BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Munculnya istilah pendekatan komunikatif dalam pembelajaran
bahasa diilhami oleh suatu teori yang memandang bahasa sebagai alat
berkomunikasi. Berdasarkan teori tersebut, maka tujuan pembelajaran bahasa
dirumuskan sebagai ikhtisar untuk mengembangkan kemampuan yang oleh Hymes
(11972) disebut kompetensi komunikatif.
Pendekatan komunikatif dalam pengajaran bahasa muncul pada
tahun 1970-an sebagai reaksi terhadap empat aliran pembelajaran bahasa yang
dianut sebelumnya (grammar translation method, direct method, audiolingual
method, dan cognitive learning theory). Keempat metode itu memiliki ciri yang
sama iaitu pembelajaran bahasa dalam bidang struktur bahasa yang disebut
pembelajaran bahasa struktural atau pembelajaran bahasa yang berdasarkan
pendekatan struktural.
Pendekatan struktural menitikberatkan pengajaran bahasa pada
pengetahuan tentang kaidah bahasa (tatabahasa) yang biasanya disusun dari
struktur yang sederhana ke struktur yang kompleks. Para pembelajar mula-mula
diperkenalkan bunyi-bunyi, bnetuk-bentuk kata, struktur kalimat, kemudian makna
unsur-unsur tersebut.
Kelemahan pendekatan struktural ialah tidak pernah
memberikan kesempatan kepada pembelajar untuk berlatih menggunakan bahasa dalam
situasi komunikasi yang nyata yang sesungguhnya lebih urgen dimiliki oleh para
siswa ketimbang pengetahuan tentang kaidah-kaidah bahasa.
Kelemahan dari pendekatan struktural itulah mengilhami
lahirnya pendekatan komunikatif yang menitikberatkan perhatian pada penggunaan
bahasa dalam situasi komunikasi. Pendekatan komunikatif memberikan tekanan pada
kebermaknaan dan fungsi bahasa. Dengan kata lain, bahasa untuk tujuan tertentu
dalam kegiatan berkomunikasi.
B.
Rumusan
Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini yaitu “Bagaimana penerapan pendekatan komunikatif
dalam pembelajaran prosa?”.
C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penyusunan
makalah ini adalah
untuk memberikan pengetahuan mengenai Hakikat pendekatan komunikatif,
Pendekatan komunikatif dalam apresiasi sastra (prosa) dan Apresiasi
pembelajaran prosa (cerita).
D. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini, yaitu dapat
dijadikan sebagai bahan kajian belajar sehingga
penulis serta pembaca dapat lebih memahami tentang pendekatan komunikatif dalam
pembelajaran prosa.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Hakikat Pendekatan Komunikatif
Pendekatan
komunikatif adalah sistem pembelajaran yang menekankan pada aspek komunikasi,
interaksi, dan mengembangkan kompetensi kebahasaan, serta keterampilan
berbahasa (menyimak, membaca, menulis, berbicara) sebagai tujuan pembelajaran
bahasa dan mengakui bahwa ada kaitannya dengan kegiatan komunikasi dalam
kehidupan .
Pendekatan komunikatif adalah suatu
pendekatan yang betujuan untuk membuat kompetensi komunikatif sebagai tujuan pembelajaran
bahasa, juga mengembangkan prosedur-prosedur bagi pembelajaran empat
keterampilan berbahasa, mengakui dan menghargai saling ketergantungan bahasa.
Ciri utamanya adalah adanya dua
kegiatan yang saling berkaitan erat, yakni adanya kegiatan-kegiatan komunikasi
fungsional dan kegiatan yang sifatnya interaksi sosial. Kegiatan
komunikasi fungsional terdiri dari mengolah informasi, berbagi dan mengolah
informasi,berbagi informasi dengan kerja sama terbatas, dan berbagi infomasi
dengan kerjasama tak terbatas. Sedangkan kegiatan interaksi sosial terdiri dari
improfisasi, lakon-lakon pendek yang lucu, aneka simulasi, dialog dan bermain
peran, sidang-sidang konversasi dan diskusi,serta berdebat. Ciri-ciri
tersebut jelas diperlihatkan beberapa perbedaan pokok antara pendekatan
komunikatif dengan pendekatan yang dilakukan secara tradisional.
Munculnya istilah pendekatan
komunikatif dalam pembelajaran bahasa diilhami oleh suatu teori yang memandang
bahasa sebagai alat berkomunikasi. Berdasarkan teori tersebut, maka tujuan
pembelajaran bahasa dirumuskan sebagai ikhtisar untuk mengembangkan kemampuan
yang oleh Hymes (1972) disebut kompetensi komunikatif.
Pendekatan komunikatif dipandang
sebagai pendekatan yang unggul dalam pengajaran bahasa. Keunggulan ini antara
lain karena berdasarkan pada pandangan ilmu bahasa dan teori belajar bahasa
yang mengutamakan pemakaian bahasa sesuai dengan fungsinya. Di samping itu,
tujuan pengajaran bahasa dengan pendekatan komunikatif adalah membentuk
komunikatif siswa. Artinya, melalui berbagai kegiatan pembelajaran diharapkan
siswa menguasai kemampuan berkomunikasi yakni kemampuan menggunakan
bentuk-bentuk tuturan sesuai dengan fungsi-fungsi bahasa dalam proses pemahaman
maupun penggunaan.
Pendidikan sebagai institusi formal
merupakan lingkungan yang kondusif dalam menumbuhkembangkan potensi kreatif
siswa. Agar dapat tercipta kondisi yang demikian, pelaksanaan proses belajar-mengajar
sedapat mungkin dipusatkan pada aktivitas belajar siswa yang secara langsung
mengalami keterlibatan internal dan emosional dalam proses belajar-mengajar.
Pengajaran sastra berusaha
mendekatkan siswa kepada sastra, berusaha menumbuhkan rasa peka dan rasa cinta
kepada sastra sebagai suatu cipta seni. Dengan usaha ini, diharapkan pengajaran
sastra dapat membantu menumbuhkan keseimbangan antara perkembangan kejiwaan
anak, sehingga terbentuk suatu kebulatan pribadi yang utuh. Rahmanto
mengemukakan bahwa “Pengajaran sastra dapat membantu pendidikan secara utuh
apabila cakupannya meliputi empat manfaat, yaitu: membantu keterampilan
membaca, meningkatkan pengetahuan budaya, mengembangkan cipta dan rasa, serta
menunjang pembentukan watak ((1998:16).
Pernyataan di atas sejalan dengan
GBPP bahasa Indonesia ada bertuliskan: “Siswa mampu menikmati,
menghayati, memahami, dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan
kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan
berbahasa”.
Memaknai isi GBPP, cerpen adalah
salah satu bentuk sastra yang perlu diapresiasi oleh siswa SMP. Apresiasi
cerpen di kalangan terpelajar merupakan suatu yang kehadirannya tidak boleh
diabaikan. Hal ini terlihat dalam buku ajar siswa SMP pada standar kompetensi siswa
mampu mengapresiasi puisi, cerpen, dan karya sastra Melayu Klasik
Pendekatan komunikatif perlu
dipahami oleh setiap guru bahasa dan sastra Indonesia agar dapat menyusun
perencanaan pengajaran, melaksanakan penyajian materi pelajaran, mengevaluasi
hasil belajar dan proses pembelajaran dengan baik.
Pendekatan komunikatif dalam
pengajaran bahasa muncul pada tahun 1970-an sebagai reaksi terhadap
pembelajaran bahasa dalam bidang struktur bahasa yang disebut pembelajaran
bahasa struktural atau pembelajaran bahasa yang berdasarkan pendekatan
struktural.
Pendekatan struktural
menitikberatkan pengajaran bahasa pada pengetahuan tentang kaidah bahasa
(tatabahasa) yang biasanya disusun dari struktur yang sederhana ke struktur
yang kompleks. Para pembelajar mula-mula diperkenalkan bunyi-bunyi,
bentuk-bentuk kata, struktur kalimat, kemudian makna unsur-unsur tersebut.
Kelemahan pendekatan struktural
ialah tidak pernah memberikan kesempatan kepada pembelajar untuk berlatih
menggunakan bahasa dalam situasi komunikasi yang nyata yang sesungguhnya lebih
urgen dimiliki oleh para siswa ketimbang pengetahuan tentang kaidah-kaidah
bahasa.
Kelemahan dari pendekatan struktural
itulah mengilhami lahirnya pendekatan komunikatif yang menitikberatkan
perhatian pada penggunaan bahasa dalam situasi komunikasi. Pendekatan
komunikatif memberikan tekanan pada kebermaknaan dan fungsi bahasa. Dengan kata
lain, bahasa untuk tujuan tertentu dalam kegiatan berkomunikasi.
Selanjutnya, untuk memahami hakikat
pendekatan komunikatif, menurut Syafi’ie (1998) ada delapan hal yang perlu
diperhatikan, yaitu:
a.
Teori Bahasa
Pendekatan komunikatif berdasarkan
pada teori bahasa yang menyatakan bahwa pada hakikatnya bahasa itu merupakan
suatu sistem untuk mengekspresikan makna. Teori ini lebih memberi tekanan pada
dimensi semantik dan komunikatif. Oleh karena itu, dalam pembelajaran bahasa
yang berdasarkan pendekatan komunikatif yang perlu ditonjolkan ialah interaksi
dan komunikasi bahasa, bukan pengetahuan tentang bahasa.
b.
Teori Belajar
Pembelajar dituntut untuk
melaksanakan tugas-tugas yang bermakna dan dituntut untuk menggunakan bahasa
yang dipelajarinya. Teori belajar yang cocok untuk pendekatan ini ialah teori
pemerolehan bahasa kedua secara alami. Teori ini beranggapan bahwa proses
belajar bahasa lebih efektif apabila bahasa diajarkan secara informal melalui
komunikasi langsung di dalam bahasa yang sedang dipelajari.
c.
Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai
berdasarkan pendekatan komunikatif merupakan tujuan yang lebih mencerminkan
kebutuhan siswa iaitu kebutuhan berkomunikasi, maka tujuan umum pembelajaran
bahasa ialah mengembangkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi (kompetensi dan
performansi).
d.
Silabus
Silabus disusun searah dengan tujuan
pembelajaran, yang harus dipehatikan ialah kebutuhan para pembelajar.
Tujuan-tujuan yang dirumuskan dan materi yang diilih harus sesuai dengan
kebutuhan siswa.
e.
Tipe Kegiatan
Tipe kegiatan komunikasi dapat
berupa kegiatan tukar informasi, negosiasi makna, atau kegiatan berinteraksi.
f.
Peranan Guru
Guru berperan sebagai fasilitator,
konselor, dan manajer proses belajar.
g.
Peranan Siswa
Peranan siswa sebagai pemberi dan
penerima, sebagai negosiator dan interaktor. Di samping itu, pelatihan yang
langsung dapat mengembangkan kompetensi komunikatif pembelajar. Dengan demikian,
siswa tidak hanya menguasai struktur bahasa, tetapi menguasai pula bentuk dan
maknanya dalam kaitan dengan konteks pemakaiannya.
h.
Peranan Materi
Materi disusun dan disajikan dalam
peranan sebagai pendukung usaha meningkatkan kemahiran berbahasa dalam tindak
komunikasi yang nyata. Materi berfungsi sebagai sarana yang sangat penting
dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
Berkenaan dengan penggunaan pendekatan komunikatif
Littlewood, mengemukakan ada dua kegiatan komunikatif yang perlu dikenal, yaitu:
1.
Kegiatan komunikasi fungsional
Kegiatan komunikasi fungsional dapat
berupa kegiatan berbahasa untuk saling membagi informasi dan kegiatan berbahasa
untuk mengolah informasi yang keduanya dapat dirinci menjadi:
Ø kegiatan saling membagi informasi
dengan kerja sama yang terbatas
Ø kegiatan saling membagi informasi
dengan kerja sama yang tidak terbatas
Ø kegiatan saling membagi informasi
dan mengolah informasi
Ø kegiatan mengolah informasi
2.
Kegiatan interaksi sosial dapat berupa:
Ø dialog dan bermain peran
Ø simulasi
Ø memerankan lakon pendek yang lucu
Ø berdebat
Ø
melaksanakan berbagai bentuk
diskusi
B.
Pendekatan Komunikatif dalam Pembelajaran Apresiasi Prosa
(Cerita)
Prosa merupakan karya
sastra yang berbentuk tulisan bebas. Bersifat leluasa artinya prosa tidak terkait
oleh aturan-aturan tulisan semacam rima, diksi, irama, dll. Makna kata
dalam prosa sifatnya denotatif alias mengandung makna sebetulnya. Apabilapun
tersedia kata-kata kiasan, mereka hanya menjadi ornamen di berbagai tahap untuk
menekankan alias memperindah tulisan dalam prosa. Kata kias dalam prosa
bermanfaat sebagai ornamen, beda dengan puisi yang sebagian besar memakai
kata konotasi alias kata kiasan jadi membutuhkan penafsiran dengan cara cermat.
Dalam proses pembelajaran prosa ada berbagai kegiatan yang
dapat dilaksanakan. Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain ialah menyimak
pembaca prosa, tentang prosa, membaca prosa, dan mengarang prosa.
Berdasarkan zamannya, prosa
dibedakan kedalam dua jenis, yaitu prosa lama serta prosa baru. Berikut ini
merupakan bentuk, ciri serta contoh dari prosa lama serta prosa baru:
1.
Prosa lama
Prosa lama merupakan bentuk karya
sastra yang belum dipengaruhi oleh kebudayaan barat. Prosa lama berbentuk
tulisan sebab pada jamannya belum ditemukan alat untuk menulis. Tetapi,
sekarang kami telah dapat menemukan karya sastra prosa lama dalam bentuk
tulisan. Dahulu kala, prosa lama diceritakan dari mulut ke mulut. Dalam prosa
lama, tulisan-tulisannya mempunyai karakteristik semacam cerita istana sentris,
sifatnya menghibur masayarakat, tak memakai struktur kalimat, serta bersifat
kedaerahan. Berikut ini merupakan bentuk-bentuk prosa lama, yatu:
a. Hikayat
Hikayat merupakan tulisan fiktif serta tidka masuk akal yang menceritakan mengenai kehidupan para dewi, dewa, pangeran, raja, serta lain-lain. Contohnya merupakan Hikayat Hang Jebat, Hikayat Nabi Sulaiman, Hikayat Raja Bijak, serta lain-lain.
Hikayat merupakan tulisan fiktif serta tidka masuk akal yang menceritakan mengenai kehidupan para dewi, dewa, pangeran, raja, serta lain-lain. Contohnya merupakan Hikayat Hang Jebat, Hikayat Nabi Sulaiman, Hikayat Raja Bijak, serta lain-lain.
b. Sejarah (Tambo)
Sejarah merupakan tulisan yang
menceritakan mengenai momen-momen tertentu. Ada dua tipe sejarah, yaitu sejarah
sastra lama serta baru. Contoh tulisan berbentuk sejarah merupakan Sejarah
Melayu yang ditulis oleh Tun Sri Lanang pada tahun 1612.
c. Kisah
Kisah merupakan tulisan-tulisan pendek. Kisah menceritakan mengenai cerita perjalanan, pengalaman alias petualangan orang-orang jaman dulu. Salah satu contoh kisah merupakan Kisah Raja Abdullah menuju Kota Mekkah.
Kisah merupakan tulisan-tulisan pendek. Kisah menceritakan mengenai cerita perjalanan, pengalaman alias petualangan orang-orang jaman dulu. Salah satu contoh kisah merupakan Kisah Raja Abdullah menuju Kota Mekkah.
d. Dongeng
Dongeng bercerita mengenai khayalan-khayalan masyrakat pada zaman dahulu. Dongeng sendiri tersedia berbagai bentuknya, semacam:
Dongeng bercerita mengenai khayalan-khayalan masyrakat pada zaman dahulu. Dongeng sendiri tersedia berbagai bentuknya, semacam:
·
Myth (Mitos) bercerita mengenai hal-hal gaib, contohnya semacam Ratu
Pantai Selatan, Dongeng mengenai Batu Menangis, Dongeng asal-usul kuntilanak,
serta lain-lain.
·
Legenda bercerita mengenai sejarah alias asal-muasal terjadinya
sesuatu, contohnya semacam Legenda Tangkuban Perahu, Legenda Pulau Jawa, serta
lain-lain.
·
Fabel bercerita kisah yang tokohnya merupakan binatang, contohnya
semacam Si Kancil serta Buaya, Si Kancil yang Cerdik, serta lain-lain.
·
Sage bercerita mengenai kisah pahlawan, keberanian, alias kisah
kesaktian , contohnya semacam Ciung Winara, Patih Gadjah Mada, Calon Arang,
serta lain-lain.
e. Jenaka alias Pandir mengisahkan
orang-orang bego yang berhidup sial yang sifatnya untuk melucu alias humor,
contohnya semacam Dongeng Abunawas, Dongeng Si Pandir, serta lain-lain.
2.
Contoh Prosa Baru
a. Roman adalah cerita mengisahkan
pelakunya dari kecil sampai mati mengungkapkan adat atau aspek kehidupan suatu
masyarakat secara mendetail atau menyeluruh, alur bercabang cabang, banyak
digresi
b. Novel adalah cerita yang mengisahkan
konflik para pelaku sehingga terjadi perubahan jalan hidup atau nasib pelaku
utama
c. Cerpen adalah cerita yang
mengisahkan konflik para pelaku tetapi tidak mengakibatkan perubahan pada nasib
pelaku utama. Ceritanya pendek, alurnya tunggal.
d. Esai adalah ulasan kupasan suatu
masalah, secar a sepintas lalu berdasarkan pandangan pribadi penulisnya
bersifat sangat subjektif atau sangat pribadi.
e. Resensi adalah pembicaraan atau
pertimbangan atau ulasan suatu karya buku, tulisan, drama, isinya bersifat
memaparkan agar pembaca mengetahui karya tersebut dari berbagai aspek sering
juga disertai penilaian dan saran tentang perlu tidaknya karya itu dibaca atau
dinikmati.
f. Kritik adalah karya yang menguraikan
pertimbangan baik atau buruk suatu hasil karya dengan member alas an-alasan
tentang isi dan bentuk dengan criteria tertentu, sifatnya objektif dan
menghakimi.
g. Biografi adalah karya yang berisi
riwayat hidup seseorang
h. Otobiografi
adalah karya yang berisi riwayat diri sendiri.
Membaca prosa termasuk kegiatan membaca pemahaman. Dalam
kegiatan pembelajaran prosa, siswa diarahkan untuk memahami prosa yang
dibacanya. Hal apa saja yang harus dipahami siswa? Ada tiga hal yang penting
untuk diperhatikan, yaitu: tokoh, alur, dan latar cerita.
a. Pemahaman Tokoh Cerita
Tokoh
termasuk unsur cerita yang sangat penting. Tidak ada cerita tanpa tokoh.
Tokoh-tokoh dalam cerita bersifat unik, tokoh yang satu berbeda dengan tokoh
yang lainnya. Perbedaan tokoh itu ditandai dengan perbedaan nama, perbedaan
fisik, dan perbedaan watak masing-masing tokoh. Dalam pembelajaran prosa para
siswa dibimbing untuk dapat mengidentifikasi perbedaan nama, kondisi fisik, dan
watak setiap tokoh yang terdapat dalam cerita yang dibacanya.
Berkenaan
dengan tokoh dalam cerita yaitu tokoh protagonis dan tokoh antagonis. Tokoh
pratagonis adalah tokoh yang mendapat simpati pembaca, karena memiliki watak
tertentu, maka para pembaca berpihak kepadanya.dan sering menjadi idola
pembacanya. Tokoh antagonis dibenci pembaca karena hadir sebagai lawan dari
tokoh pratagonis.
Daya
tarik sebuah cerita antara lain disebabkan oleh adanya pertentangan antara
tokoh pratagonis dengan tokoh antagonis. Baik tokoh pratagonis maupun tokoh
antagonis biasanya menjadi fokus cerita biasa disebut tokoh utama. Tokoh utama
baik yang berkarakter menyenangkan maupun yang berkarakter tidak menyenangkan
(jahat), biasanya didukung oleh tokoh-tokoh yang lain yang biasa disbut tokoh
pendukung.
Dalam
pembelajaran membaca prosa (cerita), siswa dibimbing untuk menemukan tokoh
utama dan tokoh pendukungnya. Di samping itu, mereka dibimbing pula untuk
menemukan tokoh pratagonis dan antagonis.
b.
Pemahaman Alur Cerita
Alur
atau plot ialah rangkaian kejadian dalam cerita. Rangkaian kejadian itu
dibangun berdasarkan hukum sebab akibat. Sebuah peristiwa yang terjadi dalam
sebuah cerita harus berdasarkan sebab yang masuk akal (logis). Perilaku seorang
tokoh dalam sebuah cerita sangat berkaitan dengan karakter para tokohnya.
c.
Pemahaman Latar Cerita
Sebuah
cerita terjadi di sebuah tempat dan pada waktu tertentu. Tempat dan waktu
terjadinya sebuah peristiwa mempunyai iklim, kondisi, budaya, adat istiadat dan
suasana tertentu. Faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi karakter setiap
tokoh. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa latar sebuah cerita dapat
berpengaruh terhadap karakter setiap tokoh yang ada dalam cerita yang
bersangkutan.
Para
siswa lebih kuat daya ingat dan daya serapnya melalui kegiatan melihat, dan
demikian pula siswa yang lebih kuat daya dengarnya. Dengan demikian, penggunaan
media, di samping dapat membuat pembelajaran lebih produktif, juga membuat
pembelajar lebih individual.
Pembelajaran
sastra sebaiknya menggunakan media yang bervariasi sesuai dengan kebutuhan.
Untuk pelatihan deklamasi mungkin diperlukan model. Model deklamasi yang baik
dapat diharapkan melalui rekaman vidio dan mungkin pula menghadirkan deklamator
yang baik ke ruang belajar. Cara yang lebih praktis tentu saja memilih siswa
yang mahir berdeklamasi untuk tampil di depan kelas. Dan saat yang biasanya
dinantikan oleh para siswa adalah penampilan guru sebagai deklamator yang
selalu mengesankan.
C. Aplikasi Pembelajaran Prosa (Cerita)
Langkah-langkah pembelajaran prosa
(cerita).
1.
Siswa membaca karya sastra sebagai kegiatan yang
menyenangkan.
Dalam
kegiatan ini guru telah memilih sebuah cerita yang telah dipertimbangkan dari
segi bahasa, isi dan pertimbangan pedagogis. Para siswa dipersilahkan membaca
karya sastra yang telah dipilih itu, misalnya cerpen Kado Perkawinan karya
Hamzat Rangkuti. Pembacaan oleh siswa dilakukan tanpa dibebani oleh tugas-tugas
yang rumit. Mereka membaca sekedar kesenangan semata. Ada baiknya guru
menyampaikan pengantarnya terlebih dahulu tentang cerpen tersebut untuk
menumbuhkan motivasi mereka.
2.
Menyusun pertanyaan
Pada
langkah ini, para siswa diberi tugas untuk menyusun pertanyaan berkenaan dengan
cerpen yang dibacanya. Guru harus membimbing mereka agar sampai pada sebuah
pertanyaan analisis yang tepat dan relevan. Pertanyaan sebaiknya muncul pada
bagian berikut di bawah subjudul Pertanyaan Apresiatif tentang Cerita.
3.
Siswa mengidentifikasi dan mendiskusikan unsur intrinsik dan
ekstrinsik yang mendukung salah satu contoh prosa yang dibacakan, misalnya
cerpen.
4.
Siswa menganalisis dan mendiskusikan latar dan ciri khas
latar pada cerpen yang dibacakan
5.
Siswa menganalisis dan mendiskusikan tokoh dan ciri khas
tokoh cerpen yang dibacakan.
6.
Siswa menganalisis dan mendiskusikan pengaruh psikologis
tokoh dari latar terhadap setiap tokoh dalam cerpen yang dibacakan.
7.
Siswa menganalisis dan mendiskusikan alur cerpen yang
dibacakan.
8.
Siswa menganalisis dan mendiskusikan motif psikologi dari
perilaku setiap tokoh dalam cerpen yang dibacakan
9.
Siswa
menganalisis dan mendiskusikan tema cerpen yang dibacakan.
10. Siswa
menganalisis dan mendiskusikan nilai-nilai moral yang terdapat dalam cerpen
yang dibacakan.
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
Yang perlu
diperhatikan untuk memahami pendekatan komunikatif iaitu: teori belajar, teori
bahasa, tujuan, silabus, tipe kegiatan, peran guru, peran siswa, peran materi.
Garis
besar kegiatan pembelajaran tingkat sekolah lanjutan pertama dengan prosedur
pembelajaran berdasarkan pendekatan komunikatif
yaitu: penyajian dialog singkat, pelatihan lisan dialog yang disajikan,
tanya jawab, pengkajian, penarikan simpulan, aktivitas interpretatif, aktivitas
produksi lisan, pemberian tugas, dan evalusi.
Ada tiga
hal yang penting dalam kegiatan pembelajaran prosa, agar siswa memahami prosa
yang dibacanya iaitu: tokoh, alur, dan latar cerita. Pembelajaran sastra sebaiknya menggunakan media yang
bervariasi sesuai dengan kebutuhan. Tes sastra harus memenuhi persyaratan tes
yang baik seperti halnya tes-tes yang lain, yakni kesahihan
(validitas). Keterpercayaan (reabilitas), dan kepraktisan
B.
Saran
Untuk mengetahui lebih jauh dan lebih banyak bahkan
lebih lengkap mengenai pembahasan Pendekatan
komunikatif dalam pembelajaran prosa, pembaca dapat
membaca dan mempelajari buku-buku dari berbagai pengarang, karena di dalam
makalah ini penulis hanya membahas mengenai
pembelajaran yang komunikatif dalam belajar komunikatif. Di sini penulis
menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna, sehingga
kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan penulisan
makalah-makalah selanjutnya sangat diharapkan.
Memilih dan
menerapkan pendekatan dalam sebuah proses pembelajaran adalah bukanlah proses
yang mudah dan serta merta dilakukan. Pemilihan pendekatan pembelajaran
ditentukan dengan mengikuti kaidah-kaidah berikut:
1.
Bagaimana kondisi peserta didik?
2.
Apa kesulitan peserta didik dalam belajar?
3.
Mengapa siswa kesulitan dalam belajar?
4.
Apa yang harus saya lakukan dengan pendekatan komunikatif
tersebut terhadap peserta didik?
5.
Apakah upaya yang saya lakukan ini mampu mengatasi kesulitan
belajar siswa khususnya dalam pembelajaran prosa?
B. Ilustrasi KBM dengan
pendekatan Komunikatif
Memilih pendekatan:
1.
Pada tahap ini, guru menganalisis kesulitan belajar yang
dialami siswa. Sebagai contoh: Sebagian besar siswa dikelas XII IPS 1 kurang
memiliki minat dalam belajar Bahasa dan Sastra Indonesia khususnya dalam
pembelajaran prosa. Bagi mereka, belajar sastra pada umumnya adalah hal yang
membosankan. Selain itu, mereka kesulitan untuk mencipta atau mengarang karena
ide-ide sulit untuk diekspresikan.
2.
Berdasarkan kasus tersebut, dapat diidentifikasi bahwa siswa
tidak tidak memiliki minat belajar. Mereka menganggap PBM Bahasa dan Sastra
Indonesia adalah hal yang membosankan. Disamping itu, ada keterbatasan
kemampuan siswa dalam berekspresi.
3.
Guru tertantang untuk
memecahkan masalah tersebut, guru berinisiatif untuk memilih pendekatan
komunikatif dengan pertimbangan bahwa dengan pendekatan ini guru dapat
berinteraksi, berkomunikasi denga siswa dengan intensitas yang lebih baik.
Melalui pendekatan ini, guru merancang pembelajaran yang lebih menarik agar
tidak membosankan seperti menyediakan bahan ajar yang lengkap, manajemen kelas
yang menarik, hiburan, media yang menarik, serta memegang prinsip learning student centre.
4.
Selanjutnya, dalam hal pembelajaran prosa, guru harus pandai
menjelaskan kepada peserta didik apa, bagaimana, dan untuk apa itu sastra?
Dengan demikian, akan terpupuk kepercayaan diri siswa dalam belajar.
5.
Dalam hal mengarang karya sastra prosa, guru harus terlibat
lebih intens bagi siswa dan memberikan penjelasan bahwa mengarang adalah proses
berikir yang sensitif.
6.
Semua hasil kerja siswa harus mendapatkan apresiasi yang
baik yang diberikan oleh guru dan siswa.
7.
Fungsi guru dalam pendekatan ini adalah sebagai sumber
informasi dan tempat berdiskusi yang nyaman bagi siswa
No comments:
Post a Comment