Monday, November 13, 2017

Hakikat Perencanaan Pembelajaran

A.    Hakikat Perencanaan Pembelajaran
Menyusun perencanaan dan desain pembelajaran, merupakan langkah penting agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif. Oleh karena itu kami rasa perlu memahami hakikat dari perencanaan pembelajaran sebagai pengenalan awal  sebelum anda menyusun rencana pemvelajaran bai peserta didik anda.
Dalam makalah ini, kami mengupas hal-hal yang berkaitan dengan hakikat perencanaan pembelajaran itu sendiri. Kami berharap makalah ini dapat membantu anda yang ingin memahami lebih dalam hakikat dari perencanaan pembelajaran.

B.     Pentingnya Perencanaan Pembelajaran
Bagi seorang profesional, merencanakan sesuai dengan tugas dan tanggungjawab profesinya merupakan tahap yang tidak boleh ditinggalkan. Menurut Deshimer ( dalam Wina Sanjaya, 2008: 30 ) dua alasan perlunya perencanaan Pertama, hakikat manusia yang memiliki kemampuan dan pilihan untuk berkreasi sesuai dengan pandangannya. Seorang profesional dapat menentukan waktu dan cara bertindak yang dianggap sesuai; kedua, setiap manusia hidup dalam kelompok yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya sehingga selamanya membutuhkan koordinasi dalam melaksanakan berbagai aktivitas. Dengan demikian, suatu pekerjaan akan berhasil manakala semua yang terlibat dapat bekerja sesuai dengan perannya masing-masing. Dua hal itulah selanjutnya dibutuhkan perencanaan matang untuk mengerjakan sesuatu”.
Perencanaan sangat penting sehingga dibutuhkan dalam pembelajaran. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal berikut
Pertama, pembelajaran adalah proses yang bertujuan. Menurut Dick dan Caley Pembelajaran terdiri atas seluruh komponen materi pembelajaran dan prosedur atau tahapan kegiatan belajar yang atau digunakan oleh guru dalam rangka membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Menurut mereka strategi bukan hanya terbatas prosedur atau tahapan kegiatan belajar saja, melainkan juga pengaturan, materi atau paket pembelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik (dalam Zainal Akib, 2013: 69).
Kedua, pembelajaran adalah proses kerja sama. Menurut Martinis Yamin (2012: 58) kegiatan belajar mengajar dikelas dilakukan oleh seorang guru sesuai dengan gaya mengajarnya, sebagian guru membuka buku pelajaran dan menjelaskan materi yang terdapat didalam buku tersebut, sebagian guru yang lain menanyakan kepada siswa atau peserta didik tentang penguasaan materi yang yang akan dipelajari, kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab, diskusi tugas dan lain-lain di kalangan para siswa di kelas tersebut. Ini adalah bentuk proses kerja sama antara guru dan siswa serta siswa dengan siswa.
Ketiga, proses pembelajaran adalah proses yang kompleks. Pembelajaran bukan hanya sekadar menyampaikan materi pembelajaran, akan tetapi suatu proses pembentukan perilaku siswa. Siswa adalah organisma yang unik, yang sedang berkembang. Siswa bukan benda mati yang dapat diatur begitu saja mereka memiliki bakat dan minat yang berbeda; mereka memiliki gaya belajar. Itulah sebabnya proses pembelajaran adalah proses yang kompleks, yang harus memperhitungkan kemungkinan yang akan terjadi. Kemungkinan-kemungkinan itulah yang selanjutnya memerlukan perencanaan yang matang dari setiap guru ( Wina Sanjaya, 2013 : 32)
Keempat, proses akan lebih efektif manakala memanfaatkan berbagai sarana prasarana yang ada termasuk memanfaatkan berbagai sumber belajar. Salah satu kelemahan guru dewasa ini dalam pengelolaan pembelajaran adalah kurangnya pemanfaatan sarana dan prasarana yang tersedia. Padahal, banyak sekali jenis-jenis teknologi yang dapat digunakan oleh guru untuk menunjang keberhasilan proses pembelajaran.
Pembelajaran akan efektif manakala guru memanfaatkan sarana dan prasarana secara tepat. Untuk itu perlu perencanaan yang matang bagaimana memanfaatkannya untuk keperluan pencapaian tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien ( Wina Sanjaya, 2013: 32)

C.    Manfaat dan Fungsi Perencanaan Pembelajaran

1.      Manfaat Perencanaan Pembelajaran
a.       Dengan perencanaan yang matang dan akurat, akan dapat diprediksi seberapa besar keberhasilan yang akan dicapai. Oleh karena itu  akan terhindar dari keberhasilan yang sifatnya untung-untungan sebab segala kemungkinan kegagalan sudah dapat diantisipasi oleh guru. Dalam perencanaan, guru harus paham tujuan apa yang akan dicapai, strategi apa yang tepat dilakukan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai, dan dari mana sumber belajar yang dapat digunakan.
b.      Sebagai alat untuk memecahkan masalah. Dengan perencanaan yang matang, maka segala kemungkinan dan masalah yang akan timbul dapat diantisipasi sehingga dapat diprediksi pula jalan penyelesaiannya.
c.       Untuk memanfaatkan berbagai sumber belajar secara tepat. Dengan perencanaan yang tepat, maka guru dapat menentukan sumber-sumber belajar yang dianggap tepat untuk mempelajari suatu bahan pembelajaran sebab saat ini banyak sekali sumber belajar yang ditawarkan baik melalui media cetak maupun elektronik.
d.      Perencanaan akan membuat pembelajaran berlangsung secara sistematis. Dengan perencanaan yang baik, maka pembelajaran tidak akan berlangsung seadanya, tetapi akan terarah dan terorganisir dan guru dapat memanfaatkan waktu seefektif mungkin untuk mencapai tujuan pembelajaran.


2.      Fungsi Perencanaan Pembelajaran
Perencanaan pembelajaran mempunyai beberapa fungsi di antaranya sebagai berikut:
a.       Fungsi kreatif
Pembelajaran dengan menggunakan perencanaan yang matang akan dapat memberikan umpan balik (feedback) yang dapat menggambarkan berbagai kelemahan yang ada sehingga akan dapat  meningkatkan dan memperbaiki program.
b.      Fungsi Inovatif
Suatu inovasi pasti akan muncul jika direncanakan karena adanya kelemahan dan kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Kesenjangan tersebut akan dapat dipahami jika kita memahami proses yang dilaksanakan secara sistematis dan direncanakan dan diprogram secara utuh.
c.       Fungsi selektif
Melalui proses perencanaan akan dapat diseleksi strategi mana yang dianggap lebih efektif dan efisien untuk dikembangkan. Fungsi selektif ini juga berkaitan dengan pemilihan materi pelajaran yang dianggap sesuai dengan tujuan pembelajaran.  
d.      Fungsi Komunikatif
Suatu perencanaan yang memadai harus dapat menjelaskan kepada setiap orang yang terlibat, baik guru, siswa, kepala sekolah, bahkan pihak eksternal  seperti orang tua dan masyarakat. Dokumen perencanaan harus dapat mengkomunikasikan kepada setiap orang baik mengenai tujuan dan hasil yang hendak dicapai dan strategi yang dilakukan.
e.       Fungsi prediktif
Perencanaan yang disusun secara benar dan akurat, dapat menggambarkan apa yang akan terjadi setelah dilakukan suatu tindakan sesuai dengan program yang telah disusun. Melalui fungsi prediktifnya, perencanaan dapat menggambarkan berbagai kesulitan yang akan terjadi, dan menggambarkan hasil yang akan diperoleh.

f.        Fungsi akurasi
Melalui proses perencanaan yang matang, guru dapat mengukur setiap waktu yang diperlukan untuk menyampaikan bahan pelajaran tertentu, dapat menghitung jam pelajaran efektif.
g.      Fungsi pencapaian tujuan
Mengajar bukanlah sekedar menyampaikan materi, tetapi juga membentuk manusia yang utuh yang tidak hanya berkembang dalam aspek intelektualnya saja, tetapi juga dalam sikap dan ketrampilan. Melalui perencanaan yang baik, maka proses dan hasil belajar dapat dilakukan secara seimbang.
h.      Fungsi kontrol
Mengontrol keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam suatu proses pembelajaran. Melalui perencanaan akan dapat ditentukan sejauh mana materi pelajaran telah dapat diserap oleh siswa dan dipahami, sehingga akan dapat memberikan balikan kepada guru dalam mengembangkan program pembelajaran selanjutnya.
D.    Kriteria Penyusunan Perencanaan Pembelajaran
Untuk menghasilkan perencanaan pembelajaran yang baik, tentunya harus memenuhi kriteria tertentu, dan beberapa nilai yang dapat dijadikan sebagai kriteria penyusunan perencanaan, diantaranya:
1.      Signifikansi artinya kebermaknaan, ini berarti bahwa perencanaan pembelajaran hendaknya bermakna agar proses pembelajaran berjalan secara efektif san efesien.
2.      Relevan artinya kesesuaian. Ini berarti bahwa perencanaan yang dibuat mempunyai kesesuaian baik internal maupun eksternal.
3.      Nilai kepastian ini bermakna bahwa perencanaan pembelajaran yang dibuat hendaknya tidak lagi mengundang sekian banyak alternatif yang dapat dipilih, akan tetapi sudah selesai dan mengandung langkah-langkah pasti secara sistematis.
4.      Adaptabilitas maksudnya bahwa perencanaan pembelajaran yang disusun harus adaptif artinya dapat diimplementasikan dalam berbagai keadaan dan berbagai kondisi.
5.      Kesederhanaan bahwa perencanaan pembelajaran yang disusun mudah dipahami dan mudah diimplementasikan, sehingga berfungsi dengan baik sebagai pedoman untuk guru dalam perencanaan pembelajaran di kelas.
6.      Prediktif bahwa perencanaan yang baik harus memiliki kemampuan prediksi yang kuat, sehingga dapat mengantisipasi berbagai kemungkinan yang akan terjadi sehinggga memudahkan guru untuk mengantisipasinya.

Sedangkan dalam penyusunan perencanaan pembelajaran adapun konsep-konsep yang dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Konsep perencanaan pembelajaran dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, yaitu:
1.      Perencanaan pembelajaran sebagai teknologi adalah suatu perencanaan yang mendorong penggunaan teknik-teknik yang dapat mengembangkan tingkah laku kognitif dan teori-teori konstruktif terhadap solusi dan problem-problem pengajaran.
2.       Perencanaan pembelajaran sebagai suatu sistem adalah sebuah susunan dari sumber-sumber dan prosedur-prosedur untuk menggerakkan pembelajaran. Pengembangan sistem pengajaran melalui proses yang sistematik selanjutnya diimplementasikan dengan mengacu pada sistem perencanaan itu.
3.      Perencanaan pembelajaran sebagai sebuah disiplin adalah cabang dari pengetahuan yang senantiasa memperhentikan hasil-hasil penelitian dan teori tentang strategi pengajaran dan implementasinya terhadap strategi tersebut.
4.      Perencanaan pembelajaran sebagai sains (science) adalah mengkreasikan secara detail spesifikasi dari pengembangan, implementasi, evaluasi, dan pemeliharaan akan situasi maupun fasilitas pembelajaran terhadap unit-unit yang luas maupun yang lebih sempit dari materi pelajaran dengan segala tingkatan kompleksitasnya.
5.      Perencanaan pembelajaran sebagai sebuah proses adalah mengembangkan pengajaran secara sistematik yang digunakan secara khusus atas dasar teori-teori pembelajaran dan pengajaran untuk menjamin kualitas pembelajaran. Dalam perencanaan ini dilakukan analisis kebutuhan dari proses belajar dengan alur yang sistematik untuk mencapai tujuan pembelajaran. Termasuk di dalamnya melakukan evaluasi terhadap materi pelajaran dan aktifitas-aktifitas sistematik.
6.      Perencanaan pembelajaran sebagai sebuah realitas adalah ide pengajaran dikembangkan dengan memberikan hubungan pengajaran dari waktu ke waktu dalam suatu proses yang dikerjakan perencana dengan mengecek secara cermat bahwa semua kegiatan telah sesuai dengan tuntutan sains dan dilaksanakan secara sistematik.

E.     Langkah-Langkah Penyusunan Perencanaan Pembelajaran
1.      Merumuskan tujuan khusus
Dalam merancang pembelajaran, tugas pertama dari seorang guru adalah merumuskan tujuan pembelajaran khusus beserta materi pelajarannya. Sebab tujuan umum (Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar) dari pembelajaran sudah dirumuskan oleh para pengembang kurikulum. Tugas guru adalah menterjemahkan tujuan umum pembelajaran (SK dan KD) menjadi tujuan khusus (indikator) pembelajaran yang lebih spesifik dan mudah terukur.
Rumusan tujuan pembelajaran menurut Bloom (1964) mencakup 3 aspek penting yaitu domain kognitf, afektif, dan psikomotorik.
a.       Domain kognitif
Pada domain kognitif, tujuan pembelajaran berkaitan dengan aspek intelektual siswa, melalui penguasaan pengetahuan dan informasi mengenai data dan fakta, konsep, generalisasi, dan prinsip. Semakin kuat seseorang dalam menguasai pengetahuan dan informasi, maka semakin mudah seseorang dalam melaksanakan aktivitas belajar.
b.      Domain afektif
Domain afektif adalah domain yang berhubungan dengan penerimaan dan apresiasi seseorang terhadap suatu hal dan perkembagan mental yang ada dalam diri seseorang.

c.       Domain psikomotor
Domain psikomotor adalah domain yang menggambarkan kemampuan dan ketrampilan seseorang yang dapat dilihat dari unjuk kerja atau performance yang berupa ketrampilan fisik dan ketrampilan non fisik.
2.      Memilih pengalaman belajar bukan hanya sekedar mencatat dan menghafal, akan tetapi proses berpengalaman, sehingga siswa harus didorong secara aktif untuk melakukan kegiatan tertentu, mencari dan menemukan sendiri fakta.
3.      Menentukan kegiatan belajar mengajar yang sesuai pada dasarnya dapat dirancang melalui pendekatan kelompok atau pendekatan individual.
4.      Menentukan orang yang terlibat dalam proses pembelajaran orang-orang yang akan terlibat dalam proses pembelajaran dan berperan sebagai sumber belajar meliputi instruktur atau guru, dan tenaga profesional.
5.      Memilih bahan dan alat penentuan bahan dan alat dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
a.       keberagaman kemampuan intelektual siswa.
b.      jumlah dan keberagaman tujuan pembelajaran khusus yang harus dicapai siswa.
c.       tipe-tipe media yang diproduksi dan digunakan secara khusus.
d.      berbagai alternatif pengalaman belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.
e.       bahan dan alat yang dapat dimanfaatkan.
f.        fasilitas fisik yang tersedia..
6.      Ketersediaan fasilitas fisik
Fasilitas fisik merupakan faktor yang akan berpengaruh terhadap keberhasilan proses pembelajaran. Fasilitas fisik meliputi ruangan kelas, pusat media, laboratorium, dan lain-lain. Guru dan siswa akan bekerja sama menggunakan bahan pelajaran, memanfaatkan alat, berdiskusi, dan lain sebagainya dan kesemuanya itu dapat digunakan melalui proses perencanaan yang matang melalui pengaturan secara profesional termasuk adanya dukungan finansial sesuai dengan kebutuhan.
Perencanaan evaluasi dan pengembangan merupakan faktor penting dalam perencanaan pembelajaran, sebab dengan evaluasi akan dapat dilihat keberhasilan pengelolaan pembelajaran dan keberhasilan siswa mencapai bagi kami sebagai tim penyusun.