BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan
merupakan suatu perubahan yang berlangsung seumur hidup dengan bertambahnya
struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar,
gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian. Ciri-ciri
perktumbuhan dan perkembangan anak antara lain, menimbulkan perubahan,
berkolerasi dengan pertumbuhan, memiliki tahap yang beruutan dan mempunyai pola
yang tetap. Perkembangan berbicara dan menulis merupakan suatu proses yang
menggunakan bahasa ekspresif dalam membentuk arti. Perkembangan berbicara pada
awal dari anak yaitu menggumam maupun membeo.Menurut pendapat Dyson bahwa
perkembangan berbicara terkadang individu dapat menyesuaikan dengan
keinginannya sendiri, hal ini tidak sama dengan menulis.
Seorang bayi
dari hari ke hari akan mengalami perkembangan bahasa dan kemampuan bicara,
namun tentunya tiap anak tidak sama persis pencapaiannya, ada yang cepat
berbicara ada pula yang membutuhkan waktu agak lama. Untuk membantu
perkembangannya ibu dapat membantu memberikan stimulasi yang disesuaikan dengan
keunikan masing-masing anak. Sejalan dengan perkembangan kemampuan serta
kematangan jasmani tcrutama yang bertalian dengan proses bicara, komunikasi
tersebut makin meningkat dan meluas, misalnya dengan orang di sekitarnya
lingkungan dan berkembang dengan orang lain yang baru dikenal dan bersahabat
dengannya.
Terdapat
perbedaan yang signifikan antara pengertian bahasa dan berbicara. Bahasa
mencakup segala bentuk komunikasi, baik yang’diutarakan dalam bentuk lisan.
tulisan, bahasa isyarat, bahasa gerak tubuh, ckspresi wajah pantomim atau seni.
Sedangkan bicara adalah bahasa lisan yang merupakan bentuk yang paling efektif
untuk berkomunikasi, dan paling penting serta paling banyak dipergunakan.
Perkembangan bahasa tersebut selalu meningkat sesuai dengan meningkatnya usia
anak. Hubungan sosial (sosialisasi) merupakan hubungan antar manusia yang
saling membutuhkan. Hubungan sosial mulai dari tingkat sederhana dan terbatas,
yang didasari oleh kebutuhan yang sederhana. Semakin dewasa dan bertambah umur,
kebutuhan manusia menjadi kompleks dan dengan demikian tingkat hubungan sosial
juga berkembang amat kompleks.
Orang tua
sebaiknya selalu memperhatikan perkernbangan tersebut, sebab pada masa ini,
sangat menentukan proses belajar. Hal ini dapat. dilakukan dengan memberi
contoh yang baik, memberikan motivasi pada anak untuk belajar dan sebagainya.
B. Rumusan
Masalah
1.
Apa maksud dari perkembangan berbicara pada anak?
2.
Apakah penyebab keterlambatan dan bahaya di dalam perkembangan bicara pada anak?
3.
Apa makna dari
perkembangan sosial anak?
C. Tujuan
Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan ini
adalah sebagai berikut:
1.
Untuk mengetahui apa itu perkembangan berbicara dan
sosial anak.
2.
Untuk mengetahui bagaimana cara membimbing belajar
berbicara dan sosial anak.
D. Manfaat
Penulisan
Adapun manfaat yang ingin dicapai
dari penulisan ini adalah sebagai berikut:
1.
Dapat mengetahui tentang perkembangan berbicara dan
sosial anak.
2.
Dapat mengetahui cara-cara untuk membimbing anak dalam
belajar berbicara dan sosial.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Perkembangan Berbicara (Bahasa) pada Anak
Bicara adalah bentuk bahasa yang
menggunakan artikulasi atau kata-kata yang digunakan untuk menyampaikan maksud.
Karena bicara merupakan bentuk komunikasi paling efektif, penggunaanya
paling luas dan paling penting. Bicara merupakan ketrampilan
mental-motorik. Berbicara tidk hanya melibatkan koordinasi kumpulan otot
mekanisme suara yang berbeda, tetapi juga mempunyai aspek mental yakni
kemampuan mengaitkan arti dengan bunyi yang dihasilkan.
Ketika anak tumbuh dan berkembang
terjadi peningkatan baik dalam hal kuantitas maupun kualitas. Produk bahasanya
secara bertahap kemampuan anak meningkat bermula dari mengekpresikan mimik
wajah dengan cara berkomunikasi. Alat komunikasi berbicara pada anak
menggunakan gerakan dan tanda isyarat untuk menunjukkan keinginannya secara
bertahap dan berkembang menjadi suatu komunikasi melalui ajaran yang tepat dan
jelas. Perkembangan fonologi berkenaan dengan adanya pertumbuhan dan produksi
sistem bunyi dalam bahasa bagian terkecil dari sistem bunyi tersebut dikenal
dengan nama fonem yang dihasilkan sejak bayi lahir hingga 1 tahun. Sedangkan
morfologi berkenaan dengan pertumbuhan dan produksi arti bahasa.
Ada dua tipe perkembangan anak
didalam berbicara, yaitu :
1.
Egosentrie Speech
Terjadi pada anak berusia 2-3 tahun,
dimana anak berbicara pada dirinya sendiri pada saat main boneka.
2.
Socialized
Speech
Terjadi ketika anak sedang berinteraksi pada temannya dan didalam
lingkungan. Hal ini berfungsi untuk mengembangkan kemampuan beradaptasi sosial
anak.
B. Tujuan
Berbicara
Adapun tujuan dari berbicara yaitu untuk memberitahu, menghibur, melapor,
membujuk, dan menyakinkan seseorang, ada beberapa faktor yang dapat dijadikan
dalam aspek kebahasan,
yaitu :
1.
Ketepatan
ucapan (pelafalan)
2.
Penekanan atau
penempatan nada dan durasi yang sesuai
3.
Pemilihan kata
4.
Ketepatan
sasaran pembicaraan (tata krama)
Faktor aspek non kebahasaan yaitu :
1.
Sikap tubuh,
pandangan, bahasa tubuh, mimik wajah yang tepat
2.
Kesediaan
menghargai pembicaraan maupun gagasan orang lain.
3.
Kenyaringan
suara dan kelancaran dalam berbicara
4.
Relevansi,
penalaran, dan penguasaan terhadap topik.
Hurlock mengemukakan 3 kriteria untuk mengukur kemampuan berbicara anak,
apakah anak berbicara secara benar atau sekadar berceloteh sebagai berikut :
1.
Anak mengetahui
arti kata yang digunakan dan mampu menghubungkan dengan objek yang diwakili.
2.
Anak mampu
melafalkan kata-kata yang dapat dipahami orang lain dengan mudah.
3.
Anak dapat
memahami kata-kata tersebut, bukan karena telah sering mendengar atau
menduga-duga.
Beberapa ahli sepakat bahwa anak memiliki kemampuan untuk menirukan bahasa
orang tua yang dilakukan dengan 2 cara yaitu secara spontan dan melalui
penugasan dari orang dewasa untuk menirukan secara spontan bahasa orang dewasa
dan menggunakan tata bahasa anak sendiri secara bebas.
Adapun beberapa cara orang dewasa mengajarkan bahasa bayi sebagai berikut :
1.
Motherese, recasting (menyusun ulang) yaitu berbicara
pada bayi dengan suatu frekuensi dan hubungan yang lebih luas dan menggunakan
kalimat yang sederhana.
2.
Recasting yaitu suatu pengucapan makna atau kalimat
yang sama dengan menggunakan cara yang berbeda contohnya : dengan mengubah suatu
pertanyaan.
3.
Echoing (menggemakan) adalah mengulangi apa yang telah
dikatakan anak, khususnya ungkapan atau bahasa anak yang belum sempurna.
4.
Expanding (memperluaskan) adalah menyatakan ulang apa
telah dikatakan anak dalam bahasa yang baik untuk suatu kosa kata.
5.
Labeling (memberi nama) adalah mengidentifkasi
nama-nama benda.
Menurut Vygostky menjelaskan ada 3 tahap perkembangan
bicara pada anak yang berhubungan erat dengan perkembangan berpikir anak yaitu
:
1.
Tahap eksternal yaitu terjadi ketika anak berbicara
secara eksternal dimana sumber berpikir berasal dari luar diri anak yang
memberikan pengarahan, informasi dan melakukan suatu tanggung jawab dengan
anak.
2.
Tahap egosentris yaitu dimana anak berbicara sesuai
dengan jalan pikirannya dan dari pola bicara orang dewasa.
3.
Tahap Internal yaitu dimana dalam proses berpikir anak
telah memiliki suatu penghayatan kemampuan berbicara sepenuhnya.
Karakteristik ini meliputi kemampuan anak untuk dapat
berbicara dengan baik, contohnya melaksanakan tiga perintah lisan secara
berurutan dengan benar, mendengarkan dan menceritakan kembali cerita sederhana
dengan urutan yang mudah dipahami, menyebutkan nama jenis kelamin dan umurnya,
menggunakan kata sambung seperti : dan, karena, tetapi.
Ada beberapa cara belajar
berbicara yang dapat dilakukan anak sebagai berikut
1.
Persiapan fisik
untuk berbicara pada anak
Yaitu kemampuan berbicara
tergantung pada mekanisme bicara anak tersebut. Pada saat lahir anak tersebut
telah memiliki saluran kecil, langit-langit, mulut datar, dan lidah terlalu
besar untuk saluran suara sebelum semua sarana itu mencapai bentuk yang lebih
matang.
2.
Kesiapan mental
untuk berbicara pada anak
Yaitu kesiapan mental untuk
berbicara tergantung pada kematangan otak, khususnya pada bagian-bagian
asosiasi otak pada anak. Biasanya kesiapan tersebut berkembang pada saat anak
berusia 12 dan 18 bulan dipandang dari segi aspek perkembangan bicara anak.
3.
Model yang baik
untuk ditiru oleh anak didalam proses bicara
Yaitu mengucapkan kata dengan
betul dan kemudian menggabungkannya menjadi satu kalimat yang betul maka anak
harus memiliki model bicara contohnya pada orang dewasa untuk ditiru dari
pelafasan yang benar dan baik.
4.
Kesempatan
untuk berpraktek
Karena alasan apapun kesempatan
berbicara dihilangkan jika mereka tidak dapat membuat orang lain mengerti dan
mereka akan putus asa dan marah.
5.
Bimbingan
Cara yang paling baik untuk
membimbing belajar berbicara yaitu :
a.
Menyediakan
model yang baik
b.
Mengatakan
kata-kata dengan perlahan dan cukup jelas sehingga anak dapat memahaminya
c.
Memberikan
bantuan mengikuti model tersebut dengan membetulkan setiap kesalahan yang mungkin dibuat anak dalam meniru model tersebut.
Langkah-langkah untuk membantu
perkembangan bahasa anak :
1.
Membaca. Kegiatan ini adalah kegiatan yang paling
penting yang dapat dilakukan bersama anak setiap hari. Ketika orang tua
membaca, tunjuklah gambar yang ada di buku dan sebutkan nama dari gambar
tersebut keras-keras. Mintalah anak untuk menunjuk gambar yang sama dengan yang
ada sebutkan tadi. Buatlah kegiatan membaca menjadi menyenangkan dan menarik
bagi anak dan lakukanlah setiap hari.
2.
Berbicaralah mengenai kegiatan sederhana yang orang
tua dan anak lakukan dengan menggunakan bahasa yang sederhana.
3.
Perkenalkan kata-kata baru pada anak setiap hari,
dapat berupa nama-nama tanaman, nama hewan ataupun nama makanan yang disiapkan
baginya.
4.
Cobalah untuk tidak menyelesaikan kalimat anak.
Berikan kesempatan baginya untuk menemukan sendiri kata yang tepat yang ingin
dia sampaikan.
5.
Berbicaralah pada anak setiap hari, dan pandanglah
mereka ketika berbicara atau mendengarkan mereka. Biarkan mereka tahu bahwa
mereka sangat penting.
C. Keterlambatan
dan bahaya (gangguan) di dalam perkembangan bicara pada anak
Apabila tingkat
perkembangan bicara berada dibawah tingkat kualitas perkembangan bicara anak
yang umumnya sama yang dapat diketahui dari ketepatan penggunaan di dalam kosa
kata (bahasa) anak tersebut pada saat bersama teman sebayanya berbicara
menggunakan kata-kata terus dianggap muda diajak bermain dengan
kata-kata.Keterlambatan berbicara tidak hanya mempengaruhi penyesuaian akademis
dan pribadi anak pengaruh yang paling serius adalah terhadap kemampuan membaca
pada awal anak masuk sekolah.
Banyak penyebab keterlambatan
bicara pada anak umumnya adalah rendahnya tingkat kecerdasan yang membuat anak
tidak mungkin belajar berbicara sama baiknya seperti teman-teman sebayanya,
yang kecerdasannya normal atau tinggi kurang motivasi karena anak mengetahui
bahwa mereka dapat berkomunikasi secara memadai dengan bentuk prabicara
dorongan orangtua, terbatasnya kesempatan praktek berbicara karena ketatnya
batasan tentang seberapa banyak mereka diperbolehkan berbicara dirumah.
Salah satu
penyebab tidak diragukan lagi paling umum dan paling serius adalah
ketidakmampuan mendorong atau memotivasi anak berbicara, bahkan pada saat anak
mulai berceloteh. Apabila anak tidak diberikan rangsangan didorong untuk
berceloteh, hal ini akan menghambat penggunaan didalam berbahasa atau kosa kata
yang baik dan benar.
Kekurangan
dorongan tersebut merupakan penyebab serius keterlambatan berbicara anak
terlihat dari fakta bahwa apabila orang tua tidak hanya berbicara kepada anak
mereka tetapi juga menggunakan kosa kata yang lebih luas dan bervariasi, adapun
kemampuan anak didalam berbicara yang berkembang sangat pesat dan cepat yaitu
contohnya : anak-anak dari golongan yang lebih atau menengah yang orang tuanya
ingin sekali menyuruh mereka belajar berbicara lebih awal dan lebih baik. Sangat
kurang kemungkinannya mengalami keterlambatan berbicara pada anak.
Sedangkan anak yang berasal dari
golongan yang lebih rendah yang orang tuanya tidak mampu memberikan dorongan
tersebut bagi mereka, apakah kekurangan waktu atau karena mereka tidak menyadari
betapa pentingnya suatu perkembangan bicara pada anak didik tersebut.
Gangguan atau bahaya didalam
perkembangan bicara pada anak yaitu :
1.
Kelemahan
didalam berbicara (berbahasa) kosa kata
2.
Lamban
mengembangkan suatu bahasa atau didalam berbicara
3.
Sering kali
berbicara yang tidak teratur
4.
Tidak
konsentrasi didalam menerima suatu kata (bahasa) dari orang tua atau guru.
Kesalahan yang
umum didalam pengucapan atau bahasa (berbicara) pada anak yaitu :
1.
Menghilangkan
satu suku kata atau lebih biasanya terletak ditengah-tengah kata contohnya :
“buttfly” padahal “butterfly”.
2.
Mengganti huruf
atau suku kata seperti “tolly” padahal “Dolly”
3.
Menghilangkan
huruf mati yang sulit untuk diucapkan oleh anak contohnya : z,w,s,d, dan g.
4.
Huruf-huruf hidup khususnya O yang paling sulit
dikatakan anak
5.
Singkatan
gabungan huruf mati yang sulit diucapkan oleh anak contohnya : “st, sk, dr, fl,
str”.
Faktor-faktor yang mempengaruhi anak berbicara. Awal masa kanak-kanak
terkena sebagai masa tukang ngobrol, karena sering kali anak dapat berbicara
dengan mudah tidak terputus-putus bicaranya. Adapun faktor-faktor yang
terpenting didalam anak banyak bicara yaitu :
1.
Inteligensi yaitu semakin cerdas anak, semakin cepat anak menguasai keterampilan
berbicara.
2.
Jenis disiplin yaitu anak-anak yang cenderung dibesarkan dengan cara disiplin lebih banyak
bicaranya ketimbang pada suatu kekerasan.
3.
Posisi urutan yaitu anak sulung cenderung atau didorong orangtua untuk banyak berbicara
daripada adiknya.
4.
Besarnya
keluarga
5.
Status sosial
ekonomi
6.
Status ras
7.
Berbahasa dua
8.
Penggolongan
peran seks
D. Makna
Perkembangan Sosial Anak
Syamsu Yusuf (2007) menyatakan
bahwa Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan
sosial. Perkembangan sosial dapat pula diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan
diri terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi ; meleburkan diri menjadi
satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan kerja sama.
Pada awal manusia dilahirkan belum
bersifat sosial, dalam artian belum memiliki kemampuan dalam berinteraksi
dengan orang lain. Kemampuan sosial anak diperoleh dari berbagai kesempatan dan
pengalaman bergaul dengan orang-orang dilingkungannya.
Kebutuhan berinteraksi dengan orang
lain telah dirsakan sejak usia enam bulan, disaat itu mereka telah mampu
mengenal manusia lain, terutama ibu dan anggota keluarganya. Anak mulai mampu
membedakan arti senyum dan perilaku sosial lain, seperti marah (tidak senang
mendengar suara keras) dan kasih sayang. Sunarto dan Hartono (1999) menyatakan
bahwa :
Hubungan sosial (sosialisasi)
merupakan hubungan antar manusia yang saling membutuhkan. Hubungan sosial mulai
dari tingkat sederhana dan terbatas, yang didasari oleh kebutuhan yang
sederhana. Semakin dewasa dan bertambah umur, kebutuhan manusia menjadi
kompleks dan dengan demikian tingkat hubungan sosial juga berkembang amat
kompleks.
Dari kutipan diatas dapatlah
dimengerti bahwa semakin bertambah usia anak maka semakin kompleks
perkembangan sosialnya, dalam arti mereka semakin membutuhkan orang lain. Tidak
dipungkiri lagi bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak akan mampu hidup
sendiri, mereka butuh interaksi dengan manusia lainnya, interaksi sosial
merupakan kebutuhan kodrati yang dimiliki oleh manusia.
E. Bentuk –
Bentuk Tingkah laku Sosial
Dalam
perkembangan menuju kematangan sosial, anak mewujudkan dalam bentuk-bentuk
interkasi sosial diantarannya :
1.
Pembangkangan (Negativisme)
Bentuk tingkah laku melawan. Tingkah
laku ini terjadi sebagai reaksi terhadap penerapan disiplin atau tuntutan orang
tua atau lingkungan yang tidak sesuai dengan kehendak anak. Tingkah laku ini
mulai muncul pada usia 18 bulan dan mencapai puncaknya pada usia tiga tahun dan
mulai menurun pada usia empat hingga enam tahun.
Sikap orang tua terhadap anak
seyogyanya tidak memandang pertanda mereka anak yang nakal, keras kepala,
tolol atau sebutan negatif lainnya, sebaiknya orang tua mau memahami sebagai
proses perkembangan anak dari sikap dependent menuju kearah independent.
2.
Agresi (Agression)
Yaitu
perilaku menyerang balik secara fisik (nonverbal) maupun kata-kata (verbal).
Agresi merupakan salah bentuk reaksi terhadap rasa frustasi ( rasa kecewa
karena tidak terpenuhi kebutuhan atau keinginannya). Biasanya bentuk ini
diwujudkan dengan menyerang seperti ; mencubut, menggigit, menendang dan lain sebagainya.
Sebaiknya orang tua berusaha mereduksi, mengurangi agresifitas anak dengan cara
mengalihkan perhatian atau keinginan anak. Jika orang tua menghukum anak yang
agresif maka egretifitas anak akan semakin memingkat.
3.
Berselisih (Bertengkar)
Sikap ini terjadi
jika anak merasa tersinggung atau terganggu oleh sikap atau perilaku anak lain.
4.
Menggoda (Teasing)
Menggoda
merupakan bentuk lain dari sikap agresif, menggoda merupakan serangan mental
terhadap orang lain dalam bentuk verbal (kata-kata ejekan atau cemoohan) yang
menimbulkan marah pada orang yang digodanya.
5.
Persaingan (Rivaly)
Yaitu
keinginan untuk melebihi orang lain dan selalu didorong oleh orang lain. Sikap
ini mulai terlihat pada usia empat tahun, yaitu persaingan prestice dan pada
usia enam tahun semangat bersaing ini akan semakin baik.
6.
Kerja sama (Cooperation)
Yaitu sikap
mau bekerja sama dengan orang lain. Sikap ini mulai nampak pada usia tiga tahun
atau awal empat tahun, pada usia enam hingga tujuh tahun sikap ini semakin
berkembang dengan baik.
7.
Tingkah laku berkuasa (Ascendant behavior)
Yaitu
tingkah laku untuk menguasai situasi sosial, mendominasi atau bersikap
bossiness. Wujud dari sikap ini adalah ; memaksa, meminta, menyuruh, mengancam
dan sebagainya.
8.
Mementingkan diri sendiri (selffishness)
Yaitu sikap
egosentris dalam memenuhi interest atau keinginannya
9.
Simpati (Sympaty)
Yaitu sikap emosional yang mendorong
individu untuk menaruh perhatian terhadap orang lain mau mendekati atau
bekerjasama dengan dirinya.
F. Faktor –
faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial Anak
Perkembangan
sosial anak dipengaruhi beberapa faktor yaitu :
1.
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan
pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan
sosialnya. Kondisi dan tata cara kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang
kondusif bagi sosialisasi anak. Proses pendidikan yang bertujuan mengembangkan
kepribadian anak lebih banyak ditentukan oleh keluarga, pola pergaulan, etika
berinteraksi dengan orang lain banyak ditentukan oleh keluarga.
2.
Kematangan untuk dapat bersosilisasi dengan baik
diperlukan kematangan fisik dan psikis sehingga mampu mempertimbangkan proses
sosial, memberi dan menerima nasehat orang lain, memerlukan kematangan
intelektual dan emosional, disamping itu kematangan dalam berbahasa juga sangat
menentukan.
3.
Status sosial ekonomi
kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi keluarga
dalam masyarakat. Perilaku anak akan banyak memperhatikan kondisi normatif yang
telah ditanamkan oleh keluarganya.
4.
Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang
terarah. Hakikat pendidikan sebagai proses pengoperasian ilmu yang normatif,
anak memberikan warna kehidupan sosial anak didalam masyarakat dan kehidupan
mereka dimasa yang akan datang.
5.
Kapasitas mental : emosi dan intelegensi kemampuan
berfikir dapat banyak mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar,
memecahkan masalah, dan berbahasa. Perkembangan emosi perpengaruh sekali
terhadap perkembangan sosial anak. Anak yang berkemampuan intelek tinggi akan
berkemampuan berbahasa dengan baik. Oleh karena itu jika perkembangan ketiganya
seimbang maka akan sangat menentukan keberhasilan perkembangan sosial anak.
G. Pengaruh
Perkembangan Sosial terhadap Tingkah Laku
Dalam
perkembangan sosial anak, mereka dapat memikirkan dirinya dan orang lain.
Pemikiran itu terwujud dalam refleksi diri, yang sering mengarah kepenilaian
diri dan kritik dari hasil pergaulannya dengan orang lain. Hasil pemikiran
dirinya tidak akan diketahui oleh orang lain, bahkan sering ada yang
menyembunyikannya atau merahasiakannya.
Pikiran anak
sering dipengaruhi oleh ide-ide dari teori-teori yang menyebabkan sikap kritis
terhadap situasi dan orang lain, termasuk kepada orang tuanya. Kemampuan
abstraksi anak sering menimbulkan kemampuan mempersalahkan kenyataan dan
peristiwa-peristiwa dengan keadaan bagaimana yang semstinya menurut alam
pikirannya.
Disamping
itu pengaruh egoisentris sering terlihat, diantaranya berupa :
1.
Cita-cita dan idealism yangbaik, terlalu menitik
beratkan pikiran sendiri, tanpa memikirkan akibat labih jauh dan tanpa
memperhitungkan kesulitan praktis yang mungkin menyebabkan tidak berhasilnya
menyelesaikan persoalan.
2.
Kemampuan berfikir dengan pendapat sendiri, belum
disertai pendapat orang lain daalm penilaiannya.
Melalui banyak pengalaman dan
penghayatan kenyataan serta dalam menghadapi pendapat orang lain, maka
sikap ego semakin berkurang dan diakhir masa remaja sudah sangat kecil rasa
egonya sehingga mereka dapat bergaul dengan baik.
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
Adapun simpulan dari penulisan ini adalah perkembangan
berbicara dan sosial anak merupakan hal yang sangat penting, dimana peran orang
tua disini sangat penting dalam membimbing dan mengajarkan mereka agar bisa
berbicara dengan baik dan benar.
Caranya dengan mengatakan kata-kata dengan perlahan
dan cukup jelas sehingga anak dapat memahaminya. Dan pada perkembangan sosial
dimana anak dibawah usia tiga tahun sering menghabiskan waktunya untuk bermain
dan mereka juga lebih egois atau memiliki rasa ingin menang sendiri yang
tinggi, seperti merebut mainan dengan teman sebayanya, sedangkan anak yang
berumur lebih dari tiga tahun mulai mengenal teman dan memahami rasa berbagi.
B.
Saran
Adapun saran yang dapat disampaikan dari penulisan ini
adalah diharapkan para orang tua harus selalu memperhatikan tumbuh kembang si
anak, dengan mendorong atau memotivasi anak dalam perkembangan berbicara dan
sosialnya.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2010. Perkembangan Bahasa
Anak. Bandung: Angkasa.
Burhan Nurgiyantoro.1995. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra
Indonesia. Yogyakarta: BPFE.
H,S,
Widjono.2005. Bahasa Indonesia untuk
perguruan tinggi. Jakarta: Depdikbud
Haryadi dan
Zamzani.1996/1997. Peningkatan
Keterampilan Berbahasa Indonesia.Depdikbud Dirjen Dikti bagian Proyek
Pengembangan Pendidikan Guru Sekolah Dasar.
Supriyadi,
dkk. 2005. Pendidikan Bahasa Indonesia 2.
Jakarta: Depdikbud
Massofa. 2011. Perkembangan Bahasa
Anak. Bandung: Angkasa.
Tarigan, H.G. 1986. Berbicara sebagai
suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
No comments:
Post a Comment