Monday, November 13, 2017

Prinsip Perencanaan



A.    Pengertian Perencanaan Pembelajaran Bahasa
Perencanaan pembelajaran terdiri dari dua kata, yaitu kata perencanaan dan kata pembelajaran. Perencanaan berasal dari kata  rencana yaitu pengambilan keputusan  tentang apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan. Dengan demikian proses perencanaan harus dimulai dari penetapan tujuan yang akan dicapai melalui analisis kebutuhan serta dokumen yang lengkap, kemudian menetapkan langkah-langkah yang yang harus dilakukan untuk mencapau tujuan tersebut.
Menurut Ely (1979), perencanaan adalah suatu proses dan cara berpikir yang dapat membantu menciptakan hasil yang diharapkan Sedangkan pembelajaran adalah proses kerja sama antara guru dan siswa dalam memanfaatkan segala potensi dan sumber yang ada, baik potensi yang bersumber dari dalam diri siswa maupun potensi yang ada di luar diri siswa sebagai upaya untuk mencapai tujuan belajar tertentu. Maka dapat disimpulkan bahwa perencanaan pembelajaran adalah proses pengambilan keputusan hasil berpikir secara rasional tentang sasaran dan tujuan pembelajaran tertentu, yakni perubahan tingkah laku serta rangkaian kegiatan yang harus dilaksanakan sebagai upaya pencapaian tujuan dengan memanfaatkan segala potensi dan sumber belajar yang ada. Berdasarkan keterangan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa perencanaan pembelajaran bahasa Arab adalah proses pengambilan keputusan hasil berpikir secara rasional tentang sasaran dan tujuan pembelajaran bahasa Arab sebagai upaya pencapaian tujuan. dengan memanfaatkan segala potensi dan sumber belajar. Sebagai suatu proses kerja sama, maka guru dan siswa secara bersama-sama berusaha mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Dengan demikian,  kesadaran dan keterpahaman guru dan siswa akan tujuan yang harus dicapai merupakan syarat mutlak yang tidak bisa ditawar.

B.     Berbagai Perspektif Konsep Perencanaan Sistem Pembelajaran
Konsep perencanaan pembelajaran dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, yaitu:
1.      Perencanaan pembelajaran sebagai teknologi adalah suatu perencanaan yang mendorong penggunaan teknik-teknik yang dapat mengembangkan tingkah laku kognitif dan teori-teori konstruktif terhadap solusi dan problem-problem pengajaran.
2.      Perencanaan pembelajaran sebagai suatu sistem adalah sebuah susunan dari sumber-sumber dan prosedur-prosedur untuk menggerakan pembelajaran. Pengembangan sistem pembelajaran melalui proses yang sistematik selanjutnya diimplementasikan dengan mengacu pada sistem perencanaan itu.
3.      Perencanaan pembelajaran sebagai sebuah disiplin adalah cabang dari pengetahuan yang senantiasa memperhatikan hasil-hasil penelitian dan teori tentang strategi pembelajaran dan implementasinya terhadap strategi tersebut.
4.      Perencanaan pembelajaran sebagai sains (sciene) adalah mengkreasi secara detail spesifikasi dari pengembangan, implementasi, evaluasi dan pemeliharaan akan situasi dan fasilitas pembelajaran terhadap unit-unit yang luas ataupun yang lebih sempit dari materi pelajaran dengan segala tingkatan kompleksitasnya.
5.       Perencanaan pembelajaran sebagai sebuah proses adalah pengembangan pembelajaran secara sistematik yang digunakan secara khusus atas dasar teori-teori pembelajaran dan pembelajaran untuk menjamin kualitas pembelajaran. Dalam perencanaan ini dilakukan analisis kebutuhan dari proses belajar dengan alur yang sistematik untuk mencapai tujuan pembelajaran. Termasuk di dalamnya melakukan evaluasi terhadap materi pelajaran dan aktivitas-aktivitas pengajaran.
6.      Perencanaan pembelajaran sebagai sebuah realitas adalah ide pembelajaran dikembangkan dengan memberikan hubungan pembelajaran dari waktu ke waktu dalam suatu proses yang dikerjakan perencana dengan mengecek secara cermat bahwa semua kegiatan telah sesuai dengan tuntutan sains dan dilaksanakan secara sistematik.
C.    Tujuan perencanaan sistem
Suatu perencanaan pastilah memiliki tujuan karena sebuah rencana disusun untuk mengusahakan bagaimana tujuan yang diinginkan dapat tercapai semaksimal mungkin.
Perencanaan sistem pengajaran memberikan panduan bagi pendidik untuk melaksanakan tugas dalam melayani kebutuhan belajar peserta didik. Perencanaan tersebut sebagai langkah awal sebelum proses pembelajaran berlangsung. Dalam pembelajaran bahasa seluruh peserta didik disesuaikan dengan tingkatannya. Dari hal tersebut, diharapkan peserta didik dapat memahami dan mengaplikasikan seluruh maharah dengan semua kompleksitas tingkat kesulitannya. Tujuan dari perencnaan sistem pengajaran bahasa adalah sebagai berikut:
1.      Perencanaan tersebut sebagai petunjuk arah kegiatan pembelajaran dalam mencapai tujuan.
2.      Perencanaan digunakan sebagai pola dasar dalam mengatur setiap unsur dalam pembelajarandalam setiap maharah, seperti metode, tahapan pembelajaran serta strategi.
3.      Perencanaan merupakan pedoman kerja bagi setiap unsur pembelajaran.
4.       Perencanaan memuat alat ukur efektif sehingga pembelajaran dapat terevaluasi selama prosesnya berlangsung.
5.      Perencanaan dapat digunakan untuk menyususn data dan informasi keberlangsungan pembelajaran sehingga terjdi kesinambungan antara perencanaan yang disusun dengan proses pembelajaran yang berlangsung.
Dari tujuan tersebut perencanaan sistem pembelajaran dapat terhindarkan dari duplikasi pemberian materi sehingga pemnyajian materi relevan dengan komptensi yang ingin dicapai. Konsistensi kompetensi dapat terukur dengan efektif melalui penyajian yang berlangsung dalam siklus perencanaan pembelajaran yang sistematis tersebut. Konsistensi tersebut dapat jga dilihat dari evaluasi atau laporan hasil nelajar berdasarkan kompetensi yang disajikan dengan kompetensi yang dirumuskan dalam tujuan pembelajaran.
Tujuan perencanaan sistem pembelajaran dari referensi yang lain adalah sebagai berikut:
1.      Tercapainya tujuan pembelajaran.
2.      Mempersiapkan proses pembelajaran agar dapat berlangsung secara terarah dan teratur sehingga hasil belajar lebih maksimal.
3.      Guru dapat mendesain pembelajaran sesuai dengan jenjang dan kebutuhan.
4.      Siswa dapat menerima materi pembelajaran sesuai dengan jenjang pendidikan yang ia tempuh.
5.      Guru dapat memprediksi seberapa besar keberhasilan yang akan dicapai.

D.    Dimensi Perencanaan Sistem Pembelajaran
Menurut Harjanto (1997:5) memungkinkan diadakannya perencanaan komprehensif yang menalar dan efesien, yakni:
1.      Signifikan
            Signifikan dapat diartikan sebagai kebermaknaan. Nilai signifikansi artinya, adalah bahwa perencanaan pembelajaran hendaknya bermakna dalam proses pembelajaran agar  proses tersebut dapat berjalan efektif dan efisien.
Oleh sebab itu, hendaknya guru berpedoman pada perencanaan yang telah disusun ketika proses pembelajaran.


2.      Relevansi
            Relevan artinya sesuai. Nilai relevansi dalam perencanaan adalah perencanaan yang kita susun memiliki nilai kesesuaian baik dengan kurikulum yang berlaku atau pun dengan kebutuhan siswa. Semua itu diperlukan karena perencanaan pembelajaran pada hakikatnya disusun untuk membantu siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran siswa.
3.      Adaptabilitas
Perencanaan yang disusun hendaknya bersifat lentur dan tidak kaku. Sebaiknya perencanaan pembelajarn disusun untuk dapat diimplementasikan dalam berbagai keadaan dan berbagai kondisi. Dengan demikian, perencanaan itu dapat digunakan oleh setiap orang yang akan menggunakannya.
4.      Kesederhanaan
Perencanaan pembelajaran harus bersifat sederhana, artinya harus mudah diterjemahkan dan diimplementasikan. Perencanaan yang sulit diterjemahkan dan diimplementasikan tidak akan berfungsi sebagai pedoman untuk gurudalam pengelolaan pembelajaran.
5.      Prediktif
Perencanaan pembelajaran yang baik harus memiliki daya ramal yang kuat, artinya perencanaan dapat menggambarkan “apa yang akan terjadi seandainya......”. daya ramal ini sangat penting untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang akan terjadi, dengan demikian akan mudah bagi guru untuk mengantisipasinya.
6.      Feasibilitas
            Maksudnya perencanaan harus disusun berdasarkan pertimbangan realitas baik yang berkaitan dengan baiya maupun pengimplementasiannya.
7.      Kepastian
            Konsep kepastian minimum diharapkan dapat mengurangi kejadian-kejadian yang tidak terduga. Nilai kepastian itu bermakna bahwa dalam perencanaan pembelajaran yang berfungsi sebagai pedoman dalam proses penyelenggaraan pembelajaran, tidak lagi memuat alternatif-alternatif yang bisa dipilih, akan tetapi berisi langkah-langkah pasti yang dapat dilakukan secara sistematis. Dengan kepastian itulah, kita akan terhindar dari persoalan-persoalan yang mungkin muncul secara tidak terduga.
8.      Ketelitian
            Prinsip utama yang harus diperhatikan ialah agar perencanaan pengajaran disusun dalam bentuk yang sederhana, serta perlu diperhatikan secara teliti kaitan-kaitan yang pasti terjadi antara berbagai komponen.
9.      Waktu
Kaitannya yaitu selain keterlibatan perencanaan dalam mempredeksi masa depan, juga validitasi dan reliabilitas analisis yang dipakai serta kapan untuk menilai kebutuhan kependidikan masa kini dalam kaitannya dengan masa
10.  Monitoring (pemantauan)
            Merupakan proses mengembangkan kriteria untuk menjamin bahwa berbagai komponen bekerja secara efektif.
11.  Isi Perencanaan
Isi perencanaan merujuk pada hal-hal yang akan direncanakan. Perencanaan pegajaran yang baik memuat:
a.       Tujuan apa yang diinginkan, atau bagaimana cara mengorganisasi aktvitas belajar dan layanan-layanan pendukungnya.
b.      Program dan layanan
c.       Tenaga manusia, yakni mencakup cara-cara mengembangkan prestasi, spesialisasi, perilaku, kompetensi maupun kepuasan mereka.
d.      Keuangan, meliputi rencana pengeluaran dan penerimaan.
e.       Bangunan fisik mencakup tentang cara-cara penggunaan pola distribusi dan kaitannya dengan pengembagan psikologis.
f.        Strktur organiasai, maksudnya bagaimana cara mengorganisasi dan manajemen dan pengawasan  program dan aktivitas kependidikan yang direncanakan.
g.      Konteks sosial ataupun elemen-elemen lainnya yang perlu diperetimbangkan dalam perencanaan pembelajaran.

No comments:

Post a Comment