Friday, October 7, 2016

KAJIAN MAKNA DALAM BIDANG SEMANTIK



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pendidikan Bahasa Indonesia sekarang ini dapat diibaratkan seperti mobil tua yang mesinnya rewel dan sedang melintasi jalur lalu lintas di jalan bebas hambatan. Betapa tidak, pada satu sisi dunia pendidikan Bahasa Indonesia saat ini dirundung masalah yang besar dan pada sisi lain tantangan menghadapi milenium ketiga semakin besar. Dari aspek kualitas, pendidikan Bahasa Indonesia kita memang sungguh sangat memprihatinkan dibandingkan dengan kualitas pendidikan bangsa lain.
Sejalan dengan berkembangnya zaman perkembangan bahasa pun juga ikut berkembang dan mengalami pergeseran-pergeseran makna. Pergeseran makna bahasa memang tidak dapat dihindari. Atas dasar itu, tidak mengherankan dalam beberapa tahun terakhir ini di Indonesia muncul berbagai kata yang memiliki banyak makna baru. Meski demikian makna yang melekat terlebih dahulu tidak serta merta hilang begitu saja. Perubahan makna suatu kata yang terjadi, terkadang hampir tidak disadari oleh pengguna bahasa itu sendiri. Untuk itu perlu bagi kita mengetahui dan memahami ilmu kebahasaan secara utuh.

B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini yaitu “Bagaimana kajian makna dalam Semantik?”.


1
 
C.  Tujuan Penulisan
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk memberikan pengetahuan mengenai kajian makna dalam bidang semantik.

D.  Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini, yaitu dapat dijadikan sebagai bahan kajian belajar sehingga penulis serta pembaca dapat lebih memahami semantik.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Semantik
Kata “Semantik” pertama kali digunakan oleh seorang filolog Perancis bernama Michel Breal pada tahun 1883. Michel Breal memuat sebuah tulisan dalam sebuah jurnal klasik:
Suatu studi yang mengundang pembaca untuk mengikuti kami adalah barang baru yang belum pernah diberi nama. Memang, ilmu itu mengenai batang tubuh dan bentuk kata-kata sebagaimana yang banyak dikerjakan oleh para linguis: hukum yang menguasai perubahan makna, pemilihan bentuk-bentuk pengungkapan baru, lahir dan matinya bentuk ungkapan(idiom), telah ditinggalkan dalam gelap atau hanya secara kasual saja ditunjukkan, karena studi yang tidak kurang pentingnya dari fonetik dan morfologi ini perlu memunyai nama, maka kami akan menyebutnya semantik, yaitu ilmu tentang makna”(dalam Sumarsono 2009: 6-7).
Kata semantik dalam bahasa Indonesia (Inggris: Semantics) berasal bahasa Yunani sema artinya ‘tanda’ atau lambang kata kerjanya adalah semaino yang berarti menandai atau melambangkan. Yang dimaksud dengan tanda atau lambang sebagai padanan kata sema itu adalah tanda linguistik seperti yang dikemukakan oleh Ferdinan de Seassure (dalam Chaer 2009:2) yaitu yang terdiri dari komponen yang menggantikan yang berwujud bentuk-bentuk bunyi bahasa dan komponen yang diartikan atau makna dari komponen yang pertama itu.
3
Menurut Chaer (2009:2) kata semantik disepakati sebagai istilah yang digunakan untuk bidang linguistik yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya oleh karena itu kata semantik dapat diartikan sebagai ilmu tentang makna atau tentang arti, yaitu salah satu  dari tiga tataran analisis bahasa; fonologi, gramatika, dan semantik. Selain dari istilah semantik adapula yang digunakan istilah lain seperti semiotika, semiologi, semasiologi, semememik, dan semik untuk merujuk pada bidang studi yang mempelajari makna atau arti dari suatu arti atau lambang. Namun istilah semantik lebih umum digunakan dalam studi linguistik karena istilah-istilah yang lainnya itu mempunyai cakupan objek yang lebih luas; yakni mencakup makna tanda atau lambang pada umumnya. Termasuk tanda-tanda-tanda lalulintas, kode morse, tanda-tanda dalam ilmu matematika.
Dalam Kamus Linguistik (Kridalaksana 2008: 216) semantik adalah bagian struktur bahasa yang berhubungan dengan makna ungkapan dan juga dengan struktur makna suatu wicara: sistem dan penyelidikan makna dan arti dalam suatu bahasa atau bahasa pada umumnya.
Lehrer (dalam Pateda 2010: 6) menyatakan bahwa semantik adalah studi tentang makna. Menurut lehrer semantik merupakan bidang kajian yang sangat luas karena turut menyinggung aspek-aspek struktur dan fungsi bahasa sehingga dapat dihubungan dengan psikologi, filsafat, dan antropologi.
Pendapat yang berbunyi serupa juga dikemukakan oleh Kambartel (dalam Pateda 2010:7). Menurutnya semantik mengasumsikan bahwa bahasa terdiri dari struktur yang menampakkan makna apabila dihubungkan dengan objek dalam pengalaman dunia manusia.


B.     Pendekatan Makna
Makna dapat pula ditinjau dari pendekatan analitik atau referensial, yakni pendekatan yang mencari esensi makna dengan cara menguraikannya atas unsur-unsur utama.  Wittgenstein menyatakan pendapatnya di dalam buku Philosophical Investigation (dalam Djajasudarma 2009: 1)
Nida mengemukakan adanya pendekatan ekstensional dan intensional (dalam Djajasudarma 2009: 1). Pendekatan ekstensional adalah pendekatan yang memusatkan perhatian pada penggunaan kata di dalam konteks. pendekatan intensional adalah struktur-struktur konseptual yang berhubungan dengan satuan-satuan utama.

C.    Aspek Makna
Aspek makna menurut Palmer (dalam Djajasudarma 2009: 3) dapat dipertimbangkan dari fungsi, dan dapat dibedakan atas :
1.         Sense (pengertian)
Aspek makna pengertian ini dapat dicapai apabila antara pembicara/penulis dan kawan bicara berbahasa sama. Makna pengertian disebut juga tema, yang melibatkan ide atau pesan yang dimaksud. Di dalam berbicara dalam kehidupan sehari-hari kita mendengar kawan bicara menggunakan kata-kata yang mengandung idea tau pesan yang dimaksud. Misalnya tentang cuaca:
a.       Hari ini hujan
b.      Hari ini mendung

Di dalam komunikasi tersebut tentu ada unsur pendengar (ragam lisan) dan pembaca (ragam tulis), yang mempunyai pengertian yang sama terhadap satuan-satuan hari, ini,hujan, dan mendung.

2.         Feeling (perasaan)
Aspek makna perasaan berhubungan dengan sikap pembicaraan dengan situasi pembicaraan. Di dalam kehidupan sehari-hari kita selalu berhubungan dengan perasaan (misalnya sedih, panas, dingin, gembira, jengkel, gatal). Pada situasi bergembira, sebab ekspresi tersebut selalu muncul pada situasi kemalangan, atau kesedihan, misalnya bila ada yang meninggal dunia.

3.         Tone (nada)
Aspek makna nada ini melibatkan pembicara untuk memilih kata-kata yang sesuai dengan keadaan kawan bicara dan pembicara sendiri. Apakah pembicara telah mendengar pembicara berkelamin saran dengan pendengar, atau apakah latar belakang sosial ekonomi pembicara sama dengan pendengar, apakah pembicara berasal dari daerah yang sama dengan pendengar. Hubungan pembicara pendengar (kawan bicara) akan menentukan sikap yang akan tercermin di dalam kata-kata yang digunakan.
Contoh:
a.       kereta api dari Yogya sudah datang.
b.      Kereta api dari Yogya sudah datang?

4.         Intension (tujuan)
Apa yang kita ungkapkan di dalam makna aspek tujuan memiliki tujuan tertentu, misalnya dengan mengatakan “penipu kau !” tujuannya supaya kawan bicara mengubah kelakuan (tindakan) yang tidak diinginkan tersebut.

D.    Jenis Makna
Berikut ini akan diuraikan beberapa jenis makna menurut Djajasudarma (2009: 7-20) antara lain:
1.      Makna Sempit
Kridalaksana (2008), memberikan penjelasan bahwa makna sempit (specialised meaning, narrowed meaning) adalah makna ujaran yang lebih sempit daripada makna pusatnya; misalnya, makna kepala dalam kepala batu. Selanjutnya, Djajasudarma menjelaskan bahwa kata-kata bermakna luas di dalam bahasa Indonesia disebut juga makna umum (generik) digunakan untuk mengungkapkan gagasan atau ide yang umum. Gagasan atau ide yang umum bila dibubuhi rincian gagasan atau ide, maka maknanya akan menyempit (memiliki makna sempit), seperti pada contoh: pakaian dengan pakaian wanita.
2.      Makna Luas
Makna luas (widened meaning atau extended meaning) adalah makna yang terkandung pada sebuah kata lebih luas dari yang diperkirakan. Dengan pengertian yang hampir sama, Kridalaksana (1993: 133) memberikan penjelasan bahwa makna luas (extended meaning, situational meaning) adalah makna ujaran yang lebih luas daripada makna pusatnya; misalnya makna sekolah pada kalimat Ia bersekolah lagi di sekolah. yang lebih luas dari makna ‘gedung tempat belajar’.
3.      Makna Kognitif
Makna kognitif disebut juga makna deskriptif atau denotatif adalah makna yang menunjukkan adanya hubungan antara konsep dengan dunia kenyataan. Makna kognitif adalah makna lugas, makna apa adanya. Makna kognitif tidak hanya dimiliki kata-kata yang menunjuk benda-benda nyata, tetapi mengacu pula pada bentuk-bentuk yang makna kognitifnya khusus (Djajasudarma). Makna kognitif sering digunakan dalam istilah teknik. Seperti telahdisebutkan bahwa makna kognitif disebut juga makna deskriptif, makna denotatif, dan makna kognitif konsepsional. Makna ini tidak pernah dihubungkan dengan hal-hal lain secara asosiatif, makna tanpa tafsiran hubungan dengan benda lain atau peristiwa lain. Makna kognitif adalah makna sebenarnya, bukan makna kiasan atau perumpamaan.
4.      Makna Konotatif dan Emotif
Makna kognitif dapat dibedakan dari makna konotatif dan emotif berdasarkan hubungannya, yaitu hubungan antara kata dengan acuannya (referent) atau hubungan kata dengan denotasinya (hubungan antara kata (ungkapan) dengan orang, tempat, sifat, proses, dan kegiatan luar bahasa; dan hubungan antara kata (ungkapan) dengan ciri-ciri tertentu yang bersifat konotatif atau emotif.
Makna konotatif adalah makna lain yang ditambahkan pada makna denotative yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Misalnya, kata babi, pada orang yang beragama Islam kata babi tersebut mempunyai konotasi negatif, ada rasa atau perasaan yang tidak enak bila mendengar kata tersebut. Contoh lain, kata kurus, berkonotasi netral, artinya tidak memiliki nilai rasa yang mengenakkan. Tetapi kata ramping, yang bersinonim dengan kata kurus memiliki konotasi positif, nilai rasa yang mengenakkan, orang akan senang bila dikatakan ramping. Begitu juga dengan kata kerempeng, yang juga bersinonim dengan kata kurus dan kata ramping, mempunyai konotasi yang negatif, nilai rasa yang tidak mengenakkan, orang akan merasa tidak enak kalau dikatakan tubuhnya kerempeng.
5.      Makna Referensial
Makna referensial (referential meaning) adalah makna unsure bahasa yang sangat dekat hubungannya dengan dunia di luar bahasa (objek atau gagasan), dan yang dapat dijelaskan oleh analisi komponen; juga disebut denotasi; lawan dari konotasi (Kridalaksana, 2008).
Sebuah kata atau leksem disebut bermakna referensial kalau ada referentnya, atau acuannya. Kata-kata seperti kuda, merah, dan gambar adalah termasuk kata-kata yang bermakna referensial karena ada acuannya dalam dunia nyata. Sebaliknya, kata-kata seperti dan, atau, dan karena adalah termasuk katakata yang tidak bermakna referensial, karena kata-kata itu tidak mempunyai referent.
6.      Makna Kontruksi
Makna konstruksi (bahasa Inggris construction meaning) adalah makna yang terdapat di dalam konstruksi. Misalnya, makna milik yang diungkapkan dengan urutan kata di dalam bahasa Indonesia. Di samping itu, makna milik dapat diungkapkan melalui enklitik sebagai akhiran yang menunjukkan kepunyaan. Contoh-contoh yang diberikan Djajasudarma mengenai makna konstruksi ini antara lain:
a.       Itu buku saya
b.      Saya baca buku saya
c.       Perempuan itu ibu saya
7.      Makna Leksikal dan Makna Gramatikal
Makna leksikal (bahasa Inggris lexical meaning, semantic meaning, exsternal meaning) adalah makna unsur-unsur bahasa sebagai lambang benda, peristiwa, dan lain-lain. Makna leksikal ini dimiliki unsur-unsur bahasa secara tersendiri, lepas dari konteks.
8.      Makna Idesional
Makna idesional dijelaskan Djajasudarma (1993), makna idesional (bahasa Inggris ideational meaning) adalah makna yang muncul sebagai akibat penggunaan kata yang berkonsep atau ide yang terkandung di dalam satuan katakata, baik bentuk dasar maupun turunan. Kata partisipasi mengandung makna idesional ‘aktivitas maksimal seseorang yang ikut serta di dalam suatu kegiatan (sumbangan keaktifan)’. Dengan makna idesional yang terkandung di dalamnya kita dapat melihat paham yang terkandung di dalam makna suatu kata.
9.      Makna Proposisi
Makna proposisi (bahasa Inggris propositional meaning) adalah makna yang muncul bila kita membatasi pengertian tentang sesuatu. Kata-kata dengan makna proposisi dapat kita lihat di bidang matematika, atau di bidang eksaktra. Makna proposisi mengandung pula saran, hal, rencana, yang dapat dipahami melalui konteks (Djajasudarma). Di bidang eksakta, terutama matematika kita kenal dengan apa yang disebut sudut siku-siku makna proposisinya adalah sembilan puluh derajat (900).
10.  Makna Pusat
Kridalaksana (2008) memberikan arti makna pusat (central meaning) adalah makna kata yang umumnya dimengerti bilamana kata itu diberikan tanpa konteks. Makna pusat disebut juga makna tak berciri. Makna pusat (bahasa Inggris central meaning) adalah makna yang dimiliki setiap kata yang menjadi inti ujaran. Setiap ujaran, baik klausa, kalimat, maupun wacana, memiliki makna yang menjadi pusat (inti) pembicaraan. Makna pusat dapat hadir pada konteksnya atau tidak hadir pada konteks.
11.  Makna Piktorial
Makna piktorial adalah makna suatu kata yang berhubungan dengan perasaan pendengar atau pembaca. Misalnya, pada situasi makan kita berbicara tentang sesuatu yang menjijikan dan menimbulkan perasaan jijik bagi si pendengar, sehingga ia menghentikan kegiatan (aktivitas) makan (Djajasudarma, 1993). Perasaan muncul segera setelah mendengar atau membaca sesuatu ekspresi yang menjijikkan, atau perasaan benci. Perasaan dapat pula berupa perasaan gembira, di samping perasaan-perasaan lainnya yang pernah atau setiap saat dapat kita alami.
12.  Makna Idiomatik
Kridalaksana (2008) menyebutnya dengan makna kiasan (transferred meaning, figurative meaning) adalah pemakaian kata dengan makna yang tidak sebenarnya. Selanjutnya, Djajasudarma (2009) memberikan pengertian makna idiomatik adalah makna leksikal yang terbentuk dari beberapa kata. Kata-kata yang disusun dengan kombinasi kata lain dapat pula menghasilkan makna yang berlainan. Sebagian idiom merupakan bentuk beku (tidak berubah), artinya kombinasi kata-kata dalam idiom berbenntuk tetap. Bentuk tersebut tidak dapat diubah berdasarkan kaidah sintaksis yang berlaku bagi suatu bahasa. Makna idiomatik didapat di dalam ungkapan dan peribahasa.

E.     Tipe Makna
Tipe makna adalah kajian makna berdasarkan tipenya. Tipe adalah pengelompokan sesuatu berdasarkan kesamaan objek, kesamaan ciri atau sifat yang dimiliki benda, hal, peristiwa atau aktivitas lainnya. Tipe-tipe makna dikemukakan oleh Leech (dalam Djajasudarma 2009: 21), yang membagi tipe makna menjadi tiga bagian yaitu:
1.      Makna Konseptual
2.      Makna Asosiatif
3.       Makna Tematis. Makna tematis adalah makna yang muncul sebagai akibat penyapa memberi penekanan atau fokus pembicaraan pada salah satu bagian kalimat.
 Serta lima bagian makna yang termasuk tipe  asosiatif, yakni 

      1. Makna Konotatif
      2. Makna Stilistika
      3. Makna Afektif
      4. Makna Refleksif
      5. Makna Kolokatif


F.     Stilistika dan Majas
Makna stilistika adalah makna yang berhubungan dengan situasi sosial para penutur bahasa. Stilistika di dalam bahasa Inggris Stylistics adalah cabang dari linguistik yang mempelajari ciri-ciri pembeda secara situasional sebagai varietas bahasa, dan stalistika mencoba menyusun prinsip-prinsip yang dipertimbangkan untuk pilihan tertentu, disusun oleh individu atau kelompok sosial dalam menggunakan bahasanya.
 Stilistika dapat bervariasi didalam bahasa Inggris, antara lain :
1. Stilistika yangv berhubungan dengan gaya-gaya tetap
2. Wacana
3. Stilistika berhubungan dengan gaya bahasa yang dihubungkan dengan waktu.
Jenis majas yang terpenting adalah 
1. majas perbandingan 
2. majas pertentangan
3. majas pertautan

G.    Aspek, Kala, Nomina Temporal, dan Modus
1. Aspek
Aspek adalah cara memandang struktur temporal intern suatu situasi (Comrie. dalam Djajasudarma 2009: 32). Situasi dapat berupa keadaan, peristiwa, dan proses, seperti dikemukakan terdahulu. keadaan sifatnya statis, sedangkan peristiwa dan proses bersifat dinamis. peristiwa dikatakan dinamis jika dipandang secara keseluruhan, dan sifatnya dinamis jika dipandang sedang berlangsung.
2. Kala dan Nomina Temporal
     Berbagai cara dimiliki oleh bahasa-bahasa untuk menyatakan waktu secara deiktis. Kala (tense) adalah satu cara untuk menyatakan temporal deiktis di samping nomina temporal, seperti sekarang, baru-baru ini, segera, hari ini, kemarin. Bahasa -bahasa Indo-Eropa memiliki kala di samping nomina temporal untuk menyatakan temporal deiktis.
3.Aspek, Kala, dan Nomina Temporal
   Ketiga unsur (aspek, kala, NTE) memiliki hubungan yang erat. Keaspekan, kala, dan NTE berbeda dalam hal : aspek berhubungan erat dengan macam perbuatan (situasi), tidak mempersoalkan tempatnya di dalam waktu, sedangkan kala dan NTE menunjukkan terjadinya suatu perbuatan. Ketiga unsur tersebut termasuk struktur temporal, dapat membatasi situasi secara deiktik temporal.
4. Modus
   Seperti dinyatakan terdahulu bahwa modus adalah istlah linguistik yang menyatakan makna verba mengungkapkan suasana kejiawaan sehubungan dengan perbuatan menurut tafsiran pembicara atau sikap pembicara tentang apa yang diucapkannya. Modus (M) dibedakan dari modalitas (istilah linguistik untuk klasifikasi pernyataan menurut logika, yang menyungguhkan, mengingkari, kemungkinan, keharusan, dan sebagainya).
5. Modalitas dan Keaspekan sebagai Komponen Ketransitifan
Komponen yang terdapat dalam tiap parameter memiliki makna sebagai berikut :
a.        Partisipan
b.      Kinesis
c.       Keaspekan
d.      Pungtualitas
e.       Kesengajaan
f.        Pengukuhan
g.      Modalitas
h.      peran pelaku
i.        akibat
j.        penkhususan

6. Deiksis (Penunjukan)
Penunjukan atau deiksis adalah lokasi dan identifikasi orang, objek, peristiwa, proses atau kegiatan yang sedang dibicarakan atau yang sedang diacu dalam hubungannya dengan dimensi ruang dan waktunya, pada saat dituturkan oleh pembicara atau yang diajak bicara (Lyons, dalam Djajasudarma 2009: 51). Upaya penunjukan dapat berupa:
a.       pronomina orangan (persona)
b.      nama diri
c.       pronomina demonstrasi (penunjuk)
d.      kala






BAB III
PENUTUP

A.    Simpulan
Adapun simpulan dari pembahasan makalah di atas, yaitu semantik merupakan objek kajian linguistik yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya. Hal yang perlu dipahami dalam pembahasan mengenai kajian makna ini yaitu: aspek makna, jenis-jenis makna, tipe makna, aspek, kala, nominal temporal, dan modus

B.    Saran
Sebagaimana kita ketahui bahwa ilmu tentang semantik sangatlah diperlukan dalam kehidupan sehari- hari. Maka dari itu saya sarankan kepada para pembaca semua agar terus mempelajari semantik. Karena semantik mempunyai banyak manfaat, khususnya dalam kegiatan pembelajaran.
16
Di sini penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna, sehingga kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan penulisan makalah-makalah selanjutnya sangat diharapkan.

No comments:

Post a Comment