Tuesday, February 14, 2017

Pengaruh Penggunaan Media Kartu Kata Dalam Menulis Puisi Siswa Kelas V SD



BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang
Bahasa Indonesia merupakan bahasa pengantar yang resmi. Hal ini dapat dilihat dalam proses belajar mengajar yang terjadi disetiap jenjang pendidikan, baik tenaga pendidik maupun peserta didiknya menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar untuk mentransfer ilmu bagi tenaga pendidik maupun untuk memperoleh ilmu bagi peserta didik. Undang-undang Sisdiknas Bab III pasal 4 ayat 5 menegaskan bahwa “Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis dan berhitung bagi setiap warga masyarakat”.
Khusus untuk kompetensi membaca dan menulis mutlak dikuasai oleh siswa sebab dibutuhkannya dalam proses pembelajaran. Artinya, bahwa kompetensi tersebut bukan hanya penting bagi siswa untuk proses pembelajaran Bahasa Indonesia, akan tetapi juga dibutuhkan pada mata pelajaran lainnya.
Keberhasilan belajar mengajar di sekolah banyak ditentukan kemampuannya dalam menulis. Abbas (2006). Membaca juga pada hakikatnya adalah suatu yang rumit yang melibatkan banyak hal, tidak hanya sekedar melafalkan tulisan, tetapi juga melibatkan aktivitas visual, berpikir, psikolinguistik, dan metakognitif.  Rahim (2007).
Pengajaran  sastra lebih ditekankan pada pembinaan apresiasi sastra, dimana pengajaran sastra itu sendiri meliputi pengajaran prosa dan pengajaran puisi tujuannya untuk memperoleh pengalaman, maka dengan sendirinya siswa akan terdorong untuk mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan pengalaman itu dalam usaha meningkatkan pelajaran.
Puisi merupakan sebuah olahan pikiran seseorang, kehadiran puisi dalam menyampaikan pesan kepada orang lain untuk diberi makna sangat manjur. Ketika seseorang sedang sedih sedang jatuh cinta dan lain sebagainya orang yang kaya dengan imajinasi tentu puisi adalah alatnya. Menurut Taufik (Rimang, 2011: 31) ”Puisi merupakan alat pengungkapan fikiran dan perasaan atau sebagai alat ekspresi”. Dalam puisi terkadang mengandung unsur ekstrinsik berikut aspek pendidikan, aspek sosial, budaya, aspek sosial masyarakat, aspek politik, aspek ekonomi, aspek adat, dan sebagainya.
Melalui keterampilan menulis yang dimiliki, siswa dapat mengembangkan kreatifitas dan dapat menggunakan bahasa sebagai sarana komunikasi. Akan tetapi tidak semua siswa sekolah dasar mampu melaksanakan kegiatan menulis puisi dengan baik, seperti halnya pada siswa kelas V SDN 341 Batu Kecamatan Herlang Kabupaten Bulu Kumba.
Dari hasil observasi yang dilakukan calon peneliti pada saat PPL di sekolah, pada bulan Oktober 2014 diperoleh hasil nilai keterampilan menulis puisi siswa kelas V SDN 341 Batu Kecamatan Herlang Kabupaten Bulu Kumba dengan jumlah siswa sebanyak 27 hanya 10 siswa atau 34,48% yang tuntas dalam pembelajaran membaca puisi, dan 17 siswa atau sekitar 65,51% siswa yang mendapat nilai dibawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yaitu 65.
Berdasarkan  hasil wawancara yang di laksanakan pada  Oktober 2014 dengan guru kelas V SDN 341 Batu Kecamatan Herlang Kabupaten Bulu Kumba, diperoleh permasalahan yang muncul dalam pembelajaran menulis puisi yaitu: 1) sebagian besar siswa belum terbiasa dalam memanfaatkan media tulis untuk mengungkapkan gagasan mereka; 2) kegiatan menulis puisi hanya semata-mata untuk memenuhi tugas dari guru; 3) siswa kurang mampu mengembangkan bahasa; dan 4) sebagian besar siswa membutuhkan waktu yang lama untuk menuangkan idenya. Sedangkan dari aspek guru permasalahan yang ditemukan yaitu: 1) guru belum optimal melibatkan siswa dalam proses pembelajaran; dan 2) guru belum optimal dalam membimbing siswa dalam menulis puisi.
Proses pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan kritis pada siswa. Agar siswa dapat berpikir kreatif, maka siswa harus terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Guru sebagai seorang pendidik dan sebagai fasilitator berupaya keras agar siswanya mudah menerima dan menyerap matri pokok yang diajarkan. Maka dalam proses pembelajaran diperlukan metode yang dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam membaca puisi dengan baik.
Berdasarkan dari permasalahan  yang ada, maka digunakan media kartu kata dalam pembelajaran untuk menigkatkan kemampuan  menulis puisi siswa. Berdasarkan tujuan pengajaran khususnya pengajaran puisi, dapat dikatakan bahwa peranan pengajaran puisi sangat penting. Dengan adanya pengajaran puisi dapat meningkatkan daya apresiasi sastra sehingga tafsiran akan makna yang diberikan tidak jauh berbeda dengan maksud dan tujuan penyair. Akan tetapi sering ditemukan kurangnya pemahaman siswa dalam hal mengapresiasi puisi.
Media kartu kata sangat tepat digunakan dalam pembelajaran menulis puisi. Alasan diperkuat dari hasil penelitian sebelumnya oleh Listianingsih  (2009) yang menjelaskan kesimpulan dari hasil penelitiannya bahwa melalui media kartu kata  dapat meningkatkan kemampuan menulis puisi pada siswa kelas  SD Negeri  Centre Mangalli.
Berdasarkan  uraian tersebut tampak bahwa perbandingan antara tidak menggunakan media kartu kata dengan menggunakan media kartu kata dalam upaya meningkatkan kemampuan menulis puisi pada siswa kelas V SDN 341 Batu Kecamatan Herlang Kabupaten Bulu Kumba  jauh lebih menigkat hasil belajar yang maksimal.

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan  latar belakang penelitian ini, maka secara umum dirumuskan masalah: adakah pengaruh penggunaan media kartu kata dalam menulis puisi siswa kelas V SDN 341 Batu Kecamatan Herlang Kabupaten Bulu Kumba?

C.      Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah sebelumnya, adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menngetahui pengaruh penggunaan media kartu kata dalam menulis puisi pada siswa kelas V SDN 341 Batu Kecamatan Herlang Kabupaten Bulu Kumba.



D.      Manfaat Hasil Penelitian
1.        Manfaat Teoritis
a.       Bagi akademis/lembaga pendidikan
Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi bagi akademis/lembaga pendidikan tentang pentingnya upaya meningkatkan kemampuan menulis puisi dengan menggunakan media kartu kata.
b.      Bagi peneliti
Dapat menjadi masukan dalam upaya mengkaji lebih luas tentang upaya meningkatkan kemampuan menulis puisi dengan menggunakan media kartu kata.
2.         Manfaat Praktis
a.       Bagi siswa, hasil penelitian ini dapat digunakan untuk membantu meningkatkan kemampuan menulis puisi dengan media kartu kata, sehingga hasil belajar siswa meningkat.
b.      Bagi guru, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai alternative bagi pengembangan kemampuan menulis puisi dengan menggunakan media kartu kata.
c.       Bagi sekolah, hasil penelitian ini diharapkan mampu menambah informasi tentang penggunaan kartu kata dalam upaya meningkatkan kemampuan menulis puisi.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, HIPOTESIS

A.    Kajian Pustaka
1.      Pembelajaran bahasa indonesia
Pembelajaran bahasa indonesia meliputi empat keterampilan yaitu:


a.       Keterampilan Menyimak
Menyimak adalah mendengar secara khusus dan terpusat pada objek yang disimak. Menyimak dapat didefinisikan suatu aktivitas yang mencakup kegiatan mendengar dan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menilik, dan mereaksi atas makna yang terkandung dalam bahan simakan.

b.      Keterampilan Berbicara

Keterampilan berbicara menunjang keterampilan bahasa lainnya. Pembi- cara yang baik mampu memberikan contoh agar dapat ditiru oleh penyimak yang baik.  Pembicara  yang baik  mampu  memudahkan  penyimak  untuk  menangkap pembicaraan yang disampaikan.
Berbicara dan menyimak merupakan kegiatan berbahasa lisan, dua-duanya berkaitan dengan bunyi bahasa. Dalam berbicara seseorang menyampaikan informasi melalui suara atau bunyi bahasa, sedangkan dalam menyimak seseorang mendapat informasi melalui ucapan atau suara.



c.       Keterampilan Membaca

Membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi. Bagi siswa yang masih duduk di kelas 1 SD pengertian membaca seperti itu tepat sebab ketika dia membaca hanya terbatas mengemukakan atau membunyikan rangkaian lambang-lambang bahasa tulis yang dilihatnya, dari huruf menjadi kata kemudian menjadi frasa kalimat, dan seterusnya.

d.      Keterampilan Menulis

Keterampilan menulis merupakan salah satu jenis keterampilan berbahasa yang harus dikuasai siswa. Menurut pendapat Saleh Suparno. 2002, keterampilan menulis adalah kemampuan mengungkapkan gagasan, pendapat, dan perasaan kepada pihak lain dengan melalui bahasa tulis

2.        Keterampilan Menulis Puisi
Enre (1988:6) menyatakan bahwa menulis adalah suatu alat yang sangat ampuh dalam belajar yang dengan sendirinya memainkan peran yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Sedangkan menurut Tarigan (1994:3), menulis merupakan suatu keterampilan bahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain.
Dalam hubungannya dengan pengajaran bahasa, menulis adalah menggabungkan sejumlah kata menjadi kalimat yang baik dan benar menurut penalaran yang tepat.
Menurut Soenardji dan Hartono (1988:102) menulis adalah pekerjaan yang berdasarkan kemampuan yang diperoleh melalui pengalaman belajar sehingga diperoleh kemampuan yang dapat diaktualisasikan sebagai keterampilan menulis benar-benar dapat diandalkan di kalangan masyarakat, maka masyarakat mempercayakan pemberian penyuluhannya kepada guru bahasa.
Pengajaran menulis merupakan usaha menghasilkan suatu komponen yang sengaja disiapkan dan dilaksanakan oleh pendidik untuk menghasilkan perubahan tingkah laku sesudah kegiatan instruksional menulis dilaksanakan (Soenardji dan Hartono, 1998:102).
Menulis puisi adalah kemampuan mengungkapkan gagasan, pendapat dan perasaan kepada pihak lain dengan menggunakan bahasa tulis yang bersifat literer (Depdiknas 2003 : 8). Ketepatan pengungkapan gagasan harus didukung oleh ketepatan bahasa sastra yang digunakan. Selain komponen kosakata dan konteks kesastraan, ketepatan bahasa sastra juga didukung oleh konteks dan penggunaan majas.
Menurut Arswendo Atmowiloto (dalam Hasnun 2004 : 146) menulis puisi di samping memiliki minat dan ambisi terus meneus, juga bisa menulis dan membaca. Selain membaca dan menulis, untuk bisa menulis puisi perlu latihan secara rutin. Menulis puisi pada hakikatnya adalah mengakibatkan apa yang dilihat, dirasakan, dan dipikirkannya. Proses pengimajian atau pengembangan lahir dan batin merupakan awal dari proses kreatif (Depdiknas 2004:73).
3.         Pengertian Puisi
Puisi merupakan sebuah olahan pikiran seseoarang, kehadiran puisi dalam menyampaikan pesan kepada orang lain untuk diberi makna sangat manjur. Ketika seseorang sedang sedih sedang jatuh cinta dan lain sebagainya orang yang kaya dengan imajinasi tentu puisi adalah alatnya. Dalam puisi terkadang mengandung unsur ekstrinsik berikut aspek pendidikan, aspek sosial, budaya, aspek sosial masyarakat, aspek politik, aspek ekonomi, aspek adat, dan sebagainya.
Puisi termasuk salah satu bentuk karya sastra. Karya sastra merupakan bentuk komunikasi antara sastrawan dengan pembacanya. Menurut Taufik (Rimang, 2011: 31) ”Puisi merupakan alat pengungkapan fikiran dan perasaanatau sebagai alat ekspresi”. Apa yang ditulis oleh sastrawan dalam karya sastranya adalah sesuatu yang ingin diungkapkan pada pembaca. Dalam penyampaian idenya tersebut sastrawan tidak bisa dipisahkan dari latar belakang dan lingkungannya. Puisi sebagai bentuk komunikasi sastra tidak akan terlepas dari peranan pengarang sebagi pencipta sastra. Lebih lanjut Hudson (Rimang, 2011; 32) mengemukakan pengertian puisi yaitu:
Salah satu cabang sastra yang menggunakan kata-kata sebagai medium penyampaian untuk membuahkan ilusi dan imajinasi, seperti halnya lukisan yang menggunakan garis dan warna dalam menggambarkan gagasan pelukisnya. Dengan demikian, sebenarnya puisi merupakan ungkapan batin  dan pikiran penyair dalam melahirkan sebuah dunia berdasarkan pengalaman batin yang digelutinya.
Ada beberapa hal penting yang tersirat dalam pengertian puisi menurut Rimang (2011; 32) yaitu :
1)        Puisi merupakan ungkapan pemikiran, gagasan, ide dan ekspresi penyairnya.
2)        Bahasa puisi bersifat konotatif, simbolis dan lambang karena itu penuh dengan imaji, metafora, kias, dengan bahasa pegutatif yang estetis.
3)        Penyusunan larik-larik puisi memanfaatkan larik-larik pertimbangan bunyi dan rima semaksimalnya.
4)        Dalam penulisan puisi terjadi pemadatan kata dengan berbagai bentuk kekuatan bahasa yang ada.
5)        Sedang unsur pembangun puisi yang mencakup unsur batin dan lahir puisi membangun kekuatan yang padu.
6)        Bahasa puisi tidak terikat oleh kadah kebahasaan umumnya, karena itu, ia memiliki untuk menyimpang kaidah kebahasaan yang ada, biasanya disebut dengan lisencia poetica.
Penciptaan sebuah puisi, seorang penyair menumpahkan seluruh perasaannya dengan menggunakan bahan yang berupa pengalaman yang didapat dari luar. Kemudian bahan ataupun pengalaman tersebut disusun ke dalam wujud susunan yang berlainan dengan yang telah ada. Setiap penciptaan puisi tersebut harus disesuaikan dengan perkembangan zaman.

4.      Unsur-unsur Instrinsik Puisi
Unsur-unsur puisi itu tidaklah berdiri sendiri tetapi merupakan sebuah struktur. Seluruh unsur merupakan kesatuan dan unsur yang satu dengan unsur lainnya menunjukkan hubungan keterjalinan satu dengan yang lainnya. Adapun unsur-unsur puisi menurut Jabrohim, dkk (2009) yaitu:
1)        Diksi
Diksi adalah bentuk serapan dari kata diction yang oleh Hornby  diartikan sebagai choise  and use of words. Oleh Keraf  diksi disebut pula pilihan kata.

2)        Pengujian
Untuk member gambaran yang jelas, menimbulkan suasana khusus, membuat hidup (lebih hidup) gambaran dalam pikiran dan penginderaan, untuk menarik perhatian, untuk memberikan kesan mental atau bayangan visual penyair menggunakan gambaran-gambaran angan.
3)        Kata Konkret
Kata konkret adalah kata-kata yang diigunakan oleh penyair untuk menggambarkan suatu lukisan keadaan atau suasana batin dengan maksud untuk membangkitkan imaji pembaca.
4)        Bahasa Figuratif
Bahas figuratif oleh Waluyo disebut juga sebagai majas. Bahasa figuratif dapat membuat puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna.
5)        Versifikasi
Versikasi meliputi ritma, rima, dan metrum. Ritma kata pungut dari bahasa Inggris rhytme. Secara umum ritma dikenal sebagai irama atau wirama, yakni pergantian turun naik, panjang pendek, keras lembut ucapan bunyi bahas dengan teratur.
6)        Tipografi
Tipografi merupakan pembeda pembeda yang paling awal dapat dilihat dalam membedakan puisi dengan prosa, fiksi dan drama. Karena itu merupakan pembeda yang sangat penting.

7)        Sarana retorika
Tiap pengarang mempunyai gaya masing-masing. Hal ini sesuai dengan sifat dan kegemaran masing-masing pengarang. Gaya dapat dikatakan sebagai “cap” seorang pengarang. Gaya merupakan keistimewaan, kekhasan seorang pengarang.

5.        Aspek-aspek Dasar Puisi
Untuk menghayati sebuah karya puisi, sama ada puisi tradisional atau puisi modern, kita harus memahami beberapa istilah yang menjadi dasar kepada penghasilan sebuah puisi itu. Istilah tersebut yaitu:
a.       Medan Makna
Medan makna merujuk kepada perkara-perkara yang membantu menjelaskan gambaran idea penyair atau isi sebuah puisi.
b.      Medan Kata (bahasa)
Medan kata merujuk pada unsur-unsur serta gaya pemakaian bahasa sebuah puisi.
c.       Medan Rasa
Aspek-aspek yang berkaitan dengan teknik penciptaan puisi yang mempengaruhi pengucapan dan perasaan penyair atau pembaca. Riswandi (2012: )

6.        Pendekatan dalam Apresiasi Puisi
Memahami atau mengapresiasi puisi dikenal berbagai macam pendekatan yang dapat dimanfaatkan sebagai cara untuk mendekati apresiasi yang kita lakukan. Menurut Rimang (2011) adapun pendekatan dalam apresiasi puisi, yaitu:

1)        Pendekatan Analitik
Pendekatan ini dilandasi pemikiran bahwa setiap karya sastra (puisi) dibangun dari beberapa unsur pembangunannya. Pendekatan analitik ini dimaksud untuk menjawab unsur-unsur yang ada didalamnya yang membangun totalitas puisi.
2)        Pendekatan Emotif
Pendekatan emotif merupakan pendekatan yang berupaya menemukan unsur-unsur penting yang berpengaruh terhadap pembaca.
3)        Pendekatan Parafrase
Pendekatan ini berupaya agar pembaca mampu mengungkapkan kembali sesuai dengan teknik parafrase masing-masing bait dan larik dengan bahasa sendiri adalah tujuan penting dari pendekatan ini.
4)        Pendekatan Detaktis
Pendekatan ini dilakukan seorang pembaca yang biasanya untuk menemukan nilai-nilai pendidikan yang terkandung didalamnya.
5)   Pendekatan Psikologis
Pendekatan ini digunakan untuk menemukan nilai psikologis (kejiwaan), nilai kejiwaan dalam sebuah puisi/cerfin (fiksi) dapat digali untuk memberikan pencerahan batin kepada pembaca.


6)   Pendekatan Historis
Untuk menemukan nilai-nilai historis dari sebuah puisi, puisik Taufik Ismail  dapat diambil sebagai contoh, puisinya kuat akan nilai-nilai kesejarahan.
7)        Pendekatan Antropologis
Untuk menemukan nilai-nilai budaya yang tercermin didalamnya pendekatan ini sering diformulasikan sebagai strategi pemahaman puisi untuk menemukan budaya yang ada dalam puisi.
8)        Pendekatan Biografis
Pendekatan ini banyak digunakan oleh H.B. Jassin dalam menulis kritik-kritik sastra yang dibuatnya. Pendekatan ini mengamanatkan akan pentingnya pemahaman pembaca terhadap biografi pengarang sebelum memahami puisi yang ditulisnya.
9)   Pendekatan Sosiologis
Yang memandang bahwa penyair itu merupakan anggota masyarakat. Tidak mengherankan, jika apa yang dialami dalam kehidupan sosiologis penyairnya berpengaruh terhadap karya-karya puisi yang ditulisnya, karena pendekatan ini merupakan pendekatan yang mengarahkan pada pemahaman pembaca dalam menemukan nilai-nilai sosial yang terdapat didalam sebuah teks puisi.
10)  Pendekatan Objektif
Puisi tidak perlu dikaitkan dengan berbagai hal diluar dari dirinya  artinya bahwa segala isi puisi itu bersifat otonomi, karena itu puisi dengan pendekatan ini menyarankan akan pentingnya melihat puisi sebagai apa adanya. Pendekatan ini hakikatnya merupakan pendekatan dalam pemahaman puisi untuk menemukan nilai-nilai instrinsik puisi tanpa mengaitkannya dengan dunia luar.
11)    Pendekatan Mimesis
Pendekatan ini memandang bahwa sebuah puisi merupakan tiruan dari kejadian  alam dan sosial. Pendekatan ini sangat cocok dalam memuat realitas potret kehidupan sosial dan alam. Yang memulerkan pendekatan ini adalah Aristoteles.
12)  Pendekatan Pragmatis
Pendekatan tersebut menekan pada kemampuan membaca, pendekatan ini berdasarkan  pada teori resepsi sastra. Yang ditekankan adalah bagaimana meningkatkan kemampuan estetis apresiasi seorang pembaca dengan menggunakan pendekatan.
13)              Pendekatan Metopoik
Pendekatan ini jarang digunakan pembaca, yang hakikatnya merupakan pendekatan yang berupaya untuk menemukan nilai-nilai mitologi yang terkandung dalam sebuah puisi.
14)    Pendekatan Ekspresi
Pendekatan ini memandang bagaimana karya puisi hakikatnya merupakan ekspresi dari penyairnya, pendekatan ini hampir sama dengan pendekatan biogarfis.
7.      Media Kartu Kata
a.        Pengertian Media Kartu Kata
Kata media berlaku untuk berbagai  kegiatan atau usaha, seperti media dalam penyampaian pesan, media pengantar magnet atau panas dalam bidang teknik. Istilah media juga digunakan dalam bidang pengajaran  atau pendidikan sehingga istilahnya menjadi media pendidikan atau media pembelajaran. Menurut Santoso (Subana, 2011: 287) mengemukakan pengertian media yaitu “Media adalah semua bentuk perantara yang dipakai orang sebagai penyebar ide/gagasan sehingga ide/gagasan itu sampai menerima”. Sedangkan menurut Gagne (Subana, 2011: 289) “Media adalah salah satu komponen dari suatu system penyampaian. Di dalamnya tercakup segala peralatan fisik pada komunikasi, seperti buku, modul, komputer, slide, dan tape recorder”. Lebih lanjut khaeruddin, dkk (2012: 12) mengemukakan pengertian media pembelajaran adalah alat, sarana, perantara dan penghubung untuk menyampaikan pesan dan gagasan sehingga dapat merangsang pikiran siswa sehingga proses belajar terjadi pada diri siswa.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media alat perantara yang digunakan untuk menyampaikan gagasan.
media merupakan alat yang khusus digunakan dalam proses belajar mengajar sehingga guru dan siswa dapat lebih efektif dan efisien dalam melaksanakan kegiatan belajar dan mengajar. Menurut Natawijaya (Listianingsih, 2009: 6) mengemukakan pengertian media  yaitu:
Alat bantu atau pelengkap yang digunakan guru dalam berkomunikasi dengan para siswa. Media pembelajaran dapat berupa  benda langsung seperti daun – daunan, bunga atau pensil, dapat juga berupa benda tiruan, misalnya: bola dunia, gajah-gajahan dapat juga benda-benda yang langsung, misalnya papan tulis, kapur, tape recorder, atau film. Semua ini bukan dimaksudkan mengganti guru mengajar tetapi membantu para siswa dalam mempelajari sesuatu sehingga ia belajar berhasil.
Lebih lanjut , Surisman (Listianingsih, 2009: 6) berpendapat bahwa: Alat yang digunakan guru ketika melaksanakan kegiatan belajar dengan tujuan agar lebih banyak bersifat realistis. Dengan demikian semua penyimpanan informasi, ide, pendapat maupun pesan yang disampaikan guru mudah dipahami dan dimengerti oleh siswa.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa media dapat diartikan sebagai suatu benda yang dimanfaatkan oleh guru di dalam menyampaikan materi pelajaran, dimana alat peraga pada hakikatnya merupakan media pembelajaran yang digunakan oleh guru saat mengajar guna mendukung pelaksanaan  pembelajaran, diantaranya kartu kata.
Menurut Poerwadarmita  (Listianingsih, 2009: 7) mengemukakan “kartu adalah kertas tebal yang tak seberapa besar biasanya persegi panjang (dipergunakan untuk berbagai keperluan) kata adalah kesatuan bunyi bahasa yang mengandung suatu pengertian”.
Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa media kartu kata mengandung makna benda yang digunakan berupa kertas tebal berbentuk persegi panjang yang berisi kata-kata yang mengandung arti.

b.        Fungsi, Tujuan dan Manfaat Media Pembelajaran
Pembelajaran akan dapat disebut berjalan dan berhasil dengan baik, jika ia mampu menumbuhkembangkan kesadaran siswa selama ia terlibat dalam proses pembelajaran itu dan dirasakan manfaatnya secara langsung dari perkembangan pribadi siswa. Media pembelajaran sangat penting digunakan dalam kegiatan pmbelajaran. Menurut Sudjana (Listianingsih, 2009: 8) adapun fungsi media sebagai berikut:
1)   Penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif.
2)   Penggunaan media pembelajaran merupakan  bagian integral dari keseluruhan situasi mengajar.
3)   media dalam pembelajaran penggunaannya integral dengan tujuan dan isi pembelajaran.
4)   Penggunaan media dalam pembelajaran bukan sekedar semata-mata alat hiburan, dalam arti digunakan hanya sekdar melengkapi proses belajar supaya lebih menarik perhatian siswa.
5)   Penggunaan media dalam pembelajaran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar   dan membantu siswa dalam menangkap pengertian yang diberikan guru.
6)   Penggunaan media dalam pembelajaran diutamakan untuk mempertinggi mutu  belajar mengajar. Dengan perkataan lain, hasil belajar yang dicapai akan tahan lama diingat siswa, sehingga pembelajaran mempunyai nilai tinggi.

Pendapat di atas menunjukkan bahwa media dalam  proses pembelajaran di sekolah sangat penting diadakan dan digunakan oleh guru dalam menunjang kualitas proses pembelajaran. Penggunaan media harus mempertimbangkan pencapaian tujuan pembelajaran melalui proses pembelajaran yang berkualitas dapat tercapai.
Menurut Sudjana (Listianingsih, 2009: 9) mengemukakan tujuan media pembelajaran, yaitu “untuk memudahkan materi dipahami oleh siswa. Media  merupakan audio visual, sehingga dapat diserap oleh mata dan telinga”. Menurut Sudjana (Listianingsih, 2009: 9) penggunaan media dalam proses pembelajaran dapat memberikan manfaat yang besar, yaitu:
1)   Pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa.
2)   Bahan pembelajaran akan lebih maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pembelajaran lebih jelas.
3)   Metode pembelajaran akan lebih bervariasi, tidak semata-mata verbal, melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apabila guru mengajar untuk setiap jam pelajaran.
4)   Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar mengajar, sebab tidak hanya mendengarkan guru tetapi juga aktivitas lainnya, seperti: mengamati, mencoba, mendemonstrasikan dan sebagainya.
Berdasarkan pendapat di atas, jelas bahwa eksistensi media dalam proses pembelajaran akan sangat penting dalam menunjang efektifitas pembelajaran. Oleh karena itu, media dalam proses pembelajaran mempunyai berbagai kelebihan. Seperti : kartu kata memungkinkan adanya partisipasi aktif dari siswa  untuk belajar, alat peraga kartu kata bersifat luwes. Media kartu kata dapat dipakai untuk berbagai tujuan pendidikan dengan mengubah sedikit-sedikit alat, aturan maupun persoalannya. Media kartu kata dapat digunakan untuk mempraktikkan kemampuan menulis siswa, dan media kartu kata dapat mudah dibuat dan diperbanyak oleh guru sehingga dapat lebih memudahkan guru dalam menggunakan media kartu kata dalam pembelajaran menulis.
B.     Kerangka Pikir
Kerangka pikir dalam penelitian ini berasal dari sebagian besar siswa belum terbiasa dalam memanfaatkan media tulis untuk mengungkapkan gagasan mereka, kegiatan membaca puisi hanya semata-mata untuk memenuhi tugas dari guru, siswa kurang mampu mengembangkan bahasa dan sebagian besar siswa membutuhkan waktu yang lama untuk menuangkan idenya.
Pada pembelajaran indonesia terdapat empat keterampilan yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis dengan keterampiln membaca puisi menggunakan media kartu kata didunga dapat menigkatkan hasil belajar siswa.
Pada desain penelitian terdapat dua kelas yaitu kelas V a diajarkan keterampiln membaca puisi dengan menggunakan media kartu kata sebanyak 2 (dua) kali pertemuan dan kelas V b diajarkan keterampiln membaca puisi tanpa menggunakan media kartu kata sebanyak 2 (dua) kali pertemuan. Dalam  hasil belajar adalah  merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran, karena penelitian eksperimen harus dilakukan analisis hasil belajar sehingga dari analisis itu,  peneliti dapat membandingkan hasil belajar kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Pada komponen temuan adalah hasil gagasan baru atau cara baru, dari analisis hasil belajar perbandingan kelas eksperimen dengan kelas kontrol maka telah ditemukan bahwa pembelajaran keterampiln membaca puisi menggunakan media kartu kata sangat lebih baik daripada tidak menggunakan media kartu kata, oleh karena itu media kata sangat baik digunakan dalam pembelajaran keterampiln membaca puisi.
Adapun gambaran kerangka pikir dapat dilihat pada gambar berikut ini:
Menulis puisi
Dengan media kartu kata
Kelas VA
Eksperimen
Pembelajaran Bahasa Indonesia
Kelas V B
Kontrol
Hasil Belajar
Analisis
PBM












Temuan
                                                                                                        
Rekomendasi
 



Gambar 2.1 Bagan Kerangka pikir



C.    Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka pikir di atas, maka hipotesis yang diajukan pada penelitian ini adalah :
1.      H0 = Hipotesis nol : Tidak terdapat pengaruh penggunaan media kartu kata terhadap hasil belajar Bahasa Indonesia.
2.      H1 = Hipotesis alternatif : Terdapat pengaruh pengaruh penggunaan media kartu kata terhadap hasil belajar Bahasa Indonesia.
















BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.    Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini digolongkan ke dalam penelitian Eksperimen dengan penggunaan media kartu kata terhadap hasil belajar Bahasa Indonesia siswa kelas V SDN 341 Batu Kecamatan Herlang Kabupaten Bulu Kumba.
B.     Desain penelitian
Desain postes kelompok kontrol subjek random  Desain ini menggunakan pemilihan subjek secara acak dan melibatkan dua kelompok subjek (kelompok eksperimen dan kontrol) tanpa pretes.
Desainnya adalah:
Tabel 3.1 desain penelitian

Kelompok
Perlakuan
Postes
         (R)
             Eksperimen
Dijarkan  keterampilan membaca puisi dengan menggunakan media kartu kata sebanyak 2 x pertemuan
O2
          (R)
Kontrol
Dijarkan keterampilan membaca puisi dengan menggunakan tidak media kartu kata sebanyak 2 x pertemuan
O2

C.      Populasi dan Sampel
1.        Populasi
Populasi dalam penelitian ini seluruh kelas siswa di Sekolah Dasar SDN 341 Batu Kecamatan Herlang Kabupaten Bulu Kumba dengan jumlah  siswa.
Tabel 3.2 Keadaan Populasi
No
Kelas
Jenis kelamin
Jumlah
Perempuan
Laki – Laki
1
Kelas I
12
19
31
2
Kelas II
14
2
40
3
Kelas III
23
21
44
4
Kelas IV
12
22
34
5
Kelas V
19
21
43
6
Kelas VI
26
17
43
TOTAL
106
126
232
Sumber data: KTU SDN 341 Batu Kecamatan Herlang Kabupaten Bulu Kumba.
2.        Sampel
Dalam penelitian diperlukan adanya yang dinamakan sampel penelitian atau miniatur dari populasi yang dijadikan sebagai contoh.
Tabel 3.3 Keadaan Sampel
No
Objek
Kelompok Ekperimen
Kelompok Kontrol
Sampel
1
Kelas V.A
34
-
34
2
Kelas V.B
-
34
34
TOTAL
34
34
68
Sumber data: KTU SDN 341 Batu Kecamatan Herlang Kabupaten Bulu Kumba.

D.    Defenisi operasional Variabel
Secara teoritis variabel dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang, atau objek, yang mempunyai “variasi” antara satu orang dengan orang lain atau satu objek dengan objek yang lain. Dinamakan variabel karena ada variasinya. Kidder
menyatakan bahwa variabel adalah suatu kualitas dimana peneliti mempelajari dan menarik kesimpulan darinya.
Berdasarkan pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat, atau nilai orang, objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tetentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Sugiyono (2011: 11)
Dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi dua variabel yaitu:
1.      Variabel bebas (independent variable) adalah variabel yang mempengaruhi variabel penyebab. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran media kartu kata yang diberi simbol (X).
2.      Variabel terikat (dependent variable) adalah variabel yang menjadi akibat atau dalam suatu penelitian eksperimen disebut variabel respons. Yang menajdi variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar Bahasa indonesia siswa yang diberi simbol (Y).
E.       Teknik Pengambilan Sampel
Dalam Menarik sampel dari Populasi, supaya diperoleh sampel yang refresentatif, harus diupayakan agar setiap subjek dalam populasi memiliki  peluang yang sama menjadi unsure sampel. Adapun teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah Purposive Sampling yaitu sampel yang dipilih dengan mengambil orang-orang yang terpilih betul oleh peneliti.
F.       Instrumen Penelitian
Untuk memperoleh data penelitian digunakan instrumen penelitian. Instrumen penelitian ini, yaitu alat yang digunakan dalam mengumpulkan data seperti lembar Tes dan Dokumentasi.
G.      Teknik Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data yang diperlukan maka perlu adanya teknik pengumpulan data yang dapat digunakan secara tepat sesuai dengan masalah yang diselidiki dan tujuan penelitian, maka penulis menggunakan beberapa metode yang dapat mempermudah penelitian ini, antara lain:
1.      Tes
Tes  dimaksudkan  untuk  mengukur  seberapa  jauh  kemampuan   yang dimiliki  siswa.  Tes  dilakukan  pada  awal  dan  akhir  kegiatan  penelitian  untuk mengidentifikasi kelemahan siswa dalam pembelajaran konsep IPA siswa.
2.      Dokumentasi
Dokumentasi berupa foto-foto selama kegiatan berlangsung.  Dokumentasi tersebut  terdiri  dari  foto  kegiatan  uji  coba  instrumen,  pretest,  posttest,  dan  selama proses pembelajaran berlangsung.


H.      Teknik Analisis Data
1.      Analisis Dskriptif
Sebagaimana dijelaskan di muka bahwa analisis kuantitatif dapat didekati dari dua sudut pendekatan, yaitu analisis kuantitatif deskriptif dan analisis kuantitatif inferensial. Bagaimana teknik penggunaan masing-masing pendekatan tersebut berikut disajikan contoh penggunaannya.
2.      Analisis Kuantitatif Deskriptif
Mengenai data dengan statistik deskriptif peneliti perlu memperhatikan terlebih dahulu jenis datanya. Jika peneliti mempunyai data diskrit, penyajian data yang dapat dilakukan adalah mencari frekuensi mutlak, frekuensi relatif (mencari persentase), serta mencari ukuran tendensi sentralnya yaitu: mode, mediandan mean (lebih lanjut lihat Arikunto, 1993: 363).
Fungsi statistik deskriptif antara lain mengklasifikasikan suatu data variabel berdasarkan kelompoknya masing-masing dari semula belum teratur dan mudah diinterpretasikan maksudnya oleh orang yang membutuhkan informasi tentang keadaan variabel tersebut. Selain itu statistik deskriptif juga berfungsi menyajikan informasi sedemikian rupa, sehingga data yang dihasilkan dari penelitian dapat dimanfaatkan oleh orang lain yang membutuhkan. Ciri analisis kuantitatif adalah selalu berhubungan dengan angka, baik angka yang diperoleh dari pencacahan maupun penghitungan. Data yang telah diperoleh dari pencacahan selanjutnya diolah dan disajikan dalam bentuk yang lebih mudah dimengerti oleh pengguna data tersebut. Sajian data kuantitatif sebagai hasil analisis kuantitatif dapat berupa angka-angka maupun gambar-gambar grafik.
Tabel 3.5 Skor Ujian Statistik murid siswa kelas v SD

Nama siswa
Nilai U T S
Nilai U A S
Statistik Pendidikan
A



B



C



D



E



F



G



H



I



J



K



L



M



N



N = 14




I.       Penentuan kerangkai hasil belajar
Teknik tes merupakan teknik yang digunakan dengan cara melaksanakan tes berupa pertanyaan yang harus dijawab, pertanyaan yang harus ditanggapi atau tugas yang harus dilaksanakan oleh orang yang di tes. Dalam hal tes hasil belajar yang hendak diukur adalah kemampuan peserta didik dalam menguasai pelajaran yang disampaikan meliputi aspek pengetahuan dan keterampilan.
J.      Penentuan ketuntasan
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dijadikan dasar patokan nilai terendah dalam penilaian peserta didik. Jika peserta didik mampu mendapatkan nilai di atas KKM maka dianggap peserta didik tersebut telah tuntas atau menguasai kompetensi yang dipelajari. Sebaliknya jika ditemukan peserta didik mendapat nilai di bawah KKM berarti perlu adanya perbaikan.Penelitian eksperimen dikatakan signifikan bilamana 85% siswa  memperoleh nilai 70 keatas.
1.      Analisis Kuantitatif Inferensial
Pemakaian analisis inferensial bertujuan untuk menghasilkan suatu temuan yang dapat digeneralisasikan  secara lebih luas ke dalam wilayah populasi. Di sini seorang peneliti akan selalu berhadapan dengan hipotesis nihil (Ho) sebagai dasar penelitiannya untuk diuji secara empirik dengan statistik inferensial.
Untuk mengetahui pengaruh penggunaan media kartu kata dalam meningkatkan hasil belajar siswa, digunakan rumus Uji perbedaan dua rata-rata (uji-t) sebagai berikut:
S          = √   )
S          = Perbedaan dua mean
∑x12      = Jumlah skor simpangan yang dikuadratkan dalam kelompok I
∑x22    = Jumlah skor simpangan yang dikuadratkan dalam kelompok II
n1           = Jumlah sampel kelompok I
n2           = Jumlah sampel kelompok II
Selanjutnya rumus uji t adalah:
t           = X1 – X2
        S

X1        = mean kelompok I
X2        = mean kelompok II
Rumus tersebut ditulis lengkap sebagai berikut
t           =
)

Keterangan:
X1        = mean kelompok satu.
X2        = mean kelompok dua.
n1         = jumlah responden kelompok satu.
n2           = jumlah responden kelompok dua
t           = hasil uji.


DAFTAR PUSTAKA

Aqib, Zainal. 2014. Model-model, Media, dan Strategi Pembelajaran Kontekstual (Inovatif). Bandung: Yrama Widya.
Dalman. 2012. Keterampilan menulis. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Depdiknas.2001.Kamus Besar Bahasa Indonesia.Jakarta.Balai Pustaka.
DePorter, B. & Hernacki, M. 2008. Quantum Learning.Bandung: Kaifa.
Djumingin, dkk. 2014. Penilaian Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Makassar: Badan Penerbit UNM.
Ekawarna. 2013. Penelitian Tindakan Kelas. Tangerang: Gaung Persada Press Group.
Enre, Fachrudin Ambo. 1988. Dasar-Dasar Keterampilan Menulis. Jakarta: Depdikbud.
Hasnun, Anwar. 2004.Pedoman dan Petunjuk Praktis Karya Tulis. Yogyakarta: Absolut.
Hujair AH, Sanaky. 2009. Media Pembelajaran. Yogyakarta: Safiria Insania Press.
Khaeruddin dkk. 2012. Bahan AjarPembelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Dikti Depdiknas.
Mappasoro. 2012. Strategi Pembelajaran. Makassar: FIP UNM.
Pujiono, Setiawan. 2013. Terampil Menulis. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Rimang, Suwadah Siti. 2011. Kajian Sastra  Teori dan Praktik. Yogyakarta: Aura Pustaka
Rusman. 2012. Model-model Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sanjaya.Wina. 2011. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Soeparno. 1988. Media Pengajaran Bahasa. Jakarta: PT Inter-Pariwisata.
Soenardji dan Bambang Hartono. 2002. Asas-Asas Menulis. Semarang: IKIP Semarang Press.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta.
Susanto, Ahmad. 2013. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Prenada Media Group.
Sutrisno  2006 Peningkatan Membaca Puisi Naratif Melalui Penerapan Metode Demonstrasi pada Murid Kelas III SD Inpres Antang II Makassar.
Taniredja, dkk. 2011. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Bandung: Alfabeta
Tarigan, Henry Guntur. 1984. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.
Undang-Undang Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional). 2012. Bandung: Fokusindo Mandiri.
Zainurrahman. 2013. Menulis dari Teori Hinga Praktik. Bandung: Alfabeta.