A.
Hakikat Perencanaan Pembelajaran
Menyusun
perencanaan dan desain pembelajaran, merupakan langkah penting agar tujuan
pembelajaran dapat tercapai secara efektif. Oleh karena itu kami rasa perlu
memahami hakikat dari perencanaan pembelajaran sebagai pengenalan awal sebelum anda menyusun rencana pemvelajaran
bai peserta didik anda.
Dalam
makalah ini, kami mengupas hal-hal yang berkaitan dengan hakikat perencanaan
pembelajaran itu sendiri. Kami berharap makalah ini dapat membantu anda yang
ingin memahami lebih dalam hakikat dari perencanaan pembelajaran.
B.
Pentingnya Perencanaan Pembelajaran
Bagi
seorang profesional, merencanakan sesuai dengan tugas dan tanggungjawab
profesinya merupakan tahap yang tidak boleh ditinggalkan. Menurut Deshimer (
dalam Wina Sanjaya, 2008: 30 ) dua alasan perlunya perencanaan Pertama, hakikat
manusia yang memiliki kemampuan dan pilihan untuk berkreasi sesuai dengan
pandangannya. Seorang profesional dapat menentukan waktu dan cara bertindak
yang dianggap sesuai; kedua, setiap manusia hidup dalam kelompok yang saling
berhubungan satu dengan yang lainnya sehingga selamanya membutuhkan koordinasi
dalam melaksanakan berbagai aktivitas. Dengan demikian, suatu pekerjaan akan
berhasil manakala semua yang terlibat dapat bekerja sesuai dengan perannya
masing-masing. Dua hal itulah selanjutnya dibutuhkan perencanaan matang untuk
mengerjakan sesuatu”.
Perencanaan
sangat penting sehingga dibutuhkan dalam pembelajaran. Hal ini disebabkan oleh
beberapa hal berikut
Pertama,
pembelajaran adalah proses yang bertujuan. Menurut Dick dan Caley Pembelajaran
terdiri atas seluruh komponen materi pembelajaran dan prosedur atau tahapan
kegiatan belajar yang atau digunakan oleh guru dalam rangka membantu peserta
didik mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Menurut mereka strategi bukan
hanya terbatas prosedur atau tahapan kegiatan belajar saja, melainkan juga
pengaturan, materi atau paket pembelajaran yang akan disampaikan kepada peserta
didik (dalam Zainal Akib, 2013: 69).
Kedua,
pembelajaran adalah proses kerja sama. Menurut Martinis Yamin (2012: 58)
kegiatan belajar mengajar dikelas dilakukan oleh seorang guru sesuai dengan
gaya mengajarnya, sebagian guru membuka buku pelajaran dan menjelaskan materi
yang terdapat didalam buku tersebut, sebagian guru yang lain menanyakan kepada
siswa atau peserta didik tentang penguasaan materi yang yang akan dipelajari,
kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab, diskusi tugas dan lain-lain di
kalangan para siswa di kelas tersebut. Ini adalah bentuk proses kerja sama
antara guru dan siswa serta siswa dengan siswa.
Ketiga,
proses pembelajaran adalah proses yang kompleks. Pembelajaran bukan hanya
sekadar menyampaikan materi pembelajaran, akan tetapi suatu proses pembentukan
perilaku siswa. Siswa adalah organisma yang unik, yang sedang berkembang. Siswa
bukan benda mati yang dapat diatur begitu saja mereka memiliki bakat dan minat
yang berbeda; mereka memiliki gaya belajar. Itulah sebabnya proses pembelajaran
adalah proses yang kompleks, yang harus memperhitungkan kemungkinan yang akan
terjadi. Kemungkinan-kemungkinan itulah yang selanjutnya memerlukan perencanaan
yang matang dari setiap guru ( Wina Sanjaya, 2013 : 32)
Keempat,
proses akan lebih efektif manakala memanfaatkan berbagai sarana prasarana yang
ada termasuk memanfaatkan berbagai sumber belajar. Salah satu kelemahan guru
dewasa ini dalam pengelolaan pembelajaran adalah kurangnya pemanfaatan sarana
dan prasarana yang tersedia. Padahal, banyak sekali jenis-jenis teknologi yang
dapat digunakan oleh guru untuk menunjang keberhasilan proses pembelajaran.
Pembelajaran
akan efektif manakala guru memanfaatkan sarana dan prasarana secara tepat.
Untuk itu perlu perencanaan yang matang bagaimana memanfaatkannya untuk
keperluan pencapaian tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien ( Wina
Sanjaya, 2013: 32)
C.
Manfaat dan Fungsi Perencanaan Pembelajaran
1.
Manfaat
Perencanaan Pembelajaran
a.
Dengan perencanaan
yang matang dan akurat, akan dapat diprediksi seberapa besar keberhasilan yang
akan dicapai. Oleh karena itu akan terhindar dari keberhasilan yang
sifatnya untung-untungan sebab segala kemungkinan kegagalan sudah dapat
diantisipasi oleh guru. Dalam perencanaan, guru harus paham tujuan apa yang
akan dicapai, strategi apa yang tepat dilakukan sesuai dengan tujuan yang akan
dicapai, dan dari mana sumber belajar yang dapat digunakan.
b.
Sebagai alat untuk
memecahkan masalah. Dengan perencanaan yang matang, maka segala kemungkinan dan
masalah yang akan timbul dapat diantisipasi sehingga dapat diprediksi pula
jalan penyelesaiannya.
c.
Untuk memanfaatkan
berbagai sumber belajar secara tepat. Dengan perencanaan yang tepat, maka guru
dapat menentukan sumber-sumber belajar yang dianggap tepat untuk mempelajari
suatu bahan pembelajaran sebab saat ini banyak sekali sumber belajar yang
ditawarkan baik melalui media cetak maupun elektronik.
d.
Perencanaan akan
membuat pembelajaran berlangsung secara sistematis. Dengan perencanaan yang
baik, maka pembelajaran tidak akan berlangsung seadanya, tetapi akan terarah
dan terorganisir dan guru dapat memanfaatkan waktu seefektif mungkin untuk
mencapai tujuan pembelajaran.
2.
Fungsi Perencanaan
Pembelajaran
Perencanaan
pembelajaran mempunyai beberapa fungsi di antaranya sebagai berikut:
a.
Fungsi kreatif
Pembelajaran dengan menggunakan perencanaan yang
matang akan dapat memberikan umpan balik (feedback)
yang dapat menggambarkan berbagai kelemahan yang ada sehingga akan
dapat meningkatkan dan memperbaiki program.
b.
Fungsi Inovatif
Suatu inovasi pasti akan muncul jika direncanakan
karena adanya kelemahan dan kesenjangan antara harapan dan kenyataan.
Kesenjangan tersebut akan dapat dipahami jika kita memahami proses yang
dilaksanakan secara sistematis dan direncanakan dan diprogram secara utuh.
c.
Fungsi selektif
Melalui proses perencanaan akan dapat diseleksi
strategi mana yang dianggap lebih efektif dan efisien untuk dikembangkan.
Fungsi selektif ini juga berkaitan dengan pemilihan materi pelajaran yang
dianggap sesuai dengan tujuan pembelajaran.
d.
Fungsi Komunikatif
Suatu perencanaan yang memadai harus dapat menjelaskan
kepada setiap orang yang terlibat, baik guru, siswa, kepala sekolah, bahkan
pihak eksternal seperti orang tua dan masyarakat. Dokumen
perencanaan harus dapat mengkomunikasikan kepada setiap orang baik mengenai
tujuan dan hasil yang hendak dicapai dan strategi yang dilakukan.
e.
Fungsi prediktif
Perencanaan yang disusun secara benar dan akurat,
dapat menggambarkan apa yang akan terjadi setelah dilakukan suatu tindakan
sesuai dengan program yang telah disusun. Melalui fungsi prediktifnya,
perencanaan dapat menggambarkan berbagai kesulitan yang akan terjadi, dan
menggambarkan hasil yang akan diperoleh.
f.
Fungsi akurasi
Melalui proses perencanaan yang matang, guru dapat
mengukur setiap waktu yang diperlukan untuk menyampaikan bahan pelajaran
tertentu, dapat menghitung jam pelajaran efektif.
g.
Fungsi pencapaian
tujuan
Mengajar bukanlah sekedar menyampaikan materi, tetapi
juga membentuk manusia yang utuh yang tidak hanya berkembang dalam aspek
intelektualnya saja, tetapi juga dalam sikap dan ketrampilan. Melalui
perencanaan yang baik, maka proses dan hasil belajar dapat dilakukan secara
seimbang.
h.
Fungsi kontrol
Mengontrol keberhasilan
siswa dalam mencapai tujuan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam
suatu proses pembelajaran. Melalui perencanaan akan dapat ditentukan sejauh
mana materi pelajaran telah dapat diserap oleh siswa dan dipahami, sehingga
akan dapat memberikan balikan kepada guru dalam mengembangkan program
pembelajaran selanjutnya.
D.
Kriteria Penyusunan Perencanaan Pembelajaran
Untuk
menghasilkan perencanaan pembelajaran yang baik, tentunya harus memenuhi kriteria tertentu, dan beberapa
nilai yang dapat dijadikan sebagai kriteria penyusunan perencanaan,
diantaranya:
1. Signifikansi artinya kebermaknaan, ini berarti bahwa perencanaan
pembelajaran hendaknya bermakna agar proses pembelajaran berjalan secara efektif san
efesien.
2. Relevan artinya kesesuaian. Ini berarti bahwa perencanaan yang dibuat mempunyai kesesuaian baik internal
maupun eksternal.
3. Nilai kepastian ini bermakna bahwa perencanaan pembelajaran yang dibuat
hendaknya tidak lagi mengundang sekian banyak alternatif yang dapat dipilih,
akan tetapi sudah selesai dan mengandung langkah-langkah pasti secara
sistematis.
4. Adaptabilitas maksudnya bahwa perencanaan pembelajaran yang disusun harus adaptif artinya
dapat diimplementasikan dalam berbagai keadaan dan berbagai kondisi.
5. Kesederhanaan bahwa perencanaan pembelajaran yang disusun mudah dipahami dan mudah
diimplementasikan, sehingga berfungsi dengan baik sebagai pedoman untuk guru dalam perencanaan
pembelajaran di kelas.
6. Prediktif bahwa perencanaan yang baik harus memiliki kemampuan prediksi yang kuat,
sehingga dapat mengantisipasi berbagai kemungkinan yang akan terjadi sehinggga memudahkan
guru untuk mengantisipasinya.
Sedangkan dalam penyusunan
perencanaan pembelajaran adapun konsep-konsep yang dapat dilihat dari berbagai
sudut pandang. Konsep
perencanaan pembelajaran dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, yaitu:
1. Perencanaan pembelajaran sebagai teknologi adalah suatu perencanaan yang
mendorong penggunaan teknik-teknik yang dapat mengembangkan tingkah laku
kognitif dan teori-teori konstruktif terhadap solusi dan problem-problem
pengajaran.
2. Perencanaan pembelajaran sebagai
suatu sistem adalah sebuah susunan dari sumber-sumber dan prosedur-prosedur untuk menggerakkan
pembelajaran. Pengembangan sistem pengajaran melalui proses yang sistematik
selanjutnya diimplementasikan dengan mengacu pada sistem perencanaan itu.
3. Perencanaan pembelajaran sebagai sebuah disiplin adalah cabang dari
pengetahuan yang senantiasa memperhentikan hasil-hasil penelitian dan teori
tentang strategi pengajaran dan implementasinya terhadap strategi tersebut.
4. Perencanaan pembelajaran sebagai sains (science) adalah mengkreasikan secara
detail spesifikasi dari pengembangan, implementasi, evaluasi, dan pemeliharaan
akan situasi maupun fasilitas pembelajaran terhadap unit-unit yang luas maupun
yang lebih sempit dari materi pelajaran dengan segala tingkatan
kompleksitasnya.
5. Perencanaan pembelajaran sebagai sebuah proses adalah mengembangkan
pengajaran secara sistematik yang digunakan secara khusus atas dasar
teori-teori pembelajaran dan pengajaran untuk menjamin kualitas pembelajaran.
Dalam perencanaan ini dilakukan analisis kebutuhan dari proses belajar dengan
alur yang sistematik untuk mencapai tujuan pembelajaran. Termasuk di dalamnya
melakukan evaluasi terhadap materi pelajaran dan aktifitas-aktifitas
sistematik.
6. Perencanaan pembelajaran sebagai sebuah realitas adalah ide pengajaran
dikembangkan dengan memberikan hubungan pengajaran dari waktu ke waktu dalam
suatu proses yang dikerjakan perencana dengan mengecek secara cermat bahwa
semua kegiatan telah sesuai dengan tuntutan sains dan dilaksanakan secara
sistematik.
E.
Langkah-Langkah Penyusunan Perencanaan Pembelajaran
1.
Merumuskan tujuan
khusus
Dalam merancang pembelajaran, tugas pertama dari
seorang guru adalah merumuskan tujuan pembelajaran khusus beserta materi
pelajarannya. Sebab tujuan umum (Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar) dari
pembelajaran sudah dirumuskan oleh para pengembang kurikulum. Tugas guru adalah
menterjemahkan tujuan umum pembelajaran (SK dan KD) menjadi tujuan khusus
(indikator) pembelajaran yang lebih spesifik dan mudah terukur.
Rumusan tujuan pembelajaran menurut Bloom (1964)
mencakup 3 aspek penting yaitu domain kognitf, afektif, dan psikomotorik.
a.
Domain kognitif
Pada domain kognitif, tujuan pembelajaran berkaitan
dengan aspek intelektual siswa, melalui penguasaan pengetahuan dan informasi
mengenai data dan fakta, konsep, generalisasi, dan prinsip. Semakin kuat
seseorang dalam menguasai pengetahuan dan informasi, maka semakin mudah
seseorang dalam melaksanakan aktivitas belajar.
b.
Domain afektif
Domain afektif adalah domain yang berhubungan dengan
penerimaan dan apresiasi seseorang terhadap suatu hal dan perkembagan mental
yang ada dalam diri seseorang.
c.
Domain psikomotor
Domain psikomotor adalah domain yang menggambarkan
kemampuan dan ketrampilan seseorang yang dapat dilihat dari unjuk kerja atau
performance yang berupa ketrampilan fisik dan ketrampilan non fisik.
2.
Memilih pengalaman
belajar bukan hanya sekedar mencatat dan menghafal, akan tetapi proses
berpengalaman, sehingga siswa harus didorong secara aktif untuk melakukan
kegiatan tertentu, mencari dan menemukan sendiri fakta.
3.
Menentukan
kegiatan belajar mengajar yang sesuai pada dasarnya dapat dirancang melalui
pendekatan kelompok atau pendekatan individual.
4.
Menentukan orang
yang terlibat dalam proses pembelajaran orang-orang yang akan terlibat dalam
proses pembelajaran dan berperan sebagai sumber belajar meliputi instruktur
atau guru, dan tenaga profesional.
5.
Memilih bahan dan
alat penentuan bahan dan alat dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
a.
keberagaman
kemampuan intelektual siswa.
b.
jumlah dan
keberagaman tujuan pembelajaran khusus yang harus dicapai siswa.
c.
tipe-tipe media
yang diproduksi dan digunakan secara khusus.
d.
berbagai
alternatif pengalaman belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.
e.
bahan dan alat
yang dapat dimanfaatkan.
f.
fasilitas fisik
yang tersedia..
6.
Ketersediaan
fasilitas fisik
Fasilitas
fisik merupakan faktor yang akan berpengaruh terhadap keberhasilan proses
pembelajaran. Fasilitas fisik meliputi ruangan kelas, pusat media,
laboratorium, dan lain-lain. Guru dan siswa akan bekerja sama menggunakan bahan
pelajaran, memanfaatkan alat, berdiskusi, dan lain sebagainya dan kesemuanya
itu dapat digunakan melalui proses perencanaan yang matang melalui pengaturan
secara profesional termasuk adanya dukungan finansial sesuai dengan kebutuhan.
Perencanaan evaluasi dan pengembangan merupakan faktor penting dalam
perencanaan pembelajaran, sebab dengan evaluasi akan dapat dilihat keberhasilan
pengelolaan pembelajaran dan keberhasilan siswa mencapai bagi kami sebagai tim
penyusun.
No comments:
Post a Comment