kerangka analisis wacana yang dapat
didayagunakan. Dalam hal ini Van Dijk membagi wacana ke dalam tiga tingkatan.
1. Struktur
makro. lni merupakan makna global/umum dari suatu teks yang dapat dipahami
dengan melihat topik dari suatu teks. Tema wacana ini bukan hanya isi, tetapi
juga sisi tertentu dari suatu peristiwa.
2. Superstruktur,
adalah kerangka suatu teks: bagaimana stuktur dan elemen wacana itu disusun
dalam teks secara utuh.
3. Stuktur
mikro, adalah makna wacana yang dapat diamati dengan menganalisa kata, kalimat,
preposisi, anak kalimat, parafrase yang dipakai dan sebagainya.
E.
Wacana
Berdasarkan Bentuk
Sejumlah ahli telah
membuat penjelasan tentang wacana secara beragam, demikian pula halnya apabila
mengklasifikasikan sebuah wacana. Keragaman itu disebabkan oleh perbedaan sudut
pandang mereka yang dijadikan dasar dalam mengklasifikasikan wacana.
Berdasarkan bentuk atau jenisnya, wacana dibedakan menjadi wacana naratif,
deskriptif, ekspositoris, persuasif dan argumentatif.
1. Wacana
naratif adalah wacana yang menceritakan suatu atau beberapa peristiwal
kejadian, seperti roman, novel, memoar, cerita dalam buku suci yang mengandung
ajaran, dongeng, biografi, dan autobiografi.
2. Wacana
deskriptif adalah wacana yang menggambarkan sebuah tempat atau seseorang.
3. Wacana
ekspositoris adalah wacana yang bertujuan untuk menganalisis sebuah fenomena
atau sebuah gagasan agar dipahami oleh pembaca dengan memberikan penjelasan dan
penegasan. Dalam dunia pendidikan, wacana ini bertujuan untuk mengingat apa
yang sudah diterangkan dan untuk mentransfer pengetahuan.
4. Wacana
persuasif ialah wacana yang ditujukan untuk menunjukkan, membuktikan, dan
meyakinkan pembaca.
5. Wacana
argumentatif yaitu wacana yang bertujuan untuk mempertahankan tesis dengan
memberikan argumen dan contoh dengan kata lain menggunakan argumentasi.'
Suparnodan Yunus (2008: 1 O-1 3) mengungkapkan bahwa suatu tulisan atau wacana
secara umum mengandung dua hal, yaitu isi dan cara pengungkapan atau penyajian.
Keduanya saling mempengaruhi. Substansi sebuah tulisan dan tujuan penulisan
akan menentukan cara pengungkapan apakah Iebih bersifat formal atau informal
dan ragam wacana yang akan digunakan apakah Iebih bersifat naratif,
ekspositoris, argumentatif, atau persuasif. Begitu pula, ragam wacana yang akan
dipilih akan mempengaruhi isi, jenis informasi, dan pengorganisasian,
pengungkapan, dan tata saji tulisan.
Berdasarkan kedua
pendapat di atas, wacana dapat disajikan dalam lima bentuk atau ragam yakni
deskripsi, narasi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi. Kenyataannya, masing-
masing bentuk itu tidak selalu dapat berdiri sendiri. Misalnya, dalam sebuah wacana
narasi mungkin bisa saja terdapat bentuk deskripsi atau eksposisi. Dalam wacana
eksposisi bisa saja terkandung bentuk deskripsi dan narasi. Begitulah
seterusnya. Penanaman ragam suatu wacana Iebih didasarkan atas corak yang
paling dominan pada wacana tersebut. Guna Iebih memahami kelima bentuk wacana,
maka di bawah ini akan diuraikan definisi, karakteristik, dan pengembangan
kelima bentuk wacana tersebut.
1. Deskripsi
(Pemerian)
Wacana yang bagaimana
yang dapat membawa pikiran dan perasaan pembaca untuk memahami-dan menghayati
Qbjek yang dituliskan dalam wacana seolah-olah pembaca itu mengalaminya
sendiri? Deskripsi adalah ragam wacana yang melukiskan atau menggambarkan
sesuatu yang berdasarkan kesan-kesan dari pengamatan, pengalaman, perasaan penulisnya.
Sasarannya adalah menciptakan atau memungkinkan terciptanya imajinasi (daya
khayal) pembaca sehingga dia seolah-olah melihat, mengalami, dan merasakan
sendiri apa yang dialami penulisnya.
Deskripsi adalah suatu
bentuk wacana yang melukiskan sesuatu sesuai
dengan keadaan sebenarnya, sehingga pembaca
dapat mencitrai (melihat, mendengar, mencium, dan merasakan) apa yang dilukiskan
itu sesuai dengan citra penulisnya Agar deskripsi wacana menjadi hidup, perlu
kita Iukiskan bagian- bagian yang penting sedetil mungkin. jika kita melukiskan
betapa ngerinya di hutan, maka situasi hutan yang dapat menimbulkan kengerian
itu harus dilukiskan selengkap-lengkapnya sehingga pembaca dapat membayangkan bagaimana
jika dia sendiri yang tersesat di hutan. Dengan demikian, dalam menulis deskripsi
yang baik dituntut tiga hal.
a.
Kesanggupan berbahasa kita yang memiliki
kekayaan nuansa dalam bentuk.
b.
Kecermatan pengamatan dan keluasan pengetahuan
kita tentang sifat, ciri, dan wujud objek yang dideskripsikan.
c.
Kemapuan kita memilih detil khusus yang
dapat menunjang ketepatan dan keterhidupan deskripsi (Akhadiah, 1997).
2. Narasi
(Penceritaan atau Pengisahan)
Narasi adalah ragam
wacana yang menceriterakan proses kejadian suatu preristiwa. Wacana ini
berusaha menyampaikan urutan terjadinya (kronologis), dengan maksud memberi
arti kepada sebuah kajian atau serentetan kejadian, dan agar pembaca dapat
memetik hikmah dari cerita itu. Sasarannya adalah memberikan gambaran yang
sejelas-jelasnya kepada pembaca mengenai fase, langkah urutan, atau rangkaiap
terjadinya sesuatu hal. Bentuk wacana ini dapat kita temukan misalnya pada
karya prosa atau drama, biografi atau autobiografi, laporan peristiwa, serta
resep atau cara membuat dan melakukan sesuatu hal.
3. Eksposisi
(Paparan)
Eksposisi adalah ragam wacana
yang dimaksudkan untuk menerangkan, menyampaikan, atau menguraikan sesuatu hal
yang dapat memperluas atau menambah pengetahuan dan pandangan pembacanya.
Sasarannya adalah menginformasikan sesuatu tanpa ada maksud mempengaruhi
pikiran, perasaan, dan sikap pembacanya. Fakta dan ilustrasi yang disampaikan penulis
sekedar memperjelas apa yang akan disampaikannya.
4. Argumentasi
(Pembahasan atau Pembuktian)
Argumentasi adalah ragam
wacana yang dimasksudkan untuk meyakinkan pembaca mengenai kebenaran yang disampaikan
oleh penulisnya. Karena tujuannya meyakinkan pendapat atau pemikiran pembaca,
penulis akan menyajikan secara logis, kritis, dan sistematis bukti- bukti yang
dapat memperkuat keobjektifan dan kebenaran yang disampaikannya sehingga dapat
menghapus konflik dan keraguan pembaca terhadap pendapat penulis. Corak wacana
sepeni ini adalah haéil penilaian, pembelaan, dan timbangan buku.
5. Persuasi
Persuasi adalah ragam
wacana yang ditujukan untuk mempengaruhi sikap dan pendapat pembaca mengenai
sesuatu hal yang disampaikan penulisnya. Berbeda dengan aggumentasi yang
pendekatannya bersifat rasional dan diarahkan untuk rnencapai suatu kebenaran,
persuasi lebih menggunakan pendekatan emosional. Seperti argumentasi, persuasi juga
menggunakan bukti atau fakta. Hanya saja, dalam persuasi bukti-bukti itu
digunakan seperlunya atau kadang-kadang dimanipulasi untuk menimbulkan
kepercayaan pada diri pembaca bahwa apa yang disampaikan penulis itu benar.
Contoh, wacana ini adalah propaganda, iklan, selebaran, atau kampanye.
F.
Wacana
Berdasarkan Pemaparan dan Penyusunan, lsi, dan Sifatnya
Ditinjau dari segi
pemaparan dan penyusunan, isi dan sifatnya, wacana itu banyak jenisnya.
Beberapa di antaranya adalah wacana yang besifat naratif, prosedural,
hortatorik, ekspositorik dan deskriptif. Hal ini dikemukakan oleh Llamzon, 1984
(Syamsuddin, 1992: 9) sebagai berikut.
1. Wacana
Naratif
Wacana ini merupakan
tuturan yang menceritakan atau menyajikan suatu hal atau suatu kejadian dengan
menonjolkan tokoh pelaku, maksudnya untuk memperluas pengetahuan pendengar atau
pembaca. Kekuatan wacana ini terletak pada urutan cerita berdasarkan waktu dan
cara-cara bercerita, atau diatur melalui plot.
2. Wacana
Prosedural
Wacana ini merupakan
rangkaian tuturan yang melukiskan sesuatu secara berurutan yang tidak boleh
dibolak-balik unsurnya, karena urgensi unsur yang Iebih dahulu menjadi Iandasan
unsur berikutnya. Wacana ini biasanya disusun untuk menjawab pertanyaan
bagaimana sesuatu bekerja atau terjadi, atau bagaimana cara mengerjakan
sesuatu. Tokohnya boleh orang dan yang dilukiskannya tidak terikat dengan
urutan waktu.
3. Wacana
Hortatorik
Wacana ini merupakan
rangkaian tuturan yang isinya bersifat ajakan atau nasihat. Kadang-kadang
tuturan ini bersifat memperkuat keputusan atau agar Iebih meyakinkan. Yang menjadi
tokoh penting dalan wacana jenis ini adalah orang kedua. Wacana ini tidak dapat
disusun berdasarkan urutan waktu, tetapi merupakan hasil atau produksi suatu
waktu.
4. Wacana
Ekspositorik
Wacana ini merupakan
rangkaian tuturan yang bersifat memaparkan suatu pokok pikiran. Pokok pikiran
itu Iebih diji-zlaskannya lagi dengan cara menyampaikan uraian bagian-bagian
atau detilnya. Tujuan pokok yang ingin dicapai pada wacana ini adalah
tercapainya pemahaman akan sesuatu supaya Iebih jelas, mendalam, dan Iuas
daripada sekedar pertanyaan yang bersifat global atau umum. Kadang-kadang
wacana itu dapat berbentuk ilustrasi dengan contoh, berbentuk perbandingan, berbentuk
uraian kronologis, dan dengan penentuan ciri-ciri (identifikasi). Orientasi
pokok wacana ini Iebih pada materi, bukan pada tokohnya.
5. Wacana
Deskriptif
Wacana ini merupakan
rangkaian tuturan yang memaparkan sesuatu atau melukiskan sesuatu, baik
berdasarkan pengalaman maupun pengetahuan penuturnya. Tujuan yang ingin dicapai
oleh wacana ini adalah tercapainya penghayatan yang agak imajinatif terhadap
sesuatu, sehingga pendengar atau pembaca merasakan seolah-olah ia sendiri mengalami
atau mengetahuinya secara lansung. Uraian pada wacana deskriptif ini ada yang
memaparkan sesuatu secara objektif dan ada juga yang mamaparkannya secara
imajinatif. Pemaparan yang pertama bersifat menginformasikan sebagaimana apa
adanya, sedangkan yang kedua dengan menambahkan daya khayal. Oleh karena itu,
yang kedua itu banyak dijumpai dalam karaya sastra, seperti novel, dan cerpen.
1. Wacana
Berdasarkan Jumlah Penutur
Berdasarkan jumlah
penuturnya, wacana dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu wacana monolog dan
wacana dialog (
a. Wacana
dialog
Wacana dialog adalah
wacana yang dibentuk oleh percakapan atau pembicaraan dalam telepon, wawancara,
teks drama, dan sebagainya. Ada sepuluh unsur aspek pengkajian pércakapan
dengan tambahan unsur kohesi dan koherensi. Komponen analisis meliputi analisis
wacana dialog, yang membahas unsur dialog, seperti kerja sama percakapan, tindak
tutur (speech acts); penggalan percakapan (adjacency pairs); pembukaan dan
penutupan percakapan; percakapan Ianjutan (repairs); sifat rangkaian
percakapan; unsur tata bahasa percakapan; alih kode (code switch); giliran
percakapan (turn talkings); dan topik percakapan.
b. Wacana
monolog
Wacana monolog adalah
wacana yang tidak melibatkan suatu bentuk tutur percakapan atau pembicaranan
dua pihak yang berkepentingan. Yang ternasuk pada jenis monolog adalah semua
bentuk teks, surat, bacaan, cerita dan sebagainya. Hal-hal yang penting yang
menjadi bahan analisis wacana monolog dapat dikelompokkan sebagai berikut.
1) Hal-hal
yang berhubungan dengan rangkaian dan kaitan tuturan (kohesi dan koheren).
2) Hal-hal
yang berhubungan dengan penunjukan atau perujukan (referensi) –
3) Hal-ha!
yang berhubungan dengan pola pikir dan pengembangan wacana (topik dan
pengembangan logika).
Pembahasan tentang jenis
wacana dijelaskan pula oleh Tarigan (1987: 1 1-12) yang mengklasifikasikan
wacana berdasarkan aspek bentuk wacana yaitu terdiri atas wacana prosa, wacana
puisi. Wacana prosa merupakan wacana yang disampaikan dalam bentuk prosa dan
dapat berupa wacana langsung atau tidak langsung, pembeberan atau penuturan,
atau lisan dan tulisan. Contoh wacana ini adalah novel, cerpen, artikel, kertas
kerja, skripsi, tesis, disertasi atau surat. Wacana puisi adalah wacana yang
disampaikan dalam bentuk drama atau dialog, baik secara lisan atau tertulis.
2. Wacana
Berdasarkan Media Komunikasinya
Jenis wacana ditinjau
dari segi media komunikasi meliputi wacana Iisan dan wacana tulisan. Wacana
Iisan dapat berupa a) sebuah percakapan atau dialog yang Iengkap dari awal sampai
akhir, misalnya satu obrolan singkat dalam satu situasi; b) suatu penggalan
ikatan percakapan dalam rangkaian percakapan yang lengkap yang telah
menggambarkan suatu situasi, maksud, dan rangkaian penggunaan bahasa.
Wacana tulisan dapat
berupa a) sebuah teks tertulis yang dibentuk oleh lebih dari satu alinea
menggunakan sesuatu secara berurutan dan utuh, misalnya sebuah cerita, sebuah
uraian sepucuk surat dan sebagainya; b) sebuah alinea merupakan sebuah wacana
apabila teks itu hanya terdiri dari satu alinea, atau apabila kandungan sebuah
alinea itu memiliki kesatuan misi korelasi dan situasi yang utuh; c) sebuah
wacana mungkin dapat dibentuk oleh sebuah kalimat majemuk beranak cucu atau
dengan kalimat mejemuk rapatan atau sistem elips unsur tertentu.
Bertemali dengan konsep
tersebut, begitu pula Alwi dkk (1998: 420) membagi jenis wacana menjadi wacana
Iisan dan wacana tulisan. Wacana Iisan menekankan interaksi di antara para
pembicara melalui tanya jawab, misalnya, pasien dan dokter, polisi dan tersangka
atau jaksa dan terdakwa. Wacana ini mementingkan isi yang dapat berupa pidato,
ceramah, dakwah, kuliah, atau deklamasi. Wacana tulisan bersifat interaksi,
antara Iain, berupa polemik, surat menyurat antarilmuwan, sastrawan, sahabat, dan
dua kekasih. Wacana ini juga bersifat transaksi yaitu berupa instruksi, pemberitahuan,
pengumuman, iklan, surat, undangan, makalah, essai, cerita pendek, novel.
Apapun bentuknya, wacana mengandaikan
adanya penyapa dan pesapa (orang yang disapa). Dalam wacana Iisan penyapa ialah
pembicara dan pesapa ialah pendengar. Dalam wacana tulisan penyapa ialah
penulis, sedangkan pesapa ialah pembaca.
Sejalan dengan pendapat
sebelumnya, Wodak flitscher, Stefan dkk, 2000: 44-45) menyatakan secara realitas,
wacana dapat dibagi dalam dua jenis yaitu wacana tulisan (teks) dan wacana
tuturan (Iisan). Lebih lanjut Wodak (Titscher, Stefan dkk, 2000: 36- 39)
menjelaskan bahwa wacana tulisan memiliki ciri- ciri sebagai berikut.
a. Kohesi,
hubungan di antara unsur-unsur permukaan.
b. Koherensi,
hubungan semantik.
c. lntensionalitas,
hubungan sikap dan tujuan penulis teks.
d. Akseptabilitas,
kesiapan pembaca untuk memperoleh sebuah teks yang berguna atau relevan.
e. lnformativitas,
kuantitas informasi yang baru atau yang diharapkan dalam sebuah teks.
f.
Situasionalitas, konstelasi pembicaraan
dan situasi tuturan berperan penting dalam pembuatan teks.
g. lntertekstualitas,hubungan
antara teks yang satu dengan teks yang lainnya.
Sedikit berbeda dengan
pendapat di atas, Darma (2009: 4) menyatakan bahwa pada dasarnya, wujud dan
jenis wacana dapat ditinjau dari sudut realitas, media komunikasi, cara pemaparan
dan jenis pemakaian. Jenis wacana ditinjau dari segi realitas meliputi wacana
kebahasaan dan wacana nonkebahasaan. Wacana kebahasaan dapat berupa tulisan
(text), ucapan (talk), tindakan (act) atau peninggalan (artefact). Sedangkan
wacana nonkebahasaan dapat berupa rangkaian isyarat dan rangkaian tanda yang meliputi:
a.
syarat dengan gerak-gerik sekitar kepala
atau muka (gerakan mata, gerakan bibir, gerakan kepala, dan mimik).
b.
syarat melalui gerak-gerik anggota tubuh
Iain (gerakan tangan, gerakan kaki, gerakan seluruh anggota tubuh); dan
c.
tanda-tanda yang bemakna bahasa, yaitu
tanda-tanda bermakna yang terdapat dalam rambu-rambu lalu lintas, bunyi
kentongan, bunyi terompet, dan sebagainya.
a. Teks
tertulis
Pengertian “teks” sebagai
rekaman cetak sudah dikenal penyelidikan kesusastraan. Sebuah ”teks” mungkin
disajikan secara berbeda pada edisi-edisi yang berbeda pula, dengan bentuk huruf
yang berbeda, pada ukuran kertas yang berbeda, dalam satu atau dua kolom, dan
dari satu edisi ke edisi berikutnya kita masih menganggap bahwa sajian yang berbeda-beda
itu merealisasikan “teks” yang sama.
Pentinglah untuk
diperhatikan apa tepatnya yang ’sama’ itu. Paling sedikit, kata-katanya
mestilah kata-kata yang sama, disajikan dengan urutan yang sama. Di mana ada
bacaan teks yang diragukan, editor biasanya merasa wajib memberi ulasan tentang
bagian yang paling sukar dipecahkan.
b. Teks
lisan
Masalah-masalah yang kita
jumpai sehubungan dengan pengertian ’teks’ sebagai rekaman verbal tindak
komunikasi menjadi jauh lebih kompleks apabila kita pikirkan apa yang dimaksud
dengan ’teks’ lisan.
Harus jelas bahwa
definisi ‘teks’ yang sederhana sebagai ’rekaman verbal tindak komunikasi'
memerlukan sekurang- kurangnya dua batas, yaitu sebagai berikut.
1) Realisasi
teks yang disajikan untuk dibicarakan, terutama yang melibatkan realisasi
tertulis teks lisan, mungkin berupa analisis pendahuluan (dan dari dini
tafsiran) bagian wacana oleh penganalisis wacana yang menyajikan teks itu
untukdipertimbangkan
2) Ciri-ciri
produksi asli bahasa, misalnya tulisan tangan yang goyah atau wicara yang
gemetar, agak semena-mena dianggap sebagai ciri-ciri teks dan bukan ciri-ciri konteks
tempat bahasa diproduksi.
Kenyataannya, wujud dari
bentuk wacana itu dapat dilihat dalam beragam buah karya pembuat wacana, yaitu:
a) text
(wacana dalam wujud tulisan/grafis) antara lain berupa berita, features,
artikel, opini, cerpen, novel;
b) talk
(wacana dalam wujud ucapan) antara lain berupa rekaman wawancara, obrolan,
pidato;
c) act
(wacana dalam bentuk tindakan) antara Iain berupa lakon drama, tarian, film,
defile, demonstrasi; .
d) artepack
(wacana dalam wujud peninggalan) antara lain berupa bangunan, lanskap, fashion,
puing.
Demikianlah telah
dikemukakan jenis-jenis wacana menurut sejumlah ahli. Sekilas terlihat
seolah-oiah ada perbedaan yang mencolok di antara mereka dalam
mengklasifikasikan wacana. Namun, jika dicermati mereka urnumnya hanya berbeda
dalam penggunaan istilah yang dijadikan sudut pandang dalam merinci jenis-jenis
wacana.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Analisis Wacana dalam studi linguistik merupakan reaksi dari bentuk
linguistik formal (yang lebih memperhatikan pada unit kata, frase, atau kalimat
semata tanpa melihat keterkaitan di antara unsur tersebut). Analisis wacana
adalah kebalikan dari linguistik formal, karena memusatkan perhatian pada level
di atas kalimat, seperti hubungan gramatikal yang terbentuk pada level yang
lebih besar dari kalimat. Analisis wacana dalam lapangan psikologi sosial
diartikan sebagai pembicaraan.
Wacana yang dimaksud di sini agak mirip dengan struktur dan bentuk
wawancara dan praktik dari pemakainya. Sementara dalam lapangan politik,
analisis wacana adalah praktik pemakaian bahasa, terutama politik bahasa.
Karena bahasa adalah aspek sentral dari penggambaran suatu subyek, dan lewat
bahasa ideologi terserap di dalamnya, maka aspek inilah yang dipelajari dalam
analisis wacana.
B.
Saran
Diharapkan
setelah membaca makalah ini, pembaca untuk lebih memahami mengenai analisis
wacana kritis dengan mengetahui syarat-syarat karya sastra terlebih dahulu
dengan menggunakan suatu pendekan serta model dalam analisis wacana kritis
tersebut.
DAFTAR
PUSTAKA
Darma,
Yoce Aliah. 2009. Analisis Wacana Kritis. Bandung: Yrama Widya.
Eritanto.2001.AnalisisWacana:PengantarAnalisisTeksMedia.Yogyakarta:LKiS.
Tarigan,
H.G. 1987. Pengajaran Analisis Wacana. Bandung: Angkasa.
Sobur, Alex.
2006. Analisis Teks Media. cet. ke-4. Jakarta: Remaja Rosdakarya.