Thursday, June 25, 2020

Analisis Kesantunan Berbahasa dalam Ranah Jual Beli Menurut Teori Leech

BAB I
PENDAHULUAN

 

A.       Latar Belakang

           Jual beli Adalah proses pemindahan hak milik/barang atau harta kepada pihak lain dengan menggunakan uang sebagai alat tukarnya. Menurut etimologi, jual beli adalah pertukaran sesuatu dengan sesuatu (yang lain). Kata lain dari jual beli adalah al-ba’i, asy-syira’, al-mubadah, dan at-tijarah.
Landasan atau dasar hukum mengenai jual beli ini disyariatkan berdasarkan Al-Qur’an, Hadist Nabi, dan Ijma’. Hukum jual beli pada dasarnya dibolehkan oleh ajaran islam. Kebolehan ini didasarkan kepada firman Allah yang terjemahannya sebagaiberikut :
           “…. Janganlah kamu memakan harta diantara kamu dengan jalan batal melainkan dengan jalan jual beli, suka sama suka….” (Q.S. An-Nisa’ : 29).
Rukun dan syarat jual beli adalah ketentuan-ketentuan dalam jual beli yang harus dipenuhi agar jual belinya sah menurut syara’ (hukum islam).
Rukun Jual Beli:
Dua pihak membuat akad penjual dan pembeli
Objek akad (barang dan harga)
Ijab qabul (perjanjian/persetujuan)
             Barang- barang yang terlarang diperjual belikan adalah : barang yan g haram dimakan, khamar, buah-buahan yang belum dapat dimakan,air, barang-barang yang samar dan barang- barang yang dapat dijadikan sarana ma’shiyat

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Jual Beli

 

 

   Jual beli Adalah proses pemindahan hak milik/barang atau harta kepada pihak

J. lain dengan menggunakan uang sebagai alat tukarnya.
Menurut etimologi, jual beli adalah pertukaran sesuatu dengan sesuatu (yang lain). Kata lain dari jual beli adalah al-ba’i, asy-syira’, al-mubadah, dan at-tijarah. Menurut terminologi, para ulama berbeda pendapat dalam

mendefinisikannya, antara lain :
1.      Menurut ulama Hanafiyah : Jual beli adalah ”pertukaran harta (benda) dengan hartaberdasarkan cara khusus (yang dibolehkan).”
2.      Menurut Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ : Jual beli adalah “ pertukaran harta dengan harta untuk kepemilikan.”
3.      Menurut Ibnu Qudamah dalam kitab Al-mugni : Jual beli adalah “ pertukaran harta dengan harta, untuk saling menjadikan milik.” Pengertian lainnya jual beli ialah persetujuan saling mengikat antara penjual ( yakni pihak yang menyerahkan/menjual barang) danpembeli (sebagai pihak yang membayar/membeli barang yang dijual).Pada masa Rasullallah SAW harga barang itu dibayar dengan mata uangyang terbuat dari emas (dinar) dan mata uang yang terbuat dari perak(dirham).


B.   Landasan atau Dasar Hukum Jual Beli
Landasan atau dasar hukum mengenai jual beli ini disyariatkan berdasarkan Al-Qur’an, Hadist Nabi, dan Ijma’ Yakni :
1.    Al Qur’an
Yang mana Allah SWT berfirman dalam surat An-Nisa : 29
“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu makan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu” (QS. An-Nisa : 29).
“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS. Al-Baqarah : 2.   Sunnah
               Nabi, yang mengatakan:” Suatu ketika Nabi SAW, ditanya tentang mata pencarian yang paling baik. Beliau menjawab, ’Seseorang bekerja dengan tangannya dan setiap jual beli yang mabrur.” (HR. Bajjar, Hakim yang menyahihkannya dari Rifa’ah Ibn Rafi’). Maksud mabrur dalam hadist adalah jual beli yang terhindar dari usaha tipu-menipu dan merugikan orang lain.

3.    Ijma’
             Ulama telah sepakat bahwa jual beli diperbolehkan dengan alasan bahwa manusia tidak akan mampu mencukupi kebutuhan dirinya, tanpa bantuan orang lain. Namun demikian, bantuan atau barang milik orang lain yang dibutuhkannya itu, harus diganti dengan barang lainnya yang sesuai. Mengacu kepada ayat-ayat Al Qur’an dan hadist, hukum jual beli adalah mubah (boleh). Namun pada situasi tertentu, hukum jual beli itubisa berubah menjadi sunnah, wajib, haram, dan makruh.
           Berikut ini adalah contoh bagaimana hukum jual beli bisa berubah menjadi sunnah, wajib, haram, atau makruh. Jual beli hukumnya sunnah,misalnya dalam jual beli barang yang hukum menggunakan barangyang diperjual-belikan itu sunnah seperti minyak wangi. Jual beli hukumnya wajib, misalnya jika ada suatu ketika para pedagang menimbun beras, sehingga stok beras sedikit dan mengakibatkan harganya pun melambung tinggi. Maka pemerintah boleh memaksa para pedagang beras untuk menjual beras yang ditimbunnya dengan harga sebelum terjadi pelonjakan harga.
          Menurut Islam, para pedagang beras tersebut wajib menjual beras yang ditimbun sesuai dengan ketentuan pemerintah. Jual beli hukumnya haram, misalnya jual beli yang tidak memenuhi rukun dan syarat yang diperbolehkan dalam islam, juga mengandung unsur penipuan. Jual beli hukumnya makruh, apabila barang yang dijual-belikan ituhukumnya makruh seperti rokok.

2.3  Rukun dan Syarat Jual Beli
         Rukun dan syarat jual beli adalah ketentuan-ketentuan dalam jual beli yang harus dipenuhi agar jual belinya sah menurut syara’ (hukum islam).
Rukun Jual Beli:
Dua pihak membuat akad penjual dan pembeli
Objek akad (barang dan harga)
Ijab qabul (perjanjian/persetujuan)
a.       Orang yang melaksanakan akad jual beli ( penjual dan pembeli )
Syarat-syarat yang harus dimiliki oleh penjual dan pembeli adalah :
1.      Berakal, jual belinya orang gila atau rusak akalnya dianggap tidak sah.
2.      Baligh, jual belinya anak kecil yang belum baligh dihukumi tidak sah. Akan tetapi, jika anak itu sudah mumayyiz (mampu membedakan baik atau buruk), dibolehkan melakukan jual beli terhadap barang-barang yang harganya murah seperti : permen, kue, kerupuk, dll.
3.      Berhak menggunakan hartanya. Orang yang tidak berhak menggunakan harta milik orang yang sangat bodoh (idiot) tidak sah jual belinya. Firman Allah ( Q.S. An-Nisa’(4): 5):
b.      Sigat atau Ucapan
Ijab dan Kabul. Ulama fiqh sepakat, bahwa unsur utama dalam jual beli adalah kerelaan antara penjual dan pembeli. Karena kerelaan itu berada dalam hati, maka harus diwujudkan melalui ucapan ijab (dari pihak penjual) dan kabul (dari pihak pembeli).
Adapun syarat-syarat ijab kabul adalah :
1.      Orang yang mengucap ijab kabul telah akil baliqh.
2.      Kabul harus sesuai dengan ijab.
3.      Ijab dan kabul dilakukan dalam suatu majlis.

c.       Barang Yang Diperjual Belikan
Barang yang diperjual-belikan harus memenuhi syarat-syarat yang diharuskan, antara lain :
1.  Barang yang diperjual-belikan itu halal.
2. Barang itu ada manfaatnya.
3.  Barang itu ada ditempat, atau tidak ada tapi ada ditempat lain.
4.  Barang itu merupakan milik si penjual atau dibawah kekuasaanya.
5.  Barang itu hendaklah diketahui oleh pihak penjual dan pembeli dengan jelas, baik zatnya, bentuknya dan kadarnya, maupun sifat-sifatnya.

d.      Nilai tukar barang yang dijual (pada zaman modern sampai sekarang ini berupa uang).
Adapun syarat-syarat bagi nilai tukar barang yang dijual itu adalah :
1.      Harga jual disepakati penjual dan pembeli harus jelas jumlahnya.
2.      Nilai tukar barang itu dapat diserahkan pada waktu transaksi jual beli, walaupun secara hukum, misalnya pembayaran menggunakan kartu kredit.
3.      Apabila jual beli dilakukan secara barter atau Al-muqayadah (nilai tukar barang yang dijual bukan berupa uang tetapi berupa uang).


C.   Hal-hal Yang Terlarang Dalam Jual Beli
           Jual beli dapat dilihat dari beberapa sudut pandang, antara lain ditinjau dari segi sah atau tidak sah dan terlarang atau tidak terlarang.
1.      Jual beli yang sah dan tidak terlarang yaitu jual beli yang terpenuhi rukun-rukun dan syarat-syaratnya.
2.      Jual beli yang terlarang dan tidak sah (bathil) yaitu jual beli yang salah satu rukun atau syaratnya tidak terpenuhi atau jual beli itu pada dasar dan sifatnya tidak disyariatkan (disesuaikan dengan ajaran islam).
3.      Jual beli yang sah tapi terlarang ( fasid ). Jual beli ini hukumnya sah, tidak membatalkan akad jual beli, tetapi dilarang oleh Islam karena sebab-sebab lain.
4.      Terlarang sebab Ahliah (Ahli Akad). Ulama telah sepakat bahwa jual beli dikategorikan sah apabila dilakukan oleh orang yang baliqh, berakal, dapat memilih. Mereka yang dipandang tidak sah jual belinya sebagai berikut :
Ø Jual beli yang dilakukan oleh orang gila.
Ø Jual beli yang dilakukan oleh anak kecil. Terlarang dikarenakan anak kecil belum cukup dewasa untuk mengetahui perihal tentang jual beli.
Ø Jual beli yang dilakukan oleh orang buta. Jual beli ini terlarang karena ia tidak dapat membedakan barang yang jelek dan barang yang baik.
Ø Jual beli terpaksa
5.      Jual beli fudhul adalah jual beli milik orang lain tanpa seizin pemiliknya.
6.      Jual beli yang terhalang. Terhalang disini artinya karena bangkrut, kebodohan, atau pun sakit.
7.      Jual beli malja’  adalah jual beli orang yang sedang dalam bahaya, yakni untuk menghindar dari perbuatan zalim.
8.      Terlarang Sebab Shigat. Jual beli yang antara ijab dan kabulnya tidak ada kesesuaian maka dipandang tidak sah. Beberapa jual beli yang termasuk terlarang sebab shiqat sebagai berikut :
Ø  Jual beli Mu’athah. Jual beli yang telah disepakati oleh pihak akad, berkenaan dengan barang maupun harganya, tetapi tidak memakai ijab kabul.
Ø  Jual beli melalui surat atau melalui utusan dikarenakan kabul yang melebihi tempat, akad tersebut dipandang tidak sah, seperti surat tidak sampai ketangan orang yang dimaksudkan.
Ø  Jual beli dengan syarat atau tulisan. Apabila isyarat dan tulisan tidak dipahami dan tulisannya jelek (tidak dapat dibaca), maka akad tidak sah.
Ø  Jual beli barang yang tidak ada ditempat akad. Terlarang karena tidak memenuhi syarat in’iqad (terjadinya akad). Jual beli tidak bersesuaian antara ijab dan kabul.
Ø  Jual beli munjiz  adalah yang dikaitkan dengan suatu syarat atau ditangguhkan pada waktu yang akan datang.
9.      Terlarang Sebab Ma’qud Alaih (Barang jualan) Ma’qud alaih adalah harta yang dijadikan alat pertukaran oleh orang yang akad, yang biasa disebut mabi ’(barang jualan) dan harga. Tetapi ada beberapa masalah yang disepakati oleh sebagian ulama, tetapi diperselisihkan, antara lain :
Ø  Jual beli benda yang tidak ada atau dikhwatirkan tidak ada.
Ø  Jual beli yang tidak dapat diserahkan. Contohnya jual beli burung yang ada di udara, dan ikan yang ada didalam air tidak berdasarkan ketetapan syara’.
Ø  Jual beli gharar adalah jual beli barang yang menganung unsur menipu (gharar)..
Ø  Jual beli barang yang najis dan yang terkena najis. Contohnya : Jual beli bangkai, babi, dll.
Ø  Jual beli air
Ø  Jual beli barang yang tidak jelas (majhul). Terlarang dikarenakan akan mendatangkan pertentangan di antara manusia.
Ø   Jual beli  yang tidak ada ditempat akad (gaib) tidak dapat dilihat. Jual beli sesuatu sebelum dipegangi. Jual beli buah-buahan atau tumbuhan apabila belum terdapat buah, disepakati tidak ada akad. Setelah ada buah, tetapi belum matang, akadnya fasid.
10.  Terlarang Sebab Syara’. Jenis jual beli yang dipermasalahkan sebab syara’ nya diantaranya adalah :
•         jual beli riba
•         Jual beli dengan uang dari barang yag diharamkan. Contohnya jual beli khamar, anjing, bangkai.
•         Jual beli barang dari hasil pencegatan barang yakni mencegat pedagang dalam perjalanannya menuju tempat yang dituju sehingga orang yang mencegat barang itu mendapatkan keuntungan.
•         Jual beli waktu adzan jum’at.Terlarang dikarena bagi laki-laki yang melakukan transaksi jual belidapat mengganggukan aktifitas kewajibannya sebagai muslim dalam mengerjakan shalat jum’at.
•         Jual beli anggur untuk dijadikan khamar .
•         Jual beli barang yang sedang dibeli oleh orang lain. Jual beli hewan ternak yang masih dikandung oleh induknya.


D.   Barang Yang Dilarang Diperjual Belikan Dalam Islam
          Islam melarang bentuk jual beli yan mengandung tindak bahaya bagi yang lain semacam jika BBM naik, sebagian pedagang menimbun barang sehingga membuat warga sulit mencari minyak dan hanya bisa diperoleh dengan harga yang relatif mahal. Begitu pula segala bentuk penipuan dan pengelabuan dalam jual beli menjadikannya terlarang. Saat ini kita akan melihat bahasan sebagai tindak lanjut dari tulisan sebelumnya mengenai bentuk jual beli yang terlarang.
Sebagai agama yang lengkap telah memberikan petunjuk lengkap tentang perdagangan, termasuk didalamnya barang-barang yang tidak boleh diperjualbelikan. Sebagai pengusaha muslimsudah sepantasnya kita mempelajari masalah ini agar terhindar dari perniagaan yang haram dan tidak di ridhoi allah.
Islam adalah agama yang syamil, yang mencakup segala permasalahan manusia, tak terkecuali dengan jual beli. Jual beli telah disyariatkan dalam Islam dan hukumnya mubah atau boleh, berdasarkan Al Quran, sunnah, ijma’ dan dalil aqli. Allah SWT membolehkan jual-beli agar manusia dapat memenuhi kebutuhannya selama hidup di dunia ini.
           Namun,  dalam melakukan jual-beli, tentunya ada ketentuan-ketentuan ataupun syarat-syarat yang harus dipatuhi dan tidak boleh dilanggar. Seperti jual beli yang dilarang yang akan kita bahas ini, karena telah menyelahi aturan dan ketentuan dalam jual beli, dan tentunya merugikan salah satu pihak, maka jual beli tersebut dilarang. Diantara jual beli yang dilarang dalam islam tersebut antara lain:
1. Jual beli yang diharamkan
           Tentunya ini sudah jelas sekali, menjual barang yang diharamkan dalam Islam. Jika Allah sudah mengharamkan sesuatu, maka Dia juga mengharamkan hasil penjualannya. Seperti menjual sesuatu yang terlarang dalam agama. Rasulullah telah melarang menjual bangkai, khamr, babi, patung dan lain sebagainya yang bertentangan dengan syariah Islam.
         Begitu juga jual beli yang melanggar syar’I yaitu dengan cara menipu. Menipu barang yang sebenarnya cacat dan tidak layak untuk dijual, tetapi sang penjual menjualnya dengan memanipulasi seakan-akan barang tersebut sangat berharga dan berkualitas. Ini adalah haram dan dilarang dalam agama, bagaimanapun bentuknya.
2. Barang yang tidak ia miliki.
         Misalnya, seorang pembeli datang kepadamu untuk mencari barang tertentu.Tapi barang yang dia cari tidak ada padamu. Kemudian ksmu/ente dan pembeli saling sepakat untuk melakukan akad dan menentukan harga dengan dibayar sekian, sementara itu barang belum menjadi hak milik (kamu) atau si penjual. Kemudian pergi membeli barang dimaksud dan menyerahkan kepada si pembeli.
           Jual beli seperti ini hukumnya haram, karena si pedagang menjual sesuatu yang barangnya tidak ada padanya, dan menjual sesuatu yang belum menjadi miliknya, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah melarang cara berjual beli seperti ini. Istilah kerennya reseller.
          Dalam suatu riwayat, ada seorang sahabat bernama Hakim bin Hazam Radhiyallahu 'anhu berkata kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salalm : “Wahai, Rasulullah. Seseorang datang kepadaku. Dia ingin membeli sesuatu dariku, sementara barang yang dicari tidak ada padaku. Kemudian aku pergi ke pasar dan membelikan barang itu”. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
لَا تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ
 “ Jangan menjual sesuatu yang tidak ada padamu. [HR Tirmidzi]. “
3. Jual beli Hashat.
           Yang termasuk jual-beli Hashat ini adalah jika seseorang membeli dengan menggunakan undian atau dengan adu ketangkasan, agar mendapatkan barang yang dibeli sesuai dengan undian yang didapat. Sebagai contoh: Seseorang berkata: “ Lemparkanlah bola ini, dan barang yang terkena lemparan bola ini kamu beli dengan harga sekian”. Jual beli yang sering kita temui dipasar-pasar ini tidak sah. Karena mengandung ketidakjelasan dan penipuan.
4. Jual beli Mulamasah.
             Mulamasah artinya adalah sentuhan. Maksudnya jika seseorang berkata:  “Pakaian yang sudah kamu sentuh, berarti sudah menjadi milikmu dengan harga sekian”. Atau “Barang yang kamu buka, berarti telah menjadi milikmu dengan harga sekian”.
            Jual beli yang demikian juga dilarang dan tidak sah, karena tidak ada kejelasan tentang sifat yang harus diketahui dari calon pembeli. Dan didalamnya terdapat unsur pemaksaan.
5. Jual Beli Najasy
             Bentuk praktek najasy adalah sebagai berikut, seseorang yang telah ditugaskan menawar barang mendatangi penjual lalu menawar barang tersebut dengan harga yang lebih tinggi dari yang biasa. Hal itu dilakukannya dihadapan pembeli dengan tujuan memperdaya si pembeli. Sementara ia sendiri tidak berniat untuk membelinya, namun tujuannya semata-mata ingin memperdaya si pembeli dengan tawarannya tersebut. Ini termasuk bentuk penipuan.
Dan Rasullulah S.A.W. telah melarang perbuatan najasy ini seperti yang terdapat di dalam hadist :
           "Janganlah kamu melakukan praktek najasy, janganlah seseorang menjual di atas penjualan saudaranya, janganlah ia meminang di atas pinangan saudaranya dan janganlah seorang wanita meminta (suaminya) agar menceraikan madunya supaya apa yang ada dalam bejana (madunya) beralih kepadanya," (HR Bukhari [2140] dan Muslim [1413]).        
            Tentunya masih banyak sekali contoh-contoh atau model jual beli yang dilarang dalam agama, seperti jual-beli yang menghalangi orang untuk melakukan sholat, khususnya diwaktu jumat setelah adzan kedua sholat jumat, juga menjual barang sebelum diterima, kemudian makelar atau calo yang menjual barang dengan harga yang lebih tinggi dari harga sekarang. Itu semua merupakan jual-beli yang dilarang dalam Islam.
            Semoga kita semua senantiasa terjaga dalam bermuamalah dengan sesama, selalu waspada dan berhati-hati dalam bertindak khususnya dalam berdagang. Mari kita mensuri tauladani Nabi kita Muhammad SAW dalam berdagang, beliau selalu dipercayai dalam setiap ucapan, dan perbuatannya
Barang yang tidak boleh diperjualbelikan:
1.    Khamer (Minuman Keras)
Dari Aisyah ra, ia berkata: Tatkala sejumlah ayat akhir surat al-Baqarah turun, Nabi saw keluar (menemui para sahabat) lantas bersabda (kepada mereka), “Telah diharamkan jual beli arak.” (Muttafaqun’alaih: Fathul Bari IV: 417 no: 2226, Muslim III: 1206 no: 1580, ‘Aunul Ma’bud IX: 380 no: 3473, dan Nasa’i VII: 308).
2.    Bangkai, Babi dan Patung
Dari Jabir bin Abdullah ra, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda ketika Beliau di Mekkah pada waktu penaklukan kota Mekkah, “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan menjual arak, bangkai, babi dan patung.” Rasulullah saw ditanya, “Bagaimana pendapatmu tentang lemak bangkai, karena itu dipergunakan untuk mengecat perahu-perahu, meminyaki kulit-kulit dan dijadikan penerangan lampu oleh orang-orang?”  Beliau jawab, “Tidak boleh, karena haram.” Kemudian Rasulullah saw pada waktu itu bersabda, “Allah melaknat kaum Yahudi, karena ketika Allah mengharamkan lemak bangkai, justeru mereka mencairkannya, lalu menjualnya, kemudian mereka makan harganya.” (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari IV: 424 no: 2236, Muslim III: 1207 no: 1581, Tirmidzi II: 281 no: 1315, ‘Aunul Ma’bud IX: 377 no: 3469, Ibnu Majah II: 737 no: 2167 dan Nasa’i VII: 309).
3.    Anjing
             Dari Abu Mas’ud al-Anshari ra, bahwa Rasulullah saw melarang harga anjing, hasil melacur, dan upah dukun. (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari IV: 426 no: 2237, Muslim III: 1198 no: 1567, ‘Aunul Ma’bud IX: 374 no: 3464, Tirmidzi II: 372 no: 1293, Ibnu Majah II: 730 no: 2159 dan Nasa’i VII: 309).
4.    Gambar yang Bernyawa
              Dari Sa’id bin Abil Hasan, ia berkata : Ketika saya berada di sisi Ibnu Abbas ra tiba-tiba datanglah kepadanya seorang laki-laki lalu bertanya kepadanya “Ya Ibnu Abbas, dan sejatinya aku berprofesi sebagai pelukis gambar-gambar ini.” Maka Ibnu Abbas berkata kepadanya, ‘Saya tidak akan menyampaikan kepadamu melainkan apa yang saya dengan dari Rasulullah saw. Aku mendengar Beliau bersabda, “Barang siapa yang melukis satu gambar, maka sesungguhnya Allah akan mengadzabnya hingga ia meniupkan ruh padanya, padahal ia tidak mungkin selam-lamanya meniupkan ruh padanya.” Maka laki-laki itu berubah dengan perubahan yang besar dan wajahnya menguning. Kemudian Ibnu Abbas berkata kepadanya, “Celaka engkau! Jika engkau membangkang dan akan tetap meneruskan profesimu ini, maka hendaklah engkau (menggambar) pepohonan ini; dan segala sesuatu yang tidak bernyawa.” (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari IV: 416 no: 2225 dan lafadz ini bagi Imam Bukhari, Muslim III: 1670 no: 2110 dan Nasa’i VIII: 215 secara ringkas).
5.    Buah-Buahan yang Belum Nyata Jadinya
                Dari Anas bin Malik ra, dari Nabi saw, bahwa beliau melarang menjual buah-buahan hingga nyata jadinya dan kurma hingga sempurna. Beliau ditanya, “Apa (tanda) sempurnanya?” Jawab Beliau “Berwarna merah atau kuning.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 6928 dan Fathul Bari IV: 397 no: 2167).
Darinya (Anas bin Malik) ra, bahwa Rasulullah saw melarang menjual buah-buahan sebelum sempurna. Kemudian Beliau ditanya, “Apa (tanda) sempurnanya?” Beliau menjawab, “Hingga berwarna merah.” Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Bagaimana pendapatmu apabila Allah menghalangi buah itu untuk menjadi sempurna, maka dengan alasan apakah seorang di antara kamu akan mengambil harta saudaranya.” (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari: IV: 398 no: 2198 dan lafadz ini milik Imam Bukhari, Muslim III: 1190 no: 155 dan Nasa’i VII: 264).
6.    Biji-Bijian yang Belum Mengeras
            “Dari Ibnu Umar ra, bahwa Rasulullah saw melarang menjual buah kurma hingga nyata jadinya, dan (melarang) menjual gandum hingga berisi serta selamat dari hama; Beliau melarang penjualnya dan pembelinya.” (Shahih: Mukhtashar Muslim no: 917, Muslim III: 1165 no: 1535, ‘Aunul Ma’bud IX: 222 no: 3352, Tirmidzi II: 348 no: 1245 dan Nasa’i VII: 270).

E.      Prinsip Kesantunan Berbahasa

1.               Prisip Kesantuan Lecch

Kata “prinsip” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memunyai arti: asa, kebenaran yang jadi pokok dasar orang berpikir, bertindak, dan sebgainya. Kata “kesantunana” berasal dari kata “santun” yang berarti halus dan baik budi bahsanya, tingkah lakunya, sopan, sabar, dan tenang; mengasihani, menaruh belas kasihan; menolong, menyokong, meringankan kesusahan orang; memperhatikan kepentingan umum. Kemudian kata “santun” mendapat awalan “ke” dan “an” yang membentuk kata benda “kesantunan” sehingga memunyai makna hal-hal yang berkaitan dengan kehalusan dan kebaikan; baik tingkah laku yang sopan, tutur kata yang baik sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa “prinsip kesantunan” adalah pokok atau acuan mengenai kesopanan, kesabaran, kehalusan, kebaikan, baik dalam cara bertutur kata maupun bertindak atau berhubungan dengan orang lain.

           Menurut Lecch, dalam Kushartini (2007) mengatakan bahwa dalam berkomunikasi antar penutur dan mitra tutur perlu adanya sopan santun yang menunjukkan suatu kearifan, kedermawanan, pujian, kerendahan hati, kesepakatan, dan tumbuhnya rasa simpati. Sehingga timbul suatu sopan santun atau tata krama dalam berkomunikasi, saling menghormati, tidak merugikan orang lain dan orang lain merasa diuntungkan.

Lecch membagi prinsip kesantuan menjadi enam bagian, antara lain:

1.       Maksim Kebijaksanaan (tact maxim)

             Gagasan dasar maksim kebijkasanaan dalam prinsip kesantunan adalah bahwa para peserta pertuturan hendaknya berpegang pada prinsip untuk selalu mengurangi keuntungan dirinya sendiri dan memaksimalkan keuntungan pihak lain dalam kegiatan bertutur. Orang bertutur yang berpegang dan melaksanakan maksim kebijaksanaan akan dapat dikatakan sebagai orang santun. Leech (dalam Wijana, 1996) mengatakan bahwa semakin panjang tuturan seseorang semakin besar pula keinginan orang itu untuk bersikap sopan kepada lawan bicaranya. Demikian pula tuturan yang diutarakan secara tidak langsung lazimnya lebih sopan dibandingkan dengan tuturan yang diutarakan secara langsung. Pelaksanaan maksim kebijaksanaan dapat dilihat pada contoh tuturan berikut ini,

Penjual     :“Ini Bu saya tawarkan panci.”

            Pembeli     :” Berapa harganya?.”

Penjual    :”Khusus untuk Ibu saya tawarkan harga promo        hanya 250 satu paket”.

            Pembeli    :”Terima kasih Pak.”

Di dalam tuturan tersebut, tampak dengan jelas bahwa apa yang dituturkan si penjual kepada si pembeli sangat menguntungkan pembeli.

2.       Maksim Kedermawanan

            Maksim kedermawanan atau maksim kemurahan hati, para peserta pertuturan diharapkan dapat menghormati orang lain. Penghormatan terhadap orang lain akan terjadi apabila orang dapat mengurangi keuntungan bagi dirinya sendiri dan memaksimalkan keuntungan bagi pihak lain. Pelaksanaan maksim kedermawanan dapat dilihat pada contoh tuturan berikut ini.

Pembeli        : “Berapa mas harga cabe keriting ini?.”

Penjual         : “Itu 60.000 per kilo mbak .”

Pembeli      :”tapi uang saya kurang mas, saya permisi dulu untuk ambil uang di rumah”.

          Penjual         :”Uang mbak kurang        berapa?”.

Pembeli        :”Kurang 5000 mas.”

Penjual          :”Tidak apa-apa mbak,ambil saja sesuai dompet mbak.”

Pembeli         :”Makasih mas,anda baik sekali.”

                                                  Dari tuturan tersebut, dapat dilihat bahwa si Penjual memaksimalkan keuntungan si pembeli dengan cara menambahkan beban bagi dirinya sendiri. Hal itu dilakukan dengan cara mengurangi harga cabe keriting yang dijualnya ke pembeli.

3.       Maksim Penghargaan

Maksim penghargaan menjelaskan bahwa seseorang akan dapat dianggap santun apabila dalam bertutur selalu berusaha memberikan penghargaan kepada pihak lain. Dengan maksim ini, diharapkan agar para peserta pertuturan tidak saling mengejek, saling mencaci, atau saling merendahkan pihak lain. Peserta tutur yang sering mengejek peserta tutur lain di dalam kegiatan bertutur akan dikatakan sebagai orang yang tidak sopan. Dikatakan demikian karena tindakan mengejek merupakan tindakan tidak menghargai orang lain. Pelaksanaan maksim penghargaan dapat dilihat pada contoh tuturan berikut ini.

             Penjual      : “Ini strawberry baru petik,saya kasih 10.000 per bungkus .”

        Pembeli   : “Oya, harganya murah sekali trus strawberry nya segar-segar dan  bagus.”

            Pemberitahuan yang disampaikan pembeli terhadap penjual ditanggapi dengan sangat baik bahkan disertai dengan pujian.

4.       Maksim Kesederhanan

            Maksim kesederhanaan atau maksim kerendahan hati, peserta tutur diharapkan dapat bersikap rendah hati dengan cara mengurangi pujian terhadap dirinya sendiri. Orang akan dikatakan sombong dan congkak hati jika di dalam kegiatan bertutur selalu memuji dan mengunggulkan dirinya sendiri. Pelaksanaan maksim kesederhanaan atau maksim kerendahan hati dapat dilihat pada contoh tuturan berikut ini.

Penjual A      : “wah daganganmu laku banyak juga yah,pasti ikan-ikan yang kau jual segar-segar.”

Penjual B    : “Waduhh, ikanmu juga segar-segar mas, gak kalah sama ikan-ikanku.”

            Dalam contoh di atas penjual B tidak menjawab dengan “Oh tentu saja ikanku segar tidak seperti ikanmu. “ penjual B mengurangi pujian terhadap dirinya sendiri dengan menguatkan: “Waduh,ikanmu juga segar-segar mas,gak kalah sama ikan-ikanku.”

5.       Maksim Pemufakatan/Kecocokan

           Maksim ini, mengharapkan para peserta tutur dapat saling membina kecocokan atau kemufakatan di dalam kegiatan bertutur. Apabila terdapat kemufakatan atau kecocokan antara diri penutur dan mitra tutur dalam kegiatan bertutur, masing-masing dari mereka dapat dikatakan bersikap santun. Pelaksanaan maksim pemufakatan/Kecocokan dapat dilihat pada contoh tuturan berikut ini.

Penjual     : “Bu silahkan dibeli sayurnya satu ikat 5000.”

Guru B     : “Oke mbak.”

           Pada contoh di atas tampak adanya kecocokan persepsi antara penjual dan pembeli bahwa harga sayurnya murah. pembeli langsung menerima tawaran dari penjual bahwa harga sayurnya murah kemudian membelinya.

6.       Maksim Kesimpatisan

Maksim ini diungkapkan dengan tuturan asertif dan ekspresif. Di dalam maksim kesimpatian, diharapkan agar para peserta tutur dapat memaksimalkan sikap simpati antara pihak yang satu dengan pihak lainnya. Jika lawan tutur mendapatkan kesuksesan atau kebahagiaan, penutur wajib memberikan ucapan selamat. Bila lawan tutur mendapat kesusahan, atau musibah penutur layak berduka, atau mengutarakan bela sungkawa sebagai tanda kesimpatian.Sikap antipati terhadap salah satu peserta tutur akan dianggap tindakan tidak santun. Pelaksanaan maksim kesimpatian dapat dilihat pada contoh tuturan berikut ini.

Penjual           : “Bu silahkan belanja bu.”

Pembeli         : “iya pak,terimakasih tawarannya.”

           Pada contoh di atas, pembeli bersimpati terhadap penjual dengan mengucapkan kata yang santun”

 

2.       Skala Kesantunan Lecch

Skala pengukur peringkat  kesantunan banyak digunakan sebagai dasar acuan dalam penelitian kesantunan. Skala peringkat kesantuanan yang dikemukakan oleh Lecch, antara lain:

1). Cost benefit scale: representing the cost or benefit of act to speaker and heare.

Merujuk kepada besar kecilnya kerugian  dan keuntungan yang diakibatkan  oleh sebuah tindak tutur pada sebuah pertuturan. Semakin tuturan tersebut merugikan diri penutur, akan semakin dianggap santunlah tuturan itu.  Demikian sebaliknya, semakin tuturan itu menguntungkan diri penutur akan semakin dianggap tidak santunlah tuturan itu.

2). Optimality scale: Indication the degree of choice permitted to speaker and/or hearer by a specific linguistic act

Menunjuk kepada banyak atau sedikitnya pilihan yang disampikan si penutur kepada si mitra tutur di dalam kegiatan bertutur. Semakin pertuturan itu memungkinkan penutur atau mitra tutur untuk menentukan pilihan yang banyak dan leluasa, akan dianggap semakin santun.

3)          Indirectness scale: indicating the amount of inferencing required of the hearerin order to establish the intended speaker meaning

           Menunjuk  kepada peringkat langsung atau tidak langsungnya sebuah tuturan. Semakin tuturan itu bersifat langsung akan dianggap tidak santun.

a.        Authority scale : representing the status relationship between speaker and hearer
Menunjuk kepada hubungan status sosial antara penutur dan mitra tutur yang terlibat dalam pertuturan. Semakin jauh jarak peringkat sosial antara penutur dengan mitra tutur, tuturan yang digunakan akan santun.

b.       Social distance scale: Indicating the degree of familiarity between speaker andhearer.

            Menunjuk kepada peringkat hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur yang terlibat dalam sebuah pertuturan. Ada kecendurungan bahwa semakin dekat jarak peringkat sosial di antara keduanya, akan kurang santun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODE PENULISAN

A.      Teknik Pengumpulan Data

Berdasar pada tujuan penelitian ini, maka penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Dengan demikian, teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:

1.     Data primer atau langsung, yaitu data yang meliputi objek analisa, dapat berupa kesantunan berbahasa pada ranah jual beli  yang meliputi Penjual dan Pembeli dengan berdasar pada teori Lecch.

2.     Data sekunder atau tidak langsung yaitu data yang diperoleh dari kepustakaan, internet yang ada kaitannya dengan objek yang dianalisis.

B.      Jumlah Informan

Informan dalam penelitian ini adalah suatu percakapan antara Penjual dan, Pembeli. Data percakapan  dalam penelitian ini berjumlah 10 data. Data ini berhasil dikumpulkan untuk dijadikan objek anlisis.

C.      Data dan Sumber Data

1.     Data

Data yang dimaksud dalam percakapan ini adalah setiap percakapan antara Penjual dan Pembeli.di pasar Sungguminasa pada hari’

2.     Sumber Data

Sumber data adalah percakapan Penjual dan Pembeli saat berada dipasar Sungguminasa. Pada pagi hari.

 

BAB IV

PEMBAHASAN

Prinsip Kesantunan Lecch memiliki enam maksim, yaitu maksim kebijaksanaan, Maksim Kedermawanan, Maksim Penghargaan, Maksim Kesederhanan, Maksim Pemufakatan, dan Maksim Kesimpatisan. Keenam maksim ini memiliki bentuk ujaran yang digunakan untuk mengekspresikannya. Bentuk-bentuk ujaran yang dimaksud adalah bentuk ujaran impositif, komisitif, ekspresif, dan asertif. Bentuk ujaran imposistif adalah ujaran yang digunakan untuk menyatakan perintah. Bentuk ujaran komsitif adalah betuk ujaran yang berfungsi menyatakan janji atau penawaran. Ujaran ekspresif adalah uajaran yang dugunakan untuk menyatakan sikap psikologis pembicara  terhadap suatu keadaan. Ujaran asertif adalah ujaran yang lazim digunakan untuk menyatakan kebenaran proposisi yang diungkapkan.

Penulis akan menganalisis tuturan-tuturan yang diucapkan oleh Penjual dan Pembeli yang berada dipasar berdasarkan pada teori yang dikemukakan oleh Lecch.

a.       Maksim Kebijaksanaan

Kebijaksanaan dalam KBBI diartikan sebagai sifat yang selalu menggunakan akal budi, arif, adil dalam menghadapi atau memecahkan suatu masalah. Bertutur secara bijaksana agar tercipta hubungan anatara diri (penutur) dan lain (petutur) dipaparkan dalam ilmu bahasa pragmatik. Gagasan untuk bertutur santun dikemukakan oleh Lecch dalam maksim kebijaksanaan yang mengharuskan  berpegang pada prinsip untuk selalu mengurangi keuntungan dirinya sendiri dan memaksimalkan keuntungan pihak lain dalam kegiatan bertutur. Konteks tuturan sehari-hari yang spontan banyak kita jumpai ketika kita melakukan tuturan, baik tutuan langsung, maupun tuturan tidak langsung.

Penjual dengan pembeli.

Penjual       : (menawarkan barangnya kepada pembeli)

Pembeli      : “Terima kasih,Pak,”

Penjual       : “Barangnya bagus dan berkualitas.”

Pembeli      : “Berapa harganya Pak.?”

Penjual       : “Yang jelasnya Pak harganya lebih murah dari tempat       lain.”

Pembeli      : “Berapa murahnya Pak.?”

Penjual       : “15 ribu per kilo.”

Pembeli      :”Wah murah sekali”.

Penjual      :”Kan saya sendiri yang tanam Pak.”

Pembahasan

            Seorang penjual yang sedang menawarkan barang dagangannya kepada seorang pembeli. Tuturan diatas seorang penjua yang berusaha mengurangi keuntungan dirinya sendiri dan memaksimalkan keuntungan kepada seorang pembeli. Penjual yang menawarkan barangnya penuh kesopaan,santun dan bijaksana.

b.     Maksim Kedermawanan

Berikut maksim kedermawanan dalam tuturan penjual dan pembeli

Penjual          : “Mari belanja Pak.”

Pembeli         : “Makasih Pak.”

Penjual         : “Liat-liat semangkanya Pak.”

Pembeli        : “Kalau yang besar berapa harganya Pak.”

Penjual         : “20.000 Pak.”

Pembeli        :”kurang-kurang sedikit pak yah.”

Penjual      :”Begini saja, tidak usah dikurangi harganya. Nanti saya tambah satu yang kecil.”

Pembeli       :”Terima kasih banyak pak.”

Penjual        :”Iya Pak.”

Pembahasan

           Dari tuturan diatas penjual berusaha memaksimalkan keuntungan pihak lain dengan cara memberikan pelayanan yang maksimal dengan memberikan tambahan yang dibelinya (semangka).

c.        Maksim Penghargaan

Maksim penghargaan dalam tuturan penjual dan pembeli.

Penjual      : ”Mari belanja pak.”

Pembeli     : “Berapa harga tomatnya?.”

Penjual      : “10 ribu 1 kilo Pak.”

Pembeli     : “Tidak bisa 5 ribu pak.”

Penjual     :”itu sudah harganya pak.”

Pembeli     :”Bisa ambil 5 ribu saja?”.

Penjual     :”Jangankan 5 ribu, 3 ribu juga bisa pak.”

 

 

Pembahasan

           Pertuturan antara penjual dan pembeli diatas menunjukkan suatu penghargaan antara penjual dan pembeli

d.       Maksim kecocokan

Maksim kecocokan dalam tuturan penjual dan pembeli

Penjual       : “Mangga goleknya 20 ribu perkilo pak.”

Pembeli      : “2 kilo nya berapa.?”

Penjual       : “40 ribu pak.”

Pembeli      : “oke.”

Pembahsaan

              Pada contoh diatas tampak adanya kecocokan antara penjual dan pembeli sehingga proses jual  beli sangat cepat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

A.      Simpulan

          Berdasarkan hasil analisis yang sudah diuraikan pada bab IV dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat  wujud prinsip kerjasama antara penjual dan pembeli dengan menggunakan teori Leech. Wujud maksimum dalam prinsip kesantunan leech adalah maksim kebijaksanaa, maksim kedermawanan, maksim penghargaan, maksim kecocokan,dan maksim kesimpatian.

 

B.      Saran

Berdasarkan simpulan di atas, maka penulis memberikan saran yakni:

        Proses jual beli sebaiknya ditanamkan sifat kejuura, keikhlasan, kesopanan, dan kesantunan dalam berbahasa, agar tercipta suasana yang menyenangkan antara penjual dan pembeli. Penulis menyarankan agar mejadikan Rasulullah dalam proses jual beli yang selalu  berbuat jujur dan amanah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Mahsun. 2012. Metode Penelitian Bahasa. Jakrta: PT Rajagrafindo Persada.

Nurhasanah. 2009. “Analisis Prinsip Kerjasama dalam Tuturan antara Perawat dan Pasien di Rumah Sakit Tabrani Pekan Baru”. Skripsi. Pekanbaru: Universitas Islam Riau.

Rahardi, Kunjana. 2005. Pragmatik.: Kesantunan Imperatif Bhasa Indonesia. Jakarta: Erlangga

Selly. 2010. Berbahasa Santun. http:/shellyiccreamvanilla.blogspot.com/2011/10/berbahasa santun.html. Diakses pada tanggal 07 Maret 2014 pukul 20.47. Diunduh pada tanggal 20 Februari 2017.