BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia merupakan makhluk sosial,
sehingga secara naluriah terdorong untuk bergaul dengan manusia lain, baik
untuk mengekspresikan kepentingannya, mengatakan pendapatnya, maupun
mempengaruhi orang lain. Manusia dapat memenuhi semua kepentingan tersebut
dengan bahasa. Eksitensi bahasa kampir mencangkup segala bidang kehidupan
karena segala sesuatu yang dihayati, dialami, dirasakan, dan dipikirkan oleh
seseorang hanya dapat diketahui orang lain, jika telah diungkapan dengan bahasa.
Bahasa adalah sistem lambang bunyi
yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk berkomunikasi, bekerja sama,
dan mengidentifikasikan diri (Kridalaksana dalam Chaer, 2007:32). Tidak dapat
dibayangkan apa yang terjadi apabila manusia tidak memiliki bahasa. Oleh karena
itu, kebutuhan manusia untuk selalu berinteraksi dengan lingkungannya, baik
dalam bentuk komunikasi, kerja sama,
maupun mengidentifikasikan diri, menyebabkan bahasa tidak dapat terlepas
dari kehidupan manusia.
Perlu disadari bahwa komunikasi
merupakan suatu proses penyampaian pesan yang berlangsung apabila antara
penutur dan mitra tutur memiliki kesamaan makna tentang pesan yang
dikomunikasikan tersebut. kesamaan makna antara penutur dan mitra tutur
tersebut sangat bergantung pada konteks tuturannya. Artinya, makna sebuah
tuturan akan berbeda jika konteks tuturannya berbeda. Oleh sebab itu, untuk
mempelajari dan memahami makna bahasa (tuturan) dibutuhkan disiplin ilmu yang
mampu menjabarkan bentuk bahasa dengan konteksnya, yaitu Pragmatik.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang
dimaksud Batasan dan Latarbelakang?
2. Apa yang
dimaksud Deiksis dan Jarak?
3. Apa yang
dimaksud Referensi dan Inferensi?
4. Apa yang
dimaksud Praanggapan dan Entailmen?
5. Apa yang
dimaksud Kerja Sama dan Implikatur?
6. Apa yang
dimaksud Tindak tutur dan Peristiwa tutur?
7. Apa yang
dimaksud Kesopanan dan Interaksi?
8. Apa yang
dimaksud Struktur percakapan dan struktur referensi?
9. Apa yang
dimaksud Wacana dan budaya?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
DEIKSIS DAN JARAK
Deiksis adalah istilah teknis dari
bahasa yunani untuk salah satu hal mendasar yang kita lakukan dengan tuturan.
Deiksis berarti penunjukkan melalui bahasa. Bentuk linguistic yang dipakai
untuk menyelesaikan penunjukkan disebut ungkapan deiksis. Ungkapan-ungkapan
deiksis kadang kala disebut juga dengan indeksikal. Ungkapan-ungkapan itu
berada di antara bentuk-bentuk awal yang dituturkan oleh anak-anak yang masih
kecil dan dapat digunakan untuk menunjuk orang dengan deiksis persona (‘ku, mu)
atau untuk menunjuk tempat dengan deiksis spasial (disini, disitu) atau untuk
menunjuk waktu dengan deiksis temporal (sekarang, kemudian). Untuk
menafsirkan deiksis-deiksis itu, semua ungkapan bergantung pada penafsiran
penutur dan pendengar dalam konteks yang sama.
a.
Deksis
Persona\
Dalam mempelajari ungkapan-ungkapan deiksis kita harus
menemukan terlebih dahulu pergantian percakapan masing-masing orang dari
kedudukannya sebagai saya’ menjadi kamu’ secara konstan.
Deiksis persona dengan jelas menerapkan tiga pembagian
dasar yang dicontohkan dengan kata ganti orang pertama “aku”, orang kedua
“kamu” dan orang ketiga “dia”. Dalam beberapa bahasa kategori deiksis penutur,
kategori deiksis lawan tutur, dan kategori deiksis lainnya diuraikan panjang lebar
dengan status social kekerabatan. Ungkapan-ungkapan yang menunjukkan status
lebih tinggi dideskripsikan sebagai honorifics (bentuk yang digunakan untuk
mengungkapkan penghormatan). Pembahasan tentang keadaan sekitar yang mengarah
pada pemilihan salah satu bentuk ini daripada bentuk lain kadang-kadang
diseskripsikan sebagai deiksis social.
Salah satu contoh yang cukup terkenal tentang
perbedaan social yang dikodekan dalam deiksis persona adalah perbedaan antara
bentuk yang dipakai untuk lawan tutur yang sudah dikenal dibandingkan dengan
bentuk yang dipakai untuk lawan tutur yang belum dikenal dalam beberapa bahasa.
Pemilihan salah satu bentuk saja tentu akan menginformasikan tentang pandangan
penutur mengenai hubungannya dengan lawan tutur.
Dalam istilah deiksis, orang ketiga bukan orang yang
terkait secara langsung (saya-kamu) dalam interaksi dasar karena sebagai orang
luar, tentu saja lebih jauh. Oleh karna itu, kata ganti orang ketiga adalah
bentuk-bentuk distal dalam istilah deiksis persona.
b. Deiksis
Tempat
Deiksis tempat adalah tempat hubungan antara orang dan
bendanya ditunjukkan. Beberapa kata kerja yang mengandung arti tindakan gerakan
seperti “dating” dan “pergi” mengandung makna deiksis apabila kata-kata itu
dipakai untuk menandai gerakan ke arah penutur atau menjauhi dari penutur.
Dimungkinkan bahwa dasar-dasar pragmatic deiksis
tempat yang benar sesungguhnya adalah jarak psikologis. Objek-objek kedekatan
secara fisik akan cenderung diperlakukan oleh penutur sebagai kedekatan
secara psikologis. Juga sesuatu yang jauh secara fisik secara umum akan
diperlakukan sebagai jauh secara psikologis.
c.
Deiksis
Waktu
Landasan psikologis dari deiksis waktu tampaknya sama
dengan landasan psikologis deiksis tempat. Kita dapat memperlakukan kejadian-kejadian
waktu sebagai objek yang bergerak kea rah kita (ke dalam pandangan) atau
bergerak menjauh dari kita (di luar pandangan). Bentuk-bentuk waktu yang bukan
merupakan deiksis waktu adalah waktu kalender dan waktu jam.
Penafsiran
deiksis memang tergantung pada konteks, maksud penutur, dan ungkapan-ungkapan
itu mengungkapkan jarak hubungan. Diberikannya ukuran kecil dan rentangan yang
sangat luas dari kemungkinan pemakainya, ungkapan-unkapan deiksis selalu
menyampaikan lebih banyak hal daripada yang diucapkan.
B.
REFERENSI DAN INFERENSI
Referensi sebagai suatu tindakan
dimana seorang penutur atau penulis menggunakan bentuk linguistic untuk
memungkinkan seorang pendengar atau pembaca mengenali sesuatu.
Bentuk-bentuk linguistic itu adalah ungkapan-ungkapan pengacuan yang mungkin
berupa nama diri, frasa nomina tertentu atau frasa nomina tidak tentu dan kata
ganti orang.
Jadi refernsi dengan jelas terkait
dengan tujuan (maksud) penutur dan keyakinan penutur dalam pemakaian bahasa.
Agar terjadi referensi yang sukses kita juga harus mengenali peran inferensi.
Karena tidak ada hubungan langsung antara entitas-entitas dan kata-kata, tugas
pendengar adalah menyimpulkan secara benar entitas mana yang dimaksudkan oleh
penutur untuk dikenali dengan menggunakan suatu ungkapan pengacuan yang khusus.
Sehingga penutur dan pendengar memiliki peran untuk memikirkan tentang apa yang
sedang dipikirkan orang lain dalam benaknya.
Pemakaian Referensial dan Pemakaian Atributif
Pentinglah mengetahui bahwa tidak
semua ungkapan memiliki referen fisik yang dapat dikenali. Frasa nomina tidak
tentu dapat dipakai untuk mengenali suatu entitas yang ada secara fisik tetapi
ungkapan-ungkapan itu juga dapat dipakai untuk menjelaskan entitas-entitas yang
diasumsikan ada, tetapi tidak dikenal, atau entitas-entitas sejauh yang kita
ketahui, yang tidak ada.
Kadangkala yang disebut dengan
pemakaian atributif berarti “siapa saja/apa saja yang sesuai dengan
uraiannya. Pemakaian atributif bergantung pada asumsi penutur bahwaa suatu
refern harus ada.
Penutur sering mengajak kita untuk
berasumsi, melalui pemakaian atributif, bahwa kita dapat mengenali apa yang
sedang mereka bicarakan, bahkan jika entitas atau orang yang dideskripsikan
mungkin tidak ada.
Nama dan Referensi
Suatu pandangan refernsi pragmatic
secara benar membolehkan kita melihat bagaimana seseorang dapat diidentifikasi
melalui ungkapan “Sandwich Keju” dan suatu benda atau barang dapat
diidentifikasikan melalui nama “Shakespeare”.
Contoh: a. Ita: Dapatkah saya meminjam Shakespearemu?
Deriz: Ya, ada di atas meja sana.
b. Deriz: Sandwich keju duduk
dimana?
Ita : Dia duduk
disana, dekat jendela.
Pemakaian suatu nama diri secara
referensial untuk mengenali objek apapun yang sedemikian mengajak pendengar
untuk membuat kesimpulan yang diharapkan dan dari sini menunjukkan dirinya
sendiri untuk menjadi satu anggota masyarakat yang sama sebagai penutur.
Peranan Ko-teks
Kemampuan kita untuk mengenali
referen banyak tergantung pada pemahaman kita tentang ungkapan-ungkapan
pengacuan.
Ko-teks dengan jelas membatasi
rentangan interpretasi ysng mungkin kita miliki terhadap suatu kata. Ungkapan
pengacuan sebenarnya memberikan suatu rentangan referensi yaitu sejumlah
referensi yang memungkinkan.
Suatu ko-teks adalah sekedar suatu
bagian lingkungan linguistic dimana ungkapan pengacuan dipakai. Lingkungan
fisik atau konteks mungkin lebih mudah dikenali karena memiliki pengaruh yang
kuat tentang bagaimana ungkapan pengacuan itu harus diinterpretasikan
Jadi referensi secara sederhana
bukan merupakan hubungan antara arti suatu kata atau frasa dengan suatu objek
atau orang di dunia ini. Referensi adalah suatu tindakan social dimana penutur
berasumsi bahwa kata atau frasa yang dipilih untuk mengenali suatu objek atau
orang akan ditafsirkan sebagai yang dimaksudkan penutur.
Referensi Anaforik
Refensi yang sudah diperkenalkan
biasanya dikenal sebagai referensi anaforik atau anaphora. Di dalam
istilah-istilah teknis, ungkapan-ungkapan kedua atau ungkapan-ungkapan
berikutnya disebut anafor dan ungkapan awal disebut antaseden
Adalah hal yang menarik memikirkan
tentang referensi anaforik sebagai suatu proses kesinambungan untuk mengenali
secara benar entitas yang sama seperti yang ditunjukkan oleh anteseden.
Katafora merupakan pembalikan pola anaphor
anteseden yang yang kadang-kadang ditemukan pada permulaan suatu cerita.
Jika suatu penafsiran itu
mengharuskan kita untuk mengenali suatu entitas dan tidak ada ungkapan
linguistic yang ada, penafsiran ini disebut Anafora zero atau ellipsis. Kegunaan
anafor zero sebagai suatu alat untuk menetapkan referensi jelas menciptakan
suatu harapan yang memungkinkan seorang pendengar mampu menyimpulkan siapa atau
apa yang dimaksudkan penutur untuk dikenali.
Kunci untuk memahami referensi
adalah bahwa proses pragmatic dimana penutur memilih ungkapan-ungkapan
linguistic dengan maksud untuk mengenali entitas-entitas tertentu dan dengan
asumsi bahwa pendengar akan bekerja sama dan memahami ungkapan-ungkapan itu
seperti yang dimaksudkan oleh penutur.
Referensi yang berhasil berarti
bahwa suatu maksud dapat dikenali melalui inferensi/kesimpulan yang menunjukkan
sejenis pengetahuan yang dimiliki bersama dan dari sini terjadi hubungan
social. Asumsi tentang pengetahuan yang dimiliki bersama penting juga
dilibatkan dalam studi Presupposisi
C.
PRAANGGAPAN DAN ENTAILMEN
Karena informasi tertentu dianggap
sudah diketahui maka informasi yang demikian biasanya tidak akan dinyatakan dan
akibatnya akan menjadi bagian dari apa yang disampaikan tetapi tidak dikatakan.
Istilah-istilah presupposisi (praanggapan) dan entailmen secara teknis dipakai
untuk mendeskripsikan dua aspek yang berbeda dari jenis informasi ini.
Penting untuk diperhatikan sejak
dini bahwa presupposisi dan keberadaan entailmen dianggap jauh lebih memusat
terhadap pragmatik di waktu lampau daripada di waktu sekarang. Dalam
pendekatan-pendekatan akhir-akhir ini, minat terhadap jenis pembahasan teknis
yang dihubungkan dengan analisis-analisis logis dari fenomena-fenomena ini
sangat kurang. Tetapi tanpa adanya pengantar tentang jenis pembahasan analitik
maka sangat sulit untuk memahami bagaimana hubungan timbal balik antara
semantik dan pragmatik dikembangkan.
Presupposisi adalah sesuatu yang
diasumsikan oleh penutur sebagai kejadian sebelum menghasilkan suatu tuturan.
Yang memiliki presupposisi adalah penutur, bukan kalimat. Entailmen adalah
sesuatu yang secara logis ada atau mengikuti apa yang ditegaskan di dalam
tuturan. Yang memiliki entailmen adalah kalimat, bukan penutur.
D.
KERJA SAMA DAN IMPLIKATUR
Implikatur percakapan khusus merupakan makna yang diturunkan dari
percakapan dengan mengetahui/merujuk konteks(sosial) percakapan, hubungan antar
pembicara serta kebersamaan pengetahuan mereka. Hanya dengan pengetahuan khusus
itulah makna atau implikatur dapat diturunkan, seperti pada contoh:
Sugi : Pergi kita ke pesta Si juna?
Jaya : Ayahku lagi datang. (’tidak’)
Dari contoh diatas dapat dijelaskan bahwa, disini Sugi harus mengetahui
hubungan Jaya dengan Ayahnya. Jika misalnya, badu mengetahui kalau Andi
berusaha untuk menghindari ayahnya dalam setiap kesempatan. Maka implikatur
yang diperoleh adalah ”ya”. Sehingga untuk menghasilkan implikatur percakapan
khusus dibutuhnkan pengetahuan bersama diantara pembicara dan pendengar.
Contoh lain sebagai berikut: Jaya: Hai, apa kamu datang
ke pesta tadi malam?
Irwan : (kedua orang tuaku hadir)
Agar dapat membuat jawaban Irwan releven, jaya harus memanfaatkan
pengetahuan tertentu yang diasumsikan dipunyai oleh salah seorang teman kuliah
dalam setting ini. Irwan akan menghabiskan malam itu dengan orang tuannya tidak
ramai (konsekuensinnya > Irwan tidak ada di pesta)
Sifat-sifat implikatur percakapan
Implikatur
merupakan bagian dari informasi yang disampaikan, namun penutur dapat
memungkiri bahwa mereka ingin menyampaikan maksud-maksud tertentu.
Implikatur-implikatur tersebut dapat dipungkiri secara exsplinsit dengan cara
yang berbeda.
Contoh: ada
sebuah implikatur baku yang dikaitkan dengan menyatakan suatu besaran dan
penutur hanya memaksudkan jumlah angka itu sebagai berikut.
Anda telah mendapatkan bonur lima ribu rupiah ! ( hanya lima puluh ribu)
Namun untuk menangguhkan implikatur itu ( hanya lima puluh ribu ) bagi penutur
cukup mudah yaitu dengan menggunakan ungkapan kira-kira atau membatalkan
informasi dengan memberikan informasi tambahan dengan ungkapan sebenarnya.
Implikatur
dapat diperhitungkan melalui interfensi. Jadi dengan demikian sifat
implikatur-implikatur percakapan dapat diperhitungkan, ditangguhkan,
dibatalkan, ditegaskan kembali. Dalam kaitanya dengan sifat-sifatnya yang membatasi, implikatur percakapan
dapat dikalkulasi, ditangguhkan, dibatalkan, dan diperkuat.
Implikatur konvensional
Berbeda dengan implikatur-implikatur percakapan sebelumnya, implikatur
konvensional tidak didasarkan pada prinsip kooperatif atau maksim. Implikatur
konvensional tidak harus terdapat dalam percakapan, dan tidak tergantung pada
konteks khusus untuk menginterprestasikannya. Seperti preposisi-preposisi leksikal,
implikatur konvensional berkaitan dengan kata-kata tertentu yang menyebabkan
makna tambahan yang disampaikan ketika kata-kata tersebut digunakan.
Implikatur konvensional tidak didasarkan pada kerja sama atau
leksim-leksim. Implikatur konvensional tidak langsung pada konteks khusus untuk
menginterpretasikannya. Implikatur konvensional diasosiasikan dengan kata-kata
khusus dan menghasilkan maksud tambahan apabila disampaikan apabila kata-kata
itu digunakan. Kata penghubung ”tetapi” adalah salah satu kata-kata ini.
Kata sambung bahasa ingris ’but’
merupakan salah satu dari kata-kata ini. Interpretasi terhadap suatu ujaran ini
seperti p but q akan didasarkan pada
kata sambung p & q plus
implikatur ’kontras’ antara imformasi
dalam p dan imformasi dalam q.
Contoh : Sinta menyarankan biru, tetapi saya memilih hijau.
Rumus : p & q ( +> p kontras dengan q)
Kata bahasa
ingris lainnya seperti ’even’ dan ’yet’ juga memiliki implikatur
konvensional. Bila even dimasukkan dalam suatu kalimat yang mendiskripsikan
suatu peristiwa, ada implikatur barlawanan, pada saat yang akan datang. Dalam
mengujarkan pernyataan dibawah ini, penutur menghasilkan implikatur bahwa pernyataan
’Angga is here’ (= p) untuk menjadi
kenyataan dikemudian hari, sebagaimana ditunjukkan dalam contoh di bawah ini:
a. Angga isn’t her yat. (=NOT p)
( Dennis belum
ada di sini)
b. NOT p is true
(+>p diharapkan terjadi kemudian)
E.
TINDAK TUTUR DAN PERISTIWA TUTUR
Dalam usaha untuk mengungkapkan diri
mereka, orang-orang tidak hanya menghasilkan tuturan yang mengandung kata-kata
dan struktur-struktur gramatikal saja, tetapi mereka juga memperlihatkan
tindakan-tindakan melalui tuturan-tuturan itu. Jika Anda bekerja dalam situasi
pada saat pimpinan Anda memiliki kekuasaan yang besar, kemudian tuturan
pimpinan Anda dalam pernyataan (1) mempunyai makna yang lebih dari sekadar
sebuah pernyataan.
Anda
dipecat.
Tuturan dalam (1) dapat digunakan untuk memperlihatkan
suatu tindakan mengakhiri pekerjaan Anda. tetapi, tindakan-tindakan yang
ditampilkan dengan tuturan tidak harus dramatis atau menyakitkan seperti dalam
(1). Tindakan itu dapat lebih menyenangkan seperti
pujian yang diperlihatkan dengan (2a), pengantar ucapan terima kasih dalam
(2b), atau ungkapan rasa terkejut dalam (2c). 2a. Anda sangat menyenangkan. 2b.
Terima kasih kembali. 2c. Gila kau!
Tindakan-tindakan yang ditampilkan
lewat tuturan biasanya disebut tindak tutur dan dalam bahasa Inggris secara
umum diberi label yang lebih khusus, misalnya permintaan maaf, keluhan, pujian,
undangan, janji, atau permohonan. Istilah-istilah deskriptif untuk tindak tutur
yang berlainan digunakan untuk maksud komunikatif penutur dalam menghasilkan
tuturan. Penutur biasanya berharap maksud komunikatifnya akan dimengerti oleh
pendengar. Penutur dan pendengar biasanya terbantu oleh keadaan di sekitar
lingkungan tuturan itu. Keadaan semacam ini, termasuk juga tuturan-tuturan yang
lain, disebut peristiwa tutur. Dalam banyak hal, sifat peristiwa tuturlah yang
menentukan penafsiran terhadap suatu tuturan ketika menampilkan suatu tindak
tutur khusus. Pada suatu hari di musim dingin, penutur menggapai secangkir teh,
karena yakin bahwa teh itu baru saja dibuat, ia menghirupnya dan menghasilkan
tuturan dalam (3). Peristiwa ini kelihatannya ditafsirkan sebagai suatu
keluhan.
Teh ini benar-benar dingin!
Dengan mengubah keadaan
menjadi suatu hari yang sangat panas, ketika penutur diberi segelas es teh oleh
seorang pendengar, lalu ia menghirupnya dan menghasilkan tuturan dalam (3),
tuturan itu mungkin ditafsirkan sebagai suatu penghargaan. Jika tuturan yang
sama dapat ditafsirkan sebagai dua macam tindak tutur yang berbeda, maka jelaslah
tidak satupun tuturan yang secara sederhana memungkinkan adanya hubungan
tindakan. Ini juga berarti bahwa terdapat lebih banyak yang ditemukan dalam
penafsiran tindak tutur dari pada makna yang terdapat dalam tuturan itu.
F. KESOPANAN DAN
INTERAKSI
Dalam pragmatik kesopanan bukan bearti
suatu tindakan seperti membiarkan orang terlebih dahulu melewati pintu,namun,
menurut Yule, kesopanan dalam suatu interakasi dapat didefenisikan sebagai alat
yang digunakan untuk menunjukkan kesadaran tentang wajah orang lain.
Umum
ide kesopanan:
Konsep
tetap perilaku sosial / etiket dalam budaya, melibatkan umum tertentu prinsip
sebagai bijaksana, murah hati, sederhana, simpatik terhadap orang lain
Sempit
konsep kesantunan dalam interaksi:
wajah
= publik citra diri seseorang (rasa emosional dan sosial dari diri seseorang
dan mengharapkan orang lain untuk mengenali)
kesopanan
= sarana empoyed untuk menunjukkan kesadaran wajah orang lain,
menunjukkan
kesadaran untuk wajah seseorang secara sosial jauh itu
Ø hormat,
penghormatan menunjukkan kesadaran untuk wajah seseorang secara sosial dekat
ini
Ø keramahan,
solidaritas
Contoh
(siswa untuk guru)
a.
Permisi, Pak Buckingham, tapi bisa saya bicara dengan Anda sebentar?
b.
Hei, Bucky, punya waktu sebentar?
Ø berbagai
jenis kesopanan yang terkait dan ditandai bahasa dengan asumsi dari jarak
sosial relatif / kedekatan
WAJAH
INGIN
Dalam
sehari-hari orang interaksi sosial umumnya berperilaku seolah-olah harapan
mereka mengenai wajah mereka ingin (yaitu citra diri-public) akan dihormati Wajah
mengancam tindakan: speaker mengatakan sesuatu yang merupakan ancaman bagi
individu lain
harapan
mengenai citra diri menyelamatkan muka tindakan: speaker mengatakan sesuatu
untuk mengurangi kemungkinan ancaman Situasi: Tetangga Young bermain musik
keras larut malam. Pasangan yang lebih tua tidak bisa tidur.
J:
Aku akan menyuruhnya berhenti bahwa suara mengerikan sekarang!
B: Mungkin Anda hanya bisa bertanya apakah
dia akan berhenti segera karena itu mendapatkan sedikit terlambat dan
orang-orang perlu untuk mendapatkan tidur.
Kesopanan
dan interaksi
G.
STRUKTUR PERCAKAPAN DAN STRUKTUR REFERENSI
Interaksi
sosial merupakan suatu situasi dimana terjadi sebuah komunikasi yang melibatkan
komponen komunikasi. Dalam interaksi sosial terdapat suatu percakapan yang
mengandung sebuah informasi yang disampaikan selama proses interaksi
berlangsung. Percakapan adalah bentuk kegiatan yang paling mendasar yang
dilakukan oleh manusia untuk menjalin hubungan antara satu dengan yang lain.
Dengan melakukan percakapan, manusia dapat saling mengungkapkan pikiran dan
perasaanya, juga dapat saling bertukar informasi untuk memenuhi kebutuhannya. Jenis percakapannyapun mungkin berbeda menurut konteks interaksi yang
berbeda. Percakapan tersebut tentunya mengandung struktur pembicaraan. Pola
dasar dari struktur pembicaraan yaitu “saya bicara – anda bicara – saya bicara
– anda bicara”. Pola dasar ini disebut dengan struktur percakapan. Struktur
percakapan adalah apa saja yang sudah kita asumsikan sebagai suatu yang sudah
dikenal baik melalui diskusi sebelumnya. Pola dasar percakapan ini berasal dari
jenis interaksi mendasar yang pertama kali diperoleh dan yang paling sering
digunakan.
Analisis Percakapan
Analisis percakapan merupakan suatu rangkaian yang menarik dalam ilmu
komunikasi. Pada dasarnya percakapan merupakan manifestasi dalam membangun
sebuah interaksi. Dalam struktur percakapan terdapat “suatu kesempatan bicara”
atau hak untuk bicara. Kesempatan tersebut memotivasi seseorang berusaha untuk
mengambil alih giliran yaitu pengambilan giliran. Kemungkinan adanya suatu
perubahan siapa yang mendapat giliran bicara tersebut. kemungkinan perubahan
giliran tersebut disebut Tempat Relevansi Pertukaran (TRP).
Entitas penggunaan
bahasa dalam percakapan tersebut dapat dilihat dua aspek yaitu aspek isi
percakapan dan aspek formal percakapan. Aspek isi percakapan ini meliputi topik
yang menjadi pokok pembicaraan, dan penyampaian topik dalam percakapan. Adapun
aspek formal percakapan meliputi hal-hal bagaimana percakapan itu bekerja,
aturan-aturan yang dipatuhi, dan bagaimana mekanisme dalam memperoleh
kesempatan bicara atau giliran bicara (turn-taking).
Giliran
bicara (turn-taking) adalah waktu dimana penutur kedua mengambil alih giliran
berbicara dari penutur sebelumnya, dan juga sebaliknya. Pengambilan giliran ini
merupakan suatu bentuk aksi sosial yang berjalan menurut sistem pengaturan
setempat secara konvensional. Pergantian dari setiap penutur berikutnya sangat dihargai.
Pertukaran disertai dengan kesenyapan yang lama atau adanya overlaps. Apabila
pertukaran yang disertai dengan kesenyapan yang lama diantara dua giliran, maka
dirasakan percakapan yang terjadi terasa kaku. Jeda yang sangat pendek
merupakan bentuk keragu-raguan, sedangkan jeda yang panjang menjadi kesenyapan.
Strategi dalam turn-taking ada tiga jenis yaitu:
Ø Taking the floor yaitu waktu dimana penutur pertama atau penutur
selanjutnya mengambil alih giliran bicara. Jenis-jenis taking the floor antara
lain:
- Starting up (mengawali pembicaraan) bisa dilakukan
dengan keragu-raguan atau ujaran yang jelas.
- Taking over yaitu mengambil alih giliran berbicara
(bisa diawali dengan konjungsi).
- Interupsi, yaitu mengambil alih giliran berbicara
karena penutur yang akan mengambil alih giliran bicara merasa bahwa pesan yang
perlu disampaikan oleh penutur sebelumnya sudah cukup sehingga giliran bicara
diambil alih oleh penutur selanjutnya.
- Overlap, yaitu penutur selanjutnya memprediksi bahwa
penutur sebelumnya akan segera memberikan giliran berbicara kepada penutur
selanjutnya, maka ia mengambil alih giliran berbicara. Lambang transkripnya
(//)
Ø Holding the floor, yaitu waktu dimana penutur sedang mengujarkan
ujaran-ujaran, serta bagaimana penutur mempertahankan giliran berbicaranya.
Ø Yielding the floor yaitu waktu dimana penutur memberikan giliran berbicara
kepada penutur selanjutnya.
Dalam sebuah mekanisme
pergantian giliran yang diperpanjang, penutur berharap bahwa lawan tutur mereka
menunjukkan bahwa mereka mendengarkan. Salah satu cara untuk menunjukkan
tanggapan tersebut adalah dengan ekspresi wajah, senyuman dan isyarat-isyarat
lain, namun indikasi vokal yang paling umum disebut dengan backcannel. Misalnya:
Fitri : Jika
anda banyak menggunakan layanan jarak jauh, anda akan...
Ana : uh-uh
Fitri :
tertarik pada potongan harga yang sedang saya katakan karena...
Ana : yeah
Fitri :
layanan ini dapat menyelamatkan uang Anda untuk mengubah menjadi layanan yang
lebih murah.
Ana : mmm
Jenis-jenis
penanda (uh-uh, yeah, dan mmm) merupakan penanda yang mestinya menunjukkan
bahwa pendengar mengikuti apa yang dikatakan oleh penutur dan tidak menolaknya.
Dalam interaksi tatap muka, ketiadaan backchannel mungkin ditafsirkan sebagai cara
pelanggaran kesepakatan yang mengarah pada interferensi ketidak-sepakatan.
Gaya Bicara
Karakteristik sistem pengambilan giliran bicara dimasukkan dalam makna oleh
pemakainya. Dalam sebuah percakapan terdapat pembicaraan yang relatif cepat
hampir tanpa jeda diantara giliran bicara, dan disertai adanya sedikit overlap
atau bahkan penyempurnaan giliran yang disebut gaya bicara (gaya pelibatan
tinggi). Namun, adanya gaya bicara yang menghendaki pembicaraan yang relatif
lambat, mengharapkan jeda yang lebih lama diantara giliran bicara, tidak
tumpang tindih, dan menghindari interupsi tanpa adanya pemaksaan, inilah yang
disebut gaya solidaritas tinggi. Kedua gaya tersebut tidak bisa digunakan
dengan bergantian secara bersamaan dengan penutur, maksudnya apabila penutur
menggunakan gaya pertama memasuki percakapan dengan penutur lain yang
menggunakan gaya kedua, maka percakapan tersebut cenderung bertolak belakang.
Kecenderungan yang bertolak belakang tersebut menimbulkan prasangka-prasangka
terhadap penutur.
H.
WACANA DAN BUDAYA
Analisis wacana adalah analisis atas
bahasa yang digunakan. Analisis wacana bertitik tolak dari segi fungsi bahasa,
artinya analisis wacana mengkaji untuk apa bahasa ittu digunakan. Di dalam
analisisnya kedua ahli tersebut memfokuskan pada dua fungsi utama : (1) fungsi
transaksional, yaitu fungsi bahasa unttuk mengungkapkan isi, dan (2) fungsi
interaksional, yaitu fungsi bahasa yang terlibat dalam pengungkapan
hubungan-hubungan sosial dan sikap-sikap pribadi.
Analisis wacana mempelajari bahasa dalam
pemakaian : semua jenis teks tetulis dan data lisan, dari percakapan sampai
dengan bentuk-bentuk percakapan yang sangat melembaga. Analisis wacana mencakup
studi tentang interaksi lisan atau tulis.
Koherensi
Standar
tekstualitas kedua adalah koherensi. Koherensi berkenaan dengan pelbagai
cara di mana komponen-komponen dunia tekstual (textual world)—misalnya
susunan “konsep” dan “relasi” yang mendasari teks lahir—saling dapat diterima
dan relevan
Jika kohesi berkenaan dengan perpautan bentuk,
koherensi berkenaan dengan perpautan makna. Sebuah konsep dapat diuraikan
ketika konfigurasi pengetahuan yang diperoleh kurang lebih menyatu dan konsistensi
dengan pikiran. Relasi adalah hubungan antara konsep yang muncul bersama-sama
dalam dunia tekstual, setiap hubungan akan melahirkan penandaan konsep yang
berhubungan itu. Pada “awas, banyak anak kecil bermain”, “anak kecil” adalah
konsep subjek, “bermain” adalah konsep tindakan, “awas” adalah
konsep ancaman atau peringatan kepada orang di luar anak kecil,
untuk selanjutnya memunculkan relasi “agentif”.
Meskipun kohesi dan koherensi
umumnya berpautan, tidaklah berarti bahwa kohesi harus ada agar wacana menjadi
koheren. Ada wacana yang ditinjau dari segi teks lahirnya kohesi, tetapi tidak
koheren. Demikian juga sebaliknya, ada wacana yang ditinjau dari segi teks
lahirnya tidak kohesi, tetapi koheren. Contoh (2) berikut adalah kohesif,
tetapi tidak koheren.
Dengan bantuan pemerintah pejabat itu membeli Mazda
baru. Mobil itu berwarna biru. Biru tua menjadi
idam-idaman warna mobil pemuda sekarang. Modernisasi memang telah
banyak mengubah keadaan dalam waktu singkat. Waktu ini manusia
seakan-akan di persimpangan jalan. Jalan ke sorga atau ke neraka
rupanya tidak dipedulikan lagi. Sorga dunia dituntutnya dengan
itikad neraka yang penuh dengan kebobrokan.
Pada contoh (2)
kumpulan tampak kekohesian pada Mazda—mobil, warna bitu—biru tua,
sekarang—modernisasi, waktu singkat—waktu ini, jalan—jalan, sorga—sorga—neraka.
Akan tetapi, apa yang kita dapatkan adalah kekusutan pikiran semata-mata
sehingga sukar menggambarkan contoh (2) menjadi sebuah wacana. Sebaliknya,
contoh (3) berikut tidak kohesif, tetapi koheren.
A: Dik, tolong
itu teleponnya dijawab.
B : Aduh, lagi tanggung, Mas.
Jika ditinjau
dari kata-katanya, tidak ada perpautan antara A dan B. Akan tetapi, kedua
kalimat itu adalah koheren karena maknanya berkaitan. Perkaitan itu disebabkan
oleh adanya kata-kata yang tersembunyi yang tidak diucapkan. Kalimat B
sebenarnya dapat berbunyi “Maaf Mas, saya tidak dapat menjawab telepon itu
karena saya lagi tanggung, menggoreng tempe.”
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Pragmatik
adalah studi yang mengkaji tuturan dari segi makna dan konteks yang menyertai
tuturan tersebut. Pada hakikatnya pragmatik sama dengan semantik, yakni
sama-sama mengkaji makna suatu tuturan secara internal, sedangkan pragmatik
mengkaji makna suatu tuturan secara eksternal.
B. Saran
Mahasiswa
yang telah mengikuti mata kuliah ini, serta mahasiswa yang telah membahas
tentang pragmatik ini pada khususnya, mahasiswa harus mampu menguasai teori
tentang pragmatik.
DAFTAR PUSTAKA
Yule,
Goerge. 1996. PRAGMATIK. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
No comments:
Post a Comment