Friday, February 3, 2017

Analisis Wacana Kritis



BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Analisis wacana sebagai salah satu disiplin ilmu dengan metodologi yang eksplisit dapat dikatakan sebagai ilmu baru karena perkembangannya baru dilihat pada awal tahun  70-an dan bersumber pada tradisi keilmuan Barat. Istilah analisis wacana muncul sebagai upaya untuk menghasilkan deskripsi bahasa yang lebih lengkap sebab terdapat unsur-unsur bahasa yang tidak cukup bila dianalisis dengan menggunakan aspek struktur dan maknanya saja.  Sehingga memalui analisis wacana dapat diperoleh penjelasan mengenai korelasi antara apa yang diujarkan, apa yang dimaksud dan apa yang dipahami dalam konteks tertentu.
Analisis wacana Kritis (AWK) adalah analisis bahasa dalam penggunaannya dengan menggunakan bahasa kritis. Analisis ini dipandang sebagai oposisi terhadap analisis wacana deskriptif yang memandang wacana sebagai fenomena teks bahasa semata, karena analisis jenis ini selain berupaya memperoleh gambaran tentang aspek kebahasaan, juga menghubungkannya dengan konteks, baik itu konteks sosial, kultural, ideologi dan domain-domain kekuasaan yang menggunakan bahasa sebagai alatnya.
Analisis wacana kritis ini terdapat tokoh-tokoh yang memiliki sudut pandang dan cara analisis yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Masing-masing pandangan tersebut hanya ditujukan pada satu pokok permasalahan yaitu Analisis wacana Kritis (Critical Discourse Analysis).
Sudut pandang para tokoh Analisis Wacana Kritis, terdapat pandangan bahwa wacana adalah alat bagi kepentingan kekuasaan, hegemoni, dominasi budaya dan ilmu pengetahuan.Untuk itu, dalam menganalisis wacana juga harus memperhatikan masalah ideologi dan sosio kultural yang melatarbelakangi penulisan suatu wacana.



B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Apakah yang dimaksud dengan konsep dasar wacana?
2.      bagaimana sejarah wacana dan analisis wacana?
3.      Apa saja jenis-jenis wacana?

C.   Tujuan Masalah
Adapun tujuan dari latar belakang yang telah dipaparkan sebagai berikut:
Untuk mengetahui pengertian konsep dasar wacana.
b.      Untuk mengetahui sejarah wacana dan analisis wacana.
c.       Untuk mengetahui jenis-jenis wacana.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Konsep Wacana
lstilah wacana dipakai oleh banyak kalangan mulai dari studi bahasa, psikologi, politik, komunikasi, sastra, dan sebagainya. Dalam pembelajaran, wacana merupakan disiplin ilmu baru yang muncul sekitar tahun 70-an. Sebetulnya apakah wacana itu? Wacana (discourse) berasal dari Bahasa Latin, discursus. Secara terbatas, istilah ini menunjuk pada aturan-aturan dan kebiasaan- kebiasaan yang mendasari penggunaan bahasa baik dalam komunikasi Iisan maupun tulisan. Secara lebih luas, istilah wacana menunjuk pada bahasa dalam tindakan serta pola-pola yang menjadi ciri jenis-jenis bahasa dalam tindalkan.
Definisi wacana klasik berasal dari asumsi-asumsi formalis (struktural) yang berpendapat bahwa wacana adalah ”bahasa di atas kalimat atau di atas k|ausa" (Stubs dalam Schiffrin, 2007: 28). Definisi wacana yang berasal dari paradigma formalis memandang wacana sebagai kalimat-kalimat, sementara paradigma fungsionalis memandang wacana sebagai penggunaan bahasa. Hubungan antara struktur dan fungsi pada umumnya adalah sebuah persoalan penting yang berhubungan dengan persoalan-persoalan lain yang penting bagi analisis wacana (Schiffrin, 2007: 24).
Sebagian besar analisis struktural terhadap wacana masa sekarang melihat
kalimat sebagai unit bagian dari wacana. Dalam pengertian linguistik, wacana adalah kesatuan makna (semantis) antarbagian di dalam suatu bangun bahasa. Oleh karena itu, wacana sebagai kesatuan makna dilihat sebagai bangun bahasa yang utuh karena setiap bagian di dalam wacana itu berhubungan secara padu. Selain dibangun atas hubungan makna antarsatuan bahasa, wacana juga terikat dengan konteks.
Konteks inilah yang dapat membedakan wacana yang digunakan sebagai pemakaian bahasa dalam komunikasi dengan bahasa yang bukan untuk tujuan komunikasi. Menurut Hawthorn (1992) wacana adalah komunikasi kebahasaan
yang terlihat sebagai sebuah pertukaran di antara pembicara dan pendengar, sebagai sebuah aktivitas personal di mana bentuknya ditentukan oleh tujuan sosialnya.
Fowler (1977) mengemukakan bahwa wacana adalah komunikasi lisan dan tulisan yang dilihat dari titik pandang kepercayaan, nilai, dan kategori yang termasuk di dalamnya. Pendapat Iebih jelas lagi dikemukakan oleh ].S. Badudu (2000) yang memaparkan bahwa wacana sebagai rentetan kalimat yang berkaitan dengan, yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lainnya, membentuk satu kesatuan, sehingga terbentuklah makna yang serasi di antara kalimat-kalimat itu. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa wacana merupakan kesatuan bahasa terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi yang tinggi yang berkesinambungan,yang mampu mempunyai awal dan akhir yang nyata, disampaikan secara lisan dan tertulis. Sementara itu Samsuri memberi penjelasan mengenai wacana, menurutnya wacana ialah rekaman kebahasaan yang utuh tentang peristiwa komunikasi, biasanya terdiri atas seperangkat kalimat yang mempunyai hubungan pengertian yang satu dengan yang lain. Komunikasi itu dapat menggunakan bahasa lisan, dan dapat pula memakai bahasa tulisan.
Lull (1998) memberikan penjelasan Iebih sederhana mengenai wacana, yaitu cara objek atau ide yang diperbincangkan secara terbuka kepada publik sehingga menimbulkan pemahaman tertentu yang tersebar Iuas. Mills (1994) merujuk pada pendapat Foucault memberikan pendapatnya yaitu wacana dapat dilihat dari level konseptual teoretis, konteks penggunaan, dan metode penjelasan.
Sejalan dengan uraian tersebut ada beberapa unsur yang terkandung dalam sebuah wacana. Unsur-unsur wacana tersebut meliputi (1) unsur internal wacana yang meliputi kata, kalimat, teks dan koteks; (2) unsur eksternal wacana yang meliputi implikatur, presuposisi, referensi, inferensi, dan konteks. Berbagai unsur ini akan dijelaskan lebih Ianjut dalam bab-bab berikutnya dalam buku ini. Selain unsur wacana, hal Iain yang biasanya terkandung dalam sebuah wacana adalah prinsip wacana itu sendiri. Pnnsip-prinsip wacana yang dimaksud adalah sebagai berikut.

1.      Tujuan
Setiap wacana yang akan dihasilkan harus mempunyai tujuan kerena tujuanlah yang menentukan jenis wacana yang digunakan. Tujuan sangat penting untuk memilih teknik penyampaian wacana apakah naratif, deskriptif, eksposisi, argumentasi, ataupun persuasi. Tujuan juga menentukan bentuk wacana, pidato, ceramah, surat resmi atau tidak resmi dan sebagainya.

2.      Kohesi
Kohesi merupakan keserasian hubungan antara unsur linguistik dengan unsur linguistik yang lain dalam sebuah wacana. Kohesi dapat ditinjau dari hubungan antara kata, frasa atau kalimat dengan sesuatuperkataan dalam wacana tersebut. Kohesi dapat mewujudkan kesinambungan antara sebagian teks dengan bagian teks yang Iain sehingga membentuk satu kesatuan.

3.      Koherensi
Koheransi merupakan kesinambungan ide yang terdapat dalam sesebuah wacana sehingga menjadi satu teks yang bermakna. Koherensi merupakan asas dalam pengembangan wacana karena tanpa makna, teks tidak dianggap sebagai wacana.

4.      Sasaran
Sebuah wacana perlu mempunyai pendengar atau pembaca yang merupakan sasaran wacana tersebut. Penentuan sasaran ini sangat penting sebab akan berpengaruh terhadap keterpahaman wacana yang akan dibuat.

5.      Pesan/isi
Setiap wacana perlu mempunyai pesan/isi. Pesan atau isi wacana adalah pokok permasalahan yang ingin disampaikan seorang pembuat wacana kepada sasaran wacana.

6.      Keadaan
Sebuah wacana perlulah sesuai dengan keadaan. Kesesuaian itu menjadikan wacana relevan dengan situasi ujaran. Pemilihan kata, frasa dan susunan kalimat yang tepat sangat penting untuk menjadikan sesuatu wacana itu sesuai dengan keadaan.
7.      lnterteks
lnterteks artinya sebuah wacana bergantung kepada wacana yang lain. Melalui interteks, sebuah wacana Iebih mudah dipahami oleh pembaca atau pendengar

B.     Konsep Analisis Wacana
Analisis wacana sebagai disiplin ilmu dengan metodologi yang eksplisit dapat dikatakan baru benar-benar berkembang pada awal tahun 1970-an. Banyak konsep teoretisnya bersumber pada teori-teori klasik yang berkembang lebih dari 2.000 tahun lampau dengan teori strukturalisme daiam linguistik, puitik, antropologi, dan psikologi dari akhir tahun 1960-an yang pada gilirannya diilhami oleh pikiran-pikiran para formalis Rusia dan strukturalis Ceko.
lstilah analisis wacana pertama kali diperkenalkan dalam linguistik oleh Zelling S. Harris (1952) yang megawali pencarian terhadap kaidah—kaidah bahasa yang akan menjelaskan bagaimana kalimat-kalimat dalam suatu teks dihubungkan oleh semacam tata bahasa yang diperluas. (Oetomo, 1993: 6).
Analisis wacana, dalam arti paling sederhana adalah kajian terhadap satuan bahasa di atas kalimat. Lazimnya, perluasan ani istilah ini dikaitkan dengan konteks lebih luas yang mempengaruhi makna rangkaian ungkapan secara keseluruhan. Para analis wacana mengkaji bagian lebih besar bahasa ketika mereka saling bertautan. Beberapa analis wacana mempertimbangkan konteks yang lebih luas Iagi untuk memahami bagaimana konteks itu mempengaruhi makna kalimat.
Sebagaimana telah disebut, analisis wacana tidak hanya mengemuka dalam kajian bahasa, tetapi juga dalam berbagai Iapangan kajian lain. Kalau dalam linguistik, analisis wacana menunjuk pada kajian terhadap satuan bahasa di atas kalimat yang memusatkan perhatian pada aras Iebih tinggi dari hubungan ketatabahasaan (grammatical), dalam sosiologi, analisis wacana merujuk pada kajian hubugan konteks sosial dengan pemakaian bahasa. Kalau dalam psikologi sosial, analisis wacana merujuk pada kajian terhadap struktur dan bentuk percakapan atau wawancara, dalam ilmu politik, analisis wacana merujuk pada kajian terhadap praktik pemakaian bahasa dan tali-temalinya dengan kekuasaan. Tampak jelas, wacana digunakan dalam lapangan kajian apa pun, istilah analisis wacana niscaya menyertakan telaah bahasa dalam pemakaian.
Selanjutnya, apa yang harus dipersiapkan oleh seorang analis wacana dalam menganalisis wacana? Secara Iebih spesifik, piranti apa saja yang digunakan untuk memahami wacana? Ada beberapa piranti: (i) konteks situasi, (ii) prinsip interpretasi lokal dan analogi, (m) deiksis, (iv) implikatur, (v) pranggapan, (vi) inferensi, (vii) referensi, (vm) pengetahuan tentang dunia pada umumnya. Dengan pemahaman konteks, pada ujaran (1 ) seorang pendengar dapat memahami referensi yang dimaksud pembicara yang menjadi rekan kerja.

1.      Gado-gado meja 3, rawon meja 7, pecel meja 4. Seorang pelayan yang mendengar perintah majikannya memahami bahwa orang yang duduk di meja 3 adalah pemesan gado-gado, dan sebagainya. Jadi, ”gad0-gado” pada (3) dipahami sebagai "pemesan gado-gad0” atau dengan kata Iain "pemesan gado-gado” itulah yang merupakan referensi yang dikehendaki oleh kepala pelayan. Demikian juga, ujaran (4) dan (5) berikut bagi seorang ibu rumah tangga sangat jelas apa referensinya.
2.      Bu, ayamnya lepas lagi.
3.      Ayamnya tadi dimasak apa Ti, kok nggak sedang seperti biasanya? Referensi ayam pada (2) dan (3) berbeda. Kata ”lepas” pada (2) mengarahkan pendengar untuk menginterpretasikan ayam sebagai sejenis burung yang dipelihara karena telur atau dagingnya. Kata ”dimasak” pada (3) mengarahkan pendengar untuk menginterpretasikan bahwa ayam yang dimaksud bukan ayam seperti (2) yang masih hidup, tetapi ayam yang sudah disembelih, yang sudah dibersihkan bulu bulunya, dan ayam yang sekarang sudah dimasak. Demikian juga, ayam pada contoh (4) memiliki referensi yang tidak sama.
4.      Ayam 1 dicuci sampai bersih lalu dipotong-potong. Taruh ayam2 itu di dalam wajan. Semua bahan bumbu ditumbuk halus. Setelah itu tuangkan 1 gelas air pada bambu dan aduk sampai rata. Tuangkan bumbu itu pada ayam3.Tutup wajannya dan rebus sampai airnya habis. Selama merebus, ayam 4 perlu diaduk sesekali agar bumbunya merata.Sete|ah airnya habis, angkat dan tiriskan ayam 5 itu. Setelah itu gorenglah. Minyak untuk menggoreng harus banyak dan panas. Jika ayam6 sudah berwarna kuning angkat dengan serok yang halus. (dikutip dari Martutik, 2001: 31) Kata ayam (1——6) pada (6) memiliki referensi yang tidak sama. Ayam pada (1) merujuk pada ‘ayam yang sudah disembelih, sudah dibului’, sedangkan ayam pada (2) merujuk pada ’ayam yang sudah disembelih, sudah dibului, dan sudah dipotong-potong. Referensi ayam pada (3), (4), (5), dan (6) tentu saja berbeda.
Berdasarkan uraian tersebut, analisis wacana menginterpretasi makna sebuah ujaran dengan memperhatikan konteks, sebab konteks menentukan makna ujaran. Konteks meliputi konteks Iinguistik dan konteks etnografi. Konteks Iinguistik berupa rangkaian kata-kata yang mendahului atau yang mengikuti, sedangkan konteks etnografi berbentuk serangkaian ciri faktor etnografi yang melingkupinya, misalnya faktor budaya masyarakat pemakai bahasa. Manfaat melakukan kegiatan analisis wacana adalah memahami hakikat bahasa, memahami proses belajar bahasa dan perilaku berbahasa.

C.    Munculnya lstilah Wacana
Secara etimologis kata ”wacana” (discourse) berasal dari bahasa Latin, discurrere (mengalir ke sana ke mari) dari nominalisasi kata discursus (mengalir secara terpisah yang ditransfer maknanya menjadi ”ter|ibat dalam sesuatu", atau memberi informasi tentang sesuatu). Dalam bahasa Latin, abad pertengahan, kata discursus selain berarti percakapan, perdebatan yang aktif, dan juga keaktifan berbicara, kata ini juga berarti orbit dan lalu lintas (Vogt dalam Titscher dkk, 2000).
Thomas Aquinas merupakan orang yang pertama kali menggunakan istilah tersebut dalam bidang filsafat. lstilah Wacana dalam kajian linguistik diperkenalkan oleh Zelling Harris pada tahun 1952 yang mengawali pencarian terhadap kaidah- kaidah bahasa yang akan menjelaskan bagaimana kalimat-kalimat dalam suatu teks dihubungkan oleh semacam tata bahasa yang diperluas. Metode tersebut pada awalnya ditujukan untuk mencari korelasi antara bahasa dan budaya. Saat ini istilah Wacana (discourse) telah digunakan baik dalam arti terbatas maupun luas. Secara terbatas, istilah tersebut merujuk pada aturan-aturan dan kebiasaan-kebiasaan yang mendasari penggunaan bahasa baik dalam komunikasi lisan maupun tulisan. Secara lebih luas, istilah wacana menunjuk pada bahasa dalam tindakan serta pola-pola yang menjadi ciri jenis-jenis bahasa dalam tindakan.
Kemunculan istilah wacana tersebut sebenarnya merupakan rangkaian pemikiran dari para linguis yang diilhami oleh pandangan-pandangan Halliday. Akar pandangan Halliday yang pertama adalah bahasa sebagai semiotika sosial. Hal ini berarti bahwa bentuk-bentuk bahasa mengkodekan (encode) representasi dunia yang dikonstruksikan secara sosial.
Halliday lmemberi tekanan pada keberadaan konteks sosial bahasa, yakni fungsi sosial yang menentukan bentuk bahasa dan bagaimana perkembangannya (Halliday, 1977, 1978; Halliday & Hasan, 1985) Bahasa sebagai salah satu dari sejumlah sistem makna yang lain-seperti tradisi, sistem mata pencaharian, dan sistem sopan santun secara bersama—sama membentuk budaya manusia. Halliday mencoba menghubungkan bahasa terutama dengan satu segi yang penting bagi pengalaman manusia, yakni segi struktur sosial. Formulasi "bahasa sebagai semiotik sosial” berarti menafsirkan bahasa dalam konteks sosiokultural tempat kebudayaan itu sendiri ditafsirkan dalam terminologis semiotis sebagai sebuah ”sistem informasi". Dalam level yang amat konkret, bahasa itu tidak berisi kalimat-kalimat, tetapi bahasa itu berisi ”teks” atau "wacana", yakni pertukaran makna (exchange of meaning) dalam konteks interpersonal. Mengkaji bahasa hakikatnya mengkaji teks atau wacana.
Konteks tuturan itu sendiri sebuah konstruk semiotis yang memiliki sebuah bentuk yang memungkinkan partisipan memprediksikan fitur-fitur register yang berlaku untuk memahami orang lain. Melalui tindakan pemaknaan (act of meaning) sehari-hari, masyarakat memerankan struktur sosial, menegaskan status dan peran yang dimilikinya, serta menetapkan dan mentransmisikan sistem nilai dan pengetahuan yang dibagi.
Kajian bahasa sebagai semiotik sosial dalam pandangan Halliday (1977:1341; 1978:108-126) mencakup sub-sub kajian: (1) teks, (2) trilogi konteks situasi (medan wacana, pelibat wacana, dan modus wacana), (3) register, (4) kode, (5) sistem lingual, yang mencakup komponen ideasional, interpersonal, dan
tekstual, serta (6) struktur sosial.
Pandangan-pandangan Halliday ini kemudian banyak dikembangkan oleh para ahli bahasa dalam mengkaji wacana secara lebih lanjut. Dalam pandangan Fairclough (1995), wacana dipahami sebagai sebuah tindakan.Wacana adalah bentuk interaksi. Wacana tidak ditempatkan dalam ruang yang tertutup dan internal. Tidak ada wacana yang vakum sosial.
Hal ini mengandung dua implikasi. Pertama, wacana dipandang sebagai sesuatu yang bertujuan, apakah untuk mempengaruhi, membujuk, menyanggah, mempersuasif. Seseorang yang berbicara atau menulis selalu mempunyai tujuan, besar atau kecil. Kedua, wacana dipahami sebagai sesuatu yang diekspresikan secara sadar, terkontrol, bukan sesuatu yang di luar kendali atau diekspresikan di Iuar kesadaran. Tidak ada wacana yang lahir tanpa disadari sepenuhnya oleh penuturnya.
Samsuddin (1992) mengatakan bahwa wacana merupakan unit bahasa yang paling lengkap unsurnya. Wacana tidak hanya didukung oleh unsur-unsur segmental dari suatu bahasa seperti kalimat, morfem, fonem, tetapi juga didukung oleh unsur nonsegmental dan suprasegmental, seperti situasi, ruang, waktu pemakaian, tujuan pemahaman bahasa, pemakai bahasa itu sendiri, intonasi, tekanan, makna, perasaan berbahasa, dan penutur atau pembicaranya.

D.    Perkembangan Analisis Wacana
Analisis wacana sebagai disiplin ilmu dengan metodologi yang eksplisit dapat dikatakan baru benar-benar berkembang pada awal tahun 1970-an dan bersumber pada tradisi keilmuan Barat. lstilah analisis wacana muncul sebagai upaya untuk menghasilkan deskripsi bahasa yang lebih lengkap sebab terdapat fitur-fitur bahasa yang tidak cukup jika hanya dianalisis dengan menggunakan aspek struktur dan maknanya saja. Oleh karena itu, melalui analisis wacana dapat diperoleh penjelasan mengenai korelasi antara apa yang diujarkan, apa yang dimaksud, dan apa yang dipahami dalam konteks tertentu. Analisis wacana mérupakan pendekatan yang mengkaji relasi antara bahasa dengan konteks yang melatarbelakanginya. Dengan demikian, analisis wacana mampu memberikan penjelasan tentang latar sosial dan latar budaya penggunaan suatu bahasa. Dengan kata lain, analisis wacana mampu meneliti bahasa lebih dari sekedar menggambarkannya, tetapi dapat pula membantu untuk memahami aturan- aturannya yang menjadi bagian dari pengetahuan pengguna bahasa yang tercermin dalam komunikasi sehari-harinya.
Analisis wacana, dalam arti paling sederhana adalah kajian terhadap satuan bahasa di atas kalimat. Lazimnya, perluasan arti istilah ini dikaitkan dengan konteks lebih Iuas yang mempengaruhi makna rangkaian ungkapan secara keseluruhan secara keseluruhan. Para analis wacana mengkaji bagian lebih besar bahasa ketika mereka sal ing bertautan. Beberapa analis wacana mempertimbangkan konteks yang lebih luas lagi untuk memahami bagaimana konteks itu mempengaruhi makna kalimat.
Sebagaimana telah disebut, analisis wacana tidak hanya mengemuka dalam kajian bahasa, tetapi juga dalam berbagai lapangan kajian lain. Kalau dalam linguistik, analisis wacana merujuk pada kajian terhadap satuan bahasa di atas kalimat yang memusatkan perhatian pada arah lebih tinggi dari hubungan ketatabahasaan (grammatical), dalam sosiologi, analisis wacana menunjuk pada kajian hubungan konteks sosial dengan pemakaian bahasa. Kalau dalam psikologi sosial, analisis wacana menunjuk pada kajian terhadap struktur dan bentuk percakapan atau wawancara, dalam ilmu politik, analisis wacana menunjuk pada kajian terhadap praktik pemakaian bahasa dan tali-temalinya dengan kekuasaan.
Tampak jelas, analisis wacana bila digunakan dalam lapangan kajian apa pun, istilah ini tetap menyertakan telaah bahasa dalam pemakaian. Dalam perkembangannya analisis wacana banyak dikembangkan oleh para ilmuwan Eropa seperti: Foucault, Fairclough, dan Van Dijk. Pusat-pusat perkembangannya antara lain di Prancis, lnggris, Belanda, Jerman, Austria, dan Australia. Michael Foucault adalah salah satu pemikir yang memiliki peran sentral dalam proses mengembangkan teori wacana. Dalam studinya, la memperlihatkan bahwa manusia muncul karena susunan kata-kata dan benda yang diubah-ubah. Lebih lanjut dijelaskan bahwa, sepenggal masa yang disebut modernitas ini menghasilkan susunan yang memberi tempat istimewa pada diri manusia yang sadar diri. Susunan yang dimaksudkan Foucault adalah keretakan hubungan subyek (kata-kata) dan obyek (benda-benda) yang karena suatu hal diutuhkan kembali. Suatu hal yang membuat keretakan hubungan subyek dan obyek diutuhkan kembali adalah kekuasaan dan kekuasaan itu diproduksi oleh wacana. Bagaimana wacana diproduksi, siapa yang memproduksi dan apa efek pnoduksi wacana? Yang bisa menjawab pertanyaan di atas adalah konsep wacana Michael Foucault. Dalam konsepnya Foucault tidak memandang wacana sebagai serangkaian kata atau preposisi dalam teks tetapi memproduksi yang lain (sebuah gagasan, konsep atau efek). Wacana secara sistematis dalam ide, opini, konsep dan pandangan hidup dibentuk dalam konteks tenentu sehingga mempengaruhi cara berpikir dan bertindak. Wacana dalam pandangan Foucault adalah transaksi kekuasaan, ia melihat kekuasaan ada dimana-mana, termasuk teks.
Pelaksanaan kekuasaan tidak bisa lepas dari rezim wacana dan setiap wacana mempunyai klaim kebenaran, maka kita harus selalu waspada terhadap perubahan, naik-turunnya makna wacana. Dalam pandangan Fairclough (1995), wacana dipahami sebagai sebuah tindakan. Wacana adalah bentuk interaksi. Wacana tidak ditempatkan dalam ruang yang tertutup dan internal. Tidak ada wacana yang vakum
sosial. Hal itu mengandung dua implikasi. Penama, wacana dipandang sebagai sesuatu yang bertujuan apakah untuk memengaruhi, membujuk, menyanggah, memersuasif. Seseorang yang berbicara atau menuiis selalu mempunyai tujuan besar atau kecil. Kedua, wacana dipahami sebagai sesuatu yang diekspresikan secara sadar, terkontrol, dan bukan sesuatu yang di luar kendali atau diekspresikan di luar kesadaran.
Tidak ada wacana yang lahir tanpa disadari sepenuhnya oleh penutur atau pembicaranya. Selanjutnya, Van Dijk meneliti wacana tidak cukup hanya didasarkan pada analisis teks semata, karena teks hanya hasil dari suatu praktik produksi yang harus juga diamati. Melalui berbagai kauyanya, Van Dijk membuat
kerangka analisis wacana yang dapat didayagunakan. Dalam hal ini Van Dijk membagi wacana ke dalam tiga tingkatan.
1.      Struktur makro. lni merupakan makna global/umum dari suatu teks yang dapat dipahami dengan melihat topik dari suatu teks. Tema wacana ini bukan hanya isi, tetapi juga sisi tertentu dari suatu peristiwa.
2.      Superstruktur, adalah kerangka suatu teks: bagaimana stuktur dan elemen wacana itu disusun dalam teks secara utuh.
3.      Stuktur mikro, adalah makna wacana yang dapat diamati dengan menganalisa kata, kalimat, preposisi, anak kalimat, parafrase yang dipakai dan sebagainya.

E.     Wacana Berdasarkan Bentuk
Sejumlah ahli telah membuat penjelasan tentang wacana secara beragam, demikian pula halnya apabila mengklasifikasikan sebuah wacana. Keragaman itu disebabkan oleh perbedaan sudut pandang mereka yang dijadikan dasar dalam mengklasifikasikan wacana. Berdasarkan bentuk atau jenisnya, wacana dibedakan menjadi wacana naratif, deskriptif, ekspositoris, persuasif dan argumentatif.
1.      Wacana naratif adalah wacana yang menceritakan suatu atau beberapa peristiwal kejadian, seperti roman, novel, memoar, cerita dalam buku suci yang mengandung ajaran, dongeng, biografi, dan autobiografi.
2.      Wacana deskriptif adalah wacana yang menggambarkan sebuah tempat atau seseorang.
3.      Wacana ekspositoris adalah wacana yang bertujuan untuk menganalisis sebuah fenomena atau sebuah gagasan agar dipahami oleh pembaca dengan memberikan penjelasan dan penegasan. Dalam dunia pendidikan, wacana ini bertujuan untuk mengingat apa yang sudah diterangkan dan untuk mentransfer pengetahuan.
4.      Wacana persuasif ialah wacana yang ditujukan untuk menunjukkan, membuktikan, dan meyakinkan pembaca.
5.      Wacana argumentatif yaitu wacana yang bertujuan untuk mempertahankan tesis dengan memberikan argumen dan contoh dengan kata lain menggunakan argumentasi.' Suparnodan Yunus (2008: 1 O-1 3) mengungkapkan bahwa suatu tulisan atau wacana secara umum mengandung dua hal, yaitu isi dan cara pengungkapan atau penyajian. Keduanya saling mempengaruhi. Substansi sebuah tulisan dan tujuan penulisan akan menentukan cara pengungkapan apakah Iebih bersifat formal atau informal dan ragam wacana yang akan digunakan apakah Iebih bersifat naratif, ekspositoris, argumentatif, atau persuasif. Begitu pula, ragam wacana yang akan dipilih akan mempengaruhi isi, jenis informasi, dan pengorganisasian, pengungkapan, dan tata saji tulisan.

Berdasarkan kedua pendapat di atas, wacana dapat disajikan dalam lima bentuk atau ragam yakni deskripsi, narasi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi. Kenyataannya, masing- masing bentuk itu tidak selalu dapat berdiri sendiri. Misalnya, dalam sebuah wacana narasi mungkin bisa saja terdapat bentuk deskripsi atau eksposisi. Dalam wacana eksposisi bisa saja terkandung bentuk deskripsi dan narasi. Begitulah seterusnya. Penanaman ragam suatu wacana Iebih didasarkan atas corak yang paling dominan pada wacana tersebut. Guna Iebih memahami kelima bentuk wacana, maka di bawah ini akan diuraikan definisi, karakteristik, dan pengembangan kelima bentuk wacana tersebut.

1.      Deskripsi (Pemerian)
Wacana yang bagaimana yang dapat membawa pikiran dan perasaan pembaca untuk memahami-dan menghayati Qbjek yang dituliskan dalam wacana seolah-olah pembaca itu mengalaminya sendiri? Deskripsi adalah ragam wacana yang melukiskan atau menggambarkan sesuatu yang berdasarkan kesan-kesan dari pengamatan, pengalaman, perasaan penulisnya. Sasarannya adalah menciptakan atau memungkinkan terciptanya imajinasi (daya khayal) pembaca sehingga dia seolah-olah melihat, mengalami, dan merasakan sendiri apa yang dialami penulisnya.
Deskripsi adalah suatu bentuk wacana yang melukiskan sesuatu sesuai
dengan keadaan sebenarnya, sehingga pembaca dapat mencitrai (melihat, mendengar, mencium, dan merasakan) apa yang dilukiskan itu sesuai dengan citra penulisnya Agar deskripsi wacana menjadi hidup, perlu kita Iukiskan bagian- bagian yang penting sedetil mungkin. jika kita melukiskan betapa ngerinya di hutan, maka situasi hutan yang dapat menimbulkan kengerian itu harus dilukiskan selengkap-lengkapnya sehingga pembaca dapat membayangkan bagaimana jika dia sendiri yang tersesat di hutan. Dengan demikian, dalam menulis deskripsi yang baik dituntut tiga hal.
a.       Kesanggupan berbahasa kita yang memiliki kekayaan nuansa dalam bentuk.
b.      Kecermatan pengamatan dan keluasan pengetahuan kita tentang sifat, ciri, dan wujud objek yang dideskripsikan.
c.       Kemapuan kita memilih detil khusus yang dapat menunjang ketepatan dan keterhidupan deskripsi (Akhadiah, 1997).

2.      Narasi (Penceritaan atau Pengisahan)
Narasi adalah ragam wacana yang menceriterakan proses kejadian suatu preristiwa. Wacana ini berusaha menyampaikan urutan terjadinya (kronologis), dengan maksud memberi arti kepada sebuah kajian atau serentetan kejadian, dan agar pembaca dapat memetik hikmah dari cerita itu. Sasarannya adalah memberikan gambaran yang sejelas-jelasnya kepada pembaca mengenai fase, langkah urutan, atau rangkaiap terjadinya sesuatu hal. Bentuk wacana ini dapat kita temukan misalnya pada karya prosa atau drama, biografi atau autobiografi, laporan peristiwa, serta resep atau cara membuat dan melakukan sesuatu hal.

3.      Eksposisi (Paparan)
Eksposisi adalah ragam wacana yang dimaksudkan untuk menerangkan, menyampaikan, atau menguraikan sesuatu hal yang dapat memperluas atau menambah pengetahuan dan pandangan pembacanya. Sasarannya adalah menginformasikan sesuatu tanpa ada maksud mempengaruhi pikiran, perasaan, dan sikap pembacanya. Fakta dan ilustrasi yang disampaikan penulis sekedar memperjelas apa yang akan disampaikannya.

4.      Argumentasi (Pembahasan atau Pembuktian)
Argumentasi adalah ragam wacana yang dimasksudkan untuk meyakinkan pembaca mengenai kebenaran yang disampaikan oleh penulisnya. Karena tujuannya meyakinkan pendapat atau pemikiran pembaca, penulis akan menyajikan secara logis, kritis, dan sistematis bukti- bukti yang dapat memperkuat keobjektifan dan kebenaran yang disampaikannya sehingga dapat menghapus konflik dan keraguan pembaca terhadap pendapat penulis. Corak wacana sepeni ini adalah haéil penilaian, pembelaan, dan timbangan buku.

5.      Persuasi
Persuasi adalah ragam wacana yang ditujukan untuk mempengaruhi sikap dan pendapat pembaca mengenai sesuatu hal yang disampaikan penulisnya. Berbeda dengan aggumentasi yang pendekatannya bersifat rasional dan diarahkan untuk rnencapai suatu kebenaran, persuasi lebih menggunakan pendekatan emosional. Seperti argumentasi, persuasi juga menggunakan bukti atau fakta. Hanya saja, dalam persuasi bukti-bukti itu digunakan seperlunya atau kadang-kadang dimanipulasi untuk menimbulkan kepercayaan pada diri pembaca bahwa apa yang disampaikan penulis itu benar. Contoh, wacana ini adalah propaganda, iklan, selebaran, atau kampanye.

F.     Wacana Berdasarkan Pemaparan dan Penyusunan, lsi, dan Sifatnya
Ditinjau dari segi pemaparan dan penyusunan, isi dan sifatnya, wacana itu banyak jenisnya. Beberapa di antaranya adalah wacana yang besifat naratif, prosedural, hortatorik, ekspositorik dan deskriptif. Hal ini dikemukakan oleh Llamzon, 1984 (Syamsuddin, 1992: 9) sebagai berikut.

1.      Wacana Naratif
Wacana ini merupakan tuturan yang menceritakan atau menyajikan suatu hal atau suatu kejadian dengan menonjolkan tokoh pelaku, maksudnya untuk memperluas pengetahuan pendengar atau pembaca. Kekuatan wacana ini terletak pada urutan cerita berdasarkan waktu dan cara-cara bercerita, atau diatur melalui plot.

2.      Wacana Prosedural
Wacana ini merupakan rangkaian tuturan yang melukiskan sesuatu secara berurutan yang tidak boleh dibolak-balik unsurnya, karena urgensi unsur yang Iebih dahulu menjadi Iandasan unsur berikutnya. Wacana ini biasanya disusun untuk menjawab pertanyaan bagaimana sesuatu bekerja atau terjadi, atau bagaimana cara mengerjakan sesuatu. Tokohnya boleh orang dan yang dilukiskannya tidak terikat dengan urutan waktu.

3.      Wacana Hortatorik
Wacana ini merupakan rangkaian tuturan yang isinya bersifat ajakan atau nasihat. Kadang-kadang tuturan ini bersifat memperkuat keputusan atau agar Iebih meyakinkan. Yang menjadi tokoh penting dalan wacana jenis ini adalah orang kedua. Wacana ini tidak dapat disusun berdasarkan urutan waktu, tetapi merupakan hasil atau produksi suatu waktu.

4.      Wacana Ekspositorik
Wacana ini merupakan rangkaian tuturan yang bersifat memaparkan suatu pokok pikiran. Pokok pikiran itu Iebih diji-zlaskannya lagi dengan cara menyampaikan uraian bagian-bagian atau detilnya. Tujuan pokok yang ingin dicapai pada wacana ini adalah tercapainya pemahaman akan sesuatu supaya Iebih jelas, mendalam, dan Iuas daripada sekedar pertanyaan yang bersifat global atau umum. Kadang-kadang wacana itu dapat berbentuk ilustrasi dengan contoh, berbentuk perbandingan, berbentuk uraian kronologis, dan dengan penentuan ciri-ciri (identifikasi). Orientasi pokok wacana ini Iebih pada materi, bukan pada tokohnya.

5.      Wacana Deskriptif
Wacana ini merupakan rangkaian tuturan yang memaparkan sesuatu atau melukiskan sesuatu, baik berdasarkan pengalaman maupun pengetahuan penuturnya. Tujuan yang ingin dicapai oleh wacana ini adalah tercapainya penghayatan yang agak imajinatif terhadap sesuatu, sehingga pendengar atau pembaca merasakan seolah-olah ia sendiri mengalami atau mengetahuinya secara lansung. Uraian pada wacana deskriptif ini ada yang memaparkan sesuatu secara objektif dan ada juga yang mamaparkannya secara imajinatif. Pemaparan yang pertama bersifat menginformasikan sebagaimana apa adanya, sedangkan yang kedua dengan menambahkan daya khayal. Oleh karena itu, yang kedua itu banyak dijumpai dalam karaya sastra, seperti novel, dan cerpen.

1.      Wacana Berdasarkan Jumlah Penutur
Berdasarkan jumlah penuturnya, wacana dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu wacana monolog dan wacana dialog (

a.       Wacana dialog
Wacana dialog adalah wacana yang dibentuk oleh percakapan atau pembicaraan dalam telepon, wawancara, teks drama, dan sebagainya. Ada sepuluh unsur aspek pengkajian pércakapan dengan tambahan unsur kohesi dan koherensi. Komponen analisis meliputi analisis wacana dialog, yang membahas unsur dialog, seperti kerja sama percakapan, tindak tutur (speech acts); penggalan percakapan (adjacency pairs); pembukaan dan penutupan percakapan; percakapan Ianjutan (repairs); sifat rangkaian percakapan; unsur tata bahasa percakapan; alih kode (code switch); giliran percakapan (turn talkings); dan topik percakapan.

b.      Wacana monolog
Wacana monolog adalah wacana yang tidak melibatkan suatu bentuk tutur percakapan atau pembicaranan dua pihak yang berkepentingan. Yang ternasuk pada jenis monolog adalah semua bentuk teks, surat, bacaan, cerita dan sebagainya. Hal-hal yang penting yang menjadi bahan analisis wacana monolog dapat dikelompokkan sebagai berikut.
1)      Hal-hal yang berhubungan dengan rangkaian dan kaitan tuturan (kohesi dan koheren).
2)      Hal-hal yang berhubungan dengan penunjukan atau perujukan (referensi) –
3)      Hal-ha! yang berhubungan dengan pola pikir dan pengembangan wacana (topik dan pengembangan logika).
Pembahasan tentang jenis wacana dijelaskan pula oleh Tarigan (1987: 1 1-12) yang mengklasifikasikan wacana berdasarkan aspek bentuk wacana yaitu terdiri atas wacana prosa, wacana puisi. Wacana prosa merupakan wacana yang disampaikan dalam bentuk prosa dan dapat berupa wacana langsung atau tidak langsung, pembeberan atau penuturan, atau lisan dan tulisan. Contoh wacana ini adalah novel, cerpen, artikel, kertas kerja, skripsi, tesis, disertasi atau surat. Wacana puisi adalah wacana yang disampaikan dalam bentuk drama atau dialog, baik secara lisan atau tertulis.

2.      Wacana Berdasarkan Media Komunikasinya
Jenis wacana ditinjau dari segi media komunikasi meliputi wacana Iisan dan wacana tulisan. Wacana Iisan dapat berupa a) sebuah percakapan atau dialog yang Iengkap dari awal sampai akhir, misalnya satu obrolan singkat dalam satu situasi; b) suatu penggalan ikatan percakapan dalam rangkaian percakapan yang lengkap yang telah menggambarkan suatu situasi, maksud, dan rangkaian penggunaan bahasa.
Wacana tulisan dapat berupa a) sebuah teks tertulis yang dibentuk oleh lebih dari satu alinea menggunakan sesuatu secara berurutan dan utuh, misalnya sebuah cerita, sebuah uraian sepucuk surat dan sebagainya; b) sebuah alinea merupakan sebuah wacana apabila teks itu hanya terdiri dari satu alinea, atau apabila kandungan sebuah alinea itu memiliki kesatuan misi korelasi dan situasi yang utuh; c) sebuah wacana mungkin dapat dibentuk oleh sebuah kalimat majemuk beranak cucu atau dengan kalimat mejemuk rapatan atau sistem elips unsur tertentu.
Bertemali dengan konsep tersebut, begitu pula Alwi dkk (1998: 420) membagi jenis wacana menjadi wacana Iisan dan wacana tulisan. Wacana Iisan menekankan interaksi di antara para pembicara melalui tanya jawab, misalnya, pasien dan dokter, polisi dan tersangka atau jaksa dan terdakwa. Wacana ini mementingkan isi yang dapat berupa pidato, ceramah, dakwah, kuliah, atau deklamasi. Wacana tulisan bersifat interaksi, antara Iain, berupa polemik, surat menyurat antarilmuwan, sastrawan, sahabat, dan dua kekasih. Wacana ini juga bersifat transaksi yaitu berupa instruksi, pemberitahuan, pengumuman, iklan, surat, undangan, makalah, essai, cerita pendek, novel.
Apapun bentuknya, wacana mengandaikan adanya penyapa dan pesapa (orang yang disapa). Dalam wacana Iisan penyapa ialah pembicara dan pesapa ialah pendengar. Dalam wacana tulisan penyapa ialah penulis, sedangkan pesapa ialah pembaca.
Sejalan dengan pendapat sebelumnya, Wodak flitscher, Stefan dkk, 2000: 44-45) menyatakan secara realitas, wacana dapat dibagi dalam dua jenis yaitu wacana tulisan (teks) dan wacana tuturan (Iisan). Lebih lanjut Wodak (Titscher, Stefan dkk, 2000: 36- 39) menjelaskan bahwa wacana tulisan memiliki ciri- ciri sebagai berikut.
a.       Kohesi, hubungan di antara unsur-unsur permukaan.
b.      Koherensi, hubungan semantik.
c.       lntensionalitas, hubungan sikap dan tujuan penulis teks.
d.      Akseptabilitas, kesiapan pembaca untuk memperoleh sebuah teks yang berguna atau relevan.
e.       lnformativitas, kuantitas informasi yang baru atau yang diharapkan dalam sebuah teks.
f.        Situasionalitas, konstelasi pembicaraan dan situasi tuturan berperan penting dalam pembuatan teks.
g.      lntertekstualitas,hubungan antara teks yang satu dengan teks yang lainnya.

Sedikit berbeda dengan pendapat di atas, Darma (2009: 4) menyatakan bahwa pada dasarnya, wujud dan jenis wacana dapat ditinjau dari sudut realitas, media komunikasi, cara pemaparan dan jenis pemakaian. Jenis wacana ditinjau dari segi realitas meliputi wacana kebahasaan dan wacana nonkebahasaan. Wacana kebahasaan dapat berupa tulisan (text), ucapan (talk), tindakan (act) atau peninggalan (artefact). Sedangkan wacana nonkebahasaan dapat berupa rangkaian isyarat dan rangkaian tanda yang meliputi:
a.       syarat dengan gerak-gerik sekitar kepala atau muka (gerakan mata, gerakan bibir, gerakan kepala, dan mimik).
b.      syarat melalui gerak-gerik anggota tubuh Iain (gerakan tangan, gerakan kaki, gerakan seluruh anggota tubuh); dan
c.       tanda-tanda yang bemakna bahasa, yaitu tanda-tanda bermakna yang terdapat dalam rambu-rambu lalu lintas, bunyi kentongan, bunyi terompet, dan sebagainya.
a.       Teks tertulis
Pengertian “teks” sebagai rekaman cetak sudah dikenal penyelidikan kesusastraan. Sebuah ”teks” mungkin disajikan secara berbeda pada edisi-edisi yang berbeda pula, dengan bentuk huruf yang berbeda, pada ukuran kertas yang berbeda, dalam satu atau dua kolom, dan dari satu edisi ke edisi berikutnya kita masih menganggap bahwa sajian yang berbeda-beda itu merealisasikan “teks” yang sama.
Pentinglah untuk diperhatikan apa tepatnya yang ’sama’ itu. Paling sedikit, kata-katanya mestilah kata-kata yang sama, disajikan dengan urutan yang sama. Di mana ada bacaan teks yang diragukan, editor biasanya merasa wajib memberi ulasan tentang bagian yang paling sukar dipecahkan.

b.      Teks lisan
Masalah-masalah yang kita jumpai sehubungan dengan pengertian ’teks’ sebagai rekaman verbal tindak komunikasi menjadi jauh lebih kompleks apabila kita pikirkan apa yang dimaksud dengan ’teks’ lisan.
Harus jelas bahwa definisi ‘teks’ yang sederhana sebagai ’rekaman verbal tindak komunikasi' memerlukan sekurang- kurangnya dua batas, yaitu sebagai berikut.
1)      Realisasi teks yang disajikan untuk dibicarakan, terutama yang melibatkan realisasi tertulis teks lisan, mungkin berupa analisis pendahuluan (dan dari dini tafsiran) bagian wacana oleh penganalisis wacana yang menyajikan teks itu untukdipertimbangkan
2)      Ciri-ciri produksi asli bahasa, misalnya tulisan tangan yang goyah atau wicara yang gemetar, agak semena-mena dianggap sebagai ciri-ciri teks dan bukan ciri-ciri konteks tempat bahasa diproduksi.
Kenyataannya, wujud dari bentuk wacana itu dapat dilihat dalam beragam buah karya pembuat wacana, yaitu:
a)      text (wacana dalam wujud tulisan/grafis) antara lain berupa berita, features, artikel, opini, cerpen, novel;
b)      talk (wacana dalam wujud ucapan) antara lain berupa rekaman wawancara, obrolan, pidato;
c)      act (wacana dalam bentuk tindakan) antara Iain berupa lakon drama, tarian, film, defile, demonstrasi; .
d)      artepack (wacana dalam wujud peninggalan) antara lain berupa bangunan, lanskap, fashion, puing.

Demikianlah telah dikemukakan jenis-jenis wacana menurut sejumlah ahli. Sekilas terlihat seolah-oiah ada perbedaan yang mencolok di antara mereka dalam mengklasifikasikan wacana. Namun, jika dicermati mereka urnumnya hanya berbeda dalam penggunaan istilah yang dijadikan sudut pandang dalam merinci jenis-jenis wacana.



















BAB III
PENUTUP
A.     Simpulan
Analisis Wacana dalam studi linguistik merupakan reaksi dari bentuk linguistik formal (yang lebih memperhatikan pada unit kata, frase, atau kalimat semata tanpa melihat keterkaitan di antara unsur tersebut). Analisis wacana adalah kebalikan dari linguistik formal, karena memusatkan perhatian pada level di atas kalimat, seperti hubungan gramatikal yang terbentuk pada level yang lebih besar dari kalimat. Analisis wacana dalam lapangan psikologi sosial diartikan sebagai pembicaraan.
Wacana yang dimaksud di sini agak mirip dengan struktur dan bentuk wawancara dan praktik dari pemakainya. Sementara dalam lapangan politik, analisis wacana adalah praktik pemakaian bahasa, terutama politik bahasa. Karena bahasa adalah aspek sentral dari penggambaran suatu subyek, dan lewat bahasa ideologi terserap di dalamnya, maka aspek inilah yang dipelajari dalam analisis wacana.

B.     Saran
Diharapkan setelah membaca makalah ini, pembaca untuk lebih memahami mengenai analisis wacana kritis dengan mengetahui syarat-syarat karya sastra terlebih dahulu dengan menggunakan suatu pendekan serta model dalam analisis wacana kritis tersebut.
                         







DAFTAR PUSTAKA

            Darma, Yoce Aliah. 2009. Analisis Wacana Kritis. Bandung: Yrama Widya.

Eritanto.2001.AnalisisWacana:PengantarAnalisisTeksMedia.Yogyakarta:LKiS.

Tarigan, H.G. 1987. Pengajaran Analisis Wacana. Bandung: Angkasa.

Sobur, Alex. 2006. Analisis Teks Media. cet. ke-4. Jakarta: Remaja Rosdakarya.

No comments:

Post a Comment