A. Pengertian micro teaching
Secara etimologis, micro teaching berasal dari
dua kata yaitu micro berarti kecil, terbatas, sempit dan teaching
berarti pembelajaran. Secara terminologis, micro teaching adalah
redaksi yang berbeda-beda namun mempunyai subtansi makna yang sama.
Berikut pengertian micro teaching menurut para ahli:
- Menurut cooper and Allen(1971), pengajaran mikro (microteaching) merupakan salahsatubentukmodelpraktekkependidikanataupelatihanmengajar.
- Menurut Jensen (dalam Yatiman ,1999), pengajaran Micro sebagai suatu sistem yang memungkinkan seorang calon guru mengembangkan ketrampilannya dalam menerapkan teknik mengajar tertentu.
- Mc. Laughlin dan Moulton (1975) yang menjelaskan bahwa “microteaching is as performance training method to isolate the component parts of the teaching process, so that the trainee can master each component one by one in a simplified teaching situation” (pembelajaran mikro pada intinya adalah suatu pendekatan atau model pembelajaran untuk melatih penampilan/ keterampilan mengajar guru melalui bagian demi bagian dari setiap keterampilan dasar)
- A. Perlberg (1984) menjelaskan bahwa “micro teaching is a laboratory training procedure aimed at simplifyng the complexities of regular teaching-learning processing” (pembelajaran mikro pada dasarnya adalah sebuah laboratorium untuk lebih menyederhanakan proses latihan kegiatan belajar mengajar/pembelajaran).
- Sugeng Paranto (1980) menjelaskan bahwa pembelajaran mikro merupakan salah satu cara latihan praktek mengajar yang dilakukan dalam proses belajar mengajar yang di “mikro” kan untuk membentuk mengembangkan keterampilan mengajar.
Dari beberapa uraian diatas dapat
simpulkan bahwa, micro teaching adalah suatu strategi yang telah
dimodifikasi secara khusus untuk memberikan pelatihan mengajar terhadap
para calon pendidik (guru) dengan tujuan untuk mengembangkan keterampilan dasar
mengajar seorang calon pendidik, dalam bentuk pengajaran mikro (skala kecil),
dengan menyederhanakan atau memperkecil aspek pembelajarannya seperti jumlah
murid, waktu dan materinya, sehingga para calon pendidik dapat memahami
kelebihan dan kelemahan yang dimilikinya, serta dapat memperbaiki kelemahan dan
mengembangkan kemampuan tersebut agar dapat menjadi seorang pendidik (guru)
yang professional.
Aspek-aspek pembelajaran yang
dimaksud adalah dalam segi:
1.
Jumlah murid
Jumlah murid pada suatu pembelajaran mikro tentu
berbeda dengan jumlah murid pada system pembelajaran makro. Dalam pembelajaran
mikro, jumlah murid disederhanakan atau diperkecil menjadi 5-10 orang.
2.
Alokasi waktu
Demikian juga dengan waktu mengajar.
Dalam pembelajaran makro (real teaching), waktu mengajar berkisar dari
45-90 menit, namun pada pembelajaran mikro waktu mengajar disederhakan atau
diperpendek menjadi 5-10 menit.
3.
Materi/bahan ajar
Materi atau
bahan ajar dalam pembelajaran mikro hanya mencakup 1-2 aspek yang telah
disederhanakan.
B. Tujuan micro
teaching
Tujuan pengajaran micro teaching dapat dibagi
menjadi 2 bagian yaitu, tujuan umum dan tujuan khusus.
- Tujuan umum
Tujuan micro teaching menurut beberapa ahli adalah
sebagai berikut:
- Menurut Rostiyah, tujuan micro teaching adalah untuk mempersiapkan calon guru menghadapi pekerjaan sepenuhnya dimuka kelas dengan memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap sebagai seorang guru professional.
- Dwight Allen mengemukakan, bahwa tujuan pembelajaran mikro adalah:
·
Bagi siswa calon guru
–
Memberikan pengalaman belajar yang nyata dan latihan sejumlah keterampilan
dasar mengajar secara terpisah.
– Calon
guru dapat mengembangkan keterampilan mengajarnya sebelum mereka terjun kekelas
yang sebenarnya.
– Memberikan
kemungkinan bagi calon guru untuk menguasai beberapa keterampilan dasar
mengajar serta memahami kapan dan bagaimana keterampilan itu diterapkan,
sehingga calon guru mampu menciptakan proses pembelajaran yang efektif, efisen
dan menarik.
·
Bagi guru
– Memberikan
penyegaran dalam program pendidikan.
– Guru
mendapatkan pengalaman belajar mengajar yang bersifat individual demi
perkembangan profesinya.
– Mengembangkan
sikap terbuka bagi guru pembaharuan yang yang berlangsung dipranata pendidikan.
Adapun tujuan umum dari micro teaching adalah,
mengembangkan atau meningkatkan keterampilan dasar mengajar yang dimiliki oleh
seorang calon pendidik (guru), sehingga mereka memiliki kesiapan diri untuk
mengajar disuatu lembaga pendidikan (sekolah), dan dalam konteks mengajar yang
sesungguhnya.
2. Tujuan khusus
Secara khusus, micro teaching memiliki tujuan
yaitu:
–
Calon guru mampu menganalisis tingkah laku pembelajaran kawannya dan dirinya
sendiri.
– Calon
guru mampu melaksanakan berbagai jenis keterampilan dalam proses pembelajaran.
– Calon
guru mampu mewujudkan situasi pembelajaran yang efektif, produktif, dan
efisien.
– Calon guru mampu bertindak profesional
C. Delapan
Keterampilan dasar mengajar
Untuk menjadi seorang tenaga
pendidik (guru) yang professional, tentunya guru harus memiliki keterampilan
dasar mengajar, guna tercapainya suatu proses pembelajaran yang efektif,
efisien dan menarik. Ada beberapa keterampilan dasar mengajar yang harus
dimiliki oleh seorang pendidik (guru), yaitu:
1.
Keterampilan membuka dan
menutup pelajaran
Membuka pelajaran merupakan kegiatan
awal yang harus dilakukan oleh seorang guru, sebelum memasuki materi atau inti
dari sebuah pembelajaran. Hal ini bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik
(siswa) untuk mengikuti proses pembelajaran yang meliputi, mental peserta
didik, menciptakan suasana komunikatif antara pendidik (guru) dengan peserta
didik, dan menimbulkan perhatian peserta didik kepada materi yang akan
dipelajari.
Aktivitas awal yang dilakukan oleh
seorang pendidik (guru), serta kalimat-kalimat pembuka yang diucapkan guru
adalah faktor utama dalam menentukan keberhasilan jalannya seluruh proses
pembelajaran. Suatu proses pembelajaran dikatakan berhasil apabila tujuan
proses pembelajaran tersebut dapat tercapai dengan maksimal. Tujuan
pembelajaran dapat tercapai tergantung pada strategi pengajaran yang disiapkan
guru pada awal pembelajaran.
Seluruh rencana dan persiapan
sebelum mengajar dapat menjadi tidak berguna jika guru tidak berhasil
memfokuskan perhatian dan minat siswa pada pelajaran. Oleh karena itu, hal-hal
yang perlu dilakukan oleh seorang guru pada awal pembelajaran adalah,
menciptakan suasana agar siswa secara mental, fisik, pshikis, dan emosional
terpusat pada kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan. Hal tersebut dapat
dilakukan guru dengan cara cara-cara sebagai berikut:
1) Memfokuskan perhatian
dan membangkitkan minat siswa
Pada awal
proses pembelajaran, pikiran siswa belum dapat terfokus dengan baik pada materi
dan proses pembelajaran. Hal ini disebabkan karena masih banyak aktifitas-aktifitas
diluar kelas yang megganggu perhatian siswa.
Untuk dapat
mengatasi masalah tersebut, seorang guru haru mampu menetapkan titik hubungan
antara siswa itu sendiri dengan materi yang akan disampaikan, guru harus mampu
membangkitkan semangat dan keaktifan belajara siswa, guru harus dapat
menghubungkan antara materi yang akan disampaikan dengan minat dan kebutuhan
siswa.
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh guru dalam
memfokuskan perhatian dan membangkitkan minat siswa:
o Mengaitkan materi dengan berita-berita
terkini
o Menyampaikan cerita
o Menggunakan alat bantu/media
o Memvariasikan gaya mengajar
o Menyinggung tentang tugas-tugas yang
dilakukan siswa
o Mengandaikan persoalan
2) Menimbulkan motivasi
Menimbulkan motivasi dapat dilakukan dengan berbagai
cara:
o Memberikan kehangatan dan menunjukan
sikap antusias
Guru harus menunjukan sikap yang ramah, antusias,
bersahabat dan penuh keakraban dengan peserta didiknya.
o Menimbulkan rasa ingin tahu
Rasa ingin tahu siswa dapat distimulus dengan
menunjukkan gambar, mendemonstrasikan sesuatu, menceritakan sesuatu kejadian
yang berkaitan dengan materi yang akan disampaikan.
o Mengemukakan ide yang
bertentangan
Seorang pendidik harus bisa
mengutarakan pendapat atau ide-ide yang bertentangan serta mengutarakan
probelema-problema atau situasi yang berbeda dengan dengan kenyataan
sehari-hari.
3)
Memberi acuan
Memberi acuan merupakan usaha mengemukakan secara
spesifik dan singkat serangkaian alternative yang memungkinkan siswa memperoleh
gambaran yang jelas mengenai hal-hal yang akan dipelajari dan cara yang akan
hendak ditempuh dalam mempelajari materi pembelajaran. Adapun cara-cara yang
dapat dilakukan guru adalah:
o Menjelaaskan tujuan pembelajaran
o Menyampaikan garis besar pembelajaran
o Menjelaskan langkah-langkah pembelajaran
4) Mengaitkan pelajaran
yang telah dipelajari dengan topic baru
Pelaarn dalam pertemuan sebelumnya harus diulang
secara ringkas untuk dikaitkan dengan pelajaran yang baru. Contoh usaha guru
dalam mengaitkan adalah:
o Meninjau kembali sampai sejauh mana
siswa dapat memahami pelajaran yang sudah dipelajari sebelumnya.
o Membandingkan pengetahuan yang telah
dimiliki siswa dengan materi yang akan disampaikan.
Sedangkan keterampilan dalam menutup pelajaran adalah
kegiatan yang dilakukan guru untuk mengakhiri kegiatan pembelajaran. Hal-hal
yang perlu dilakukan oleh guru untuk mengakhiri pembelajaran adalah swbagai
berikut:
–
Melakukan tinjauan kembali pada materi yang telah disampaikan, dengan cara
membuat rangkuman atau ringkasan mengenai materi yang telah dijelaskan.
–
Mengadakan evaluasi seberapa jauh pemahaman siswa terhadap materi yang telah
disampaikan dengan cara menyuruh siswa untuk, mendemonstrasikan keterampilan
yang telah dipahaminya, menerapkan ide-ide baru pada situais lain,
mengekspresikan pendapat sendiri, dan guru dapat memberikan soal-soal tertulis
dalam bentuk uraian.
–
Memberikan tindak lanjut yaitu dalam bentuk, pekerjaan rumah, merancang sesuatu
atau berkunjung kesuatu tempat.
2.
Keterampilan menjelaskan
Dalam kaitan dengan kegiatan belajar
mengajar- mengajar, menjelaskan berarti mengorganisasikan materi pelajaran
dalam tata urutan yang terencana secara sistematis, sehingga dengan mudah dapat
dipahami oleh siswa. Keterampilan dalam menjelaskan materi atau bahan ajar pada
proses pembelajaran sangat dibutuhkan oleh seorang pendidik (guru), karena
betapapun pandainya seorang guru dalam menguasai suatu materi, akan sia-sia
saja apabila ia kurang atau tidak mampu menguasai keterampilan menjelaskan
bahan pelajaran yang dikuasainya. Tujuan dari menjelaskan adalah:
a.
Membimbing siswa memahami berbagai konsep, hukum,
prinsip atau prosedur.
b.
Membimbing siswa menjawab pertanyaan mengapa secara
bernalar
c.
Melibatkan siswa untuk berpikir
d.
Mendorong murid menghayati berbagai proses penalaran.
Terdapat beberapa prinsip yang harus
diperhatikan guru dalam memberikan suatu penjelasan, yaitu:
Penjelasan dapat diberikan pada
awal, tengah, ataupun akhir pelajaran sesuai dengan keperluan.
a.
Penjelasan harus relevan dengan tujuan.
b.
Materi yang dijelaskan harus bermakna
c.
Penjelasan yang diberikan sesuai degan kemampuan dan
latar belakang siswa.
3.
KETERAMPILAN BERTANYA
Dalam sebuah proses pembelajaran,
bertanya memiliki peranan utama dalam meningkatkan pengetahuan dan kemampuan
berpikir siswa. Oleh karena itu, guru harus mampu membuat pertanyaan yang baik
dan bermutu. Tujuan bertanya dalam suatu kegiatan pembelajran, bukan saja hanya
untuk mengetahui tingkat kemampuan yang dimiliki oleh siswa, tetapi yang lebih
pentinga adalah, dapat mendorong siswa untuk ikut berpastisipasi aktif dalam
suatu kegiatan pembelajaran. Keterampilan bertanya meliputi 2 bagian yaitu,
keterampilan bertanya dasar dan keterampilan bertanya lanjutan.
a.
Keterampilan bertanya dasar Keterampilan bertanya
dasar mempunyai beberapa kemampuan dasar yang perlu diterapkan dalam mengajukan
segala jenis pertanyaan.
Keterampilan bertanya dasar memilik beberapa komponen, yaitu:
- Pengungkapan pertanyaan secara jelas dan singkat, memudahkan murid untuk memahaminya.
- Pemusatan perhatian, kadang-kadang guru perlu memulai pertanyaan dengan cakupan yang luas, kemudian memusatkanperhatian murid pada satu tugas yang lebih sempit.
- Penyebaran pertanyaan, yang diajukan kepada murid, hendaknya ditujukan ke seluruh kelas, bukan kepada murid tertentu. Setelah memberikan waktu sejenak untuk berpikir, barulah guru menunjuk secara acak murid lain untuk menanggapi jawaban temannya
- Pemindahan giliran. Satu pertanyaan yang kompleks dapat dijawab oleh beberapa murid, sehingga semua aktif untuk memikirkan pertanyaan yang diberikan.
- Pemberian waktu berpikir. Setelah mengajukan pertanyaan, guru hendaknya memberikan kesempatan kepada murid untuk berpikir, sebelum menjawab.
- Pemberian tuntunan. Jika pertanyaan guru tidak dapat dijawab oleh murid, guru hendaknya memberikan tuntunan.
b.
Keterampilan bertanya lanjutan
Keterampilan bertanyan lanjut
dibentuk atas dasar penguasaan komponen-komponen keterampilan bertanya dasar. Adapun
komponen-komponen yang terdapat pada keterampilan bertanya lanjut adalah
sebagai berikut:
- Mengubah tuntutan tingkat kognitif dalam dalam menjawab pertanyaan, yaitu dari tingkat yang paling rendah (mengingat) ke tingkat yang tinggi, seperti memahami, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi.
- Pengaturan urutan pertanyaan, yaitu mulai pertanyaanyang paling sederhana diikuti dengan yang kompleks, sampai kepada pertanyaan yang paling kompleks.
- Penggunan pertanyaan pelacak dengan berbagai tekhnik seperti:
- mengulangi pertanyaan sendiri atau pertanyaan siswa
- menjawab pertanyaan sendiri
- menunjuk dulu sebelum bertanya
- mengajukan pertanyaan yang mengundang jawaban serempak
- mengajukan pertanyaan ganda
4.
Keterampilan mengadakan
variasi
Mengadakan variasi berarti melakukan
tindakan yang beraneka ragam yang dapat membuat sesuatu iotu menjadi tidak
monoton didalam pembelajaran, sehingga dapat menghilangkan kebosanan,
meningkatkan minat dan rasa ingin tahiu siswa, serta membuat tingkat aktifitas
siswa menjadi bertambah. Variasi dalam kegiatan belajar-mengajar dibagi kedalam
3 kelompok, yaitu:
Variasi dalam gaya mengajar, yang dapat dilakukan
dengan berbagai cara seperti:
- Variasi suara: rendah, tinggi, besar, kecil
- .Memusatkan perhatian
- Membuat kesenyapan sejenak
- Mengadakan kontak pandang
- Variasi gerakan badan dan mimik, dan
- Mengubah posisi, misalnya dari depan kelas ke tengah atau ke belakang kelas.
Variasi dalam penggunaan dalam media dan bahan
pelajaran, yang meliputi:
- Variasi alat dan bahan yang bisa dilihat
- Variasi alat dan bahan yang dapat didengar, serta
- Variasi alat dan bahan yang dapat diraba dan dimanipulasi
Variasi dalam pola interaksi dan kegiatan
Pola interaksi dapat berbentuk:
klasikal, kelompok, dan perorangan sesuai dengan keperluan, sedangkan variasi
kegiatan dapat berupa mendengarkan informasi, menelaah materi, diskusi,
latihan, atau demonstrasi. Tujuan dan manfaat mengadakan variasi adalah:
a. Memelihara
dan meningkatkan perhatian siswa terhadap materi dan aktifitas pembelajaran.
b. Terciptanya
proses pembelajaran yang menarik dan menyenangkan bagi siswa.
c. Menghilangkan
kejenuhan dan kebosanan sebagai akibat dari kegiatan yang bersifat rutinitas
d. Meningkatkan
kemungkinan berfungsinya motivasi rasa ingin tahu melalui kegiatan investigasi
dan eksplorasi.
5.
Keterampilan memberikan
penguatan
Penggunaan penguatan dalam proses belajar mengajar
memiliki pengaruh yang positif terhadap proses belajar peserta didik dan
bertujuan untuk menumbuhkan rasa percaya diri, meningkatkan motivasi, minat dan
perhatian siswa terhadap pembelajaran, membangkitkan dan memelihara perilaku,
dan iklim belajar yang kondusif sehingga siswa dapat belajar secaa optimal.
Keterampilan memberikan penguatan
terdiri dari beberapa komponen, antara lain:
a.
Penguatan verbal
Berupa komentar yang berupa
kata-kata pujian, dukungan, pengakuan, dorongan yang dipergunakan untuk
menguatkan tingkah laku dan penampilan siswa.
b.
Penguatan non-verbal
1)
Penguatan berupa mimic dan gerakan badan
2)
Penguatan dengan cara mendekati
3)
Penguatan dengan sentuhan
4)
Penguatan dengan kegiatan yang menyenangkan
5)
Penguatan berupa symbol atau benda
6.
Keterampilan mengelola kelas
Keterampilan manajemen kelas
menduduki posisi penting dalam menentukan keberhasilan kegiatan pembelajaran.
Dengan demikian keterampilan manajemen kelas sangat krusial dan fundamental
dalam mendukung proses pembelajaran.
Keterampilan mengelola kelas adalah:
keterampilan seorang pendidik (guru) dalam meningkatkan sumber daya kelas demi
terciptanya pembelajaran yang efektif dan efisien. Secara garis besar
keterampilan mengelola kelas dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu (1).
Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi
belajar yang optimal, (2). Keterampilan yang berhubungan dengan pengendalian
kondisi belajar yang optimal.
7.
Keterampilan mengajar kelompok
kecil dan perseorangan
Dalam pengajaran kelompok kecil dan
perserongan memungkinkan guru memberikan perhatian terhadap setiap siswa serta
terjadinya hubungan yang lebih akrab antara guru dengan siswa. Ada 4 komponen
yang terdapa dalam keterampilan mengajar kelompok kecil dan perserongan, antara
lain:
a.
Keterampilan mendekatkan diri secara pribadi
b.
Keterampilan mengorganisasi
c.
Keterampilan membimbing dan memudahkan pelajaran
d.
Keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan
belajar mengajar.
8.
Keterampilan Memimpin
Diskusi Kelompok Kecil
Memimpin
diskusi kelompok kecil adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan
sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan berbagai
pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan, atau pemecahan masalah. Ada
6 keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam memimpin diskusi
kelompok kecil, yaitu:
a.
Memussatkan perhatian siswa pada materi diskusi
b.
Memperjelas masalah urunan pendapat
c.
Menganalisa pandangan siswa
d.
Meningkatkan urunan siswa
e.
Menyebarkan kesempatan berpastisipasi
f.
Menutup diskusi
No comments:
Post a Comment