BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari manusia dihadapkan pada kegiatan
menyimak. Namun, terkadang mereka tidak menyadarinya. Hal tersebut dapat kita
lihat dari berbagai percakapan, baik itu percakapan di lingkungan keluarga,
antaranak, antarorang tua, anak dengan orang tua. Kegiatan menyimak lainnya
meliputi seminar, pidato, dialog, diskusi, dalam membicarakan suatu
permasalahan. Implementasi dari kegiatan menyimak ini terdiri dari mendengarkan
lambang-lambang lisan, memahami maksud yang ingin disampaikan pembicara melalui
ujaran, dan menangkap isi atau pesan yang hendak disampaikan seseorang. Oleh
karena itu, seseorang dituntut harus terampil menyimak dalam percakapan
sehari-hari.
Keterampilan menyimak sangat penting dalam kehidupan
sehari-hari, makam setiap orang harus terampil dalam menyimak. Bercakap-cakap,
seminar, diskusi dalam mengikuti pelajaran sekolah atau pun kuliah sebagai
bentuk penyampaian suatu penjelasan pada dunia pendidikan dan pengajaran
menuntut seseorang harus mahir dalam menyimak. Seseorang tidak hanya dituntut
untuk terampil menyimak, namun juga harus dapat menguasainya dengan baik.
Demikian juga dalam menangkap pesan melalui telepon, radio, dan televisi
memerlukan kemahiran menyimak (Tarigan, 1986: 21).
Dalam
praktik pengajaran di sekolah, tentu tidak terlepas dari kegiatan menyimak,
karena kegiatan menyimak sudah menjadi suatu bagian dalam dunia pengajaran,
terlebih lagi bagi pengajaran bahasa. Namun kenyataannya, keterampilan menyimak
siswa masih rendah. Purwadi dan Swandono (2000: 4) menyebutkan dalam bukunya
Menyimak Bahasa Indonesia, bahwa keterampilan menyimak akan dikuasai dengan
sendirinya oleh anak didik jika pengajaran keterampilan berbahasa lainnya sudah
berjalan dengan baik. Oleh karena itu, dampaknya dalam pengkajian, penelaahan,
dan penelitian mengenai keterampilan menyimak pun menjadi jarang dilakukan.
Itulah salah satu faktor penyebab keterampilan menyimak siswa masih rendah.
Secara garis besar, materi pembelajaran dan bahan ajar mencakupi
pengetahuan, keterampilan, dan sikap atau nilai yang harus dipelajari siswa.
Materi pelajaran bahasa Indonesia terdiri atas komponen kemampuan berbahasa dan
bersastra yang meliputi aspek mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis
(Zulaeha dan Rahman 2009). Aspek menyimak merupakan keterampilan berbahasa yang
dikuasai anak di awal perkembangannya sehingga menyimak perlu mendapat
perhatian lebih, terutama dalam dunia pendidikan. Kegiatan menyimak harus
dikuasai oleh setiap orang karena keterampilan menyimak sangat penting dalam
kehidupan sehari-hari. Berkomunikasi lisan dengan teman, mengikuti kuliah,
diskusi, dan seminar menuntut kemahiran seseorang untuk menyimak. Demikian juga
menangkap pesan lewat telepon, radio, televisi memerlukan kemahiran menyimak
(Tarigan 1986: 2.1)
Faktor yang mempengaruhi motivasi belajar siswa yang rendah
adalah penyajian materi dan pembelajaran yang masih terpusat pada guru. Selain
itu, pembelajaran yang searah menjadikan siswa kurang mampu mengeksplorasi
dirinya. Faktor lain kurang berminatnya siswa mengikuti pembelajaran menyimak
di sekolah adalah guru belum dapat mengelola pembelajaran dengan baik. Dalam
pembelajaran menyimak, guru masih menggunakan materi yang disampaikan dengan
dibacakan kepada siswa. Materi yang ada juga kurang menyajikan muatan yang
menarik siswa untuk turut serta aktif dalam pembelajaran.
Permasalahan dalam pembelajaran menyimak informasi
disebabkan yang pertama oleh faktor siswa, yaitu (1) pada umumnya siswa kurang
antusias dalam pembelajaran menyimak karena materi yang disampaikan dianggap
sulit untuk dipahami; (2) tingkat pemahaman, konsentrasi, dan daya analisis
siswa yang masih relatif rendah; (3) siswa tidak terbiasa menyimak informasi,
dan (4) siswa menganggap pembelajaran menyimak tidak penting. Kedua adalah
faktor guru, yaitu (1) kurangnya kreativitas guru dalam menyajikan dan
mengembangkan materi pembelajaran menyimak, (2) guru masih bertindak sebagai
sumber utama pemberi informasi tanpa mengajak siswa untuk berusaha mencari
informasi sendiri, dan (3) soal-soal yang digunakan dalam evaluasi pembelajaran
menyimak cenderung teoretis, padahal untuk mengetahui kemampuan keterampilan
menyimak dibutuhkan alat evaluasi yang sesuai dengan kompetensi yang diajarkan.
Tavil
(2010) dalam penelitiannya yang berjudul Integrating Listening and Speaking
Skills to Facilitate English Language Learners’ Communicative Competence
menyimpulkan bahwa kelompok berlatih keterampilan dalam integrasi menjadi lebih
sukses daripada kelompok berlatih keterampilan secara terpisah. Aslanoglu
(2009) dalam penelitiannya yang berjudul Factors Affecting The Listening
Skill menghasilkan bahwa sejumlah buku anak di rumah, jumlah buku di rumah,
waktu yang dihabiskan membaca buku, waktu yang dihabiskan membaca koran, dan
waktu yang dihabiskan mendengarkan radio berpengaruh signifikan pada
keberhasilan siswa dalam upaya mereka mendengarkan.
Penelitian lain mengenai menyimak dilakukan oleh Yildirim
(2012) yang berjudul The Factors that Predict The Frequency of Activities
Developing Students’ Listening Comprehension Skills. Hasil penelitian
tersebut adalah menulis ringkasan tentang membaca teks di dalam kelas,
memberikan pekerjaan rumah terkait dengan membaca teks, memberikan waktu
membaca gratis untuk siswa, dan frekuensi siswa menggunakan radio, mp3, CD
player, dan komputer memiliki peran penting pada pengembangan siswa dalam
mendengarkan pemahaman.
Berangkat dari kondisi yang demikian, maka tujuan dari
pembelajaran bahasa Indonesia belum dapat terpenuhi terutama mengenai kemampuan
siswa menggunakan bahasa Indonesia untuk kemampuan intelektual dan kematangan
emosi sosial. Selain itu, kemampuan siswa dalam menghargai dan membanggakan
sastra Indonesia sebagai khasanah budaya Indonesia menjadi kurang maksimal
karena keterampilan menyimak siswa masih rendah.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas adalah apa yang
dimaksud menyimak dalam pembelajaran?
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas tujuan permasalahan di atas adalah
untuk mengetahui menyimak dalam pembelajaran.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Pembelajaran Menyimak
1. Hakikat
Pembelajaran Menyimak
Keterampilan menyimak sangat berperan dalam kehidupan
manusia di lingkungan masyarakat. Peran penting penguasaan keterampilan menyimak
sangat tampak di lingkungan sekolah. Siswa mempergunakan sebagaian besar
waktunya untuk menyimak pelajaran yang disampaikan oleh guru. Keberhasilan
dalam memahami serta menguasai pelajaran diawali oleh kemampuan menyimak yang
baik. Kemampuan seseorang dalam menyimak dapat dilihat dari latar belakangnya.
Latar belakang masing-masing orang mempunyai perbedaan, baik psikologis,
sosiologis, maupun pendidikannya.
Menurut Rahminah (2005), menyimak dapat diartikan sebagai
koordinasi berbagai komponen-komponen keterampilan baik keterampilan
mempersepsi, menganalisis, mampu menyintensis. Apabila seseorang dalam menyimak
mampu mengintegrasikan komponen-komponen tersebut maka dapat dikatakan berhasil
dalam kegiatan menyimak.
Subyantoro
dan Hartono (2003: 1-2) menyatakan bahwa mendengar adalah peristiwa
tertangkapnya rangsangan bunyi oleh panca indra pendengar yang terjadi pada
waktu kita dalam keadaan sadar akan adanya rangsangan tersebut, sedangkan
mendengarkan adalah kegiatan mendengar yang dilakukan dengan sengaja penuh
perhatian terhadap apa yang didengar, sementara itu menyimak intensitas
perhatiannya terhadap apa yang disimak.
Tarigan (1994: 28) menyatakan bahwa menyimak adalah suatu
proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian,
pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap
isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh sang
pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan. Anderson (dalam Tarigan, 1994: 28)
menyatakan bahwa menyimak adalah proses besar mendengarkan, mengenal, serta
menginterpretasikan lambang-lambang lisan. Namun, menyimak menurut Akhadiat
(dalam Sutari, dkk. 1998: 19) adalah suatu proses yang mencakup kegiatan
mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menginterpretasikan, dan mereaksi
atas makna yang terkandung di dalamnya.
Semi (dalam Duiqchoey 2009) Menyimak merupakan salah satu
aspek keterampilan berbahasa yang bersifat represif. Menyimak yaitu
mendengarkan baik-baik apa yang diucapkan atau dibaca orang. Menyimak adalah
suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa,
mengidentifikasi, menginterprestasi, menilai dan mereaksi atas makna yang
terkandung di dalamnya. Menyimak melibatkan pendengaran, penglihatan,
penghayatan, ingatan, pengertian. Bahkan situasi yang menyertai bunyi bahasa
yang dsimak pun harus diperhitungkan dalam menentukan maknanya (Zuhayya, 2010).
Menyimak adalah proses memahami ucapan dalam bahasa asal
atau bahasa kedua (Helgesen and Brown 2007: 32). Selanjutnya Howatt dan Dakin
seperti dikutip oleh Saricoban (2006) menyatakan bahwa menyimak adalah
kemampuan untuk mengenali dan memahami apa yang orang lain katakan. Nunan
(2005: 3) menyatakan bahwa menyimak adalah proses aktif dan berarti dalam
memaknai apa yang kita dengar. Menurut Rubin (1995: 7) menyimak diartikan
sebagai sebuah proses aktif para pendengar memilih dan menafsirkan informasi
yang berasal dari keterangan audio dan visual untuk memahami apa yang sedang
terjadi dan apa yang sedang diungkapkan oleh pembicara.
2. Tujuan
Menyimak
Secara umum, tujuan menyimak adalah memperoleh pengalaman
dan pengetahuan. Sedangkan secara khususnya, tujuan menyimak adalah (1) untuk
memperoleh informasi, (2) untuk menganalisis fakta, (3) untuk mendapatkan
inspirasi, (4) untuk mendapatkan hiburan, (5) untuk memperbaiki kemampuan
berbicara, dan (6) untuk membentuk kepribadian. Soenardji (dalam Dananjaja,
2002: 10). Tujuan menyimak menurut Logan (dalam Tarigan, 1994:56) adalah
sebagai berikut.
a.
Menyimak untuk belajar, yaitu memperoleh pengetahuan
dari bahan ujaran sang pembicara.
b.
Menyimak menikmati keindahan audial, yaitu menyimak
dengan penekanan pada penikmatan terhdap sesuatu dari materi yang diujarkan
atau diperdengarkan atau dipagelarkan.
c.
Menyimak untuk mengevaluasi, yaitu menyimak dengan
maksud agar dapat menilai apa-apa yang disimak (baik-buruk, indah-jelek, logis
tak logis dan lain-lain).
d.
Menyimak untuk mengapreasiasikan materi simakan. Orang
menyimak agar dapat menikmati serta menghargai apa-apa yang dinikmati itu
(misalnya pembacaan cerita, pembacaan puisi, musik dan lagu, dialog, diskusi
panel, perdebatan).
e.
Menyimak untuk mengkomunikasikan ide-ide sendiri. Orang
menyimak dengan maksud agar dapat mengkomunikasikan ide-ide, gagasan-gagasan,
maupun perasaan-perasaannya kepada orang lain dengan lancar dan tepat. Banyak
contoh dan ide yang dapat diperoleh dari sang pembicara dan semua merupakan
bahan yang penting dalam menujang.
f.
Menyimak menbedakan bunyi-bunyi dengan tepat. Orang
menyimak dengan maksud agar dapat membedakan bunyi-bunyi dengan tepat, dimana
bunyi yang membedakan arti, mana bunyi yang tidak membedakan arti, biasa hanya
terlihat seseorang yang sedang belajar bahasa asing yang asyik mendengarkan
ujaran pembicara asli (native speaker).
g.
Menyimak untuk memecahkan masalah secara kreatif dan
analisis. Dengan menyimak dari seorang pembicara, seseorang mungkin memperoleh
banyak masukan berharga untuk memecahkan masalahnya.
h.
Menyimak untuk meyakinkan dirinya terhadap suatu
masalah atau pendapat yang diragukan dengan perkataan lain, menyimak secara
persuasif.
Dengan menyimak seseorang dapat menyerap informasi atau
pengetahuan yang disimaknya. Menyimak juga mempelancar keterampilan berbicara
dan menulis. Semakin baik daya simak seseorang maka akan semakin baik pula daya
serap informasi atau pengetahuan yang disimaknya. Setiawan (dalam Rahmawati,
2007: 18-19) menjelaskan bahwa tujuan pokok menyimak adalah sebagai berikut.
a. Untuk
mendapatkan fakta. Banyak cara yang dilakukan oleh orang untuk mendapatkan
fakta yaitu pertama, dengan mengadakan eksperimen, penelitian, membaca buku,
membaca surat kabar, membaca majalah, dan sebagainya. Cara yang kedua, untuk
mendapatkan fakta sebagian orang melakukannya dengan mendengarkan radio,
melihat televisi, berdiskusi dengan sesama, dan lain sebagainya. Dari cara yang
kedua tersebut maka menyimak merupakan media untuk mendapatkan fakta atau
informasi.
b. Untuk
menganalisis fakta dan ide. Setelah mendapatkan fakta atau data, penyimak
kemudian melakukan analisis terhadap fakta atau ide tersebut dengan
mempertimbangkan hasil simakan dengan pengetahuan dan pengalamannya.
c. Untuk
mengevaluasi fakta atau ide. Dalam mengevaluasi fakta, penyimak perlu
mempertimbangkan sesuatu yang disimak dengan menggunakan pengetahuan dan
pengalamannya. Berdasarkan evaluasi di atas penyimak boleh berpendapat; (1)
Fakta yang disimak tersebut benar atau tidak, masuk akal atau tidak sehingga
penyimak akan menyetujui atau mungkin menolak apa yang disampaikan oleh
pembicara. (2) Fakta yang disampaikan berbeda dengan fakta yang pernah penyimak
terima atau berbeda dengan pengalaman penyimak. Dari uraian tersebut, setelah
dilakukan evaluasi dapat disimpulkan bahwa penyimak dapat; pertama mengemukakan
pendapat, kedua menolak pendapat, ketiga meragukan fakta yang diterima, keempat
mempertimbangkan fakta yang diterima, kelima menyimpulkan ide pokok, dan keenam
menilai kebenaran fakta yang diterima.
d. Untuk
mendapatkan inspirasi. Kita sering dihadapkan pada beberapa masalah.
Masalah-masalah tersebut belum tentu segera dapat kita selesaikan atau kita
pecahkan. Untuk keperluan inilah kadang-kadang kita segera melibatkan kegiatan
menyimak, baik menyimak pembicaraan seseorang, menyimak pidato seseorang dalam
pertemuan, maupun menyimak cerita seseorang tamu tentang pengalaman hidupnya.
Dengan demikian, penyimak bertujuan mendapat sesuatu inspirasi untuk memecahkan
atau menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi.
e. Untuk
memperoleh hiburan. Dalam kenyataan, kita senantiasa dihadapkan pada beberapa
kesibukan dan beberapa masalah. Setelah pemikiran kita jenuh karena terlalu
lelah, kita membutuhkan hiburan. Untuk memperoleh hiburan antara lain dapat
kita lakukan dengan menyimak (1) nyanyian-nyanyian langgam Jawa lewat radio,
(2) tayangan-tayangan televisi, dan (3) pertunjukan-pertunjukan secara
langsung.
f.
Untuk memperbaiki kemampuan berbicara. Perlu dipahami bahwa berbicara itu
tidak mudah. Oleh karena itu, untuk memperlancar atau tingkatan kemampuan
berbicara, antara lain dapat ditempuh lewat menyimak pembicaraan orang lain.
Menyimak adalah
suatu proses kegiatan menyimak lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian,
pemahaman, apresiasi, serta interprestasi untuk memperoleh informasi, menangkap
isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh
pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan. Menguatkan pendapat-pendapat
Setiawan di atas, menurut Sutari (1998:21) tujuan menyimak dapat disusun
sebagai berikut.
a.
Mendapatkan Fakta
Kegiatan
menyimak dengan tujuan memperoleh fakta di antaranya melalui kegiatan membaca,
baik melalui majalah, koran, maupun buku-buku. Selain itu, mendapatkan fakta
secara lisan dapat diperoleh melalui mendengarkan siaran radio, televisi, hadir
dalam pertemuan, menyimak ceramah-ceramah, mengikuti rapat-rapat, dan
sebagainya
b.
Menganalisis Fakta
Tujuan
lain lain menyimak adalah menganalisis fakta, yaitu proses menaksir fakta-fakta
atau informasi sampai pada tingkat unsur-unsurnya, menaksir sebab akibat yang
terkandung dalam fakta-fakta itu. Tujuan ini lahir biasanya, karena fakta yang
diterima oleh pendengar ingin dipahami maknanya. Maka tujuan menyimak pun
menjadi lebih jauh dari hanya menerima fakta-fakta tetapi bertujuan memahami
secara mendalam makna yang terkandung dalam fakta-fakta itu melalui analisis.
c.
Mengevaluasi Fakta
Dalam
mengevaluasi fakta, penyimak harus mempertimbangkan apakah fakta yang diterima
sudah cukup dinilai akurat dan relavan dengan pengetahuan dan pengalamannya,
berarti fakta itu dapat diterima. Namun, apabila kata yang diterima tidak
bermutu, tidak akurat, apalagi kurang relavan dengan pengetahuan dan pengalaman
penyimak, maka penyimak akan menolak fakta tersebut. Akhirnya penyimak
memutuskan untuk menerima atau menolak materi simakan tersebut. Akhirnya
penyimak akan memutuskan untuk menerima atau menolak materi simakannya itu.
Selanjutnya penyimak diharapkan dapat memperoleh inspirasi yang dibutuhkannya.
d.
Mendapatkan Inspirasi
Penyimak
bertujuan mendpatkan inspirasi biasanya menulis fakta baru. Mereka perlu
dorongan, gairah, semangat, untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapinya.
Mereka mengharapkan dengan menyimak berbagai hal yang berhubungan dengan
profesinya itu mereka mampu mendapatkan inspirasi disamping memelihara
pengetahuannya.
e.
Mendapatkan Hiburan
Hiburan
merupakan kebutuhan manusia yang cukup mendasar. Dalam berbagai kehidupan yang
serba kompleks ini, kita perlu melepaskan diri dari berbagai tekanan,
ketegangan dan kejenuhan. Untuk mendapatkan hiburan tersebut kita biasanya
menyimak radio, televisi, film untuk kesenangan batin.
f.
Memperbaiki Kemampuan Berbicara
Dengan
menyimak pembicara terpilih dapat memperbaiki kemampuan bicara pembicara.
Karena berbicara adalah suatu hal yang tidak mudah. Misalnya seseorang yang
belajar bahasa asing, mereka akan menyimak sambil memperbaiki kemampuan
berbicaranya.
Berdasarkan
pendapat para ahli, dapat disimpulkan bahwa tujuan menyimak yaitu menyimak
untuk belajar, menyimak untuk memperoleh keindahan audial, menyimak untuk
mengevaluasi, menyimak untuk mengapresiasikan simakan, menyimak untuk mengkomunikasikan
ide-idenya sendiri, menyimak untuk meyakinkan, mendapatkan fakta, menganalisis
fakta, mengevaluasi fakta, mendapatkan inspirasi, dan mendapatkan hiburan.
3. Manfaat Menyimak
Manusia
adalah makhluk individu dan makhluk sosial dalam hubungannya dengan manusia
sebagai makhluk sosial terkandung suatu maksud bahwa manusia bagaimanapun juga
tidak dapat terlepas dari individu yang lain. Secara kodrat manusia akan selalu
hidup bersama. Dalam kehidupan semacam inilah terjadi interaksi dan komunikasi baik
dengan alam lingkungan dengan sesamanya maupun dengan Tuhannya.
Dalam
komunikasi lisan secara timbal balik antara pembicara dengan pendengar terdapat
proses menyimak pembicaraan satu sama lain Setiawan (dalam Rahmawati 2007:
20-21) menyatakan bahwa manfaat menyimak sebagai berikut
a. Menambah
ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup yang berharga bagi kemanusiaan sebab
menyimak memiliki nilai informatif yaitu memberikan masukan-masukan tertentu
yang menjadikan kita lebih berpengalaman.
b.
Meningkatkan intelektualitas serta memperdalam penghayatan keilmuan dan
khasanah ilmu.
c.
Memperkaya kosakata, menambah perbendaharaan ungkapan yang tepat, bermutu dan
puitis.
d.
Memperluas wawasan, meningkatkan penghayatan hidup serta membina sifat terbuka
dan objektif.
e.
Meningkatkan kepekaan dan kepedulian sosial.
f.
Meningkatkan citra artistik jika yang disimak merupakan bahan simakan
yang isi dan bahasanya halus.
g. Menggugah
kreativitas dan semangat cipta untuk menghasilkan ujaran-ujaran dan
tulisan-tulisan yang berjati diri. Jika banyak menyimak, kita akan mendapatkan
ide-ide yang cemerlang dan segar, pengalaman hidup yang berharga. Semua itu
akan mendorong kita untuk giat berkarya dan kreatif.
Dalam tulisan ini manfaat utama yang ingin diperoleh adalah memperluas
wawasan, meningkatkan penghayatan hidup, serta membina sifat terbuka dan
objektif. Hal ini dikarenakan menyimak yang dilaksanakan dalam
tulisan ini adalah menyimak informasi yang di dalamnya terdapat ide-ide
yang cemerlang serta pengalaman hidup yang berharga, sehingga akan mendorong
kita untuk lebih kreatif dan inovatif dalam berkarya.
3. Ragam
Menyimak
Menyimak ada berbagai macam jenis. Namun beberapa jenis
tersebut dibedakan berdasarkan kriteria tertentu, yakni berdasarkan suber
suara, berdasarkan bahan simak, dan berdasarkan pada titik pandang aktivitas
menyimak. Ragam menyimak menurut Tarigan (1994: 35-49) sebagai berikut.
a.
Menyimak ekstensif (extensive listening)
Menyimak
ekstensif adalah sejenis kegiatan menyimak mengenai hal-hal yang lebih umum dan
lebih bebas terhadap suatu ujaran, tidak perlu di bawah bimbingan langsung dari
seorang guru. Jenis-jenis menyimak ekstensif, antara lain sebagai berikut.
1) Menyimak
Sosial (social listening), atau menyimak percakapan (conversational
listening) atau menyimak sopan (courteous listening) biasanya
berlangsung dalam situasi–situasi sosial tempat orang-orang bercengkerama
mengenai hal-hal yang menarik perhatian semua orang yang hadir dan saling
mendengarkan satu sama lain untuk membuat responsi-responsi yang wajar,
mengikuti hal-hal yang menarik, dan memperlihatkan perhatian yang wajar
terhadap apa-apa yang dikemukakan, dikatakan oleh seorang rekan (Dawson dalam
Tarigan 1994: 153). Menyimak sosial dilakukan oleh masyarakat dalam kehidupan
sosial, seperti di pasar, terminal, stasiun, kantor pos, dan sebagainya.
Kegiatan menyimak ini lebih menekankan pada faktor status sosial, unsur sopan
santun. dan tingkatan dalam masyarakat. Misalnya: Seorang anak jawa menyimak
nasihat neneknya dengan sikap dan bahasa yang santun. Dalam hal ini, nenek
memiliki peran yang lebih utama, sedang anak merupakan peran sasaran.
2) Menyimak
Sekunder (secondary listening) adalah sejenis kegiatan menyimak secara
kebetulan (casual listening) dan secara ekstensif (extensive listening).
Menyimak sekunder terjadi secara kebetulan. Misalnya, jika seorang pembelajar
sedang membaca di kamar, ia juga dapat mendengarkan percakapan orng lain, suara
siaran radio, suara televisi, dan sebagainya. Suara tersebut sempat terdengar
oleh pembelajar tersebut, namun ia tidak terganggu oleh suara tersebut.
3) Menyimak
Estetik (aesthetic listening) ataupun yang disebut menyimak apresiatif (appreciation
listening) adalah fase terakhir dari kegiatan menyimak kebetulan dan
termasuk dalam menyimak ekstensif. Menyimak estetika sering disebut menyimak
apresiatif. Menyimak estetika ialah kegiatan menyimak untuk menikmati dan
menghayati sesuatu. Misalnya, menyimak pembacaan puisi, rekaman drama, cerita,
syair lagu, dan sebagainya. Kegiatan menyimak itu lebih menekankan aspek
emosional penyimak seperti dalam menghayati dan memahami sebuah pembacaan
puisi. Dalam hal ini, emosi penyimak akan tergugah, sehingga timbul rasa senang
terhadap puisi tersebut. Demikian pula pembacaan cerita pendek. Hal ini pernah
dilakukan oleh seorang pengarang terkenal Gunawan Mohammad yang sering
membacakan cerpen-cerpennya melalui radio. Banyak remaja mendengarkan pembacaan
tersebut. Para remaja tampaknya dapat menikmati dan menghayati cerpen yang
dibacakan tersebut.
4) Menyimak
Pasif, adalah penyerapan suatu ujaran tanpa upaya sadar yang biasanya menandai
upaya-upaya kita pada saat belajar dengan kurang teliti, tergesa-gesa,
menghafal luar kepala, berlatih santai, serta menguasai suatu bahasa. Menyimak
pasif ialah menyimak suatu bahasan yang dilakukan tanpa upaya sadar. Misalnya,
dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mendengarkan bahasa daerah, setelah itu
dalam masa dua atau tiga tahun ia sudah mahir memahami pesan dalam bahasa
daerah tersebut. Kemudian, dia mahir pula menggunakan bahasa daerah tersebut.
Kemahiran menggunakan bahasa daerah tersebut dilakukan sebagai hasil menyimak
pasif. Namun, pada akhirnya, orang itu dapat menggunakan bahasa daerah dengan
baik. Kegiatan menyimak pasif banyak dilakukan oleh masyarakat awam dalam
kehidupan sehari-hari. Dalam pendidikan di sekolah tidak dikenal istilah
menyimak pasif. Pada umumnya, menyimak pasif terjadi karena kebetulan dan
ketidaksengajaan.
b. Menyimak intensif (intensive
listening)
Menyimak
intensif merupakan kegiatan menyimak yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan
dengan tingkat konsentrasi yang tinggi untuk menangkap makna yang dikehendaki.
Menyimak intensif merupakan kebalikan dari menyimak ekstensif. Jika menyimak
ekstensif diarahkan pada kegiatan menyimak secara lebih bebas dan lebih umum
serta tidak perlu di bawah bimbingan langsung para guru, maka menyimak intensif
diarahkan pada suatu kegiatan jauh lebih diawasi, dikontrol terhadap suatu hal
tertentu. Jenis-jenis menyimak intensif antara lain sebagai berikut.
1) Menyimak
Kritis (critical listening) adalah sejenis kegiatan menyimak yang berupa
kegiatan untuk mencari kesalahan atau kekeliruan bahkan juga butir-butir yang
baik dan benar dari ujaran seorang pembicara dengan alasan-alasan yang kuat dan
dapat diterima oleh akal sehat. Menyimak kritis ialah kegiatan menyimak yang
dilakukan dengan sungguhsungguh untuk memberikan penilain secara objektif,
menentukan keaslian, kebenaran. dan kelebihan, serta kekurangan-kekurangannya.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyimak kritis adalah (a) mengamati
tepat tidak ujaran pembicara, (b) mencari jawaban atas pertanyaan mengapa
menyimak, dapatkah penyimak membedakan antara fakta dan opini dalam
menyimak. dapatkah penyimak mengambil simpulan dari hasil menyimak? dapatkah
penyimak menafsirkan makna idium, ungkapan, dan majas dalam kegiatan menyimak”
(Kamidjan, 2001:22).
2) Menyimak
Konsentrasif (concebtrative listening). Kegiatan menyimak ini sejenis
menyimak telaah. Menyimak konsentratif ialah kegiatan menyimak yang dilakukan
dengan penuh perhatian untuk memperoleh pemahaman yang baik terhadap informasi
yang disimak. Kegiatan menyimak konsentratif bertujuan untuk (a) mengikuti
petunjuk-petunjuk, (b) mencari hubungan antarunsur dalam menyimak. (c) mencari
hubungan kuantitas dan kualitas dalam suatu komponen. (d) mencari butir-butir
informasi penting dalam kegiatan menyimak, (e) mencari urutan penyajian dalam
bahan menyimak, dan (f) mencari gagasan utama dari bahan yang telah disimak
(Kamidjan, 2001:23).
3) Menyimak
Kreatif (creative listening) adalah sejenis kegiatan menyimak yang dapat
mengakibatkan kesenangan rekonstruksi imajinatif para penyimak terhadap bunyi,
penglihatan, gerakan, serta perasaan-perasaan kinestetik yang disarankan atau
dirangsang oleh apa-apa yang disimaknya. Menyimak kreatif ialah kegiatan
menyimak yang bertujuan untuk mengembangkan daya imajinasi dan kreativitas
pembelajar. Kreativitas penyimak dapat dilakukan dengan cara (a) menirukan
lafal atau bunyi bahasa asing atau bahasa daerah, misalnya bahasa Inggris,
bahasa Belanda. bahasa Jerman. dan sebagainya, (b) mengemukakan gagasan yang
sama dengan pembicara. namun menggunakan struktur dan pilihan kata yang
berbeda, (c) merekonstruksi pesan yang telah disampaikan penyimak, (d) menyusun
petunjuk-petunjuk atau nasihat berdasar materi yang telah disimak.
4) Menyimak
Eksploratif (exploratory listening) adalah sejenis kegiatan menyimak
intensif dengan maksud menyelidiki sesuatu yang lebih terarah dan lebih sempit.
Menyimak eksploratif ialah kegiatan menyimak yang dilakukan dengan penuh
perhatian untuk mendapatkan informasi baru. Pada akhir kegiatan, seorang
penyimak eksploratif akan (a) menemukan gagasan baru. (b) menemukan informasi
baru dan informasi tambahan dari bidang tertentu, (c) menemukan topik-topik baru
yang dapat dikembang pada masa yang akan datang. (d) menemukan unsur-unsur
bahasa yang bersifat baru.
5) Menyimak
Interogatif (interrogative listening) adalah sejenis kegiatan menyimak
intensif yang menuntut lebih banyak konsentrasi dan seleksi, pemusatan
perhatian dan pemilihan butir-butir dari ujaran sang pembicara. Dalam kegiatan
menyimak ini penyimak akan mengajukan pertanyaan sebanyak-banyaknya kepada sang
pembicara. Menyimak interogratif ialah kegiatan menyimak yang bertujuan
memperoleh informasi dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang
diarahkan kepada pemerolehan informasi tersebut. Kegiatan menyimak interogratif
bertujuan untuk (a) mendapatkan fakta-fakta dari pembicara, (b) mendapatkan
gagasan baru yang dapat dikembangkan menjadi sebuah wacana yang menarik, (c)
mendapatkan informasi apakah bahan yang telah disimak itu asli atau tidak.
6) Menyimak
Selektif (selective listening) bertujuan untuk melengkapi menyimak
pasif. Menyimak selektif ialah kegiatan menyimak yang dilakukan secara selektif
dan terfokus untuk mengenal, bunyi-bunyi asing, nada dan suara, bunyi-bunyi
homogen, kata-kata, frase-frase, kalimat-kalimat, dan bentuk-bentuk, bahasa
yang sedang dipelajarinya. Menyimak selektif memiliki ciri tertentu sebagai
pembeda dengan kegiatan menyimak yang lain. Adapun ciri menyimak selektif
ialah: (a) menyimak dengan saksama untuk menentukan pilihan pada bagian
tertentu yang diinginkan, (b) menyimak dengan memperhatikan topik-topik
tertentu, (c) menyimak dengan memusatkan pada tema-tema tertentu.
Dalam
tulisan ini ragam menyimak yang diterapkan adalah menyimak kritis, (critical
listening) yang bertujuan untuk mencari kesalahan atau kekeliruan
bahkan juga butir-butir yang baik dan benar dari ujaran seorang pembicara
sehingga dapat dijadikan teladan.
5. Faktor yang Mempengaruhi
Menyimak
Beberapa
pakar atau ahli mengemukakan beberapa jenis faktor yang mempengaruhi menyimak.
Menurut Hunt (dalam Tarigan, 1994: 97) ada lima faktor yang mempengaruhi
menyimak, yaitu sikap, motivasi, pribadi, situasi, kehidupan, dan peranan dalam
masyarakat, sedangkan Webb (dalam Tarigan, 1994: 98) mengemukakan empat faktor,
yaitu lingkungan, fisik, psikologis, dan pengalaman.
Dari
persamaan dan perbedaan faktor-faktor yang mempengaruhi menyimak oleh tiga ahli
di atas, Tarigan (1994: 99-107) menyimpulkan ada delapan faktor yang
mempengaruhi menyimak sebagai berikut.
a. Kondisi
fisik seorang penyimak merupakan faktor yang penting dalam menentukan
keefektifan serta kualitas menyimak. Kesehatan dan kesejahteraan fisik merupakan
suatu modal penting yang turut menentukan bagi setiap penyimak.
b. Faktor
psikologis juga mempengaruhi proses menyimak. Faktor psikologis dibedakan
menjadi dua, yaitu faktor psikologis yang positif memberi pengaruh yang baik,
dan faktor psikologis yang negatif memberi pengaruh yang buruk terhadap
kegiatan menyimak.
c. Faktor
pengalaman, kurangnya minat merupakan akibat dari pengalaman yang kurang atau
tidak ada sama sekali pengalaman dalam bidang yang disimak. Sikap antagonis
adalah sikap yang menentang pada permusuhan yang timbul dari pengalaman yang
tidak menyenangkan.
d. Faktor
sikap, sikap seseorang akan berpengaruh dalam kegiatan menyimak karena pada
dasarnya manusia memiliki dua sikap yaitu menerima dan menolak. Kedua sikap
tersebut memberi dampak dalam menyimak, yaitu dampak positif dan dampak
negatif.
e. Faktor
motivasi, merupakan salah satu penentu keberhasilan seseorang. Jika motivasi
kuat, maka dapat dipastikan orang itu akan berhasil mencapai tujuannya.
Motivasi berkaitan dengan pribadi atau personalitas seseorang. Kalau kita yakin
dan percaya bahwa pribadi kita mempunyai sifat kooperatif, tenggang hati, dan
analitis, kita akan menjadi penyimak yang lebih baik dan unggul daripada
berpikir bahwa diri kita malas, bersifat argumentatif, dan egosentris.
f. Faktor
jenis kelamin, Julian Silverman menemukan fakta-fakta bahwa gaya menyimak pria
pada umumnya bersifat objektif, aktif, keras hati, analitik, rasional, keras
kepala atau tidak mau mundur, menetralkan, intrunsif (bersifat mengganggu), berdikari
atau mandiri, sanggup mencukupi kebutuhan sendiri (swasembada), dapat menguasai
dan mengendalikan emosi; sedangkan gaya menyimak wanita cenderung lebih
subjektif, pasif, ramah atau simpatik, difusif (menyebar), sensitif, mudah
dipengaruhi, mudah mengalah, reseptif, bergantung (tidak mandiri), dan
emosional.
g. Faktor
lingkungan, berupa lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan fisik
menyangkut pengaturan dan penataan ruang kelas serta sarana dalam pembelajaran
menyimak. Lingkungan sosial mencakup suasana yang mendorong anak-anak untuk
mengalami, mengekspresikan, serta mengevaluasi ide-ide.
h. Faktor
peranan dalam masyarakat, kemampuan menyimak kita dapat juga dipengaruhi oleh
peranan kita dalam masyarakat. Sebagai guru dan pendidik, maka kita ingin
sekali menyimak ceramah, kuliah, atau siaran-siaran radio dan televisi yang
berhubungan dengan masalah pendidikan dan pengajaran di tanah air kita atau
luar negeri. Perkembangan pesat yang terdapat dalam bidang keahlian kita
menuntut kita untuk mengembangkan suatu teknik menyimak yang baik.
Jadi,
dari beberapa pendapat para ahli yang mengemukakan beberapa faktor
yang mempengaruhi menyimak dapat disimpulkan bahwa kegiatan menyimak
dipengaruhi oleh faktor fisik, faktor psikologis, faktor pengalaman, faktor
sikap, faktor motivasi, faktor jenis kelamin, faktor lingkungan, dan faktor
peranan dalam masyarakat.
6. Unsur-unsur Menyimak
Kegiatan
menyimak merupakan kegiatan yang cukup kompleks karena sangat bergantung kepada
berbagai unsur yang mendukung. Yang dimaksudkan dengan unsur dasar ialah unsur
pokok yang menyebabkan timbulnya komunikasi dalam menyimak. Setiap unsur
merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dengan unsur yang lain.
Unsur-unsur dasar menyimak ialah (1) pembicara, (2) penyimak, (3) bahan
simakan, dan (4) bahasa lisan yang digunakan. Berikut ini adalah penjelasan
masingmasing unsur itu.
a.
Pembicara
Yang
dimaksudkan dengan pembicara ialah orang yang menyampaikan pesan yang. berupa
informasi yang dibutuhkan oleh penyimak. Dalam komunikasi lisan, pembicara
ialah narasumber pembawa pesan, sedang lawan bicara ialah orang yang menerima
pesan (penyimak). Dalam aktivitasnya, seorang penyimak sering melakukan.
kegiatan menulis dengan mencatat hal-hal penting selama melakukan kegiatan
menyimak. Catatan tersebut merupakan pokok-pokok pesan yang disampaikan
pembicara kepada penyimak. Fungsi catatan tersebut ialah sebagai berikut.
1) Meninjau
kembali bahan simakan (review). Kegiatan meninjau kembali bahan simakan
merupakan salah satu ciri penyimak kritis. Pada kegiatan ini, penyimak
mencermati kembali bahan simakan yang telah diterima melalui catatan seperti:
topik, tema, dan gagasan lain yang menunjang pesan yang disampaikan pembicara.
Di samping itu penyimak dapat memprediksi berdasarkan pesan-pesan yang telah
disampaikan pembicara.
2)
Menganalisis bahan simakan. Pada dasarnya menyimak ialah menerima pesan namun
dalam kenyataannya seorang penyimak tidak hanya menerima pesan begitu saja, ia
juga berusaha untuk menganalisis pesan yang telah diterimanya itu. Kegiatan
analisis ini dilakukan untuk membedakan ide pokok, ide bawahan, dan ide
penunjang.
3)
Mengevaluasi bahan simakan. Pada tahap akhir kegiatan menyimak ialah
mengevaluasi hasil simakan. Langkah ini dapat dilakukan dengan cara: (a)
Kekuatan Bukti. Untuk membenarkan pernyataan pembicara, penyimak harus
mengevaluasi buktibukti yang dikatakan pembicara. Jika bukti-bukti itu cukup
kuat, apa yang dikatakan pembicara itu benar. (b) Validitas Alasan. Jika
pernyataan pembicara diikuti. dengan alasan-alasan yang kuat, terpercaya, dan
logis, dapat dikatakan bahwa alasan itu validitasnya tinggi. (c) Kebenaran
Tujuan. Penyimak harus mampu menemukan tujuan pembicara. Di samping itu, ia
juga harus mampu membedakan penjelasan dengan keterangan inti, sikap subjektif
dengan sikap objektif. Setelah itu ia akan mampu mencari tujuan pembicaraan
(berupa pesan).
b. Penyimak
Penyimak
yang baik ialah penyimak yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang banyak
dan luas. Jika penyimak memiliki pengetahuan dan pengalaman yang banyak dan
luas, ia dapat melakukan kegiatan menyimak dengan baik. Selain itu, penyimak
yang baik ialah penyimak yang dapat melakukan kegiatan menyimak dengan
intensif. Penyimak seperti itu akan selalu mendapatkan pesan pembicara secara
tepat. Hal itu akan lebih sempurna jika ia ditunjang oleh, pengetahuan dan
pengalamannya.
Kamidjan
(2001: 6) rnenyatakan bahwa penyimak yang baik ialah penyimak yang memiliki dua
sikap, yaitu sikap objektif dan sikap kooperatif.
1) Sikap objektif.
Yang dimaksudkan dengan sikap objektif ialah pandangan penyimak terhadap bahan
simakan. Jika bahan simakan itu baik, ia akan menyatakan baik, demikian pula
sebaliknya. Penyimak sebaiknya tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal di luar
kegiatan manyimak, seperti pribadi pembicara, ruang, suasana, sarana dan
prasarana.
2) Sikap
kooperatif. Sikap kooperatif ialah sikap penyimak yang siap bekerjasama dengan
pembicara untuk keberhasilan komunikasi tersebut. Sikap yang bermusuhan atau
bertentangan dengan pembicara akan menimbulkan kegagalan dalam menyimak. Jika
hal itu yang terjadi, maka penyimak tidak akan mendapatkan pesan dari
pembicara. Sikap yang baik ialah sikap berkoperatif dengan pembicara.
c. Bahan simakan
Bahan
simakan merupakan unsu terpenting dalam komunikasi lisan, terutama dalam
menyimak. Yang dimaksudkan dengan bahan simakan ialah pesan yang disampaikan
pembicara kepada penyimak. Bahan simakan itu dapat berupa konsep, gagasan, atau
informasi. Jika pembicara tidak dapat menyampaikan bahan simakan dengan baik,
pesan itu tidak dapat diserap oleh penyimak yang mengakibatkan terjadinya
kegagalan dalam komunikasi. Untuk menghindari kegagalan, perlu dikaji ulang
bahan simakan dengan cara berikut.
1) Menyimak
tujuan pembicara. Langkah pertama si penyimak dalam melakukan kegiatan menyimak
ialah mencari tujuan pembicara. Jika hal itu telah dicapai, ia akan lebih
gampang untuk mendapatkan pesan pembicara. Jika hal itu tidak ditemukan, ia
.akan mengalami kesulitan. Tujuan yang akan dicapai penyimak ialah untuk
mendapatkan fakta, mendapatkan inspirasi, menganalisis gagasan pembicara,
mengevaluasi, dan mencari hiburan.
2) Menyimak
urutan. Pembicaraan Seorang penyimak harus berusaha mencari urutan pembicaraan.
Hal itu dilakukan untuk memudahkan penyimak mencari pesan pembicara. Walaupun
pembicara berkata agak cepat, penyimak dapat mengikuti dengan hati-hati agar
mendapatkan gambaran tentang urutan penyajian bahan. Urutan penyajian terdiri
atasa tiga komponen, yaitu pembukaan, isi, dan penutup. Pada bagian pembukaan
lingkup permasalahan yang akan dibahas. Bagian isi terdiri atas uraian panjang
lebar permasalahan yang dikemukakan pada bagian pendahuluan. Pada bagian
penutup berisi simpulan hasil pembahasan.
3) Menyimak
topik utama Pembicaraan. Topik utama ialah topik yang selalu dibicarakan,
dibahas, dianalisis saat pembicaraan berlangsung. Dengan mengetahui topik
utama, penyimak memprediksi apa saja yang akan dibicarakan dalam komunikasi
tersebut. penyimak satu profesi dengan pembicara, tidak akan kesulitan untuk menerima
topik utama. Sebuah topik utama memiliki ciri-ciri: menarik perhatian)
bermanfaat bagi penyimak, dan akrab dengan penyimak.
4) Menyimak
topik bawahan. Setelah penyimak menemukan topik utama, langkah selanjutnya
ialah mencari topik-topik bawahan. Umumnya pembicara akan membagi topik utama
itu menjadi beberapa topik bawahan. Hal itu dilakukan agar pesan yang
disampaikan dapat dengan mudah dicerna oleh penyimak. Penyimak dapat
mengasosiasikan topik utama itu dengan sebuah pohon besar, topik bawahan ialah
dahan dan ranting pohon tersebut. Dengan demikian penyimak yang telah
mengetahui topik utama, dengan mudah akan mengetahui topik-topik bawahannya.
5) Menyimak
akhir pembicaraan. Akhir pembicaraan biasanya terdiri atas: simpulan, himbauan,
dan saran-saran. Jika pembicara menyampaikan rangkuman, maka tugas penyimak
ialah mencermati rangkuman yang telah disampaikan pembicara tersebut. Jika pem
bicara menyampaikan simpulan, maka penyimak mcncocokkan catatannya dengan
simpulan yang disampaikan pembicara. Dalam hal itu perlu dicermati juga tentang
simpulan. yang tidak sama, yaitu simpulan yang dibuat pembicara dan penyimak.
Jika pembicara hanya menyampaikan himbauan, penyimak harus memperhatikan
himbuan itu secara cermat dan teliti.
Kegiatan
menyimak merupakan kegiatan yang cukup kompleks karena sangat bergantung kepada
berhagai unsur dasar yang mendukung. Yang dimaksudkan dengan unsur dasar ialah
unsur pokok yang menyebabkan tirnbulnya komunikasi dalam menyimak. Setiap unsur
merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dengan unsur yang lain.
Unsur-unsur dasar menyimak ialah pembicara, penyimak, bahan simakan, dan bahasa
lisan yang digunakan.
4. Kendala
Menyimak
Dalam proses menyimak ada beberapa kendala yang sering
ditemui para penyimak. Russel dan Black (dalam Marlina 2007:27-30) menyatakan
ada tujuh kendala dalam menyimak sebagai berikut.
a. Keegosentrisan,
yaitu sifat mementingkan diri sendiri (egois) mungkin saja merupakan cara hidup
sebagian orang. Dia lebih senang didengar orang daripada mendengarkan pendapat
orang lain. Sifat seperti ini merupakan kendala dalam menyimak.
b. Keengganan
untuk terlibat. Keengganan menanggung resiko, jelas menghalangi kegiatan
menyimak karena menyimak adalah salah satu kegiatan yang harus melibatkan diri
dengan sang pembicara.
c. Ketakutan
dan perubahan. Apabila ingin menjadi penyimak yang baik, harus rela mengubah
pendapat bahkan bila perlu harus berani mengubah dan menukar pendapat sendiri
kalau memang ada pendapat atau gagasan yang lebih diandalkan dari orang lain.
d. Keinginan
untuk menghindari pertanyaan, dengan alasan jawaban yang diberikan akan
memalukan, hal ini merupakan kendala dalam diskusi, kegiatan berbicara, dan
menyimak.
e. Puas
terhadap penampilan eksternal. Apabila merasa puas dengan tanda simpatik itu
maka kita akan gagal menyimak lebih intensif lagi untuk melihat kalau
pengertian itu benar-benar wajar. Orang yang merasa cepat puas karena telah
mengetahui maksud pembicara berarti tergolong penyimak yang tidak baik.
f. Pertimbangan
yang prematur, apabila ada sesuatu yang prematur, maka itu merupakan sesuatu
yang tidak wajar. Hal itu merupakan contoh penyimak yang jelek, dan sifat
seperti itu justru menghalanginya menjadi penyimak yang efektif.
g. Kebingungan
semantik. Makna suatu kata tergantung kepada individu yang memakainya dalam
situasi tertentu dan waktu tertentu. Seseorang yang ingin menjadi penyimak yang
efektif harus mempunyai kosakata yang memadai.
Jadi,
dalam kegiatan menyimak terdapat kendala yang ditemui oleh penyimak. Kendala
tersebut, yaitu keegosentrisan, keenganan ikut terlibat, ketakutan akan
perubahan, keinginan menghindari pertanyaan, puas terhadap penampilan
eksternal, pertimbangan yang prematur, dan kebingungan semantik.
5. Tahap-tahap
Menyimak
Menyimak adalah suatu preoses kegiatan mendengarkan dengan
penuh perhatian dan pemahaman untuk memperoleh suatu informasi dan menangkap
isi atau pesan dari objek tertentu, maka dapat diperoleh simpulan bahwa
menyimak adalah suatu proses. Tarigan (1991: 15) mengemukakan proses menyimak
berdasarkan beberapa para ahli diantaranya, yaitu menurut Logan proses menyimak
terbagi atas tiga tahap, yaitu pemahaman, penginterpretasian, dan penilaian,
sedangkan menurut Logan dan Greene, membagi proses menyimak atas empat tahap
yaitu mendengarkan, memahami, mengevaluasi, dan menanggapi.
Menurut
Welker membagi proses menyimak itu atas lima tahap, yaitu mendengar,
memperhatikan, mempersepsi, menilai, dan menanggapi. Dari beberapa pendapat
ahli yang saling melengkapi tersebut, maka proses menyimak dapat mencakup enam
tahap sebagai berikut.
a.
Tahap Mendengar
Dalam
tahap mendengar, penyimak berusaha menangkap pesan pembicara yang sudah
diterjemahkan dalam bentuk bahasa. Untuk menangkap bunyi bahasa itu diperlukan
telinga yang peka dan perhatian yang terpusat. Dalam tahap ini baru mendengar
segala sesuatu yang dikemukakan sang pembicara dalam ujaran atau
pembicaraannya, jadi kita masih berada dalam tahap hearing.
b.
Tahap Memahami
Bunyi
yang sudah ditangkap perlu diidentifikasi, dikenali, dan dikelompokkan menjadi
suku kata, kata, kelompok kata, kalimat, paragraf, dan wacana. Setelah
mendengar, tentunya ada keinginan bagi kita untuk mengerti atau memahami dengan
baik isi pembicaraan yang disampaikan oleh pembicara, sampailah kita pada tahap
understanding.
c.
Tahap Menginterpretasi
Penyimak
yang baik, cermat dan teliti, belum puas kalau hanya mendengar dan memahami isi
ujaran pembicara, dia pasti ingin menafsirkan atau meginterpretasi isi,
butir-butir pendapat yang terdapat dan tersirat dalam ujaran pembicara. Dengan
demikian penyimak telah tiba pada tahap interpreting.
d.
Tahap Mengevaluasi
Setelah
memahami serta dapat menafsir atau menginterpretasikan isi pembicaraan,
penyimak mulai menilai atau mengevaluasi pendapat serta gagasan pembicara,
keunggulan dan kelemahan, serta kebaikan dan kekurangan. Penyimak sudah sampai
pada tahap evaluating.
e.
Tahap Menanggapi
Setelah
semua tahap dilewati, penyimak menyambut, mencamkan, menyerap serta menerima
gagasan atau ide yang dikemukakan pembicara dalam ujarannya. Penyimak sampai
pada tahap akhir yakni tahap responding.
Akhir
pembicaraan biasanya terdiri atas: simpulan, himbauan, dan saran-saran. Jika
pembicara menyampaikan rangkuman, maka tugas penyimak ialah mencermati
rangkuman yang telah disampaikan pembicara tersebut. Jika pem bicara
menyampaikan simpulan, maka penyimak mcncocokkan catatannya dengan simpulan
yang disampaikan pembicara. Dalam hal itu perlu dicermati juga tentang simpulan.
yang tidak sama, yaitu simpulan yang dibuat pembicara dan penyimak. Jika
pembicara hanya menyampaikan himbauan, penyimak harus memperhatikan himbuan itu
secara cermat dan teliti.Berdasarkan tahap-tahap menyimak di atas, maka tahap
menyimak yang dilaksanakan dalam tulisan ini adalah tahap
menginterpretasi.
6. Teknik
Menyimak Efektif
Untuk dapat menyimak dengan baik, perlu mengetahui syarat
menyimak efektif. Adapun syarat tersebut ialah: (1) menyimak dengan
berkonsentrasi , (2) menelaah materi simaka, (3) menyimak dengan kritis, dan
(4) membuat catatan. (Universitas Terbuka, 1985: 35). Berikut ini adalah
masing-masing hal itu.
a.
Menyimak dengan Berkonsentrasi
Yang
dimaksud dengan menyimak berkonsentrasi ialah memusatkan pikiran perasaan, dan
perhatian terhadap bahan simakan yang disampaikan pembicara. Untuk dapat
memusatkan perhatian terhadap bahan simakan yang disampaikan pembicara dengan
baik, penyimak harus dapat menghindari gangguan menyimak, baik yang berasal
dari dirinya sendiri ataupun yang berasal dari luar.
Beberapa
faktor luar yang dimaksudkan di antaranya adalah sebagai berikut. 1) Orang yang
datang terlambat. Pada prinsipnya orang yang datang terlambat ke tempat ceramah
akan mengganggu penyimak yang sedang berkonsentrasi terhadap bahan simakan. 2)
Keanehan-keanehan yang terjadi di antara pembicara dan penyimak. Jika terjadi
ketidakselarasan antara pembicara dan penyimak, akan terjadi gangguan pada diri
penyimak. 3) Metode pembicara yang tidak tepat. Dalam situasi komunikasi metode
yang tidak tepat, akan berakibat gagalnya alur komunikasi pembicaradan
penyimak. 4) Pakaian pembicara, Pembicara yang memakai pakaian yang berlebihan
akan mengganggu konsentrasi penyimak. 5) Pembicara yang tidak menarik.
b.
Menelaah Materi Simakan
Untuk
menelaah materi simakan, penyimak dapat melakukan hal-hal sebagai berikut: 1)
mencari arah dan tujuan pembicaraan, 2) mencoba membuat penggalan-penggalan
pembicaraan dari awal sampai akhir, 3) menemukan tema sentral (pokok
pembicaraan. 4) mengamati dan memahami alat peraga (media) sebagai penegas
materi simakan. 5) memperhatikan rangkuman (jika pembicara membuat rangkuman)
yang disampaikan pembicara.
c.
Menyimak dengan Kritis
Yang
dimaksudkan dengan menyimak kritis ialah aktivitas menyimak yang para
penyimaknya tidak dapat langsung menerima gagasan yang disampaikan pembicara
sehingga mereka meminta argumentasi pembicara. Pada dasarnya penyimak kritis
memiliki ciri-ciri: 1) dapat menghubungkan yang dikaitakan pembicara dengan
pengetahuan dan pengalamannya, 2) dapat menyusun bahan yang telah disimak
dengan baik (reproduksi), 3) dapat menguraikan (menelaskan) apa saja yang telah
disampaikan pembicara. dan 4) dapat melakukan evaluasi terhadap bahan yang
telah disimak.
d.
Membuat Catatan
Kegiatan
menyimak yang baik ialah kegiatan menyimak yang diikuti dengan kegiatan
mencatat. Yang perlu dicatat dalam kegiatan menyimak ialah hal-hal. yang
dianggap penting bagi penyimak. Catatan itu merupakan langkah awal dalam
memahami bahan simakan. Hal-hal penting yang perlu diketahui penyimak dalam
mencatat ialah: 1) catatan boleh menggunakan tanda-tanda yang bersifat
informal. 2) bentuk catatan yang benar ialah singkat, padat, dan jelas. 3)
catatan yang baik ialah catatan yang benar artinya catatan itu tidak akan
menimbulkan keraguan, 4) catatan yang diberi tanda-tanda tertentu, akan
mempermudah penyimak membaca ulang, 5) catatan perlu direviu secara periodik.
Selanjutnva. dalam pencatatan, ada beberapa metode yang dapat diterapkan, di
antaranya ialah metode kerangka garis besar, metode precis, metode
bukti-prinsip, metode pemetaan
Kegiatan
menyimak yang baik ialah kegiatan menyimak yang diikuti dengan kegiatan
mencatat. Yang perlu dicatat dalam kegiatan menyimak ialah hal-hal. yang
dianggap penting bagi penyimak. Catatan itu merupakan langkah awal dalam
memahami bahan simakan. Hal-hal penting yang perlu diketahui penyimak dalam
mencatat ialah: (a) catatan boleh menggunakan tanda-tanda yang bersifat
informal. (b) bentuk catatan yang benar ialah singkat, padat, dan jelas. (c)
catatan yang baik ialah catatan yang benar artinya catatan itu tidak akan
menimbulkan keraguan, (d) catatan yang diberi tanda-tanda tertentu, akan
mempermudah penyimak membaca ulang, (e) catatan perlu direviu secara periodik.
Selanjutnva. dalam pencatatan, ada beberapa metode yang dapat diterapkan, di
antaranya ialah metode kerangka saris bestir, metode precis, metode
bukti-prinsip, metode pemetaan.
7. Teknik
Peningkatan Daya Simak
Telah disebutkan di atas bahwa pada saat menyimak. Anda
perlu berkonsentrasi terhadap apa yang Anda simak. Selain konsentrasi, faktor
lain yang juga beperan besar dalam kegiatan menyimak adalah penguasan kosakata.
Hal ini terjadi karena penangkapan makna merupakan bagian integral dari poses
menyimak. Orang dewasa dikatakan memiliki kosakata minimum apabila ia hanya
memiliki rata-rata kosakata sekitar 20.000 kata.
Selajutnya.
untuk meningkatkan daya simak Anda. ada beberapa teknik yang dapat dilakukan.
di antaranya adalah teknik loci, teknik penggabungan, dan teknik fonetik
(Sutari dkk. 1997: 67-70). Berikut ini adalah peniciasan teknik-teknik
tersebut.
a.
Teknik Loci (Loci System)
Teknik
loci merupakan salah satu teknik mengingat yang paling tradisional. Teknik ini
pada dasamva merupakan teknik mengingat dengan cara memvisualisasikan materi
yang harus diingat dalam ingatan Anda. Teknik ini dapat dilakukan dengan cara
mempelajari urutan informasi dengan informasi lain yang serupa, dan mencocokan
hal-hal yang akan diingat dengan lokasi tersebut.
b.
Teknik Penggabungan
Teknik
penggabungan merupakan teknik mengingat dengan cara menghubungkan
(menggabungkan) pesan pertama yang akan Anda ingat secara berantai dengan pesan
kedua, ketiga. dan seterusnva. Pesan berantai itu dihubungkan pula dengan
imaji-imaji tertentu yang perlu divisualkan secara jelas dalam pikiran Untuk
mencegah terjadinya kelupaan pada pesan pertama (pesan yang akan
dimatarantaikan), pesan pertama perlu dihubungkan tersebut dengan lokasi yang
akan mengingatkan Anda pada item tadi.
c.
Teknik Fonetik
Teknik
fonetik melibatkan penggabungan angka-angka, bunyi-bunvi fonetis, dan kata-kata
yang mewakili bilangan-bilangan itu dengan pesan yang akan diingat. Teknik ini
dapat membentuk imaji visual yang kuat untuk masing-masing kata yang
berhubungan dengan bilangan; dan membentuk penggabungan visual antara
masing-masing pesan yang akan diingat secara berurutan dengan masing-masing
kata yang terbentuk dari kata-kata yang divisualisasikan.
Penyimak
yang baik apabila individu mampu menggunakan waktu ekstra untuk mengaktifkan
pikiran pada saat menyimak. Ketika para siswa menyimak, perhatiannya tertuju
pada objek bahan simakan. Pada saat itulah akan didapatkan proses menyimak yang
efektif, menyimak yang lemah, dan menyimak yang kuat
11. Pemilihan Materi Simakan
Bahan
simakan merupakan unsur terpenting dalam komunikasi lisan, terutama dalam
menyima. Yang dimaksud dengan bahan simakan adalah pesan yang disampaikan
pembicara kepada penyimak. Bahan simakan itu dapat berupa konsep, gagasan, atau
informasi. Jika pembicara tidak dapat menyampaikan bahan simakan dengan baik,
maka pesdan itu tidak dapat diserap oleh penyimak yang mengakibatkan terjadinya
kegagalan dalam berkomunikasi. Subyantoro dan Hartono (2003: 5-7) menyatakan
bahwa bahan pembelajaran menyimak harus menarik minat dan dekat dengan
kebutuhan siswa, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
a. Keluasan Materi Ajar
Materi
ajar menyimak dapat diambil dari berbagai sumber. Materi ajar hendaknya sesuai
dengan tingkat kemampuan siswa. Materi yang sesuai, cocok dengan kemampuan
siswa akan menghasilkan proses belajar mengajar yang memuaskan dan
menyenangkan, baik bagi siswa maupun guru. Materi menyimak memiliki beberapa tujuan
yaitu:
1) materi
yang bertujuan untuk mendapatkan respons penyimak berupa bunyi-bunyian, baik
berupa suara, suku kata, kata, frasa, klausa, maupun kalimat,
2) materi
yang memerlukan pemusatan perhatian, yakni menentukan gagasan pokok pembicaraan
dan gagasan penunjang,
3) materi
yang bertujuan membandingkan atau mempertentangkan dengan pengalaman atau
pengetahuan menyimak,
4) materi
yang bertujuan untuk menuntut penyimak berpikir kritis, yakni melalaui proses
analisis,
5)
materi yang bertujuan untuk menghibur bersifat santai,
6)
materi yang bertujuan untuk informatif, dan
7) materi
yang bertujuan untuk deskriminatif yakni penyimak setelah mendapat pesan dapat
memberikan reaksi yang sesuai dengan keinginan pembicara (Sutari dkk. 1997:
120).
b. Keterbatasan Waktu
Dalam pembelajaran, guru dituntut
untuk dapat menyesuaikan waktu yang tersedia dengan bahan yang akan diajarkan.
c. Perbedaan
Karakteristik Pembelajar
Perbedaan
karakteristik pembelajar ditentukan oleh berbagai faktor antara lain minat,
bakat, intelegensi, dan sikap. Hal itu merupakan pertimbangan khusus bagi guru
untuk memilih bahan simakan yang selaras dengan bakat, minat, dan sikap
pembelajar.
d. Perkembangan Ilmu
Pengetahuan, Teknologi, dan Seni
Pada
dasarnya, bahan pembelajaran menyimak harus menyesuaikan diri dengan
perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Bahan pembelajaran menyimak
harus menarik, selaras, dan autentik. Menarik yang dimaksud adalah agar siswa
tertarik untuk menerima bahan simakan dengan perhatian yang sungguh-sungguh.
Selaras, merupakan syarat utama dalam proses pembelajaran menyimak. Kegagalan
pembelajaran menyimak lebih banyak disebabkan oleh ketidakmampuan pembelajar
terhadap makna, baik makna gramatikal, klasikal maupun kultural dalam bahan ajar.
Terakhir adalah autentik (asli), keautentikan bahan menyimak dapat ditemukan di
lingkungan sekitar siswa.
Berbagai
macam kriteria yang dapat digunakan sebagai patokan dalam memilih bahan
simakan. Semakin memenuhi butir-butir di bawah ini maka semakin baiklah bahan
simakan tersebut. Kriteria bahan simakan yang baik adalah sebagai berikut.
Tema
harus up to date. Bahan-bahan mutakhir yang terbaru, yang muncul dalam
kehidupan biasanya menarik perhatian. Oleh sebab itu sang pembicara harus
pandai memilih salah satu topik masalah yang masih menjadi buah pembicaraan
dalam masyarakat. Kalau hal ini dapat diseleksi dengan baik, tentu pembicaraan
yang disajikan pasti menarik perhatian, sebab semua orang ingin tahu akan
masalah itu dan bagaimana cara pemecahannya atau penyelesaiannya.
Tema
terarah dan sederhana. Tema pembicaraan jangan terlalu luas. Cakupan
pembicaraan yang terlalu luas takkan terjangkau oleh para penyimak. Pilihlah
salah satu topik yang sederhana, jangan terlalu rumit dan sukar, yang muncul
dari kehidupan sehari-hari. Bahan pembicaraan yang terlalu mengambang serta
rumit tidak akan menarik perhatian, malahan membosankan dan membingungkan para
penyimak. Harus diingat bahwa yang sederhana tidak harus diidentikkan dengan
jelek dan tidak berguna.
Tema
dapat menambah pengalaman dan pemahaman. Dari pembicaraan seseorang,
biasanya kita mengharapkan adanya hal-hal yang dapat menambah pengetahuan.
Topik atau tema yang disajikan dapat memperkaya pengalaman dan mempertajam
pemahaman serta penguasaan para penyimak akan masalah itu. Nah, baik topik,
maupun cara penyajiannya harus mampu memenuhi tuntutan itu. Siapa yang mau
membuang-buang waktu dan tenaga justru untuk menyimak hal-hal yang tidak
berguna, bukan?
Tema
bersifat sugestif dan evaluatif. Tema atau topik pembicarran haruslah dipilih
sedemikian rupa sehingga merangsang penyimak untuk berbuat dengan tepat serta
dapat memberi penilaian tepat tidaknya, baik buruknya tindakan yang akan
dilaksanakan. Pokok pembicaraan harus dapat menggugah serta merangsang para
penyimak untuk berbuat, bertindak, dan berkata dalam hatinya: Sayapun pasti
dapat dan berhasil mengerjakan hal serupa itu.
Tema
bersifat motivatif. Topik atau tema pembicaraan seyogyanya dapat
memberikan dorongan kuat untuk berbuat lebih giat dan lebih baik. Dapat
memotivasi par apenyimak untuk bekerja lebih tekun untuk mencapai hasil yang
lebih baik. Tentunya sang pembicara tidak mengharapkan kurangnya motivasi
berbuat dan bertindak para penyimak setelah menyimak ceramah atau ujarannya.
Pembicara
harus dapat menghibur. Manusia hidup membutuhkan hiburan, apalagi setelah
bekerja berat seharian. Dengan menyimak sesuatu, maunya orang bisa melupakan
kesusahan atau masalah hidup, paling sedikit buat sementara, pada saat menyimak
itu. Oleh sebab itu sang pembicara harus pandai berkelakar, membuat humor yang
dapat membuat para penyimak tertawa, kalau perlu sampai terbahak-bahak.
Bahasa
sederhana mudah dimengerti. Banyak orang beranggapan bahwa suatu ceramah,
kuliah, atau pembicaraan yang bermutu harus diiringi oleh kata-kata yang pelik,
istilah-istilah baru, dan kalimat-kalimat yang panjang serta rumit. Anggapan
itu keliru. Dengan bahsa yang “sederhana” pun pesan dapat disampaikan kepada
para penyimak. Justru dengan bahasa yang sederhana, tema atau topik pembicaraan
lebih mudah dipahami, lebih cepat dimengerti, komunikasi berjalan lasncar tanpa
kendala kebahsaan. Oleh karena itu sang pembicara harus dapat mempergunakan
bahasa yang sederhana, yang mudah dimengerti, serta diselang-seling dengan
humor dan petatah-petitih.
Komunikasi
dua arah. Alangkah baiknya jika suatu ceramah memberi kesempatan bertanya atau
mengemukakan pendapat kepada para penyimak. Jadikanlah forum komunikasi itu
menjadi komunikasi dua arah. Sang pembicara harus mengusahakan timbulnya dialog
dia dengan partisipan, walaupun hal ini menuntut pengetahuan umum yang luas.
Komunikasi itu jangan dibicarakan menjadi ajang duolog melulu, yang membuat
perhatian penyimak pudar atau hilang sama sekali. Beri kesempatan berbicara
juga kepada penyimak, saling berganti agar komunikasi hidup, bersifat dua arah,
merupakan dialog
8. Penilaian
Keterampilan Menyimak
Penilaian
keterampilan menyimak dilakukan terhadap proses dan penilaian hasil. Penilaian
hasil hanya merujuk pada hasil simakan siswa yang berupa respon atau jawaban-jawaban
terhadap pertanyaan, sedangkan penilaian pada proses dilakukan dengan
menggunakan model instrumen penilaian yang dirancang guru. Nurgiyantoro
(1988:218) menyatakan bahwa evaluasi kemampuan menyimak dilaksanakan dengan
teknik tes dan nontes. Tes keterampilan menyimak dimaksudkan untuk mengukur
kemampuan siswa menangkap dan memahami informasi yang terkandung di dalam
wacana yang diterima melalui saluran pendengaran. Untuk tes kemampuan menyimak,
pemilihan bahan tes lebih ditekankan pada keadaan wacana, baik dilihat dari
segi tingkat kesulitan, isi dan cakupan, maupun jenis-jenis wacana.
a.
Tes Kemampuan Menyimak Tingkat Ingatan
Tes
kemampuan menyimak pada tingkat ini sekadar menuntut siswa untuk mengingat
fakta atau menyatukan kembali fakta-fakta yang terdapat di dalam wacana yang
telah diperdengarkan. Fakta dalam wacana dapat berupa tanggal, tahun, peristiwa
dan sebagainya. Bentuk tes yang dipergunakan dapat berupa bentuk tes objektif,
isian singkat, ataupun bentuk pilihan ganda.
b.
Tes Kemampuan Menyimak Tingkat Pemahaman
Tes
keterampilan menyimak pada tingkat pemahaman menuntut siswa untuk dapat
memahami wacana yang dipergunakan. Pemahaman yang dimaksud adalah pemahaman
terhadap isi wacana, hubungan antar kejadian, hubungan antar ide, hubungan
sebab akibat, dan sebagainya. Pemahaman pada tingkat ini belum benar-benar
kompleks (belum menuntut kerja kognitif yang tinggi). Bentuk tes yang digunakan
esai ataupun bentuk objektif.
c.
Tes Kemampuan Menyimak Tingkat Penerapan
Diharapkan
siswa dapat menerapkan konsep atau masalah tertentu pada situasi yang baru.
Misalnya, diperdengarkan beberapa buah wacana dengan gambar yang sesuai.
d.
Tes Kemampuan Menyimak Tingkat Analisis
Tes
keterampilan menyimak pada tingkat analisis menuntut siswa untuk melakukan
kerja analisis, untuk memilih alternatif jawaban yang tepat. Analisis yang
dilakukan berupa analisis detil-detil informasi, mempertimbangkan bentuk dan
aspek kebahasaan tertentu, menemukan hubungan kelogisan, sebab-akibat dan
lain-lain.
Jawaban
terhadap pertanyaan dapat dinilai berdasarkan tepat tidaknya jawaban dengan
melakukan penskoran berdasarkan jumlah soal dan bobot soal, sedangkan hasil
simakan siswa yang berupa respon dinilai berdasarkan tepat tidaknya respon itu
dengan apa yang akan diungkapkan atau diperintahkan dalam bahan simakan
(Subyantoro & Hartono, 2003: 14). Aspek-aspek penilaian ditentukan
berdasarkan indikator pencapaian hasil belajar. Penilaian proses dapat
dilakukan dengan menggunakan model instrumen yang dirancang oleh guru.
Dari
beberapa kemungkinan tes yang digunakan untuk mengukur keterampialan siswa
dalam menyimak informasi melalui tuturan langsung pada tulisan ini
termasuk ke dalam tes keterampilan menyimak tingkat analisis. Tes keterampilan
menyimak tingkat analisis digunakan pada tulisan ini karena tes ini
menuntut siswa untuk melakukan kerja analisis, untuk memilih alternatif jawaban
yang tepat. Analisis yang dilakukan berupa analisis detil-detil informasi,
mempertimbangkan bentuk dan aspek kebahasaan tertentu, menemukan hubungan
kelogisan, sebab-akibat, dan simpulan dari informasi yang didengar.
9. Pembelajaran
Menyimak
Dalam proes pembelajaran di kelas, sebagian besar waktu yang
digunakan oleh siswa adalah untuk kegiatan mendengar atau menyimak. Akan
tetapi, kegiatan tersebut bukanlah merupakan pengertian kegiatan menyimak dalam
proses pembelajaran keterampilan menyimak yang sedang difokuskan. Purwo (dalam
Depdiknas 2003:3) menjelaskan bahwa dalam pembelajaran menyimak yang sedang
difokuskan perlu mempertimbangkan hal-hal berikut.
Pertama, pembelajaran menyimak perlu diwujudkan ke dalam
kegiatan tertentu, misalnya mendengarkan kaset berupa pidato atau ceramah,
musik atau dialog, radio atau menyimak seseorang yang membaca teks, bercerita
atau menjelaskan sesuatu secara lisan. Jika teks yang dibacakan ada di dalam
buku yang dimiliki siswa, maka buku harus ditutup dulu. Macam yang didengar
dapat dilakukan secara bervariasi. Kedua, kegiatan tersebut perlu dibatasi
waktunya, misalnya 10-15 menit. Hal ini mengingat menyimak membutuhkan
konsentrasi yang penuh, sehingga tidak mungkin berlama-lama tanpa batas waktu.
Ketiga, kegiatan menyimak harus mempunyai tujuan yang jelas dan terarah,
misalnya untuk menguji pemahaman siswa. Selesai kegiatan menyimak, siswa diuji
dengan menjawab pertanyaan (lisan maupun tulis), mengungkapkan kembali (lisan
atau tulis), atau mendaftar butir-butir pokok dari teks yang disimak.
Menyimak
bisa juga bertujuan untuk mencari istilah tertentu, misalnya istilah-istilah
yang terkait dengan tema olahraga, kependudukan, lingkungan, dan sebagainya.
Tujuan menyimak sebaiknya sudah disampaikan terlebih dahulu kepada siswa,
sebelum kegiatan menyimak dilakukan. Selain itu, materi dalam pembelajaran
menyimak juga harus sesuai dengan kelayakan dan kebutuhan siswa. Adapun materi
pembelajaran menyimak yang sesuai dan layak sebagai berikut. Pertama, materi
pembelajaran menyimak yang disajikan dalam bentuk media cetak. Materi
pembelajaran menyimak jenis ini akan membuat pembelajaran tidak kondusif. Hal
ini disebabkan proses menyimak yang siswa lakukan berasal dari materi yang
dibacakan oleh guru atau siswa lainnya.
Kedua,
materi yang berupa CD interaktif. Materi pembelajaran jenis ini akan mengajak
siswa untuk bersama-sama melihat secara langsung audio visual dalam pembelajaran
menyimak. Materi pembelajaran menyimak jenis ini akan membuat siswa senantiasa
fokus pada pembelajaran. Namun, siswa akan mengalami kejenuhan apabila
dihadapkan pada layar monitor selama pembelajaran berlangsung. Selain itu, guru
juga kurang dapat berperan dalam pembelajaran.
Ketiga,
materi pembelajaran menyimak yang disajikan dalam bentuk cetak dan CD. Materi
pembelajaran jenis ini akan membuat siswa belajar dua arah, yaitu belajar pada
media cetak dan media audio visual yang telah disediakan. Hal ini diharapkan
dapat membuat siswa semakin aktif untuk mengeksplorasi dirinya. Selain itu,
guru memiliki peran penting untuk tetap menjadi fasilitator siswa selama
pembelajaran.
BAB III
KESIMPULAN
Keterampilan menyimak sangat berperan dalam kehidupan
manusia di lingkungan masyarakat. Peran penting penguasaan keterampilan
menyimak sangat tampak di lingkungan sekolah. Siswa mempergunakan sebagaian
besar waktunya untuk menyimak pelajaran yang disampaikan oleh guru.
Keberhasilan dalam memahami serta menguasai pelajaran diawali oleh kemampuan
menyimak yang baik. Kemampuan seseorang dalam menyimak dapat dilihat dari latar
belakangnya. Latar belakang masing-masing orang mempunyai perbedaan, baik
psikologis, sosiologis, maupun pendidikannya.
Dalam proes pembelajaran di kelas, sebagian besar waktu yang
digunakan oleh siswa adalah untuk kegiatan mendengar atau menyimak. Akan
tetapi, kegiatan tersebut bukanlah merupakan pengertian kegiatan menyimak dalam
proses pembelajaran keterampilan menyimak yang sedang difokuskan.
Daftar Pustaka
Aslanoglu, Aslihan Erman dan Omer Kutlu. 2009. Factors
Affecting The Listening Skill. Jurnal disampaikan pada World Conference on
Educational Sciences 2009.
Dananjaja, James. 2002. Foklor Indonesia: Ilmu Gosip,
Dongeng, dan Lain-lain. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Keterampilan
Menyimak. Jakarta: Depdiknas.
Nunan, David. 2005. Practical English Language
Teaching. Singapore: MCGraw Hill Companies, Inc.
Nurgiantoro, Burhan. 2001. Penilaian dalam Pengajaran
Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE.
Purwadi dan Swandono. 2000. BPK Menyimak Bahasa
Indonesia. Surakarta: Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Richards, Terry George. 1962. Office Management and
Control, Fourth Edition. Homewood: Richard D. Irwin Inc.
Subyantoro dan Bambang Hartono. 2003. Pengembangan
Kemampuan Berbahasa Pembelajaran Keterampilan Mendengarkan, Berbicara, Membaca,
dan Menulis. Makalah Disampaikan pada Pelatihan Terintegrasi Berdasarkan
Kurikulum Berbasis Kompetensi Tahun 2003.
Sutari, Ice, Tiem Kartimi, dan Vismaia. 1997. Menyimak.
Jakarta. Depdikbud.
Tarigan, Henry Guntur. 1986. Menyimak sebagai Suatu
Keterampilan berbahasa. Bandung: Angkasa.
Tarigan, Djago. 1991. Metodologi Pengajaran Bahasa.
Bandung: Angkasa.
Tarigan, Djago. 1994. Menyimak sebagai Suatu Pengantar
Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Tavil, Zekiye Muge. 2010. Integrating Listening and
Speaking Skills to Facilitate English Language Learners’ Communicative
Competence. WCLTA 2010.
Yildirim, Ozen, Safiye Bilican dan Omer Kutlu. 2012. ”The
Factors That Predict The Frequency of Activities Developing Students Listening
Comprehension Skills”. WCES 2012
Zualaeha, Ida dan Fathur Rahman. 2009. Pengembangan
Inovasi Pembelajaran dan Materi Ajar Bahasa Berbasis Information Communication
Technology (ICT) yang Berorientasi pada Kebutuhan Kompetensi Komunikatis
Siswa. Semarang: Unnes.
No comments:
Post a Comment