BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Wacana adalah proses pengembangan
komunikasi yang menggunakan simbol-simbol dan peristiwa-peristiwa di dalam
system kemasyarakatan yang luas. Melalui pendekatan wacana pesan-pesan
komunikasi, seperti kata-kata, tulisan, gambar-gambar, dan lain-lain,
ditentukan oleh orang-orang yang menggunakannya, misalnya konteks peristiwa
yang berkenaan dengannya, situasi masyarakat luas yang melatar belakangi
keberadaannya, dan lain-lain. Kesemuanya itu dapat berupa nilai-nilai,
ideologi, emosi, dan kepentingan-kepentingan. Jadi, analisis wacana yang
dimaksudkan dalam tulisan ini adalah sebagai upaya pengungkapan maksud
tersembunyi dari subjek (penulis) yang mengemukakan suatu pernyataan.
Pengungkapan dilakukan dengan
menempatkan diri pada posisi sang penulis yang mengikuti struktur makna dari
sang penulis sehingga bentuk distribusi dan produksi ideologi yang disamarkan
dalam wacana dapat diketahui. Jadi, wacana dapat dilihat dari bentuk hubungan
kekuasaan terutama dalam pembentukan subjek dan berbagai tindakan representasi.
Pemahaman mendasar analisis wacana
adalah wacana tidak dipahami semata-mata sebagai objek studi bahasa. Bahasa
tentu digunakan untuk menganalisis teks. Bahasa tidak dipandang dalam
pengertian linguistik tradisional. Bahasa dalam analisis wacana kritis selain
pada teks juga pada konteks bahasa sebagai alat yang dipakai untuk tujuan dan
praktik tertentu termasuk praktik ideologi. Analisis wacana kritis dalam
lapangan psikologi sosial di-artikan sebagai pembicaraan.
Wacana yang dimaksud disini mirip dengan struktur dan bentuk wawancara
dan praktik dari pemakainya. Sementara dalam lapangan politik, analisis wacana
kritis adalah praktik pemakaian bahasa, terutama politik bahasa. Karena bahasa
adalah aspek sentral dari penggambaran suatu subjek, dan lewat bahasa ideologi
terserap didalamnya, maka aspek inilah yang dipelajari dalam analisis wacana
kritis. Analisis wacana (atau yang juga disebut analisis wacana kritis) adalah
pendekatan yang relative baru dari sistematika pengetahuan yang timbul dari
tradisi teori sosial dan analisis linguistik yang kritis.
Theo
van Leeuwen memperkenalkan model analisis wacana untuk mendeteksi dan meneliti
bagaimana suatu kelompok atau seseorang dimarjinalkan posisinya dalam suatu
wacana. Bagaimana suatu kelompok yang dominan lebih memegang kendali dalam
menafsirkan suatu peristiwa dan pemaknaannya, sementara kelompok lain yang
lebih rendah posisinya cenderung terus menerus sebagai objek pemaknaan, dan
digambarkan buruk.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka masalah yang
akan dirumuskan adalah bagaimana cara mengkaji wacana dengan menggunakan teori Theo van Leeuwen?
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut
maka tujuannya untuk mengetahui cara mengkaji wacana dengan menggunakan teori Theo van Leeuwen?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Wacana
Wacana
ialah sebuah tulisan yang memiliki urutan yang teratur atau logis. Didalam
sebuah wacana ada unsur-unsur yang harus memiliki kepadua dan kesatuan. Sebelum
kita menulis sebuah wacana, kita harus menentukan dahulu sebuah tema, tujuannya
agar sesuai dengan bentuk di dalam wacana, dan dan mengurutkan atau
munyusun kerangkan karangan. Sebelum kita menulis di anjurkan kita harus
membuat kerangka karangan, apa lagi untuk calon penulis.
Supaya dalam menyusun kerangka
karangan menjadi sebuah acuan membuat karangan, calon penulis dianjurkan untuk
tahu langkah-langkah dalam menyusun sebuah kerangka karangan. Dalam menulis
kerangka karangan ada dua bentuk tulisan, yakni kerangka topik dan kerangka
kalimat.
B. Theo Van
Leeuwen
Teori ini bertujuan untuk mendeteksi dan
meneliti bagaimana suatu kelompok atau
seseorang dimarjinalkan posisinya dalam suatu wacana. Misalnya kelompok
tani, buruh, nelayan, dan wanita. Sering kali mereka dideskripsikan secara
buruk, tidak berpendidikan, liar, mengganggu ketentaraman dan kenyamanan, serta
bertindak anarkis.
Contohnya: “Mahasiswa Unjuk rasa digelar
menyikapi kasus dugaan korupsi pembayaran gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS) sering kali harus ditindak
dengan kekerasan, setelah berbentuk wacana bahwa Mahasiswa Unjuk rasa menimbulkan keonaran,
kemacetan, dan perusakan”.
Artinya apa kelompok diatas sering dijadikan
objek pemaknaan dan digambarkan secara buruk oleh kelompok dominan yang
memegang kendali dalam dalam menafsirkan suatu peristiwa. Dengan model analisis inilah kita bisa melihat
bagaimana peristiwa dan aktor-aktor sosial ditampilkan dalam media, dan
bagaimana juga suatu kelompok terus-menerus dimarjinalkan.
Ada dua pusat perhatian yang digunakan oleh Teo
Van Leeuwen, yaitu exclusion (proses
pengeluaran suatu aktor dalam pemberitaan) dan inclusion (proses masing-masing pihak atau kelompok ditampilkan
lewat pemberitaan).
1. Exclusion
Ada tiga strategi bagaimana seseorang atau
kelompok dikeluarkan dari teks pemberitaan:
a.
Pasivasi
Proses bagaimana satu kelompok atau aktor
tertentu tidak dilibatkan atau dihilangkan dalam suatu wacana untuk melindungi
dirnya. Contoh, dalam wacana mengenai unjuk rasa digelar menyikapi kasus dugaan
korupsi pembayaran gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang menyeret Sekretaris
Daerah (Sekda) Kabupaten Sinjai,
Taiyeb Mappasere. Disini terdapat dua aktor yaitu mahasiswa dan sekda, yang salah satu dari aktor tersebut bisa
ditampilkan, dan bisa juga tidak ditampilkan dalam teks.
Salah satu cara yang digunakan oleh Leeuwen
untuk mengetahui hal tersebut yaitu dengan membuat kalimat dalam bentuk pasif.
Dua kalimat diatas dapat ditarik kesimpulan
bahwa, apabila subuah pemberitaan disajikan dalam bentuk aktif, maka aktor atau
pelaku sosial tersebut dapat ditampilkan dalm teks. Akan tetapi, jika
perberitaan disajikan dalam bentuk pasif maka aktor atau pelaku sosial tersebut
hilang.
Akibatnya yang menjadi inti pembicaraan adalah
korban bukan pelaku. Kemudian khalyak pembaca tidak kritis, mereka hanya
terpikir kepada korban bukan pelaku, karena sudah diarahkan oleh media melalui
kalimat pasif.
b.
Nominalisasi
Nominalisasi aktor sosial atau kelompok dapat
dihilangkan dalam sebuah wacana. Strategi ini yaitu mengubah kata kerja (verba)
menjadi kata benda (nomina) yang
bermakna peristiwa, biasanya berimbuhan “pe-an”. Misalnya kata memperkosa (verba) berupa tindakan atau
kegiatan, kemudia diubah menjadi pemerkosaan (nomina) yang bermakna peristiwa.
Contoh nominalisasi yang bisa menghilangkan subjek atau pekau tindakan:
Verba : Lima
pelaku penyerangan minimarket di jl maccini raya diringkus.
Nomina
1 : satu
unit sepeda motor minimarket
terbakar akibat penyerangan
2 : penyerangan minimarket terjadi di jl
maccini raya
3 : lagi-lagi terjadi penyerangan terhadap minimarket.
Pada kalimat verba, antara subjek dan objek
saling melengkapi agar ia bisa mempunyai arti. Sedangkan pada kalimat nomina 1,
2 dan 3, kehadiran subjek (lima pelaku) telah dihilangkan,
selanjutnya tindakan menganiaya sudah berubah makna sebagai peristiwa.
c.
Penggantian Anak Kalimat
Strategi terkhir untuk menghilangkan aktor atau
pelaku sosial dengan menggunkan anak kalimat. Yang pada dasarnya wartawan atau
penulis berita percaya bahwa khalayak sudah tau apa maksud yang ingin
disampaikan, dan sebagai efesiensi kata. Akan tetapi maksut yang disampaikan
oleh penulis itu membuat pelaku itu tersembunyi dalam kalimat. Contohnya:
Tanpa anak kalimat : Polisi menembak
seorang begal yang berusaha
kabur hingga lumpuh.
Dengan anak kalimat : Untuk
mengatasi begal kabur, tembakan dilepaskan. Akbitanya seorang begal lumpuh.
2. Inclusion
1.
Diferensiasi-Indiferensiasi
Merupakan strategi wacana bagaimana suatu
klompok disudutkan dengan menghadirkan kelompok atau wacana lain yang dipandang
lebih dominan atau lebih bagus. Contonya:
Indiferensiasi : Suasana
di Luar Kantor KPUD Takalar Masih Kondusif
Deferensiasi : Suasana
di Luar Kantor KPUD Takalar Masih Kondusif. Sementara
kendaraan komando yang
dibawa massa nomor 2 tetap terparkir di depan.
Kalimat pertama jelas bahwa di
Luar Kantor KPUD Takalar Masih Kondusif. Sedangkan pada kalimat
kedua, terdapat fakta bahwa kendaraan komando yang dibawa massa
nomor 2 tetap terparkir di depan. Secara tidak
langsung kalimat kedua ini terdapat
perbedaan antara Suasana di Luar Kantor KPUD Takalar Masih
Kondusif dengan pihak
kendaraan
komando yang dibawa massa nomor 2 tetap terparkir di depan.
Hal ini bisa dikatakan memarjinalkan karena teks tersebut telah memisahkan
sedemikian Suasana di Luar Kantor KPUD Takalar Masih Kondusif. Kemudian fakta mengenai
mengapa kendaraan
komando yang dibawa massa nomor 2 tetap terparkir di depan itu tidak ditampilakn di dalam
teks. Sebaliknya, fakta mengenai Suasana di Luar Kantor
KPUD Takalar Masih Kondusif ditampilkan di dalam teks.
2.
Objektivitas-Abstraksi
Strategi wacana ini berhubungan degnan
pertanyaan apakah informasi mengenai suatu peristiwa atau aktor sosial
ditampilkan dengan memberikan petunjuk yang konkret (jelas) atau abstraksi
(samar-samar). Misalnya:
Objektivitas : Yudi
si Pembegal Sadis Ditembak Dua Kali
Abstraksi : Yudi si Pembegal Sadis Ditembak
berulang kali.
Pada kalimat pertama jelas berapa kali Yudi
si Pembegal Sadis Ditembak. Sedangkan pada kalimat kedua masih samar-samar
“berulang kali”. Sehingga pembaca akan mempunyai pandangan yang berbeda antara
yang disebut jelas dengan abstraksi.
Menurut Teo Van Leeuwen, penyebutan dalam bentuk
abstraksi sering kali disebabkan oleh ketidaktahuaan wartwan mengenai informasi
yang jelas, melainkan sebagai strategi wartawan dalam menampilkan sesuatu.
3.
Nominasi-Katagorisasi
Strategi ini sering kali terjadi pilihan apakah
aktor atau pelaku ditampilkan apa adanya atau dikatagorikan (agama, status,
bentuk fisik, dsb). Sebenarnya katagori itu tidak terlalu penting karena
umumnya tidak akan mempengaruhi arti yang ingin disampaikan kepada khalayak.
Akan tetapi secara tidak langsung akan
memberikan cap kepada suatu golongan tersebut. Contoh:
Nominasi : Oknum
Polisi di Bantaeng Jadi Pengedar Narkoba, Kabid Humas Polda Sulsel Geram.
Katagorisasi : Oknum Polisi inisial SI di Bantaeng
Jadi Pengedar Narkoba, Kabid Humas Polda Sulsel Geram.
Arti dari kedua kalimat diatas sama yaitu Oknum Polisi di Bantaeng
Jadi Pengedar Narkoba, Kabid Humas Polda Sulsel Geram. Namun pemberian katagori
“inisial SI”, merupakan informasi tambahan
mengenai siapa oknum tersebut. Akibatnya khalayak akan memandang bahwa orang
yang inisial SI identik dengan singkatan
nama pelaku pengedar obat-obatan terlarang.
4.
Nominasi-Identifikasi
Strategi ini hampir mirip dengan katagorisasi
yaitu bagaimana suatu kelompok, peristiwa atau tindakan didefinisikan. Hanya
saja kalau identifikasi, proses pendefinisiannya dilakukan dengan memberikan
anak kalimat sebagai penjelas dari kalimat pertama. Biasanya menggunakan katan
penghubung seperti: yang, dimana.
Ini merupakan strategi wacana dimana satu
kelompok atau tindakan diberi penjelasan yang buruk sehingg ketika diterima
oleh khalayak akan buruk pula. Contohya:
•
Nominasi : seorang
wanita dibunuh pacarnya, diduga sebelumnya selingkuh dengan kekasih lain.
•
Identifikasi : seorang wanita, tukang selingkuh, dibunuh pacarnya diduga sebelumnya selingkuh dengan kekasih lain.
“Tukang Selingkih”, merupakan anak kalimat dari
identifikasi yang sering kali bisa menjadi penilaian ke arah mana peristiwa
tersebut dijelaskan. Dengan anak kalimat tersebut seroang wanita tidak baik
jadi tukang selingkuh. Sehingga tidak heran kalau mengundang rasa marah untuk
membunuh.
5.
Determinasi-Indeterminasi
Sering kali aktor atau peristiwa dalam
pemberitaan digambarkan secara jelas atau spesifik, tetapi sering pula
digambarkan secara universal karena mungkin wartwan belum mendapatkan bukti
yang kuat untuk ditulis. Contoh:
Indeterminasi : Raja Salaman datang ke Indonesia berlibur di Bali
Determinasi : Orang-orang Raja Salman datang ke Indonesia Berlibur
di bali.
Ketika pada kalimat pertama nama Raja Salaman disebut secara jelas, maka arti yang ditunjuk
spesifik. Akan tetapi jika disebut dengan Orang-orang
Raja Salman pada kalimat kedua, maka maknanya sudah tidak lagi tunggal tetapi jamak.
Sehingga banyak orang ikut dengan
Raja Salman berlibur di Bali.
6.
Asimilasi-Individualisasi
Asimilasi terjadi ketika aktor sosial berada
dalam komunitas atau kelompok sosial itu sendiri, bukan sebagai aktos yang
spesifik. Misalnya:
Individualisasi : Ramli seorang
begal, lumpuh ditembak Muhammad
Yadin, seorang polisi, dalam mengelabui
saat pengembangan kasus di Maccini Sombala,
kota Makassar.
Asimilasi : Seorang begal
lumpuh ditembak polisi dalam mengelabui
saat pengembangan kasus di Maccini Sombala,
kota Makassar.
Kalimat pertama merupakan bentuk indivualasasi,
karena disana Ramli katagori Begal dan Muhammad Yadin seorang polisi disebutkan
secara jelas. Sedangkan pada kalimat kedua dalam bentuk asimilasi, yang mana Ramli tidak disebutkan tetapi mengacu pada komunitas yang
disebut Begal, sedangkan Muhammad Yadin berada di komunitas Polisi.
Kesan yang timbul dari strategi ini adalah
banyak begal yang menjadi korban tembak. Demikian halnya dengan polisi, semua
polisi terksean semuanya melakukan penembakan.
7.
Asosiasi-Diasosiasi
Strategi yang berhubungan dengan pertanyaan
apakah aktor atau suatu pihak ditampilkan secara sendiri atau ia dihubungkan
dengan kelompok lain yang lebih besar. Contoh:
Diasosiasi : Sebanyak 7 orang ditangkap dalam kasus Penggerebekan
dan penggeledahan di Bantaeng.
Asosiasi : Oknum pengedar narkoba
dimana-mana selalu menjadi sasaran penggerebekan
dan penggeledahan. setelah di Maros, sekarang di Bantaeng. sebanyak 7 orang ditangkap dalam
kasus penggerebekan dan
penggeledahan di Maros dan di Bantaeng.
Kasus pertama oknum pengedar tidak dihubungkan dengan kelompok yang lebih luas. Ia hanya terjadi di Bantaeng. Kemudian kasus ini hanya dipandang sebagai kasus
daerah tersebut dan berlaku untuk wilayah Bantaeng saja. Sendangkan kasus
kedua, oknum pengedar dihubungkan dengan oknum
pengedar lain. Selanjutnya kasus ini tidak hanya dianggap sebagai kasus di
daerah itu sendri, melainkan kasus oknum
pengedar narkoba secara keseluruhan. Sehingga apa yang terjadi di Bantaeng merupakan gambaran umum apa yang terjadi di daerah lain secara keseluruhan, dimana Oknum pengedar narkoba selalu menjadi sasaran penggerebekan
dan penggeledahan polisi.
BAB
III
PENUTUP
A.
Simpulan
Analisis Theo Van Leeuwen secara
umum menampilkan bagaimana pihak-pihak dan aktor ditampilkan dalam pemberitaan.
Ada dua pusat perhatian. Pertama, proses pengeluaran (exclusion). Apakah dalam
suatu teks berita, ada kelompok atau aktor yang dikeluarkan dalam pemberitaan,
dan strategi wacana apa yang dipakai untuk itu. Kedua, proses pemasukan
(inclusion).
Kalau exclusion berhubungan dengan
pertanyaan bagaimana proses suatu kelompok dikeluarkan dari teks pemberitaan,
maka inclusion berhubungan dengan pertanyaan bagaimana masing-masing pihak atu
kelompok ditampilkan lewat pemberitaan.
B.
Saran
Dengan
penulisan makalah ini, diharapkan pembaca dapat memahami tentang konsep dari
analisis struktur Theo Van Leeuwen. Selain itu diharapkan pula dalam membuat
sebuah makalah jangan hanya mengandalkan satu referensi buku saja karena masih
banyak buku-buku lainnya yang menjelaskan tentang konsep analisis struktur teks
Theo Van
Leeuwen.
DAFTAR
PUSTAKA
Anwar, H. Rosihan. 2004. Bahasa Jurnalistik Indonesiadan Komposisi.
Yogyakarta: MEDIA ABADI.
Eryanto. 2006. Analisis Wacana. Yogyakarta: Ikis Pelangi Aksara Jogjakarta.
Gaftur. 2016. Critical Discourse Analisys Sebuah Model Analisis Sosial Kritis
dalam Teks Media. Jurnal. Vol. II, Tahun X, November 2016
http://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JJPBS/article/viewFile/2947/244
Hamdin,
Ali 2015. Analisis Wacana Kritis Teks Berita Kriminal Di Harian Gorontalo Post. Jurnal. http://download.portalgaruda.org/article.php?article=140052&val=5780
http://makassar.tribunnews.com/2017/01/15/terekam-cctv-lima-pelaku-penyerangan-minimarket-di-jl-maccini-raya-diringkus
http://makassar.tribunnews.com/2017/02/21/video-puluhan-mahasiswa-sinjai-demo-pengadilan-tipikor-makassar
http://makassar.tribunnews.com/2017/02/05/berusaha-kabur-begal-lintas-daerah-dilumpuhkan-di-maccini-sombala
http://makassar.tribunnews.com/2017/01/06/lawan-polisi-yudi-si-pembegal-sadis-ditembak-dua-kali
Mulyana.2005. Kajian
Wacana. Yogyakarta: TIARA WACANA.
Oktavia, Yunisa. 2016.
Implementasi Analisis
Wacana Kritis Perspektif Leeuwen
Dalam Berita Politik Surat Kabar Padang Ekspres Terhadap Pembelajaran Bahasa
Berbasis Teks. Jurnal. Volume 1, No. 2.
http://kim.ung.ac.id/index.php/KIMFSB/article/download/5273/5241
Rianda. 2015. Wacana
Lengsernya Muhammad Mursi
Dari Jabatan Presiden Mesir Dalam Surat Kabar Republika Dan Kompas (Analisis Wacana Kritis Model
Theo Van Leeuween) .Jurnal. http://ejournal.stainpamekasan.ac.id/index.php/okara/article/download/978/777
Samsuri. 1997/1988. Analisis Wacana. IKIP MALANG:
Penyelenggara Pendidikan Pascasarjana Proyek Peningkatan/Perguruan Tinggi.
Titan Ratih. 2014. Pemberitaan
Gubernur Bali, Mangku
Pastika, Dalam
Surat Kabar Bali Post: Analisis Strategi Eksklusi-Inklusi Theo Van Leeuwen. Jurnal. Vol: 2 No: 1.
http://jurnal.unmuhjember.ac.id/index.php/BB/article/viewFile/397/286
No comments:
Post a Comment