BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Bahasa Indonesia merupakan bahasa pengantar
yang resmi. Hal ini dapat dilihat dalam proses belajar mengajar yang terjadi
disetiap jenjang pendidikan, baik tenaga pendidik maupun peserta didiknya
menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar untuk mentransfer ilmu
bagi tenaga pendidik maupun untuk memperoleh ilmu bagi peserta didik. Undang-undang
Sisdiknas Bab III pasal 4 ayat 5 menegaskan bahwa “Pendidikan diselenggarakan
dengan mengembangkan budaya membaca, menulis dan berhitung bagi setiap warga masyarakat”.
Khusus
untuk kompetensi membaca dan menulis mutlak dikuasai oleh siswa sebab
dibutuhkannya dalam proses pembelajaran. Artinya, bahwa kompetensi tersebut
bukan hanya penting bagi siswa untuk proses pembelajaran Bahasa Indonesia, akan
tetapi juga dibutuhkan pada mata pelajaran lainnya.
Keberhasilan
belajar mengajar di sekolah banyak ditentukan kemampuannya dalam menulis. Abbas
(2006). Membaca juga pada
hakikatnya adalah suatu yang rumit yang melibatkan banyak hal, tidak hanya
sekedar melafalkan tulisan, tetapi juga melibatkan aktivitas visual, berpikir,
psikolinguistik, dan metakognitif. Rahim (2007).
Pengajaran sastra lebih ditekankan pada pembinaan
apresiasi sastra, dimana pengajaran sastra itu sendiri meliputi pengajaran
prosa dan pengajaran puisi tujuannya untuk memperoleh pengalaman, maka dengan
sendirinya siswa akan terdorong untuk mengetahui hal-hal yang berhubungan
dengan pengalaman itu dalam usaha meningkatkan pelajaran.
Puisi merupakan sebuah olahan pikiran
seseorang, kehadiran puisi dalam menyampaikan pesan kepada orang lain untuk
diberi makna sangat manjur. Ketika seseorang sedang sedih sedang jatuh cinta
dan lain sebagainya orang yang kaya dengan imajinasi tentu puisi adalah
alatnya. Menurut Taufik (Rimang, 2011: 31) ”Puisi merupakan alat pengungkapan
fikiran dan perasaan atau sebagai alat ekspresi”. Dalam puisi terkadang
mengandung unsur ekstrinsik berikut aspek pendidikan, aspek sosial, budaya,
aspek sosial masyarakat, aspek politik, aspek ekonomi, aspek adat, dan
sebagainya.
Melalui
keterampilan menulis
yang dimiliki, siswa dapat mengembangkan kreatifitas dan dapat menggunakan
bahasa sebagai sarana komunikasi. Akan tetapi tidak semua siswa sekolah dasar
mampu melaksanakan kegiatan menulis
puisi dengan baik, seperti halnya pada siswa kelas V SDN 341 Batu Kecamatan Herlang Kabupaten Bulu Kumba.
Dari
hasil observasi yang dilakukan calon peneliti pada saat PPL di sekolah, pada
bulan Oktober 2014 diperoleh hasil nilai keterampilan menulis puisi siswa kelas V SDN 341 Batu Kecamatan Herlang Kabupaten Bulu
Kumba
dengan jumlah siswa sebanyak 27 hanya 10 siswa atau 34,48%
yang tuntas dalam pembelajaran membaca puisi, dan 17 siswa atau sekitar 65,51%
siswa yang mendapat nilai dibawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yaitu 65.
Berdasarkan hasil wawancara yang di laksanakan pada Oktober 2014 dengan guru kelas V SDN 341 Batu Kecamatan Herlang Kabupaten Bulu
Kumba, diperoleh permasalahan yang muncul dalam
pembelajaran menulis
puisi yaitu: 1) sebagian besar siswa belum terbiasa dalam memanfaatkan media
tulis untuk mengungkapkan gagasan mereka; 2) kegiatan menulis puisi hanya semata-mata
untuk memenuhi tugas dari guru; 3) siswa kurang mampu mengembangkan bahasa; dan
4) sebagian besar siswa membutuhkan waktu yang lama untuk menuangkan idenya.
Sedangkan dari aspek guru permasalahan yang ditemukan yaitu: 1) guru belum
optimal melibatkan siswa dalam proses pembelajaran; dan 2) guru belum optimal
dalam membimbing siswa dalam menulis
puisi.
Proses
pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan
berpikir kreatif dan kritis pada siswa. Agar siswa dapat berpikir kreatif, maka
siswa harus terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Guru sebagai seorang
pendidik dan sebagai fasilitator berupaya keras agar siswanya mudah menerima
dan menyerap matri pokok yang diajarkan. Maka dalam proses pembelajaran
diperlukan metode yang dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam membaca
puisi dengan baik.
Berdasarkan
dari permasalahan yang ada, maka
digunakan media kartu kata dalam pembelajaran untuk menigkatkan kemampuan menulis
puisi siswa. Berdasarkan
tujuan pengajaran khususnya pengajaran puisi, dapat dikatakan bahwa peranan
pengajaran puisi sangat penting. Dengan adanya pengajaran puisi dapat
meningkatkan daya apresiasi sastra sehingga tafsiran akan makna yang diberikan
tidak jauh berbeda dengan maksud dan tujuan penyair. Akan tetapi sering
ditemukan kurangnya pemahaman siswa dalam hal mengapresiasi puisi.
Media kartu kata sangat tepat digunakan
dalam pembelajaran menulis puisi. Alasan diperkuat
dari hasil penelitian sebelumnya oleh Listianingsih (2009) yang menjelaskan kesimpulan dari hasil
penelitiannya bahwa melalui media kartu kata
dapat meningkatkan kemampuan menulis
puisi pada siswa kelas SD Negeri Centre Mangalli.
Berdasarkan uraian tersebut tampak bahwa perbandingan antara tidak
menggunakan media kartu kata dengan menggunakan media kartu kata dalam upaya meningkatkan kemampuan menulis
puisi pada siswa kelas V SDN 341 Batu
Kecamatan Herlang Kabupaten Bulu Kumba jauh lebih menigkat hasil belajar yang maksimal.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian ini, maka secara
umum dirumuskan masalah: adakah
pengaruh
penggunaan media kartu kata dalam menulis puisi siswa kelas V SDN 341 Batu Kecamatan Herlang Kabupaten Bulu Kumba?
C.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah sebelumnya,
adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menngetahui pengaruh penggunaan media kartu kata dalam menulis puisi pada siswa kelas V SDN 341 Batu
Kecamatan Herlang Kabupaten Bulu Kumba.
D.
Manfaat Hasil Penelitian
1.
Manfaat Teoritis
a.
Bagi
akademis/lembaga pendidikan
Hasil
penelitian ini dapat memberikan informasi bagi akademis/lembaga pendidikan
tentang pentingnya upaya meningkatkan kemampuan menulis puisi dengan
menggunakan media kartu kata.
b.
Bagi
peneliti
Dapat
menjadi masukan dalam upaya mengkaji lebih luas tentang upaya meningkatkan
kemampuan menulis puisi dengan menggunakan media kartu kata.
2.
Manfaat Praktis
a.
Bagi
siswa, hasil penelitian ini dapat digunakan untuk membantu meningkatkan
kemampuan menulis puisi dengan media kartu kata, sehingga hasil belajar siswa
meningkat.
b.
Bagi
guru, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai alternative bagi
pengembangan kemampuan menulis puisi dengan menggunakan media kartu kata.
c.
Bagi
sekolah, hasil penelitian ini diharapkan mampu menambah informasi tentang
penggunaan kartu kata dalam upaya meningkatkan kemampuan menulis puisi.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA,
KERANGKA PIKIR, HIPOTESIS
A. Kajian
Pustaka
1. Pembelajaran
bahasa indonesia
Pembelajaran bahasa indonesia meliputi empat keterampilan yaitu:
a. Keterampilan Menyimak
Menyimak adalah mendengar secara khusus dan terpusat pada objek yang disimak. Menyimak dapat didefinisikan suatu aktivitas yang mencakup kegiatan
mendengar dan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menilik, dan mereaksi atas makna
yang terkandung dalam
bahan simakan.
b. Keterampilan Berbicara
Keterampilan berbicara menunjang keterampilan bahasa lainnya. Pembi- cara yang
baik mampu memberikan contoh agar dapat ditiru oleh penyimak yang baik. Pembicara
yang baik mampu
memudahkan penyimak untuk
menangkap pembicaraan yang disampaikan.
Berbicara dan menyimak merupakan kegiatan berbahasa lisan, dua-duanya
berkaitan dengan bunyi bahasa. Dalam berbicara seseorang
menyampaikan informasi melalui suara atau bunyi bahasa, sedangkan dalam menyimak seseorang mendapat
informasi melalui
ucapan atau suara.
c. Keterampilan Membaca
Membaca
adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi.
Bagi siswa yang
masih duduk di kelas 1 SD pengertian membaca seperti itu tepat
sebab ketika
dia membaca hanya terbatas mengemukakan atau membunyikan rangkaian lambang-lambang bahasa tulis yang dilihatnya, dari huruf menjadi kata kemudian menjadi frasa kalimat, dan
seterusnya.
d. Keterampilan Menulis
Keterampilan menulis
merupakan salah satu
jenis keterampilan berbahasa
yang harus dikuasai siswa.
Menurut pendapat
Saleh Suparno. 2002, keterampilan
menulis adalah kemampuan
mengungkapkan gagasan,
pendapat, dan
perasaan
kepada pihak
lain
dengan melalui bahasa tulis
2.
Keterampilan Menulis Puisi
Enre (1988:6) menyatakan bahwa
menulis adalah suatu alat yang sangat ampuh dalam belajar yang dengan
sendirinya memainkan peran yang sangat penting dalam dunia pendidikan.
Sedangkan menurut Tarigan (1994:3), menulis merupakan suatu keterampilan bahasa
yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap
muka dengan orang lain.
Dalam hubungannya dengan pengajaran
bahasa, menulis adalah menggabungkan sejumlah kata menjadi kalimat yang baik
dan benar menurut penalaran yang tepat.
Menurut Soenardji dan Hartono
(1988:102) menulis adalah pekerjaan yang berdasarkan kemampuan yang diperoleh
melalui pengalaman belajar sehingga diperoleh kemampuan yang dapat
diaktualisasikan sebagai keterampilan menulis benar-benar dapat diandalkan di
kalangan masyarakat, maka masyarakat mempercayakan pemberian penyuluhannya
kepada guru bahasa.
Pengajaran menulis merupakan usaha
menghasilkan suatu komponen yang sengaja disiapkan dan dilaksanakan oleh
pendidik untuk menghasilkan perubahan tingkah laku sesudah kegiatan
instruksional menulis dilaksanakan (Soenardji dan Hartono, 1998:102).
Menulis
puisi adalah kemampuan mengungkapkan gagasan, pendapat dan perasaan kepada
pihak lain dengan menggunakan bahasa tulis yang bersifat literer (Depdiknas
2003 : 8). Ketepatan pengungkapan gagasan harus didukung oleh ketepatan bahasa
sastra yang digunakan. Selain komponen kosakata dan konteks kesastraan,
ketepatan bahasa sastra juga didukung oleh konteks dan penggunaan majas.
Menurut Arswendo Atmowiloto (dalam Hasnun
2004 : 146) menulis puisi di samping memiliki minat dan ambisi terus meneus,
juga bisa menulis dan membaca. Selain membaca dan menulis, untuk bisa menulis
puisi perlu latihan secara rutin. Menulis puisi pada hakikatnya adalah
mengakibatkan apa yang dilihat, dirasakan, dan dipikirkannya. Proses pengimajian
atau pengembangan lahir dan batin merupakan awal dari proses kreatif (Depdiknas
2004:73).
3.
Pengertian Puisi
Puisi merupakan sebuah olahan pikiran
seseoarang, kehadiran puisi dalam menyampaikan pesan kepada orang lain untuk
diberi makna sangat manjur. Ketika seseorang sedang sedih sedang jatuh cinta
dan lain sebagainya orang yang kaya dengan imajinasi tentu puisi adalah
alatnya. Dalam puisi terkadang mengandung unsur ekstrinsik berikut aspek
pendidikan, aspek sosial, budaya, aspek sosial masyarakat, aspek politik, aspek
ekonomi, aspek adat, dan sebagainya.
Puisi termasuk salah satu bentuk karya
sastra. Karya sastra merupakan bentuk komunikasi antara sastrawan dengan
pembacanya. Menurut Taufik (Rimang, 2011: 31) ”Puisi merupakan alat
pengungkapan fikiran dan perasaanatau sebagai alat ekspresi”. Apa yang ditulis
oleh sastrawan dalam karya sastranya adalah sesuatu yang ingin diungkapkan pada
pembaca. Dalam penyampaian idenya tersebut sastrawan tidak bisa dipisahkan dari
latar belakang dan lingkungannya. Puisi sebagai bentuk komunikasi sastra tidak
akan terlepas dari peranan pengarang sebagi pencipta sastra. Lebih lanjut
Hudson (Rimang, 2011; 32) mengemukakan pengertian puisi yaitu:
Salah
satu cabang sastra yang menggunakan kata-kata sebagai medium penyampaian untuk
membuahkan ilusi dan imajinasi, seperti halnya lukisan yang menggunakan garis
dan warna dalam menggambarkan gagasan pelukisnya. Dengan demikian, sebenarnya
puisi merupakan ungkapan batin dan
pikiran penyair dalam melahirkan sebuah dunia berdasarkan pengalaman batin yang
digelutinya.
Ada beberapa hal penting yang tersirat dalam pengertian
puisi menurut Rimang (2011; 32) yaitu :
1)
Puisi merupakan ungkapan pemikiran, gagasan, ide dan ekspresi penyairnya.
2)
Bahasa puisi bersifat konotatif, simbolis dan lambang karena itu penuh
dengan imaji, metafora, kias, dengan bahasa pegutatif yang estetis.
3)
Penyusunan larik-larik puisi memanfaatkan larik-larik pertimbangan bunyi
dan rima semaksimalnya.
4)
Dalam penulisan puisi terjadi pemadatan kata dengan berbagai bentuk
kekuatan bahasa yang ada.
5)
Sedang unsur pembangun puisi yang mencakup unsur batin dan lahir puisi
membangun kekuatan yang padu.
6)
Bahasa puisi tidak terikat oleh kadah kebahasaan umumnya, karena itu, ia
memiliki untuk menyimpang kaidah kebahasaan yang ada, biasanya disebut dengan lisencia poetica.
Penciptaan sebuah puisi, seorang penyair
menumpahkan seluruh perasaannya dengan menggunakan bahan yang berupa pengalaman
yang didapat dari luar. Kemudian bahan ataupun pengalaman tersebut disusun ke
dalam wujud susunan yang berlainan dengan yang telah ada. Setiap penciptaan
puisi tersebut harus disesuaikan dengan perkembangan zaman.
4. Unsur-unsur
Instrinsik Puisi
Unsur-unsur
puisi itu tidaklah berdiri sendiri tetapi merupakan sebuah struktur. Seluruh
unsur merupakan kesatuan dan unsur yang satu dengan unsur lainnya menunjukkan
hubungan keterjalinan satu dengan yang lainnya. Adapun unsur-unsur puisi
menurut Jabrohim, dkk (2009) yaitu:
1)
Diksi
Diksi
adalah bentuk serapan dari kata diction yang oleh Hornby diartikan sebagai choise and use of words. Oleh Keraf
diksi disebut pula pilihan kata.
2)
Pengujian
Untuk
member gambaran yang jelas, menimbulkan suasana khusus, membuat hidup (lebih
hidup) gambaran dalam pikiran dan penginderaan, untuk menarik perhatian, untuk
memberikan kesan mental atau bayangan visual penyair menggunakan
gambaran-gambaran angan.
3)
Kata
Konkret
Kata
konkret adalah kata-kata yang diigunakan oleh penyair untuk menggambarkan suatu
lukisan keadaan atau suasana batin dengan maksud untuk membangkitkan imaji
pembaca.
4)
Bahasa
Figuratif
Bahas
figuratif oleh Waluyo disebut juga sebagai majas. Bahasa figuratif dapat
membuat puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya
akan makna.
5)
Versifikasi
Versikasi
meliputi ritma, rima, dan metrum. Ritma
kata pungut dari bahasa Inggris rhytme.
Secara umum ritma dikenal sebagai irama atau wirama, yakni pergantian turun
naik, panjang pendek, keras lembut ucapan bunyi bahas dengan teratur.
6)
Tipografi
Tipografi
merupakan pembeda pembeda yang paling awal dapat dilihat dalam membedakan puisi
dengan prosa, fiksi dan drama. Karena itu merupakan pembeda yang sangat
penting.
7)
Sarana
retorika
Tiap
pengarang mempunyai gaya masing-masing. Hal ini sesuai dengan sifat dan
kegemaran masing-masing pengarang. Gaya dapat dikatakan sebagai “cap” seorang
pengarang. Gaya merupakan keistimewaan, kekhasan seorang pengarang.
5.
Aspek-aspek Dasar Puisi
Untuk
menghayati sebuah karya puisi, sama ada puisi tradisional atau puisi modern,
kita harus memahami beberapa istilah yang menjadi dasar kepada penghasilan
sebuah puisi itu. Istilah tersebut yaitu:
a.
Medan Makna
Medan makna
merujuk kepada perkara-perkara yang membantu menjelaskan gambaran idea penyair
atau isi sebuah puisi.
b.
Medan Kata
(bahasa)
Medan kata
merujuk pada unsur-unsur serta gaya pemakaian bahasa sebuah puisi.
c.
Medan Rasa
Aspek-aspek
yang berkaitan dengan teknik penciptaan puisi yang mempengaruhi pengucapan dan
perasaan penyair atau pembaca. Riswandi (2012: )
6.
Pendekatan dalam Apresiasi Puisi
Memahami atau mengapresiasi puisi dikenal
berbagai macam pendekatan yang dapat dimanfaatkan sebagai cara untuk mendekati
apresiasi yang kita lakukan. Menurut Rimang (2011) adapun pendekatan dalam
apresiasi puisi, yaitu:
1)
Pendekatan Analitik
Pendekatan ini dilandasi pemikiran bahwa
setiap karya sastra (puisi) dibangun dari beberapa unsur pembangunannya.
Pendekatan analitik ini dimaksud untuk menjawab unsur-unsur yang ada didalamnya
yang membangun totalitas puisi.
2)
Pendekatan Emotif
Pendekatan emotif merupakan pendekatan yang
berupaya menemukan unsur-unsur penting yang berpengaruh terhadap pembaca.
3)
Pendekatan Parafrase
Pendekatan ini berupaya agar pembaca mampu
mengungkapkan kembali sesuai dengan teknik parafrase masing-masing bait dan
larik dengan bahasa sendiri adalah tujuan penting dari pendekatan ini.
4)
Pendekatan Detaktis
Pendekatan ini dilakukan seorang pembaca
yang biasanya untuk menemukan nilai-nilai pendidikan yang terkandung
didalamnya.
5)
Pendekatan Psikologis
Pendekatan ini digunakan untuk menemukan
nilai psikologis (kejiwaan), nilai kejiwaan dalam sebuah puisi/cerfin (fiksi)
dapat digali untuk memberikan pencerahan batin kepada pembaca.
6)
Pendekatan Historis
Untuk menemukan nilai-nilai historis dari sebuah puisi, puisik Taufik
Ismail dapat diambil sebagai contoh,
puisinya kuat akan nilai-nilai kesejarahan.
7)
Pendekatan Antropologis
Untuk menemukan nilai-nilai budaya yang
tercermin didalamnya pendekatan ini sering diformulasikan sebagai strategi
pemahaman puisi untuk menemukan budaya yang ada dalam puisi.
8)
Pendekatan Biografis
Pendekatan ini banyak digunakan oleh H.B.
Jassin dalam menulis kritik-kritik sastra yang dibuatnya. Pendekatan ini
mengamanatkan akan pentingnya pemahaman pembaca terhadap biografi pengarang
sebelum memahami puisi yang ditulisnya.
9)
Pendekatan Sosiologis
Yang memandang bahwa penyair itu merupakan
anggota masyarakat. Tidak mengherankan, jika apa yang dialami dalam kehidupan
sosiologis penyairnya berpengaruh terhadap karya-karya puisi yang ditulisnya,
karena pendekatan ini merupakan pendekatan yang mengarahkan pada pemahaman
pembaca dalam menemukan nilai-nilai sosial yang terdapat didalam sebuah teks
puisi.
10) Pendekatan Objektif
Puisi tidak perlu dikaitkan dengan berbagai
hal diluar dari dirinya artinya bahwa
segala isi puisi itu bersifat otonomi, karena itu puisi dengan pendekatan ini
menyarankan akan pentingnya melihat puisi sebagai apa adanya. Pendekatan ini
hakikatnya merupakan pendekatan dalam pemahaman puisi untuk menemukan
nilai-nilai instrinsik puisi tanpa mengaitkannya dengan dunia luar.
11)
Pendekatan Mimesis
Pendekatan ini memandang bahwa sebuah puisi
merupakan tiruan dari kejadian alam dan
sosial. Pendekatan ini sangat cocok dalam memuat realitas potret kehidupan
sosial dan alam. Yang memulerkan pendekatan ini adalah Aristoteles.
12) Pendekatan Pragmatis
Pendekatan tersebut menekan pada kemampuan
membaca, pendekatan ini berdasarkan pada
teori resepsi sastra. Yang ditekankan adalah bagaimana meningkatkan kemampuan
estetis apresiasi seorang pembaca dengan menggunakan pendekatan.
13)
Pendekatan Metopoik
Pendekatan ini jarang digunakan pembaca,
yang hakikatnya merupakan pendekatan yang berupaya untuk menemukan nilai-nilai
mitologi yang terkandung dalam sebuah puisi.
14)
Pendekatan Ekspresi
Pendekatan ini memandang bagaimana karya
puisi hakikatnya merupakan ekspresi dari penyairnya, pendekatan ini hampir sama
dengan pendekatan biogarfis.
7.
Media
Kartu Kata
a.
Pengertian
Media Kartu Kata
Kata media berlaku untuk
berbagai kegiatan atau usaha, seperti
media dalam penyampaian pesan, media pengantar magnet atau panas dalam bidang
teknik. Istilah media juga digunakan dalam bidang pengajaran atau pendidikan sehingga istilahnya menjadi
media pendidikan atau media pembelajaran. Menurut Santoso (Subana, 2011: 287)
mengemukakan pengertian media yaitu “Media adalah semua bentuk perantara yang
dipakai orang sebagai penyebar ide/gagasan sehingga ide/gagasan itu sampai
menerima”. Sedangkan menurut Gagne (Subana, 2011: 289) “Media adalah salah satu
komponen dari suatu system penyampaian. Di dalamnya tercakup segala peralatan
fisik pada komunikasi, seperti buku, modul, komputer, slide, dan tape
recorder”. Lebih lanjut khaeruddin, dkk (2012: 12) mengemukakan pengertian
media pembelajaran adalah alat, sarana, perantara dan penghubung untuk
menyampaikan pesan dan gagasan sehingga dapat merangsang pikiran siswa sehingga
proses belajar terjadi pada diri siswa.
Berdasarkan pendapat di
atas dapat disimpulkan bahwa media alat perantara yang digunakan untuk
menyampaikan gagasan.
media merupakan alat yang
khusus digunakan dalam proses belajar mengajar sehingga guru dan siswa dapat
lebih efektif dan efisien dalam melaksanakan kegiatan belajar dan mengajar.
Menurut Natawijaya (Listianingsih, 2009: 6) mengemukakan pengertian media yaitu:
Alat bantu atau pelengkap yang digunakan guru dalam
berkomunikasi dengan para siswa. Media pembelajaran dapat berupa benda langsung seperti daun – daunan, bunga
atau pensil, dapat juga berupa benda tiruan, misalnya: bola dunia,
gajah-gajahan dapat juga benda-benda yang langsung, misalnya papan tulis,
kapur, tape recorder, atau film. Semua ini bukan dimaksudkan mengganti guru
mengajar tetapi membantu para siswa dalam mempelajari sesuatu sehingga ia
belajar berhasil.
Lebih lanjut , Surisman (Listianingsih, 2009: 6)
berpendapat bahwa: Alat yang digunakan guru ketika melaksanakan kegiatan
belajar dengan tujuan agar lebih banyak bersifat realistis. Dengan demikian
semua penyimpanan informasi, ide, pendapat maupun pesan yang disampaikan guru
mudah dipahami dan dimengerti oleh siswa.
Berdasarkan
beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa media dapat diartikan
sebagai suatu benda yang dimanfaatkan oleh guru di dalam menyampaikan materi
pelajaran, dimana alat peraga pada hakikatnya merupakan media pembelajaran yang
digunakan oleh guru saat mengajar guna mendukung pelaksanaan pembelajaran, diantaranya kartu kata.
Menurut
Poerwadarmita (Listianingsih, 2009: 7)
mengemukakan “kartu adalah kertas tebal yang tak seberapa besar biasanya
persegi panjang (dipergunakan untuk berbagai keperluan) kata adalah kesatuan
bunyi bahasa yang mengandung suatu pengertian”.
Berdasarkan
pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa media kartu kata mengandung
makna benda yang digunakan berupa kertas tebal berbentuk persegi panjang yang
berisi kata-kata yang mengandung arti.
b.
Fungsi,
Tujuan dan Manfaat Media Pembelajaran
Pembelajaran
akan dapat disebut berjalan dan berhasil dengan baik, jika ia mampu menumbuhkembangkan
kesadaran siswa selama ia terlibat dalam proses pembelajaran itu dan dirasakan
manfaatnya secara langsung dari perkembangan pribadi siswa. Media pembelajaran
sangat penting digunakan dalam kegiatan pmbelajaran. Menurut Sudjana (Listianingsih,
2009: 8) adapun fungsi media sebagai berikut:
1) Penggunaan
media pembelajaran dalam proses belajar mengajar sebagai alat bantu untuk
mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif.
2) Penggunaan
media pembelajaran merupakan bagian
integral dari keseluruhan situasi mengajar.
3) media
dalam pembelajaran penggunaannya integral dengan tujuan dan isi pembelajaran.
4) Penggunaan
media dalam pembelajaran bukan sekedar semata-mata alat hiburan, dalam arti
digunakan hanya sekdar melengkapi proses belajar supaya lebih menarik perhatian
siswa.
5) Penggunaan
media dalam pembelajaran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar
mengajar dan membantu siswa dalam
menangkap pengertian yang diberikan guru.
6) Penggunaan
media dalam pembelajaran diutamakan untuk mempertinggi mutu belajar mengajar. Dengan perkataan lain,
hasil belajar yang dicapai akan tahan lama diingat siswa, sehingga pembelajaran
mempunyai nilai tinggi.
Pendapat di atas
menunjukkan bahwa media dalam proses
pembelajaran di sekolah sangat penting diadakan dan digunakan oleh guru dalam
menunjang kualitas proses pembelajaran. Penggunaan media harus mempertimbangkan
pencapaian tujuan pembelajaran melalui proses pembelajaran yang berkualitas
dapat tercapai.
Menurut Sudjana
(Listianingsih, 2009: 9) mengemukakan tujuan media pembelajaran, yaitu “untuk
memudahkan materi dipahami oleh siswa. Media
merupakan audio visual, sehingga dapat diserap oleh mata dan telinga”.
Menurut Sudjana (Listianingsih, 2009: 9) penggunaan media dalam proses
pembelajaran dapat memberikan manfaat yang besar, yaitu:
1) Pembelajaran
akan lebih jelas maknanya sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa.
2) Bahan
pembelajaran akan lebih maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan
memungkinkan siswa menguasai tujuan pembelajaran lebih jelas.
3) Metode
pembelajaran akan lebih bervariasi, tidak semata-mata verbal, melalui penuturan
kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan
tenaga, apabila guru mengajar untuk setiap jam pelajaran.
4) Siswa
lebih banyak melakukan kegiatan belajar mengajar, sebab tidak hanya
mendengarkan guru tetapi juga aktivitas lainnya, seperti: mengamati, mencoba,
mendemonstrasikan dan sebagainya.
Berdasarkan
pendapat di atas, jelas bahwa eksistensi media dalam proses pembelajaran akan
sangat penting dalam menunjang efektifitas pembelajaran. Oleh karena itu, media
dalam proses pembelajaran mempunyai berbagai kelebihan. Seperti : kartu kata
memungkinkan adanya partisipasi aktif dari siswa untuk belajar, alat peraga kartu kata
bersifat luwes. Media kartu kata dapat dipakai untuk berbagai tujuan pendidikan
dengan mengubah sedikit-sedikit alat, aturan maupun persoalannya. Media kartu
kata dapat digunakan untuk mempraktikkan kemampuan menulis siswa, dan media
kartu kata dapat mudah dibuat dan diperbanyak oleh guru sehingga dapat lebih
memudahkan guru dalam menggunakan media kartu kata dalam pembelajaran menulis.
B.
Kerangka Pikir
Kerangka pikir dalam penelitian ini berasal dari sebagian
besar siswa belum terbiasa dalam memanfaatkan media tulis untuk mengungkapkan
gagasan mereka, kegiatan membaca puisi hanya semata-mata untuk memenuhi tugas
dari guru, siswa kurang mampu mengembangkan bahasa dan sebagian besar siswa
membutuhkan waktu yang lama untuk menuangkan idenya.
Pada pembelajaran indonesia terdapat empat keterampilan
yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis dengan keterampiln
membaca puisi menggunakan media kartu kata didunga dapat menigkatkan hasil
belajar siswa.
Pada desain penelitian terdapat dua kelas yaitu kelas V a
diajarkan keterampiln membaca puisi dengan menggunakan media kartu kata
sebanyak 2 (dua) kali pertemuan dan kelas V b diajarkan keterampiln membaca
puisi tanpa menggunakan media kartu kata sebanyak 2 (dua) kali pertemuan. Dalam hasil belajar adalah merupakan bagian
terpenting dalam pembelajaran, karena penelitian eksperimen harus dilakukan analisis hasil belajar sehingga
dari analisis itu, peneliti dapat
membandingkan hasil belajar kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Pada
komponen temuan adalah hasil gagasan baru atau cara baru, dari analisis hasil
belajar perbandingan kelas eksperimen dengan kelas kontrol maka telah ditemukan
bahwa pembelajaran keterampiln membaca puisi menggunakan media kartu kata
sangat lebih baik daripada tidak menggunakan media kartu kata, oleh karena itu media
kata sangat baik digunakan dalam pembelajaran keterampiln membaca puisi.
Adapun gambaran kerangka pikir dapat dilihat pada gambar
berikut ini:
|
Menulis puisi
Dengan media kartu kata
|
|
Kelas
VA
Eksperimen
|
|
Pembelajaran
Bahasa Indonesia
|
|
Kelas
V B
Kontrol
|
|
Hasil
Belajar
|
|
Analisis
|
|
PBM
|
|
Temuan
|
|
Rekomendasi
|
Gambar
2.1 Bagan Kerangka pikir
C.
Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka pikir di atas,
maka hipotesis yang diajukan pada penelitian ini adalah :
1.
H0 = Hipotesis nol : Tidak terdapat pengaruh penggunaan media kartu kata terhadap hasil belajar Bahasa Indonesia.
2. H1 = Hipotesis alternatif : Terdapat pengaruh
pengaruh penggunaan media kartu kata terhadap hasil belajar Bahasa Indonesia.
BAB
III
METODOLOGI
PENELITIAN
A.
Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini digolongkan ke dalam
penelitian Eksperimen dengan penggunaan
media kartu kata terhadap hasil belajar Bahasa Indonesia siswa kelas
V SDN 341 Batu Kecamatan Herlang Kabupaten Bulu Kumba.
B.
Desain penelitian
Desain postes kelompok kontrol subjek random Desain ini menggunakan pemilihan subjek
secara acak dan melibatkan dua kelompok subjek (kelompok eksperimen dan
kontrol) tanpa pretes.
Desainnya adalah:
Tabel 3.1 desain penelitian
|
Kelompok
|
Perlakuan
|
Postes
|
|
|
(R)
|
Eksperimen
|
Dijarkan keterampilan membaca puisi dengan
menggunakan media kartu kata sebanyak 2 x pertemuan
|
O2
|
|
(R)
|
Kontrol
|
Dijarkan keterampilan membaca
puisi dengan menggunakan tidak media kartu kata sebanyak 2 x pertemuan
|
O2
|
C.
Populasi
dan Sampel
1.
Populasi
Populasi dalam penelitian ini seluruh kelas
siswa di Sekolah Dasar SDN 341 Batu Kecamatan Herlang Kabupaten
Bulu Kumba dengan jumlah siswa.
Tabel 3.2 Keadaan Populasi
|
No
|
Kelas
|
Jenis kelamin
|
Jumlah
|
|
|
Perempuan
|
Laki – Laki
|
|||
|
1
|
Kelas I
|
12
|
19
|
31
|
|
2
|
Kelas II
|
14
|
2
|
40
|
|
3
|
Kelas III
|
23
|
21
|
44
|
|
4
|
Kelas IV
|
12
|
22
|
34
|
|
5
|
Kelas V
|
19
|
21
|
43
|
|
6
|
Kelas VI
|
26
|
17
|
43
|
|
TOTAL
|
106
|
126
|
232
|
|
Sumber data: KTU SDN
341 Batu Kecamatan Herlang Kabupaten Bulu Kumba.
2.
Sampel
Dalam penelitian
diperlukan adanya yang dinamakan sampel penelitian atau miniatur dari populasi yang
dijadikan sebagai contoh.
Tabel 3.3 Keadaan Sampel
|
No
|
Objek
|
Kelompok Ekperimen
|
Kelompok Kontrol
|
Sampel
|
|
1
|
Kelas V.A
|
34
|
-
|
34
|
|
2
|
Kelas V.B
|
-
|
34
|
34
|
|
TOTAL
|
34
|
34
|
68
|
|
Sumber data: KTU SDN
341 Batu Kecamatan Herlang Kabupaten Bulu Kumba.
D. Defenisi operasional Variabel
Secara teoritis variabel
dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang, atau objek, yang mempunyai
“variasi” antara satu orang dengan orang lain atau satu objek dengan objek yang
lain. Dinamakan variabel karena ada variasinya. Kidder
menyatakan bahwa variabel adalah suatu
kualitas dimana peneliti mempelajari dan menarik kesimpulan darinya.
Berdasarkan
pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa variabel penelitian adalah suatu
atribut atau sifat, atau nilai orang, objek atau kegiatan yang mempunyai
variasi tetentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian
ditarik kesimpulannya. Sugiyono (2011: 11)
Dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi
dua variabel yaitu:
1. Variabel
bebas (independent variable) adalah variabel yang mempengaruhi variabel
penyebab. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran media kartu kata yang
diberi simbol (X).
2. Variabel
terikat (dependent variable) adalah variabel yang menjadi akibat atau
dalam suatu penelitian eksperimen disebut variabel respons. Yang menajdi
variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar Bahasa indonesia siswa yang diberi
simbol (Y).
E.
Teknik
Pengambilan Sampel
Dalam Menarik sampel dari Populasi, supaya
diperoleh sampel yang refresentatif, harus diupayakan agar setiap subjek dalam
populasi memiliki peluang yang sama
menjadi unsure sampel. Adapun teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini
adalah Purposive Sampling yaitu sampel yang dipilih dengan mengambil
orang-orang yang terpilih betul oleh peneliti.
F.
Instrumen
Penelitian
Untuk memperoleh data penelitian digunakan
instrumen penelitian. Instrumen penelitian ini, yaitu alat yang digunakan dalam mengumpulkan data
seperti lembar Tes dan Dokumentasi.
G.
Teknik Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data yang diperlukan maka
perlu adanya teknik pengumpulan data yang dapat digunakan secara tepat sesuai
dengan masalah yang diselidiki dan tujuan penelitian, maka penulis menggunakan
beberapa metode yang dapat mempermudah penelitian ini, antara lain:
1.
Tes
Tes
dimaksudkan untuk mengukur
seberapa jauh kemampuan
yang dimiliki siswa. Tes
dilakukan pada awal
dan akhir kegiatan
penelitian untuk mengidentifikasi
kelemahan siswa dalam pembelajaran konsep IPA siswa.
2.
Dokumentasi
Dokumentasi berupa foto-foto selama kegiatan
berlangsung. Dokumentasi tersebut terdiri
dari foto kegiatan
uji coba instrumen,
pretest, posttest, dan
selama proses pembelajaran berlangsung.
H.
Teknik
Analisis Data
1.
Analisis Dskriptif
Sebagaimana
dijelaskan di muka bahwa analisis kuantitatif dapat didekati dari dua sudut
pendekatan, yaitu analisis kuantitatif deskriptif dan analisis kuantitatif
inferensial. Bagaimana teknik penggunaan masing-masing pendekatan tersebut
berikut disajikan contoh penggunaannya.
2.
Analisis Kuantitatif
Deskriptif
Mengenai data dengan statistik deskriptif peneliti
perlu memperhatikan terlebih dahulu jenis datanya. Jika peneliti mempunyai data
diskrit, penyajian data yang dapat dilakukan adalah mencari frekuensi
mutlak, frekuensi relatif (mencari persentase),
serta mencari ukuran tendensi sentralnya yaitu: mode, mediandan mean (lebih
lanjut lihat Arikunto, 1993: 363).
Fungsi statistik deskriptif antara lain
mengklasifikasikan suatu data variabel berdasarkan kelompoknya masing-masing
dari semula belum teratur dan mudah diinterpretasikan maksudnya oleh orang yang
membutuhkan informasi tentang keadaan variabel tersebut. Selain itu statistik
deskriptif juga berfungsi menyajikan informasi sedemikian rupa, sehingga data
yang dihasilkan dari penelitian dapat dimanfaatkan oleh orang lain yang
membutuhkan. Ciri analisis kuantitatif adalah selalu berhubungan dengan angka,
baik angka yang diperoleh dari pencacahan maupun penghitungan. Data yang telah
diperoleh dari pencacahan selanjutnya diolah dan disajikan dalam bentuk yang
lebih mudah dimengerti oleh pengguna data tersebut. Sajian data kuantitatif
sebagai hasil analisis kuantitatif dapat berupa angka-angka maupun
gambar-gambar grafik.
Tabel 3.5 Skor Ujian Statistik murid siswa kelas v SD
|
Nama siswa
|
Nilai U T S
|
Nilai U A S
|
Statistik
Pendidikan
|
|
A
|
|||
|
B
|
|
|
|
|
C
|
|
|
|
|
D
|
|
|
|
|
E
|
|
|
|
|
F
|
|
|
|
|
G
|
|
|
|
|
H
|
|
|
|
|
I
|
|
|
|
|
J
|
|
|
|
|
K
|
|
|
|
|
L
|
|
|
|
|
M
|
|
|
|
|
N
|
|
|
|
|
N = 14
|
|
|
|
I. Penentuan kerangkai hasil belajar
Teknik tes merupakan
teknik yang digunakan dengan cara melaksanakan tes berupa pertanyaan yang harus
dijawab, pertanyaan yang harus ditanggapi atau tugas yang harus dilaksanakan
oleh orang yang di tes. Dalam hal tes hasil belajar yang hendak diukur adalah kemampuan
peserta didik dalam menguasai pelajaran yang disampaikan meliputi aspek
pengetahuan dan keterampilan.
J. Penentuan ketuntasan
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dijadikan
dasar patokan nilai terendah dalam penilaian peserta didik. Jika peserta didik mampu
mendapatkan nilai di atas KKM maka dianggap peserta didik tersebut telah tuntas
atau menguasai kompetensi yang dipelajari. Sebaliknya jika ditemukan peserta
didik mendapat nilai di bawah KKM berarti perlu adanya perbaikan.Penelitian
eksperimen dikatakan signifikan bilamana 85% siswa memperoleh nilai 70 keatas.
1. Analisis
Kuantitatif Inferensial
Pemakaian
analisis inferensial bertujuan untuk menghasilkan suatu temuan yang dapat
digeneralisasikan secara lebih luas ke dalam wilayah populasi. Di sini
seorang peneliti akan selalu berhadapan dengan hipotesis nihil (Ho) sebagai
dasar penelitiannya untuk diuji secara empirik dengan statistik inferensial.
Untuk mengetahui pengaruh penggunaan media
kartu kata dalam meningkatkan hasil belajar siswa, digunakan rumus Uji
perbedaan dua rata-rata (uji-t) sebagai berikut:
S = √
)
S = Perbedaan dua mean
∑x12 = Jumlah skor simpangan yang
dikuadratkan dalam kelompok I
∑x22 = Jumlah skor simpangan yang dikuadratkan
dalam kelompok II
n1 = Jumlah sampel kelompok I
n2 = Jumlah sampel kelompok II
Selanjutnya rumus
uji t adalah:
t = X1 – X2
S
X1 = mean kelompok I
X2 = mean kelompok II
Rumus tersebut
ditulis lengkap sebagai berikut
t =
)
Keterangan:
X1 = mean kelompok satu.
X2 = mean kelompok dua.
n1 = jumlah responden kelompok satu.
n2 = jumlah responden kelompok dua
t = hasil uji.
DAFTAR PUSTAKA
Aqib, Zainal. 2014. Model-model, Media, dan Strategi Pembelajaran Kontekstual (Inovatif).
Bandung: Yrama Widya.
Dalman. 2012. Keterampilan menulis. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Depdiknas.2001.Kamus
Besar Bahasa Indonesia.Jakarta.Balai Pustaka.
DePorter, B. & Hernacki, M. 2008. Quantum Learning.Bandung: Kaifa.
Djumingin, dkk. 2014. Penilaian Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Makassar: Badan
Penerbit UNM.
Ekawarna. 2013. Penelitian Tindakan Kelas. Tangerang: Gaung Persada Press Group.
Enre, Fachrudin Ambo. 1988. Dasar-Dasar Keterampilan Menulis.
Jakarta: Depdikbud.
Hasnun, Anwar. 2004.Pedoman
dan Petunjuk Praktis Karya Tulis. Yogyakarta: Absolut.
Hujair AH, Sanaky. 2009. Media
Pembelajaran. Yogyakarta: Safiria Insania Press.
Khaeruddin dkk. 2012. Bahan AjarPembelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Dikti Depdiknas.
Mappasoro. 2012. Strategi Pembelajaran. Makassar: FIP UNM.
Pujiono, Setiawan. 2013. Terampil Menulis. Yogyakarta: Graha
Ilmu.
Rimang, Suwadah Siti. 2011. Kajian Sastra Teori dan Praktik. Yogyakarta: Aura
Pustaka
Rusman. 2012. Model-model Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sanjaya.Wina. 2011. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Soeparno.
1988. Media Pengajaran Bahasa. Jakarta: PT Inter-Pariwisata.
Soenardji dan Bambang Hartono. 2002. Asas-Asas
Menulis. Semarang: IKIP Semarang Press.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan
R&D). Bandung: Alfabeta.
Susanto, Ahmad. 2013. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Prenada
Media Group.
Sutrisno
2006 Peningkatan Membaca Puisi
Naratif Melalui Penerapan Metode Demonstrasi pada Murid Kelas III SD Inpres
Antang II Makassar.
Taniredja,
dkk. 2011. Model-Model Pembelajaran
Inovatif. Bandung: Alfabeta
Tarigan, Henry Guntur. 1984. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra.
Bandung: Angkasa.
Undang-Undang Sisdiknas (Sistem Pendidikan
Nasional). 2012. Bandung: Fokusindo Mandiri.
Zainurrahman.
2013. Menulis dari Teori Hinga Praktik.
Bandung: Alfabeta.
No comments:
Post a Comment