Saturday, October 8, 2016

PEMBELAJARAN PENDEKATAN KOMUNIKATIF



BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Munculnya istilah pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa diilhami oleh suatu teori yang memandang bahasa sebagai alat berkomunikasi. Berdasarkan teori tersebut, maka tujuan pembelajaran bahasa dirumuskan sebagai ikhtisar untuk mengembangkan kemampuan yang oleh Hymes (11972) disebut kompetensi komunikatif.
Pendekatan komunikatif dalam pengajaran bahasa muncul pada tahun 1970-an sebagai reaksi terhadap empat aliran pembelajaran bahasa yang dianut sebelumnya (grammar translation method, direct method, audiolingual method, dan cognitive learning theory). Keempat metode itu memiliki ciri yang sama iaitu pembelajaran bahasa dalam bidang struktur bahasa yang disebut pembelajaran bahasa struktural atau pembelajaran bahasa yang berdasarkan pendekatan struktural.
Pendekatan struktural menitikberatkan pengajaran bahasa pada pengetahuan tentang kaidah bahasa (tatabahasa) yang biasanya disusun dari struktur yang sederhana ke struktur yang kompleks. Para pembelajar mula-mula diperkenalkan bunyi-bunyi, bnetuk-bentuk kata, struktur kalimat, kemudian makna unsur-unsur tersebut.
Kelemahan pendekatan struktural ialah tidak pernah memberikan kesempatan kepada pembelajar untuk berlatih menggunakan bahasa dalam situasi komunikasi yang nyata yang sesungguhnya lebih urgen dimiliki oleh para siswa ketimbang pengetahuan tentang kaidah-kaidah bahasa.
Kelemahan dari pendekatan struktural itulah mengilhami lahirnya pendekatan komunikatif yang menitikberatkan perhatian pada penggunaan bahasa dalam situasi komunikasi. Pendekatan komunikatif memberikan tekanan pada kebermaknaan dan fungsi bahasa. Dengan kata lain, bahasa untuk tujuan tertentu dalam kegiatan berkomunikasi.

B.       Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini yaitu “Bagaimana penerapan pendekatan komunikatif dalam pembelajaran prosa?”.

C.      Tujuan Penulisan
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk memberikan pengetahuan mengenai Hakikat pendekatan komunikatif, Pendekatan komunikatif dalam apresiasi sastra (prosa) dan Apresiasi pembelajaran prosa (cerita).

D.      Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini, yaitu dapat dijadikan sebagai bahan kajian belajar sehingga penulis serta pembaca dapat lebih memahami tentang pendekatan komunikatif dalam pembelajaran prosa.


















BAB II
PEMBAHASAN
A.      Hakikat Pendekatan Komunikatif
Pendekatan komunikatif adalah sistem pembelajaran yang menekankan pada aspek komunikasi, interaksi, dan mengembangkan kompetensi kebahasaan, serta keterampilan berbahasa (menyimak, membaca, menulis, berbicara) sebagai tujuan pembelajaran bahasa dan mengakui bahwa ada kaitannya dengan kegiatan komunikasi dalam kehidupan .
Pendekatan komunikatif adalah suatu pendekatan yang betujuan untuk membuat kompetensi komunikatif sebagai tujuan pembelajaran bahasa, juga mengembangkan prosedur-prosedur bagi pembelajaran empat keterampilan berbahasa, mengakui dan menghargai saling ketergantungan bahasa.
Ciri utamanya adalah adanya dua kegiatan yang saling berkaitan erat, yakni adanya kegiatan-kegiatan komunikasi fungsional dan kegiatan  yang sifatnya interaksi sosial. Kegiatan komunikasi fungsional terdiri dari mengolah informasi, berbagi dan mengolah informasi,berbagi informasi dengan kerja sama terbatas, dan berbagi infomasi dengan kerjasama tak terbatas. Sedangkan kegiatan interaksi sosial terdiri dari improfisasi, lakon-lakon pendek yang lucu, aneka simulasi, dialog dan bermain peran, sidang-sidang konversasi dan diskusi,serta berdebat.   Ciri-ciri tersebut jelas diperlihatkan beberapa perbedaan pokok antara pendekatan komunikatif dengan pendekatan yang dilakukan secara tradisional.
Munculnya istilah pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa diilhami oleh suatu teori yang memandang bahasa sebagai alat berkomunikasi. Berdasarkan teori tersebut, maka tujuan pembelajaran bahasa dirumuskan sebagai ikhtisar untuk mengembangkan kemampuan yang oleh Hymes (1972) disebut kompetensi komunikatif.
Pendekatan komunikatif dipandang sebagai pendekatan yang unggul dalam pengajaran bahasa. Keunggulan ini antara lain karena berdasarkan pada pandangan ilmu bahasa dan teori belajar bahasa yang mengutamakan pemakaian bahasa sesuai dengan fungsinya. Di samping itu, tujuan pengajaran bahasa dengan pendekatan komunikatif adalah membentuk komunikatif siswa. Artinya, melalui berbagai kegiatan pembelajaran diharapkan siswa menguasai kemampuan berkomunikasi yakni kemampuan menggunakan bentuk-bentuk tuturan sesuai dengan fungsi-fungsi bahasa dalam proses pemahaman maupun penggunaan.
Pendidikan sebagai institusi formal merupakan lingkungan yang kondusif dalam menumbuhkembangkan potensi kreatif siswa. Agar dapat tercipta kondisi yang demikian, pelaksanaan proses belajar-mengajar sedapat mungkin dipusatkan pada aktivitas belajar siswa yang secara langsung mengalami keterlibatan internal dan emosional dalam proses belajar-mengajar.
Pengajaran sastra berusaha mendekatkan siswa kepada sastra, berusaha menumbuhkan rasa peka dan rasa cinta kepada sastra sebagai suatu cipta seni. Dengan usaha ini, diharapkan pengajaran sastra dapat membantu menumbuhkan keseimbangan antara perkembangan kejiwaan anak, sehingga terbentuk suatu kebulatan pribadi yang utuh. Rahmanto mengemukakan bahwa “Pengajaran sastra dapat membantu pendidikan secara utuh apabila cakupannya meliputi empat manfaat, yaitu: membantu keterampilan membaca, meningkatkan pengetahuan budaya, mengembangkan cipta dan rasa, serta menunjang pembentukan watak ((1998:16).
Pernyataan di atas sejalan dengan GBPP bahasa Indonesia ada bertuliskan: “Siswa mampu menikmati, menghayati, memahami, dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan berbahasa”.
Memaknai isi GBPP, cerpen adalah salah satu bentuk sastra yang perlu diapresiasi oleh siswa SMP. Apresiasi cerpen di kalangan terpelajar merupakan suatu yang kehadirannya tidak boleh diabaikan. Hal ini terlihat dalam buku ajar siswa SMP pada standar kompetensi siswa mampu mengapresiasi puisi, cerpen, dan karya sastra Melayu Klasik
Pendekatan komunikatif perlu dipahami oleh setiap guru bahasa dan sastra Indonesia agar dapat menyusun perencanaan pengajaran, melaksanakan penyajian materi pelajaran, mengevaluasi hasil belajar dan proses pembelajaran dengan baik.
Pendekatan komunikatif dalam pengajaran bahasa muncul pada tahun 1970-an sebagai reaksi terhadap pembelajaran bahasa dalam bidang struktur bahasa yang disebut pembelajaran bahasa struktural atau pembelajaran bahasa yang berdasarkan pendekatan struktural.
Pendekatan struktural menitikberatkan pengajaran bahasa pada pengetahuan tentang kaidah bahasa (tatabahasa) yang biasanya disusun dari struktur yang sederhana ke struktur yang kompleks. Para pembelajar mula-mula diperkenalkan bunyi-bunyi, bentuk-bentuk kata, struktur kalimat, kemudian makna unsur-unsur tersebut.
Kelemahan pendekatan struktural ialah tidak pernah memberikan kesempatan kepada pembelajar untuk berlatih menggunakan bahasa dalam situasi komunikasi yang nyata yang sesungguhnya lebih urgen dimiliki oleh para siswa ketimbang pengetahuan tentang kaidah-kaidah bahasa.
Kelemahan dari pendekatan struktural itulah mengilhami lahirnya pendekatan komunikatif yang menitikberatkan perhatian pada penggunaan bahasa dalam situasi komunikasi. Pendekatan komunikatif memberikan tekanan pada kebermaknaan dan fungsi bahasa. Dengan kata lain, bahasa untuk tujuan tertentu dalam kegiatan berkomunikasi.
Selanjutnya, untuk memahami hakikat pendekatan komunikatif, menurut Syafi’ie (1998) ada delapan hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

a.        Teori Bahasa
Pendekatan komunikatif berdasarkan pada teori bahasa yang menyatakan bahwa pada hakikatnya bahasa itu merupakan suatu sistem untuk mengekspresikan makna. Teori ini lebih memberi tekanan pada dimensi semantik dan komunikatif. Oleh karena itu, dalam pembelajaran bahasa yang berdasarkan pendekatan komunikatif yang perlu ditonjolkan ialah interaksi dan komunikasi bahasa, bukan pengetahuan tentang bahasa.

b.        Teori Belajar
Pembelajar dituntut untuk melaksanakan tugas-tugas yang bermakna dan dituntut untuk menggunakan bahasa yang dipelajarinya. Teori belajar yang cocok untuk pendekatan ini ialah teori pemerolehan bahasa kedua secara alami. Teori ini beranggapan bahwa proses belajar bahasa lebih efektif apabila bahasa diajarkan secara informal melalui komunikasi langsung di dalam bahasa yang sedang dipelajari.

c.         Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai berdasarkan pendekatan komunikatif merupakan tujuan yang lebih mencerminkan kebutuhan siswa iaitu kebutuhan berkomunikasi, maka tujuan umum pembelajaran bahasa ialah mengembangkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi (kompetensi dan performansi).

d.        Silabus
Silabus disusun searah dengan tujuan pembelajaran, yang harus dipehatikan ialah kebutuhan para pembelajar. Tujuan-tujuan yang dirumuskan dan materi yang diilih harus sesuai dengan kebutuhan siswa.

e.         Tipe Kegiatan
Tipe kegiatan komunikasi dapat berupa kegiatan tukar informasi, negosiasi makna, atau kegiatan berinteraksi.

f.          Peranan Guru
Guru berperan sebagai fasilitator, konselor, dan manajer proses belajar.

g.        Peranan Siswa
Peranan siswa sebagai pemberi dan penerima, sebagai negosiator dan interaktor. Di samping itu, pelatihan yang langsung dapat mengembangkan kompetensi komunikatif pembelajar. Dengan demikian, siswa tidak hanya menguasai struktur bahasa, tetapi menguasai pula bentuk dan maknanya dalam kaitan dengan konteks pemakaiannya.





h.        Peranan Materi
Materi disusun dan disajikan dalam peranan sebagai pendukung usaha meningkatkan kemahiran berbahasa dalam tindak komunikasi yang nyata. Materi berfungsi sebagai sarana yang sangat penting dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
Berkenaan dengan penggunaan pendekatan komunikatif Littlewood, mengemukakan ada dua kegiatan komunikatif yang perlu dikenal, yaitu:
1.        Kegiatan komunikasi fungsional
Kegiatan komunikasi fungsional dapat berupa kegiatan berbahasa untuk saling membagi informasi dan kegiatan berbahasa untuk mengolah informasi yang keduanya dapat dirinci menjadi:
Ø  kegiatan saling membagi informasi dengan kerja sama yang terbatas
Ø  kegiatan saling membagi informasi dengan kerja sama yang tidak terbatas
Ø  kegiatan saling membagi informasi dan mengolah informasi
Ø  kegiatan mengolah informasi
2.        Kegiatan interaksi sosial dapat berupa:
Ø  dialog dan bermain peran
Ø  simulasi
Ø  memerankan lakon pendek yang lucu
Ø  berdebat
Ø  melaksanakan berbagai bentuk diskusi
B.       Pendekatan Komunikatif dalam Pembelajaran Apresiasi Prosa (Cerita)
Prosa merupakan karya sastra yang berbentuk tulisan bebas. Bersifat leluasa artinya prosa tidak terkait oleh aturan-aturan tulisan semacam rima, diksi, irama, dll. Makna kata dalam prosa sifatnya denotatif alias mengandung makna sebetulnya. Apabilapun tersedia kata-kata kiasan, mereka hanya menjadi ornamen di berbagai tahap untuk menekankan alias memperindah tulisan dalam prosa. Kata kias dalam prosa bermanfaat sebagai ornamen, beda dengan puisi yang sebagian besar memakai kata konotasi alias kata kiasan jadi membutuhkan penafsiran dengan cara cermat.
Dalam proses pembelajaran prosa ada berbagai kegiatan yang dapat dilaksanakan. Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain ialah menyimak pembaca prosa, tentang prosa, membaca prosa, dan mengarang prosa.
     Berdasarkan zamannya, prosa dibedakan kedalam dua jenis, yaitu prosa lama serta prosa baru. Berikut ini merupakan bentuk, ciri serta contoh dari prosa lama serta prosa baru:
1.        Prosa lama
Prosa lama merupakan bentuk karya sastra yang belum dipengaruhi oleh kebudayaan barat. Prosa lama berbentuk tulisan sebab pada jamannya belum ditemukan alat untuk menulis. Tetapi, sekarang kami telah dapat menemukan karya sastra prosa lama dalam bentuk tulisan. Dahulu kala, prosa lama diceritakan dari mulut ke mulut. Dalam prosa lama, tulisan-tulisannya mempunyai karakteristik semacam cerita istana sentris, sifatnya menghibur masayarakat, tak memakai struktur kalimat, serta bersifat kedaerahan. Berikut ini merupakan bentuk-bentuk prosa lama, yatu:
a.       Hikayat
Hikayat merupakan tulisan fiktif serta tidka masuk akal yang menceritakan mengenai kehidupan para dewi, dewa, pangeran, raja, serta lain-lain. Contohnya merupakan Hikayat Hang Jebat, Hikayat Nabi Sulaiman, Hikayat Raja Bijak, serta lain-lain.
b.      Sejarah (Tambo)
Sejarah merupakan tulisan yang menceritakan mengenai momen-momen tertentu. Ada dua tipe sejarah, yaitu sejarah sastra lama serta baru. Contoh tulisan berbentuk sejarah merupakan Sejarah Melayu yang ditulis oleh Tun Sri Lanang pada tahun 1612.
c.       Kisah
Kisah merupakan tulisan-tulisan pendek. Kisah menceritakan mengenai cerita perjalanan, pengalaman alias petualangan orang-orang jaman dulu. Salah satu contoh kisah merupakan Kisah Raja Abdullah menuju Kota Mekkah.
d.    Dongeng
Dongeng bercerita mengenai khayalan-khayalan masyrakat pada zaman dahulu. Dongeng sendiri tersedia berbagai bentuknya, semacam:
·           Myth (Mitos) bercerita mengenai hal-hal gaib, contohnya semacam Ratu Pantai Selatan, Dongeng mengenai Batu Menangis, Dongeng asal-usul kuntilanak, serta lain-lain.
·           Legenda bercerita mengenai sejarah alias asal-muasal terjadinya sesuatu, contohnya semacam Legenda Tangkuban Perahu, Legenda Pulau Jawa, serta lain-lain.
·           Fabel bercerita kisah yang tokohnya merupakan binatang, contohnya semacam Si Kancil serta Buaya, Si Kancil yang Cerdik, serta lain-lain.
·           Sage bercerita mengenai kisah pahlawan, keberanian, alias kisah kesaktian , contohnya semacam Ciung Winara, Patih Gadjah Mada, Calon Arang, serta lain-lain.

e.    Jenaka alias Pandir mengisahkan orang-orang bego yang berhidup sial yang sifatnya untuk melucu alias humor, contohnya semacam Dongeng Abunawas, Dongeng Si Pandir, serta lain-lain.

2.        Contoh Prosa Baru
a.     Roman adalah cerita mengisahkan pelakunya dari kecil sampai mati mengungkapkan adat atau aspek kehidupan suatu masyarakat secara mendetail atau menyeluruh, alur bercabang cabang, banyak digresi
b.    Novel adalah cerita yang mengisahkan konflik para pelaku sehingga terjadi perubahan jalan hidup atau nasib pelaku utama
c.     Cerpen adalah cerita yang mengisahkan konflik para pelaku tetapi tidak mengakibatkan perubahan pada nasib pelaku utama. Ceritanya pendek, alurnya tunggal.
d.    Esai adalah ulasan kupasan suatu masalah, secar a sepintas lalu berdasarkan pandangan pribadi penulisnya bersifat sangat subjektif atau sangat pribadi.
e.     Resensi adalah pembicaraan atau pertimbangan atau ulasan suatu karya buku, tulisan, drama, isinya bersifat memaparkan agar pembaca mengetahui karya tersebut dari berbagai aspek sering juga disertai penilaian dan saran tentang perlu tidaknya karya itu dibaca atau dinikmati.
f.      Kritik adalah karya yang menguraikan pertimbangan baik atau buruk suatu hasil karya dengan member alas an-alasan tentang isi dan bentuk dengan criteria tertentu, sifatnya objektif dan menghakimi.
g.    Biografi adalah karya yang berisi riwayat hidup seseorang
h.    Otobiografi adalah karya yang berisi riwayat diri sendiri.
          Membaca prosa termasuk kegiatan membaca pemahaman. Dalam kegiatan pembelajaran prosa, siswa diarahkan untuk memahami prosa yang dibacanya. Hal apa saja yang harus dipahami siswa? Ada tiga hal yang penting untuk diperhatikan, yaitu: tokoh, alur, dan latar cerita.

a.    Pemahaman Tokoh Cerita
Tokoh termasuk unsur cerita yang sangat penting. Tidak ada cerita tanpa tokoh. Tokoh-tokoh dalam cerita bersifat unik, tokoh yang satu berbeda dengan tokoh yang lainnya. Perbedaan tokoh itu ditandai dengan perbedaan nama, perbedaan fisik, dan perbedaan watak masing-masing tokoh. Dalam pembelajaran prosa para siswa dibimbing untuk dapat mengidentifikasi perbedaan nama, kondisi fisik, dan watak setiap tokoh yang terdapat dalam cerita yang dibacanya.
Berkenaan dengan tokoh dalam cerita yaitu tokoh protagonis dan tokoh antagonis. Tokoh pratagonis adalah tokoh yang mendapat simpati pembaca, karena memiliki watak tertentu, maka para pembaca berpihak kepadanya.dan sering menjadi idola pembacanya. Tokoh antagonis dibenci pembaca karena hadir sebagai lawan dari tokoh pratagonis.
Daya tarik sebuah cerita antara lain disebabkan oleh adanya pertentangan antara tokoh pratagonis dengan tokoh antagonis. Baik tokoh pratagonis maupun tokoh antagonis biasanya menjadi fokus cerita biasa disebut tokoh utama. Tokoh utama baik yang berkarakter menyenangkan maupun yang berkarakter tidak menyenangkan (jahat), biasanya didukung oleh tokoh-tokoh yang lain yang biasa disbut tokoh pendukung.
Dalam pembelajaran membaca prosa (cerita), siswa dibimbing untuk menemukan tokoh utama dan tokoh pendukungnya. Di samping itu, mereka dibimbing pula untuk menemukan tokoh pratagonis dan antagonis.

b.   Pemahaman Alur Cerita
Alur atau plot ialah rangkaian kejadian dalam cerita. Rangkaian kejadian itu dibangun berdasarkan hukum sebab akibat. Sebuah peristiwa yang terjadi dalam sebuah cerita harus berdasarkan sebab yang masuk akal (logis). Perilaku seorang tokoh dalam sebuah cerita sangat berkaitan dengan karakter para tokohnya.
c.    Pemahaman Latar Cerita
Sebuah cerita terjadi di sebuah tempat dan pada waktu tertentu. Tempat dan waktu terjadinya sebuah peristiwa mempunyai iklim, kondisi, budaya, adat istiadat dan suasana tertentu. Faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi karakter setiap tokoh. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa latar sebuah cerita dapat berpengaruh terhadap karakter setiap tokoh yang ada dalam cerita yang bersangkutan.
Para siswa lebih kuat daya ingat dan daya serapnya melalui kegiatan melihat, dan demikian pula siswa yang lebih kuat daya dengarnya. Dengan demikian, penggunaan media, di samping dapat membuat pembelajaran lebih produktif, juga membuat pembelajar lebih individual.
Pembelajaran sastra sebaiknya menggunakan media yang bervariasi sesuai dengan kebutuhan. Untuk pelatihan deklamasi mungkin diperlukan model. Model deklamasi yang baik dapat diharapkan melalui rekaman vidio dan mungkin pula menghadirkan deklamator yang baik ke ruang belajar. Cara yang lebih praktis tentu saja memilih siswa yang mahir berdeklamasi untuk tampil di depan kelas. Dan saat yang biasanya dinantikan oleh para siswa adalah penampilan guru sebagai deklamator yang selalu mengesankan.

C.      Aplikasi Pembelajaran Prosa (Cerita)

Langkah-langkah pembelajaran prosa (cerita).
1.         Siswa membaca karya sastra sebagai kegiatan yang menyenangkan.
Dalam kegiatan ini guru telah memilih sebuah cerita yang telah dipertimbangkan dari segi bahasa, isi dan pertimbangan pedagogis. Para siswa dipersilahkan membaca karya sastra yang telah dipilih itu, misalnya cerpen Kado Perkawinan karya Hamzat Rangkuti. Pembacaan oleh siswa dilakukan tanpa dibebani oleh tugas-tugas yang rumit. Mereka membaca sekedar kesenangan semata. Ada baiknya guru menyampaikan pengantarnya terlebih dahulu tentang cerpen tersebut untuk menumbuhkan motivasi mereka.

2.         Menyusun pertanyaan
Pada langkah ini, para siswa diberi tugas untuk menyusun pertanyaan berkenaan dengan cerpen yang dibacanya. Guru harus membimbing mereka agar sampai pada sebuah pertanyaan analisis yang tepat dan relevan. Pertanyaan sebaiknya muncul pada bagian berikut di bawah subjudul Pertanyaan Apresiatif tentang Cerita.

3.         Siswa mengidentifikasi dan mendiskusikan unsur intrinsik dan ekstrinsik yang mendukung salah satu contoh prosa yang dibacakan, misalnya cerpen.

4.         Siswa menganalisis dan mendiskusikan latar dan ciri khas latar  pada cerpen yang dibacakan

5.         Siswa menganalisis dan mendiskusikan tokoh dan ciri khas tokoh cerpen yang dibacakan.

6.         Siswa menganalisis dan mendiskusikan pengaruh psikologis tokoh dari latar terhadap setiap tokoh dalam cerpen yang dibacakan.

7.         Siswa menganalisis dan mendiskusikan alur cerpen yang dibacakan.

8.         Siswa menganalisis dan mendiskusikan motif psikologi dari perilaku setiap tokoh dalam cerpen yang dibacakan

9.        Siswa menganalisis dan mendiskusikan tema cerpen yang dibacakan.

10.     Siswa menganalisis dan mendiskusikan nilai-nilai moral yang terdapat dalam cerpen yang dibacakan.












BAB III
PENUTUP
A.      Simpulan
Yang perlu diperhatikan untuk memahami pendekatan komunikatif iaitu: teori belajar, teori bahasa, tujuan, silabus, tipe kegiatan, peran guru, peran siswa, peran materi.
Garis besar kegiatan pembelajaran tingkat sekolah lanjutan pertama dengan prosedur pembelajaran berdasarkan pendekatan komunikatif  yaitu: penyajian dialog singkat, pelatihan lisan dialog yang disajikan, tanya jawab, pengkajian, penarikan simpulan, aktivitas interpretatif, aktivitas produksi lisan, pemberian tugas, dan evalusi.
Ada tiga hal yang penting dalam kegiatan pembelajaran prosa, agar siswa memahami prosa yang dibacanya iaitu: tokoh, alur, dan latar cerita. Pembelajaran sastra sebaiknya menggunakan media yang bervariasi sesuai dengan kebutuhan. Tes sastra harus memenuhi persyaratan tes yang baik seperti halnya tes-tes yang lain, yakni kesahihan (validitas). Keterpercayaan (reabilitas), dan kepraktisan

B.       Saran
Untuk mengetahui lebih jauh dan lebih banyak bahkan lebih lengkap mengenai pembahasan Pendekatan komunikatif dalam pembelajaran prosa, pembaca dapat membaca dan mempelajari buku-buku dari berbagai pengarang, karena di dalam makalah ini penulis hanya membahas mengenai pembelajaran yang komunikatif dalam belajar komunikatif.  Di sini penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna, sehingga kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan penulisan makalah-makalah selanjutnya sangat diharapkan.
Memilih dan menerapkan pendekatan dalam sebuah proses pembelajaran adalah bukanlah proses yang mudah dan serta merta dilakukan. Pemilihan pendekatan pembelajaran ditentukan dengan mengikuti kaidah-kaidah berikut:

1.        Bagaimana kondisi peserta didik?
2.        Apa kesulitan peserta didik dalam belajar?
3.        Mengapa siswa kesulitan dalam belajar?
4.        Apa yang harus saya lakukan dengan pendekatan komunikatif tersebut terhadap peserta didik?
5.        Apakah upaya yang saya lakukan ini mampu mengatasi kesulitan belajar siswa khususnya dalam pembelajaran prosa?

B.  Ilustrasi KBM dengan pendekatan Komunikatif
Memilih pendekatan:
1.         Pada tahap ini, guru menganalisis kesulitan belajar yang dialami siswa. Sebagai contoh: Sebagian besar siswa dikelas XII IPS 1 kurang memiliki minat dalam belajar Bahasa dan Sastra Indonesia khususnya dalam pembelajaran prosa. Bagi mereka, belajar sastra pada umumnya adalah hal yang membosankan. Selain itu, mereka kesulitan untuk mencipta atau mengarang karena ide-ide sulit untuk diekspresikan.
2.         Berdasarkan kasus tersebut, dapat diidentifikasi bahwa siswa tidak tidak memiliki minat belajar. Mereka menganggap PBM Bahasa dan Sastra Indonesia adalah hal yang membosankan. Disamping itu, ada keterbatasan kemampuan siswa dalam berekspresi.
3.         Guru tertantang untuk  memecahkan masalah tersebut, guru berinisiatif untuk memilih pendekatan komunikatif dengan pertimbangan bahwa dengan pendekatan ini guru dapat berinteraksi, berkomunikasi denga siswa dengan intensitas yang lebih baik. Melalui pendekatan ini, guru merancang pembelajaran yang lebih menarik agar tidak membosankan seperti menyediakan bahan ajar yang lengkap, manajemen kelas yang menarik, hiburan, media yang menarik, serta memegang prinsip learning student centre.
4.         Selanjutnya, dalam hal pembelajaran prosa, guru harus pandai menjelaskan kepada peserta didik apa, bagaimana, dan untuk apa itu sastra? Dengan demikian, akan terpupuk kepercayaan diri siswa dalam belajar.
5.         Dalam hal mengarang karya sastra prosa, guru harus terlibat lebih intens bagi siswa dan memberikan penjelasan bahwa mengarang adalah proses berikir yang sensitif.
6.         Semua hasil kerja siswa harus mendapatkan apresiasi yang baik yang diberikan oleh guru dan siswa.
7.         Fungsi guru dalam pendekatan ini adalah sebagai sumber informasi dan tempat berdiskusi yang nyaman bagi siswa

No comments:

Post a Comment