A.
Hakikat Bahasa
Keunikan manusia terletak pada kemampuan berbahasanya. Kita tidak dapat
memungkiri kenyataan yang ada, yang merupakan suatu prestasi khusus sebagai
seorang manusia, yang mempunyai kemampuan berbahasa sejak di lahirkan.
Pemerolehan bahasa yang kita miliki sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor,
yaitu terdiri dari unsur biologis, psikologis, dan sosial.
Menurut Soedjono (dikutip
Lorita, 2004) bahasa memiliki unit-unit Universal yang mengakibatkan manusia
biasa menguasainya. Anak memperoleh bahasa melalui langkah-langkah yang sama
dan elemen-elemen kebahasaan yang sama, maupun biologis dan neurologisnya.
Menurut
Chaer (2010: 15) definisi bahasa menyatakan bahwa bahasa itu digunakan oleh
para penuturnya untuk berkomunikasi atau berinteraksi dalam suatu tuturan.
Menurut Chaer dan Leonie Agustina (2004: 11), ciri-ciri yang merupakan hakikat
bahasa itu antara lain, adalah bahwa bahasa itu adalah sebuah sistem lambang,
berupa bunyi, bersifat arbiter, produktif, dinamis, beragam dan manusiawi.
B.
Proses Berbahasa
Menurut
Lorita (2004), proses pemilihan bahasa yang di lakukan anak bukanlah suatu yang
mudah seperti umumnya di katakan orang. Anak harus mendengarkan contoh dari
orang dewasa, mencerna, membuat hipotensis, merevisi hipotensi untuk kemudian
mendapatkan bentuk yang diterima oleh masyarakat. Dalam bidang fonologi ia di
tuntun oleh perkembangan biologis dan neurologisnya, sedangkan di bidang
semantik ia berjalan selaras dengan perkembangan koknisinya. Ia tidak dapat
berjalan lebih cepat dari pada jadwal alam yang dihadapinya.
Dalam
proses pemerolehan dan penguasaan bahasa, anak memerlukan rangsangan dari luar
untuk memicu LAD, dalam bentuk lisan atau ucapan yang di dengar oleh si anak.
Namun, kenyataan ada anak yang mendapatkan gangguan dalam menerima maupun
memproduksi rangsangan tersebut, yang disebut dengan afasia. Setiap manusia
minimal menguasai satu bahasa, baik secara lisan, tulisan maupun lisan dan
tulisan. Dalam proses penguasaan bahasa, seorang manusia secara tidak langsung
akan mengalami proses pemerolehan bahasa.
Proses
dan sifat pemerolehan bahasa itu berjalan dinamis secara berlangsung lewat
sebuah pentahapan secara berjenjang dan di pengaruhi oleh penggunaan bahasa
sekitar. Dengan kata lain perjalanan pemerolehan bahasa akan sangat berpengaruh
pada lingkungan bahasa pemakai. Seorang pemakai bahasa melakukan proses akal
atau pikiran yang berlaku untuk merespon stimulus yang ada dalam berbahasa.
Kemampuan
bicara tidak terlepas juga dari perkembangan kognitif anak. Menurut piaget
(dikutip Lorita, 2004) awal proses perkembangan kognitif dimulai dengan periode
dengan sensori motor. Rangsang suara terhadap telinga telah berfungsi sejak di
lahirkan, rangsang penglihatan terhadap mata mulai berfungsi setelah usia
minggu ke dua kelahiran, rangsaang sentuhan dan rabaan, rangsang penciuman,
pengecapan semuanya harus di latih sebagai pemanasan untuk melaksanakan
pengembangan fungsi indra dan gerak.
Proses
berbahasa di lakukan setiap manusia karena adanya perangkat lunak sebagai alat
berbahasa. Kita mendengar seorang yang sedang berbicara sesungguhnya kita hanya
mendengar bunyi-bunyi, yaitu bunyi bahasa. Bunyi bahasa yang kita mengerti
menandakan bahwa pembicara memiliki bahasa yang sama dengan bahasa kita atau
antara pembicara dan kita sebagai pendengar, saling mengerti. Sebaliknya, kalau
kita mendengar urutan bunyi bahasa tetapi kita tidak mengerti apa yang di katakan,
itu berarti bahwa bahasa yang di gunakan bukan bahasa kita atau bahasanya asing
bagi kita.
Itu
sebabnya dikatakan, kalau kita sedang berkomunikasi maka syarat utama yakni
saling mengerti . Artinya antara pembicara dan pendengar harus ada persepsi yang
sama tentang bahasa yang di gunakan. Secara operasional komunikasi yang sedang
berlangsung itu bersifat timbal balik. Namun demikian, dalam keadaan tertentu komunikasi
itu bersifat searah.
Bahasa
yang di gunakan dalam proses komunikasi, sebenarnya melalui suatu proses yang
di sebut proses bahasa. Proses bahasa itu dapat di bagi tiga bagian, yaitu:
1.
Proses masih dalam jati diri
seseorang
2.
Berada di lingkunagan
3.
Berada dalam jati diri pendengar
Dalam kaitan dengan proses bahasa, Multon dalam Pateda ( 1990: 28)
mengemukakan 11 tahap yang di lalui oleh bunyi bahasa dari pembicara kepada
pendengar. Tahap yang di maksud, yaitu:
1.
Membut kode semantis
2.
Membuat kode gramatikal
3.
Membuat kode fonologis
4.
Perintah otak
5.
Gerakan alat ucap
6.
Bunyi yang berupa getaran
7.
Perubahan gerakan melalui telinga
pendengar
8.
Getaran di teruskan ke otak
9.
Pemecahan kode fonologis
10. Pemecahan kode gramatikal
11. Pemecahan kode semantik
F.
de Saussure (dikutip Lorita, 2004) menjelaskan proses bahasa berawal dari
situmulus, yang menyebapkan adanya rumusan konsep, konsep siap untuk di
ujarkan, ujaran ini berperoses melalui udara yang kemudian berproses melalui
udara yang kemudian berproses di dalam telinga pendengar.
Ujaran
ini akan merupakan stimulus pendengar. Stimulus yang berasal dari pembicara
akan di rumuskan dalam bentuk konsep di dalam otak pendengar konsep ini
berwujud jawaban atau reaksi atas stimulus yang berasal dari pembicara tadi.
C.
Teori Belajar Bahasa
Menurut
Lorita (2004), psikolog dan linguis lebih suka menggunakan istilah akuisisi
bahasa (Language Acquisition) daripada belajar bahasa (Acquisition Learning).
Penggunaan istilah akuisisi bahasa dirasakan lebih sederhana dan karena itu
telah digunakan secara umum, yang ditafsirkan sabagai akuisisi suatu bahasa
digunakan tanpa kualifikasi untuk proses yang menghasilkan pengetahuan bahasa
pada penutur bahasa.
Pada
umumnya anak yang normal memperoleh kecakapan bahasa melalui bunyi-bunyi bahasa
yang ia dengardi sekelilingnya tanpa disengaja dan tanpa perintah. Kecakapan
berbahasa itu berkembang terus tahap demi tahap dan makin berdiferensi sesuai
dengan perkembangan intelegensi dan latar belakang sosial budaya yang
membentuknya.
Kiparsky
(dikutip lorita, 2004) mengatakan pemerolehan bahasa atau language acquisition
adalah suatu proses yang dipergunakan oleh anak-anak untuk menyesuaikan
serangkaian hipotesis yang makin bertambah rumit ataupun teori-teori yang masih
terpendam atau tersembunyi yang mungkin sekali terjadi dengan ucapan-ucapan
orang tuanya sampai dia memilih berdasarkan suatu ukuran atau takaran penilaian
tata bahasa yang paling baik serta yang paling sederhana dari bahasa tersebut.
Teori
akuisisi bahasa dibuat oleh ahli psikolinguistik. Teori akuisisi ini ada tiga,
yaitu:
1.
Teori Akuisisi yang Behavioristik
Pandangan kaum Behavioristik atau Empiris atau Mekanis atau
Antimentalistik tentang akuisisi bahasa adalah tidak ada struktur linguistik
yang dibawa anak sejak laihr. Anak yang lahir dianggap kosong dari bahasa.
Mereka berpendapat bahwa anak yang lahir tidak membawa kapasitas atau
potensi bahasa. Brown dalam Pateda (1990: 43) mengatakan anak lahir ke dunia
ini seperti kain putih tanpa catatan-catatan, lingkungannyalah yang akan
membentuknya yang perlahan-lahan dikondisi oleh lingkungan dan pengukuhan
terhadap tingkah lakunya. Pengetahuan dan keterampilan berbahasa diperoleh
melalui pengalaman dan proses belajar. Pengalaman dan proses belajar yang akan
membentuk akuisisi bahasanya.
Skinner pun membuat model tingkah laku berbahasa. Menurutnya, anak-anak
mengakuisisi bahasa melalui hubungan dengan lingkungan, dalam hal ini dengan
cara meniru, yang frekuensinya berulang dan mendapatkan pengukuhan.
Sebenarnya, teori behavioristik ini dipengaruhi oleh behavioristik dalam psikologi, yang menunjukkan objeknya yang berupa kelakuan atau tingkah laku, yaitu adanya stimulus dan respon. Gagasan behavioristik terutama didasarkan pada teori belajar yang pusat perhatiannya tertuju pada peranan lingkungan, baik verbal maupun nonverba.
Sebenarnya, teori behavioristik ini dipengaruhi oleh behavioristik dalam psikologi, yang menunjukkan objeknya yang berupa kelakuan atau tingkah laku, yaitu adanya stimulus dan respon. Gagasan behavioristik terutama didasarkan pada teori belajar yang pusat perhatiannya tertuju pada peranan lingkungan, baik verbal maupun nonverba.
Bagi kaum ini, bahasa adalah keseluruhan tingkah laku manusia yang
mendasar yang berkembang sejak anak lahir. Pendekatan kaum ini dipusatkan pada
pola tingkah laku berbahasa manusia yang diwujudkan melalui hubungan antara
stimulus dan respon yang berlangsung di sekeliling manusia. Apabila respon
terhadap stimulus telah disetujui kebenarannya, hal itu menjadi kebiasaan.
Bahasa merupakan seperangkat kebiasaan yang diperoleh melalui proses belajar,
sedangkan faktor bawaan hanyalah merupakan potensi herediter.
2.
Teori Akuisisi Bahasa yang
Mentalistik
Aliran ini merupakan aliran baru dalam linguistik, yakni aliran
transformasi atau aliran transformasi generatif. Chomsky dalam Pateda (1990:
46) berpendapat bahwa ujaran anak-anak dapat dipengaruhi oleh kaidah-kaidah
yang mereka dengar, yang digunakan mereka dalam menggunakan bahasa. Menurutnya,
anak yang lahir ke dunia ini telah membawa kapasitas atau potensi bahasa yang
akan turut menentukan struktur bahasa yang akan mereka gunakan.
Hipotesis rasionalis atau hipotesis ide-ide bawaan merupakan pandangan
Mentalistik dikemudian. Pandangan mentalis, rasionalis, atau nativis ditentang
oleh hipotesis empiris, yang berpendapat bahwa bahasa diperoleh melalui proses
belajar atau pengalaman. Pandangan ini mengatakan bahwa proses akuisisi bahasa
bukan karena hasil belajar, tetapi karena sejak anak lahir ia telah memiliki
sejumlah kapasitas atau potensi bahasa yang akan berkembang sesuai dengan
proses kematangan intelektualnya.
Mereka beranggapan bahwa setiap anak yang lahir telah memiliki apa yang
mereka sebut LAD (Language Acquisition Device). Pandangan ini ada karena teori
stimulus-respon terbatas. Persoalan akuisisi bahasa melebihi domain ini. Dengan
demikian LAD menyentuh berbagai aspek akuisisi bahasa, misalnya aspek makna,
abstraksi dan kreativitas (Mcneill dalam Pateda, 1990: 47). Anak yang lahir
telah membawa sejumlah kapasitas atau potensi bahasa.
Potensi bawaan bukan saja potensi untuk dapat mempelajari bahasa, tetapi
hal itu merupakan potensi genetik yang akan menentukan struktur bahasa yang
dipelajari manusia. Dengan demikian kesejagatan bahasa ditentukan oleh potensi
bawaan itu.
Dalam hubungannya ini, kaum ini memberikan alasan:
1.
Semua manusia belajar bahasa tertentu
2.
Semua bahasa manusia sama-sama dapat
dipelajari oleh manusia
3.
Semua bahasa manusia berbeda dalam
aspek lahirnya, tetapi semua bahasa mempunyai ciri pembeda yang umum
4.
Ciri-ciri pembeda ini yang
terdapat pada semua bahasa merupakan kunci terhadap pengertian potensi bawaan
bahasa tersebut.
5.
Teori Akuisisi yang Kognitif
Teori ini bermula dari tahun 60-an dari kaum mentalis, yang memandang
bahasa lebih mendalam lagi karena kaidah generatif yang dikemukakan oleh kaum
mentalis sangat abstrak. Teori ini dinamakan pendekatan kognitif karena
memandang bahasa adalah manifestasi dari perkembangan umum yang merupakan aspek
kognitif dan afektif yang menyatakan tentang dunia dan dunia diri manusia itu
sendiri.
Lois Bloom (dikutip Lorita, 2004) menyimpulkan anak belajar struktur
dalam dan bukan struktur luar berupa kata, sesudah kata tertentu muncul kata
yang lain. Teori ini menekankan hasil kerja mental, hasil pekerjaan yang
nonbehavioris. Proses-proses mental dibayangkan sebagai cara yang kualitatif
berbeda dari tingkah laku yang dapat diobservasi.
Titik awal teori ini adalah anggapan terhadap kapasitas kognitif anak
dalam menemukan struktur di dalam bahasa yang ia dengar di sekelilingnya. Baik
pemahaman maupun produksi serta komprehensi bahasa pada anak dipandang sebagai
hasil proses kognitif yang secara terus menerus berkembang dan berubah. Jadi,
stimulus merupakan masukan bagi anak yang kemudian berproses dalam otak. Pada
otak ini terjadi mekanisme internal yang diatur oleh pengatur kognitif yang
kemudian keluar sabagai hasil pengolahan kognitif.
Penganut teori kognitif beranggapan bahwa ada prinsip
yang mendasari organisasi linguistik yang digunakan anak untuk menafsirkan
serta mengoperasikan lingkungan linguistiknya. Semua ini adalah hasil pekerjaan
mental yang meskipun tidak dapat diamati, tetapi jelas mempunyai dasar fisik.
No comments:
Post a Comment