|
|
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pendidikan
Bahasa Indonesia sekarang ini dapat diibaratkan seperti mobil tua yang mesinnya
rewel dan sedang melintasi jalur lalu lintas di jalan bebas hambatan. Betapa
tidak, pada satu sisi dunia pendidikan Bahasa Indonesia saat ini dirundung
masalah yang besar dan pada sisi lain tantangan menghadapi milenium ketiga
semakin besar. Dari aspek kualitas, pendidikan Bahasa Indonesia kita memang
sungguh sangat memprihatinkan dibandingkan dengan kualitas pendidikan bangsa
lain.
Sejalan
dengan berkembangnya zaman perkembangan bahasa pun juga ikut berkembang dan
mengalami pergeseran-pergeseran makna. Pergeseran makna bahasa memang tidak
dapat dihindari. Atas dasar itu, tidak mengherankan dalam beberapa tahun terakhir ini
di Indonesia muncul berbagai kata yang memiliki banyak makna baru. Meski
demikian makna yang melekat terlebih dahulu tidak serta merta hilang begitu
saja. Perubahan makna suatu kata yang terjadi, terkadang hampir tidak disadari
oleh pengguna bahasa itu sendiri. Untuk itu perlu bagi kita mengetahui dan
memahami ilmu kebahasaan secara utuh.
B. Rumusan
Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah
ini yaitu “Bagaimana kajian makna dalam
Semantik?”.
|
1
|
C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk memberikan pengetahuan mengenai kajian makna dalam bidang
semantik.
D. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari
penulisan makalah ini, yaitu dapat dijadikan sebagai
bahan kajian belajar sehingga penulis
serta pembaca dapat lebih memahami semantik.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Semantik
Kata “Semantik” pertama kali digunakan oleh seorang
filolog Perancis bernama Michel Breal pada tahun 1883. Michel Breal memuat sebuah tulisan dalam sebuah
jurnal klasik:
“Suatu studi yang mengundang
pembaca untuk mengikuti kami adalah barang baru yang belum pernah diberi nama.
Memang, ilmu itu mengenai batang tubuh dan bentuk kata-kata sebagaimana yang
banyak dikerjakan oleh para linguis: hukum yang menguasai perubahan makna,
pemilihan bentuk-bentuk pengungkapan baru, lahir dan matinya bentuk
ungkapan(idiom), telah ditinggalkan dalam gelap atau hanya secara kasual saja
ditunjukkan, karena studi yang tidak kurang pentingnya dari fonetik dan
morfologi ini perlu memunyai nama, maka kami akan menyebutnya semantik, yaitu ilmu tentang
makna”(dalam Sumarsono 2009: 6-7).
Kata semantik dalam bahasa Indonesia (Inggris: Semantics) berasal
bahasa Yunani sema artinya ‘tanda’ atau lambang kata kerjanya adalah semaino
yang berarti menandai atau melambangkan. Yang dimaksud dengan tanda atau
lambang sebagai padanan kata sema itu
adalah tanda linguistik seperti yang dikemukakan oleh Ferdinan de Seassure (dalam
Chaer 2009:2) yaitu yang terdiri dari komponen yang menggantikan yang berwujud
bentuk-bentuk bunyi bahasa dan komponen yang diartikan atau makna dari komponen
yang pertama itu.
|
3
|
Dalam
Kamus Linguistik (Kridalaksana 2008:
216) semantik adalah bagian struktur bahasa yang
berhubungan dengan makna ungkapan dan juga dengan struktur makna suatu wicara:
sistem dan penyelidikan makna dan
arti dalam suatu bahasa atau bahasa pada umumnya.
Lehrer (dalam Pateda 2010: 6) menyatakan bahwa semantik adalah studi
tentang makna. Menurut lehrer semantik merupakan bidang kajian yang sangat luas
karena turut menyinggung aspek-aspek struktur dan fungsi bahasa sehingga dapat
dihubungan dengan psikologi, filsafat, dan antropologi.
Pendapat yang berbunyi serupa juga dikemukakan oleh Kambartel (dalam Pateda
2010:7). Menurutnya semantik mengasumsikan bahwa bahasa terdiri dari struktur
yang menampakkan makna apabila dihubungkan dengan objek dalam pengalaman dunia
manusia.
B. Pendekatan Makna
Makna dapat pula ditinjau dari pendekatan analitik atau
referensial, yakni pendekatan yang mencari esensi makna dengan cara
menguraikannya atas unsur-unsur utama. Wittgenstein menyatakan
pendapatnya di dalam buku Philosophical
Investigation (dalam Djajasudarma
2009: 1)
Nida mengemukakan adanya
pendekatan ekstensional dan intensional (dalam Djajasudarma 2009: 1). Pendekatan
ekstensional adalah pendekatan yang memusatkan perhatian pada penggunaan kata
di dalam konteks. pendekatan intensional adalah struktur-struktur konseptual
yang berhubungan dengan satuan-satuan utama.
C. Aspek Makna
Aspek makna menurut Palmer (dalam Djajasudarma 2009: 3)
dapat dipertimbangkan dari fungsi, dan dapat dibedakan atas :
1.
Sense
(pengertian)
Aspek makna pengertian ini dapat
dicapai apabila antara pembicara/penulis dan kawan bicara berbahasa sama. Makna
pengertian disebut juga tema, yang melibatkan ide atau pesan yang dimaksud. Di
dalam berbicara dalam kehidupan sehari-hari kita mendengar kawan bicara
menggunakan kata-kata yang mengandung idea tau pesan yang dimaksud. Misalnya
tentang cuaca:
a.
Hari
ini hujan
b.
Hari
ini mendung
Di dalam komunikasi tersebut tentu
ada unsur pendengar (ragam lisan) dan pembaca (ragam tulis), yang mempunyai
pengertian yang sama terhadap satuan-satuan hari, ini,hujan, dan mendung.
2.
Feeling
(perasaan)
Aspek makna perasaan berhubungan dengan sikap pembicaraan
dengan situasi pembicaraan. Di dalam kehidupan sehari-hari kita selalu
berhubungan dengan perasaan (misalnya sedih, panas, dingin, gembira, jengkel,
gatal). Pada situasi bergembira, sebab ekspresi tersebut selalu muncul pada
situasi kemalangan, atau kesedihan, misalnya bila ada yang meninggal dunia.
3.
Tone
(nada)
Aspek makna nada ini melibatkan
pembicara untuk memilih kata-kata yang sesuai dengan keadaan kawan bicara dan
pembicara sendiri. Apakah pembicara telah mendengar pembicara berkelamin saran
dengan pendengar, atau apakah latar belakang sosial ekonomi pembicara sama
dengan pendengar, apakah pembicara berasal dari daerah yang sama dengan
pendengar. Hubungan pembicara pendengar (kawan bicara) akan menentukan sikap
yang akan tercermin di dalam kata-kata yang digunakan.
Contoh:
a. kereta
api dari Yogya sudah datang.
b. Kereta
api dari Yogya sudah datang?
4.
Intension
(tujuan)
Apa yang kita ungkapkan di dalam makna aspek tujuan
memiliki tujuan tertentu, misalnya dengan mengatakan “penipu kau !” tujuannya
supaya kawan bicara mengubah kelakuan (tindakan) yang tidak diinginkan
tersebut.
D. Jenis Makna
Berikut ini
akan diuraikan beberapa jenis makna menurut
Djajasudarma (2009: 7-20) antara lain:
1.
Makna
Sempit
Kridalaksana
(2008),
memberikan penjelasan bahwa makna sempit (specialised meaning, narrowed
meaning) adalah makna ujaran yang lebih sempit daripada makna pusatnya;
misalnya, makna kepala dalam kepala batu. Selanjutnya,
Djajasudarma menjelaskan bahwa kata-kata bermakna luas di dalam bahasa
Indonesia disebut juga makna umum (generik) digunakan untuk mengungkapkan
gagasan atau ide yang umum. Gagasan atau ide yang umum bila dibubuhi rincian
gagasan atau ide, maka maknanya akan menyempit (memiliki
makna sempit), seperti pada contoh: pakaian dengan pakaian wanita.
2.
Makna
Luas
Makna luas (widened meaning atau extended meaning)
adalah makna yang terkandung pada sebuah kata lebih luas dari yang
diperkirakan. Dengan pengertian yang hampir sama, Kridalaksana (1993: 133)
memberikan penjelasan bahwa makna luas (extended meaning, situational meaning)
adalah makna ujaran yang lebih luas daripada makna pusatnya; misalnya makna
sekolah pada kalimat Ia bersekolah lagi di sekolah. yang lebih
luas dari makna ‘gedung tempat belajar’.
3.
Makna
Kognitif
Makna kognitif disebut juga makna deskriptif atau
denotatif adalah makna yang menunjukkan adanya hubungan antara konsep dengan
dunia kenyataan. Makna kognitif adalah makna lugas, makna apa adanya. Makna
kognitif tidak hanya dimiliki kata-kata yang menunjuk benda-benda nyata, tetapi
mengacu pula pada bentuk-bentuk yang makna kognitifnya khusus (Djajasudarma).
Makna kognitif sering digunakan dalam istilah teknik. Seperti telahdisebutkan
bahwa makna kognitif disebut juga makna deskriptif, makna denotatif, dan makna
kognitif konsepsional. Makna ini tidak pernah dihubungkan dengan hal-hal lain
secara asosiatif, makna tanpa tafsiran hubungan dengan benda lain atau
peristiwa lain. Makna kognitif adalah makna sebenarnya, bukan makna kiasan atau
perumpamaan.
4.
Makna
Konotatif dan Emotif
Makna kognitif
dapat dibedakan dari makna konotatif dan emotif berdasarkan hubungannya, yaitu
hubungan antara kata dengan acuannya (referent) atau hubungan kata dengan
denotasinya (hubungan antara kata (ungkapan) dengan orang, tempat, sifat,
proses, dan kegiatan luar bahasa; dan hubungan antara kata (ungkapan) dengan
ciri-ciri tertentu yang bersifat konotatif atau emotif.
Makna
konotatif adalah makna lain yang ditambahkan pada makna denotative yang
berhubungan dengan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang menggunakan
kata tersebut. Misalnya, kata babi, pada orang yang beragama Islam kata babi
tersebut mempunyai konotasi negatif, ada rasa atau perasaan yang tidak enak
bila mendengar kata tersebut. Contoh lain, kata kurus, berkonotasi
netral, artinya tidak memiliki nilai rasa yang mengenakkan. Tetapi kata
ramping, yang bersinonim dengan kata kurus memiliki konotasi positif,
nilai rasa yang mengenakkan, orang akan senang bila dikatakan ramping.
Begitu juga dengan kata kerempeng, yang juga bersinonim dengan kata kurus
dan kata ramping, mempunyai konotasi yang negatif, nilai rasa yang
tidak mengenakkan, orang akan merasa tidak enak kalau dikatakan tubuhnya kerempeng.
5.
Makna
Referensial
Makna
referensial (referential meaning) adalah makna unsure bahasa yang sangat
dekat hubungannya dengan dunia di luar bahasa (objek atau gagasan), dan yang
dapat dijelaskan oleh analisi komponen; juga disebut denotasi; lawan dari
konotasi (Kridalaksana, 2008).
Sebuah
kata atau leksem disebut bermakna referensial kalau ada referentnya, atau
acuannya. Kata-kata seperti kuda, merah, dan gambar adalah
termasuk kata-kata yang bermakna referensial karena ada acuannya dalam dunia
nyata. Sebaliknya, kata-kata seperti dan, atau, dan karena adalah
termasuk katakata yang tidak bermakna referensial, karena kata-kata itu tidak
mempunyai referent.
6.
Makna
Kontruksi
Makna
konstruksi (bahasa Inggris construction meaning) adalah makna yang
terdapat di dalam konstruksi. Misalnya, makna milik yang diungkapkan dengan
urutan kata di dalam bahasa Indonesia. Di samping itu, makna milik dapat
diungkapkan melalui enklitik sebagai akhiran yang menunjukkan kepunyaan. Contoh-contoh yang diberikan Djajasudarma mengenai makna konstruksi
ini antara lain:
a. Itu buku saya
b.
Saya
baca buku saya
c.
Perempuan
itu ibu saya
7.
Makna
Leksikal dan Makna Gramatikal
Makna leksikal (bahasa Inggris lexical
meaning, semantic meaning, exsternal meaning) adalah makna unsur-unsur
bahasa sebagai lambang benda, peristiwa, dan lain-lain. Makna leksikal
ini dimiliki unsur-unsur bahasa secara tersendiri, lepas dari konteks.
8.
Makna
Idesional
Makna idesional dijelaskan Djajasudarma (1993), makna
idesional (bahasa Inggris ideational meaning) adalah makna yang muncul
sebagai akibat penggunaan kata yang berkonsep atau ide yang terkandung di dalam
satuan katakata, baik bentuk dasar maupun turunan. Kata partisipasi
mengandung makna idesional ‘aktivitas maksimal seseorang yang ikut serta di
dalam suatu kegiatan (sumbangan keaktifan)’. Dengan makna idesional yang
terkandung di dalamnya kita dapat melihat paham yang terkandung di dalam makna
suatu kata.
9.
Makna
Proposisi
Makna proposisi (bahasa Inggris propositional
meaning) adalah makna yang muncul bila kita membatasi pengertian tentang
sesuatu. Kata-kata dengan makna proposisi dapat kita lihat di bidang
matematika, atau di bidang eksaktra. Makna proposisi mengandung pula saran,
hal, rencana, yang dapat dipahami melalui konteks (Djajasudarma). Di bidang
eksakta, terutama matematika kita kenal dengan apa yang disebut sudut
siku-siku makna proposisinya adalah sembilan puluh derajat (900).
10. Makna Pusat
Kridalaksana (2008) memberikan arti makna pusat (central
meaning) adalah makna kata yang umumnya dimengerti bilamana kata itu
diberikan tanpa konteks. Makna pusat disebut juga makna tak berciri. Makna
pusat (bahasa Inggris central meaning) adalah makna yang dimiliki setiap
kata yang menjadi inti ujaran. Setiap ujaran, baik klausa, kalimat, maupun
wacana, memiliki makna yang menjadi pusat (inti) pembicaraan. Makna pusat dapat
hadir pada konteksnya atau tidak hadir pada konteks.
11. Makna Piktorial
Makna piktorial adalah makna suatu kata yang berhubungan
dengan perasaan pendengar atau pembaca. Misalnya, pada situasi makan kita
berbicara tentang sesuatu yang menjijikan dan menimbulkan perasaan jijik bagi
si pendengar, sehingga ia menghentikan kegiatan (aktivitas) makan
(Djajasudarma, 1993). Perasaan muncul segera setelah mendengar atau membaca
sesuatu ekspresi yang menjijikkan, atau perasaan benci. Perasaan dapat pula
berupa perasaan gembira, di samping perasaan-perasaan lainnya yang pernah atau
setiap saat dapat kita alami.
12. Makna Idiomatik
Kridalaksana (2008) menyebutnya dengan makna kiasan (transferred
meaning, figurative meaning) adalah pemakaian kata dengan makna yang tidak
sebenarnya. Selanjutnya, Djajasudarma (2009) memberikan pengertian makna idiomatik
adalah makna leksikal yang terbentuk dari beberapa kata. Kata-kata yang
disusun dengan kombinasi kata lain dapat pula menghasilkan makna yang berlainan.
Sebagian idiom merupakan bentuk beku (tidak berubah), artinya kombinasi
kata-kata dalam idiom berbenntuk tetap. Bentuk tersebut tidak dapat diubah
berdasarkan kaidah sintaksis yang berlaku bagi suatu bahasa. Makna idiomatik
didapat di dalam ungkapan dan peribahasa.
E. Tipe Makna
Tipe makna adalah kajian makna berdasarkan tipenya. Tipe
adalah pengelompokan sesuatu berdasarkan kesamaan objek, kesamaan ciri atau
sifat yang dimiliki benda, hal, peristiwa atau aktivitas lainnya. Tipe-tipe
makna dikemukakan oleh Leech (dalam Djajasudarma 2009: 21), yang membagi tipe
makna menjadi tiga bagian yaitu:
1.
Makna
Konseptual
2.
Makna
Asosiatif
3. Makna Tematis. Makna
tematis adalah makna yang muncul sebagai akibat penyapa memberi penekanan atau fokus pembicaraan pada salah satu
bagian kalimat.
Serta lima bagian
makna yang termasuk tipe asosiatif, yakni
1. Makna Konotatif
2. Makna Stilistika
3. Makna Afektif
4. Makna Refleksif
5. Makna Kolokatif
F. Stilistika dan Majas
Makna stilistika adalah makna yang berhubungan dengan
situasi sosial para penutur bahasa. Stilistika di dalam bahasa Inggris Stylistics
adalah cabang dari linguistik yang mempelajari ciri-ciri pembeda secara
situasional sebagai varietas bahasa, dan stalistika mencoba menyusun
prinsip-prinsip yang dipertimbangkan untuk pilihan tertentu, disusun oleh
individu atau kelompok sosial dalam menggunakan bahasanya.
Stilistika dapat bervariasi didalam bahasa
Inggris, antara lain :
1. Stilistika yangv berhubungan dengan gaya-gaya tetap
2. Wacana
3. Stilistika berhubungan dengan gaya bahasa yang dihubungkan dengan
waktu.
Jenis majas yang terpenting adalah
1. majas perbandingan
2. majas pertentangan
3. majas pertautan
G. Aspek, Kala, Nomina Temporal, dan Modus
1. Aspek
Aspek adalah cara memandang struktur temporal intern
suatu situasi (Comrie. dalam Djajasudarma 2009: 32). Situasi dapat berupa keadaan, peristiwa, dan proses, seperti
dikemukakan terdahulu. keadaan sifatnya statis, sedangkan peristiwa dan proses
bersifat dinamis. peristiwa dikatakan dinamis jika dipandang secara
keseluruhan, dan sifatnya dinamis jika dipandang sedang berlangsung.
2. Kala dan Nomina Temporal
Berbagai cara dimiliki oleh
bahasa-bahasa untuk menyatakan waktu secara deiktis. Kala (tense) adalah satu
cara untuk menyatakan temporal deiktis di samping nomina temporal, seperti
sekarang, baru-baru ini, segera, hari ini, kemarin. Bahasa -bahasa Indo-Eropa
memiliki kala di samping nomina temporal untuk menyatakan temporal deiktis.
3.Aspek, Kala, dan Nomina Temporal
Ketiga unsur (aspek, kala, NTE) memiliki
hubungan yang erat. Keaspekan, kala, dan NTE berbeda dalam hal : aspek
berhubungan erat dengan macam perbuatan (situasi), tidak mempersoalkan
tempatnya di dalam waktu, sedangkan kala dan NTE menunjukkan terjadinya suatu
perbuatan. Ketiga unsur tersebut termasuk struktur temporal, dapat membatasi
situasi secara deiktik temporal.
4. Modus
Seperti dinyatakan terdahulu bahwa modus
adalah istlah linguistik yang menyatakan makna verba mengungkapkan suasana
kejiawaan sehubungan dengan perbuatan menurut tafsiran pembicara atau sikap
pembicara tentang apa yang diucapkannya. Modus (M) dibedakan dari modalitas
(istilah linguistik untuk klasifikasi pernyataan menurut logika, yang
menyungguhkan, mengingkari, kemungkinan, keharusan, dan sebagainya).
5. Modalitas dan Keaspekan sebagai Komponen Ketransitifan
Komponen yang terdapat dalam tiap parameter memiliki
makna sebagai berikut :
a.
Partisipan
b.
Kinesis
c.
Keaspekan
d.
Pungtualitas
e.
Kesengajaan
f.
Pengukuhan
g.
Modalitas
h.
peran
pelaku
i.
akibat
j.
penkhususan
6. Deiksis (Penunjukan)
6. Deiksis (Penunjukan)
Penunjukan atau deiksis adalah lokasi dan identifikasi
orang, objek, peristiwa, proses atau kegiatan yang sedang dibicarakan atau yang
sedang diacu dalam hubungannya dengan dimensi ruang dan waktunya, pada saat
dituturkan oleh pembicara atau yang diajak bicara (Lyons, dalam Djajasudarma 2009: 51). Upaya penunjukan dapat berupa:
a.
pronomina
orangan (persona)
b.
nama
diri
c.
pronomina
demonstrasi (penunjuk)
d.
kala
BAB
III
PENUTUP
A.
Simpulan
Adapun simpulan dari pembahasan makalah di atas, yaitu semantik merupakan
objek kajian linguistik yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik
dengan hal-hal yang ditandainya. Hal yang perlu dipahami dalam pembahasan
mengenai kajian makna ini yaitu: aspek makna, jenis-jenis makna, tipe makna,
aspek, kala, nominal temporal, dan modus
B.
Saran
Sebagaimana
kita ketahui bahwa ilmu tentang semantik sangatlah diperlukan dalam kehidupan
sehari- hari. Maka dari itu saya sarankan kepada para pembaca semua agar terus
mempelajari semantik. Karena semantik mempunyai banyak manfaat, khususnya dalam
kegiatan pembelajaran.
|
16
|
No comments:
Post a Comment