Monday, November 13, 2017

Micro Teaching



A.    Pengertian micro teaching
Secara etimologis, micro teaching berasal dari dua kata yaitu micro berarti kecil, terbatas, sempit dan teaching berarti pembelajaran. Secara terminologis, micro teaching adalah redaksi  yang berbeda-beda namun mempunyai subtansi makna yang sama. Berikut pengertian micro teaching menurut para ahli:
  1. Menurut cooper and Allen(1971), pengajaran mikro (microteaching) merupakan  salahsatubentukmodelpraktekkependidikanataupelatihanmengajar.
  2. Menurut  Jensen  (dalam  Yatiman  ,1999),  pengajaran  Micro sebagai  suatu sistem yang memungkinkan seorang calon guru mengembangkan ketrampilannya dalam menerapkan teknik mengajar  tertentu.
  3. Mc. Laughlin dan Moulton (1975) yang menjelaskan bahwa “microteaching is as performance training method to isolate the component parts of the teaching process, so that the trainee can master each component one by one in a simplified teaching situation” (pembelajaran mikro pada intinya adalah suatu pendekatan atau model pembelajaran untuk melatih penampilan/ keterampilan mengajar guru melalui bagian demi bagian dari setiap keterampilan dasar)
  4. A. Perlberg (1984) menjelaskan bahwa “micro teaching is a laboratory training procedure aimed at simplifyng the complexities of regular teaching-learning processing” (pembelajaran mikro pada dasarnya adalah sebuah laboratorium untuk lebih menyederhanakan proses latihan kegiatan belajar mengajar/pembelajaran).
  5. Sugeng Paranto (1980) menjelaskan bahwa pembelajaran mikro merupakan salah satu cara latihan praktek mengajar yang dilakukan dalam proses belajar mengajar yang di “mikro” kan untuk membentuk mengembangkan keterampilan mengajar.
Dari beberapa uraian diatas dapat simpulkan bahwa, micro teaching adalah suatu strategi yang telah dimodifikasi secara khusus untuk memberikan pelatihan mengajar  terhadap para calon pendidik (guru) dengan tujuan untuk mengembangkan keterampilan dasar mengajar seorang calon pendidik, dalam bentuk pengajaran mikro (skala kecil), dengan menyederhanakan atau memperkecil aspek pembelajarannya seperti jumlah murid, waktu dan materinya, sehingga para calon pendidik dapat memahami kelebihan dan kelemahan yang dimilikinya, serta dapat memperbaiki kelemahan dan mengembangkan kemampuan tersebut agar dapat menjadi seorang pendidik (guru) yang professional.
Aspek-aspek pembelajaran yang dimaksud adalah dalam segi:
1.      Jumlah murid
Jumlah murid pada suatu pembelajaran mikro tentu berbeda dengan jumlah murid pada system pembelajaran makro. Dalam pembelajaran mikro, jumlah murid disederhanakan atau diperkecil menjadi 5-10 orang.


2.      Alokasi waktu
Demikian juga dengan waktu mengajar. Dalam pembelajaran makro (real teaching), waktu mengajar berkisar dari 45-90 menit, namun pada pembelajaran mikro waktu mengajar disederhakan atau diperpendek menjadi 5-10 menit.
3.      Materi/bahan ajar
Materi atau bahan ajar dalam pembelajaran mikro hanya mencakup 1-2 aspek yang telah disederhanakan.
B.     Tujuan micro teaching
Tujuan pengajaran micro teaching dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu, tujuan umum dan tujuan khusus.
  1. Tujuan umum
Tujuan micro teaching menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut:
  1. Menurut Rostiyah, tujuan micro teaching adalah untuk mempersiapkan calon guru menghadapi pekerjaan sepenuhnya dimuka kelas dengan memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap sebagai seorang guru professional.
  2. Dwight Allen mengemukakan, bahwa tujuan pembelajaran mikro adalah:
·       Bagi siswa calon guru
–   Memberikan pengalaman belajar yang nyata dan latihan sejumlah keterampilan dasar mengajar secara terpisah.
–  Calon guru dapat mengembangkan keterampilan mengajarnya sebelum mereka terjun kekelas yang sebenarnya.
–   Memberikan kemungkinan bagi calon guru untuk menguasai beberapa keterampilan dasar mengajar serta memahami kapan dan bagaimana keterampilan itu diterapkan, sehingga calon guru mampu menciptakan proses pembelajaran yang efektif, efisen dan menarik.
·         Bagi guru
–   Memberikan penyegaran dalam program pendidikan.
–   Guru mendapatkan pengalaman belajar mengajar yang bersifat individual demi perkembangan profesinya.
–   Mengembangkan sikap terbuka bagi guru pembaharuan yang yang berlangsung dipranata pendidikan.
Adapun tujuan umum dari micro teaching adalah, mengembangkan atau meningkatkan keterampilan dasar mengajar yang dimiliki oleh seorang calon pendidik (guru), sehingga mereka memiliki kesiapan diri untuk mengajar disuatu lembaga pendidikan (sekolah), dan dalam konteks mengajar yang sesungguhnya.
2. Tujuan khusus
Secara khusus, micro teaching memiliki tujuan yaitu:
–  Calon guru mampu menganalisis tingkah laku pembelajaran kawannya dan dirinya sendiri.
–  Calon guru mampu melaksanakan berbagai jenis keterampilan dalam proses pembelajaran.
–  Calon guru mampu mewujudkan situasi pembelajaran yang efektif, produktif, dan efisien.
–  Calon guru mampu bertindak profesional
C.    Delapan Keterampilan dasar mengajar
Untuk menjadi seorang tenaga pendidik (guru) yang professional, tentunya guru harus memiliki keterampilan dasar mengajar, guna tercapainya suatu proses pembelajaran yang efektif, efisien dan menarik. Ada beberapa keterampilan dasar mengajar yang harus dimiliki oleh seorang pendidik (guru), yaitu:
1.      Keterampilan membuka dan menutup pelajaran
Membuka pelajaran merupakan kegiatan awal yang harus dilakukan oleh seorang guru, sebelum memasuki materi atau inti dari sebuah pembelajaran. Hal ini bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik (siswa) untuk mengikuti proses pembelajaran yang meliputi, mental peserta didik, menciptakan suasana komunikatif antara pendidik (guru) dengan peserta didik, dan menimbulkan perhatian peserta didik kepada materi yang akan dipelajari.
Aktivitas awal yang dilakukan oleh seorang pendidik (guru), serta kalimat-kalimat pembuka yang diucapkan guru adalah faktor utama dalam menentukan keberhasilan jalannya seluruh proses pembelajaran. Suatu proses pembelajaran dikatakan berhasil apabila tujuan proses pembelajaran tersebut dapat tercapai dengan maksimal. Tujuan pembelajaran dapat tercapai tergantung pada strategi pengajaran yang disiapkan guru pada awal pembelajaran.
Seluruh rencana dan persiapan sebelum mengajar dapat menjadi tidak berguna jika guru tidak berhasil memfokuskan perhatian dan minat siswa pada pelajaran. Oleh karena itu, hal-hal yang perlu dilakukan oleh seorang guru pada awal pembelajaran adalah, menciptakan suasana agar siswa secara mental, fisik, pshikis, dan emosional terpusat pada kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan. Hal tersebut dapat dilakukan guru dengan cara cara-cara sebagai berikut:


1)      Memfokuskan perhatian dan membangkitkan minat siswa
Pada awal proses pembelajaran, pikiran siswa belum dapat terfokus dengan baik pada materi dan proses pembelajaran. Hal ini disebabkan karena masih banyak aktifitas-aktifitas diluar kelas yang megganggu perhatian siswa.
Untuk dapat mengatasi masalah tersebut, seorang guru haru mampu menetapkan titik hubungan antara siswa itu sendiri dengan materi yang akan disampaikan, guru harus mampu membangkitkan semangat dan keaktifan belajara siswa, guru harus dapat menghubungkan antara materi yang akan disampaikan dengan minat dan kebutuhan siswa.
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh guru dalam memfokuskan perhatian dan membangkitkan minat siswa:
o   Mengaitkan materi dengan berita-berita terkini
o   Menyampaikan cerita
o   Menggunakan alat bantu/media
o   Memvariasikan gaya mengajar
o   Menyinggung tentang tugas-tugas yang dilakukan siswa
o   Mengandaikan persoalan
2)      Menimbulkan motivasi
Menimbulkan motivasi dapat dilakukan dengan berbagai cara:
o   Memberikan kehangatan dan menunjukan sikap antusias
Guru harus menunjukan sikap yang ramah, antusias, bersahabat dan penuh keakraban dengan peserta didiknya.
o   Menimbulkan rasa ingin tahu
Rasa ingin tahu siswa dapat distimulus dengan menunjukkan gambar, mendemonstrasikan sesuatu, menceritakan sesuatu kejadian yang berkaitan dengan materi yang akan disampaikan.
o   Mengemukakan ide yang bertentangan
Seorang pendidik harus bisa mengutarakan pendapat atau ide-ide yang bertentangan serta mengutarakan probelema-problema atau situasi yang berbeda dengan dengan kenyataan sehari-hari.
3)      Memberi acuan
Memberi acuan merupakan usaha mengemukakan secara spesifik dan singkat serangkaian alternative yang memungkinkan siswa memperoleh gambaran yang jelas mengenai hal-hal yang akan dipelajari dan cara yang akan hendak ditempuh dalam mempelajari materi pembelajaran. Adapun cara-cara yang dapat dilakukan guru adalah:
o   Menjelaaskan tujuan pembelajaran
o   Menyampaikan garis besar pembelajaran
o   Menjelaskan langkah-langkah pembelajaran
4)      Mengaitkan pelajaran yang telah dipelajari dengan topic baru
Pelaarn dalam pertemuan sebelumnya harus diulang secara ringkas untuk dikaitkan dengan pelajaran yang baru. Contoh usaha guru dalam mengaitkan adalah:
o   Meninjau kembali sampai sejauh mana siswa dapat memahami pelajaran yang sudah dipelajari sebelumnya.
o   Membandingkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa dengan materi yang akan disampaikan.
Sedangkan keterampilan dalam menutup pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru untuk mengakhiri kegiatan pembelajaran. Hal-hal yang perlu dilakukan oleh guru untuk mengakhiri pembelajaran adalah swbagai berikut:
–          Melakukan tinjauan kembali pada materi yang telah disampaikan, dengan cara membuat rangkuman atau ringkasan mengenai materi yang telah dijelaskan.
–          Mengadakan evaluasi seberapa jauh pemahaman siswa terhadap materi yang telah disampaikan dengan cara menyuruh siswa untuk, mendemonstrasikan keterampilan yang telah dipahaminya, menerapkan ide-ide baru pada situais lain, mengekspresikan pendapat sendiri, dan guru dapat memberikan soal-soal tertulis dalam bentuk uraian.
–          Memberikan tindak lanjut yaitu dalam bentuk, pekerjaan rumah, merancang sesuatu atau berkunjung kesuatu tempat.
2.      Keterampilan menjelaskan
Dalam kaitan dengan kegiatan belajar mengajar- mengajar, menjelaskan berarti mengorganisasikan materi pelajaran dalam tata urutan yang terencana secara sistematis, sehingga dengan mudah dapat dipahami oleh siswa. Keterampilan dalam menjelaskan materi atau bahan ajar pada proses pembelajaran sangat dibutuhkan oleh seorang pendidik (guru), karena betapapun pandainya seorang guru dalam menguasai suatu materi, akan sia-sia saja apabila ia kurang atau tidak mampu menguasai keterampilan menjelaskan bahan pelajaran yang dikuasainya. Tujuan dari menjelaskan adalah:
a.       Membimbing siswa memahami berbagai konsep, hukum, prinsip atau prosedur.
b.      Membimbing siswa menjawab pertanyaan mengapa secara bernalar
c.       Melibatkan siswa untuk berpikir
d.      Mendorong murid menghayati berbagai proses penalaran.
Terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan guru dalam memberikan suatu penjelasan, yaitu:
Penjelasan dapat diberikan pada awal, tengah, ataupun akhir pelajaran sesuai dengan keperluan.
a.       Penjelasan harus relevan dengan tujuan.
b.      Materi yang dijelaskan harus bermakna
c.       Penjelasan yang diberikan sesuai degan kemampuan dan latar belakang siswa.
3.      KETERAMPILAN BERTANYA
Dalam sebuah proses pembelajaran, bertanya memiliki peranan utama dalam meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berpikir siswa. Oleh karena itu, guru harus mampu membuat pertanyaan yang baik dan bermutu. Tujuan bertanya dalam suatu kegiatan pembelajran, bukan saja hanya untuk mengetahui tingkat kemampuan yang dimiliki oleh siswa, tetapi yang lebih pentinga adalah, dapat mendorong siswa untuk ikut berpastisipasi aktif dalam suatu kegiatan pembelajaran. Keterampilan bertanya meliputi 2 bagian yaitu, keterampilan bertanya dasar dan keterampilan bertanya lanjutan.
a.       Keterampilan bertanya dasar Keterampilan bertanya dasar mempunyai beberapa kemampuan dasar yang perlu diterapkan dalam mengajukan segala jenis pertanyaan.
Keterampilan bertanya dasar memilik beberapa komponen, yaitu:
  • Pengungkapan pertanyaan secara jelas dan singkat, memudahkan murid untuk memahaminya.
  • Pemusatan perhatian, kadang-kadang guru perlu memulai pertanyaan dengan cakupan yang luas, kemudian memusatkanperhatian murid pada satu tugas yang lebih sempit.
  • Penyebaran pertanyaan, yang diajukan kepada murid, hendaknya ditujukan ke seluruh kelas, bukan kepada murid tertentu. Setelah memberikan waktu sejenak untuk berpikir, barulah guru menunjuk secara acak murid lain untuk menanggapi jawaban temannya
  • Pemindahan giliran. Satu pertanyaan yang kompleks dapat dijawab oleh beberapa murid, sehingga semua aktif untuk memikirkan pertanyaan yang diberikan.
  • Pemberian waktu berpikir. Setelah mengajukan pertanyaan, guru hendaknya memberikan kesempatan kepada murid untuk berpikir, sebelum menjawab.
  • Pemberian tuntunan. Jika pertanyaan guru tidak dapat dijawab oleh murid, guru hendaknya memberikan tuntunan.
b.      Keterampilan bertanya lanjutan
Keterampilan bertanyan lanjut dibentuk atas dasar penguasaan komponen-komponen keterampilan bertanya dasar. Adapun komponen-komponen yang terdapat pada keterampilan bertanya lanjut adalah sebagai berikut:
  • Mengubah tuntutan tingkat kognitif dalam dalam menjawab pertanyaan, yaitu dari tingkat yang paling rendah (mengingat) ke tingkat yang tinggi, seperti memahami, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi.
  • Pengaturan urutan pertanyaan, yaitu mulai pertanyaanyang paling sederhana diikuti dengan yang kompleks, sampai kepada pertanyaan yang paling kompleks.
  • Penggunan pertanyaan pelacak dengan berbagai tekhnik seperti:
    • mengulangi pertanyaan sendiri atau pertanyaan siswa
    • menjawab pertanyaan sendiri
    • menunjuk dulu sebelum bertanya
    • mengajukan pertanyaan yang mengundang jawaban serempak
    • mengajukan pertanyaan ganda

4.      Keterampilan mengadakan variasi
Mengadakan variasi berarti melakukan tindakan yang beraneka ragam yang dapat membuat sesuatu iotu menjadi tidak monoton didalam pembelajaran, sehingga dapat menghilangkan kebosanan, meningkatkan minat dan rasa ingin tahiu siswa, serta membuat tingkat aktifitas siswa menjadi bertambah. Variasi dalam kegiatan belajar-mengajar dibagi kedalam 3 kelompok, yaitu:

Variasi dalam gaya mengajar, yang dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti:
  1. Variasi suara: rendah, tinggi, besar, kecil
  2. .Memusatkan perhatian
  3. Membuat kesenyapan sejenak
  4. Mengadakan kontak pandang
  5. Variasi gerakan badan dan mimik, dan
  6. Mengubah posisi, misalnya dari depan kelas ke tengah atau ke belakang kelas.
Variasi dalam penggunaan dalam media dan bahan pelajaran, yang meliputi:
  1. Variasi alat dan bahan yang bisa dilihat
  2. Variasi alat dan bahan yang dapat didengar, serta
  3. Variasi alat dan bahan yang dapat diraba dan dimanipulasi
Variasi dalam pola interaksi dan kegiatan
Pola interaksi dapat berbentuk: klasikal, kelompok, dan perorangan sesuai dengan keperluan, sedangkan variasi kegiatan dapat berupa mendengarkan informasi, menelaah materi, diskusi, latihan, atau demonstrasi. Tujuan dan manfaat mengadakan variasi adalah:
a.       Memelihara dan meningkatkan perhatian siswa terhadap materi dan aktifitas pembelajaran.
b.      Terciptanya proses pembelajaran yang menarik dan menyenangkan bagi siswa.
c.       Menghilangkan kejenuhan dan kebosanan sebagai akibat dari kegiatan yang bersifat rutinitas
d.      Meningkatkan kemungkinan berfungsinya motivasi rasa ingin tahu melalui kegiatan investigasi dan eksplorasi.
5.      Keterampilan memberikan penguatan
Penggunaan penguatan dalam proses belajar mengajar memiliki pengaruh yang positif terhadap proses belajar peserta didik dan bertujuan untuk menumbuhkan rasa percaya diri, meningkatkan motivasi, minat dan perhatian siswa terhadap pembelajaran, membangkitkan dan memelihara perilaku, dan iklim belajar yang kondusif sehingga siswa dapat belajar secaa optimal.
Keterampilan memberikan penguatan terdiri dari beberapa komponen, antara lain:
a.       Penguatan verbal
Berupa komentar yang berupa kata-kata pujian, dukungan, pengakuan, dorongan yang dipergunakan untuk menguatkan tingkah laku dan penampilan siswa.
b.      Penguatan non-verbal
1)      Penguatan berupa mimic dan gerakan badan
2)      Penguatan dengan cara mendekati
3)      Penguatan dengan sentuhan
4)      Penguatan dengan kegiatan yang menyenangkan
5)      Penguatan berupa symbol atau benda


6.      Keterampilan mengelola kelas
Keterampilan manajemen kelas menduduki posisi penting dalam menentukan keberhasilan kegiatan pembelajaran. Dengan demikian keterampilan manajemen kelas sangat krusial dan fundamental dalam mendukung proses pembelajaran.
Keterampilan mengelola kelas adalah: keterampilan seorang pendidik (guru) dalam meningkatkan sumber daya kelas demi terciptanya pembelajaran yang efektif dan efisien. Secara garis besar keterampilan mengelola kelas dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu (1). Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal, (2). Keterampilan yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang optimal.
7.      Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perseorangan
Dalam pengajaran kelompok kecil dan perserongan memungkinkan guru memberikan perhatian terhadap setiap siswa serta terjadinya hubungan yang lebih akrab antara guru dengan siswa. Ada 4 komponen yang terdapa dalam keterampilan mengajar kelompok kecil dan perserongan, antara lain:
a.       Keterampilan mendekatkan diri secara pribadi
b.      Keterampilan mengorganisasi
c.       Keterampilan membimbing dan memudahkan pelajaran
d.      Keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
8.      Keterampilan Memimpin Diskusi Kelompok Kecil
Memimpin diskusi kelompok kecil adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan berbagai pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan, atau pemecahan masalah. Ada 6 keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam memimpin diskusi kelompok kecil, yaitu:
a.       Memussatkan perhatian siswa pada materi diskusi
b.      Memperjelas masalah urunan pendapat
c.       Menganalisa pandangan siswa
d.      Meningkatkan urunan siswa
e.       Menyebarkan kesempatan berpastisipasi
f.        Menutup diskusi

No comments:

Post a Comment