BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pengembangan tema sebuah karangan
tergantung dari kerangka karangan yang telah digarap sebelumnya, beserta perincian-perinciannya yang dilakukan kemudian. Perincian
dalam kerangka karangan dapat diarahkan kepada pembentukan bab-bab dan anak-anak
bab, sedangkan perincian-perincian yang dilakukan kemudian diarahkan kepada
penetapan pokok-pokok utama dan pokok-pokok bawahan yang akan menjadi inti
atau gagasan utama alinea-alinea. Demikian
selanjutnya tiap gagasan utama alinea akan diperinci lagi menjadi sebuah alinea.
Entah berkedudukan sebagai alinea utama
atau sebagai alinea bawahan. Akhirnya harus diperhatikan pula
bahwa struktur kalimat, pilihan kata harus dibuat sedemikian sehingga apa yang
dikatakan itu jelas, teratur, dan
menarik. Sebuah laporan yang teknis ilmiah tidak menghendaki gaya
yang indah-indah seperti halnya bidang politik dan kesusastraan.
Namun kedua-duanya tetap harus dituangkan dalam bentuk dan gaya yang menarik. Sebuah karangan yang final, tidak hanya menuntut persyaratan material atau persyaratan isi. Sebuah
karangan juga menuntut suatu persyaratan lain yaitu persyaratan
formal, bagaimana supaya bentuk atau
wajah dan karangan itu, sehingga kelihatan indah serta menarik.
B.
Rumusan Maslah
1.
Bagaimana cara mengetaahui pengertian Konvensi Naskah
2.
Bagaimana cara mengetahui Syarat Formal Penulisan
Sebuah Naskah
C.
Tujuan Masalah
1.
Untuk mengetahui pengertian Konvensi Naskah
2.
Untuk mengetahui Syarat Formal Penulisan
Sebuah Naskah
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Konvensi Naskah
Jika dilihat dari kata pertama,
NASKAH dapat diartikan sebagai KONSEP KARANGAN, dimana karangan tersebut
mengandung keaslian yang tinggi. Dapat pula dikatakan sebagai karangan yang
akan dicetak atau akan diterbitkan. Naskah
merupakan artikel, dan artikel merupakan karya tulis. Jadi artikel ilmiah
merupakan karya yulis yang dirancang untuk dimuat dalam jurnal atau buku
kempulan artikel yang ditulis dengan tata cara ilmiah dan mengikuti pedoman
atau konvensi ilmiah yang telah di sepakati atau diterapkan. Artikel Ilmiah yang ditulis oleh mahasiswa, dosen,
pustakawan, peneliti, dan penulis lainnya dapat diangkat dari hasil penelitian
lapangan, hasil pemikiran, dan kajian pustaka, atau hasil dari pengembangan
proyek dsb. Berdasarkan sistematika penulisan
dan isinya, dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu:
1.
Artikel hasil penelitian, dan
2.
Artikel nonpenelitian.
Mahasiswa penulis : Tugas Akhir,
Skripsi, Tesis, Desertasi dianjurkan menulis kembali karyanya dalam bentuk
artikel untuk diterbitkan dalam jurnal penelitian. Makalah adalah karya tulis yang memuat pemikiran
tentang suatu masalah atau topik tertentu yang ditulis secara sistematis dan
runtut dengan disertai analisis yang logis dan obyektif. Laporan penelitian adalah karya tulis yang berisi
paparan tentang proses dan hasil-hasil yang diperoleh dari suatu kegiatan
penelitian. Oleh karna itu, Naskah penelitian
ialah draft laporan ilmiah.
B. Syarat Formal Penulisan Sebuah Naskah
Untuk menulis sebuah naskah, diperlukan suatu penyusunan
seluruh unsur karangan menjadi satu kesatuan karangan dengan berdasarkan
persyaratan formal kebahasaan yang baik, benar, cermat, logis: penguasaan,
wawasan keilmuan bidang kajian yang ditulis secara memadai; dan format
pengetikan yang sistematis, disebut "Pengorganisasian Karangan".
Selain itu pengorganisasian karangan inilah yang diperlukan dalam menyusun
sebuah karangan. Persyaratan formal (bentuk lahiriah) yang harus dipenuhi
sebuah karya menyangkut tiga bagian utama, yaitu : Bagian pelengkap
pendahuluan, Bagian isi karangan, dan Bagian pelengkap penutup.
1.
Bagian Pelengkap Pendahuluan
Bagian pelengkap
pendahuluan atau disebut juga halaman halaman pendahuluan sama sekali tidak menyangkut isi karangan. Tetapi
bagian ini harus disiapkan sebagai bahan informasi bagi para pembaca dan
sekaligus berfungsi menampilkan karangan itu
dalam bentuk yang kelihatan lebih menarik. Biasanya bagian pelengkap pendahuluan dinomori dengan
mempergunakan angka Romawi. Bagian pelengkap pendahuluan biasanya
terdiri dari:
a)
Halaman Judul
Halaman judul adalah halaman yang mutlak perlu, Dalam menyusun
halaman judul buku atau halaman judul skripsi, selain segi teknis, harus
diperhatikan pula segi estetis dan kepentingan tiap kata. Bagian kalimat frasa atau kata harus
ditempatkan secara seimbang di
tengah halaman.
b)
Halaman Pengesahan
Halaman ini harus disiapkan untuk sebuah Tugas Akhir (TA), skripsi,
tesis. Dan lain sebagainya.
c)
Kata
Pengantar
Sering terdapat dua istilah yang saling bertukar
penggunaannya yaitu Kata Pengantar dan Kata Pendahuluan atau Pendahuluan.
Sebaiknya penggunaan kedua istilah itu dibedakan. Kata Pengantar sebaiknya
dipergunakan untuk bagian ini, sedangkan Pendahuluan dipergunakan untuk
menyebut bagian awal dari isi karangan. Sebuah kata pengantar
sekurang-kurangnya memuat hal-hal berikut:
(1)
Penjelasan dalam rangka apa
penulis menyusun karangan itu, dan mengapa justru
memilih bidang pembahasan itu;
(2)
Pertanggungjawaban bagaimana karangan itu digarap secara umum;
(3)
Suka-duka penulis dalam pengumpulan data atau pada
waktu mengadakan penelitian;
(4)
Siapa-siapa atau badan-badan mana
yang telah memberikan bantuan dan uluran tangan;
(5)
Pernyataan terimakasih kepada mereka semua yang telah
memberikan bantuan pada penulis: para dosen yang telah memberi bimbingan secara
khusus, semua dosen yang telah mendidik, pimpinan, dan semua orang atau badan
yang telah disebutkan di atas dalam rangka pengumpulan data;
(6)
Harapan - harapan penulis tentang bermanfaatnya
karangan itu entah bagi pribadi, Nusa Bangsa, dan bagi perkembangan ilmu
pengetahuan itu sendiri. Panjangnya
kata pengantar boleh satu halaman boleh juga lebih, tetapi harus diperhatikan agar jangan terlalu panjang lebar,
melainkan harus ringkas dan
jelas.
d) Daftar Isi
Daftar isi merupakan petunjuk yang baik bagi pembaca
dan mereka yang ingin membeli sebuah buku. Setiap pembeli ingin mengetahui apa
isi buku itu dan ingin segera mendapat gambaran tentang hal- hal yang khusus
dibicarakan dalam buku tersebut. Atas pertimbangan ini, maka sebaiknya daftar
isi ditempatkan pada bagian pelengkap pendahuluan, sebelum isi karangan itu.
e)
Daffar Tabel dan Daftar Gambar
Bila dalam buku itu terdapat gambar-gambar,
tabel-tabel, keterangan-keterangan lainnya (misalnya singkatan, penjelasan
mengenai pengucapan sebuah bahasa, dsb.), maka dapat disiapkan pula daftar
khusus mengenai hal-hal tersebut. Untuk memudahkan pembaca, maka semua gambar
dan tabel yang dipergunakan dalam buku diberi nomor urut, sehingga mudah
dicari.
f)
Daftar Lampiran
2.
Bagian Isi Karangan
Pada bagian isi karangan ini,
terbagi menjadi 3 bagian yang terdiri dari :
a.
Pendahuluan
Dalam Bab 1 pendahuluan,
berisikan :
Latar Belakang
Masalah
Dimana berisi kendala atau yang biasa disebut sebagai masalah yang terjadi.
Selain itu berisi ide atau alternatif usulan yang tentu harus bernilai positif,
sehingga mendapatkan solusi ataupun jawaban dari pilihan alternatif yang
optimal.
Ruang Lingkup dan
Batasan Masalah
Untuk bagian ini, tentu membatasi ruang lingkup dari pemasalahan tersebut
agar tidak merambat luas dan menyebar pada masalah lainnya, oleh karna itu
dibuatlah batasan masalah. Selain itu berisi pula seputar cara kerja secara
singkat.
Tujuan Penulisan
Berisikan dua kondisi, yakni pertama untuk diri sendiri, dan yang
kedua tersebut yang memberikan nilai baik dari pembahasan juga pengerjaan
yang dilakukan.
Metodologi Penelitian
Dalam metodologi penelitian ini, tentu ada observasi
(mengamati), wawancara pada narasumber atau yang mengetahui tentang yang
berkaitan dengan permasalahan bersangkutan, serta melakukan pengumpulan data
(data sheet).
Sistematika Penulisan
Pada bagian sistematika penulisan, menjelaskan memakai
penulisan berapa banyak bab. Misal, untuk pembuatan penulisan ilmiah pada
mahasiswa semester 6 Universitas Gunadarma yang akan membuat alat haruslah 4
bab, sedangkan yang akan membuat analisis dan studi literatur maka di wajibkan
sebanyak 5 bab.
b.
Tubuh Karangan
Tubuh karangan atau bagian utama karangan merupakan
inti karangan berisi sajian pembahasan masalah. Bagian ini menguraikan seluruh
masalah yang dirumuskan pada pendahuluan secara tuntas (sempurna). Di sinilah
terletak segala masalah yang akan dibahas secara sistematis. Kesempurnaan
pembahasan diukur berdasarkan kelengkapan unsur-unsur berikut ini:
1)
Ketuntasan materi:
Materi
yang dibahas mencakup seluruh variabel yang tertulis pada kalimat tesis, baik
pembahasan yang berupa data sekunder (kajian teoretik) maupun data primer.
Pembahasan data primer harus menyertakan pembuktian secara logika, fakta yang
telah dianalisis atau diuji kebenarannya, contoh-contoh, dan pembuktian lain
yang dapat mendukung ketuntasan pembenaran.
2)
Kejelasan uraian/ deskripsi:
(a) Kejelasan konsep
Konsep adalah keseluruhan pikiran yang terorganisasi
secara utuh, jelas, dan tuntas dalam suatu kesatuan makna. Untuk itu,
penguraian dari bab ke sub - bsb, dari sub - bab ke detail yaang lebih rinci
sampai dengan uraian perlu memperhatikan kepaduan dan koherensial, terutama
dalam menganalistis, menginterpretasikan (menafsirkan) dan menyintesiskan dalam
suatu penegasan atau kesimpulan. Selain itu, penulis perlu memperhatikan
konsistensi dalam penomoran, penggunaan huruf, jarak spasi, teknik kutipan,
catatan pustaka, dan catatan kaki.
(b) Kejelasan bahasa
Kejelasan dan ketepatan pilihan kata yang dapat diukur
kebenarannya. Untuk mewujudkan hal itu, kata lugas atau kata denotatif lebih
baik daripada kata konotatif atau kata kias (terkecuali dalam pembuatan
karangan fikti, kata konotatif atau kata kias sangat diperlukan). Kejelasan
makna kalimat tidak bermakna ganda, menggunakan struktur kalimat yang betul,
menggunakan ejaan yang baku, menggunakan kelimat efektif, menggunakan
koordinatif dan subordinatiff secara benar.
(c) Kejelasan penyajian dan fakta kebenaran fakta
Kejelasan penyajian fakta dapat diupayakan dengan
berbagai cara, antara lain : penyajian dari umum ke khusus, dari yang
terpenting ke kurang penting; kejelasan urutan proses. Untuk menunjang
kejelasan ini perlu didukung dengan gambar, grafik, bagan tabel, diagram, dan
foto - foro. Namun, kebenaran fakta sendiri harus diperhatikan kepastiannya.
Hal-hal lain yang harus dihindarkan dalam penulisan karangan (ilmiah) :
1.
Subjektivitas dengan menggunakan kata-kata: saya
pikir, saya rasa, menurut pengalaman saya, dan lain-lain. Atasi subjektivitas
ini dengan menggunakan: penelitian membuktikan bahwa…, uji laboratorium
membuktikan bahwa…, survei membuktikan bahwa…,
2.
Kesalahan: pembuktian pendapat tidak mencukupi,
penolakan konsep tanpa alasan yang cukup, salah nalar, penjelasan tidak tuntas,
alur pikir (dari topik sampai dengan simpulan) tidak konsisten, pembuktian
dengan prasangka atau berdasarkan kepentingan pribadi, pengungkapan maksud yang
tidak jelas arahnya, definisi variabel tidak (kurang) operasional, proposisi
yang dikembangkan tidak jelas, terlalu panjang, atau bias, uraian tidak sesuai
dengan judul
c. Kesimpulan
Kesimpulan atau simpulan merupakan bagian terakhir
atau penutup dari isi karangan, dan juga merupakan bagian teroenting sebuah
karangan ilmiah. Pembaca yang tidak memiliki cukup waktu untuk membaca naskah
seutuhnya cenderung akan membaca bagian - bagian penting saja, antara lain
kesimpulan. Oleh karena itu, kesimpulan harus disusun sebaik mungkin.
Kesimpulan harus dirumuskan dengan tegas sebagai suatu pendapat pengarang atau
penulis terhadap masalah yang telah diuraikan. Penulis dapat merumuskan
kesimpulannya dengan dua cara :
1.
Dalam tulisan-tulisan yang bersifat argumentatif,
dapat dibuat ringkasan-ringkasan argumen yang penting dalam bentuk dalil-dalil
(atau tesis-tesis), sejalan dengan perkembangan dalam tubuh karangan itu.
2.
Untuk kesimpulan-kesimpulan biasa, cukup disarikan
tujuan atau isi yang umum dari pokok-pokok yang telah diuraikan dalam tubuh
karangan itu.
C.
Bagian Pelengkap Penutup
Bagian pelengkap penutup juga merupakan syarat-syarat
formal bagi suatu karangan ilmiah
a. Daftar pustaka (Bibliografi)
Setiap karangan ilmiah harus menggunakan data pustaka atau catatan kaki dan
dilengkapi dengan daftar bacaan. Daftar pustaka (bibliografi) adalah daftar
yang berisi judul buku, artikel, dan bahan penerbitan lainnya yang mempunyai
pertalian dengan sebuah atau sebagian karangan. Unsur-unsur daftar pustaka
meliputi:
1. Nama pengarang: penulisannya dibalik dengan menggunakan koma.
2. Tahun terbit.
3. Judul buku: penulisannya bercetak miring.
4. Data publikasi, meliputi tempat/kota terbit, dan penerbit.
5. Untuk sebuah artikel diperlukan pula judul artikel, nama majalah, jilid,
nomor, dan tahun terbit.
Contoh: Tarigan, Henry. 1990. Membaca sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung:
Angkasa. (Banyak versi lainnya, misal: Sistem Harvard, Sistem Vancover, dan
lain-lain)
Keterangan :
Jika buku itu
disusun oleh dua pengarang, nama pengarang kedua tidak perlu dibalik.
Jika buku itu disusun oleh
lembaga, nama lembaga itu yang dipakai untuk menggantikan nama pengarang.
Jika buku itu
merupakan editorial (bunga rampai), nama editor yang dipakai dan di belakangnya
diberi keterangan ed. ‘editor’
Nama gelar
pengarang lazimnya tidak dituliskan.
Daftar pustaka
disusun secara alfabetis berdasarkan urutan huruf awal nama belakang pengarang.
b. Lampiran (Apendix)
Lampiran (apendix) merupakan suatu bagian pelengkap yang fungsinya
terkadang tumpang tindih dengan catatan kaki. Bila penulis ingin memasukan
suatu bahan informasi secara panjang lebar, atau sesuatu informasi yang baru,
maka dapat dimasukkan dalam lampiran ini. Lampiran ini dapat berupa esai,
cerita, daftar nama, model analisis, dan lain-lain. Lampiran ini disertakan
sebagai bagian dari pembuktian ilmiah. Penyajian dalam bentuk lampiran agar
tidak mengganggu pembahasan jika disertakan dalam uraian.
c. Indeks
Indeks adalah daftar kata atau istilah yang digunakan dalam uraian dan
disusun secara alfabetis (urut abjad). Penulisan indeks disertai nomor halaman
yang mencantumkan penggunaan istilah tersebut. Indeks berfungsi untuk
memudahkan pencarian kata dan penggunaannya dalam pembahasan.
d. Riwayat Hidup Penulis
Buku,
skripsi, tesis, disertasi perlu disertai daftar riwayat hidup. Dalam skripsi
menuntut daftar RHP lebih lengkap. Daftar riwayat hidup merupakan gambaran
kehidupan penulis atau pengarang. Daftar riwayat hidup meliputi: nama penulis,
tempat tanggal lahir, pendidikan, pengalaman berorganisasi atau pekerjaan, dan
karya-karya yang telah dihasilkan oleh penulis.
D.
Pengelompokan Naskah
Untuk Pengelompokan naskah ini, dibedakan pula karya yang dilakukan secara formal, semi-formal,
dan non-formal. Suatu karya memenuhi semua persyaratan
lahiriah yang dituntut oleh konvensi dinamakan formal. Bila sebuah
karangan tidak memenuhi semua persyaratan lahiriah yang dituntut konvensi, ini
yang dinamakan semi-formal. Bila bentuk sebuah karangan tidak memenuhi
syarat - syarat formalnya, maka inilah yang dinamakan non-formal ..
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Jadi, aspek - aspek konvensi karya ilmiah adalah hal - hal yang menjadi
kesepakatan bersama dalam penulisan karya ilmiah. Aspek - aspek tersebut
meliputi hal - hal berikut :
1.
Bentuk karangan
2.
Bagian - bagian karangan
3.
Bahan dan jumlah halaman
4.
Perwajahan
5.
Penomoran, dan
6.
Penyajian
B. Saran
Penulis mengharapkan kritikan
dan saran agar penulisan selanjutnya bisa lebih baik lagi ke depannya. Semonga
makalah ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca.
No comments:
Post a Comment