Friday, March 3, 2017

Analisis Wacana Berita di Tribun Timur (Analisis Wacana Kritis Model Theo Van Leeuween)



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Wacana adalah proses pengembangan komunikasi yang menggunakan simbol-simbol dan peristiwa-peristiwa di dalam system kemasyarakatan yang luas. Melalui pendekatan wacana pesan-pesan komunikasi, seperti kata-kata, tulisan, gambar-gambar, dan lain-lain, ditentukan oleh orang-orang yang menggunakannya, misalnya konteks peristiwa yang berkenaan dengannya, situasi masyarakat luas yang melatar belakangi keberadaannya, dan lain-lain. Kesemuanya itu dapat berupa nilai-nilai, ideologi, emosi, dan kepentingan-kepentingan. Jadi, analisis wacana yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah sebagai upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari subjek (penulis) yang mengemukakan suatu pernyataan.
Pengungkapan dilakukan dengan menempatkan diri pada posisi sang penulis yang mengikuti struktur makna dari sang penulis sehingga bentuk distribusi dan produksi ideologi yang disamarkan dalam wacana dapat diketahui. Jadi, wacana dapat dilihat dari bentuk hubungan kekuasaan terutama dalam pembentukan subjek dan berbagai tindakan representasi.
Pemahaman mendasar analisis wacana adalah wacana tidak dipahami semata-mata sebagai objek studi bahasa. Bahasa tentu digunakan untuk menganalisis teks. Bahasa tidak dipandang dalam pengertian linguistik tradisional. Bahasa dalam analisis wacana kritis selain pada teks juga pada konteks bahasa sebagai alat yang dipakai untuk tujuan dan praktik tertentu termasuk praktik ideologi. Analisis wacana kritis dalam lapangan psikologi sosial di-artikan sebagai pembicaraan.
Wacana yang dimaksud disini  mirip dengan struktur dan bentuk wawancara dan praktik dari pemakainya. Sementara dalam lapangan politik, analisis wacana kritis adalah praktik pemakaian bahasa, terutama politik bahasa. Karena bahasa adalah aspek sentral dari penggambaran suatu subjek, dan lewat bahasa ideologi terserap didalamnya, maka aspek inilah yang dipelajari dalam analisis wacana kritis. Analisis wacana (atau yang juga disebut analisis wacana kritis) adalah pendekatan yang relative baru dari sistematika pengetahuan yang timbul dari tradisi teori sosial dan analisis linguistik yang kritis.
Theo van Leeuwen memperkenalkan model analisis wacana untuk mendeteksi dan meneliti bagaimana suatu kelompok atau seseorang dimarjinalkan posisinya dalam suatu wacana. Bagaimana suatu kelompok yang dominan lebih memegang kendali dalam menafsirkan suatu peristiwa dan pemaknaannya, sementara kelompok lain yang lebih rendah posisinya cenderung terus menerus sebagai objek pemaknaan, dan digambarkan buruk.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka masalah yang akan dirumuskan adalah bagaimana cara mengkaji wacana dengan menggunakan teori Theo van Leeuwen?

C.    Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka tujuannya untuk mengetahui cara mengkaji wacana dengan menggunakan teori Theo van Leeuwen?














BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Wacana

Wacana  ialah sebuah tulisan yang memiliki urutan yang teratur atau logis. Didalam sebuah wacana ada unsur-unsur yang harus memiliki kepadua dan kesatuan. Sebelum kita menulis sebuah wacana, kita harus menentukan dahulu sebuah tema, tujuannya agar sesuai dengan bentuk di dalam wacana, dan  dan mengurutkan atau munyusun kerangkan karangan. Sebelum kita menulis di anjurkan kita harus membuat kerangka karangan, apa lagi untuk calon penulis.
Supaya dalam menyusun kerangka karangan menjadi sebuah acuan membuat karangan, calon penulis dianjurkan untuk tahu langkah-langkah dalam menyusun sebuah kerangka karangan. Dalam menulis kerangka karangan ada dua bentuk tulisan, yakni kerangka topik dan kerangka kalimat.
B.     Theo Van Leeuwen
Teori ini bertujuan untuk mendeteksi dan meneliti bagaimana suatu kelompok atau  seseorang dimarjinalkan posisinya dalam suatu wacana. Misalnya kelompok tani, buruh, nelayan, dan wanita. Sering kali mereka dideskripsikan secara buruk, tidak berpendidikan, liar, mengganggu ketentaraman dan kenyamanan, serta bertindak anarkis.
Contohnya: Mahasiswa Unjuk rasa digelar menyikapi kasus dugaan korupsi pembayaran gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS) sering kali harus ditindak dengan kekerasan, setelah berbentuk wacana bahwa Mahasiswa Unjuk rasa menimbulkan keonaran, kemacetan, dan perusakan”.
Artinya apa kelompok diatas sering dijadikan objek pemaknaan dan digambarkan secara buruk oleh kelompok dominan yang memegang kendali dalam dalam menafsirkan suatu peristiwa. Dengan model analisis inilah kita bisa melihat bagaimana peristiwa dan aktor-aktor sosial ditampilkan dalam media, dan bagaimana juga suatu kelompok terus-menerus dimarjinalkan.
Ada dua pusat perhatian yang digunakan oleh Teo Van Leeuwen, yaitu exclusion (proses pengeluaran suatu aktor dalam pemberitaan) dan inclusion (proses masing-masing pihak atau kelompok ditampilkan lewat pemberitaan).

1.      Exclusion
Ada tiga strategi bagaimana seseorang atau kelompok dikeluarkan dari teks pemberitaan:
a.       Pasivasi
Proses bagaimana satu kelompok atau aktor tertentu tidak dilibatkan atau dihilangkan dalam suatu wacana untuk melindungi dirnya. Contoh, dalam wacana mengenai unjuk rasa digelar menyikapi kasus dugaan korupsi pembayaran gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang menyeret Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sinjai, Taiyeb Mappasere. Disini terdapat dua aktor yaitu mahasiswa dan sekda, yang salah satu dari aktor tersebut bisa ditampilkan, dan bisa juga tidak ditampilkan dalam teks.
Salah satu cara yang digunakan oleh Leeuwen untuk mengetahui hal tersebut yaitu dengan membuat kalimat dalam bentuk pasif.
Aktif: Mahasiswa menduga (Sekda) Kabupaten Sinjai melakukan korupsi
Pasif: Seorang sekda Kabupaten Sinjai telah melakukan korupsi.
Dua kalimat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa, apabila subuah pemberitaan disajikan dalam bentuk aktif, maka aktor atau pelaku sosial tersebut dapat ditampilkan dalm teks. Akan tetapi, jika perberitaan disajikan dalam bentuk pasif maka aktor atau pelaku sosial tersebut hilang.
Akibatnya yang menjadi inti pembicaraan adalah korban bukan pelaku. Kemudian khalyak pembaca tidak kritis, mereka hanya terpikir kepada korban bukan pelaku, karena sudah diarahkan oleh media melalui kalimat pasif.
b.      Nominalisasi
Nominalisasi aktor sosial atau kelompok dapat dihilangkan dalam sebuah wacana. Strategi ini yaitu mengubah kata kerja (verba) menjadi kata benda (nomina) yang  bermakna peristiwa, biasanya berimbuhan “pe-an”. Misalnya kata  memperkosa (verba) berupa tindakan atau kegiatan, kemudia diubah menjadi pemerkosaan (nomina) yang bermakna peristiwa.
Contoh nominalisasi yang bisa menghilangkan subjek atau pekau tindakan:
Verba  : Lima pelaku penyerangan minimarket di jl maccini raya diringkus.
Nomina
1 : satu unit sepeda motor minimarket terbakar akibat penyerangan
2 : penyerangan minimarket terjadi di jl maccini raya
3 : lagi-lagi terjadi penyerangan terhadap minimarket.
Pada kalimat verba, antara subjek dan objek saling melengkapi agar ia bisa mempunyai arti. Sedangkan pada kalimat nomina 1, 2 dan 3, kehadiran subjek (lima pelaku) telah dihilangkan, selanjutnya tindakan menganiaya sudah berubah makna sebagai peristiwa.

c.       Penggantian Anak Kalimat
Strategi terkhir untuk menghilangkan aktor atau pelaku sosial dengan menggunkan anak kalimat. Yang pada dasarnya wartawan atau penulis berita percaya bahwa khalayak sudah tau apa maksud yang ingin disampaikan, dan sebagai efesiensi kata. Akan tetapi maksut yang disampaikan oleh penulis itu membuat pelaku itu tersembunyi dalam kalimat. Contohnya:
Tanpa anak kalimat : Polisi menembak seorang begal yang berusaha kabur hingga lumpuh.
Dengan anak kalimat  : Untuk mengatasi begal kabur, tembakan dilepaskan. Akbitanya seorang begal lumpuh.
2.      Inclusion
1.      Diferensiasi-Indiferensiasi
Merupakan strategi wacana bagaimana suatu klompok disudutkan dengan menghadirkan kelompok atau wacana lain yang dipandang lebih dominan atau lebih bagus. Contonya:

Indiferensiasi  : Suasana di Luar Kantor KPUD Takalar Masih Kondusif
Deferensiasi    : Suasana di Luar Kantor KPUD Takalar Masih Kondusif.  Sementara kendaraan komando yang dibawa massa nomor 2 tetap terparkir di depan.
Kalimat pertama jelas bahwa di Luar Kantor KPUD Takalar Masih Kondusif. Sedangkan pada kalimat kedua, terdapat fakta bahwa kendaraan komando yang dibawa massa nomor 2 tetap terparkir di depan.  Secara tidak langsung kalimat kedua ini  terdapat perbedaan antara Suasana di Luar Kantor KPUD Takalar Masih Kondusif dengan pihak kendaraan komando yang dibawa massa nomor 2 tetap terparkir di depan.
Hal ini bisa dikatakan memarjinalkan karena teks tersebut telah memisahkan sedemikian Suasana di Luar Kantor KPUD Takalar Masih Kondusif. Kemudian fakta mengenai mengapa kendaraan komando yang dibawa massa nomor 2 tetap terparkir di depan  itu tidak ditampilakn di dalam teks. Sebaliknya, fakta mengenai Suasana di Luar Kantor KPUD Takalar Masih Kondusif ditampilkan di dalam teks.

2.      Objektivitas-Abstraksi
Strategi wacana ini berhubungan degnan pertanyaan apakah informasi mengenai suatu peristiwa atau aktor sosial ditampilkan dengan memberikan petunjuk yang konkret (jelas) atau abstraksi (samar-samar). Misalnya:
Objektivitas     : Yudi si Pembegal Sadis Ditembak Dua Kali
Abstraksi         : Yudi si Pembegal Sadis Ditembak berulang kali.
Pada kalimat pertama jelas berapa kali Yudi si Pembegal Sadis Ditembak. Sedangkan pada kalimat kedua masih samar-samar “berulang kali”. Sehingga pembaca akan mempunyai pandangan yang berbeda antara yang disebut jelas dengan abstraksi.
Menurut Teo Van Leeuwen, penyebutan dalam bentuk abstraksi sering kali disebabkan oleh ketidaktahuaan wartwan mengenai informasi yang jelas, melainkan sebagai strategi wartawan dalam menampilkan sesuatu.
3.      Nominasi-Katagorisasi
Strategi ini sering kali terjadi pilihan apakah aktor atau pelaku ditampilkan apa adanya atau dikatagorikan (agama, status, bentuk fisik, dsb). Sebenarnya katagori itu tidak terlalu penting karena umumnya tidak akan mempengaruhi arti yang ingin disampaikan kepada khalayak.
Akan tetapi secara tidak langsung akan memberikan cap kepada suatu golongan tersebut. Contoh:
Nominasi : Oknum Polisi di Bantaeng Jadi Pengedar Narkoba, Kabid Humas Polda Sulsel Geram.
Katagorisasi    : Oknum Polisi inisial SI di Bantaeng Jadi Pengedar Narkoba, Kabid Humas Polda Sulsel Geram.
Arti dari kedua kalimat diatas sama yaitu Oknum Polisi di Bantaeng Jadi Pengedar Narkoba, Kabid Humas Polda Sulsel Geram. Namun pemberian katagori “inisial SI”,  merupakan informasi tambahan mengenai siapa oknum tersebut. Akibatnya khalayak akan memandang bahwa orang yang inisial SI identik dengan singkatan nama pelaku pengedar obat-obatan terlarang.
4.      Nominasi-Identifikasi
Strategi ini hampir mirip dengan katagorisasi yaitu bagaimana suatu kelompok, peristiwa atau tindakan didefinisikan. Hanya saja kalau identifikasi, proses pendefinisiannya dilakukan dengan memberikan anak kalimat sebagai penjelas dari kalimat pertama. Biasanya menggunakan katan penghubung seperti: yang, dimana.
Ini merupakan strategi wacana dimana satu kelompok atau tindakan diberi penjelasan yang buruk sehingg ketika diterima oleh khalayak akan buruk pula. Contohya:
      Nominasi :  seorang wanita dibunuh pacarnya, diduga sebelumnya selingkuh dengan kekasih lain.
      Identifikasi :  seorang wanita, tukang selingkuh, dibunuh pacarnya diduga sebelumnya selingkuh dengan kekasih lain.
 Tukang Selingkih”, merupakan anak kalimat dari identifikasi yang sering kali bisa menjadi penilaian ke arah mana peristiwa tersebut dijelaskan. Dengan anak kalimat tersebut seroang wanita tidak baik jadi tukang selingkuh. Sehingga tidak heran kalau mengundang rasa marah untuk membunuh.

5.      Determinasi-Indeterminasi
Sering kali aktor atau peristiwa dalam pemberitaan digambarkan secara jelas atau spesifik, tetapi sering pula digambarkan secara universal karena mungkin wartwan belum mendapatkan bukti yang kuat untuk ditulis. Contoh:
Indeterminasi  : Raja Salaman datang ke Indonesia berlibur di Bali
Determinasi     : Orang-orang Raja Salman datang ke Indonesia Berlibur di bali.
Ketika pada kalimat pertama nama Raja Salaman disebut secara jelas, maka arti yang ditunjuk spesifik. Akan tetapi jika disebut dengan Orang-orang Raja Salman pada kalimat kedua, maka maknanya sudah tidak lagi tunggal tetapi jamak. Sehingga banyak orang ikut dengan Raja Salman berlibur di Bali.
6.      Asimilasi-Individualisasi
Asimilasi terjadi ketika aktor sosial berada dalam komunitas atau kelompok sosial itu sendiri, bukan sebagai aktos yang spesifik. Misalnya:
Individualisasi : Ramli seorang begal, lumpuh ditembak Muhammad Yadin, seorang polisi, dalam mengelabui saat pengembangan kasus di Maccini Sombala, kota Makassar.
Asimilasi         : Seorang begal lumpuh ditembak polisi dalam mengelabui saat pengembangan kasus di Maccini Sombala, kota Makassar.
Kalimat pertama merupakan bentuk indivualasasi, karena disana Ramli katagori Begal dan Muhammad Yadin seorang polisi disebutkan secara jelas. Sedangkan pada kalimat kedua dalam bentuk asimilasi, yang mana Ramli tidak disebutkan tetapi mengacu pada komunitas yang disebut Begal, sedangkan Muhammad Yadin berada di komunitas Polisi.
Kesan yang timbul dari strategi ini adalah banyak begal yang menjadi korban tembak. Demikian halnya dengan polisi, semua polisi terksean semuanya melakukan penembakan.
7.      Asosiasi-Diasosiasi
Strategi yang berhubungan dengan pertanyaan apakah aktor atau suatu pihak ditampilkan secara sendiri atau ia dihubungkan dengan kelompok lain yang lebih besar. Contoh:
Diasosiasi : Sebanyak 7 orang ditangkap dalam kasus Penggerebekan dan penggeledahan di Bantaeng.
Asosiasi : Oknum pengedar narkoba dimana-mana selalu menjadi sasaran penggerebekan dan penggeledahan. setelah di Maros, sekarang di Bantaeng. sebanyak 7 orang ditangkap dalam kasus penggerebekan dan penggeledahan di Maros dan di Bantaeng.

Kasus pertama oknum pengedar tidak dihubungkan dengan kelompok yang lebih luas. Ia hanya terjadi di Bantaeng. Kemudian kasus ini hanya dipandang sebagai kasus daerah tersebut dan berlaku untuk wilayah Bantaeng saja. Sendangkan kasus kedua, oknum pengedar dihubungkan dengan oknum pengedar lain. Selanjutnya kasus ini tidak hanya dianggap sebagai kasus di daerah itu sendri, melainkan kasus oknum pengedar narkoba secara keseluruhan. Sehingga apa yang terjadi di Bantaeng merupakan gambaran umum apa yang terjadi di daerah lain secara keseluruhan, dimana Oknum pengedar narkoba selalu menjadi sasaran penggerebekan dan penggeledahan polisi.















BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
Analisis Theo Van Leeuwen secara umum menampilkan bagaimana pihak-pihak dan aktor ditampilkan dalam pemberitaan. Ada dua pusat perhatian. Pertama, proses pengeluaran (exclusion). Apakah dalam suatu teks berita, ada kelompok atau aktor yang dikeluarkan dalam pemberitaan, dan strategi wacana apa yang dipakai untuk itu. Kedua, proses pemasukan (inclusion).
Kalau exclusion berhubungan dengan pertanyaan bagaimana proses suatu kelompok dikeluarkan dari teks pemberitaan, maka inclusion berhubungan dengan pertanyaan bagaimana masing-masing pihak atu kelompok ditampilkan lewat pemberitaan.

B.     Saran
Dengan penulisan makalah ini, diharapkan pembaca dapat memahami tentang konsep dari analisis struktur Theo Van Leeuwen.  Selain itu diharapkan pula dalam membuat sebuah makalah jangan hanya mengandalkan satu referensi buku saja karena masih banyak buku-buku lainnya yang menjelaskan tentang konsep analisis struktur teks Theo Van Leeuwen.












DAFTAR PUSTAKA
Anwar, H. Rosihan. 2004. Bahasa Jurnalistik Indonesiadan Komposisi. Yogyakarta: MEDIA ABADI.

Eryanto. 2006. Analisis Wacana. Yogyakarta: Ikis Pelangi Aksara Jogjakarta.

Gaftur. 2016. Critical Discourse Analisys Sebuah Model Analisis Sosial Kritis dalam Teks Media. Jurnal. Vol. II, Tahun X, November 2016 http://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JJPBS/article/viewFile/2947/244

Hamdin, Ali 2015. Analisis Wacana Kritis Teks Berita Kriminal Di Harian Gorontalo Post. Jurnal. http://download.portalgaruda.org/article.php?article=140052&val=5780

http://makassar.tribunnews.com/2017/01/15/terekam-cctv-lima-pelaku-penyerangan-minimarket-di-jl-maccini-raya-diringkus

http://makassar.tribunnews.com/2017/02/21/video-puluhan-mahasiswa-sinjai-demo-pengadilan-tipikor-makassar

http://makassar.tribunnews.com/2017/02/05/berusaha-kabur-begal-lintas-daerah-dilumpuhkan-di-maccini-sombala

http://makassar.tribunnews.com/2017/01/06/lawan-polisi-yudi-si-pembegal-sadis-ditembak-dua-kali



Mulyana.2005.  Kajian Wacana. Yogyakarta: TIARA WACANA.

Oktavia, Yunisa. 2016. Implementasi Analisis Wacana Kritis Perspektif Leeuwen Dalam Berita Politik Surat Kabar Padang Ekspres Terhadap Pembelajaran Bahasa Berbasis Teks. Jurnal. Volume 1, No. 2. http://kim.ung.ac.id/index.php/KIMFSB/article/download/5273/5241

Rianda. 2015. Wacana Lengsernya Muhammad Mursi Dari Jabatan Presiden Mesir Dalam Surat Kabar Republika Dan Kompas (Analisis Wacana Kritis Model Theo Van Leeuween) .Jurnal. http://ejournal.stainpamekasan.ac.id/index.php/okara/article/download/978/777

Samsuri. 1997/1988. Analisis Wacana. IKIP MALANG: Penyelenggara Pendidikan Pascasarjana Proyek Peningkatan/Perguruan Tinggi.

Titan Ratih. 2014. Pemberitaan Gubernur Bali, Mangku Pastika, Dalam Surat Kabar Bali Post: Analisis Strategi Eksklusi-Inklusi Theo Van Leeuwen. Jurnal. Vol: 2 No: 1. http://jurnal.unmuhjember.ac.id/index.php/BB/article/viewFile/397/286

No comments:

Post a Comment